Rabu, 26 Maret 2025

Narasi-Narasi Pria tentang Toksik Maskulinitas

 

 

 

Narasi-narasi Pria tentang Toksik Maskulinitas

 

Mariana Amiruddin

 

Lelaki yang terlihat kuat adalah mereka yang tidak bisa membiarkan dirinya menangis.

 


Ini adalah salah satu kutipan yang dibuat oleh seorang laki-laki yang mengisahkan pengalaman dirinya dan berujung pada penjelasan tentang toksik maskulinitas. Saya sengaja melakukan pencarian berserak situs-situs yang membicarakan soal tema ini yang dibuat oleh laki-laki. Saya temukan dalam situs Themudmag berjudul “Toxic Masculinity Solidarity Through Feminism” (https://www.themudmag.com/post/toxic-masculinity-solidarity-through-feminism). Tulisan ini berbentuk esai yang berawal dari pengalaman hidup seorang laki-laki yang mengamati laki-laki di keluarganya, dan kemudian mengaitkannya dengan toksik maskulinitas dan patriarkhi

Dan dengan subjudul yang tidak kalah menarik “welcome to an old problem” atau selamat datang di masalah lama. Ia bercerita, “saya tidak pernah melihat pria di keluarga saya menangis. Jika mereka dihadapkan pada emosi seperti kesedihan, mereka akan menyimpannya dalam diri atau bereaksi dengan kemarahan.Sulit untuk percaya bahwa pria-pria ini bisa menjadi korban dari privilese (keistimewaan) mereka sendiri. Kakek nenek saya membesarkan saya di sebuah kota kecil di pedesaan Italia. Selama masa kecil saya, sangat jelas bahwa saya harus "pergi ke nenek" untuk hal-hal tertentu, seperti jika saya ingin makan sesuatu atau jika saya terluka dan membutuhkan obat. Jika saya membutuhkan bantuan lainnya, seperti uang saku untuk membeli majalah favorit saya, kakek adalah orang yang tepat. Mereka memiliki peran masing-masing, dan ini tidak bisa dipertukarkan. Itu tampaknya menjadi norma, bukan hanya di keluarga saya, tetapi juga di seluruh komunitas saya. Saya tidak mengerti mengapa kakek saya tidak pernah membantu di dapur setelah makan atau melakukan pekerjaan rumah.

Seiring berjalannya waktu, saya memahami bahwa ada subordinasi implisit dalam hubungan mereka, yang tidak dibahas atau dipertanyakan, karena itulah "cara hidupnya”. Orang tua mereka dan generasi sebelumnya telah menjalani cara hidup yang sama selama berabad-abad. Untuk beberapa waktu, saya menganggap nenek saya sebagai seorang matriark, tetapi kenyataannya, hanya kakek saya yang memiliki kata terakhir dalam setiap keputusan yang melibatkan uang. Dia adalah "pencari nafkah," meskipun yang membuat roti di rumah adalah nenek saya. Dia tidak diwajibkan memiliki pekerjaan, sedangkan kakek saya harus bekerja.

Pada saat itu, masyarakat menempatkan pria seperti dia dalam posisi yang lebih tinggi, posisi yang hanya diperuntukkan bagi pria. Namun, karena posisi tersebut diberikan dengan harga yang tinggi, pria selalu diharapkan untuk mempertahankannya; ini memberi mereka tekanan besar dan dengan demikian, menjadi ladang subur bagi maskulinitas beracun.

Jadi, bagaimana saya tahu jika saya sedang berhadapan dengan maskulinitas beracun?

Jika Anda seorang pria yang mengabaikan gangguan mental Anda dengan memberitahu diri sendiri untuk "bersikaplah lebih laki-laki," Anda mungkin adalah korban dari maskulinitas beracun. Jika Anda seorang pria yang kesulitan mencintai tubuh Anda karena tidak sesuai dengan "perut six-pack dan otot," sekali lagi, Anda mungkin adalah korban dari maskulinitas beracun. Jika Anda merasa tertekan untuk mengadopsi perilaku tertentu yang didominasi oleh kekuatan dan superioritas, Anda paham, itu adalah maskulinitas beracun.

Masalah-masalah ini sering kali dimulai sejak masa kanak-kanak.

Tidak jarang anak-anak diberitahu: “pink untuk cewek, dan biru untuk cowok.” Membedakan warna berdasarkan gender masih menyebabkan pemisahan mainan berdasarkan gender (seperti set dapur dan boneka untuk cewek, serta balok bangunan dan mobil untuk cowok). Mengarahkan anak-anak dengan prasangka-prasangka seperti ini semakin memperkuat pandangan masyarakat tentang bagaimana “cewek dan cowok” seharusnya bertindak.

Kushi Gupta, seorang Instagrammer asal India, mengatakan kepada saya bahwa "maskulinitas beracun merugikan pria meskipun mereka menganggap diri mereka kuat dan teristimewakan. Bahkan, untuk mempertahankan citra tersebut, mereka tidak bisa membiarkan diri mereka menjadi rapuh."

Jill, seorang mahasiswa jurusan sejarah untuk pendidikan menengah, menambahkan bahwa “perempuan yang memiliki lebih banyak tanggung jawab di luar rumah dapat mengurangi tekanan bagi pria.”

Kathryn, seorang mahasiswa yang mendirikan klub demokrasi di universitasnya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, mengatakan: "Pria dalam hidup saya yang sangat dekat dengan saya sering mengatakan mereka merasa tidak bisa menangis atau merasa sedih, dan harus tetap kuat karena jenis kelamin mereka."

Penekanan emosi pada anak laki-laki lebih muda sangat berbahaya dan berkontribusi pada tingkat bunuh diri yang tinggi di kalangan pria. Tidak bisa menjalani spektrum emosi secara penuh dapat merusak hubungan dengan orang lain dan diri sendiri.

***

Sementara itu, Kimia Tahei menyatakan, “Banyak yang tidak menyadari bagaimana patriarki telah secara langsung menyakiti laki-laki di masa lalu dan terus melakukannya. Berkali-kali, prinsip-prinsip patriarki telah berdampak negatif secara langsung pada laki-laki — masalah besarnya adalah maskulinitas yang beracun.” Ia menulis pendapatnya dalam website The Silhouette berjudul “How Feminism Helps to Conquer Toxic Masculinity”  (https://thesil.ca/how-feminism-helps-to-conquer-toxic-masculinity/)  Toksik maskulinitas atau maskuinitas beracun dapat diartikan sebagai laki-laki yang menyesuaikan diri dengan peran gender laki-laki tradisional, yang mengakibatkan laki-laki mendasarkan emosi mereka pada aturan-aturan yang tak terungkapkan tetapi dipatuhi secara ketat yang ditentukan oleh patriarki.  Contoh mudahnya adalah bagaimana seringkali tidak dapat diterima bagi pria untuk menunjukkan kesedihan karena akan dikaitkan langsung dengan kelemahan. Keterkaitan yang salah ini sering kali dapat mendorong pria untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka melalui kemarahan alih-alih kesedihan sejak usia muda.  

Ini menarik karena studi telah membuktikan bahwa kemarahan adalah emosi sekunder yang berarti bahwa sering kali ada perasaan primer yang mendasarinya seperti ketakutan, kesedihan atau kecemburuan yang ditutupi oleh kemarahan. Meskipun saya tidak dapat memahami mengapa kesedihan merupakan emosi yang tidak dapat diterima bagi pria, beberapa yang disebut "pria alfa" mengklarifikasi dan berpendapat bahwa karena pria adalah pemimpin, mereka seharusnya mampu menahan rasa sakit alih-alih menunjukkannya.  

Jackson Karza, penulis The Macho Paradox , menyoroti pola pikir ini dan menguraikan bagaimana banyak pria menyalurkan kerentanan mereka melalui perasaan marah. Kemarahan ini adalah topeng untuk menutupi kerentanan mereka, yang mungkin menyiratkan bahwa mereka tidak cukup jantan untuk menahan tekanan.   

***

Dari kedua ilustrasi opini diatas, saya kemudian menemukan ini, yang kemudian mengkritik tentang istilah toksik maskulintas: “It’s not about ‘toxic masculinity’ or ‘healthy masculinity,’ it’s about masculinity under patriarchy” sebuah judul besar dalam website Feminiscurrent.com yang ditulis oleh Robert Jensen, seorang Profesor emeritus di Sekolah Jurnalime Universitas Texas di Austin.  Jensen menyatakan bahwa istilah tersebut berguna untuk mengingatkan kita pada sistem pendukung budaya terhadap perilaku tersebut. Misalnya mengangga  biasa kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan atau bahkan membiarkannya. Sehingga ini bukan sekedar "maskulinitas beracun" dan "maskulinitas yang sehat," tetapi waspada terhadap cara frasa atau istilah tersebut yang dapat membatasi pemahaman kita yang memperkuat patriarki. "Maskulinitas dalam patriarki untuk memfokuskan perhatian pada sistem yang menjadi sumber masalah,” tambahnya lagi.

Sebagai analogi, Jensen menyatakan ibarat bahan beracun tidak hanya bagaimana agar membersihkannya agar tidak beracun, tetapi menelusuri sumber dari adanya bahan beracun tersebut dengan menentang industri yang memproduksi bahan beracun tersebut, dan bila perlu sampai mengkritik tentang sistem ekonomi yang membuat kontaminasi beracun itu tidak terelakkan. Ini adalah penjelasan yang akurat tentang masyarakat yang didasarkan pada dominasi laki-laki yang dilembagakan — yang hampir terjadi di seluruh dunia. Istilah ini juga akan menentang perlaku yang tidak berperasaan dan kasar yang merupakan hal rutin dalam dunia bisnis, olahraga, militer, dan kehidupan sehari-hari. 

Bagaimanakah caranya menghapus maskulinitas patriarkhi? Bila menggunakan pemahaman tentang istilah tersebut, kita bisa mulai dari meninggalkan cara pria dilatih untuk menggunakan ancaman dan agresi untuk menyelesaikan perselisihan, dan sebaliknya mendorong kolaborasi.

Bukan dengan membuat daftar kualitas maskulinitas yang sehat — seperti kepedulian, kasih sayang, dan koneksi, bapak rumah tangga atau laki-laki yang bisa memasakkan dan membersihkan rumah untuk membantu istrinya atau semangat untuk melindungi dan memelihara daripada mengendalikan —bahwa semua sifat positif tersebut tidak hanya dimiliki oleh laki-laki. Perempuan juga mampu melakukan perilaku yang sama. Ternyata merangkul maskulinitas yang sehat berarti menjadi orang yang baik, yang harus dan dapat diperjuangkan dan dicapai oleh keduanya (laki-laki maupun perempuan).

Sebab dalam patriarki, kita cenderung melebih-lebihkan perbedaan psikologis, intelektual, dan moral yang dianggap "alami" antara pria dan wanita sebagai bagian dari upaya untuk membenarkan dominasi laki-laki yang dilembagakan itu. Upaya untuk "menyelamatkan" maskulinitas merupakan hambatan untuk berubah. 

Tentu ada potensi pernyataan seperti ini: bukankah konsep baru tentang maskulinitas diperlukan untuk menantang patriarki lewat feminisme?

“Tidak,” demikian Jensen menjawab. “Selama tiga dekade saya terlibat dalam gerakan feminis, saya tidak pernah mendengar perempuan berbicara tentang cara menciptakan "feminitas yang sehat," tambahnya lagi. Dalam patriarki, feminitas adalah penanda status kelas dua, sebuah cara untuk mengingatkan perempuan bahwa mereka adalah dibawah atau bawahan laki-laki. Maskulinitas dalam patriarki adalah penanda dominasi laki-laki, sama seperti feminitas adalah penanda subordinasi perempuan. Spesies manusia akan terus bereproduksi tanpa pemaksaan norma gender yang dipaksakan oleh patriarki.

Kemudian mungkin ada tanggapan pragmatis lain yang masuk akal seperti ini, “Bukankah penyampaian yang terus terang seperti itu akan membuat banyak laki-laki takut?” Dalam konteks ini saya ingin bicara tentang misi Laki-laki Baru sebagai gerakan laki-laki feminis. Jesmen menjawabnya, mungkin laki-laki akan takut, tetapi dengan berterus terang, dapat mendorong perubahan pada keadilan substantif dan kesetaraan yang bermakna yang bukan dengan membentuk kembali maskulinitas, melainkan keberanian untuk meninggalkannya.

Untuk diketahui, Robert Jensen adalah seorang laki-laki. Nama lengkapnya Robert William Jensen. Ia memfokuskan sebagian besar karyanya pada kritik terhadap pornografi dan maskulinitas, yang dikembangkan dalam bukunya tahun 2017, The End of Patriarchy: Radical Feminism for Men. Ia juga menulis tentang hak istimewa kulit putih dan rasisme institusional. Ia juga duduk di dewan redaksi jurnal akademis Sexualization, Media, and Society.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar