Sabtu, 09 November 2013

Tali Mati

Oleh: Mariana Amiruddin


Tali hidup telah aku rentangkan. Tapi aku memutusnya di tengah jalan. Tali memori, tali perjalanan. Terlalu banyak luka dan cita-cita yang tertunda. Tali putus merentang tersia-siakan.


Dulu, aku ingin mengulur sampai di ujungnya. Sekarang, aku lupa dimanakah letak ujungnya. Lalu aku tinggalkan begitu saja.

Seseorang menemukan tali putus itu, yang kini terbelah-belah ke segala arah. Tali siapakah ini? Ia merangkainya menjadi tali-temali.

 "Itu bukan taliku lagi. Itu tali milikmu. Mana taliku? Talimu telah kau tinggalkan. Kini jadi taliku. Bolehkah aku pinjam, itu dulu tali-taliku! Carilah tali yang lain!"

Aku mencari tali yang lain. Aku tak temukan tali yang baru! Ia tertawa terbahak. Ia lepaskan tali-temalinya dan merentang seperti semula. Aku mulai mengingat tali itu. Ia memberikan ujung tali padaku, dan ujung lainnya padanya. Kami menarik tali itu ke arah yang berlawanan. Kami tak bisa beranjak kemana-mana. Kami marah dan berontak. Tali-tali itu malah mengikat kami. Kami jatuh tergelinding dalam keadaan terikat. Kami tak tahu ada lubang di situ.

Kami terperosok ke dalamnya.
Kami terkubur di dalamnya.

Ujung tali itu ternyata kematian kami sendiri.

Perjalanan, 10 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar