Jumat, 10 Oktober 2014

Anomali

Oleh: Mariana Amiruddin

Beberapa waktu lalu di sebuah seminar saat waktu istirahat saya berbincang santai dengan seorang teman fotografer dan seorang arsitek. Mereka berdua adalah laki-laki yang sudah berkeluarga. Kami bertiga duduk di teras lantai dua sebuah restoran Belanda yang sangat kuno di bilangan Menteng Jakarta, dan kami baru tahu tempat itu padahal sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Tempat kami duduk, ternyata bisa memandang jauh ke bawah, ada sebuah taman yang sangat kuno bergaya Eropa, mirip dengan gaya taman-taman Belanda seperti di Kebun Raya Bogor atau Istana Presiden. Kami tercengang karena sudah lama tidak melihat pemandangan itu di Jakarta. Gaya Eropa itu masih sangat dipertahankan, dan di setiap sisinya ada bendera-bendera dengan kain bali. Ada kolam, ada rumput luas yang terawat, dan pohon-pohon besar mengelilinginya.

Aku sangat menyukai restoran itu, kuno, klasik, eksotis  campuran gaya Eropa dan Indonesia, dan sangat reflektif. Di setiap sudut ada lilin kecil, bunga anggrek dan aroma terapi. Poster-poster kuno berjejer dan lampu-lampu besar menggantung seperti gaya abad ke 19. Gelas-gelas anggur dan piring-piring besar dijejer di setiap meja, seperti menjadi bagian dari pesona restoran itu. Tapi teman fotograferku bilang, sayang ya terlalu gelap, remang-remang jadi kesannya mesum, dan agak horor. Aku menampik, kubilang, orang kita ini salah kaprah, menerjemahkan remang-remang itu tempat mesum, mengerikan, padahal remang-remang itu biasanya menjadi tempat berdoa, tempat bermeditasi, menenangkan diri, membaca dalam sunyi hanya dengan lampu baca, sungguh aneh aku melihat orang kita sendiri, mengaitkan segala yang gelap dengan urusan-urusan seksual dan mistik, demikian kataku. Temanku yang fotografer mengedipkan mata, agaknya dia belum paham maksudku. Dia tidak mengiyakan, tidak juga mengelak. Temanku satunya yang arsitek, dengan topi gaya koboinya, kemudian melanjutkan cerita lain, kami kemudian tertawa-tawa menceritakan betapa absurdnya keadaan Jakarta, terutama kemacetan dan lalu lintasnya.

Sampai pada sebuah perbincangan tentang hidup masing-masing. Aku bercerita betapa senangnya hidup di pinggir Jakarta yang masih banyak pohon, rumput, dan bisa bersepeda di sana. Dan aku hanya sekali-sekali saja ke Jakarta. Aku punya akses internet 24 jam apabila ada pekerjaan-pekerjaan dan tema-tema penting yang perlu aku ketahui juga berkomunikasi dengan orang luar. Mereka sedikit menganga dan bilang, wah untungnya suami dan anak-anak mbak nggak apa-apa ya. Aku bilang, tidak ada suami dan anak-anak adanya kucing lima ekor! Kali ini mereka menganga lebar, tetapi mata mereka bersinar, seperti ketemu ide baru. Wah asik juga ya hidup begitu mbak. Kalau saya, seandainya keluarga, tetangga, mertua, istri, tidak menekan saya untuk kerja kantoran, saya juga mau. Dulu saya kerjanya membuat robot-robot mainan, dan sempat di ekspor ke Singapur dan Malaysia, laku keras! Kerja saya dulu di rumah. Lalu aku tanya lagi, dibanding sekarang kerja di kantoran lebih banyak mana penghasilannya? Dia jawab, ya lebih banyak jual robot mainan! Kami tertawa. Jadi masalahnya adalah tekanan sosial. Bagi dia, sang arsitek, bekerja di rumah itu momok bagi keluarga dan masyarakat. Dan itu membuatnya tertekan. Lalu, aku tanya, kalau seandainya istri kerja di luar dan anda kerja di rumah, dan semua orang mendukung bagaimana? Dia jawab lagi, wah berat mbak bagi laki-laki kalau kerja di rumah sementara istri di luar. Duh, aku geleng-geleng kepala. Jadi kamu maunya apa mas, didukung salah, nggak didukung salah pula. Si arsitek ketawa saja, ketawa miris.

Sang fotografer, juga cerita soal hidup dan karirnya. Dia sibuk pontang-panting dengan mobil bututnya, membawa peralatan studio foto, yang biasanya dapat panggilan dari orang-orang yang mau pre- wedding. Banyak suka duka di pekerjaannya, terutama ketika mobil tak mau nanjak karena lokasi pre wedding di atas gunung, dan sang calon mempelai lelaki harus jalan kaki. Hahaha… kami tertawa. Setelah itu kami bicara tentang gaya hidup yang ideal. Mereka semua setuju dengan pendapatku, bahwa dalam situasi macet sekarang, perlu banyak perubahan rutinitas. Kami selalu tertawa-tawa saat bercerita bagaimana perjalanan dari Patung Pancoran sampai Jakarta Pusat saja bisa menempuh dua jam. Anjriiiit….  kata mereka dengan ekspresi yang lucu, sedih tapi mau bagaimana lagi. Aku bilang lagi, kita yang perlu menjadikan diri kita ini mau jadi siapa, jadi apa, bukan orang lain yang menentukan kita. Lalu mereka berdua mengangguk kencang. Tapi barangkali, sebagai laki-laki yang sudah berkeluarga, itu bukan jalan mudah. Mereka harus dan harus mengikuti jalan kebanyakan orang, supaya tidak dihina. Baiklah, aku kemudian bersyukur dengan diriku sendiri.


Tambun, 11-10-2014

http://www.myeyeisonfire.net/noah/index.html

Sabtu, 04 Oktober 2014

Jeda Hati Buat Negeri

Tak ada yang bisa diharapkan, bahkan ruang untuk kita sendiri.
Tak ada lagi harapan, karena kita sudah tidak berharap apa-apa lagi.
Tak ada lagi hati dan rasa, karena kita sudah bukan manusia lagi.

Bila sudah tak ada lagi manusia,
rasanya ingin berhenti sampai disini.
Bila perjalanan bukan lagi saling memaknai,
rasanya kita hanya buang hari-hari.

Jangan kau kejar bila aku lari, tak kan ada yang kau kejar lagi
Percuma memaki bila aku lari, negeri ini sudah tak pantas lagi
Jangan kau menghardik lagi, segala yang ku beri tak tersisa lagi
Buat apa kau tanya pendapatku lagi, bila demokrasi tak ada lagi.

Mengertilah getaranmu telah hilang terbagi
seperti prajurit yang tak siap berjuang lagi
Bersatulah pejabat negeri,
bersama-sama membunuh hati.

Lupakanlah hati, karena kau tak tau lagi.
Benamkanlah rasa, karena kau tak perlu lagi.
Siap-siaplah semua,
untuk memikirkan diri sendiri.
Tak perlulah aku menanti,
sebab sekarangpun kau sudah mati.

Bekasi Mati, 20 Juni 2011


Rabu, 17 September 2014

Bapak dan Katarak



Oleh: Mariana Amiruddin

Rumah Sakit itu milik pemerintah daerah. Dari puskesmas sebuah desa di tengah kota yang kosong tidak ada pasien itu, kami diberi rujukan untuk ke sana, untuk sebuah operasi mata bapak saya. Saya menemani dan membantu bapak untuk hal-hal kecil seperti mengurus administrasi, menelpon rumah sakit, membaca surat rujukan, memberi tahu dimana harus membubuhkan paraf dan tandatangan, dan berkas-berkas yang berlembar itu dengan masing-masing fungsi untuk kebutuhan legitimasi asuransi kesehatan. Untungnya, saya sudah biasa dengan pekerjaan administrasi, pekerjaan manajerial, dengan urusan surat-surat dan legalisasi-legalisasi. Dengan cepat saya mengurus dan membenahi urusan administrasi, mengklasifikasi berkas-berkas itu sambil menenteng-nenteng tas kulit Bapak buatan masa mudanya saat aktif berkantor. Tasnya sudah sobek-sobek. Tas yang awet disimpannya selama puluhan tahun.

Bapak saya ingin melihat jelas, bola matanya ada katarak. Pandangannya terhalang. Ia terganggu dengan itu. Ia tak mau menyerah dengan halangan itu. Ia ingin fungsi-fungsi inderanya tetap bekerja meski sudah lansia. Baginya lansia seharusnya bukan alasan. Hidupnya memang berpangku pada matanya yang teliti. Semangat hidup dan kerja kerasnya, bergantung pada matanya. Matanya yang membuatnya teliti menghitung angka, membaca koran mengikuti perkembangan zaman, mengisi kotak-kotak teka-teki silang, bermain kartu solitaire di komputer berjam-jam, dan membetulkan jam gandul yang berbunyi nyaring di ruang tamunya. Katanya supaya dia tak pikun. Saya setuju, lansia perlu terus putar otak supaya tak lekas pikun, harus banyak kegiatan yang disukainya.

Sejak saya tidak begitu sibuk bekerja, saya diberi kesempatan banyak untuk menemani bapak, meski sambil terkantuk-kantuk karena setiap hari mengalami insomnia. Saya bisa menjadi seorang supir, seorang pembantu, seorang sekretaris atau asisten untuk bapak saya. Sejak itu saya mulai kenal sifat-sifat bapak, dan sifat-sifat ibu lebih dalam. Dahulu mungkin saya tidak mengerti dengan sifat-sifat bapak yang keras, tetapi saya sekarang sudah lebih memahami. Sebab, terlalu lama dan bertahun-tahun saya jauh dari mereka, nyaris tidak ada komunikasi karena saya tak ingin apa yang menimpa saya mereka tahu, dan saya pantang meminta bantuan dan pertolongan dari mereka.  Saya tidak ingin menyulitkan mereka. Saya tahu menjadi orangtua itu tidak mudah, dan saya ingin mengurangi kesulitan mereka.

Saya baru mengenal mereka dengan dekat, ketika usia saya sudah mau empatpuluh. Ketika saya tidak lagi bekerja kantoran. Saya jadi belajar sabar, belajar mengasuh keluarga, sambil membayangkan bagaimana kalau saya sudah lanjut usia seperti mereka, siapakah yang akan membantu saya? Tapi tidak saya gubris khayalan itu karena saat ini yang penting adalah mereka dulu. Yang penting adalah membantu dengan tulus sebagaimana mereka membantu saya dengan tulus, sudah sedewasa ini masih saja saya masih menumpang makan. Saya masih jadi benalu karena itu saya memaksimalkan kemampuan saya untuk membantu mereka.

Rumah Sakit daerah itu tidak cukup ramah dengan pasien. Orang lanjut usia seperti Bapak bukan seperti umumnya, sebetulnya, dia ingin melakukan semua hal sendiri, tetapi dia butuh mata dan tenaga. Karena itu saya jadi mata dan tenaga bapak untuk sementara. Lansia menjadi seorang difabel, dan kita perlu memahami sudut pandang hidup mereka. Apalagi negara tidak memberikan fasilitas apa-apa yang mereka butuhkan supaya mereka mudah mengurus diri mereka sendiri. Sampai sana, poli mata katanya buka pukul 3 sore, tetapi pukul 3.30 belum juga datang, sampai akhirnya saya tanya berkali-kali pada suster, jawabnya malas-malasan, matanya selalu ke arah televisi, menonton sinetron. Mereka jawab tunggu saja biasanya datang jam 4 sore. Saya tanya lagi katanya jam 3 sore, lalu 3.30 dan sekarang jam 4 sore? Saya mulai marah-marah, lalu Bapak saya mulai sensitif, dia bilang apa kita pulang saja? Saya jawab jangan, kita tunggu, tanggung. Sepertinya kemarahan saya jadi memprovokasi perasaan bapak yang mulai putus asa.

Keponakan saya anak laki-laki yang kebetulan baru pulang dari Berlin,  dia belajar sambil bekerja di sana dan sedang liburan di tempat orang tua dan kakek neneknya. Kebetulan dia menemani juga, dia menggandeng kakeknya atau kakeknya memegang lengan cucunya. Keponakan saya tertawa-tawa melihat kelakuan saya yang sepanjang hari itu terus protes. Kita berdua diskusi bagaimana fasilitas rumah sakit menganggap semua orang sama, menganggap semua orang sehat sehingga bisa mengurus administrasi demikian ribet dilakukan oleh pasien yang sakit. Belum lagi soal parkir, seorang tukang parkir bilang tidak ada parkir, saya bilang saya bawa pasien, apakah ada alternatif. Tidak dijawab, tukang parkir tidak mau berpikir. Mungkin harusnya kita datang pakai ambulan atau nebeng mobil dokter, karena hampir semua lahan parkir diisi mobil dokter. Akhirnya saya minta Bapak dan keponakan saya turun duluan dan saya cari parkir di seberang, di depan toko kelontong, dan saya harus menyeberangi ibu ditengah lalu lintas yang padat dan mereka semua ngebut luar biasa tak peduli pada orang yang sedang menyeberang. Ibu saya juga mulai tak begitu melihat matanya, dan jalannya mulai lemah.

Setelah marah-marah itu, akhirnya saya lihat Bapak sudah tidak tenang menunggu saya dan Ibu. Ada beberapa berkas yang harus di fotocopy diantaranya surat rujukan dan kartu askes. Masing-masing empat kali juga ktp bapak. Untung semua persyaratan itu ada semua di tas kulit bapak yang tua itu. Sampai akhirnya bertemu dokter mata, dokter ini perempuan, asal dari Jakarta, saya suka dan cukup teliti orangnya, dan wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir dan sungguh-sungguh terhadap bapak, dan sangat melayani keluhan bapak. Kekhawatirannya itu ditunjukkan dengan memberikan surat rujukan kembali, supaya bapak berkonsultasi dulu dengan dokter penyakit dalam dan dokter jantung. Untuk operasi katarak, menurut dokter mata, pemeriksaan itu perlu supaya tidak ada risiko nantinya. Bapak saya langsung lesu karena dia ingin sekali cepat dioperasi kataraknya. Saya bilang sabar, ini persyaratan bagus artinya dokter bertanggungjawab dengan kondisi bapak. Tapi sayangnya, Rumah Sakit itu tidak membolehkan kami langsung konsultasi kepada dokter penyakit dalam dan dokter jantung sekaligus. Pihak Rumah Sakit meminta satu konsultasi dokter, satu hari. Belum lagi harus periksa darah terlebih dahulu. Jadi untuk melalui tahapan boleh tidaknya operasi katarak, kami harus bolak-balik ke Rumah Sakit selama 5 hari berturut-turut.

 Periksa darah. Bapak masuk ke ruang laboratorium. Dia sudah pengalaman dengan penyakit dan dokter sejak usia 40. Dia pernah diterima di kedokteran tetapi keluar karena tak kuat melihat darah. Dia bilang pada suster, supaya suntikan jangan di lengan kanan karena sulit dapat darah di situ, bapak minta lengan kiri. Tapi suster tak mau dengar, dan betul sulit di lengan kanan dan bapak kesakitan. Akhirnya suster menurut dan benar lebih mudah ambil darah dari lengan sebelah kiri. Saya mulai kesal.

Setelah laboratorium memeriksa, satu jam kemudian hasil darah langsung keluar. Bapak saya terlihat senang. Satu tahap beres. Dan dari hasil darah itu bisa dilihat apa saja yang ditemukan. Dokter minta pemeriksaan pada kasus diabetes, jantung dan ginjal. Bapak saya memang ginjalnya tinggal berfungsi 20% tapi semangatnya masih 100%. Dia agak tegang melihat hasil darah itu, saya diminta membacanya. Sayangnya saya tidak mengerti bagaimana membacanya. Tetapi saya akan cepat mengerti. Saya akan ikuti terus perjalanan dunia rumah sakit dan dokter ini. Barangkali suatu saat saya sudah memahaminya, barangkali saya nanti akan sering sakit dan saya bisa mengurus diri saya sendiri karena belajar dari bapak. Barangkali. Terimakasih Bapak dan Ibu, sering sekali membuat saya belajar untuk tidak menyerah. Belajar untuk melakukan segala hal sendiri meski dalam keadaan lemah. Belajar untuk tidak merengek melihat kehidupan. Belajar untuk tidak mudah patah, menjadi baja di setiap keadaan. Belajar untuk kritis, tetapi tidak mudah kecewa dan sering memaafkan..

Tambun, 18 September 2014






Selasa, 09 September 2014

Minyak



Oleh: Mariana Amiruddin


Hari ini saya terganggu sekali dengan rapat tadi siang. Ini sekedar catatan kecil untuk membuat saya merasa lebih baik dan lebih sabar menghadapi banyak orang. Mungkin tidak semuanya sesuai, karena saya hanya mengandalkan ingatan, dicampur kesal dan jengkel. Kadang menulis itu menjadi obat saya untuk lebih tenang menghadapi ketololan.

Rapat ini tidak jelas formatnya, dan kami diundang sebagai narasumber. Yang hadir banyak media. Saya dan teman-teman datang terlambat karena ternyata diberikan alamat yang tidak tepat, kami tersesat keliling-keliling di daerah Jakarta Selatan. Untuk ini saja energi saya sudah keburu habis, kehabisan nafas ditengah kemacetan dan perjalanan yang tak sampai-sampai. Akhirnya kami ketemu tempat rapat itu, dan ternyata ini undangan meminta kami bicara soal pengarusutamaan gender, hubungannya dengan pemerintahan baru, tapi yang diundang rata-rata dari media nasional. Jadi temanya tidak fokus, tetapi ingin menjaring laporan dari teman-teman media tentang bias gender yang menyebabkan pelaksanaan pengarusutamaan gender terhambat dan media dianggap sebagai pihak yang strategis untuk isu ini? Aduh, saya begitu dengar dan duduk langsung pusing. Hal-hal yang tak nyambung, terburu-buru menarik garis dan dipaksakan itu membuat kepalaku pusing. Lagipula sebetulnya saya agak malas dengan rapat-rapat seperti ini, meski demikian saya sudah membuat makalah, sudah mempersiapkan position paper hasil kerja jaringan, tentang argumen rancangan kabinet untuk perempuan, untuk memudahkan presiden melaksanakan pencapaian target pengarusutamaan gender.

Tapi saya kecewa sekali karena moderator di depan saya ini, belum selesai saya menjelaskan tentang kewenangan insitusi pemerintah yang akan memperhatikan nasib perempuan Indonesia, sudah dipotong dengan mengatakan begini, “Maaf ya mbak, saya sebenarnya tidak enak bicara begini karena saya laki-laki, tapi presiden itu banyak kerjaan, jadi urusannya bukan hanya perempuan.” Lalu forum itu menyatukan isu perempuan dengan isu kemiskinan. Saya bilang, kalau bicara soal perempuan kenapa ada kata “tidak enak sebagai laki-laki”? Kemudian, saya menambahkan bahwa setengah penduduk kita itu perempuan. Dimanapun anda berada disitu ada perempuan, ibumu, kakakmu, adikmu, kawanmu. Setiap golongan apapun disitu ada perempuan. Lalu dia menyangkal begini, “Semua golongan ingin kuota, ingin dimasukkan isunya dalam pemerintahan, menurut saya isu perempuan digabungkan saja dalam isu hak asasi manusia, termasuk digabung dengan isu kelompok minoritas dll.” Saya bilang, perempuan itu mayoritas sebagaimana laki-laki, kami bukan minoritas. Saya balik bertanya, apa yang anda ketahui tentang pengarusutamaan gender? Dia tidak bisa jawab. Saya bilang, bila anda tidak mengerti apa itu pengarusutamaan gender, mengapa anda dengan ngototnya bicara tentang hal yang tidak anda mengerti?  

Lihatlah reaksi orang-orang itu, pertama, mereka mengangkat isu pengarusutamaan gender lalu mengundang kami, tapi tahu-tahu yang hadir media, dan diminta untuk hanya bicara seputar peran media. Mereka tidak tahu konsep gender, mereka tidak mengerti bagaimana cara mengerjakan tema itu, lalu kami mau jelaskan, tetapi mereka menolak penjelasan kami. Mereka mengundang kami sebagai ahli gender, tetapi mereka menolak penjelasan kami dengan alasan presiden banyak kerjaan, urusannya bukan hanya perempuan, seolah-olah perempuan itu dilepaskan dari urusan masyarakat sipil, yang akan menjadi urusan pemerintah juga, seakan-akan dia benda asing yang ada di luar obrolan soal pemerintahan dengan tata kelola yang baik, seolah-olah segala bidang kehidupan itu netral gender. Mereka menganggap gender itu adalah isu-isu perempuan, dan sangat sempit seputar perkosaan, pelecehan, kemiskinan. Astaga! Bagaimana bisa arus utama kalau orang-orang ini memperlakukan isu gender dan masyarakat perempuan dalam sebuah alienasi?

Hal terburuk lainnya adalah mereka melakukan penilaian-penilaian terlebih dahulu sebelum penjelasan selesai. Mereka menjadikan segala sesuatu adalah angka. Bukan manusia. Bahkan penjelasan kami dan beberapa teman diberi penilaian misalnya sambil bisik-bisik sesama temannya,“Saya suka pendapat bapak yang itu.” Sialan, memangnya anda juri Indonesian Idol, menunjuk penyanyi yang menjadi kategori terbaik anda? Mereka memposisikan diri seolah-olah juri atas nama pemerintahan baru! Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah relawan. Tapi perlakuan mereka bak suara calon presiden atau pemerintahan baru itu sendiri. Kalau jujur saya mau katakan, saya ini seperti berhadapan dengan pedagang showroom mobil, dan seolah saya ini mau jual mobil ke mereka dan mereka melakukan penawaran dengan sangat rendah, padahal mereka belum tahu mobil yang mau saya jual itu seperti apa. Bedebah betul orang-orang ini, dan sungguh ke depan yang saya pikirkan adalah, betapa kita ini seperti minyak yang diletakkan di atas air dan kami terus menerus tak pernah bisa menyatu dengan mereka.. Kami, perempuan-perempuan ini, kalau bicara tegas dan keras, seolah-olah kami ini sedang meminta beras dan barang-barang sembako lainnya. Saya bilang bukan seperti itu kami ini, kami bicara logic! Soal pemerintahan dan bagaimana mesin pengarusutamaan gender itu penting kita rumuskan dimana dia diletakkan! Sungguh panjangnya perjuangan perempuan, mungkin sampai anak cucu kitapun belum terwujud selama mereka tidak mendengarkan, selama mereka menganggap kita adalah minyak yang mengapung di atas air!

Tambun, 9 September 2014


Minggu, 07 September 2014

Surat Cinta Untuk Tan

Oleh: Mariana Amiruddin

Aku punya janji membuat surat cinta ini untuk seorang teman yang sudah belasan tahun tak aku temui. Seorang sahabat yang sangat singkat. Pertemanan itu terjadi dengan tiba-tiba, saat kami masih sama-sama belajar dan meraba cita-cita. Karena setelah itu dia pergi, untuk selama-lamanya. Seorang yang pertama kali bertemu dan begitu banyak kecocokan (bukan kesamaan). Setiap bertemu kami selalu punya visi, punya privasi, duduk berdua di tempat yang kami suka, munum anggur dan menghembus asap yang menyelimuti wajah kami, orang lain tidak perlu tahu, hanya kami yang tahu. Waktu itu tempat tinggal kami berdekatan, di daerah yang selalu terkena banjir. Hanya waktu itu belum terlalu parah, rumah kami belum sampai tertelan. Setiap kali janjian, kami gantian menjemput atau mengantar. Seperti anak sekolah. Kami gadis-gadis penyendiri yang bertemu dalam sebuah pikiran dan gelombang yang pas, yang tidak populer di kalangan usia kami waktu itu. Kami sama-sama merasa terasing, dan perbincangan kami nyaris tidak dimengerti oleh teman-teman lain, hanya kami yang mengerti perbincangan kami.

Dari puluhan tahun aku hidup, aku baru pertama kali menemukan seorang sahabat di masa itu. AKu jadi mengerti arti persahabatan, sebab aku hampir tidak pernah punya sahabat. Sejak kecil hidupku berpindah-pindah. Setiap kali punya sahabat erat dan aku sedang bahagia-bahagianya, saat itupula aku  harus pindah ke daerah lain dan kami belum punya tradisi surat menyurat karena usia kami masih kecil sekali. Aku tidak punya sahabat, sebaliknya, aku punya banyak musuh. Musuh dalam arti, orang-orang yang tidak bisa mencapai apa yang aku maksud, artinya, bagaimana kedalaman yang abstrak itu terlampaui sehingga membuatku bahagia bila berbincang dengan seseorang. Artinya, musuh itu adalah bagaimana mereka menganggap aku orang aneh. Artinya, musuh itu adalah dalam jarak sekian aku sudah merasa tidak nyaman dan ingin pergi begitu jauh dari mereka.

Tan, adalah sahabatku, karena dia bisa menggali kedalaman liang jiwa dan pikiranku, seperti lorong panjang gelap yang sulit menemukan cahaya. Tan bisa mencapai cahayaku. Kami masih sangat belia waktu itu, masih belajar hidup, masih menganggap orang lain itu membingungkan, masih melihat laki-laki itu melelahkan. Tetapi aku mengakui bahwa Tan lebih dewasa daripada aku, aku adalah anak perempuan yang begitu dilindungi, Tan adalah anak perempuan yang dididik kuat, ia lahir dari sejarah perbincangan dunia, tentang kanan dan kiri, tentang buku dan ideologi, tentang sastra dan tulisan. Ia begitu terbuka. Ia kagum pada ayahnya yang mengenalkannya banyak bacaan dan sejarah kelam bangsanya. Aku, lahir dari keluarga yang sangat melindungi segala kekejian di luar rumah, aku tidak tahu apa-apa, aku bahkan dilarang bertemu laki-laki, aku dipingit, aku tak boleh genit, tak boleh bersolek, aku tumbuh sebagai anak baik-baik yang tidak pernah bergaul. Aku tumbuh besar tetapi tetap seperti kanak-kanak, yang hidup di lingkungan yang sangat nyaman. Untungnya aku tidak dilarang untuk berimajinasi seluas-luasnya. Aku kemudian sering “mengurung diri dalam kamar” menulis dan menggambar berjam-jam. Aku menulis tentang diriku sendiri dan hari-hariku di sekolah, kampus, tempat kerja, atau di terminal. Aku sering menggambar ekspresi-ekspresi tak lazim di majalah-majalah atau potret kecilku sendiri, dan sesekali kupamerkan ke orangtuaku. Tetapi tulisan itu, sama sekali tidak aku pamerkan, tetapi ibu sering mengintipnya diam-diam. Semua tulisanku itu seperti kotak pandora. Sekali dibuka dan mengetahu isinya, barangkali ibuku bisa pingsan bahwa anaknya adalah seorang perempuan berambut ular. AKu adalah medusa yang mungkin akan dianggap pendosa, yang sebetulnya meskipun di dalam kamar berjam-jam, telah banyak pengetahuan yang kumiliki karena tertolong oleh imajinasi yang tinggi.

Tan, adalah representasi dari imajinasiku tentang seseorang yang menjadi pengganti catatan harianku. Tan adalah penyeimbangku kala berbincang dan bertukar pikiran. Tan dan aku bicara apa saja, dan kata-kata yang dikeluarkannya seperti obat bagiku. Atau kata-kata yang aku keluarkan lalu bagaimana kami saling menanggapi dan perbincangan terus melesat bagai kilau cahaya bulan. Kalau ditanya apakah aku memilih seorang kekasih atau sahabat, aku jujur mengatakan bahwa aku lebih baik memiliki seorang sahabat seperti Tan daripada punya kekasih seperti Ben. Aku sama sekali tidak tertarik untuk pacaran di usia yang matang itu, dan aku bahagia punya sahabat satu-satunya yang bisa mengimbangi segala  kesendirianku di dalam kamar. Hal lainnya adalah, aku tidak perlu  khawatir karena hidupku sudah tak berpindah-pindah lagi. Selain rumah kami berdekatan, kami juga punya kendaraan, catatan-catatan tulisan, dan buku-buku kesukaan.

Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Dalam ujung diskusi yang panjang itu, Tan akhirnya membuka rahasia bahwa ia sebetulnya tidak betah tinggal di negara ini, ia punya daftar keburukan bangsa ini yang tak mungkin lagi diubah, dan tidak adanya masa depan baginya sehingga itu membuatnya bersikeras untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Diskusi politik, sejarah, waktu itu memenuhi perbincangan kami, berbagai alasan bahwa Tan tidak mau lagi tinggal di sini. Tentu saja aku sedih sekali. AKu lagi-lagi sedih sekali. Mengapa Tuhan tidak bisa memberiku usia persahabatan yang panjang? Mengapa Tuhan terus membiarkan aku sendiri?

Sampai di bibir waktu menjelang kepergiannya, kami berdua berkeliling saat malam takbiran dimana keadaan jalan begitu macetnya, begitu bisingnya. Kami banyak berhenti di tengah-tengah keramaian itu. Hujan deras tiba-tiba datang. Dalam kemacetan, semua kendaraan berhenti. Lalu apa yang kami lakukan, kami memutar lagu tentang perpisahan, tentang jarak yang begitu jauh, jarak yang akan dihabiskan oleh musim. Dan, lepas kepergiannya, benar bahwa pergantian musim membuatku lelah menantinya pulang. Ia bertemu belahan jiwanya di sana, seorang laki-laki tampan pintar yang setia dan menyukai hewan, seperti pangeran yang dengan cepat ditemukannya. Ah, Tan. Kupikir itu hanya mitos di film Cinderella, tetapi nyatanya ada. Tapi kupikir tentu saja itu setimpal untukmu Tan, karena sebelumnya penderitaanmu begitu panjang dan kau begitu sabar. Dan perbincangan kita waktu itu jadi banyak hal soal relasi dengan orang yang kita kasihi. Aku memberinya semangat supaya ia pergi dan tak mengingat orang itu lagi, mencari kehidupan baru, melanjutkan sekolah, ah, irinya aku sekarang melihat bagaimana ia bahagianya sekarang. Irinya aku bahwa ternyata aku tak mampu melakukan itu, melompat ke dunia yang sama sekali lain. AKu masih dihantui oleh jejak-jejakku terdahulu yang begitu terlindungi namun disisi lain penuh petualangan. AKu ingin seperti kamu belasan tahun yang lalu, Tan.  AKu ingin pergi sejauh-jauhnya dan hanya bintang yang bisa kita lihat.

Dulu kau selalu mengagumiku karena kuat, selalu berjuang, selalu kritis, selalu gelisah, selalu marah, dan melawan dalam keadaan apapun. Tan kagum padaku katanya keberanianku tak pernah habis. Benar Tan, itu benar, keberanianku ada tetapi keberanian apa bila hidupmu kosong belaka, hidupmu hanya menjumpai hal-hal yang sama. Atau hidupmu terjebak dalam perangkap-perangkap budaya dan manusia yang serupa. Keberanian apa yang bisa aku hadirkan saat hidup ini mulai terasa bosan?

Aku masih menyimpan suratmu yang dulu itu Tan, pertama kali kau menginjak negeri orang. Waktu itu aku sedang membuat Novel sejarah Tuan Tan-Malaka. Kamu begitu ingin tahu, kamu selalu menghubungiku. Sudah lama sekali. Semoga kamu masih ingat. Tapi kemudian semuanya hilang saat negeri ini banyak bencana alam, bencana politik, bencana manusia. Aku terhempas bersama catatan-catatan novelku, aku kehabisan tenaga untuk melanjutkannya. Masih ingatkah kamu Tan? Aku menyuguhkan kembali di bawah ini suratmu dulu itu.

Dear May,

Menuliskan sesuatu untukmu tidak pernah sulit. Sama halnya seperti kesal bersamamu. Bukankah itu yang selalu terjadi? Kita berbincang ketika kesal, ketika gelisah, ketika marah? Jarang kita bersama ketika kita terbahak-bahak. Tawa yang akrab adalah seringai sinis.  

Aku merindukan kehadiran dan kemarahanmu. Hembusan asap rokok dari mulutmu yang tidak pernah habis. Gambaran yang terlalu lengket di kepalaku. Mungkin kau sudah berubah. Semakin cantik atau sedikit tenang. Tapi itulah kau di mataku: perokok yang omelannya tak pernah pudar dari kupingku. Mungkin diam-diam aku mengharapkan kita masih saja sama. Sama-sama pemarah yang suka menghisap darah. Apalah artinya teman tanpa ingatan akan yang dulu? 

Kau kecewa pada negeri. Berlindung pada harapan akan kebangkitan seorang Tuan yang kau kagumi. Tuan yang tersingkirkan. Tuan yang tak bisa kau jelaskan dengan deskripsi. Tuan yang hanya pantas kau uraikan dalam narasi, katamu. Aku tak kenal Tuan ini. Tapi aku mengenalmu. Setidaknya aku berpikir begitu. Seorang Nona bermata sipit yang akan bernarasi dalam sentuhan-sentuhan gairah yang diselimuti kegelisahan. 

Kalau kau kecewa pada negeri, aku kecewa pada nurani. Kemanakah nurani membawa kita pergi? Ke got-got memori, mungkin. Atau ke panasnya matahari. Yang membakar semua sisa-sisa optimisme akan hilangnya kedangkalan – kedangkalan yang akut, mengutipmu. Atau kesenjangan yang berakar, menurutku. Kadang kekecewaan itu berujung pada jalan buntu. Pada rasa lelah yang menyeluruh. Letih yang terus-menerus mengunyah badanku sampai habis. 

Bagaimanakah seharusnya manusia berpikir, Nona? Bagaimana caranya menyingkirkan mitos-mitos yang tertanam di benak? Bukan hanya mitos mengenai perempuan, laki-laki, dan penciptaan manusia. Bukan hanya mitos mengenai hakikat baik dan buruk. Bukan hanya mitos mengenai kesucian akhirat – tapi juga mitos mengenai keagungan dunia: mengenai emas, permata, dan kejayaan para kaisar. Mengenai tangga-tangga yang dapat dipanjat dengan usaha keras. Mengenai lapangan bermahkotakan kesempatan yang terbuka lebar bagi mata-mata jeli. Mengenai pikiran positif dan rasa syukur yang membawa manusia pada kebahagiaan. 

Kadang aku sendiri tak lagi bisa berpikir. Lupa bagaimana caranya berpikir. Aku hanya bisa melihat dan menduga-duga. Mendengar dan mendengar berulang kali. Mengutuk tanpa tujuan.  Maka biarkan aku mendengarmu. Membayangkan kau melewati bangkai-bangkai hewan dan melaju menuju sebuah lembah sunyi. Merangkul marah dan gelisahmu. 

Biarkan aku mengamati gerak-gerikmu. Menduga-duga apa yang ada di benakmu. Menikmati cerita-ceritamu dan mengutuk bersamamu. 

Kutunggu. 

Salam hangat, Tan  


Lihatlah Tan, begitu bercahayanya kata-katamu, amarahku yang kau tangkap, membuatnya padam. Membuatku tenang. Aku rindu setengah mati padamu. Bumi semakin tua. Kita pun begitu. Apakah masih ada waktu bagiku untuk lebih dahulu pergi sejauh-jauhnya? Apakah masih cukup bagiku untuk melanjutkan hidup dan cita-cita? Aku tidak tahu Tan, aku hanya tahu masa lalu. Aku tidak tahu kemana lagi setelah ini, kecuali mengingat hari-hariku bersamamu, dalam dunia yang sepi, dan akan terus membekas di relung jiwa, tulang dan darahku.

Salam hangat,
Di bawah Purnama, 8 September 2014


Selasa, 02 September 2014

Gua

Oleh: Mariana Amiruddin

Dadaku seperti berlubang. Dingin telah melubangi dadaku. Dingin membiarkan tungkaiku menggigil. Ini gua paling ideal. Gua vertikal ketika kau harus menuruni batu dan jenjang curam sekitar duapuluh meter untuk menuju dasar, dan kau hanya melihat gelap dan lembab. Tetapi di dasar itu kau akan menyaksikan keindahan bukan kepalang, dan itu bukan dengan matamu, melainkan bulu kuduk dan gendang telingamu. Bulu-bulu kudukmu akan menjadi ribuan mata dan dan telingamu berdendang saat kau temukan air menetes nyaring jatuh satu persatu dari langit-langit gua. Kau tidak perlu menggunakan matamu. Kau harus berlatih menjadi buta. Tapi bukan buta rasa. Kau akan mencium bau kotoran dan tubuh kelelawar yang berdansa bahagia. Sentuhlah dengan jari-jarimu ke dinding gua, kau akan merasakan lekuk dinding-dinding yang penuh hasrat dan cinta. Kau akan bertemu ikan-ikan kecil dalam genangan jernih, mereka akan mencium kaki-kakimu.
Aku, manusia dengan dada yang berlubang, terkikis dingin siang dan malam dan angin keji yang menyusup dari lubang-lubang misteri gua yang kutempati. Aku memang hidup di dalam gua, kedap suara, kau akan bicara dengan berbisik, sebab suaramu akan terpantul tak ada habisnya dan akan menimbulkan suasana yang berisik. Jangan kau bayangkan suara jangkrik dan katak yang nyaring. Bicaralah pelan sekali, bila kau kencangkan sedikit, kau akan membubarkan kelelawar yang lelap dan merobohkan dinding-dinding gua yang rapuh. Pagi hari ketika matahari mencuri pandang cahayanya ke dalam mulut gua, saat itu hanya ada burung-burung yang boleh berkicau dan terbang menyambutnya. Kelelawar akan segera terlelap bersamaku. Aku akan tergolek lemah di bawah tetesan air, yang ikut melubangi dadaku.

Malam ini adalah bulan keempat sejak aku meninggalkan keramaian. Aku menghitung bulan melalui jadwal menstruasiku. Semua petunjuk waktu sudah kubuang. Aku memutuskan untuk mundur dari suara tawa dan tangis orang-orang dan memutuskan untuk hidup di dalam gua. Gua-gua ingatan, gua-gua masa lampau yang kusimpan sampai kenyang. Di gua ini aku menyimpan memori kebahagiaan dan kesedihan. Yang kebahagiaan menjadi yang paling buruk, dan yang buruk menjadi yang terlupakan. Yang kebahagiaan menjadi buruk karena aku tahu itu tak akan terulang lagi, tidak ada yang akan terulang kecuali kesalahan. Tidak ada yang terulang kecuali kesengajaan. Kebahagiaan bukan kesengajaan, ia ditemukan, dirasakan. Kini aku menemukan ketiadaan. Tiada bahagia, tiadapula sedih. Aku dalam posisi nol. Posisi yang membuat tubuhku melayang menolak gravitasi. Dan dadaku berlubang, dengan kulit yang bersisik. Kulitku di bagian lain mulai licin seperti ikan dan katak. Suaraku bahkan mulai terdengar seperti denging lumba-lumba di dalam air. Sudah lama aku tak melihat cahaya, atau gigi-gigi bersih dan rapi saat pemuda-pemuda tampan melempar senyumnya kepadaku, atau pemudi-pemudi cantik yang menyembunyikan perasaannya tentang keinginan yang tertunda.

Dadaku berlubang. Sebelumnya aku merasakan panas, terutama saat hari kira-kira lewat jam dua malam. Aku memeriksa isi dadaku, tak ada lagi jantung dan hati di sana. Aku tak punya jantung-hati. Aku hanya punya paru-paru. Aku kehilangan denyut-denyut itu sejak tinggal di dalam gua. Aku merasakan ada yang tumbuh di dadaku yang berlubang, barangkali itu seperti insang yang bergerigi, yang dilekat oleh darah dan daging, menempel pada garis-garis tulangku. Aku mulai lupa bahasa tubuh manusia, bagaimana saat mereka senang atau sedih, saat mereka terkejut atau marah, saat jatuh cinta atau patah hati, atau saat mereka terpingkal-pingkal atau menjerit-jerit sakit. Aku benar-benar belum ingin ke sana untuk menemui mereka. Aku pernah mencobanya berkali-kali tapi aku tidak kuat. Aku sering menggelepar seperti ikan kehabisan air saat bertemu keramaian manusia dengan segala rutinitasnya. Aku seperti meleleh di panas matahari. Aku tidak mengerti perbincangan mereka, aku tak bisa menghayatinya. Bahkan untuk berkata bahwa aku sakit dan lapar saja aku tidak bisa. Mereka punya telinga tetapi sepertinya tidak berfungsi. Mereka sulit sekali untuk mendengarkan. Bahkan untuk mendengarkan sedikit saja nada halus dan lembut yang melintas. Mereka hanya mendengarkan diri mereka sendiri. Sementara, gendang telingaku terlalu sensitif, aku akan terpental seribu meter bila mendengar mereka bicara keras-keras.

Apa yang kulakukan setiap hari saat di gua? Aku tidak melakukan apa-apa kecuali aku punya pena dan kertas-kertas yang kupungut dari sisa-sisa kebudayaan mereka. Aku akan mengisi kertas-kertas itu dengan catatan-catatanku. Kadang aku diam-diam mencuri tahu sedang apa mereka di sana, aku berjingkat-jingkat memperhatikan kehidupan mereka. Dan aku akan menulis saat pulang ke gua. Di situlah aku bisa begitu cepat merakit alur-alur hidup mereka, tabarakan-tabarakan kepentingan dan keinginan yang mereka lakukan, tipu muslihat dan gunjingan yang membangkitkan gairah hidup mereka, permusuhan sekaligus persahabatan, kepura-puraan, persembunyian antara hati dan ekspresi wajah mereka. Aku mempelajarinya hingga detil. Aku mengamati teks-teks gerakan mereka, air wajah sampai gerakan otot mereka yang membuat aku tahu persis kapan mereka bohong atau jujur, kapan mereka gombal atau tidak, kapan mereka luka atau kecewa, kapan mereka manipulatif atau tidak, kapan mereka menusuk dari belakang atau dari depan, kapan mereka akan tiba-tiba menemukanku yang sedang mengintip. Aku akan lari terbirit-birit dan nafasku sesak seperti ikan yang kehilangan air. Aku akan lari sejauh mungkin kira-kira sampai nafasku yang paling akhir sudah tiba di mulut gua dan aku akan terjun ke dalam genangan di dasar gua.

Tapi gua apa yang bisa membuatmu seperti ikan dan katak? Gua tempatmu akan banyak berbincang dengan dirimu sendiri, akan banyak berkata dalam hati dan pikiranmu sendiri, akan cepat menghayati kehidupan itu sendiri. Tapi tahukah bahwa akhirnya orang-orang yang aku amati itu mengetahui kediamanku, mereka memohon pertolonganku, mereka menyembah-nyembah di mulut gua, menyalakan api dan memanggang ayam di atasnya. Mereka menunggu aku keluar, aku dianggapnya orang sakti. Kalau dulu orang mengatakannya sundal bolong, perempuan yang punggungnya bolong, aku adalah merk baru dalam kepala mereka tentang sosok yang sakti. Aku adalah si dada bolong itu, dengan kulit bersisik dan licin. Mataku mulai keluar membulat seperti katak atau ikan, berlendir dan menjijikan. Untungnya bagi mereka aku adalah orang sakti. Kata mereka, setiap doa-doa yang mereka ucapkan di mulut gua, mereka akan mendapatkan mimpi-mimpi yang baik. Mereka akan mendapat petunjuk-petunjuk yang menjadi kenyataan. Aku tidak mengerti apakah benar aku sesakti itu. Aku sendiri sudah lama tidak mengenal mimpi karena setiap malam aku bangun dan pagi aku tidur, hanya mendengar suara tetes air.

Suatu hari aku kehilangan kertas-kertas, dan aku tak bisa memilikinya lagi. Aku tak bisa mengambilnya lagi dari tempat-tempat mereka membuang kertas. Penaku bahkan sudah kehabisan tinta. Aku mencari akal dan kemudian kuasah batu yang kudapatkan di dalam gua dan membuatnya menjadi tajam. Aku menyayat tubuhku dan keluar darah kental mengalir deras,  dan sekejap berhenti. Aku menampungnya di sebuah wadah, dan kujadikan tinta. Darah-darah ini kujadikan tinta, dengan jariku yang licin seperti katak aku menuliskan banyak hal di dinding gua. Aku menuliskan banyak kata di kegelapan yang akupun tak bisa melihatnya, aku hanya menorehkan huruf-huruf yang aku maksud. Aku mau tanda-tanda itu menjadi catatan hidupku. Sampai akhirnya aku kehabisan darahku sendiri yang berhari-hari kujadikan tinta menulisku di dinding gua. Dan dadaku yang berlubang sudah tak mampu lagi meneruskan nafasku, aku mulai merasakan lemas yang luar biasa, pandanganku gelap, lebih gelap dari keadaan dasar gua, aku dengar sayup-sayup dansa keleleawar dan percikan ikan yang melompat, sampai akhirnya suara mereka tidak ada lagi. Dan segalanya menjadi benar-benar gelap, benar-benar sunyi. Aku tidak tahu lagi, bahkan aku tidak merasakan apa-apa lagi, kecuali satu kata yang pernah kutuliskan di dinding gua: “semua sudah berakhir”.


Tambun, 3 September 2014



  




Minggu, 31 Agustus 2014

Burung Tanpa Sayap


Oleh: Mariana Amiruddin


Kuletakkan kakiku sore itu di pinggir danau. Kutebar doa dalam tunduk, aku menerjunkan diri ke dasar danau. Gelap gulita dan lembut daun-daun menyentuh jariku. Mata kupejam, doa-doa masih bertutur. Mengambil nafas panjang di udara, tampak wajah seorang lelaki duduk di pinggir danau. Siapakah dia, aku tidak tahu. Aku kembali menyelam, aku tak peduli. Berjam-jam dalam air seperti hidup telah kembali.

Lelaki itu memandangku lekat sekali. Ia duduk dipinggir danau. Aku tak peduli. Aku menyelam kembali. Tetapi siapa yang mengira ia adalah lelaki yang akan hidup bersamaku sebentar lagi. Awalnya ia berkata, ingin kubiarkan gadis ini terus berenang tanpa aku menyentuhnya, dan biarkan aku memandangnya dari jauh. Tapi bukan begitu kenyataannya, sebab beberapa bulan yang lalu kami sudah bertemu tanpa tahu siapa sebenarnya diantara kita. Dan bulan kembali mempertemukan kita di danau itu, apakah benar oleh suatu keinginan, tentang hidup yang sunyi, diantara keramaian orang yang cinta harta dan raga. Kami tak saling kenal, dan tak peduli siapa sebetulnya diantara kami. Kami bukan siapa-siapa kecuali berjam-jam dalam genangan. Kami hanya manusia yang lahir di bumi dan hidup dalam garis takdir yang tak sama lalu berjumpa seolah baru saja bangkit dari kematian.

Sejak itu kubawa laki-laki itu hidup bersamaku. Ia kagum pada kebebasanku. Ia melamarku dengan lembut sekali. Hanya mata dan kulit kami yang mengungkapkan itu, dan nafas hangat berkeringat, seperti api yang berpijar tak pernah mau padam. Sejak itu dunia hanya milik kami, kami tak perlu makan dan minum, tak istirahat, tak pernah pejam. Kami berlari dengan gembira menuju surga, tempat siapapun tidak perlu bertarung dan segalanya hanya diisi dengan cinta. Tetapi belum sampai dua tahun kami terbangun bahwa kami masih hidup di dunia, tempat orang bekerja dan makan, sekolah dan meraih cita-cita, cinta menjadi bentuk yang paling kelabu dalam hidup kami, kemiskinan menjadi layar besar yang kami tonton sepanjang malam, dan kami harus berpisah karenanya. Lelaki itu terserang kemiskinan akut dan ia harus pergi begitu saja, kembali ke dunia, menjadi seorang buruh dengan gaji beberapa perak saja, dangan ibu yang lumpuh, kakak yang gila, dan anak-anak yang kelaparan. Siapakah aku kini, aku tidak tahu karena aku hidup dimana tak seorangpun menggantungkan hidupnya padaku. Aku bukan tulang punggung sepertinya. Aku hanya tulang-tulang berserakan saat ditinggalkannya.

Vincent, namanya. Maria namaku. Menurutnya, nama Vincent adalah nama orang-orang yang sering terkena sial. Mancung sekali hidungnya. Pipih wajahnya, kokoh rahangnya. Aku jadi ingat perbincangan awal kita tentang mimpi dan mitos. Pada sebuah zaman dimana belum ada teknologi yang memanjakan manusia, dimana peradaban masih ditulis dengan tangan dan kendaraan adalah kuda-kuda yang gagah, penjajahan dan perang selalu terjadi demi merebut atau mempertahankan tanah subur dan hasil-hasil bumi.

Kau bilang bahwa pada masa itu namaku adalah Mulan, seorang putri bangsa Mongol, yang gemar berkuda. Aku adalah pemimpin perang yang berkuda memimpin pasukan, dengan senjata pedang, di tangan kananku, dan busur serta panah dipunggungku. Aku adalah Putri Mongol, putri seorang Raja yang berkharisma yang disegani dan tempat tumpuan rakyatnya. Aku pemimpin perang dengan rambut panjang tersapu angin, bermata tajam dan tegar tak tergoyahkan. Dan kau, siapakah kau? Kau adalah putra raja dari Eropa yang menjajah bangsaku, Raja Albert, tetapi kemudian kerajaanmu jatuh miskin karena kalah perang. Raja Albert yang menikah dengan Ratu Tin Yi, perempuan yang pernah lahir di tanah bangsaku. Harta bendamu kami rebut. Kau adalah musuhku, pangeran yang berjalan tanpa kuda dan tanpa pedang. Kau adalah lelaki berdarah biru yang hidup dalam keadaan compang-camping mengais kotoran dan sampah untuk makananmu, mencari gua-gua kosong untuk tempat tinggalmu. Kau adalah lelaki berdarah biru yang miskin dengan nasib yang sangat tak beruntung, dengan kaki bekas luka pertempuran dan jalanmu setengah pincang seperti seorang yang kehilangan daya.

Saat itu kau tahu bahwa aku adalah Putri dari Bangsa Mongolia yang kali ini berlari kencang bersama kudanya dengan berurai air mata. Zaman menetapkan bahwa beberapa orang mengkhianati sang putri dan menyebar berita-berita bohong tentangnya. Raja sudah mati, dan Sang Putri nyaris tak punya kekuatan lagi, ia berlari dan berlari bersama kudanya, dalam perjalanan itu ia membuang pedangnya. Ia memutuskan untuk mundur dan lari dari segalanya. Tangisannya hampir sama dengan amarahnya. Ia tak mau melawan kerajaan dan bangsanya sendiri. Dalam kecepatan diambang batas kematian itu, sang kuda tersandung tali jerat yang dipasang musuh, dan dengan segera sang Putri jatuh berguling bermeter-meter, sampai berhenti di bibir jurang. Ia menemukan kakinya patah dan hampir tak bisa bangun kembali. Ia jalan dengan menyeret tubuhnya menghindar jurang yang dalam sedalam luka di lengan dan kakinya.

Pada saat itulah sang pangeran miskin dan compang-camping mengamati kejatuhan Sang Putri, ia lekas berlari menolong dan cemas yang terlihat di wajahnya. Sang pangeran compang-camping membantu sang putri mengangkat tubuhnya hingga berdiri. Mereka berdua berjalan menjauhi jurang, mendaki bukit batu yang curam, mencari gua-gua aman dengan kaki terseret dan terpincang-pincang. Sejak itulah dalam jatuh dan luka mereka bercinta, berbagi, bersahabat, berdekap. Mereka adalah anak-anak dari kerajaan dan negeri yang saling bertempur. Dan setiap malam mereka menatap bintang yang berserak sambil melempar harapan, menyalakan api unggun mengatasi dingin, tetapi keadaan menjadi lain ketika Sang Putri ditemukan oleh pengawal-pengawal kerajaan yang berpihak padanya, diminta kembali untuk memimpin. Sang Putri menggeleng sambil mengenggengam tangan pangeran compang-camping dan berkata bahwa ia ingin hidup seperti jelata, ia ingin seperti manusia biasa. Sang Putri kehilangan kepercayaan, pengkhianatan adalah luka dalam yang sulit disembuhkan, apalagi oleh bangsanya sendiri. Ia bahkan sudah membuang pedangnya. Tetapi Sang pangeran tidak setuju dengan sikapnya. Ia menoleh padanya, melepaskan genggaman tangan Sang Putri sambil berkata “Aku masih menyimpan pedang itu, pedang yang kau buang. Asahlah kembali pedangmu, kau adalah pemimpin rakyatmu yang sadar bahwa pengkhianat itulah penyebab perpecahan kerajaanmu.” Tapi sang putri menggeleng dengan kencang dan berkata bahwa ia tidak lagi mau hidup sebagai putri, ia mau hidup bersama Vincent, pangeran jelata. Pangeran jelata compang-camping itu menggeleng, kau tak pernah tahu bagaimana menjadi orang miskin dan penderitaan bukan seperti caramu bertempur dalam perang, kau akan menjadi sangat tidak berdaya. Ia berkata lagi bahwa kebangsawanan tidak membuatnya hidup lebih baik. Ia sudah tidak punya keinginan, ia ingin putri pergi kembali dengan kepala tegak memimpin perjuangan.

Pelan-pelan Vincent, pangeran jelata itu melangkah mundur, sambil memberikan pedang itu kepada Sang Putri. Ia pergi hanya dengan menoleh sekali. Ia benar-benar pergi dan Sang Putri kembali menahan tangis. Luka dihatinya tak seluka pengkhianatan yang terjadi di dalam kerajaannya. Ini luka ketiga yang lebih dalam lagi. Ia menjerit panjang, yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Jeritannya terdengar sampai membelah gua. Ia terduduk dan menghempaskan dirinya ke tanah. Pengawal-pengawal masih berdiri di dekatnya dan menepuk lembut punggung putri itu sambil berkata, “Tuan Putri, asah pedangmu, kau harus kembali memimpin perjuangan, demi rakyatmu, demi ayahmu. Kau harus kembali.” Sang putri berjalan lesu dan kakinya masih pincang, ia mengasah pedangnya tanpa semangat, ia mengasahnya pelan-pelan. Ia mengasahnya, dan kemudian menghunuskan pedang itu ke dadanya.

Cerita panjang itu memang seperti keadaan kami. Vincent dan Maria. Dua nama suci yang terjebak pada cinta kelabu. Vincent pergi dalam tangisan dan pelukan erat yang panjang. Perpisahan yang tidak pernah kami inginkan.

Kau tahu, Vincent, aku ingin kembali ke danau itu tetapi kau tahu semua sudah rata dengan tanah, dibangun oleh super-super gedung tempat orang mendulang uang. Vincent sudah menghilang dibalik kabut, aku tak melihatnya lagi. Aku kehilangan tempat sunyiku dan lelaki itu tak mengembalikanku hidup dalam keadaan semula, berenang dalam gelap. Ia menyisakan perangkap-perangkap hidup dimana rindu menjalin tali kematianku dalam sebuah penantian yang takkan pernah mengembalikanmu padaku. Lelaki itu berkata, biarkan gadisku terbang bebas seperti semula, tanpa siapapun disampingnya seperti semula, gadis pintar, berani, yang penuh imaji, yang bisa menentukan kemana arah kebebasannya, mencapai keinginan-keinginannya. Tetapi lelaki itu lupa, burung itu kini tak bersayap. Sebab sayap-sayapku telah kau gantikan dengan cinta, kau ambil keduanya sehingga tak ada lagi di lenganku. Kau lupa bahwa sayap-sayap itu telah kuberikan seluruhnya untukmu saat kita terbang bersama. Kau lupa bahwa tanpamu adalah aku, seekor burung tanpa sayap yang tak akan pernah bisa terbang kemanapun kusuka.

Maria tidak pernah menyukai lelaki manapun kecuali Vincent, lelaki di danau itu. Hanya dengan duduknya yang diam aku terpanggil. Aku keluar dari danau dan menghampirimu seolah kau menarik benang dari hatiku. Aku tak pernah menyukai apapun kecuali diriku sendiri dan sayap yang kupunya, tetapi lelaki yang duduk di pinggir danau itu mematahkan sayapku dan pergi selamanya. Ia takkan pernah kembali padaku karena dunia tidak seindah danau gelap itu.  

Kembalikan sayap-sayapku, Vincent! Kau boleh bilang kemiskinan menjadi hantu yang mengikutimu setiap malam tetapi bagaimana dengan aku, tanpa sayap itu sama saja kau membunuhku. Samar-samar suara Vincent turun dari langit, Maria, kau tidak pernah tahu keadaanku. Aku punya ibu yang lumpuh, saudara yang gila, dengan anak-anak yang kelaparan, kau jauh lebih merdeka dibandingkan keadaanku. Aku harus mengurus mereka semua, sementara kau hanya mengurus dirimu sendiri.

Vincent, kau tidak adil, seharusnya kau tak duduk di danau itu. Penantian panjang ini membuat hidupku sia-sia, penantian tak berakhir, dan tak tergantikan. Aku hidup dalam perangkap, dan aku tak bisa terbang tanpa sayap. Vincent, mengapa kau rebut kembali cinta yang sudah kita tanamkan, dan kini aku tak tahu kepada siapa aku harus memberikan cinta ini. Seharusnya kau kembalikan cinta ini untuk diriku sendiri saja. Bila hidup yang kelabu adalah sang pemilik cinta, sungguh aku menyesal mengapa aku mencicipinya dengan hasrat dan kebahagiaan. Aku menyesal bahwa cinta adalah tipuan, muslihat, bius yang berbahaya dan aku tak siap untuk kehilangan.

Vincent, sayapku sudah tak ada lagi, mengapa tak kau bunuh saja burung tanpa sayap ini sehingga ia tak perlu menjalani hidup lagi. Mengapa tak kau selesaikan saja gadismu ini dengan kematian yang sesungguhnya. Seharusnya kau biarkan saja tubuhku menyelam di danau itu dan tak melihatmu duduk bersandar pohon memandangku. Seharusnya kau biarkan aku mencintai sunyi dan diriku sendiri, seharusnya kau tidak ada dalam hidupku. Seharusnya kau peluk saja kenyataanmu itu dan jangan pernah menyentuhku. Aku luka, luka yang tak pernah kurasakan sepanjang hidup. Aku tak pernah mencintai siapapun sebelumnya, hidupku hanya bertempur dan berlaga. Aku tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Aku hidup senang ketika tidak mengenal cinta, aku hidup bahagia saat banyak lelaki mendekatiku tapi aku tak merasakan apa-apa kecuali permainan demi permainan membunuh kesunyian. Aku tak pernah kehilangan mereka. Aku menertawakan mereka. Semua lelaki tampan dan gagah datang satu persatu meminta cintaku tetapi aku tak pernah bisa memberikannya untuk mereka. Aku memegang teguh sayap-sayapku dan tak seorangpun bisa mengambilnya. Saat mereka pergi atau aku yang pergi, tak ada luka sama sekali, mereka hanya bayangan-bayangan kosong.

Tapi lelaki di danau itu, kau satu-satunya yang bisa membuatku hidup sekaligus mati dalam keadaan sesungguhnya. Kau adalah orang paling kejam yang pernah aku temukan sekaligus orang yang paling aku cintai. Kau adalah iblis, yang menukarkan cinta dengan kemiskinan dan mematahkan sayap-sayap kemerdekaanku. Aku membencinya sekaligus merindukannya. Aku tersiksa oleh kombinasi itu.

Tambun, 31 Agustus 2014