Oleh: Mariana
Amiruddin
Beberapa waktu lalu di
sebuah seminar saat waktu istirahat saya berbincang santai dengan seorang teman
fotografer dan seorang arsitek. Mereka berdua adalah laki-laki yang sudah
berkeluarga. Kami bertiga duduk di teras lantai dua sebuah restoran Belanda
yang sangat kuno di bilangan Menteng Jakarta, dan kami baru tahu tempat itu
padahal sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Tempat kami duduk, ternyata bisa
memandang jauh ke bawah, ada sebuah taman yang sangat kuno bergaya Eropa, mirip
dengan gaya taman-taman Belanda seperti di Kebun Raya Bogor atau Istana Presiden.
Kami tercengang karena sudah lama tidak melihat pemandangan itu di Jakarta.
Gaya Eropa itu masih sangat dipertahankan, dan di setiap sisinya ada
bendera-bendera dengan kain bali. Ada kolam, ada rumput luas yang terawat, dan
pohon-pohon besar mengelilinginya.
Aku sangat menyukai
restoran itu, kuno, klasik, eksotis campuran gaya Eropa dan Indonesia, dan sangat
reflektif. Di setiap sudut ada lilin kecil, bunga anggrek dan aroma terapi.
Poster-poster kuno berjejer dan lampu-lampu besar menggantung seperti gaya abad
ke 19. Gelas-gelas anggur dan piring-piring besar dijejer di setiap meja,
seperti menjadi bagian dari pesona restoran itu. Tapi teman fotograferku
bilang, sayang ya terlalu gelap, remang-remang jadi kesannya mesum, dan agak
horor. Aku menampik, kubilang, orang kita ini salah kaprah, menerjemahkan
remang-remang itu tempat mesum, mengerikan, padahal remang-remang itu biasanya menjadi
tempat berdoa, tempat bermeditasi, menenangkan diri, membaca dalam sunyi hanya dengan
lampu baca, sungguh aneh aku melihat orang kita sendiri, mengaitkan segala yang
gelap dengan urusan-urusan seksual dan mistik, demikian kataku. Temanku yang
fotografer mengedipkan mata, agaknya dia belum paham maksudku. Dia tidak
mengiyakan, tidak juga mengelak. Temanku satunya yang arsitek, dengan topi gaya
koboinya, kemudian melanjutkan cerita lain, kami kemudian tertawa-tawa menceritakan
betapa absurdnya keadaan Jakarta, terutama kemacetan dan lalu lintasnya.
Sampai pada sebuah
perbincangan tentang hidup masing-masing. Aku bercerita betapa senangnya hidup
di pinggir Jakarta yang masih banyak pohon, rumput, dan bisa bersepeda di sana.
Dan aku hanya sekali-sekali saja ke Jakarta. Aku punya akses internet 24 jam
apabila ada pekerjaan-pekerjaan dan tema-tema penting yang perlu aku ketahui
juga berkomunikasi dengan orang luar. Mereka sedikit menganga dan bilang, wah
untungnya suami dan anak-anak mbak nggak apa-apa ya. Aku bilang, tidak ada
suami dan anak-anak adanya kucing lima ekor! Kali ini mereka menganga lebar,
tetapi mata mereka bersinar, seperti ketemu ide baru. Wah asik juga ya hidup
begitu mbak. Kalau saya, seandainya keluarga, tetangga, mertua, istri, tidak
menekan saya untuk kerja kantoran, saya juga mau. Dulu saya kerjanya membuat
robot-robot mainan, dan sempat di ekspor ke Singapur dan Malaysia, laku keras!
Kerja saya dulu di rumah. Lalu aku tanya lagi, dibanding sekarang kerja di
kantoran lebih banyak mana penghasilannya? Dia jawab, ya lebih banyak jual
robot mainan! Kami tertawa. Jadi masalahnya adalah tekanan sosial. Bagi dia,
sang arsitek, bekerja di rumah itu momok bagi keluarga dan masyarakat. Dan itu
membuatnya tertekan. Lalu, aku tanya, kalau seandainya istri kerja di luar dan
anda kerja di rumah, dan semua orang mendukung bagaimana? Dia jawab lagi, wah
berat mbak bagi laki-laki kalau kerja di rumah sementara istri di luar. Duh,
aku geleng-geleng kepala. Jadi kamu maunya apa mas, didukung salah, nggak
didukung salah pula. Si arsitek ketawa saja, ketawa miris.
Sang fotografer, juga
cerita soal hidup dan karirnya. Dia sibuk pontang-panting dengan mobil
bututnya, membawa peralatan studio foto, yang biasanya dapat panggilan dari
orang-orang yang mau pre- wedding. Banyak suka duka di pekerjaannya, terutama
ketika mobil tak mau nanjak karena lokasi pre wedding di atas gunung, dan sang
calon mempelai lelaki harus jalan kaki. Hahaha… kami tertawa. Setelah itu kami
bicara tentang gaya hidup yang ideal. Mereka semua setuju dengan pendapatku,
bahwa dalam situasi macet sekarang, perlu banyak perubahan rutinitas. Kami
selalu tertawa-tawa saat bercerita bagaimana perjalanan dari Patung Pancoran
sampai Jakarta Pusat saja bisa menempuh dua jam. Anjriiiit…. kata mereka dengan ekspresi yang lucu, sedih
tapi mau bagaimana lagi. Aku bilang lagi, kita yang perlu menjadikan diri kita
ini mau jadi siapa, jadi apa, bukan orang lain yang menentukan kita. Lalu
mereka berdua mengangguk kencang. Tapi barangkali, sebagai laki-laki yang sudah
berkeluarga, itu bukan jalan mudah. Mereka harus dan harus mengikuti jalan
kebanyakan orang, supaya tidak dihina. Baiklah, aku kemudian bersyukur dengan
diriku sendiri.
Tambun, 11-10-2014
![]() |
| http://www.myeyeisonfire.net/noah/index.html |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar