Benihku kutanam di banyak tanah.
Tanah milik tuan-tuan.
Tak sangka tanah tuan-tuan bukanlah tanah milik Tuan.
Tanah tuan telah membunuh benihku.
Tuan satunya juga begitu.
Begitupun yang satunya.
Kutinggalkan tanah tuan dan tuan lainnya.
Karena aku tak punya benih lagi.
Matahari pun datang setelah hujan.
Tapi tanpa tanah, apa yang mau tumbuh?
Tapi apa yang mau tumbuh tanpa benih?
Sekarang aku mencari Tuan, untuk meminta benih.
Tuan ini punya benih tapi tak punya tanah.
Aku suka Tuan yang bukan tuan tanah.
Tuan, sekarang aku jadi tanahnya.
Tanamlah benihmu di tanahku.
Baru kupanggil hujan dan matahari.
NEwseum Indonesia, Desember 2009
“If you want to be respected by others the great thing is to respect yourself. Only by that, only by self-respect will you compel others to respect you.” Dostoyevsky
Selasa, 05 Maret 2013
Bukan Tuan Tanah
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar