Rabu, 12 Februari 2014

KELAHIRAN (Cuplikan Sebuah Teater Monolog)



NARASI

Kenyataan bahwa setiap kelahiran tidak selalu hadir sebagai kebahagiaan. Tapi apakah kebahagiaan itu? Siapakah yang punya otoritas mengartikan kebahagiaan? Kebahagiaan atas kelahiran adalah mitos. Mitos dalam makna yang tunggal. Ia berakar dalam norma-norma masyarakat. Bagi yang tidak diinginkan, KELAHIRAN diterjemahkan menjadi sangat menyakitkan. Semua orang menuntut kelahiran yang sempurna, yang lengkap dan kemudian dinamakan NORMAL. Yang harmonis bernama keluarga dan segala fasilitasnya. Kelahiran adalah wilayah yang harus aman. Rumah yang indah, bapak ibu yang lengkap, sehidup-semati, dan kakak beradik yang bermain-main di halaman.

Bukankah setiap kita bisa menerjemahkan kebahagiaan dengan cara lain? Bolehkah kebahagiaan bukan dalam satu pengertian melainkan dalam banyak pengertian?
Kelahiranku bagai telur yang terbelah menjadi dua, pecah terbelah-belah jatuh ke bumi, antah berantah di sebuah arena, arena yang mereka namai kehidupan. Di luar mitos kebahagiaan itu, norma-norma itu, ada kenyataan di depan mata, dalam gelombang hidup kita, bahwa seseorang lahir ada yang DIINGINKAN dan ada yang TIDAK DIINGINKAN. AKU barangkali adalah yang tidak diinginkan. Bukan karena kelahiran itu sendiri, melainkan oleh apa yang disebut kesempurnaan.

Ketika makna kematian dan kehidupan sudah terlalu banyak disuarakan dalam teks-teks suci dan wacana soal kebajikan, kebahagiaan, kesedihan, bahkan soal dosa, pahala dan petaka, manusia kehilangan pijak bagaimana  kelahiran itu hadir senyatanya, seragamnya, seberbedanya, seuniknya. Bagaimana kelahiran adalah awal terbentuknya gudang jiwa kita yang mengajukan pertanyaan dasar: bila aku dilahirkan, apakah yang disebut kehidupan dan kematian? KELAHIRAN Adalah pertanyaan dasar manusia yang tak pernah menjadi bahan perbincangan yang sejujur-jujurnya.

***
Narasi ini adalah kegelisahan dan pergulatan hidup seorang manusia sepanjang hidupnya, ketika kelahiran tidak dapat ia maknai bagaimana sesungguhnya, ketika ayah dan ibu terperangkap dalam konfrontasi politik militer antar rezim yang hanya menciptakan kekejaman, dan manusia ini lahir di tengah-tengah peristiwa itu. MANUSIA ini bukanlah sebagaimana manusia umumnya, bukan manusia yang mereka anggap sempurna. MANUSIA ini di luar mitos-mitos kebahagiaan yang membohongi kelahiran sesungguhnya.

ILUSTRASI

Sebutir telur besar  tenggelam sendirian dalam gelombang kain besar yang lentur hampir memenuhi panggung. Seorang manusia masuk ke panggung dengan rasa sunyi, menari dalam keheningan, dengan sangat lamban, nyaris tak terdengar, dalam musik samar-samar, dan beberapa patung terpancang di bibir panggung, menyaksikan sang penari mulai lirih melantun. Telur pelan-pelan bergerak menembus kain, sampai akhirnya pecah muncul berantakan menembus kain. Sang telur terbelah menganga, seolah menunjukkan eksistensinya, kehadirannya. Telur besar itu menantang, menyaksikan dirinya dan penonton. Tampak seorang manusia di dalam pecahan telur. Tubuhnya meringkuk  menggigil dan matanya nanar sambil menghirup udara. Ia tak pernah tahu udara. Ia baru saja tiba di dunia. Dalam gigilnya ia mulai merasakan udara, cahaya, benda-benda. Sang penari meninggalkan panggung, masih dalam sunyinya. Dan sang manusia telur, mulai memperhatikan patung-patung.

Ia keluar dalam satu raga, satu jasad, tetapi dalam dua kepribadian yang bertentangan, dalam jiwa yang tak sama, dalam karakter yang tak sama. Ia lahir sendirian dalam jiwa yang berganda-ganda. Ia gambaran sesuatu yang diinginkan sekaligus yang tidak diinginkan. Ia adalah benturan-benturan. Ia lahir dari konfrontasi politik. Ia lahir persis saat kekejaman itu datang. Ia adalah anak dari sejarah politik sebuah bangsa. Ia muram dan tenggelam dalam kain. Dan tiba-tiba melompat melanturkan kata-kata. Ruangnya hanya terbatas pada bahasa.

MONOLOG
PEMAIN UTAMA: TEDDY

Mengapa kelahiran itu ada? Mengapa telur ini terbelah? Bagaimana sebuah kelahiran itu terjadi?
Ini bukan soal kedokteran!

Bukankah setiap kelahiran keluar dari rahim-rahim milik Ibu? Mengapa kejadian itu ada?
Lahir seorang autis, lahir seorang tanpa lengan, lahir seorang tanpa melihat, lahir seorang tanpa mendengar, lahir seorang yang bisu, LAHIR SEORANG TANPA ORANGTUA, TANPA KELUARGA.
Kelahiran yang murni. Seperti apakah?

Sebuah kelahiran, diawali manisnya kehidupan, berakhir dengan pembuahan, dan yang lahir akan melihat kenyataan, bahwa satu tambah satu bukanlah dua. Kadang, satu setengah, kadang lebih!
Soal kelahiran ini, tentang “YANG LAHIR ITU SENDIRI”, apakah sesempurna itu? Apakah itu SEMPURNA? Adalah KESADARAN. Ya, kesadaran.

AKU TIDAK SUKA KESEMPURNAAN! BagiKU, seharusnya, apapun yang terjadi, TERJADILAH!!
Adakah kesadaran bahwa “kita tidak memiliki apa-apa?” Saat kita seonggok janin, kita tak punya apa-apa, bahkan otak, jiwa dan pikiran kita belum tumbuh.
Siapa yang merasa bahwa kita itu DILAHIRKAN? Siapa yang mau tahu? Dan akan menjadi apa? Kita juga tidak ingin tahu!

Atau seberapa jauh kita memahami keberbedaan dan dalam situasi yang berbeda-beda? Adakah pintu kelahiran itu menuntut menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu?

Cinta kadang tidak melahirkan sesuatu, tetapi kelahiran adalah –KONON-- bentukan harapan. Gerbang sudah disediakan. Arrahman Nirrahim. Lahir bukan hanya jasad, melainkan kesombongan, keserakahan kealpaan. Kelahiran juga adalah sifat, dan di dalamnya ada persoalan. Hidup itu adalah PERSOALAN. Tapi ruang jiwa atau ruh, siapa yang bisa menerjemahkan? Kelahiran akhirnya berhubungan dengan pencipta. Ada sesuatu yang kita perjuangkan. Perang! Hidup itu perang. Dan yang turun adalah TANGISAN.

Aku tidak ingin, tapi inilah terlanjur sebuah pilihan. Kita perlu sayang pada siapa yang dilahirkan.
Kalaupun ada sebuah keinginan, tetapi terlalu banyak gelombang untuk menjadi sesuatu. Sumbuku adalah CINTA, bahkan udara untuk bertemu. Dan dia adalah IBU dan BAPAK. Cintaku, aku tidak pernah mendapatkan MEREKA!  Ruangku hanya terbatas pada bahasa, aku tidak pernah tahu siapakah mereka.
Di bilangan Cikini ini, tepat di belakang  tembok Taman Ismail Marzuki ini, dulu adalah kediaman mereka, ketika mulai tumbuh besar, aku pernah berberes-beres di rumah itu. Ibuku di penjara, ayahku entah dimana, dan aku dilahirkan diantaranya.

Karya: Teddy Bontot
Adaptasi: Mariana Amiruddin
(Sebuah narasi teater monolog)


Dipersembahkan oleh: Komunitas Orang-orang Bawah Tangga

Cikini, Taman Ismail Marzuki 12 Februari 2014

























Ilustrasi Lukisan: "Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man" by Salvador Dali (1943)

Selasa, 11 Februari 2014

Perkosaan terhadap Teks-Teks Sastra


Mariana Amiruddin
Tanggapan tulisan Taufiq Ismail
Tak ada yang lebih mengejutkan selain rentetan istilah yang dilemparkan dalam esai Taufiq Ismail (TI) (Jawa Pos Minggu, 17 Juni 2007). Buat saya lebih mengerikan dari apa yang dia khayalkan tentang Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), Sastra Mazhab Selangkang (SMS), dan Fiksi Alat Kelamin (FAK). Eseinya adalah fiksi yang sama dengan istilah-istilahnya itu. Sebuah esai yang miskin interpretasi. Ada kemalasan untuk menjabarkan karya orang-orang yang dikritiknya. Saya menyebutnya kritik sastra tanpa etika; tanpa telaah dan argumentasi yang menggugah. Pernyataan TI tentang Hudan Hidayat dkk. dan “sejumlah aktivis lebih dari lima orang” bisa dibilang upaya mematikan latar belakang siapa pun penulis yang juga aktivis yang ikut serta menulis di ruang kreatif. Sebagai anak muda, saya takut memahami pikiran TI itu. Apalagi mengkhayalkan orang-orang yang disindirnya itu sebagai sebuah gerakan. Seolah-olah yang disebut “mereka” adalah pasukan perusak yang terorganisasi, ada ketuanya, ada dedengkotnya. Dan target pencapaian mereka adalah memorak-porandakan moral manusia Indonesia. Menurut saya TI menganggap manusia Indonesia tak boleh mempunyai imaji yang majemuk, harus satu saja, yaitu imaji yang sama dengan dirinya.Namun apa yang dinyatakan TI justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Muncul interpretasi baru terhadap esai TI; upaya membonsai ruang kreatif yang majemuk menjadi seragam, miskin, dan dangkal. Penulis-penulis yang objek imajinya tubuh –sebab asal muasal manusia takkan terlepas dari tubuh, dan kenapa pula manusia mengabaikannya?– lalu disosialisasikan sebagai ancaman.TI mengejek mereka, penulis yang punya pengakuan dan kompetensi melakukan penulisan kreatif dengan caranya sendiri. TI seperti hendak bilang; kau tak boleh menulis begitu. Dilarang melakukannya dengan cara begitu. Harus dengan cara TI.
Bagi saya, kewajiban kritikus (terutama penulis esai di media massa) bukan begitu –sebagaimana TI menyebut Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan kini Hudan Hidayat dkk. ditambah lima aktivis lainnya. Bahwa interpretasi seharusnya bukan pertama-tama mencari maksud pengarang, melainkan menyingkap makna dan hasilnya adalah sebuah produksi makna baru. Tentu bukan dengan cara sewenang-wenang atau tidak dengan memerkosanya (baca: memfitnahnya). Apalagi memaksa pra-pemahaman yang dimilikinya atau prasangka yang sudah ada di kepalanya. Kritikus punya peran yang berat (sama beratnya dengan pengarang) dalam melakukan interpretasi: menjadi aktor intertekstualitas, dengan kepala yang sudah terbuka serta mendengarkan apa yang sedang diungkap karya tersebut. Haryatmoko, doktor bidang Etika Sosial/Teologi Moral dan Sosial Universitas Indonesia mengajarkan saya tentang ini ketika membimbing tesis untuk penelitian novel Saman selama dua tahun di pascasarjana.
Oleh karena itu, saya harus meluruskan kembali tulisan TI yang kacau itu supaya tak terjadi distorsi, bahwa penulis esai yang sedang membahas karya orang seharusnya bagai seorang narator yang dalam narasinya dapat menjadi sumber inspirasi pembaca (bukan kalang-kabut mengejek karya orang sekaligus pribadi pengarang). Narator di sini adalah yang memasuki dunia batin tokoh-tokoh dalam karya orang dan hasilnya dapat memberikan suatu pandangan baru. Ini yang tidak dilakukan TI.
Dalam karya fiksi, begitu banyak kita temukan metafora. Tentu TI juga sering menemukannya. Metafora adalah proses retorika dan di dalamnya akan muncul dua interpretasi; yaitu yang menerima begitu saja (taken for granted) dan yang dianggap problematika. TI saya masukkan dalam kategori taken for granted atau “menerima begitu saja”, bukan sebagai suatu yang mengusung wacana. Kalau interpretasi terhadap metafora itu menjadi “begitu saja”, maka yang terjadi adalah ekspresi yang pendek dan tidak membutuhkan elaborasi (pencarian), apalagi advokasi. Jadinya picik, lucu dan garing…
Inilah distorsi yang mulai menggerogoti para kritikus yang taken for granted seperti yang saya katakan di awal tulisan ini. Bagi kami (Rich, Cixous, dan saya), penulisan tubuh perempuan (di antaranya kelamin) dan sebagainya, tak sekadar “ditangkap” sebagai tubuh itu sendiri, adalah karya-karya yang dari tubuhnya dapat memantulkan ruang tempat manusia becermin dan mengukur hidupnya dengan pikiran dan jiwa di dalamnya. Seperti dalam Of Woman Born, Adrienne Rich melawan tubuh perempuan yang jatuh pada mitos, dengan menyatakan bahwa tubuh pun dapat menatap dunia dan merekonstruksinya. Rich melakukan permainan feminin dalam karya sastranya untuk mengatakan bahwa manusia dapat mengembalikan sistem nilai tubuhnya pada sesuatu yang lebih adil, pada tindakan politik di mana domestik bisa menjadi ranah publik, dan perempuan akan bertempur dari sana, dari orientasi seksualitasnya yang konstruktif. Saya sendiri meneliti novel Saman karya Ayu Utami menghasilkan makna (seperti yang ditulis Haryatmoko dalam buku saya) yang mampu menjelaskan keprihatinan utama para tokoh perempuan, yaitu mendobrak pembatasan baik oleh tradisi, tatanan sosial, dan sebetulnya juga agama dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas (ketubuhan, keperawanan, hubungan seksual, hasrat seksual, perkawinan, perselingkuhan, dan perkosaan).
***
Perlu bagi saya memberi highlight dalam esai TI 17 Juni lalu, karena bagi saya efeknya bisa jadi sangat mengerikan ketika TI memberi stigma pada mereka sebagai penulis angkatan FAK. Pernyataan ini jelas potensial agresi seorang narator yang ingin segera menutup mata dan pikiran pembaca karya-karya mereka.
TI lalu membangun tahap-tahap pembacaan sastra mereka kepada keluarga, RT, RW, sekolah, dan kantor dalam acara halalbihalal atau natal. Dan yang paling tidak etis adalah mengkhayalkan para sastrawan yang tertuduh itu lebih bagus melakukan demonstrasi orgy -TI seperti sedang membayangkan karya-karya mereka bagai blue film dan ini menjadi salah satu referensinya. Saya menjadi terkejut sebab sepertinya TI memperlakukan pembaca adalah anak kecil yang bodoh, yang tak mungkin lagi kepalanya diasah untuk bisa menikmati sastra dengan pikiran dan hati terbuka. Singkatnya, TI mengajak pembaca menjadi terbelakang yang kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran jorok.
Mengutip Nawal El-Saadawi, novelis perempuan Mesir yang menjawab ejekan atas novelnya Perempuan di Titik Nol, “saatnya membawa pembaca membaca di atas kesadarannya, bukan lagi di bawah kesadarannya.” ***
*) Mariana Amiruddin, peneliti sastra, redaktur Jurnal Perempuan, penulis Novel Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat dan penulis Perempuan Menolak Tabu.
Tulisan ini dikutip dari Harian Jawa Pos (Surabaya), 15 Juli 2007.

Sabtu, 08 Februari 2014

Catatan Berserak Tuan Tan (Novel yang Tertunda)

Mendengar kembali kabar pembubaran bedah buku Tan Malaka. Teringat catatan novel saya yang tertunda sejak tahun 2009 berjudul "Kerangekeng Tuan Tan". Inilah salah satu potongan kisah yang tercarut-marut itu.

---

KEDIRI — Perangkat desa asal Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sudah mempersiapkan pembongkaran makam yang diduga terdapat kerangka tubuh tokoh revolusioner, Tan Malaka.
      
Pembongkaran makam tersebut, dilakukan Minggu  13 September 2009 di pagi hari. Saat ini, sejumlah panitia nasional sudah datang ke desa, bahkan beberapa di antara mereka ada yang menginap di rumah warga.
          
Mar dan Tuan Rick mengerubungi Tan yang sedang memegang Koran. Mereka bersama-sama membaca.
Zulfikar, dan Tuan Poeze. Tan menyahut tiba-tiba.
Ini ide mereka.
Keponakanku, Zulfikar. Lama tak melihat dia. Aku tak mau dia tau aku di sini. Tuan Poeze, orang Leiden, yang menghabiskan waktunya mengejar segala tentangku. Bukan pekerjaan gampang di saat orang-orang anti mendengar namaku.
Sampai sekarang juga masih anti, kata Mar. Mungkin karena julukan “kiri” itu. Meski Tuan pernah dianggap pengkhianat oleh beberapa orang kiri. Tuan bahkan sempat mengundurkan diri dari Komunis Internasional. Tuan pernah memegang dunia.

“Waktu itu terlalu banyak orang terseret ke politik internasional yang membentuk dunia menjadi berpolar-polar. Sementara banyak negara-negara jajahan lebih membutuhkan kemerdekaan, berdiri sendiri, tanpa terbawa arus oleh polarisasi kekuasaan kolonial. Meski orang-orang kita banyak juga yang tidak suka gagasan kemerdekaan, karena mereka dipelihara oleh kolonial, tak rela menggadaikan hidup mereka yang sudah enak itu dengan perjuangan dan pengorbanan,” urai Tan.

Tan melanjutkan, banyak orang lupa yang paling utama adalah kepentingan nasional, kepentingan kemerdekaan 100%. Bukan kemerdekaan atas pemberian.

---

"Apalah artinya Mar yang pandangannya terhuyung. Mar tanpa pikirannya, jiwanya, ia hanya melihat bayangan-bayangan kepala manusia berbenturan, bersilang saling. Dan anak-anak kucing tanpa induk yang tubuhnya menggulung . Malam yang senyap, mar setengah tersadar.

Seseorang membawa termos, dan menuangkan air hangat ke dalam gelas. Masih bayang-bayang. Seperti orang mabuk.

Mar kedinginan biasa disiram bir. Dan dalam birnya ia menulis. Sampai kepalanya jatuh di atas meja, tertusuk kata-kata “Ini baru alam yang sesadarnya”. Hanya mabuk yang membantu mengalirkan peredaran darahnya sampai ke otak. Seperti perjalanan ke atas gunung, lalu memijak lembah, dan disitulah Mar menemukan sungai mengalir, dan jatuh di air terjun yang membasuh wajahnya. Mar sendiri yang sepi dan ingin sepi.

Akulah Tan-mu. Kupanggil kau Mar dan kutambahkan kau X. Mar-x.
Tak usahlah kau mengejarku. Aku bisa menjaga mu dari sini.
Peliharalah hidupmu, nyawa dan jiwamu. Asah terus pikiranmu.
Jangan kau kejar aku. Pasti aku kembali.

Mar sesak nafas, ia tersengal-sengal dan dihantui bayang-bayang. Berusaha menengadah, tapi tak juga bisa lihat apa-apa. Bayang-bayang orang itu mendekat ke arahnya, duduk disampingnya.

“Siapakah..” ucap Mar lirih.

“Aku. Tan. Tuan mu, Nona.”

“Dimanakah.”



“Di bumi Suliki. Payakumbuh. Kau telah sampai.”


Lembah, 2009




Minggu, 02 Februari 2014

Karena Kehendak adalah Hak

Oleh: Mariana Amiruddin

"Orang cenderung membelah diri. Memisahkan keluarga dengan publik. Seperti jiwa yang terpisah dengan tubuh. Kenapa? Karena keluarga sering tidak seiring, tidak bersambung dengan pikiran dan pengalaman pikir saya. Apalagi imajinasi. Perhitungannya selalu normatif. Mengabaikan karakter individu. Apa yang disebut keluarga adalah realitas masyarakat. Apa yang disebut masyarakat adalah realitas keluarga. Sayangnya saya sering tidak cocok dengan realitas masyarakat. Saya terlempar berkilo-kilo meter, menjadi diri yang lain, yang tidak sealur dengan keluarga yang seperti anomali dalam masyarakat. Tak bisa senyum kalau tak mau senyum. Tak bisa tertawa kalau tak mau tertawa. Senyum dan tawa hanya di ruang-ruang tertentu. Mengangguk saja bila merasa tak cocok. Menggeleng bila merasa tidak pantas. Lalu bisakah saya menciptakan keluarga sendiri? Ternyata tidak bisa. Karena rantai keluarga itu terus beralur, seperti cerita yang tak habis..."

"Apa yang saya sebut keluarga akhirnya adalah orang-orang pilihan saya sendiri. Meski sifatnya sementara. Seperti pekerja kontrakan. Adalah teman-teman. Tak berlama-lama, gampang datang, gampang pergi. Ada yang sudah lama pergi, lalu muncul kembali. Dan kini pergi lagi.

