Oleh: Mariana
Amiruddin
Akhir-akhir ini saya merasa
terlalu kuat bagi laki-laki, dan laki-laki terlalu lemah bagi saya. Meskipun
saya tidak suka dominasi, kini, sayalah yang sering mendominasi mereka, itu
membuat saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri, dan semakin malas berteman
dengan laki-laki. Di antara yang saya kenal, mereka terdiri dari orang yang manja,
sangat tergantung, sering mengeluh, dan mudah putus asa. Mungkin saya salah, mungkin
mereka memang sedang kalah, tetapi itu yang saya alami, dan saya jadi malas. Di
sisi lain, saya sering mendengar laki-laki harus kuat, melindungi kami,
menanggung hidup kami, antar jemput kami, membelai kami, menggandeng kami, tetapi
kenyataannya saya tidak mengalami itu semua dengan mereka. Suatu hari saya
ingin mempraktekan itu dengan laki-laki, awalnya mereka bisa, tetapi, lama-lama
mereka capek sendiri, saya juga capek sendiri, dan akhirnya kami bertukar
peran, bahkan saya ambil alih! Sayalah yang melindungi mereka, dan mereka yang
manja dan tergantung dengan saya. Ini aneh buat saya. Dan saya juga capek pertukaran
peran-peran itu. Akhirnya saya memutusan untuk berjalan sendiri. Saya cukup
bertempur dengan diri saya sendiri.
Dan kemudian saya
justru bertemu dengan perempuan-perempuan yang sangat kuat, tidak ada kata
putus asa, penuh dengan ide, berani dan selalu bisa menghadapi situasi. Kami
yang sesama seringkali terlampau bersemangat. Kadang saling melindungi, kadang
berkelahi, kadang senang, kadang menatap kosong. Bertemu mereka
(perempuan-perempuan itu), saya merasa ada yang terhubung, ada jejak-jejak yang
sama, ada keinginan yang sama-sama tertunda. Saya bahagia, saya merasa tidak
sendiri lagi.
Mungkin, karena
laki-laki tidak bisa menganggap kita teman, tetapi pasangan, atau kepemilikan,
atau karena kita mirip dengan ibu mereka. Mereka masih menganggap kita
misterius, mahluk yang tidak bisa diterka. Mungkin, mereka menganggap kita
adalah pelengkap saja, seperti tulang rusuk. Kita diminta untuk melengkapi hidup
mereka yang tidak lengkap itu. Lalu kita dipaksa mengenal mereka, budaya yang
mereka buat, agama yang mereka buat, mitos-mitos yang mereka buat. Kita dipaksa
untuk mengerti hidup mereka, tapi mereka kurang begitu kerja keras untuk
mengenal hidup kita. Mereka tidak pernah bersungguh-sungguh mengenal kita,
kecuali payudara kita, kelamin kita, birahi kita, bisikan kita, rambut kita,
tengkuk kita, pantat kita, ketiak kita, pinggul kita. Mereka hanya mengenal
bagian-bagian tubuh kita seperti mengenal jamban atau alat-alat yang mereka
sukai.
Mungkin karena
laki-laki terlalu banyak diberikan keistimewaan, mulai dari pendidikan,
pekerjaan, jabatan, dunia politik, kepala keluarga, tidak mengasuh anak, tidak
melahirkan, tidak ditanya kalau keluar malam, tidak dilirik kalau pulang pagi,
tidak disiul-siul di jalanan, tidak diteriaki pelacur kalau mabuk dan telanjang
dada. Mungkin, karena laki-laki terlalu banyak kemudahan, sehingga mereka jadi
lemah dan cepat putus asa, atau, terlalu dimomong terus oleh ibu-ibu mereka,
diharapkan oleh banyak orang, dipuja-puja kalau kaya. Mereka jadi sulit untuk
melihat kehidupan yang sebenarnya, atau terkejut ketika melihat kehidupan yang
sebenarnya. Mungkin, kita ini (perempuan) baginya adalah boneka cantik yang
akan dimilikinya, disimpan dan diletakkan dalam kulkas supaya tidak lekas tua.
Mereka itu punya tuntutan
aneh kepada kita. Untuk membuatkan kopi saja, mereka butuh perempuan. Untuk
mencuci baju dan setrika, mereka butuh perempuan. Untuk menyiapkan celana
dalam, mereka butuh ibu dan istrinya. Untuk menyiapkan sarapan makan siang dan
makan malam, mereka lagi-lagi butuh perempuan. Mereka dididik manja! Dunia ini
tidak adil memperlakukan laki-laki. Mereka jadi rapuh sekali!
Mungkin, karena
laki-laki dipaksa untuk dominan, kuat, dingin, rasional dan jauh dari
kehangatan, kasih sayang, alam, rasa, intuisi, kelembutan. Mereka jadi mahluk
yang tidak berpijak di bumi, penuh kekerasan, persaingan, mereka begitu
terlantar dan lemah, mereka selalu harus dirawat, mereka selalu butuh perawat
dan pelayan, mereka jadi rapuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sayapun,
akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka, karena saya tidak ingin
merawat mereka, saya hanya ingin memperlakukan laki-laki sebagaimana memperlakukan
diri saya sendiri, yang bertahan, yang penuh luka, yang bisa menangis, yang
bisa memperlihatkan isi hatinya dengan gamblang. Saya ingin mereka tidak cepat
putus asa, bahagia, dan tidak merasa gagal hidup di dunia. Dengan begitu, saya
bisa senang berteman dengan mereka. Dengan demikian, saya bisa bahagia bila di samping
mereka.
Sementara kita,
perempuan, dididik untuk melatih diri supaya besar nanti bisa merawat mereka
(laki-laki), bisa melayani mereka secara seksual, bisa mencuci baju mereka,
memakaikan sepatu mereka, menyediakan makanan, melahirkan anak-anak mereka, dan
kita dididik untuk menjadi perawat dan pelayan laki-laki seumur hidup kita.
Itulah yang membuat perempuan tidak manja, kuat, dan tidak gampang mengeluh,
karena kita dipaksa untuk tidak sempat memikirkan diri kita sendiri, tidak
sempat merumuskan apa cita-cita kita sendiri, tidak sempat bercermin betapa
wajah kita sudah mulai berkerut karena sibuk mengayomi mereka. Kami, perempuan.
Adalah manusia yang dibuat kuat oleh kebudayaan patriarkhi. Kami tidak melawan,
tetapi kami diam-diam menjadi manusia yang tidak mudah marah, tidak mudah patah
arang, dan selalu bisa mencintai mahluk lainnya, tidak suka merusak alam, tidak
suka menyiksa hewan. Kami sering menjerit ketika melihat darah, menjerit ketika
melihat pemukulan, keroyokan, kekerasan. Hidup kami begitu dekat dengan alam,
dengan kelembutan, dengan kedamaian, hidup kami begitu sibuk merawat kehidupan,
begitu sibuk menopang kesusahan.
Tentu, ini bukan
tentang semua lelaki dan semua perempuan. Kadang, terjadi sebaliknya. Tapi kita
bisa lihat yang mana kebanyakan. Jadi, bisakah sekarang kita saling sepaham?
Lontar, 13 November
2013
Kayaknya ini spesifik mengacu laki2 Indonesia ya? Minta dibikinin kopi sama disiapkan baju. Kalau laki2 luar, kelaut aja minta2 yang begitu...
BalasHapusIya, kebanyakan laki-laki Indonesia.
BalasHapus