Selasa, 05 Maret 2013

Mar-X

Apalah artinya Mar yang pandangannya terhuyung. Mar tanpa pikirannya, jiwanya, ia hanya melihat bayangan-bayangan kepala manusia berbenturan, bersilang saling. Dan anak-anak kucing tanpa induk yang tubuhnya menggulung . Malam yang senyap, mar setengah tersadar.

Seseorang membawa termos, dan menuangkan air hangat ke dalam gelas. Masih bayang-bayang. Seperti orang mabuk.

Mar kedinginan biasa disiram bir. Dan dalam birnya ia menulis. Sampai kepalanya jatuh di atas meja, tertusuk kata-kata “Ini baru alam yang sesadarnya”. Hanya mabuk yang membantu mengalirkan peredaran darahnya sampai ke otak. Seperti perjalanan ke atas gunung, lalu memijak lembah, dan disitulah Mar menemukan sungai mengalir, dan jatuh di air terjun yang membasuh wajahnya. Mar sendiri yang sepi dan ingin sepi.

Akulah Tan-mu. Kupanggil kau Mar dan kutambahkan kau X. Mar-x. 
Tak usahlah kau mengejarku. Aku bisa menjaga mu dari sini. 
Peliharalah hidupmu, nyawa dan jiwamu. Asah terus pikiranmu.
Jangan kau kejar aku. Pasti aku kembali.

Mar sesak nafas, ia tersengal-sengal dan dihantui bayang-bayang. Berusaha menengadah, tapi tak juga bisa lihat apa-apa. Bayang-bayang orang itu mendekat ke arahnya, duduk disampingnya.

“Siapakah..” ucap Mar lirih.

“Aku. Tan. Tuan mu, Nona.”

“Dimanakah.”

“Di bumi Suliki. Payakumbuh. Kau telah sampai.”

Mar tak kuat, ia memejamkan matanya kembali. Tapi Tuan tetap berbisik panjang, sepanjang-panjangnya. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Mar yang tertidur. Ia menarik bantal Mar ke kepalanya. Ikut berbaring seperti orang yang sama sakit. Sakit di ulu hatinya menandai situasi yang terjadi.

Mar di atas Bumi Indonesia. Dataran bumi yang terdiri dari sejumlah lempeng-lempeng daratan atau pelat tektonik yang bergerak sejak Bumi tercipta.Lempeng-lempeng ini melaju dengan kecepatan 2.5 cm setahun. Bumi Indonesia terletak tepat di atas tubrukan tiga lempeng tektonik sekaligus. Lempeng Aurasia, Australia dan Filipina. Ketika dua lempeng ini bertabrakan, yang satu akan melesak ke dalam dan yang lainnya ke atas. Tempat tabrakan ini disebut zona subduksi. Lempeng yang melesak ke atas kemudian rubuh. Dan peristiwa rubuhnya lempeng itu disebut gempa bumi. Di bumi Indonesia, musim gempa bersiklus sekitar 200 tahun sekali. Dan kau berdiri di atasnya, Mar.

Tapi begini. Ketika kau merasakan gempa, letusan gunung berapi, dan semacamnya, itu adalah tanda bahwa planet bumi ini masih aktif, dan inti Bumi masih berputar. Yang perlu kita khawatirkan justru adalah ketika sudah tidak gempa lagi. Yang terpenting untuk bumi hidup agar tak memakan korban, manusia Indonesia harus menguasai ilmu pengetahuan, bukan ilmu magic, bukan pula agama. Gempa bumi bukan amarah Tuhan, tapi ciptaan Tuhan. Karena bumi hidup adalah bumi yang layak ditinggali. 

Mar terbangun. Tuan telah menggenggam lengannya dengan sangat erat. Mengoceh tanpa berhenti. Tentang bumi dan manusia. Bumi-manusia. 

Karena keadaan bumi dan tanah air ini. Dalam keadaan itu kau menyusulku ke Suliki. Giliran aku yang khawatir. Bukan maksudku tak memberi kabar. Tapi layaknya perjuangan, kadang kita harus menyembunyikan banyak hal, sampai akhirnya cita-cita itu kita raih. Kau tau reformasi kini bukan berita baik buat negeri. Akhir tahun ini banyak aktivis hukum dan buruh ditahan, dikenai undang-undang buatan tentang pencemaran nama baik. Pasal subversif memang sudah dihapus, seolah kini orang boleh bicara, boleh protes, boleh berkumpul. Padahal pasal pencemaran nama baik adalah hal yang sama. Sepertinya memang tidak berbahaya, tetapi tidak sedikit aktivis yang hidupnya terteror, perjuangannya melemah, meski tak sampai mereka masuk penjara. Dan bagaimana dengan persiapan aksimu?

Aksi apa? Sahut Mar lirih. Tuan, aku belum sepenuhnya sadar. Mar meringis meraba pelipisnya. Aku hanya tau Tuan ada di sini. Bagaimana aku dan Tuan bisa disini. 

Ada berita dari kawan. Dan Padang terguncang. Dan aku memperhatikan gejala guncangan itu memang sudah ada. Padang tak jauh dari sini Mar. Aku bisa menembus longsor dan pohon-pohon berjatuhan, dan jalan yang tertimbun. Meski aku terlambat mengetahui kau sudah ada diantara lemparan puing. 


Sedang apa Tuan? 
Gerpolek berganti gempa bumi. 
Bagaimana bisa Gerpolek di zaman ini? Bagaimana menerjemahkan itu? 
Banyak sekali yang harus aku uraikan untuk keadaan saat ini.

Tuan bangkit. Membenarkan posisi bantal agar seluruh kepala Mar merebah di atasnya.. Kembali berbayang-bayang, kembali Tan menjadi sosok. Gelap dan perlahan menghilang.

Mar mengigau. Badannya berguncang-guncang. Ia bermimpi tentang seorang kawan bernama Angga. Seorang preman, lelaki yang hidupnya mengabdi pada bos-bos besar. Bos yang berkuasa dan punya banyak uang. Bos yang kini membentuk partai dan membagi-bagikan uang pada banyak preman. Angga hanya mengandalkan otot. Ia kurang memakai pikirannya. Setiap saat ia bisa menikam dan memukuli orang hingga babak belur. Ia menyelip senjata tajam di lipatan celananya. Atau diam-diam menguburnya, setiap saat ada perkelahian ia akan menggali dan mengambil senjata itu untuk bisa menikam. Angga, lelaki muda yang lahir di Indonesia bagian Timur bagi Mar bukan orang yang mengerikan. Angga sering melempar senyum dan matanya berbinar seperti anak-anak yang kurang perhatian. Inilah bagaimana kemanusiaan itu hadir dengan sendirinya. Preman ternyata bukan mesin otot, tapi manusia berkuasa yang menjadikan mereka mesin.

Angga sering mabuk, hampir setiap malam. Di pinggir jalan bilangan Jakarta Selatan, ia memasuki tempat disediakannya berbagai minuman alkohol. Saat itu ada anak muda lain yang mengintainya. Menjatuhkan gelas dekat angga. Bertumpahan air di dadanya. Angga tau itu tindakan sengaja. Ia segera bangkit, mencekik, memukuli anak muda itu berkali-kali. Menginjak-injaknya, menendanginya sampai tak sadarkan diri. Angga mengamuk. 

Esok harinya Angga ditandangi 10 orang berbadan besar-besar dan hampir semuanya berjaket kulit hitam. Ada apa ini? Angga berjalan mundur. Beramai-ramai ia dihabisi. Habis tubuhnya, diseret badannya. Dibawa ke tahanan. Tak hanya itu sampai di tahanan, ia diminta menjulurkan kakinya ke kursi. Ketika dijulurkan, seorang berbadan besar melompat tepat di atas kakinya, dan patahlah engselnya. 

Siapakah lelaki yang dipukuli Angga? Anak intelejen. Angga sangat tidak beruntung. Meski sudah biasa keluar masuk penjara, kali ini nasibnya tidak akan lebih baik.

Mar berteriak memanggil nama Angga.. Orang-orang berdatangan. Kenapa berdatangan? Kebiasaan Mar berjalan dalam tidur. Ia terikat dalam gulungan selimut dan sudah berada di tepi jendela. Tepat dibalik jendela adalah jurang. Sedikit saja melangkah, Mar akan jatuh. Tuan Tan sudah berada didekatnya. Mar menjerit, mengalami histeria dan melilit-lilit kepalanya dengan selimut. Tan menangkap tubuh Mar yang sebentar lagi terjungkal. Dahinya dipenuhi bulir keringat, muka Mar pucat. Pelipisnya masih penuh dengan perban. Tuan Tan memeluk erat-erat Mar yang meronta-ronta. Berusaha menenangkan. Dan Mar pun diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar