Sabtu, 23 November 2013

Manifesto Orang-Orang Bawah Tangga


Oleh Mariana Amiruddin

Orang-orang memarkirkan kendaraannya, antri berpanjang-panjang memasuki gedung tinggi berkaca-kaca, beruang-ruang kosong, bermegah-megah mewah, bermerah-merah wangi bangku penonton, berwarna-warni cahaya lampu-lampu, bersengat-sengit dingin ruangan menusuk. Duduk, duduklah mereka dalam dingin tanpa keringat dan bau. Dalam karpet yang bersih dan empuk. Menghadap panggung-panggung, warna-warni kostum, pernak-pernik perias wajah, rona-rekah wajah-wajah artis televisi dan tawa menertawai para pengaku komedi.

Di sini, dalam gelap, di bawah tangga. Bau busuk sampai kerongkongan. Nyamuk-nyamuk memangsa. Sinar, hanya sinar sebuah warung kelontong, dan karat-karat besi yang rontok dari tangga, dari bangunan tua yang terjepit diantara kaca-kaca gedung-gedung kesenian mencakrawala. Hanya dengan segayung dua gayung, kami mandi. Hanya dengan bertikar lembab di bawah langit, setiap malam kami bertegur sapa. Angin dan hujan membuat kami berpeluk erat, dalam wajah-wajah kami yang berkeringat berlemak mengatasi lembab. Semua tidak bisa membuat kami ringkih. Kami tersungkur di kaki gedung-gedung kaca kesenian yang mencakrawala, kering kerontang dari kipas-kipas raksasa mereka. Kami tinggal di pantat gedung-gedung itu. Kami tak mencium wangi seperti mereka mencium wangi dari depan keindahan gedung itu. Dari kembang-kembang yang dirangkai d idepan pintu. Kami bermukim di pantat gedung itu, yang tercium bau limbah makanan manusia, plastik-plastik sampah air mineral, tempat buruh-buruh makan makanan murah, dengan tugas-tugas mereka yang membersihkan kamar mandi, pipis-pipis mereka, taik-taik mereka, jejak-jejak sepatu mereka.

Kadang, kami dikatai gelandangan. Lalu orang besar menawarkan kami makanan dan uang, seperti memberi makan anjing dan kucing jalanan. Kadang kami diusir, karena bau. Karena kini, seniman haruslah wangi, bukan seperti gelandangan. Haruslah bersepatu kulit dan bercerutu. Berjas-jas bukan berjaket-jaket sobek. Seniman, adalah stigma. Soal mabuk-mabukan setiap malam, perempuan-perempuan bersuara serak yang bersandal-sandal, dan laki-laki berambut panjang. Kini, seniman mestilah religius, rapi, dan sedikit punya modal untuk menyewa gedung mahal, untuk menaikkan derajat pagelaran karya mereka, dan teknologi suara yang menggelegar, dengan layar-layar besar. Yang tidak punya modal, jangan berharap jadi seniman, jangan berharap bisa berkarya. Kreatifitas ditentukan oleh fasilitas, bukan oleh ide. Mahakarya ditentukan oleh jejaring sosial, patron klien, dan industri. Mapan, seniman harus mapan. Fasilitas, seniman harus punya fasilitas. Kita bukan lagi Affandi yang mau berkumuh-kumuh, Sutardji Calzoem Bachri yang berlalu-lalang dan berteduh dengan secangkir kopi di kaki lima. Yang berdiskusi dan bertengkar di pelataran tempat seni dan kebudayaan. Kita terhimpit oleh parkir-parkir motor dan mobil yang bertumpuk-tumpuk menghabiskan ruang gerak dan imajinasi. Kita takut dengan mereka yang punya fasilitas, kita rendah diri dengan keadaan kita, kita takkan punya penonton yang setia. Kita hanya punya tenggorokan, mata dan kepala untuk berpikir dan membaca.

Namun, benarkah demikian? Berkumpulah kami dengan secangkir kopi dan sisa setengah batang rokok menggelantung di bibir. Duduk setengah gelap di bawah tangga itu. Bicara soal kekalahan hidup, ketidakpastian, kekurangan. Dulu, kami adalah orang-orang yang berdiri di panggung langit dan bumi, bangga dalam puisi demi puisi, dalam pertunjukan demi pertunjukan. Dulu kami tidak hina karena penampilan, kami bangga karena penciptaan. Dulu, banyak ruang untuk dijadikan peran, dan tak kenal lelah berlatih menjadi aktor dan aktris, pelukis dan sastrawan, perupa dan musisi, penari dan grafiti. Melengking-lengking suara kami membelah langit dan dinding-dinding. Dulu, puncak planetarium adalah panggung kami, pohon mahoni adalah properti kami, aspal-aspal kami ubah menjadi jalanan berseni. Dulu, apapun kami sulap menjadi pentas seni, dulu, tidak makanpun kami bisa berkesenian, tak mandipun kami disambut tepuk tangan. Dulu, pentas bisa di ruangan terbuka, melukis bisa di bawah langit, pertunjukan di lapangan parkir, berpantomim di tengah kaki lima. Dulu, kami disayang oleh orang-orang karena keunikan kami, kejutan-kejutan kami. Sekarang, galeri pameran lukisan diletupi suara-suara musik hip-hop dan pengeras suara panggilan bioskop.

Suatu hari, kami berkumpul dan saling membangun optimisme. Tentang industri televisi yang menguasai kediaman kami, mengubah segalanya menjadi budaya pop. Mengadopsi artis-artis yang tak pernah menginjak panggung teater. Siapakah kami ini, yang dihilangkan, dipinggirkan dipersempit ruang. Kami, seperti tokek-tokek yang punah karena pohon-pohon ditebang, burung-burung yang kehilangan keceriaan.
Lalu, di bawah tangga itulah, kami mulai berkobar. Seperti arang yang membara sekalipun patah. Bau-bau tubuh kami berganti menjadi ide-ide cemerlang. Kami saling merespon manusia-manusia yang lalu-lalang diantara kami. Kami meneliti keadaan kami. Bisakah kami kembali untuk berkarya seperti dulu lagi? Bisa! 

Ya, kami bisa hanya dengan satu kata: -kerja- ! Lalu kami berbagi tugas, siapa pembuat naskah, siapa sutradara, siapa pemain, siapa musik, siapa dokumentasi, siapa penyanyi, siapa penata ruang dan peralatan, dengan apa yang hanya kami miliki. Kami menyatu.

Kami orang-orang bawah tangga, adalah simbol kebudayaan orang-orang yang ditenggelamkan. Kami bernasib tidak baik, hanya karena kami bukan pedagang, bukan saudagar, bukan tokoh agama. Kebudayaan, bagi kami adalah hidup itu sendiri. Kesenian bagi kami, dimanapun kami berdiri. Penonton bagi kami, siapapun yang akan melintas kami. Inilah visi kami, ruang-ruang publik yang harus diisi, dikreasi, dijadikan pertunjukkan. Biarlah gedung-gedung itu menjadi milik mereka, maka biarlah pelataran ini menjadi milik kami.

Sebab bagi kami, seniman berkarya dalam setiap kondisi, kecuali kemapanan. Kemapanan itu bukan ciri kreatif, melainkan ciri segala fasilitas yang dia miliki.

Komunitas Orang-orang Bawah Tangga, 25 November 2013, Taman Ismail Marzuki




Rabu, 13 November 2013

Tentang Saya dan Laki-laki



Oleh: Mariana Amiruddin

Akhir-akhir ini saya merasa terlalu kuat bagi laki-laki, dan laki-laki terlalu lemah bagi saya. Meskipun saya tidak suka dominasi, kini, sayalah yang sering mendominasi mereka, itu membuat saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri, dan semakin malas berteman dengan laki-laki. Di antara yang saya kenal, mereka terdiri dari orang yang manja, sangat tergantung, sering mengeluh, dan mudah putus asa. Mungkin saya salah, mungkin mereka memang sedang kalah, tetapi itu yang saya alami, dan saya jadi malas. Di sisi lain, saya sering mendengar laki-laki harus kuat, melindungi kami, menanggung hidup kami, antar jemput kami, membelai kami, menggandeng kami, tetapi kenyataannya saya tidak mengalami itu semua dengan mereka. Suatu hari saya ingin mempraktekan itu dengan laki-laki, awalnya mereka bisa, tetapi, lama-lama mereka capek sendiri, saya juga capek sendiri, dan akhirnya kami bertukar peran, bahkan saya ambil alih! Sayalah yang melindungi mereka, dan mereka yang manja dan tergantung dengan saya. Ini aneh buat saya. Dan saya juga capek pertukaran peran-peran itu. Akhirnya saya memutusan untuk berjalan sendiri. Saya cukup bertempur dengan diri saya sendiri.

Dan kemudian saya justru bertemu dengan perempuan-perempuan yang sangat kuat, tidak ada kata putus asa, penuh dengan ide, berani dan selalu bisa menghadapi situasi. Kami yang sesama seringkali terlampau bersemangat. Kadang saling melindungi, kadang berkelahi, kadang senang, kadang menatap kosong. Bertemu mereka (perempuan-perempuan itu), saya merasa ada yang terhubung, ada jejak-jejak yang sama, ada keinginan yang sama-sama tertunda. Saya bahagia, saya merasa tidak sendiri lagi.

Mungkin, karena laki-laki tidak bisa menganggap kita teman, tetapi pasangan, atau kepemilikan, atau karena kita mirip dengan ibu mereka. Mereka masih menganggap kita misterius, mahluk yang tidak bisa diterka. Mungkin, mereka menganggap kita adalah pelengkap saja, seperti tulang rusuk. Kita diminta untuk melengkapi hidup mereka yang tidak lengkap itu. Lalu kita dipaksa mengenal mereka, budaya yang mereka buat, agama yang mereka buat, mitos-mitos yang mereka buat. Kita dipaksa untuk mengerti hidup mereka, tapi mereka kurang begitu kerja keras untuk mengenal hidup kita. Mereka tidak pernah bersungguh-sungguh mengenal kita, kecuali payudara kita, kelamin kita, birahi kita, bisikan kita, rambut kita, tengkuk kita, pantat kita, ketiak kita, pinggul kita. Mereka hanya mengenal bagian-bagian tubuh kita seperti mengenal jamban atau alat-alat yang mereka sukai.

Mungkin karena laki-laki terlalu banyak diberikan keistimewaan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, jabatan, dunia politik, kepala keluarga, tidak mengasuh anak, tidak melahirkan, tidak ditanya kalau keluar malam, tidak dilirik kalau pulang pagi, tidak disiul-siul di jalanan, tidak diteriaki pelacur kalau mabuk dan telanjang dada. Mungkin, karena laki-laki terlalu banyak kemudahan, sehingga mereka jadi lemah dan cepat putus asa, atau, terlalu dimomong terus oleh ibu-ibu mereka, diharapkan oleh banyak orang, dipuja-puja kalau kaya. Mereka jadi sulit untuk melihat kehidupan yang sebenarnya, atau terkejut ketika melihat kehidupan yang sebenarnya. Mungkin, kita ini (perempuan) baginya adalah boneka cantik yang akan dimilikinya, disimpan dan diletakkan dalam kulkas supaya tidak lekas tua.

Mereka itu punya tuntutan aneh kepada kita. Untuk membuatkan kopi saja, mereka butuh perempuan. Untuk mencuci baju dan setrika, mereka butuh perempuan. Untuk menyiapkan celana dalam, mereka butuh ibu dan istrinya. Untuk menyiapkan sarapan makan siang dan makan malam, mereka lagi-lagi butuh perempuan. Mereka dididik manja! Dunia ini tidak adil memperlakukan laki-laki. Mereka jadi rapuh sekali!
Mungkin, karena laki-laki dipaksa untuk dominan, kuat, dingin, rasional dan jauh dari kehangatan, kasih sayang, alam, rasa, intuisi, kelembutan. Mereka jadi mahluk yang tidak berpijak di bumi, penuh kekerasan, persaingan, mereka begitu terlantar dan lemah, mereka selalu harus dirawat, mereka selalu butuh perawat dan pelayan, mereka jadi rapuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sayapun, akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka, karena saya tidak ingin merawat mereka, saya hanya ingin memperlakukan laki-laki sebagaimana memperlakukan diri saya sendiri, yang bertahan, yang penuh luka, yang bisa menangis, yang bisa memperlihatkan isi hatinya dengan gamblang. Saya ingin mereka tidak cepat putus asa, bahagia, dan tidak merasa gagal hidup di dunia. Dengan begitu, saya bisa senang berteman dengan mereka. Dengan demikian, saya bisa bahagia bila di samping mereka.

Sementara kita, perempuan, dididik untuk melatih diri supaya besar nanti bisa merawat mereka (laki-laki), bisa melayani mereka secara seksual, bisa mencuci baju mereka, memakaikan sepatu mereka, menyediakan makanan, melahirkan anak-anak mereka, dan kita dididik untuk menjadi perawat dan pelayan laki-laki seumur hidup kita. Itulah yang membuat perempuan tidak manja, kuat, dan tidak gampang mengeluh, karena kita dipaksa untuk tidak sempat memikirkan diri kita sendiri, tidak sempat merumuskan apa cita-cita kita sendiri, tidak sempat bercermin betapa wajah kita sudah mulai berkerut karena sibuk mengayomi mereka. Kami, perempuan. Adalah manusia yang dibuat kuat oleh kebudayaan patriarkhi. Kami tidak melawan, tetapi kami diam-diam menjadi manusia yang tidak mudah marah, tidak mudah patah arang, dan selalu bisa mencintai mahluk lainnya, tidak suka merusak alam, tidak suka menyiksa hewan. Kami sering menjerit ketika melihat darah, menjerit ketika melihat pemukulan, keroyokan, kekerasan. Hidup kami begitu dekat dengan alam, dengan kelembutan, dengan kedamaian, hidup kami begitu sibuk merawat kehidupan, begitu sibuk menopang kesusahan.

Tentu, ini bukan tentang semua lelaki dan semua perempuan. Kadang, terjadi sebaliknya. Tapi kita bisa lihat yang mana kebanyakan. Jadi, bisakah sekarang kita saling sepaham?


Lontar, 13 November 2013

Minggu, 10 November 2013

Titik Balik

Aku telah berhasil menginjak api dan sekejap memadamkannya, dan sejak itu penghinaan demi penghinaan tak lagi terdengar. Aku berkibar kembali dalam kobaran angin yang kencang! Aku terbebaskan dari beban kepura-puraan! Perjalanan ini telah tiba di terminal berikutnya, dengan lelah yang amat sangat. Aku tidak lagi di persimpangan, hidup dan berdiri di antara lalu-lalang.

Bertahun-tahun hidup di ketiak orang-orang, kini dapat kuhirup udara yang sesungguhnya, bukan lagi bau ketiak-ketiak mereka. Aku mulai menghujamkan akar-akar yang kuat, menjadi tunas dan tumbuh perlahan. Aku kembali menjulurkan lidahku yang lama kelu. Aku kembali membuka rahangku yang lama gagu. Aku mengobati luka-luka dengan imaji-imaji. Menghidupkan cipta yang kupunya jauh sebelumnya. Penundaan yang merana, membusuk, membiru itu, perlu kusiram kembali, kupupuk lagi, sambil menghadap matahari.

Luka-luka telah terjadi dari segala arah. Aku pernah dibunuh sedimikian rupa. Dikubur hidup-hidup tak dapat kemana-mana. Aku dikejar-kejar waktu, dikejar-kejar orang, dihadang batu-batu yang mereka tebar. Aku dilumpukan dan aku lumpuh! Aku ditumpahkan air keras, diguyur hujan deras, dan petir yang meledakkan gendang telinga. Aku membunuh pikir dan renung. Aku kehabisan keranuman imaji yang pernah aku miliki, yang adalah harta-bendaku yang paling rupawan.

Oh semesta, aku telah sampai pada terminal perjalanan. Aku ingin istirahat dengan tenang, memandang alam dengan kopi yang terseduh matang. Aku ingin terbenam dalam luka-luka lama dan melahirkan sel-sel hidup baru. Oh dewa dewi semesta, mari kita pergi, kemana lagi perjalanan akan kita mulai, kemana kita akan melanjutkan lagi. Aku ingin melangkah panjang menuju pintu keluar, ke rumah yang baru, kehidupan yang baru. Aku ingin menikah dengan diriku sendiri. Aku ingin mencium bumi dan memeluk sepenuhnya rasa suka hati!

Sekian lama dipasung, dirajam, dipaksa terpisah dan tercerai dari diriku sendiri. Aku merangkak tanpa kaki, melihat tanpa mata, ditodong senjata untuk menjadi orang lain yang tidak aku inginkan. Aku menjadi bukan aku, yang aku mau waktu aku tahu siapa aku.

Semesta yang aku cintai. Manusia telah diperlakukan tidak lebih dari harapan orang lain, bukan harapan atas dirinya sendiri. Kembalikan aku ya semesta, jadikan ia seperti evolusi yang ber-evolusi, genangkan aku dengan ide-ide dan sahabat-sahabat yang baru, dengan apa yang ingin aku katakan, apa yang ingin aku lupakan, apa yang ingin aku pikirkan, apa yang ingin aku dapatkan.

Siram, siramlah aku dengan tujuan, jangan lagi dengan kenangan!

Peluk cium untukmu semesta dan alam beribu dewa-dewi yang memandang. 

Aku datang.

Perjalanan, 11 November 2013

Sabtu, 09 November 2013

Tali Mati

Oleh: Mariana Amiruddin


Tali hidup telah aku rentangkan. Tapi aku memutusnya di tengah jalan. Tali memori, tali perjalanan. Terlalu banyak luka dan cita-cita yang tertunda. Tali putus merentang tersia-siakan.


Dulu, aku ingin mengulur sampai di ujungnya. Sekarang, aku lupa dimanakah letak ujungnya. Lalu aku tinggalkan begitu saja.

Seseorang menemukan tali putus itu, yang kini terbelah-belah ke segala arah. Tali siapakah ini? Ia merangkainya menjadi tali-temali.

 "Itu bukan taliku lagi. Itu tali milikmu. Mana taliku? Talimu telah kau tinggalkan. Kini jadi taliku. Bolehkah aku pinjam, itu dulu tali-taliku! Carilah tali yang lain!"

Aku mencari tali yang lain. Aku tak temukan tali yang baru! Ia tertawa terbahak. Ia lepaskan tali-temalinya dan merentang seperti semula. Aku mulai mengingat tali itu. Ia memberikan ujung tali padaku, dan ujung lainnya padanya. Kami menarik tali itu ke arah yang berlawanan. Kami tak bisa beranjak kemana-mana. Kami marah dan berontak. Tali-tali itu malah mengikat kami. Kami jatuh tergelinding dalam keadaan terikat. Kami tak tahu ada lubang di situ.

Kami terperosok ke dalamnya.
Kami terkubur di dalamnya.

Ujung tali itu ternyata kematian kami sendiri.

Perjalanan, 10 November 2013

Senin, 02 September 2013

Topeng

Trend manusia sekarang, hidup harus bertopeng. Manusia tidak boleh menampakkan keasliannya. Apa yang dia ungkapkan, haruslah tidak sama dengan apa yang ia pikirkan. Kalau perlu, ia bicara sebaliknya. Seolah dia tidak setuju, atau seolah dia setuju. Kalau dahulu manusia diajari menunjukkan belas kasih pada yang kekurangan. Kalau sekarang, untuk menjadi kaya, kita harus menyerupai pengemis, lalu bila kita sudah menumpuk banyak harta, jadilah kita tukang pamer dan menyatakan diri, bahwa kita adalah jutawan. Kalaupun kita jutawan ataupun pengemis, tetap bukan merupakan keaslian kita.

Apa itu keaslian? Kita sudah tidak tahu lagi. Kita tidak bisa membedakan mana diri sendiri, mana diri yang lain. Topeng itu dibuat melekat selekat kulit wajah kita. Mata dan hidung kita sudah bukan mata dan hidung kita sebelumnya. Kita tidak boleh jadi kita sendiri. Jadi kita yang benar-benar kita, nantinya akan dibenci orang lain. Menampakkan apa yang ada di hati dan pikiran, sama dengan menelanjangi diri. Kita harus memakai topeng, dan jangan lupa bangunlah tembok besar dan tebal, supaya orang tidak bisa mengintip keaslian kita. Apakah kita yang aslinya bangkai busuk, ataupun yang aslinya intan permata. Keduanya tidak boleh terlihat. Kita harus tidak merasa tersiksa untuk hidup yang demikian. Atau kelihatan agak berbeda karena sekali-sekali kita tidak memakai topeng, lantas semua orang menoleh pada kita, seperti melihat sapi liar yang kabur dari kandang. Hidup kita seperti dikelilingi oleh mata-mata, atau kalau kita berani sedikit melawan mereka, hidup kita akan disabotase.

Lihatlah semua manusia di sini berseragam. Mulai pakaiannya, tempat tinggalnya, mobilnya, anak-anak mereka. Tidak sama banget, tetapi manusia sudah diformat untuk memenuhi standar, yang akhirnya menjadi seragam. Bila tetangga sebelah membeli mobil Pajero Sport putih setelah lebaran usai, maka tetangga sebelah lainnya harus punya Pajero Sport Hitam. Paling murah Toyota Rush atau paling bikin tetangga lain cemburu adalah peugeot bercat ungu. Bila kita melintas di jalan bebas hambatan (yang kini setiap meternya adalah hambatan), kita akan menyaksikan perlombaan itu. Itulah topeng-topeng yang menghiasi hidup mereka, kalau perlu mereka tidak perlu memikirkan apa fungsinya. Yang penting punya dan pamer. Sekalipun tempat tinggalnya tidak ada garasi, atau tak ada atap yang melindungi harta bendanya.

Lalu siapakah yang setia pada keaslian? Adalah orang-orang yang mau mati. Dulu nenek moyang kita selalu memberikan pepatah "hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai." Sekarang jangan harap kita dengar lagi pepatah itu. "Tipu daya pangkal kaya, penjilat pangkal kuasa." Ya, ya! Dan memang pepatah yang terakhir sangat jitu. Kalau dulu kita menabung bertahun-tahun untuk memiliki seekor mobil, kalau sekarang, tidak perlu. Kita bisa membeli apa saja, semahal apapun harganya, kita anggap semuanya hanya kacang goreng. Luar biasa!


Tak hanya itu, jangan lupa, supaya topeng-topeng kita tak tercium bau busuk karena dibalik topeng adalah wajah kita yang telah menjadi mayat dan kumpulan belatung, maka tempelkan simbol-simbol yang seolah-olah Tuhan ada di sana. Pakailah simbol-simbol di topeng itu, yang seolah-olah kita adalah orang paling suci di bumi ini. Pastinya, kita tak perlu khawatir lagi, bahwa menjilat dan tipu daya bukanlah suatu perbuatan yang tidak baik, melainkan suatu pertahanan hidup. Bahwa tanpa itu, kita akan menjadi mayat lebih cepat dari yang kita kira!

Saat ini topeng-topeng yang dijejali simbol Tuhan begitu ramai di pasar. Manusia-manusia perempuan dipakaikan kain bermeter-meter, sampai melilit leher dan kepalanya. Bukan cuma itu, kainnya haruslah yang berlapis-lapis, sampai siang terik mencucurkan keringat mereka dan kain-kain itu akan menyerapnya, sampai tercium aroma tak sedap dari kelenjar kulit mereka. Ini benar-benar topeng paling mahal, karena meski kulit lengan, paha, betis dan leher kita tak terlihat, kita harus tetap terlihat anggun dan cantik. Kita harus beri warna-warni, atau kalau perlu, kain-kain yang mengikat kepala kita itu kita andaikan rambut panjang yang menjuntai sampai pinggang. Ah, kain yang sangat mahal, bahkan untuk merajutnya saja kita harus menunggu sang perancang berak dulu di kakusnya.

Sesungguhnya, kehidupan manusia topeng, bagi saya adalah kehidupan yang absurd. Saya salut dengan orang-orang yang bertaruh untuk kebertopengan itu. Karena sesungguhnya, kemanusiaan bukan lagi diartikan perjalanan kita sejak masa kecil hingga dewasa. Kita harus memutusnya ditengah jalan, dan sampai pada waktunya, lupa sama sekali dengan wajah kita sebenarnya. Kita tak lagi tahu apa hakikat manusia, apa kehendak bebasnya, dan apa yang menjadi daya pikirnya atas suatu kehidupan yang nyata. Maka yang nyata haruslah didongengkan, dan yang dongeng haruslah diartikan sebagia kenyataan.

Tambun, Senin 2 September 2013

Minggu, 25 Agustus 2013

Mencari Jejakku Sendiri

Tak juga beranjak.
Begitu banyak jalan, tapi tak pernah tahu tujuan.
Lupa jalan pulang, atau jalan pergi.
Aku tak tahu apa pulang dan pergi.

Bertahun lamanya aku mencari jalan pulang, tapi mengapa orang harus pulang?
Aku hanya tahu pergi. Pergi kemana saja. Pulangku adalah berkelana. Tapi kini aku lelah.
Aku ingin pulang yang sebenar-benarnya pulang. Tapi setiap kali pulang, selalu ingin pergi dan setiap kali pergi aku ingin pulang. Pergi dan pulang bagiku adalah menyatu, dan aku berada terhimpit di tengahnya. Mungkin yang kuinginkan adalah pulang dan pergi. Karena itu tak mengenal kembali. Kalaupun kukatakan kembali, ketika itu pula aku harus pergi.

Tapi kali ini aku berjuang mengejar pulang. Aku mencari jejakku kembali, tempatku berkelana pulang dan pergi. Barangkali itulah yang disebut pulang. Kuayunkan kaki mencari jejak-jejakku sendiri, ke tempat yang bisa menjelaskan aku apa itu pulang. Sampai suatu waktu, aku haus dan letih, dan terantuk batu sampai tubuhku terjatuh di atas tubuh bumi. Terhirup bau tanah lembab pekat. Yang di depannya ternyata ada jalan lurus tanpa ujung. Seperti melihat samudera, yang ujungnya ditandai oleh bulatan bumi. Atau fajar yang ditelan langit, dan senja yang ditelan laut, lalu sinar bulat bernama matahari itu mengingatkan aku pada hidup yang terbit dan terbenam.

Tapi aku sudah lupa apakah alam memang terbatas, atau aku yang terbatas? Apakah aku ingin menembus batas, atau aku yang membatasi diri? Bukan, barangkali aku ingin bebas. Tapi apa itu kebebasan? Seluas apa arti kebebasan? Seterbatas apakah sehingga menembusnya bisa dikatakan bebas? Perjalanan. Aku selalu ingin perjalanan. Tapi mungkin sudah terlalu jauh perjalananku, sehingga aku mulai mengatakan kebebasan itu adalah diam di tempat. Aku ingin duduk diam dan hanya melihat. Tapi lagi-lagi aku berontak. Aku ingin jalan pulangku segera.



Dalam kebingungan, aku memaksa melanjutkan jalan. Aku tak perlu petunjuk. Karena petunjuk bagiku adalah batasan. Aku memuja keberuntungan. Kuikat mataku dengan kain selendang yang kupakai. Melangkah pasrah, aku siap sekalipun tiba di kubangan. Aku rela sekalipun tiba di jeratan. Nyatanya memang selalu ada kubangan dan jeratan. Kadang kaki terkunci di celah batu, dan menggelinding di tempat curam. Tangan kananku sempat terkilir dan kaki kiriku lebam. Aku terus berjalan dengan mata tertutup. Tercium bau wangi pinus dan lembab tanah, bau humus dan kotoran hewan, sekilas terhirup wangi sejuk hutan tropis, yang sesekali tanpa cahaya. Terdengar jerit pilu satwa saling berlomba atau gesekan kaki serangga memecah gendang telinga. Aku senang sekaligus khawatir, apakah aku ancaman bagi mereka, apakah aku disambut mereka. Kusingkirkan rasa takut, aku bangkit pada niatku semula. Sampai pada rasa kulitku terkena udara yang menyengat, aku berhenti. Kubuka ikatan selendang yang menutupi mataku. Ternyata aku sudah keluar dari hutan lembab, sudah sampai di bibirnya, dimana aku bisa memandang jauh lahan terbuka hijau yang lembut.

Tampak rumah kecil di ujung lahan. Aku mendekat. Burung-burung bertengger bergantian di celah-celah jendela. Aku makin mendekat, burung-burung semakin liar bercicitan menghampiriku. Aku masih berjalan perlahan, memasuki halaman tanpa pagar. Rumah tanpa penghuni itu tampak terawat. Meski dinding-dindingnya sudah mulai retak. Burung-burung kembali bercicitan, berisik sekali, dan diantara mereka berani sesekali bertengger di pundakku. AKu terkejut karena salah satunya membawakan seikat kunci mungil dan menjatuhkannya di depan kakiku. Aku langsung mengambilnya tanpa bertanya lagi. Aku sangat fokus dengan rumah itu. Kuberanikan diri membuka pintu dengan kunci itu. Pintu yang ringan dan langsung tampak ruangan mungil, wangi melati, tenang dan hening. Di sudut ruangan tampak meja tulis lengkap dengan kursi dan buku-buku tersimpan rapi di dalam rak. Aku segera duduk di depan meja yang menghadap jendela, tempat mataku tertumbuk pada hijau pohon dan rumput halaman belakang. Tercium bau gairah dan bahagia. Tercium bau rumput, daun dan tanah basah. Di atas meja ada kertas dan alat tulis. Ada kuas dan cat. Ada pinsil dan serutan. Di pojok ruang ini, terlihat sebingkai kanvas disandarkan.

Aku mulai merasa memiliki rumah ini. Dan perasaanku yang paling aneh adalah aku merasa aku pernah tinggal di sini. Aku menarik nafas panjang, memejamkan mata, menikmati suasana. Aku bangkit keluar dari ruang itu, menuju ruang yang lain. Seperti ruang masak memasak. Ada bahan-bahan sayur daging dan bumbu di situ. Ada peralatan memasak dan meramu. Kendi berisi air sejuk. Aku menenggaknya. Aku lapar dan langsung memasak bahan-bahan itu. "Apakah ini pulang?" jerit keciku dalam hati. Aku melahap segalanya. Terasa angin lembut melintas di punggungku. Aku menoleh menuju ruang tengah. Ada bangku besar yang terlihat empuk. Aku menuju bangku itu dan merebahkan diri di atasnya. Rasa kantuk menyerang. Aku tak bisa melawan. Lelap, aku tidak tahu lagi dimanakah aku sebenarnya.


Tambun, 1 September 2013

Selasa, 12 Maret 2013


Bulan

Apakah malam ini ada bulan? Langkahku tertinggal semalam, setapak menuju danau. Kupijak jejak kakiku sendiri. Seperti hidup yang diulang-ulang. Menuju danau itu. Aku ingin menyelam. Bertahun lamanya. Aku tak lagi ingin bertemu manusia. Aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku hanya  mengerti angin, hujan, lambaian daun, dan nyanyian satwa.

Malam itu aku menghadap bulan. Bulan yang biasa menggantung di atas danau. Danau dan bulan serasi dan tenang. Serupa hati yang damai. Tapi siapa yang tahu milyaran tahun, telah dilaluinya. Peristiwa lalu-lalang,  kadang tersangkut di persimpangan, kadang pecah berantakan teronggok sendirian.

Tiba di danau. Aku melompat, menyelam berjam-jam. Saat menyelam aku berdoa diam-diam. Gelap dan dingin. Menyelam sampai ke dasar. Semakin dalam semakin tenang. Jiwa yang dingin dan gelap, sepanjang tahun. Dingin menusuk ngilu tulangku, aku tetap berenang kencang, dari dasar ke permukaan. Bagai mahluk yang ber insang. Sesampai di permukaan, bulan pun kelihatan. Aku tersengal haus udara sambil menantang sang bulan. Aku naik ke daratan tanpa lepas menatap bulan. Aku lupa daratan memerlukan kaki untuk berjalan, bukan untuk berenang. Aku tersungkur jatuh, rapuh, menggigil diam. Pecah disambut suara satwa malam. Kelelawar menjerit berpencar, terbang merendah. Bulan suram menatap diam. Dari redupnya, awan terlihat tersenyum tipis. Senyum kelabu. Senyum kecemasan. Dan angin melintas dingin, menambah gigil. Menyusul rintik datang, jatuh bulir-bulir tajam.

Malam tak pernah sempurna. Aku meringkuk memeluk tubuhku sendiri. Mengatasi kedinginan. Mengutuk dua tiga kata dalam hati. Mimpi buruk setiap malam. Tertahan untuk diteriakkan. Tak seorangpun akan mendengar. Hujan dan angin lalu menderu berkejaran, berarak seperti menghantam bumi, memecah segala keheningan. Aku meracau. 

Bulan suram segera hilang. Sisa hujan masih menyiramku telanjang. Merintih gigil campur lebam. Meneriakkan harapan diam-diam;

Bila aku harus menghabiskan waktu sendirian, katakan dengan terang. Aku siap kesepian. Bila jiwaku telah terbelah, temukan belahan jiwaku sekarang.

Awan menyingkir perlahan. Bulan muncul kembali dan menggantung terang. Hujan berhenti jatuh. Kilat riak danau kembali terlihat, dengan gelombang yang lebih pekat.  Aku tak lagi meringkuk diam. Aku menatap ke depan. Aku mulai menangkap keceriaan alam. Kepak sayap burung pun lanjut terdengar.


Tambun, Bekasi., 12 Maret 2013: 00:00