Oleh: Mariana Amiruddin
Kematian sudah mulai membisikkan sesuatu padaku. Katanya, ia akan mengantarku ke mana aku mau. TInggal katakan, ayo! Aku memang sudah lelah. Nafasku pun kian terdengar kencang dalam kepulan lendir. Iramanya terus meliar naik turun bagai pompa terisi air. Paru-paruku telah menghirup segala virus yang cepat berkembang biak dalam lembab, dalam hujan tak kian henti dan tak kunjung matahari. Suhu tubuhku terus naik seperti pendaki yang ingin terus mencapai puncak dan malas untuk turun kembali.Kumpulan manusia bukan lagi arena bermainku. Mereka seringkali menyakitkan. Dan kau tak punya pilihan, selain menjadi super atau menjadi medioker. Jangan terlihat lemah, karena kau akan disantap. Jangan terlalu jujur, karena kau mudah jadi sasaran santapan berikutnya. Mereka mirip kanibal yang menjadikanmu daging segar dari tubuh-tubuh yang miskin. Jangankan istirahat, untuk sakitpun kau tak diperbolehkan. Aku adalah manusia lendir, yang diciptakan dari hasil kumpulan manusia. Dapat kulihat jelas jejak-jejak lendirku yang tak terhapus selama belasan tahun. Setiap lendirnya aku simpan. Kukembangbiakkan setiap tengah malam, setiap kesedihan, setiap tangisan. Kini saatnya memetik hasilnya. Kematian. Kematianku takkan dirundung hancur oleh sesuatupun. Tiada anak, tiada keluarga. Kumpulan manusia telah hidup dalam jalannya masing-masing. Yang hidup hanyalah yang super atau yang medioker. Jangan sampai ditengahnya. Kalau sampai ditengahnya jadilah manusia lendir, beratus-ratus air mata akan kau keluarkan saat kau terjungkal ke jurang kematian bersama lendir-lendir yang kau simpan.
Banjir, 25 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar