Jumat, 12 Desember 2014

Hari HAM dan Goyang Dangdut



Sudah lama saya tidak menulis sebuah refleksi. Seperti biasa bila sudah mulai ada kesibukan rutin, ruang ini seringkali saya abaikan atau barangkali ada rasa enggan karena ini menyangkut lembaga yang saya harapkan. Kali ini saya memaksakan diri. Bahwa tulisan adalah ruang bicara yang paling kuat. Bukan ingin menyatakan sebuah kebenaran, tetapi keadaan yang sebenarnya, yang maknanya bisa kita kaji, pada sesuatu yang saya lihat, alami dan renungkan, dari tumpukan wacana yang saling berhubungan.

Suatu hari, saat saya sedang bersama teman-teman melakukan orientasi Komnas Perempuan, kami bersinggah ke kantor Komnas HAM dan dibelakangnya tersudut kantor Komnas Perempuan yang begitu sesak dan sempit. Kami masuk dari belakang. Terdengar suara hingar bingar dari luar. Begitu kami masuk lebih dekat, kami melihat sebuah panggung besar di tengah lapangan parkir yang juga sempit, tampak seorang penyanyi, orang-orang mengatakannya artis, dan satu orang artis lagi, yang juga saya tidak kenal, tetapi kata orang-orang mereka terkenal sekali. Saya ingat bahwa hari itu adalah hari peringatan hak asasi manusia. “Apa yang terjadi disini?” Pikir saya. Terbentang spanduk perayaan hak asasi manusia, dan dibawahnya panggung besar, konser dangdut, katanya penyanyi itu bernama Saskia Gotik, ya saya sering dengar nama itu di infotaiment yang sering sekilas saya temukan di layar kaca saat saya makan atau duduk di sebuah tempat umum. Dia penyanyi dangdut, dan satu lagi seorang lelaki saya tak kenal siapa. Ada lagi beberapa. Tampak para penonton yang hampir semua laki-laki menggoyangkan badannya mengikuti irama dangdut, beberapa juga ada yang diam-diam memotret paha Saskia Gotik dari bawah. Kepala saya mendadak pusing dan sepertinya saya mulai merasa tidak nyaman. Para penonton sedikit sekali dengan seragam merah, dengan banyak wartawan infotainment yang menodongkan kamera ke arah Saskia dan artis lainnya dengan sangat bersemangat.

Saya masuk ke dalam ruangan di kantor Komnas Perempuan yang sangat sempit dan kehabisan ruang, tampak orang-orang hilir mudik bekerja, menulis sesuatu, membuat laporan, mengangkat telepon, mencetak tulisan, dan kardus-kardus yang bertumpuk, dan wajah-wajah lelah. Saya berkenalan bersama teman lainnya dengan para staf Komnas Perempuan. Kami berkeliling dikenalkan satu persatu ruang demi ruang, orang demi orang, dengan kardus-kardus yang bertumpuk berjejer di sepanjang koridor ruangan. Dengan tangga menjulang sempit menuju lantai demi lantai. Dan setelah kami selesai berkenalan, kami pun keluar lagi. Saya segera mencari udara segar, dan saya melihat dari jauh kantor Komnas HAM yang begitu megah, jauh dari keadaan kantor Komnas Perempuan. Tetapi saya kembali tertuju pada panggung itu, ditengah terik siang yang panas, mereka berjoget dan menikmati goyang Saskia Gotik dengan riasan wajah yang tebal. Sepertinya sebentar lagi acara panggung selesai, dan tampak beberapa lelaki menaiki panggung disertai sedikit orasi. Konon, mereka adalah para pejabat Komnas HAM, mereka berdiri berjejer berfoto bersama Saskia Gotik dan artis-artis lain, sambil mengepalkan tangan dan diangkat ke atas dan berteriak “Human Rights!”. Seperti sebuah acara yang sering dilakukan partai-partai saat berkampanye. Saya dan beberapa teman mengerutkan kening. Peringatan hari hak asasi manusia, dengan menggelar dangdut? Dengan berfoto-foto paha penyanyi itu? Dengan teriakan-teriakan wartawan dunia hiburan yang berebut mengambil gambar? Saya tidak mengerti, apakah yang ingin disampaikan mereka? Apakah korelasinya dengan perayaan HAM yang kita perjuangkan bersama dulu? Apakah kini adalah zaman senang-senang? Yang tak bisa lagi menghubungkan antara senang-senang dengan kesedihan para korban? Sementara banyak korban-korban pengaduan kasus pelanggaran HAM tertentu sedang duduk di sana, menunggu keadilan, dan orang-orang sibuk menonton paha Saskia, apakah mereka sudah tidak ada lagi perasaan? Apakah zaman sekarang kita hanya bekerja, bukan lagi berjuang? Saya tidak mengerti dan bersama beberapa teman lekas-lekas pulang diantara kemacetan, diantara kebuntuan, diantara kebisuan, diantara kedunguan.


Tambun, 12 Desember 2014

Kamis, 13 November 2014

PATUH dan PATAH





Oleh: Mariana Amiruddin



Betapa rendahnya hidupmu. Ketika orang-orang di sekelilingmu tidak mampu menerjemahkanmu sebagai seseorang. Mereka akan mengerutkan keningnya saat mendengar bahwa kau adalah seorang penulis, pemikir dan pengajar yang mereka anggap hanya kegiatan hobi untuk kepuasan egomu, kepuasan panggungmu, untuk kenikmatan hidup seorang priyayi dengan banyak budak yang membantu mengurus kehidupan sehari-harinya, dengan uang emas yang turun bagai hujan. Seorang penulis, pemikir, sering memilih bekerja tengah malam hingga pagi buta, untuk menuliskan kata demi kata dalam senyap yang menggigil. Untuk membaca huruf demi huruf sampai buta. Sisa-sisa waktunya hanya sekerat roti di pagi hari, sepiring makan siang, dan tiga cangkir kopi, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan membuang taik-taik hewan peliharaan penghibur sepi-sepi waktunya, dengan istirahat barang 3 jam saja. Tetapi apakah mereka mengerti tentang kehidupan yang aneh itu, yang tidak bisa dibingkai dengan kehidupan manusia modern manapun? Bahwa hidupnya untuk memberikan pengetahuan pada banyak manusia, bukan hanya untuk keluarga dan anak cicitnya!

Ia bekerja untuk membantu banyak orang, membantu keluarganya, tetapi bisakah ia membantu dirinya sendiri? Sampai pernah ia terkapar di sudut dapur, berteriak minta tolong tak ada yang mendengar, membentur kepalanya sampai kehilangan sadar. Sakit dikepalanya adalah sakit di hatinya. Sampai kemudian seorang anak perempuan mengetuk pintu rumahnya, dan duduk manis di depannya, dengan mata yang sayu dan hampa, bercerita bagaimana ia kehilangan ibunya. Ia menyampaikan, ibu pergi dan saat ia kembali, ia tak menemukan ibunya yang dulu. Ia menangis, hatinya sakit sekali. Ia mengatakan, “Ibuku, menjadi manusia yang pemarah, pendendam. Aku benci ibuku. Ibu memecutku seperti seorang budak. Ibu seperti Ratu yang mengerikan. Tapi aku tetap sayang Ibu, aku membiarkannya makan dengan lahap seperti harimau, disaat perutku lapar.”
Anak itu cerita sambil melanjutkan, “dulu Ibu adalah tempatku mengeluh tentang hidup. Tempatku belajar tentang hidup. Tempatku belajar tentang bagaimana bersabar dan bersikap bijak. Tapi, keibuan itu hanya mitos, yang ada adalah setiap manusia, punya rasa amarah, apabila ia tertekan, ditekan. Yang bila tak dikeluarkan, ia akan mendengki dan mendendam. Ibu tumbuh dalam dualisme. Yang satu meredam amarahnya, yang satu berpura-pura menjadi malaikat.”

Aku diam mendengar cerita anak itu. Aku diam saja. Anak ini memang penolong, setiap waktu ia menjadikan dirinya seperti pengasuh, yang mengabdi pada banyak orang, pada orangtua, pada ibu yang melahirkannya, pada ayah yang membuatnya bisa makan dan tumbuh.

Nak, katanya berusaha lembut. Tahukah bahwa setiap kali kita mencintai sesuatu, setiap kita melekat pada sesuatu, ia akan pergi perlahan-lahan dan kita tak ingin melepaskan. Kita akan tersingkir dengan hati yang patah, tersingkir atau menyingkir, dari rumah ke rumah, sampai akhirnya tak ada lagi tempat untuk pulang, kecuali kepada dirimu sendiri. Cintailah dirimu sendiri, tak akan mengurangi cintamu pada siapapun, atau sekalipun siapa yang dicintaimu akan berubah sama sekali. Dulu, aku menyingkir karena kehilangan kedamaian. Kini terulang lagi. Anak itu melanjutkan, “Aku benci dengan ibu! Tidak bisa melawan kemudian menjadi manusia yang manipulatif! Aku tak kasihan sama sekali!” tiba-tiba ia merasa dibohongi dengan apa yang disebut keibuan. “Keibuan itu hanya mitos. Mereka manusia yang sama, diam-diam keji dan curang, demi dirinya sendiri. Betapa buruknya ia ketika membuka topengnya.

Nak, Ibu-ibu yang hanya seorang pendamping dan terkurung dalam rumah untuk menjaga harta benda bapak, untuk mematuhi segala aturan bapak, untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Ia melanjutkan lagi “Ia begitu benci perempuan karir yg sukses, cemburu pada perempuan yang mandiri, karena itu seperti melihat sosok suaminya, sosok bapak, yang dielu-elukan orang, yang dipuja-puji orang.  Dan Bapak yang terlalu kagum padaku sebagai anak yang mandiri dan sukses. Tapi Bapak, kenapa tak kau terapkan pada istrimu? Pada Ibuku? Tetapi Ibu, mengapa impianmu mencari lelaki yang pintar dan sukses, dan kau ingin menyandarkan hidup padanya? Sehingga aku bukan jadi bulan-bulanan para induk yang terkurung oleh gelar NYONYA! Induk-induk yang kini pandai memainkan drama, dalam raganya yang sudah tua. Aku ini berjenis kelamin apa? Bagaimana mereka membuat istri-istri seperti seorang pelayan, menjadi hilang kepercayaan diri. Apakah laki-laki seperti bapak ada yang patah seperti ibu?

Nak, ada banyak laki-laki pecundang, bukan laki-laki ideal seperti apa yang orang katakan tentang kesuksesan. Mereka patah, mereka jatuh, tetapi bisa menjadi diri-diri yang lembut, atau, bisa jadi diri-diri yang putus asa, dan memukul istri dan anaknya sendiri.

Nak, ada banyak perempuan sukses yang mandiri tetap menjadi pecundang. seperti aku. Kesuksesan dan kemandirianmu adalah keanehan, kesenyapan, kehampaan. Bagaimana menjelaskannya, yang bahagia adalah yang berhasil patuh dan cocok dengan norma-norma lelaki dan perempuan. Yang tak cocok akan patah, tenggelam dan jatuh dalam kubangan. Itulah arti pengakuan.

Tambun, 13 November 2014



Sumber foto: http://sarahbessey.com/wrote-broken-woman-guest-post-grace-biskie/


Jumat, 31 Oktober 2014

Kesaktian Ibu



Oleh: Mariana Amiruddin


Ibu, aku tahu betapa beratnya menjadi perempuan di masa lalu.

Dalam kemiskinan dan ketergantungan pada laki-laki yang harus menjadi tempatmu bergantung.

Betapa beratnya hidup yang menuntut segala pengabdian bahkan yang di luar kekuatanmu.

Ibu engkau adalah manusia pintar yang senang membaca dan selalu mengamati perjalanan sejarah dan politik bangsa ini. Ibu, tetapi engkau mengeluh tak bisa apa-apa karena keluarga adalah nomor satu.

Tetapi tahukah ibu, engkau adalah manusia yang begitu sakti bagiku. Tiada pernah sakit selama ini padamu.

Pengabdian dan ketulusanmu membuat tidak ada rasa sakit dan pedih atas terlewatnya hasrat, harapan dan keinginan.

Ibu, aku tidak bisa menjadi dirimu. Aku tidak bisa kehadiran orang lain lebih dulu daripada diriku sendiri.

Aku mahluk yang diciptakan oleh pendidikan tinggi dan ilmu pengetahuan, oleh rasionalitas dan capaian atas prestasi hidupku.

Ibu, aku tak bisa membayangkan seandainya aku adalah engkau. Aku tentu bukan apa-apa, aku tentu lemah lunglai sedari awal.

Aku tak bisa hidup dalam norma dan struktur sosial yang demikian, dalam hirarki gender dan patriarkhi yang menyesakkan, aku tentulah sang anak perempuan pemberontak, yang berupaya keras menentukan nasibnya sendiri, yang berusaha keras berdiri di atas kakinya sendiri.

Ibu, sekiranya ketulusan dan pengabdianmu dapat ditukar oleh Dewa-Dewi dan segala kelembutan dan rasa kasih sayang alam semesta, dengan kebahagiaan kecil yang bisa engkau raih di saat-saat ini, aku akan bersimpuh di lututmu. Aku akan merayakannya bersamamu.

Ibu, kuatlah. Kuatkanlah dirimu. Kesaktianmu agar tak ditukar dengan keputusasaanmu. Aku tahu bagaimana menjadi Ibu, aku tahu beratnya dan rintangannya yang nyaris tak terlihat dan tak terucapkan dalam kebudayaan dan peradaban dunia.

Ibuku, untukmu, aku bertaruh, dalam semangatmu yang baru, aku akan menjadi anak yang paling bahagia.

Semoga sehat kembali Ibuku tersayang sepanjang zaman.

Tambun, 1 November 2014


Sabtu, 18 Oktober 2014

Venus



Oleh: Mariana Amiruddin

Kepada kegelapan, teman lamaku. Aku ingin bicara padamu. Aku telah terlalu sering melihat cahaya dimana-mana yang menyala-nyala silau mengacaukan mataku. Aku melihat saat-saat silau itu, begitu banyak orang, kira-kira sepuluh ribu orang, mungkin lebih, mereka berbicara tanpa bicara, mereka mendengar tanpa mendengarkan, mereka begitu takut pada keheningan. Keheningan bagi mereka bagai kanker yang diam-diam tumbuh menjalar. Dan padamu kegelapan, aku ingin bicara, bagi mereka, kata-kataku hanya akan seperti tetesan hujan yang jatuh menggema di dalam sumur. Dan orang-orang itu sibuk membungkuk dan berdoa pada dewa keramaian dan lampu-lampu neon yang mereka buat. Ada yang terlupa dari segala masalah di luar sana. Yaitu tentang diri kita sendiri.

Aku mendengarkan sebuah lagu The Sound of Silence. Lalu aku mengubah syairnya sedikit, agar semakin melekat dalam setiap hidup yang aku maknai. Ada yang lama hilang dalam hidupku, yaitu keheningan. Tanpa keheningan, aku tidak bisa benar-benar mendengarkan, aku tak pernah benar-benar bisa melihat, aku tak pernah bisa benar-benar merasakan. Hampir satu tahun ini hidupku kaya oleh keheningan. Aku memeluknya erat sekali, sebagaimana pada kegelapan. Aku bisa merasakan suara jam yang berdetak, sebagaimana jantungku yang detaknya sering mendahului waktu. Aku bisa mendongak ke langit sambil duduk menghisap pipa, dan mengerti bahwa kemarau akan berakhir sebentar lagi. Aku bisa merasakan angin panas di siang hari saat mengambil jemuran pakaianku yang lekas kering, dan aku terdiam sebentar untuk merasakan panas matahari yang tajam. Aku bisa melihat garis-garis tembok yang retak, dan pasir-pasirnya yang jatuh pelan-pelan, dan dicelahnya tumbuh daun-daun pakis. Dan kayu-kayu pintu yang kopong dimakan rayap, serta jendela yang tidak bisa ditutup, dimana rumahku telah mulai termakan usia dan dibangun oleh pengembang yang korup. Aku bisa melihat semut hitam berjejer menuju dapurku, dan daun-daun pohon mangga yang tumbuh mengikuti arah matahari diantara tembok tetangga yang berlomba-lomba meninggi. Aku bisa mencium bau tanah dan rumput yang kusiram di puncak kemarau.

Keheningan membuat aku bisa berkomunikasi dengan selain manusia. Pada setetes air yang jatuh dari kran kamar mandiku. Pada lumut-lumut yang menyelimuti kakusku. Pada tengik bau deterjen yang terlalu lama merendam kaus kaki, dan pada obat-obat kimia pembersih lantai yang mengelupas kulit-kulit jariku. Kerinduan pada memaknai peristiwa-peristiwa kecil disekelilingku, membangun memori tentang siapa diriku dan pada jalan hidup yang seperti apa. Segalanya bermunculan kembali seperti mimpi yang dilupakan, tentang kebiasaan-kebiasaanku sejak kecil menutup pintu kamar dan duduk tenang di atas meja sambil menulis. Mengingatkanku pada hewan-hewan yang sering aku ajak bermain sepulang sekolah karena rumah keluargaku di tengah hutan dengan sangat sedikit tetangga. Juga pada kematian demi kematian mahluk hidup disekitarku, pada kucingku yang diracun, pada anjingku yang dibunuh. Aku pernah ingin mati untuk menyusul mereka. Aku ingin menjemput mereka untuk kembali pada kehidupan, untuk kembali menjadi teman-temanku, atau apabila kematian bisa membuat kita bersama lagi. Aku melihat kematian dengan sangat positif, seperti dongeng tentang alam yang sama sekali berbeda, tentang langit dan tanah yang tak sama.

Masa kecil itu telah mengembalikanku pada keheningan. Pada yang lahir, yang hidup dan yang mati. Pada burung hantu dan komet yang jatuh dan hampir setiap menjelang subuh aku naik ke atas atap hanya untuk memperhatikan Venus. Aku melihat Venus seperti melihat diriku. Planet yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari permukaan bumi, planet tercerah di langit malam. Venus disebut sebagai planet inferior, seperti aku. Dan kecerahan maksimal yang dihasilkan planet ini dapat dilihat segera sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, sehingga sering disebut Bintang Fajar atau Bintang Senja. Venus adalah teman kecilku, sebagaimana bulan dan bintang, ia datang saat manusia tertidur lelap.  Ia datang saat hening, saat dunia diselimuti kegelapan. Di atas atap, aku juga sering tak sengaja menemui mahluk lain bertubuh hitam dan besar, melompat lincah ke awan dan menghilang sambil melirik ke arahku dengan mata seperti kelereng. Sejak kecil aku tidak pernah takut dengan kegelapan, keheningan, atau mahluk seperti manusia yang belum bisa aku katakan jenisnya, apakah dia hantu, jin, setan, atau mahluk yang memang tidak pernah kita kenal. Aku selalu rindu pada mereka.

Waktu aku menjadi anggota pramuka di sekolah dasar, kami berkemah untuk menguji mental, semua anak-anak ditutup matanya pukul 2 dini hari sambil berjalan kaki ke arah kuburan, tepat pukul 4 pagi kami tiba. Dalam perjalanan gelap itu, aku senang sekali sementara teman-temanku ketakutan sampai terkencing-kencing. Saat tutup mata kami dibuka dan diperintah untuk menoleh ke belakang, semua teman menjerit histeris, hanya aku yang dengan tenang menoleh kebelakang, aku melihat kuburan yang indah, yang berdiri tenang di atas tanah. AKu melihat kilat-kilat cahaya yang mendatangiku lalu menjauhiku, aku tersenyum lebar. Aku dihampiri oleh pembina, dan dari mata mereka seperti ingin mengatakan aku anak yang aneh, mereka menginginkan aku takut seperti anak-anak lain. Mereka menelitiku dengan cermat, dan aku tidak mengerti setelah itu banyak yang memandangku dan kemudian segera menjauh pelan-pelan.

Ketika aku duduk di kelas nol kecil (Taman Kanak-Kanak), aku tidak pernah bicara sama sekali. Bukan karena aku bisu atau tidak bisa mendengar. Guruku meminta aku menganga dan mengeluarkan lidahku. Tenggorokanku diperiksa, begitu juga telingaku, seolah-olah mereka dokter spesialis THT. Menurut guru, aku bukan tuna rungu, tapi mengapa diam sekali dan tidak mau bicara? “Rina ayo bicara!” Dulu aku dipanggil Rina. Aku tetap diam, hanya mataku yang bicara. Aku digendong guru, tetapi aku menjerit-jerit marah, kucakar lengan mereka, dan aku langsung dilaporkan ke orang tua. Ibuku dipanggil, dan Ibu mengatakan bahwa di rumah aku bicara sebagaimana anak-anak lain. Tapi ibuku tidak tahu bahwa ketika keluar rumah, aku terbiasa memperhatikan sekeliling dan menganggap orang lain disekitarku adalah “yang jauh disana”, tetapi sesungguhnya aku sangat ingat apa saja yang mereka lakukan dan katakan. Aku bagai kamera berjalan dan merekam setiap peristiwa, dan menyimpannya dalam memori hingga dewasa. Aku masih ingat kapan aku berhenti menetek ibuku. AKu masih ingat kapan aku dicelupkan ke kolam renang sedalam 3 meter dan akhirnya aku bisa mengambang berenang senang. Bahkan aku masih ingat saat masih sangat bayi, aku bisa tersenyum sekali-sekali dan marah sering sekali apabila ada yang mencoba mencubit dan menciumku sewenang-wenang.
The Odd Life of Timothy Green, kembali aku memilih sebuah film yang menjadikan seorang anak kecil menjadi tokoh sentral, yang membuat aku teringat masa kecilku, bagaimana caraku hidup di dunia. Aku bagai Timotius yang tidak dilahirkan dan tidak pula diadopsi oleh pasangan suami istri yang tak memiliki anak. Suami istri itu mencoba segalanya untuk hamil, dan sampai akhirnya putus asa, mereka membuka sebotol anggur merah dan membuat daftar hal-hal yang mereka inginkan tentang anak yang sempurna. Semua dicatat dan mereka masukkan dalam kotak dan menguburkannya di kebun mereka, dan saat hujan badai datang, datanglah seorang anak lelaki yang dipenuhi tanah dan daun yang tumbuh di kakinya. Anak yang pendiam dan dari mulutnya selalu keluar kata-kata yang bijak dan selalu ingin menyenangkan orang-orang disekelilingnya. Tetapi, anak yang bijak menjadi anak yang aneh. Tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya, tidak bisa punya ego seperti kebanyakan anak-anak. Timothy terlalu peduli dengan orang lain, atau memilih mengurung dirinya, berjam-jam di hutan bermain daun bersama teman yang baginya cocok, untuk menciptakan “dunia yang lain” dari dunia anak-anak umumnya.

Aku membayangkan masa kecil seperti dia, anak yang lahir dan tumbuh di hutan, tempat pohon-pohon tinggi dan daun-daun merah berguguran terkena angin. Ibuku pernah bercerita bahwa sebetulnya, aku adalah anak yang lahir akibat kontrasepsi gagal. Aku bukan kelahiran yang diinginkan, sebab Ibuku sudah terlalu sering melahirkan. Itu bukan cerita yang sedih, bagi aku itu sangat biasa. Tetapi begitu aku lahir, mereka tidak tahan melihat pipiku yang tembem, kulit yang putih, rambut yang ikal dan mataku yang sipit. Tapi, seperti Timothy, aku tumbuh sendirian, dengan mata kameraku, dengan diam di mulutku, dan aku hanya mendengarkan dan merekam segalanya.

Lalu aku tumbuh di kota besar, yang setiap berangkat sekolah aku hampir mati terjepit bis kota, atau aku melompat nekat dari Metro Mini karena tak mau berhenti. Aku melompat dan aku tahu akan risiko mati, entah patah tangan atau gegar otak. Aku tahu. Dan aku melompat. Aku terseret di aspal, dan saat berhenti tubuhku di atas aspal, aku bangkit. Aku tak pernah menangis dengan situasi itu, aku jatuh dan bangun, langsung berjalan dalam diam dengan wajah tertunduk. Orang-orang berteriak memanggilku karena darah dari lengan dan kakiku sudah berantakan di aspal. Aku terus berjalan sampai aku merasakan lemas di lututku dan aku memegang tiang-tiang listrik untuk menahan tubuhku. Aku terus diam dan berjalan tenang, dan sampai rumah, aku roboh di atas tempat tidurku. Aku terlatih menahan sakit, bukan karena aku kuat, tetapi waktu itu aku tidak tahu apa itu menderita. Ternyata, karena waktu itu aku tidak tahu apa itu penderitaan. Aku hanya tahu aku lahir begitu saja, di atas panggung bernama dunia. Dan jalan hidupku bukan di tengah keramaian, yang dalam ramai sekalipun, aku dalam diam namun sangat memperhatikan, dalam jarak yang aku ciptakan, meski sedemikian kita bisa berdekatan.

Saat dewasa, aku bahkan mencatat sekian banyak kucing tua dan kucing sakit yang diam-diam pergi menjauh beratus meter jaraknya, untuk menemukan tanah dingin dan tersembunyi agar siapapun tidak  akan menemukan kematiannya. Sejak itu aku melihat, bagi mereka, kematian adalah jalan sepi yang paling sempurna. Akupun menanti dengan sangat lekas. Sebab ketika dewasa, terlalu semakin mengenal ketidakadilan, kemunafikan, pengkhianatan, kepura-puraan, penderitaan akibat harapan yang terlalu besar dan sesuatu yang tidak bisa diatasi oleh diri kita sendiri, karena terlalu banyak keinginan, dan hidup yang aku rasakan adalah saat kita bangun tidur hanya menemukan tangisan, dan saat ingin tidur, hanya menemukan kebosanan. Dan aku diselamatkan oleh Venus yang muncul saat aku termangu duduk di halaman belakang, di usiaku yang paling puncak memahami tentang kedewasaan, aku masih melihatnya menggantung di langit. Menemaniku diwaktu-waktu yang aku inginkan, aku dibangunkan saat menjelang subuh untuk menghindar mimpi buruk. Mimpi-mimpi buruk yang menggambarkan keadaan terang menderang, kematian pada orang-orang yang hidup atau hidup dalam keadaan mati, dalam kelelahan tuntutan dunia. Aku menyaksikan banyak jiwa dalam mimpi-mimpi yang menerkamku setiap malam, betapa banyak kesedihan yang mereka tutupi, mereka tutupi dengan hiruk pikuk, riuh rendah, gaduh, ramai. Mereka takut akan keheningan, sebab itu membuatnya mengingat-ingat kembali kesedihan yang dipaksa untuk pergi dari memorinya. Aku, aku adalah pengingat segalanya, segala yang kelam, dan aku, aku bukan orang yang bisa mengingat apa yang disebut dengan kesenangan, dan Venus mengatakan hal yang sama, pada setiap menjelang subuh.


Tambun, 19 Oktober 2014


Selasa, 14 Oktober 2014

Rumput Mati



Oleh: Mariana Amiruddin

Sore itu menjelang senja, udara begitu panas. Sudah lebih dari sebulan hujan tak datang. Serangga beranak pinak begitu cepat, mereka tinggal di semak-semak dan daun-daun kering. Sore itu aku menggeledah laci riasku, dan aku menemukan pisau cukur. Aku lupa mengapa bisa ada pisau cukur di situ. Sebab aku tidak pernah membutuhkannya. Wajahku tidak ditumbuhi janggut. Begitu juga ketiakku. Tidak banyak hal yang harus aku cukur, bahkan alis dan rambutku. Ah ya! Aku baru ingat. Itu hadiah dari toko setelah aku membeli sabun muka khusus untuk pria. Saya sempat menolaknya, tapi kasir memaksaku untuk mengambilnya. Saya bilang saya tidak berjanggut. Si kasir binngung, katanya loh ibu yang mau pakai? Ya, saya bilang. Matanya menatap aneh ke arahku. 

Sore itu tanganku gemetar. Aku ingin sekali mati. Tapi aku masih sadar, begitu banyak cara-cara bunuh diri yang menyakitkan. Masalahnya aku tidak mau lagi merasa sakit. Hidup sudah membuatku sakit, masa untuk mati aku harus sakit juga? Aku ingin kematian itu tidak seperti kita dilahirkan, dimana semua bayi menangis keras ketika melihat dunia. Mengapa semua bayi begitu sedih dengan dunia? Aku ingin kematian itu bahagia. Atau seperti kita menyambut perjalanan jauh. Aku yakin bahwa kematianku tidak akan membuat sakit orang lain. Aku tidak punya tanggungan, atau hutang. Aku tidak pernah pinjam uang atau janji-janji lainnya. Aku juga tidak menimbun harta. Hartaku segini-segini saja. Aku memang tidak pernah membuat janji-janji pada orang. Orang-oranglah yang selalu mengumbar janji dan berhutang padaku. Aku sudah melatih diri untuk tidak berhubungan dengan orang lain sehingga harapanku adalah orang-orang akan biasa saja dengan kematianku. Mereka paling-paling hanya kaget saja. Keluargaku, masing-masing sudah sibuk menjalankan kehidupannya. Orangtuaku sudah ada yang merawat. Aku sudah tidak punya kemelekatan lagi. Aku hanya punya hewan peliharan yang sebentar lagi tumbuh besar, dan sudah kusiapkan manusia yang akan memeliharanya dengan kasih sayang.

Tapi cara mati itu, seandainya ada yg tak menyakitkan, pastilah dengan mudah aku lakukan. Sebab bukan karena perasaan tertekan, tetapi hidup tampaknya sudah tak perlu apa-apa lagi. Aku sudah merasa tawar, tiada ambisi sama sekali, keinginan, apalagi masa depan. Aku tak mau meneruskan takdir berikutnya, aku mau berhenti saja di stasiun terakhir.

Karena terlalu banyak berpikir itulah lagi-lagi aku menunda kematianku. Aku malah pusing. Otot leherku tegang. Aku tak bisa menoleh. Saat menoleh rasanya sakit sekali. Rupanya aku belum makan sejak pagi. Aku lupa kalau hidup itu kita harus makan. Perutku kosong dan penuh gas di lambungku, sampai otot-ototku tak mau bekerja. Tiba-tiba aku jatuh! Tanganku gemetar. Hampir tak bisa menopang tubuh. Aku memaksakan diri menyeret tubuhku ke depan. Saat itu aku berharap sekali kenapa tidak sekalian mati saja. Aku jengkel dan kulemparkan tubuhku tapi malah membentur pintu depan, dan disitulah aku baru sadar bahwa rumput di halaman rumah sudah terlalu panjang berantakan. Seperti bagaimana berantakannya hidupku.. Tiba-tiba aku punya tenaga dan segera bangkit berjalan ke dapur. Jalan yang terseret-seret seperti mayat yang hidup kembali. Sampai juga akhirnya di dapur dan kubuka semua laci dengan sekuat tenaga. Aku menemukan gunting rumput yang besar, tajam, dan kuat. Aku terkekeh-kekeh segera mengambil gunting itu dan tiba-tiba tenagaku bertambah lagi, aku letakkan gunting rumput itu di leherku. Lalu aku berpikir lagi, kenapa kuletakkan di leherku? Aku segera ingat bahwa aku ingin mencukur rumput itu. 

Ternyata hari sudah gelap. Terlalu lama aku berpikir. Rumput halaman tak kelihatan. Bagaimana aku bisa memotongnya? Tapi aku yakin dan sangat yakin pastilah bisa! Aku berjongkok dengan leher yang luar biasa sakit, kugerakkan tanganku dengan paksa dan cekat kupotong rumput itu dengan kebahagiaan. Aku merasa lebih tenang karena tercium wangi rumput segar yang terpenggal. Tak lama, kelima kucingku ikut-ikutan berlarian di halaman. Aku senang karena ada yang menemaniku. Aku sedikit kembali merasa hidup. Dan hampir satu jam rumput-rumput itu berhasil kupotong dalam keadaan gelap, sampai akhirnya terdengar suara mobil dinyalakan, berjalan perlahan, dan tiba-tiba terdengar teriakan beberapa kucing seperti sedang berkelahi. Kucing-kucingku terprovokasi dan si Cipit sang induk kucing malah menghampiri suara itu. Aku cemas luar biasa. Sementara keempat anaknya berlarian masuk ke dalam rumah, dengan posisi mengintip dari jendela. Aku teriak kencang sekali, Cipit masuk!!


Tampak dua ekor kucing berlarian ke arah rumahku. Cipit juga berlarian kembali ke rumahku. Tapi ada hal yang janggal. Suara-suara manusia tampak sibuk meneliti di bawah mobil yang menyala tadi. Aku mendapatkan firasat buruk. Benar, seekor kucing jantan tergolek di bawah mobil itu. Hidungnya mengeluarkan darah. Rupanya sang jantan itu, adalah bapak dari anak-anaknya si Cipit. Ia mati terlindas mobil. Orang-orang itu abai pada hewan. Sudah tahu ada kucing di bawah mobil mereka malah tetap menjalankan mobil. Seorang anak berteriak bilang bahwa sudah peringatkan ke ayahnya untuk hati-hati karena ada kucing di bawah mobil. Tampak kucing-kucingku hening. Tak ada lagi yang berlompatan di atas rumput. Aku masih melihat darah di aspal bekas kucing mati itu. Sang kucing sudah diangkat dan dikubur. Bagi orang kita, mitos kucing mati begitu kuat. Kalau kita tak sengaja menabrak atau melindas kucing, tandanya akan mendapatkan sial. Karena itu harus dikubur baik-baik. Tapi kalau kucing itu hidup berkeliaran, mereka membencinya.

Aku sedih. Akulah yang ingin mati. Mengapa malah aku yang menyaksikan kematian? Kematian dengan cara demikian sangatlah menyedihkan. Aku menunduk dan melanjutkan potong rumput, berusaha melupakan kejadian tadi. Dan malam itu juga rumput di halaman rumahku mendadak rapi.


Tambun, 12 Oktober 2014


Jumat, 10 Oktober 2014

Anomali

Oleh: Mariana Amiruddin

Beberapa waktu lalu di sebuah seminar saat waktu istirahat saya berbincang santai dengan seorang teman fotografer dan seorang arsitek. Mereka berdua adalah laki-laki yang sudah berkeluarga. Kami bertiga duduk di teras lantai dua sebuah restoran Belanda yang sangat kuno di bilangan Menteng Jakarta, dan kami baru tahu tempat itu padahal sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Tempat kami duduk, ternyata bisa memandang jauh ke bawah, ada sebuah taman yang sangat kuno bergaya Eropa, mirip dengan gaya taman-taman Belanda seperti di Kebun Raya Bogor atau Istana Presiden. Kami tercengang karena sudah lama tidak melihat pemandangan itu di Jakarta. Gaya Eropa itu masih sangat dipertahankan, dan di setiap sisinya ada bendera-bendera dengan kain bali. Ada kolam, ada rumput luas yang terawat, dan pohon-pohon besar mengelilinginya.

Aku sangat menyukai restoran itu, kuno, klasik, eksotis  campuran gaya Eropa dan Indonesia, dan sangat reflektif. Di setiap sudut ada lilin kecil, bunga anggrek dan aroma terapi. Poster-poster kuno berjejer dan lampu-lampu besar menggantung seperti gaya abad ke 19. Gelas-gelas anggur dan piring-piring besar dijejer di setiap meja, seperti menjadi bagian dari pesona restoran itu. Tapi teman fotograferku bilang, sayang ya terlalu gelap, remang-remang jadi kesannya mesum, dan agak horor. Aku menampik, kubilang, orang kita ini salah kaprah, menerjemahkan remang-remang itu tempat mesum, mengerikan, padahal remang-remang itu biasanya menjadi tempat berdoa, tempat bermeditasi, menenangkan diri, membaca dalam sunyi hanya dengan lampu baca, sungguh aneh aku melihat orang kita sendiri, mengaitkan segala yang gelap dengan urusan-urusan seksual dan mistik, demikian kataku. Temanku yang fotografer mengedipkan mata, agaknya dia belum paham maksudku. Dia tidak mengiyakan, tidak juga mengelak. Temanku satunya yang arsitek, dengan topi gaya koboinya, kemudian melanjutkan cerita lain, kami kemudian tertawa-tawa menceritakan betapa absurdnya keadaan Jakarta, terutama kemacetan dan lalu lintasnya.

Sampai pada sebuah perbincangan tentang hidup masing-masing. Aku bercerita betapa senangnya hidup di pinggir Jakarta yang masih banyak pohon, rumput, dan bisa bersepeda di sana. Dan aku hanya sekali-sekali saja ke Jakarta. Aku punya akses internet 24 jam apabila ada pekerjaan-pekerjaan dan tema-tema penting yang perlu aku ketahui juga berkomunikasi dengan orang luar. Mereka sedikit menganga dan bilang, wah untungnya suami dan anak-anak mbak nggak apa-apa ya. Aku bilang, tidak ada suami dan anak-anak adanya kucing lima ekor! Kali ini mereka menganga lebar, tetapi mata mereka bersinar, seperti ketemu ide baru. Wah asik juga ya hidup begitu mbak. Kalau saya, seandainya keluarga, tetangga, mertua, istri, tidak menekan saya untuk kerja kantoran, saya juga mau. Dulu saya kerjanya membuat robot-robot mainan, dan sempat di ekspor ke Singapur dan Malaysia, laku keras! Kerja saya dulu di rumah. Lalu aku tanya lagi, dibanding sekarang kerja di kantoran lebih banyak mana penghasilannya? Dia jawab, ya lebih banyak jual robot mainan! Kami tertawa. Jadi masalahnya adalah tekanan sosial. Bagi dia, sang arsitek, bekerja di rumah itu momok bagi keluarga dan masyarakat. Dan itu membuatnya tertekan. Lalu, aku tanya, kalau seandainya istri kerja di luar dan anda kerja di rumah, dan semua orang mendukung bagaimana? Dia jawab lagi, wah berat mbak bagi laki-laki kalau kerja di rumah sementara istri di luar. Duh, aku geleng-geleng kepala. Jadi kamu maunya apa mas, didukung salah, nggak didukung salah pula. Si arsitek ketawa saja, ketawa miris.

Sang fotografer, juga cerita soal hidup dan karirnya. Dia sibuk pontang-panting dengan mobil bututnya, membawa peralatan studio foto, yang biasanya dapat panggilan dari orang-orang yang mau pre- wedding. Banyak suka duka di pekerjaannya, terutama ketika mobil tak mau nanjak karena lokasi pre wedding di atas gunung, dan sang calon mempelai lelaki harus jalan kaki. Hahaha… kami tertawa. Setelah itu kami bicara tentang gaya hidup yang ideal. Mereka semua setuju dengan pendapatku, bahwa dalam situasi macet sekarang, perlu banyak perubahan rutinitas. Kami selalu tertawa-tawa saat bercerita bagaimana perjalanan dari Patung Pancoran sampai Jakarta Pusat saja bisa menempuh dua jam. Anjriiiit….  kata mereka dengan ekspresi yang lucu, sedih tapi mau bagaimana lagi. Aku bilang lagi, kita yang perlu menjadikan diri kita ini mau jadi siapa, jadi apa, bukan orang lain yang menentukan kita. Lalu mereka berdua mengangguk kencang. Tapi barangkali, sebagai laki-laki yang sudah berkeluarga, itu bukan jalan mudah. Mereka harus dan harus mengikuti jalan kebanyakan orang, supaya tidak dihina. Baiklah, aku kemudian bersyukur dengan diriku sendiri.


Tambun, 11-10-2014

http://www.myeyeisonfire.net/noah/index.html

Sabtu, 04 Oktober 2014

Jeda Hati Buat Negeri

Tak ada yang bisa diharapkan, bahkan ruang untuk kita sendiri.
Tak ada lagi harapan, karena kita sudah tidak berharap apa-apa lagi.
Tak ada lagi hati dan rasa, karena kita sudah bukan manusia lagi.

Bila sudah tak ada lagi manusia,
rasanya ingin berhenti sampai disini.
Bila perjalanan bukan lagi saling memaknai,
rasanya kita hanya buang hari-hari.

Jangan kau kejar bila aku lari, tak kan ada yang kau kejar lagi
Percuma memaki bila aku lari, negeri ini sudah tak pantas lagi
Jangan kau menghardik lagi, segala yang ku beri tak tersisa lagi
Buat apa kau tanya pendapatku lagi, bila demokrasi tak ada lagi.

Mengertilah getaranmu telah hilang terbagi
seperti prajurit yang tak siap berjuang lagi
Bersatulah pejabat negeri,
bersama-sama membunuh hati.

Lupakanlah hati, karena kau tak tau lagi.
Benamkanlah rasa, karena kau tak perlu lagi.
Siap-siaplah semua,
untuk memikirkan diri sendiri.
Tak perlulah aku menanti,
sebab sekarangpun kau sudah mati.

Bekasi Mati, 20 Juni 2011