Jumat, 10 Oktober 2014

Anomali

Oleh: Mariana Amiruddin

Beberapa waktu lalu di sebuah seminar saat waktu istirahat saya berbincang santai dengan seorang teman fotografer dan seorang arsitek. Mereka berdua adalah laki-laki yang sudah berkeluarga. Kami bertiga duduk di teras lantai dua sebuah restoran Belanda yang sangat kuno di bilangan Menteng Jakarta, dan kami baru tahu tempat itu padahal sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Tempat kami duduk, ternyata bisa memandang jauh ke bawah, ada sebuah taman yang sangat kuno bergaya Eropa, mirip dengan gaya taman-taman Belanda seperti di Kebun Raya Bogor atau Istana Presiden. Kami tercengang karena sudah lama tidak melihat pemandangan itu di Jakarta. Gaya Eropa itu masih sangat dipertahankan, dan di setiap sisinya ada bendera-bendera dengan kain bali. Ada kolam, ada rumput luas yang terawat, dan pohon-pohon besar mengelilinginya.

Aku sangat menyukai restoran itu, kuno, klasik, eksotis  campuran gaya Eropa dan Indonesia, dan sangat reflektif. Di setiap sudut ada lilin kecil, bunga anggrek dan aroma terapi. Poster-poster kuno berjejer dan lampu-lampu besar menggantung seperti gaya abad ke 19. Gelas-gelas anggur dan piring-piring besar dijejer di setiap meja, seperti menjadi bagian dari pesona restoran itu. Tapi teman fotograferku bilang, sayang ya terlalu gelap, remang-remang jadi kesannya mesum, dan agak horor. Aku menampik, kubilang, orang kita ini salah kaprah, menerjemahkan remang-remang itu tempat mesum, mengerikan, padahal remang-remang itu biasanya menjadi tempat berdoa, tempat bermeditasi, menenangkan diri, membaca dalam sunyi hanya dengan lampu baca, sungguh aneh aku melihat orang kita sendiri, mengaitkan segala yang gelap dengan urusan-urusan seksual dan mistik, demikian kataku. Temanku yang fotografer mengedipkan mata, agaknya dia belum paham maksudku. Dia tidak mengiyakan, tidak juga mengelak. Temanku satunya yang arsitek, dengan topi gaya koboinya, kemudian melanjutkan cerita lain, kami kemudian tertawa-tawa menceritakan betapa absurdnya keadaan Jakarta, terutama kemacetan dan lalu lintasnya.

Sampai pada sebuah perbincangan tentang hidup masing-masing. Aku bercerita betapa senangnya hidup di pinggir Jakarta yang masih banyak pohon, rumput, dan bisa bersepeda di sana. Dan aku hanya sekali-sekali saja ke Jakarta. Aku punya akses internet 24 jam apabila ada pekerjaan-pekerjaan dan tema-tema penting yang perlu aku ketahui juga berkomunikasi dengan orang luar. Mereka sedikit menganga dan bilang, wah untungnya suami dan anak-anak mbak nggak apa-apa ya. Aku bilang, tidak ada suami dan anak-anak adanya kucing lima ekor! Kali ini mereka menganga lebar, tetapi mata mereka bersinar, seperti ketemu ide baru. Wah asik juga ya hidup begitu mbak. Kalau saya, seandainya keluarga, tetangga, mertua, istri, tidak menekan saya untuk kerja kantoran, saya juga mau. Dulu saya kerjanya membuat robot-robot mainan, dan sempat di ekspor ke Singapur dan Malaysia, laku keras! Kerja saya dulu di rumah. Lalu aku tanya lagi, dibanding sekarang kerja di kantoran lebih banyak mana penghasilannya? Dia jawab, ya lebih banyak jual robot mainan! Kami tertawa. Jadi masalahnya adalah tekanan sosial. Bagi dia, sang arsitek, bekerja di rumah itu momok bagi keluarga dan masyarakat. Dan itu membuatnya tertekan. Lalu, aku tanya, kalau seandainya istri kerja di luar dan anda kerja di rumah, dan semua orang mendukung bagaimana? Dia jawab lagi, wah berat mbak bagi laki-laki kalau kerja di rumah sementara istri di luar. Duh, aku geleng-geleng kepala. Jadi kamu maunya apa mas, didukung salah, nggak didukung salah pula. Si arsitek ketawa saja, ketawa miris.

Sang fotografer, juga cerita soal hidup dan karirnya. Dia sibuk pontang-panting dengan mobil bututnya, membawa peralatan studio foto, yang biasanya dapat panggilan dari orang-orang yang mau pre- wedding. Banyak suka duka di pekerjaannya, terutama ketika mobil tak mau nanjak karena lokasi pre wedding di atas gunung, dan sang calon mempelai lelaki harus jalan kaki. Hahaha… kami tertawa. Setelah itu kami bicara tentang gaya hidup yang ideal. Mereka semua setuju dengan pendapatku, bahwa dalam situasi macet sekarang, perlu banyak perubahan rutinitas. Kami selalu tertawa-tawa saat bercerita bagaimana perjalanan dari Patung Pancoran sampai Jakarta Pusat saja bisa menempuh dua jam. Anjriiiit….  kata mereka dengan ekspresi yang lucu, sedih tapi mau bagaimana lagi. Aku bilang lagi, kita yang perlu menjadikan diri kita ini mau jadi siapa, jadi apa, bukan orang lain yang menentukan kita. Lalu mereka berdua mengangguk kencang. Tapi barangkali, sebagai laki-laki yang sudah berkeluarga, itu bukan jalan mudah. Mereka harus dan harus mengikuti jalan kebanyakan orang, supaya tidak dihina. Baiklah, aku kemudian bersyukur dengan diriku sendiri.


Tambun, 11-10-2014

http://www.myeyeisonfire.net/noah/index.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar