Ada ruang kosong dalam rongga dada,
sampai suatu hari kita isi dengan ide-ide besar.
Sampai ia mengalir deras dalam pikiran, seperti
darah dari pompa jantung kita.
Ruang begitu padat dan penuh hasrat
lihatlah cermin itu, mata kita membulat terang..
Beberapa jejak kita hapus, dulu masih percaya tuhan,
sekarang lebih percaya alam karena kita tahu bagaimana cara kerja alam.
Mengingatkan saya pada pagan,
orang pagan dibakar satu persatu karena dianggap melawan tuhan.
Lalu mereka dijuluki penyihir-penyihir, karena berhasil menemukan
pengetahuan yang menyembuhkan manusia.
Lalu berangkatlah kita menjelajah ke setiap sudut kota dan desa, lembah sampai bukit
tempat bulan menetap di atasnya.
Dan desa-desa yang mulai kehilangan hijaunya,
dan mencari sumber air tempat orang kota dialiri sungai deras yang berubah
menjadi selokan hitam dengan baunya yang busuk.
Hujan datang, kopi kita seduh. Duduk dan menatap langit mendung,
membayangkan ke mana arah bangsa ini nanti.
"Biarkan hancur dengan sendirinya," katamu waktu itu.
Menuju entropi, kita tak sanggup lagi menopangnya.
Betapa sedikitnya kita dan tak ada kekuatan yang bisa dibangun,
sudah lamanya abad itu dikikis oleh kedangkalan,
"the dictionary of stupidity", tempat dimana manusia berkepala tempurung,
isinya sudah dikerok seperti orang mengerok isi kelapa untuk dimakan
di musim panas.
Tapi itu dulu.
Catatan-catatan yang kini kuhapus pelan-pelan.
Menyadari betapa sedikitnya jumlah kita,
dan kau-kau pun mundur selangkah demi selangkah
menjauh..
Akupun menjauh, karena sudah kuhitung suatu hari
jumlah kita akan terus berkurang.
Dari yang sedikit semakin sedikit.
Ketika kutemui satu maka akan hilang satu.
Nol derajat.
Aku sudah berdiri di atas titik itu.
Mendung pagi, 17 Maret 2010
sampai suatu hari kita isi dengan ide-ide besar.
Sampai ia mengalir deras dalam pikiran, seperti
darah dari pompa jantung kita.
Ruang begitu padat dan penuh hasrat
lihatlah cermin itu, mata kita membulat terang..
Beberapa jejak kita hapus, dulu masih percaya tuhan,
sekarang lebih percaya alam karena kita tahu bagaimana cara kerja alam.
Mengingatkan saya pada pagan,
orang pagan dibakar satu persatu karena dianggap melawan tuhan.
Lalu mereka dijuluki penyihir-penyihir, karena berhasil menemukan
pengetahuan yang menyembuhkan manusia.
Lalu berangkatlah kita menjelajah ke setiap sudut kota dan desa, lembah sampai bukit
tempat bulan menetap di atasnya.
Dan desa-desa yang mulai kehilangan hijaunya,
dan mencari sumber air tempat orang kota dialiri sungai deras yang berubah
menjadi selokan hitam dengan baunya yang busuk.
Hujan datang, kopi kita seduh. Duduk dan menatap langit mendung,
membayangkan ke mana arah bangsa ini nanti.
"Biarkan hancur dengan sendirinya," katamu waktu itu.
Menuju entropi, kita tak sanggup lagi menopangnya.
Betapa sedikitnya kita dan tak ada kekuatan yang bisa dibangun,
sudah lamanya abad itu dikikis oleh kedangkalan,
"the dictionary of stupidity", tempat dimana manusia berkepala tempurung,
isinya sudah dikerok seperti orang mengerok isi kelapa untuk dimakan
di musim panas.
Tapi itu dulu.
Catatan-catatan yang kini kuhapus pelan-pelan.
Menyadari betapa sedikitnya jumlah kita,
dan kau-kau pun mundur selangkah demi selangkah
menjauh..
Akupun menjauh, karena sudah kuhitung suatu hari
jumlah kita akan terus berkurang.
Dari yang sedikit semakin sedikit.
Ketika kutemui satu maka akan hilang satu.
Nol derajat.
Aku sudah berdiri di atas titik itu.
Mendung pagi, 17 Maret 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar