Sabtu, 30 November 2013

Semua ini Karena Ilusi Patriarki


Oleh: Mariana Amiruddin


Sebuah analisis gender pernah menjelaskan perbedaan perkembangan psikologi antara laki-laki dan perempuan dalam menghadapi masalah kehidupan, masalah perang, masalah kehilangan pekerjaan. Banyak bukti bahwa laki-laki cenderung cepat putus asa, cepat pergi dari masalah atau bahkan seolah-olah masalah itu tidak ada. Sementara perempuan, cenderung ingin cepat menyelesaikannya, ingin cepat mencari solusi dan berbuat sesuatu yang bisa mengubah nasibnya dengan berusaha apa saja. Ini saya bicara secara umum, tentu saja tidak semua laki-laki dan perempuan mengalaminya.

Apa yang menyebabkan laki-laki seperti itu? Mereka dibangun oleh ilusi tentang kekuatan, kemenangan, kekerasan, kejantanan, ketenaran, kekayaan, persaingan, kebudayaan, peradaban, penaklukan, perburuan. Mereka tidak pernah diajari tentang sesuatu yang pribadi, privat, diri, apa adanya, bicara apa saja, keluarkan apa yang ada di hati, mengasihi, peduli, memperhatikan yang lain. Kalau istilah anaknya Ahmad Dhani itu "ayo kita selesaikan di Ring Tinju" ketika ia marah Farhat Abas mengejek ayahnya. Ayahnya membentuk anak laki-lakinya seperti itu, semua diselesaikan secara fisik dan harta benda seperti mobil sebagai simbol kemewahan dan ketenaran. Semua masalah diatasi dengan fisik  dan harta benda. Itulah ilusi kekuatan, kejantanan. Padahal, kehidupan yang nyata tidak sesederhana itu, tidak semudah film-film laga.

Oleh karena itu, suatu hari, seorang politisi, seorang penyair, seorang pegawai negeri, seorang pengusaha, seorang kuli, seorang mahasiswa, seorang dosen, seorang aktivis atau siapapun mereka, membangun relasi dengan perempuan sampai pada aktivitas seksual dan perempuan itu ternyata hamil, lalu sikap mereka seperti hal yang saya jelaskan tadi. Mereka tidak disiapkan untuk kehidupan yang sebenar-benarnya, kehidupan semesta bahwa di situ ada proses-proses biologi yang akan mempengaruhi kehidupan dan masa depan manusia. Mereka hanya sampai pada aktivitas seksual, dan tidak tahu apa lagi selanjutnya. Mereka gagap dan abai dengan ulah mereka sendiri, yang seharusnya mereka hadapi dengan apa yang mereka sebut sebagai "jantan" itu. Sang perempuan, melihat sang lelaki seperti seorang pangeran, mengagumkan, pintar, berwibawa, tenar dan berharap akan melindunginya. Lalu, sang pangeran itu menghampirinya, mengucapkan kata-kata indah, meluluhkan hatinya. Didasari inilah seorang perempuan mau melakukan aktivitas seksual, sesuatu yang menurutnya penuh kasih dan impian, membuat dia merasa nyaman. Dia menyangka apapun resikonya akan dijalani bersama. Ia tidak tahu bahwa secara sosial, perkembangan psikologi dan perspektif laki-laki sangat berbeda jauh bahkan berseberangan dengan apa yang perempuan pikirkan dan perempuan alami. Dia menerima begitu saja.

Teman saya, dulu seorang mahasiswa yang kini sendirian membesarkan anaknya, mengalami hal yang sama. Waktu masih belia usia belasan tahun, dia ikut sebuah kelompok teater, dia kagum dengan pelatih teaternya, lalu sang pelatih teater mendatanginya, menyukai dia, dan sampai pada aktivitas seksual, sehingga akhirnya hamil. Begitu hamil, sang pelatih seolah tidak mengenalnya lagi, lari, takut, dan tidak menerima apa yang terjadi. Padahal, sang gadis belia ini hanya ingin bertanya, “jadi bagaimana ini? Ada anak kita dalam rahimku. Bagaimana kita menjalankannya?” Ia ingin diakui, juga anak yang dikandungnya dikasihi, dan sang lelaki mau ikut andil untuk memikirkannya. Tetapi memang lelaki sangat gagap sekali dalam urusan domestik ini, mereka tidak terlatih, terlalu berjarak dengan hidup yang alami, terlalu angkuh dan merendahkan urusan-urusan semacam ini. Atau, tidak mau mengakui sama sekali adalah cara dia menyelamatkan diri dari ketakutan dan kecemasannya sebagai “seorang lelaki”.

Kasus seperti ini banyak sekali terjadi di sekeliling kita. Potret yang bisa saya pajang dalam masalah ini adalah, kegagapan dan kecemasan yang luar biasa laki-laki atas urusan reproduksi, pengasuhan, semua diserahkan kepada perempuan. Mereka hanya tahu bekerja, berkarya, cari uang, pulang, makan sudah disiapkan, baju sudah wangi, tempat tidur sudah dirapikan, dan lantai rumah sudah mengkilat, dan anak-anak gemuk, sehat, dan ceria. Artinya sekalipun mereka menikah dan memiliki anak, ataupun kehamilan memang diinginkan oleh keduanya, urusan-urusan domestik itu tetap dilemparkan begitu saja kepada perempuan. Bila ada persoalan ekonomi, dan lelaki dianggap sebagai sang pahlawan pencari nafkah, pelindung keluarga, pemimpin, tetapi mengalami kegagalan, sang lelaki akan pergi dan malu, rendah diri, jatuh, putus asa, depresi, gila. Tapi tidak dipikirkan bahwa ada kehidupan yang harus berjalan. Laki-laki terus menerus mencari pelarian, dan masalah-masalah domestik itu membayangi dia terus sehingga membuatnya panik dan ketakutan. Seolah-olah, beban memelihara, mengasuh, merawat, menyusui, melahirkan, adalah semata-mata beban perempuan. Sang laki-laki kalau ada masalah, seringkali bersembunyi di ketiak ibunya, atau perempuan yang dia anggap seperti ibunya. Atau, seorang perempuan yang dia pacari atau dia nikahi karena dia mengingat ibunya. Ini karena anak laki-laki mengenal kasih sayang dan pengasuhan hanya dari ibunya, bukan ayahnya. Lain hal lagi, peran-peran itu sudah dia pelajari sejak kecil, dia pikir, urusan-urusan ini bukan lagi urusannya. Maka untuk hidup dan menikah, ataupun secara seksual dan relasi dampak perbuatan seksual dengan kehidupan sosial, adalah juga urusan perempuan. Apa yang terenggut dari laki-laki kemudian adalah sebagai pencari nafkah, jerih payahnya seluruhnya akan dia berikan kepada keluarga, istri dan anak-anaknya. Dia tidak bisa menikmati sendirian jerih payahnya itu. Dia bekerja dan dapat gaji, tapi tidak bisa membeli apa-apa. Beban-beban sosial dalam konstruksi peran-peran gender dan seksual manusia membuat hidup laki-laki dan perempuan menjadi benang mati, kusut, tak pernah berimbang, tidak pernah ketemu. Semua punya jurang masing-masing. Dan jurang itulah yang menimbulkan masalah, reaksi amarah, lantas masalah itu sendiri tidak pernah terselesaikan.

Suatu hari, saya pernah jalan bertiga, yaitu saya, satu perempuan dan satu lelaki. Sang lelaki cemas bahwa dia merasa tidak nyaman berjalan dengan dua perempuan, sementara dia laki-laki sendirian. Dia merasa didominasi. Atau saya berjalan berdua dengan seorang teman lelaki, dan melintas sekelompok teman-teman lelakinya, lalu teman lelaki saya diejek-ejek dianggap menginginkan saya. Aneh sekali menurut saya, bukankah kita adalah dua manusia biasa yang sedang berjalan menuju gedung itu, lalu tiba-tiba sekelompok laki-laki mengenggap teman saya ini sedang melakukan pendekatan terhadap saya? Seolah saya ini perempuan yang pasif dan tidak punya keputusan sendiri. Lagipula, sebetulnya apa persoalannya? Kita hanya ingin berjalan kaki ke arah gedung itu untuk urusan kita masing-masing!

Seandainya kita semua mengerti bahwa kehidupan harus diatasi, dihadapi oleh semua jenis manusia, tentu kerumitan ini akan berhenti. Seandainya laki-laki dan perempuan saling mempelajari keunikannya, kelebihan dan kekurangannya, tentu tidak sesukar itu kita mendengar masalah relasi keduanya. Seandainya relasi perempuan dan laki-laki bukan dibangun atas kecurigaan sosial, moral dan agama, tentu tidak seperti ini jadinya. Seandainya seorang laki-laki tidak perlu merasa malu saat menghamili seorang perempuan, lalu disebut tidak bermoral, atau dianggap laki-laki hidung belang, dengan menujukkan kasih sayang dan keberaniannya menghadapi hidup, julukan itu akan berhenti dengan sendirinya. Saya ingin membantu masalah kesenjangan dan ketimpangan ini, membantu menekankan pentingnya laki-laki ikut andil dan menaklukan rasa takutnya pada urusan-urusan seksual-domestik. Dan pentingnya membuat perempuan mempertahankan dirinya, menunjukkan siapa dirinya, tanpa harus bergantung pada orang lain. Tidak mudah memang, tetapi perlu dicoba sampai rasa takut itu tidak ada lagi.

Jawa Barat, 30 November 2013


Kamis, 28 November 2013

Politik Belas Kasihan

Oleh Mariana Amiruddin

Hubungan antar manusia saat ini ternyata hanya ditentukan oleh ekonomi dan kelas. Tidak ada lagi yang murni didasarkan oleh ideologi apapun. Kalau sudah begini, tanpa ideologi, membicarakan kemanusiaan menjadi manipulatif. Kadang, orang-orang merasa kekurangan bukan karena tidak punya apa-apa melainkan karena serakah dan ingin tidak kalah dengan orang lain.

Kadang, saya tidak percaya dengan janji dan kesepakatan. Karena kadang, kesepakatan dan janji itu bisa diobrak-abrik di tengah jalan. Kadang, saya tidak percaya komitmen, ketaatan dan kesetiaan, karena kesetiaan dianggap terlalu ideal. Dan lagipula, orang-orang sudah tidak tahu lagi apa itu ideal, kecuali soal berapa banyak uang yang akan kau berikan.

Idealisme dianggap hanya urusan orang-orang yang masa depannya miskin. Sementara, tanpa idealisme, kita hanya bisa memelihara kemiskinan dan kebodohan.

Orang-orang yang mengaku anti feodalisme dan anti kelas seidealnya pandangan saya adalah bagi yang kaya tidak memamerkan kekayaannya, bagi yang miskin tidak memanipulasi kemiskinannya. Apa yang disebut "mapan" ternyata adalah, seseorang yang tidak mau berubah, tak mau bergeser dari kekayaan dan ketenarannya, atau merasa aman berpijak pada kemiskinan dan kebodohannya. Keduanya saling bekerjasama dengan sangat solid! Idealisme adalah musuh bersama mereka!

Seorang janda berpenghasilan tidak tetap dengan empat anak yang harus dia sekolahkan dan kasih makan, masih juga dihutangi urusan seorang lelaki lajang yang bisa pergi bebas kemana dia mau, dengan alasan kemiskinan. Ini sungguh sangat tidak adil.

Terlalu banyak orang yang kagum dengan Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, bahkan Tan Malaka. Tapi saya pikir hampir tidak ada yang menjadikan mereka sebagai pedoman hidup. Lagipula, untuk menjadi mereka, tentulah tidak seenak hidup yang kita rasakan sekarang. Takkan rela hidup enak kita ini direnggut oleh pedoman hidup yang telah tokoh-tokoh itu pertaruhkan.

Seorang perempuan calon legislatif bercerita kepada saya, ketika melakukan kampanye ke ibu-ibu pengajian yang menurutnya adalah ideal untuk melakukan penyadaran politik, ternyata mengalami hal yang tidak ia inginkan, mereka bertanya kepada calon legilslatif itu: "kamu berani bayar berapa?". Soal transaksi politik yang kita gelisahkan ini ternyata tidak semata-mata penyakit partai politik, tetapi rakyat yang ikut bermain pasar transaksi politik itu sendiri, dengan menaikkan tarif suara masing-masing. Alhasil, partai yang paling banyak modal tentu akan dimenangkan. Dan penguasaan terhadap modal serta sumber-sumber uang itu, tentulah kita tahu di tangan siapa. Yaitu mantan-mantan Orde Baru yang punya banyak waktu untuk mengumpulkan harta kekayaannya, investasi di sana-sini yang tidak terjangkau dan tak tersentuh.

Jadi, kalau kita bicara rakyat yang berteriak "WANI PIRO" ini semacam kekuatan dari bawah yang sangat berbahaya. Saya lantas berpikir, reformasi ini milik siapa? Lalu saya menjawab, milik mereka yang punya modal dan kekuasan. Selanjutnya, saya juga berpikir tentang begitu banyak premanisme di negeri ini, jawaban sementara adalah mereka lebih senang "disuap" daripada bekerja keras untuk menjadi manusia yang mandiri. Mereka memang dimiskinkan, tetapi mereka mulai merasa aman dengan kemiskinannya, dengan demikian mereka bisa dapat uang dari belas kasih dan mengemis, memalak, mengancam. Lalu saya buka lagi pemikiran Edward Said dan Foucault, bahwa kuasa itu ibarat jaring laba-laba, penindas dan yang ditindas berlaku lintas kelas. Bahkan kita menindas diri kita sendiri, tidak menghargai diri kita sendiri. Kekayaan bumi kita dijual, masuk kantong sendiri. Anak-anak perawan mereka jual, masuk ke kantung orang tua anak itu sendiri.


Taman Ismail Marzuki Jakarta, 27 November 2013

Senin, 25 November 2013

Sekilas Tentang “Orang-orang Bawah Tangga


“Orang-orang bawah tangga”, adalah simbol individu-individu seniman yang mengeksplorasi ruang-ruang publik sebagai tempat berkesenian, yang memungkinkan seorang seniman memiliki ruang untuk meneliti kembali identitasnya, eksistensinya. Kesenian dalam hal ini diperlakukan secara inklusif, bukan eksklusif. Seni sebagai milik publik, milik rakyat, milik seniman. Seni publik adalah seni yang lahir di luar jangkauan industri, gedung-gedung yang tertutup, ikatan institusi.

“Orang-orang bawah tangga” adalah sebuah ruang produksi yang bebas dalam maknanya masing-masing, adalah sebuah laboratorium seniman untuk menelurkan karyanya melalui proses interaksi antar-seniman, melakukan uji coba kepada publik, meneliti ulang aksi-reaksi antara karya dan publik. Laboratorium ini seperti sebuah studio lukis, bilik menulis,  yang memberi tempat seniman untuk berproses, merenung, berimajinasi, berinspirasi, menambah wawasan, menghargai dirinya sendiri, menaikkan kapasitas dirinya sebagai seniman.

Adapun laboratorium ini akan membantu seniman menjadi lebih berdaya dan mandiri, tanpa tergantung dengan trend, pasar dan bisnis seni, namun menjadi karya-karya yang lahir dan akhirnya dihargai.
Pemikiran tentang “orang-orang bawah tangga” ini terinspirasi dari pergulatan Van Gogh dalam ide dan pemikirannya tentang The Yellow House, atau Romo Mangun yang merespon Kali Code, namun Orang-orang Bawah Tangga ini lebih merespon kondisi sosial di lingkungannya. Ini tentu saja bukan sesuatu yang baru, namun akan sangat berarti untuk memberdayakan seniman menjadi lebih produktif bila dijalankan secara konsisten.

Dimanakah tempat “Orang-orang Bawah Tangga”? Adalah di ruang-ruang publik, dimana mereka bisa saling berdiskusi, memaknai, merenung dan membantu mereka mendapatkan inspirasi dan menelurkan karya. Konteks “Orang-Orang Bawah Tangga” adalah seniman-seniman yang saling mendukung, tanpa mencampuri imajinasi satu dengan lainnya. Sebuah kolaborasi yang alami dan spontan, namun bukan tanpa konsep.



Salam budaya!
Mariana Amiruddin dan Yenti Nurhidayat

Senin, 25 November 2013
Taman Ismail Marzuki

Sabtu, 23 November 2013

Manifesto Orang-Orang Bawah Tangga


Oleh Mariana Amiruddin

Orang-orang memarkirkan kendaraannya, antri berpanjang-panjang memasuki gedung tinggi berkaca-kaca, beruang-ruang kosong, bermegah-megah mewah, bermerah-merah wangi bangku penonton, berwarna-warni cahaya lampu-lampu, bersengat-sengit dingin ruangan menusuk. Duduk, duduklah mereka dalam dingin tanpa keringat dan bau. Dalam karpet yang bersih dan empuk. Menghadap panggung-panggung, warna-warni kostum, pernak-pernik perias wajah, rona-rekah wajah-wajah artis televisi dan tawa menertawai para pengaku komedi.

Di sini, dalam gelap, di bawah tangga. Bau busuk sampai kerongkongan. Nyamuk-nyamuk memangsa. Sinar, hanya sinar sebuah warung kelontong, dan karat-karat besi yang rontok dari tangga, dari bangunan tua yang terjepit diantara kaca-kaca gedung-gedung kesenian mencakrawala. Hanya dengan segayung dua gayung, kami mandi. Hanya dengan bertikar lembab di bawah langit, setiap malam kami bertegur sapa. Angin dan hujan membuat kami berpeluk erat, dalam wajah-wajah kami yang berkeringat berlemak mengatasi lembab. Semua tidak bisa membuat kami ringkih. Kami tersungkur di kaki gedung-gedung kaca kesenian yang mencakrawala, kering kerontang dari kipas-kipas raksasa mereka. Kami tinggal di pantat gedung-gedung itu. Kami tak mencium wangi seperti mereka mencium wangi dari depan keindahan gedung itu. Dari kembang-kembang yang dirangkai d idepan pintu. Kami bermukim di pantat gedung itu, yang tercium bau limbah makanan manusia, plastik-plastik sampah air mineral, tempat buruh-buruh makan makanan murah, dengan tugas-tugas mereka yang membersihkan kamar mandi, pipis-pipis mereka, taik-taik mereka, jejak-jejak sepatu mereka.

Kadang, kami dikatai gelandangan. Lalu orang besar menawarkan kami makanan dan uang, seperti memberi makan anjing dan kucing jalanan. Kadang kami diusir, karena bau. Karena kini, seniman haruslah wangi, bukan seperti gelandangan. Haruslah bersepatu kulit dan bercerutu. Berjas-jas bukan berjaket-jaket sobek. Seniman, adalah stigma. Soal mabuk-mabukan setiap malam, perempuan-perempuan bersuara serak yang bersandal-sandal, dan laki-laki berambut panjang. Kini, seniman mestilah religius, rapi, dan sedikit punya modal untuk menyewa gedung mahal, untuk menaikkan derajat pagelaran karya mereka, dan teknologi suara yang menggelegar, dengan layar-layar besar. Yang tidak punya modal, jangan berharap jadi seniman, jangan berharap bisa berkarya. Kreatifitas ditentukan oleh fasilitas, bukan oleh ide. Mahakarya ditentukan oleh jejaring sosial, patron klien, dan industri. Mapan, seniman harus mapan. Fasilitas, seniman harus punya fasilitas. Kita bukan lagi Affandi yang mau berkumuh-kumuh, Sutardji Calzoem Bachri yang berlalu-lalang dan berteduh dengan secangkir kopi di kaki lima. Yang berdiskusi dan bertengkar di pelataran tempat seni dan kebudayaan. Kita terhimpit oleh parkir-parkir motor dan mobil yang bertumpuk-tumpuk menghabiskan ruang gerak dan imajinasi. Kita takut dengan mereka yang punya fasilitas, kita rendah diri dengan keadaan kita, kita takkan punya penonton yang setia. Kita hanya punya tenggorokan, mata dan kepala untuk berpikir dan membaca.

Namun, benarkah demikian? Berkumpulah kami dengan secangkir kopi dan sisa setengah batang rokok menggelantung di bibir. Duduk setengah gelap di bawah tangga itu. Bicara soal kekalahan hidup, ketidakpastian, kekurangan. Dulu, kami adalah orang-orang yang berdiri di panggung langit dan bumi, bangga dalam puisi demi puisi, dalam pertunjukan demi pertunjukan. Dulu kami tidak hina karena penampilan, kami bangga karena penciptaan. Dulu, banyak ruang untuk dijadikan peran, dan tak kenal lelah berlatih menjadi aktor dan aktris, pelukis dan sastrawan, perupa dan musisi, penari dan grafiti. Melengking-lengking suara kami membelah langit dan dinding-dinding. Dulu, puncak planetarium adalah panggung kami, pohon mahoni adalah properti kami, aspal-aspal kami ubah menjadi jalanan berseni. Dulu, apapun kami sulap menjadi pentas seni, dulu, tidak makanpun kami bisa berkesenian, tak mandipun kami disambut tepuk tangan. Dulu, pentas bisa di ruangan terbuka, melukis bisa di bawah langit, pertunjukan di lapangan parkir, berpantomim di tengah kaki lima. Dulu, kami disayang oleh orang-orang karena keunikan kami, kejutan-kejutan kami. Sekarang, galeri pameran lukisan diletupi suara-suara musik hip-hop dan pengeras suara panggilan bioskop.

Suatu hari, kami berkumpul dan saling membangun optimisme. Tentang industri televisi yang menguasai kediaman kami, mengubah segalanya menjadi budaya pop. Mengadopsi artis-artis yang tak pernah menginjak panggung teater. Siapakah kami ini, yang dihilangkan, dipinggirkan dipersempit ruang. Kami, seperti tokek-tokek yang punah karena pohon-pohon ditebang, burung-burung yang kehilangan keceriaan.
Lalu, di bawah tangga itulah, kami mulai berkobar. Seperti arang yang membara sekalipun patah. Bau-bau tubuh kami berganti menjadi ide-ide cemerlang. Kami saling merespon manusia-manusia yang lalu-lalang diantara kami. Kami meneliti keadaan kami. Bisakah kami kembali untuk berkarya seperti dulu lagi? Bisa! 

Ya, kami bisa hanya dengan satu kata: -kerja- ! Lalu kami berbagi tugas, siapa pembuat naskah, siapa sutradara, siapa pemain, siapa musik, siapa dokumentasi, siapa penyanyi, siapa penata ruang dan peralatan, dengan apa yang hanya kami miliki. Kami menyatu.

Kami orang-orang bawah tangga, adalah simbol kebudayaan orang-orang yang ditenggelamkan. Kami bernasib tidak baik, hanya karena kami bukan pedagang, bukan saudagar, bukan tokoh agama. Kebudayaan, bagi kami adalah hidup itu sendiri. Kesenian bagi kami, dimanapun kami berdiri. Penonton bagi kami, siapapun yang akan melintas kami. Inilah visi kami, ruang-ruang publik yang harus diisi, dikreasi, dijadikan pertunjukkan. Biarlah gedung-gedung itu menjadi milik mereka, maka biarlah pelataran ini menjadi milik kami.

Sebab bagi kami, seniman berkarya dalam setiap kondisi, kecuali kemapanan. Kemapanan itu bukan ciri kreatif, melainkan ciri segala fasilitas yang dia miliki.

Komunitas Orang-orang Bawah Tangga, 25 November 2013, Taman Ismail Marzuki




Rabu, 13 November 2013

Tentang Saya dan Laki-laki



Oleh: Mariana Amiruddin

Akhir-akhir ini saya merasa terlalu kuat bagi laki-laki, dan laki-laki terlalu lemah bagi saya. Meskipun saya tidak suka dominasi, kini, sayalah yang sering mendominasi mereka, itu membuat saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri, dan semakin malas berteman dengan laki-laki. Di antara yang saya kenal, mereka terdiri dari orang yang manja, sangat tergantung, sering mengeluh, dan mudah putus asa. Mungkin saya salah, mungkin mereka memang sedang kalah, tetapi itu yang saya alami, dan saya jadi malas. Di sisi lain, saya sering mendengar laki-laki harus kuat, melindungi kami, menanggung hidup kami, antar jemput kami, membelai kami, menggandeng kami, tetapi kenyataannya saya tidak mengalami itu semua dengan mereka. Suatu hari saya ingin mempraktekan itu dengan laki-laki, awalnya mereka bisa, tetapi, lama-lama mereka capek sendiri, saya juga capek sendiri, dan akhirnya kami bertukar peran, bahkan saya ambil alih! Sayalah yang melindungi mereka, dan mereka yang manja dan tergantung dengan saya. Ini aneh buat saya. Dan saya juga capek pertukaran peran-peran itu. Akhirnya saya memutusan untuk berjalan sendiri. Saya cukup bertempur dengan diri saya sendiri.

Dan kemudian saya justru bertemu dengan perempuan-perempuan yang sangat kuat, tidak ada kata putus asa, penuh dengan ide, berani dan selalu bisa menghadapi situasi. Kami yang sesama seringkali terlampau bersemangat. Kadang saling melindungi, kadang berkelahi, kadang senang, kadang menatap kosong. Bertemu mereka (perempuan-perempuan itu), saya merasa ada yang terhubung, ada jejak-jejak yang sama, ada keinginan yang sama-sama tertunda. Saya bahagia, saya merasa tidak sendiri lagi.

Mungkin, karena laki-laki tidak bisa menganggap kita teman, tetapi pasangan, atau kepemilikan, atau karena kita mirip dengan ibu mereka. Mereka masih menganggap kita misterius, mahluk yang tidak bisa diterka. Mungkin, mereka menganggap kita adalah pelengkap saja, seperti tulang rusuk. Kita diminta untuk melengkapi hidup mereka yang tidak lengkap itu. Lalu kita dipaksa mengenal mereka, budaya yang mereka buat, agama yang mereka buat, mitos-mitos yang mereka buat. Kita dipaksa untuk mengerti hidup mereka, tapi mereka kurang begitu kerja keras untuk mengenal hidup kita. Mereka tidak pernah bersungguh-sungguh mengenal kita, kecuali payudara kita, kelamin kita, birahi kita, bisikan kita, rambut kita, tengkuk kita, pantat kita, ketiak kita, pinggul kita. Mereka hanya mengenal bagian-bagian tubuh kita seperti mengenal jamban atau alat-alat yang mereka sukai.

Mungkin karena laki-laki terlalu banyak diberikan keistimewaan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, jabatan, dunia politik, kepala keluarga, tidak mengasuh anak, tidak melahirkan, tidak ditanya kalau keluar malam, tidak dilirik kalau pulang pagi, tidak disiul-siul di jalanan, tidak diteriaki pelacur kalau mabuk dan telanjang dada. Mungkin, karena laki-laki terlalu banyak kemudahan, sehingga mereka jadi lemah dan cepat putus asa, atau, terlalu dimomong terus oleh ibu-ibu mereka, diharapkan oleh banyak orang, dipuja-puja kalau kaya. Mereka jadi sulit untuk melihat kehidupan yang sebenarnya, atau terkejut ketika melihat kehidupan yang sebenarnya. Mungkin, kita ini (perempuan) baginya adalah boneka cantik yang akan dimilikinya, disimpan dan diletakkan dalam kulkas supaya tidak lekas tua.

Mereka itu punya tuntutan aneh kepada kita. Untuk membuatkan kopi saja, mereka butuh perempuan. Untuk mencuci baju dan setrika, mereka butuh perempuan. Untuk menyiapkan celana dalam, mereka butuh ibu dan istrinya. Untuk menyiapkan sarapan makan siang dan makan malam, mereka lagi-lagi butuh perempuan. Mereka dididik manja! Dunia ini tidak adil memperlakukan laki-laki. Mereka jadi rapuh sekali!
Mungkin, karena laki-laki dipaksa untuk dominan, kuat, dingin, rasional dan jauh dari kehangatan, kasih sayang, alam, rasa, intuisi, kelembutan. Mereka jadi mahluk yang tidak berpijak di bumi, penuh kekerasan, persaingan, mereka begitu terlantar dan lemah, mereka selalu harus dirawat, mereka selalu butuh perawat dan pelayan, mereka jadi rapuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sayapun, akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka, karena saya tidak ingin merawat mereka, saya hanya ingin memperlakukan laki-laki sebagaimana memperlakukan diri saya sendiri, yang bertahan, yang penuh luka, yang bisa menangis, yang bisa memperlihatkan isi hatinya dengan gamblang. Saya ingin mereka tidak cepat putus asa, bahagia, dan tidak merasa gagal hidup di dunia. Dengan begitu, saya bisa senang berteman dengan mereka. Dengan demikian, saya bisa bahagia bila di samping mereka.

Sementara kita, perempuan, dididik untuk melatih diri supaya besar nanti bisa merawat mereka (laki-laki), bisa melayani mereka secara seksual, bisa mencuci baju mereka, memakaikan sepatu mereka, menyediakan makanan, melahirkan anak-anak mereka, dan kita dididik untuk menjadi perawat dan pelayan laki-laki seumur hidup kita. Itulah yang membuat perempuan tidak manja, kuat, dan tidak gampang mengeluh, karena kita dipaksa untuk tidak sempat memikirkan diri kita sendiri, tidak sempat merumuskan apa cita-cita kita sendiri, tidak sempat bercermin betapa wajah kita sudah mulai berkerut karena sibuk mengayomi mereka. Kami, perempuan. Adalah manusia yang dibuat kuat oleh kebudayaan patriarkhi. Kami tidak melawan, tetapi kami diam-diam menjadi manusia yang tidak mudah marah, tidak mudah patah arang, dan selalu bisa mencintai mahluk lainnya, tidak suka merusak alam, tidak suka menyiksa hewan. Kami sering menjerit ketika melihat darah, menjerit ketika melihat pemukulan, keroyokan, kekerasan. Hidup kami begitu dekat dengan alam, dengan kelembutan, dengan kedamaian, hidup kami begitu sibuk merawat kehidupan, begitu sibuk menopang kesusahan.

Tentu, ini bukan tentang semua lelaki dan semua perempuan. Kadang, terjadi sebaliknya. Tapi kita bisa lihat yang mana kebanyakan. Jadi, bisakah sekarang kita saling sepaham?


Lontar, 13 November 2013

Minggu, 10 November 2013

Titik Balik

Aku telah berhasil menginjak api dan sekejap memadamkannya, dan sejak itu penghinaan demi penghinaan tak lagi terdengar. Aku berkibar kembali dalam kobaran angin yang kencang! Aku terbebaskan dari beban kepura-puraan! Perjalanan ini telah tiba di terminal berikutnya, dengan lelah yang amat sangat. Aku tidak lagi di persimpangan, hidup dan berdiri di antara lalu-lalang.

Bertahun-tahun hidup di ketiak orang-orang, kini dapat kuhirup udara yang sesungguhnya, bukan lagi bau ketiak-ketiak mereka. Aku mulai menghujamkan akar-akar yang kuat, menjadi tunas dan tumbuh perlahan. Aku kembali menjulurkan lidahku yang lama kelu. Aku kembali membuka rahangku yang lama gagu. Aku mengobati luka-luka dengan imaji-imaji. Menghidupkan cipta yang kupunya jauh sebelumnya. Penundaan yang merana, membusuk, membiru itu, perlu kusiram kembali, kupupuk lagi, sambil menghadap matahari.

Luka-luka telah terjadi dari segala arah. Aku pernah dibunuh sedimikian rupa. Dikubur hidup-hidup tak dapat kemana-mana. Aku dikejar-kejar waktu, dikejar-kejar orang, dihadang batu-batu yang mereka tebar. Aku dilumpukan dan aku lumpuh! Aku ditumpahkan air keras, diguyur hujan deras, dan petir yang meledakkan gendang telinga. Aku membunuh pikir dan renung. Aku kehabisan keranuman imaji yang pernah aku miliki, yang adalah harta-bendaku yang paling rupawan.

Oh semesta, aku telah sampai pada terminal perjalanan. Aku ingin istirahat dengan tenang, memandang alam dengan kopi yang terseduh matang. Aku ingin terbenam dalam luka-luka lama dan melahirkan sel-sel hidup baru. Oh dewa dewi semesta, mari kita pergi, kemana lagi perjalanan akan kita mulai, kemana kita akan melanjutkan lagi. Aku ingin melangkah panjang menuju pintu keluar, ke rumah yang baru, kehidupan yang baru. Aku ingin menikah dengan diriku sendiri. Aku ingin mencium bumi dan memeluk sepenuhnya rasa suka hati!

Sekian lama dipasung, dirajam, dipaksa terpisah dan tercerai dari diriku sendiri. Aku merangkak tanpa kaki, melihat tanpa mata, ditodong senjata untuk menjadi orang lain yang tidak aku inginkan. Aku menjadi bukan aku, yang aku mau waktu aku tahu siapa aku.

Semesta yang aku cintai. Manusia telah diperlakukan tidak lebih dari harapan orang lain, bukan harapan atas dirinya sendiri. Kembalikan aku ya semesta, jadikan ia seperti evolusi yang ber-evolusi, genangkan aku dengan ide-ide dan sahabat-sahabat yang baru, dengan apa yang ingin aku katakan, apa yang ingin aku lupakan, apa yang ingin aku pikirkan, apa yang ingin aku dapatkan.

Siram, siramlah aku dengan tujuan, jangan lagi dengan kenangan!

Peluk cium untukmu semesta dan alam beribu dewa-dewi yang memandang. 

Aku datang.

Perjalanan, 11 November 2013

Sabtu, 09 November 2013

Tali Mati

Oleh: Mariana Amiruddin


Tali hidup telah aku rentangkan. Tapi aku memutusnya di tengah jalan. Tali memori, tali perjalanan. Terlalu banyak luka dan cita-cita yang tertunda. Tali putus merentang tersia-siakan.


Dulu, aku ingin mengulur sampai di ujungnya. Sekarang, aku lupa dimanakah letak ujungnya. Lalu aku tinggalkan begitu saja.

Seseorang menemukan tali putus itu, yang kini terbelah-belah ke segala arah. Tali siapakah ini? Ia merangkainya menjadi tali-temali.

 "Itu bukan taliku lagi. Itu tali milikmu. Mana taliku? Talimu telah kau tinggalkan. Kini jadi taliku. Bolehkah aku pinjam, itu dulu tali-taliku! Carilah tali yang lain!"

Aku mencari tali yang lain. Aku tak temukan tali yang baru! Ia tertawa terbahak. Ia lepaskan tali-temalinya dan merentang seperti semula. Aku mulai mengingat tali itu. Ia memberikan ujung tali padaku, dan ujung lainnya padanya. Kami menarik tali itu ke arah yang berlawanan. Kami tak bisa beranjak kemana-mana. Kami marah dan berontak. Tali-tali itu malah mengikat kami. Kami jatuh tergelinding dalam keadaan terikat. Kami tak tahu ada lubang di situ.

Kami terperosok ke dalamnya.
Kami terkubur di dalamnya.

Ujung tali itu ternyata kematian kami sendiri.

Perjalanan, 10 November 2013