Orangtua, tanpa mengurangi rasa hormat, cukup mereka saja yang terus terbawa mimpi. Membayangkan sulitnya mempertahankan sebuah ikatan dan melahirkan anak-anak serta membesarkannya. Yang lainnya adalah diri saya sendiri."

Di dalam keluarga, saya tidak pernah bisa jadi diri sendiri.
Di luar sini, saya selalu jadi diri saya sendiri.
Akhirnya, kebebasan yang kuraih ini adalah akibat bentuk negosiasi hidup saya pada orang tua dan keluarga, dan tentu masyarakat.

"Inilh saya"

Sayapun tak mau bergantung.
Karena kehendak adalah hak.
Dan jarak telah menjadi kehendak.
Kehendak diantara hak-hak yang kadang sulit saling bertemu.

Aku mencari kehendak di luar sini.
Meski belum juga kutemukan.
Kecuali air dan api dalam pikiran.


Kelapa Gading, 29 Desember 2009


Sabtu, 25 Januari 2014

Manusia Lendir



Oleh: Mariana Amiruddin

Kematian sudah mulai membisikkan sesuatu padaku. Katanya, ia akan mengantarku ke mana aku mau. TInggal katakan, ayo! Aku memang sudah lelah. Nafasku pun kian terdengar kencang dalam kepulan lendir.  Iramanya terus meliar naik turun bagai pompa terisi air. Paru-paruku telah menghirup segala virus yang cepat berkembang biak dalam lembab, dalam hujan tak kian henti dan tak kunjung matahari. Suhu tubuhku terus naik seperti pendaki yang ingin terus mencapai puncak dan malas untuk turun kembali.

Kumpulan manusia bukan lagi arena bermainku. Mereka seringkali menyakitkan. Dan kau tak punya pilihan, selain menjadi super atau menjadi medioker. Jangan terlihat lemah, karena kau akan disantap. Jangan terlalu jujur, karena kau mudah jadi sasaran santapan berikutnya. Mereka mirip kanibal yang menjadikanmu daging segar dari tubuh-tubuh yang miskin. Jangankan istirahat, untuk sakitpun kau tak diperbolehkan. Aku adalah manusia lendir, yang diciptakan dari hasil kumpulan manusia. Dapat kulihat jelas jejak-jejak lendirku yang tak terhapus selama belasan tahun. Setiap lendirnya aku simpan. Kukembangbiakkan setiap tengah malam, setiap kesedihan, setiap tangisan. Kini saatnya memetik hasilnya. Kematian. Kematianku takkan dirundung hancur oleh sesuatupun. Tiada anak, tiada keluarga. Kumpulan manusia telah hidup dalam jalannya masing-masing. Yang hidup hanyalah yang super atau yang medioker. Jangan sampai ditengahnya. Kalau sampai ditengahnya jadilah manusia lendir, beratus-ratus air mata akan kau keluarkan saat kau terjungkal ke jurang kematian bersama lendir-lendir yang kau simpan.

Banjir, 25 Januari 2014

Rabu, 22 Januari 2014

Arti yang Tak Ada Artinya


Oleh Mariana Amiruddin


Sulit artinya yang tidak mudah. Ide bertemu ide dan ide lagi dan tak mudah dalam satu waktu, bunyi, cahaya, udara, dan suara, tak juga bertemu.

Ada Tuan yang setiap saat tapi tak ada pikiran
Ada Tuan yang ada pikiran tapi tak ada kendali kejalinan.
Ada Tuan yang berontak tapi tak tau keadaan.
Ada Tuan yang sepi tapi menjadi jarak waktu dalam bertemu
Ada Tuan yang baru meninggalkan dunia.


Tuan ini dan Tuan itu berakhir tidak dalam jalinan pikiran kecuali dalam dirinya sendiri. Tak mungkin aku menunjukkan amarah karena sadar segala adalah ditanggung sendiri dan sadar orang tidak ada yang sadari diri. Dan dari diri-diri itu tidak ada yang sadar siapakah bangsanya. Apakah negaranya. Dimana pijakannya.

Tapi apalah maksudnya dorongan ini tak terhingga mencari seorang teman sepikiran, seide, seanggota, sewaktu, secahaya, sepenanggungan, sesedih, seratap, setertawa, setakterhingga dalam perjuangan?

Lalu orang-orang mencari tuhannya sendiri-sendiri, tidak menolong sesamanya sendiri. Orang sibuk dengan riwayatnya sendiri-sendiri, mampusnya sendiri-sendiri.

Dalam larutan hidup tergoyah dengan kedirian yang tak berelasi dengan yang lain.

Apalah yang tertulis ini selain merah di kepala. Kupanggang dagingnya supaya panas di hati. Larutlah semuanya untuk disantap sendiri.

Tergenang yang artinya terkenang. Terkembang segala ejaan pengetahuan, di ladang aku duduk sendirian. Orang-orang tersisa yang meninggal.
Dimanakah jalannya kalian?

Setahun demi setahun yang terkumpul ribuan langkah, jiwa dan pikiran atas upaya dan sedu sedan.
Haruskah dipunahkan dulu, untuk menanam kembali kehidupan baru?
Haruskah dihabiskan dulu, sebelum semuanya habis?

Aku sudah bernafas setengah jalan, masa mau aku habiskan begitu saja? Lalu apa jadinya bagi manusia-manusia yang baru saja memulai perjuangannya?

SEperti cerita yang dimatikan ditengah jalan. Tapi ya, aku tau, ini bukan cerita. Ini sungguhan.

Tuan Tan, Tuan Dur, beginikah dirimu dulu? Lamat-lamat sendiri dan menghilang lalu tak seorangpun tau dimana Tuan dikebumikan?

Dingin, 31 Desember 2009



Rabu, 18 Desember 2013

Saya,Tionghoa dan Ratu Kalinyamat



Oleh: Mariana Amiruddin

Terlalu sering saya bermimpi tentang Ratu Kalinyamat, dan kini saatnya saya segera mencari literaturnya. Saya menemukan paper yang ditulis oleh Chusnul Hayati Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang tentang kisah Ratu Kalinyamat. Ratu yang menjadi legenda terutama sebagai "pertapa yang telanjang" di tengah situasi politik perebutan tahta yang penuh kekerasan, ia sekaligus menjadi penguasa Jepara selama 30 tahun. Kisahnya tercatat dalam kesusastraan Jawa. Kalinyamat adalah perempuan yang berkepribadian "gagah berani" seperti yang dilukiskan sumber Portugal The Manish Sisodia sebagai "Kranige Dame" yaitu seorang perempuan yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai "Rainha de Japara, senhora paderosa erica" yang berarti Ratu Jepara, seorang perempuan kaya dan sangat berkuasa. Di samping itu, selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).  

Ratu Kalinyamat adalah tokoh perempuan yang perannya berpengaruh pada abad ke-16, terutama ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia adalah tokoh sentral yang menentukan dalam pengambilan keputusan dan memiliki karakter yang kuat dalam memegang kepemimpinan. Tetapi seperti kisah-kisah lain di Indonesia, posisi strategis Kalinyamat tak lepas dari klan (dinasti politik). Ia adalah putri Sultan Trenggana, Raja Demak ke tiga. Sultan Trenggana adalah putra Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Namun pada masa itu 'klan' bukan merepresentasikan tindakan nepotisme, melainkan masa dimana rakyat masih mempercayai sistem yang dikelola oleh kerajaan/kesultanan.

Ratu Kalinyamat adalah cucu Raden Patah, dan keluarga Raden Patah memiliki hubungan saudara yang erat dengan kesultanan Banten. Kesultanan Banten sebagian memiliki darah Demak dari Raden Patah. Saya jadi teringat kembali silsilah keuarga dari Ibu saya, Ratu Rusniyati, sebagai keturunan kesekian dari kesultanan Banten, yang ternyata terhubung dengan sejarah ini. Selain itu, Raden Patah adalah peranakan Tionghoa. Ibunya adalah selir berdarah Tionghoa dari Brawijaya. Nama asli Raden Patah adalah Jin Bun (bahasa Tionghoa), yang artinya kuat. Lalu diganti menjadi Fatah (bahasa Arab) dengan arti yang sama.

Darah Tionghoa adalah darah Nusantara sejak abad 16, dan saya menyadari itu ketika melihat kulit dan mata sipit saya sendiri. Dan Kalinyamat, sangat menarik untuk digali sejarahnya. Sejarah perempuan Indonesia sudah jaya sejak dulu, mereka bisa berpolitik, berkuasa, memegang tahta. Entah mengapa bangsa ini sekarang takut dengan kejayaan perempuan, yang sebenarnya adalah bagian dari kejayaan bangsa ini.

TIM, 18 Desember 2013