Sabtu, 18 Oktober 2014

Venus



Oleh: Mariana Amiruddin

Kepada kegelapan, teman lamaku. Aku ingin bicara padamu. Aku telah terlalu sering melihat cahaya dimana-mana yang menyala-nyala silau mengacaukan mataku. Aku melihat saat-saat silau itu, begitu banyak orang, kira-kira sepuluh ribu orang, mungkin lebih, mereka berbicara tanpa bicara, mereka mendengar tanpa mendengarkan, mereka begitu takut pada keheningan. Keheningan bagi mereka bagai kanker yang diam-diam tumbuh menjalar. Dan padamu kegelapan, aku ingin bicara, bagi mereka, kata-kataku hanya akan seperti tetesan hujan yang jatuh menggema di dalam sumur. Dan orang-orang itu sibuk membungkuk dan berdoa pada dewa keramaian dan lampu-lampu neon yang mereka buat. Ada yang terlupa dari segala masalah di luar sana. Yaitu tentang diri kita sendiri.

Aku mendengarkan sebuah lagu The Sound of Silence. Lalu aku mengubah syairnya sedikit, agar semakin melekat dalam setiap hidup yang aku maknai. Ada yang lama hilang dalam hidupku, yaitu keheningan. Tanpa keheningan, aku tidak bisa benar-benar mendengarkan, aku tak pernah benar-benar bisa melihat, aku tak pernah bisa benar-benar merasakan. Hampir satu tahun ini hidupku kaya oleh keheningan. Aku memeluknya erat sekali, sebagaimana pada kegelapan. Aku bisa merasakan suara jam yang berdetak, sebagaimana jantungku yang detaknya sering mendahului waktu. Aku bisa mendongak ke langit sambil duduk menghisap pipa, dan mengerti bahwa kemarau akan berakhir sebentar lagi. Aku bisa merasakan angin panas di siang hari saat mengambil jemuran pakaianku yang lekas kering, dan aku terdiam sebentar untuk merasakan panas matahari yang tajam. Aku bisa melihat garis-garis tembok yang retak, dan pasir-pasirnya yang jatuh pelan-pelan, dan dicelahnya tumbuh daun-daun pakis. Dan kayu-kayu pintu yang kopong dimakan rayap, serta jendela yang tidak bisa ditutup, dimana rumahku telah mulai termakan usia dan dibangun oleh pengembang yang korup. Aku bisa melihat semut hitam berjejer menuju dapurku, dan daun-daun pohon mangga yang tumbuh mengikuti arah matahari diantara tembok tetangga yang berlomba-lomba meninggi. Aku bisa mencium bau tanah dan rumput yang kusiram di puncak kemarau.

Keheningan membuat aku bisa berkomunikasi dengan selain manusia. Pada setetes air yang jatuh dari kran kamar mandiku. Pada lumut-lumut yang menyelimuti kakusku. Pada tengik bau deterjen yang terlalu lama merendam kaus kaki, dan pada obat-obat kimia pembersih lantai yang mengelupas kulit-kulit jariku. Kerinduan pada memaknai peristiwa-peristiwa kecil disekelilingku, membangun memori tentang siapa diriku dan pada jalan hidup yang seperti apa. Segalanya bermunculan kembali seperti mimpi yang dilupakan, tentang kebiasaan-kebiasaanku sejak kecil menutup pintu kamar dan duduk tenang di atas meja sambil menulis. Mengingatkanku pada hewan-hewan yang sering aku ajak bermain sepulang sekolah karena rumah keluargaku di tengah hutan dengan sangat sedikit tetangga. Juga pada kematian demi kematian mahluk hidup disekitarku, pada kucingku yang diracun, pada anjingku yang dibunuh. Aku pernah ingin mati untuk menyusul mereka. Aku ingin menjemput mereka untuk kembali pada kehidupan, untuk kembali menjadi teman-temanku, atau apabila kematian bisa membuat kita bersama lagi. Aku melihat kematian dengan sangat positif, seperti dongeng tentang alam yang sama sekali berbeda, tentang langit dan tanah yang tak sama.

Masa kecil itu telah mengembalikanku pada keheningan. Pada yang lahir, yang hidup dan yang mati. Pada burung hantu dan komet yang jatuh dan hampir setiap menjelang subuh aku naik ke atas atap hanya untuk memperhatikan Venus. Aku melihat Venus seperti melihat diriku. Planet yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari permukaan bumi, planet tercerah di langit malam. Venus disebut sebagai planet inferior, seperti aku. Dan kecerahan maksimal yang dihasilkan planet ini dapat dilihat segera sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, sehingga sering disebut Bintang Fajar atau Bintang Senja. Venus adalah teman kecilku, sebagaimana bulan dan bintang, ia datang saat manusia tertidur lelap.  Ia datang saat hening, saat dunia diselimuti kegelapan. Di atas atap, aku juga sering tak sengaja menemui mahluk lain bertubuh hitam dan besar, melompat lincah ke awan dan menghilang sambil melirik ke arahku dengan mata seperti kelereng. Sejak kecil aku tidak pernah takut dengan kegelapan, keheningan, atau mahluk seperti manusia yang belum bisa aku katakan jenisnya, apakah dia hantu, jin, setan, atau mahluk yang memang tidak pernah kita kenal. Aku selalu rindu pada mereka.

Waktu aku menjadi anggota pramuka di sekolah dasar, kami berkemah untuk menguji mental, semua anak-anak ditutup matanya pukul 2 dini hari sambil berjalan kaki ke arah kuburan, tepat pukul 4 pagi kami tiba. Dalam perjalanan gelap itu, aku senang sekali sementara teman-temanku ketakutan sampai terkencing-kencing. Saat tutup mata kami dibuka dan diperintah untuk menoleh ke belakang, semua teman menjerit histeris, hanya aku yang dengan tenang menoleh kebelakang, aku melihat kuburan yang indah, yang berdiri tenang di atas tanah. AKu melihat kilat-kilat cahaya yang mendatangiku lalu menjauhiku, aku tersenyum lebar. Aku dihampiri oleh pembina, dan dari mata mereka seperti ingin mengatakan aku anak yang aneh, mereka menginginkan aku takut seperti anak-anak lain. Mereka menelitiku dengan cermat, dan aku tidak mengerti setelah itu banyak yang memandangku dan kemudian segera menjauh pelan-pelan.

Ketika aku duduk di kelas nol kecil (Taman Kanak-Kanak), aku tidak pernah bicara sama sekali. Bukan karena aku bisu atau tidak bisa mendengar. Guruku meminta aku menganga dan mengeluarkan lidahku. Tenggorokanku diperiksa, begitu juga telingaku, seolah-olah mereka dokter spesialis THT. Menurut guru, aku bukan tuna rungu, tapi mengapa diam sekali dan tidak mau bicara? “Rina ayo bicara!” Dulu aku dipanggil Rina. Aku tetap diam, hanya mataku yang bicara. Aku digendong guru, tetapi aku menjerit-jerit marah, kucakar lengan mereka, dan aku langsung dilaporkan ke orang tua. Ibuku dipanggil, dan Ibu mengatakan bahwa di rumah aku bicara sebagaimana anak-anak lain. Tapi ibuku tidak tahu bahwa ketika keluar rumah, aku terbiasa memperhatikan sekeliling dan menganggap orang lain disekitarku adalah “yang jauh disana”, tetapi sesungguhnya aku sangat ingat apa saja yang mereka lakukan dan katakan. Aku bagai kamera berjalan dan merekam setiap peristiwa, dan menyimpannya dalam memori hingga dewasa. Aku masih ingat kapan aku berhenti menetek ibuku. AKu masih ingat kapan aku dicelupkan ke kolam renang sedalam 3 meter dan akhirnya aku bisa mengambang berenang senang. Bahkan aku masih ingat saat masih sangat bayi, aku bisa tersenyum sekali-sekali dan marah sering sekali apabila ada yang mencoba mencubit dan menciumku sewenang-wenang.
The Odd Life of Timothy Green, kembali aku memilih sebuah film yang menjadikan seorang anak kecil menjadi tokoh sentral, yang membuat aku teringat masa kecilku, bagaimana caraku hidup di dunia. Aku bagai Timotius yang tidak dilahirkan dan tidak pula diadopsi oleh pasangan suami istri yang tak memiliki anak. Suami istri itu mencoba segalanya untuk hamil, dan sampai akhirnya putus asa, mereka membuka sebotol anggur merah dan membuat daftar hal-hal yang mereka inginkan tentang anak yang sempurna. Semua dicatat dan mereka masukkan dalam kotak dan menguburkannya di kebun mereka, dan saat hujan badai datang, datanglah seorang anak lelaki yang dipenuhi tanah dan daun yang tumbuh di kakinya. Anak yang pendiam dan dari mulutnya selalu keluar kata-kata yang bijak dan selalu ingin menyenangkan orang-orang disekelilingnya. Tetapi, anak yang bijak menjadi anak yang aneh. Tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya, tidak bisa punya ego seperti kebanyakan anak-anak. Timothy terlalu peduli dengan orang lain, atau memilih mengurung dirinya, berjam-jam di hutan bermain daun bersama teman yang baginya cocok, untuk menciptakan “dunia yang lain” dari dunia anak-anak umumnya.

Aku membayangkan masa kecil seperti dia, anak yang lahir dan tumbuh di hutan, tempat pohon-pohon tinggi dan daun-daun merah berguguran terkena angin. Ibuku pernah bercerita bahwa sebetulnya, aku adalah anak yang lahir akibat kontrasepsi gagal. Aku bukan kelahiran yang diinginkan, sebab Ibuku sudah terlalu sering melahirkan. Itu bukan cerita yang sedih, bagi aku itu sangat biasa. Tetapi begitu aku lahir, mereka tidak tahan melihat pipiku yang tembem, kulit yang putih, rambut yang ikal dan mataku yang sipit. Tapi, seperti Timothy, aku tumbuh sendirian, dengan mata kameraku, dengan diam di mulutku, dan aku hanya mendengarkan dan merekam segalanya.

Lalu aku tumbuh di kota besar, yang setiap berangkat sekolah aku hampir mati terjepit bis kota, atau aku melompat nekat dari Metro Mini karena tak mau berhenti. Aku melompat dan aku tahu akan risiko mati, entah patah tangan atau gegar otak. Aku tahu. Dan aku melompat. Aku terseret di aspal, dan saat berhenti tubuhku di atas aspal, aku bangkit. Aku tak pernah menangis dengan situasi itu, aku jatuh dan bangun, langsung berjalan dalam diam dengan wajah tertunduk. Orang-orang berteriak memanggilku karena darah dari lengan dan kakiku sudah berantakan di aspal. Aku terus berjalan sampai aku merasakan lemas di lututku dan aku memegang tiang-tiang listrik untuk menahan tubuhku. Aku terus diam dan berjalan tenang, dan sampai rumah, aku roboh di atas tempat tidurku. Aku terlatih menahan sakit, bukan karena aku kuat, tetapi waktu itu aku tidak tahu apa itu menderita. Ternyata, karena waktu itu aku tidak tahu apa itu penderitaan. Aku hanya tahu aku lahir begitu saja, di atas panggung bernama dunia. Dan jalan hidupku bukan di tengah keramaian, yang dalam ramai sekalipun, aku dalam diam namun sangat memperhatikan, dalam jarak yang aku ciptakan, meski sedemikian kita bisa berdekatan.

Saat dewasa, aku bahkan mencatat sekian banyak kucing tua dan kucing sakit yang diam-diam pergi menjauh beratus meter jaraknya, untuk menemukan tanah dingin dan tersembunyi agar siapapun tidak  akan menemukan kematiannya. Sejak itu aku melihat, bagi mereka, kematian adalah jalan sepi yang paling sempurna. Akupun menanti dengan sangat lekas. Sebab ketika dewasa, terlalu semakin mengenal ketidakadilan, kemunafikan, pengkhianatan, kepura-puraan, penderitaan akibat harapan yang terlalu besar dan sesuatu yang tidak bisa diatasi oleh diri kita sendiri, karena terlalu banyak keinginan, dan hidup yang aku rasakan adalah saat kita bangun tidur hanya menemukan tangisan, dan saat ingin tidur, hanya menemukan kebosanan. Dan aku diselamatkan oleh Venus yang muncul saat aku termangu duduk di halaman belakang, di usiaku yang paling puncak memahami tentang kedewasaan, aku masih melihatnya menggantung di langit. Menemaniku diwaktu-waktu yang aku inginkan, aku dibangunkan saat menjelang subuh untuk menghindar mimpi buruk. Mimpi-mimpi buruk yang menggambarkan keadaan terang menderang, kematian pada orang-orang yang hidup atau hidup dalam keadaan mati, dalam kelelahan tuntutan dunia. Aku menyaksikan banyak jiwa dalam mimpi-mimpi yang menerkamku setiap malam, betapa banyak kesedihan yang mereka tutupi, mereka tutupi dengan hiruk pikuk, riuh rendah, gaduh, ramai. Mereka takut akan keheningan, sebab itu membuatnya mengingat-ingat kembali kesedihan yang dipaksa untuk pergi dari memorinya. Aku, aku adalah pengingat segalanya, segala yang kelam, dan aku, aku bukan orang yang bisa mengingat apa yang disebut dengan kesenangan, dan Venus mengatakan hal yang sama, pada setiap menjelang subuh.


Tambun, 19 Oktober 2014


Selasa, 14 Oktober 2014

Rumput Mati



Oleh: Mariana Amiruddin

Sore itu menjelang senja, udara begitu panas. Sudah lebih dari sebulan hujan tak datang. Serangga beranak pinak begitu cepat, mereka tinggal di semak-semak dan daun-daun kering. Sore itu aku menggeledah laci riasku, dan aku menemukan pisau cukur. Aku lupa mengapa bisa ada pisau cukur di situ. Sebab aku tidak pernah membutuhkannya. Wajahku tidak ditumbuhi janggut. Begitu juga ketiakku. Tidak banyak hal yang harus aku cukur, bahkan alis dan rambutku. Ah ya! Aku baru ingat. Itu hadiah dari toko setelah aku membeli sabun muka khusus untuk pria. Saya sempat menolaknya, tapi kasir memaksaku untuk mengambilnya. Saya bilang saya tidak berjanggut. Si kasir binngung, katanya loh ibu yang mau pakai? Ya, saya bilang. Matanya menatap aneh ke arahku. 

Sore itu tanganku gemetar. Aku ingin sekali mati. Tapi aku masih sadar, begitu banyak cara-cara bunuh diri yang menyakitkan. Masalahnya aku tidak mau lagi merasa sakit. Hidup sudah membuatku sakit, masa untuk mati aku harus sakit juga? Aku ingin kematian itu tidak seperti kita dilahirkan, dimana semua bayi menangis keras ketika melihat dunia. Mengapa semua bayi begitu sedih dengan dunia? Aku ingin kematian itu bahagia. Atau seperti kita menyambut perjalanan jauh. Aku yakin bahwa kematianku tidak akan membuat sakit orang lain. Aku tidak punya tanggungan, atau hutang. Aku tidak pernah pinjam uang atau janji-janji lainnya. Aku juga tidak menimbun harta. Hartaku segini-segini saja. Aku memang tidak pernah membuat janji-janji pada orang. Orang-oranglah yang selalu mengumbar janji dan berhutang padaku. Aku sudah melatih diri untuk tidak berhubungan dengan orang lain sehingga harapanku adalah orang-orang akan biasa saja dengan kematianku. Mereka paling-paling hanya kaget saja. Keluargaku, masing-masing sudah sibuk menjalankan kehidupannya. Orangtuaku sudah ada yang merawat. Aku sudah tidak punya kemelekatan lagi. Aku hanya punya hewan peliharan yang sebentar lagi tumbuh besar, dan sudah kusiapkan manusia yang akan memeliharanya dengan kasih sayang.

Tapi cara mati itu, seandainya ada yg tak menyakitkan, pastilah dengan mudah aku lakukan. Sebab bukan karena perasaan tertekan, tetapi hidup tampaknya sudah tak perlu apa-apa lagi. Aku sudah merasa tawar, tiada ambisi sama sekali, keinginan, apalagi masa depan. Aku tak mau meneruskan takdir berikutnya, aku mau berhenti saja di stasiun terakhir.

Karena terlalu banyak berpikir itulah lagi-lagi aku menunda kematianku. Aku malah pusing. Otot leherku tegang. Aku tak bisa menoleh. Saat menoleh rasanya sakit sekali. Rupanya aku belum makan sejak pagi. Aku lupa kalau hidup itu kita harus makan. Perutku kosong dan penuh gas di lambungku, sampai otot-ototku tak mau bekerja. Tiba-tiba aku jatuh! Tanganku gemetar. Hampir tak bisa menopang tubuh. Aku memaksakan diri menyeret tubuhku ke depan. Saat itu aku berharap sekali kenapa tidak sekalian mati saja. Aku jengkel dan kulemparkan tubuhku tapi malah membentur pintu depan, dan disitulah aku baru sadar bahwa rumput di halaman rumah sudah terlalu panjang berantakan. Seperti bagaimana berantakannya hidupku.. Tiba-tiba aku punya tenaga dan segera bangkit berjalan ke dapur. Jalan yang terseret-seret seperti mayat yang hidup kembali. Sampai juga akhirnya di dapur dan kubuka semua laci dengan sekuat tenaga. Aku menemukan gunting rumput yang besar, tajam, dan kuat. Aku terkekeh-kekeh segera mengambil gunting itu dan tiba-tiba tenagaku bertambah lagi, aku letakkan gunting rumput itu di leherku. Lalu aku berpikir lagi, kenapa kuletakkan di leherku? Aku segera ingat bahwa aku ingin mencukur rumput itu. 

Ternyata hari sudah gelap. Terlalu lama aku berpikir. Rumput halaman tak kelihatan. Bagaimana aku bisa memotongnya? Tapi aku yakin dan sangat yakin pastilah bisa! Aku berjongkok dengan leher yang luar biasa sakit, kugerakkan tanganku dengan paksa dan cekat kupotong rumput itu dengan kebahagiaan. Aku merasa lebih tenang karena tercium wangi rumput segar yang terpenggal. Tak lama, kelima kucingku ikut-ikutan berlarian di halaman. Aku senang karena ada yang menemaniku. Aku sedikit kembali merasa hidup. Dan hampir satu jam rumput-rumput itu berhasil kupotong dalam keadaan gelap, sampai akhirnya terdengar suara mobil dinyalakan, berjalan perlahan, dan tiba-tiba terdengar teriakan beberapa kucing seperti sedang berkelahi. Kucing-kucingku terprovokasi dan si Cipit sang induk kucing malah menghampiri suara itu. Aku cemas luar biasa. Sementara keempat anaknya berlarian masuk ke dalam rumah, dengan posisi mengintip dari jendela. Aku teriak kencang sekali, Cipit masuk!!


Tampak dua ekor kucing berlarian ke arah rumahku. Cipit juga berlarian kembali ke rumahku. Tapi ada hal yang janggal. Suara-suara manusia tampak sibuk meneliti di bawah mobil yang menyala tadi. Aku mendapatkan firasat buruk. Benar, seekor kucing jantan tergolek di bawah mobil itu. Hidungnya mengeluarkan darah. Rupanya sang jantan itu, adalah bapak dari anak-anaknya si Cipit. Ia mati terlindas mobil. Orang-orang itu abai pada hewan. Sudah tahu ada kucing di bawah mobil mereka malah tetap menjalankan mobil. Seorang anak berteriak bilang bahwa sudah peringatkan ke ayahnya untuk hati-hati karena ada kucing di bawah mobil. Tampak kucing-kucingku hening. Tak ada lagi yang berlompatan di atas rumput. Aku masih melihat darah di aspal bekas kucing mati itu. Sang kucing sudah diangkat dan dikubur. Bagi orang kita, mitos kucing mati begitu kuat. Kalau kita tak sengaja menabrak atau melindas kucing, tandanya akan mendapatkan sial. Karena itu harus dikubur baik-baik. Tapi kalau kucing itu hidup berkeliaran, mereka membencinya.

Aku sedih. Akulah yang ingin mati. Mengapa malah aku yang menyaksikan kematian? Kematian dengan cara demikian sangatlah menyedihkan. Aku menunduk dan melanjutkan potong rumput, berusaha melupakan kejadian tadi. Dan malam itu juga rumput di halaman rumahku mendadak rapi.


Tambun, 12 Oktober 2014


Jumat, 10 Oktober 2014

Anomali

Oleh: Mariana Amiruddin

Beberapa waktu lalu di sebuah seminar saat waktu istirahat saya berbincang santai dengan seorang teman fotografer dan seorang arsitek. Mereka berdua adalah laki-laki yang sudah berkeluarga. Kami bertiga duduk di teras lantai dua sebuah restoran Belanda yang sangat kuno di bilangan Menteng Jakarta, dan kami baru tahu tempat itu padahal sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Tempat kami duduk, ternyata bisa memandang jauh ke bawah, ada sebuah taman yang sangat kuno bergaya Eropa, mirip dengan gaya taman-taman Belanda seperti di Kebun Raya Bogor atau Istana Presiden. Kami tercengang karena sudah lama tidak melihat pemandangan itu di Jakarta. Gaya Eropa itu masih sangat dipertahankan, dan di setiap sisinya ada bendera-bendera dengan kain bali. Ada kolam, ada rumput luas yang terawat, dan pohon-pohon besar mengelilinginya.

Aku sangat menyukai restoran itu, kuno, klasik, eksotis  campuran gaya Eropa dan Indonesia, dan sangat reflektif. Di setiap sudut ada lilin kecil, bunga anggrek dan aroma terapi. Poster-poster kuno berjejer dan lampu-lampu besar menggantung seperti gaya abad ke 19. Gelas-gelas anggur dan piring-piring besar dijejer di setiap meja, seperti menjadi bagian dari pesona restoran itu. Tapi teman fotograferku bilang, sayang ya terlalu gelap, remang-remang jadi kesannya mesum, dan agak horor. Aku menampik, kubilang, orang kita ini salah kaprah, menerjemahkan remang-remang itu tempat mesum, mengerikan, padahal remang-remang itu biasanya menjadi tempat berdoa, tempat bermeditasi, menenangkan diri, membaca dalam sunyi hanya dengan lampu baca, sungguh aneh aku melihat orang kita sendiri, mengaitkan segala yang gelap dengan urusan-urusan seksual dan mistik, demikian kataku. Temanku yang fotografer mengedipkan mata, agaknya dia belum paham maksudku. Dia tidak mengiyakan, tidak juga mengelak. Temanku satunya yang arsitek, dengan topi gaya koboinya, kemudian melanjutkan cerita lain, kami kemudian tertawa-tawa menceritakan betapa absurdnya keadaan Jakarta, terutama kemacetan dan lalu lintasnya.

Sampai pada sebuah perbincangan tentang hidup masing-masing. Aku bercerita betapa senangnya hidup di pinggir Jakarta yang masih banyak pohon, rumput, dan bisa bersepeda di sana. Dan aku hanya sekali-sekali saja ke Jakarta. Aku punya akses internet 24 jam apabila ada pekerjaan-pekerjaan dan tema-tema penting yang perlu aku ketahui juga berkomunikasi dengan orang luar. Mereka sedikit menganga dan bilang, wah untungnya suami dan anak-anak mbak nggak apa-apa ya. Aku bilang, tidak ada suami dan anak-anak adanya kucing lima ekor! Kali ini mereka menganga lebar, tetapi mata mereka bersinar, seperti ketemu ide baru. Wah asik juga ya hidup begitu mbak. Kalau saya, seandainya keluarga, tetangga, mertua, istri, tidak menekan saya untuk kerja kantoran, saya juga mau. Dulu saya kerjanya membuat robot-robot mainan, dan sempat di ekspor ke Singapur dan Malaysia, laku keras! Kerja saya dulu di rumah. Lalu aku tanya lagi, dibanding sekarang kerja di kantoran lebih banyak mana penghasilannya? Dia jawab, ya lebih banyak jual robot mainan! Kami tertawa. Jadi masalahnya adalah tekanan sosial. Bagi dia, sang arsitek, bekerja di rumah itu momok bagi keluarga dan masyarakat. Dan itu membuatnya tertekan. Lalu, aku tanya, kalau seandainya istri kerja di luar dan anda kerja di rumah, dan semua orang mendukung bagaimana? Dia jawab lagi, wah berat mbak bagi laki-laki kalau kerja di rumah sementara istri di luar. Duh, aku geleng-geleng kepala. Jadi kamu maunya apa mas, didukung salah, nggak didukung salah pula. Si arsitek ketawa saja, ketawa miris.

Sang fotografer, juga cerita soal hidup dan karirnya. Dia sibuk pontang-panting dengan mobil bututnya, membawa peralatan studio foto, yang biasanya dapat panggilan dari orang-orang yang mau pre- wedding. Banyak suka duka di pekerjaannya, terutama ketika mobil tak mau nanjak karena lokasi pre wedding di atas gunung, dan sang calon mempelai lelaki harus jalan kaki. Hahaha… kami tertawa. Setelah itu kami bicara tentang gaya hidup yang ideal. Mereka semua setuju dengan pendapatku, bahwa dalam situasi macet sekarang, perlu banyak perubahan rutinitas. Kami selalu tertawa-tawa saat bercerita bagaimana perjalanan dari Patung Pancoran sampai Jakarta Pusat saja bisa menempuh dua jam. Anjriiiit….  kata mereka dengan ekspresi yang lucu, sedih tapi mau bagaimana lagi. Aku bilang lagi, kita yang perlu menjadikan diri kita ini mau jadi siapa, jadi apa, bukan orang lain yang menentukan kita. Lalu mereka berdua mengangguk kencang. Tapi barangkali, sebagai laki-laki yang sudah berkeluarga, itu bukan jalan mudah. Mereka harus dan harus mengikuti jalan kebanyakan orang, supaya tidak dihina. Baiklah, aku kemudian bersyukur dengan diriku sendiri.


Tambun, 11-10-2014

http://www.myeyeisonfire.net/noah/index.html

Sabtu, 04 Oktober 2014

Jeda Hati Buat Negeri

Tak ada yang bisa diharapkan, bahkan ruang untuk kita sendiri.
Tak ada lagi harapan, karena kita sudah tidak berharap apa-apa lagi.
Tak ada lagi hati dan rasa, karena kita sudah bukan manusia lagi.

Bila sudah tak ada lagi manusia,
rasanya ingin berhenti sampai disini.
Bila perjalanan bukan lagi saling memaknai,
rasanya kita hanya buang hari-hari.

Jangan kau kejar bila aku lari, tak kan ada yang kau kejar lagi
Percuma memaki bila aku lari, negeri ini sudah tak pantas lagi
Jangan kau menghardik lagi, segala yang ku beri tak tersisa lagi
Buat apa kau tanya pendapatku lagi, bila demokrasi tak ada lagi.

Mengertilah getaranmu telah hilang terbagi
seperti prajurit yang tak siap berjuang lagi
Bersatulah pejabat negeri,
bersama-sama membunuh hati.

Lupakanlah hati, karena kau tak tau lagi.
Benamkanlah rasa, karena kau tak perlu lagi.
Siap-siaplah semua,
untuk memikirkan diri sendiri.
Tak perlulah aku menanti,
sebab sekarangpun kau sudah mati.

Bekasi Mati, 20 Juni 2011


Rabu, 17 September 2014

Bapak dan Katarak



Oleh: Mariana Amiruddin

Rumah Sakit itu milik pemerintah daerah. Dari puskesmas sebuah desa di tengah kota yang kosong tidak ada pasien itu, kami diberi rujukan untuk ke sana, untuk sebuah operasi mata bapak saya. Saya menemani dan membantu bapak untuk hal-hal kecil seperti mengurus administrasi, menelpon rumah sakit, membaca surat rujukan, memberi tahu dimana harus membubuhkan paraf dan tandatangan, dan berkas-berkas yang berlembar itu dengan masing-masing fungsi untuk kebutuhan legitimasi asuransi kesehatan. Untungnya, saya sudah biasa dengan pekerjaan administrasi, pekerjaan manajerial, dengan urusan surat-surat dan legalisasi-legalisasi. Dengan cepat saya mengurus dan membenahi urusan administrasi, mengklasifikasi berkas-berkas itu sambil menenteng-nenteng tas kulit Bapak buatan masa mudanya saat aktif berkantor. Tasnya sudah sobek-sobek. Tas yang awet disimpannya selama puluhan tahun.

Bapak saya ingin melihat jelas, bola matanya ada katarak. Pandangannya terhalang. Ia terganggu dengan itu. Ia tak mau menyerah dengan halangan itu. Ia ingin fungsi-fungsi inderanya tetap bekerja meski sudah lansia. Baginya lansia seharusnya bukan alasan. Hidupnya memang berpangku pada matanya yang teliti. Semangat hidup dan kerja kerasnya, bergantung pada matanya. Matanya yang membuatnya teliti menghitung angka, membaca koran mengikuti perkembangan zaman, mengisi kotak-kotak teka-teki silang, bermain kartu solitaire di komputer berjam-jam, dan membetulkan jam gandul yang berbunyi nyaring di ruang tamunya. Katanya supaya dia tak pikun. Saya setuju, lansia perlu terus putar otak supaya tak lekas pikun, harus banyak kegiatan yang disukainya.

Sejak saya tidak begitu sibuk bekerja, saya diberi kesempatan banyak untuk menemani bapak, meski sambil terkantuk-kantuk karena setiap hari mengalami insomnia. Saya bisa menjadi seorang supir, seorang pembantu, seorang sekretaris atau asisten untuk bapak saya. Sejak itu saya mulai kenal sifat-sifat bapak, dan sifat-sifat ibu lebih dalam. Dahulu mungkin saya tidak mengerti dengan sifat-sifat bapak yang keras, tetapi saya sekarang sudah lebih memahami. Sebab, terlalu lama dan bertahun-tahun saya jauh dari mereka, nyaris tidak ada komunikasi karena saya tak ingin apa yang menimpa saya mereka tahu, dan saya pantang meminta bantuan dan pertolongan dari mereka.  Saya tidak ingin menyulitkan mereka. Saya tahu menjadi orangtua itu tidak mudah, dan saya ingin mengurangi kesulitan mereka.

Saya baru mengenal mereka dengan dekat, ketika usia saya sudah mau empatpuluh. Ketika saya tidak lagi bekerja kantoran. Saya jadi belajar sabar, belajar mengasuh keluarga, sambil membayangkan bagaimana kalau saya sudah lanjut usia seperti mereka, siapakah yang akan membantu saya? Tapi tidak saya gubris khayalan itu karena saat ini yang penting adalah mereka dulu. Yang penting adalah membantu dengan tulus sebagaimana mereka membantu saya dengan tulus, sudah sedewasa ini masih saja saya masih menumpang makan. Saya masih jadi benalu karena itu saya memaksimalkan kemampuan saya untuk membantu mereka.

Rumah Sakit daerah itu tidak cukup ramah dengan pasien. Orang lanjut usia seperti Bapak bukan seperti umumnya, sebetulnya, dia ingin melakukan semua hal sendiri, tetapi dia butuh mata dan tenaga. Karena itu saya jadi mata dan tenaga bapak untuk sementara. Lansia menjadi seorang difabel, dan kita perlu memahami sudut pandang hidup mereka. Apalagi negara tidak memberikan fasilitas apa-apa yang mereka butuhkan supaya mereka mudah mengurus diri mereka sendiri. Sampai sana, poli mata katanya buka pukul 3 sore, tetapi pukul 3.30 belum juga datang, sampai akhirnya saya tanya berkali-kali pada suster, jawabnya malas-malasan, matanya selalu ke arah televisi, menonton sinetron. Mereka jawab tunggu saja biasanya datang jam 4 sore. Saya tanya lagi katanya jam 3 sore, lalu 3.30 dan sekarang jam 4 sore? Saya mulai marah-marah, lalu Bapak saya mulai sensitif, dia bilang apa kita pulang saja? Saya jawab jangan, kita tunggu, tanggung. Sepertinya kemarahan saya jadi memprovokasi perasaan bapak yang mulai putus asa.

Keponakan saya anak laki-laki yang kebetulan baru pulang dari Berlin,  dia belajar sambil bekerja di sana dan sedang liburan di tempat orang tua dan kakek neneknya. Kebetulan dia menemani juga, dia menggandeng kakeknya atau kakeknya memegang lengan cucunya. Keponakan saya tertawa-tawa melihat kelakuan saya yang sepanjang hari itu terus protes. Kita berdua diskusi bagaimana fasilitas rumah sakit menganggap semua orang sama, menganggap semua orang sehat sehingga bisa mengurus administrasi demikian ribet dilakukan oleh pasien yang sakit. Belum lagi soal parkir, seorang tukang parkir bilang tidak ada parkir, saya bilang saya bawa pasien, apakah ada alternatif. Tidak dijawab, tukang parkir tidak mau berpikir. Mungkin harusnya kita datang pakai ambulan atau nebeng mobil dokter, karena hampir semua lahan parkir diisi mobil dokter. Akhirnya saya minta Bapak dan keponakan saya turun duluan dan saya cari parkir di seberang, di depan toko kelontong, dan saya harus menyeberangi ibu ditengah lalu lintas yang padat dan mereka semua ngebut luar biasa tak peduli pada orang yang sedang menyeberang. Ibu saya juga mulai tak begitu melihat matanya, dan jalannya mulai lemah.

Setelah marah-marah itu, akhirnya saya lihat Bapak sudah tidak tenang menunggu saya dan Ibu. Ada beberapa berkas yang harus di fotocopy diantaranya surat rujukan dan kartu askes. Masing-masing empat kali juga ktp bapak. Untung semua persyaratan itu ada semua di tas kulit bapak yang tua itu. Sampai akhirnya bertemu dokter mata, dokter ini perempuan, asal dari Jakarta, saya suka dan cukup teliti orangnya, dan wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir dan sungguh-sungguh terhadap bapak, dan sangat melayani keluhan bapak. Kekhawatirannya itu ditunjukkan dengan memberikan surat rujukan kembali, supaya bapak berkonsultasi dulu dengan dokter penyakit dalam dan dokter jantung. Untuk operasi katarak, menurut dokter mata, pemeriksaan itu perlu supaya tidak ada risiko nantinya. Bapak saya langsung lesu karena dia ingin sekali cepat dioperasi kataraknya. Saya bilang sabar, ini persyaratan bagus artinya dokter bertanggungjawab dengan kondisi bapak. Tapi sayangnya, Rumah Sakit itu tidak membolehkan kami langsung konsultasi kepada dokter penyakit dalam dan dokter jantung sekaligus. Pihak Rumah Sakit meminta satu konsultasi dokter, satu hari. Belum lagi harus periksa darah terlebih dahulu. Jadi untuk melalui tahapan boleh tidaknya operasi katarak, kami harus bolak-balik ke Rumah Sakit selama 5 hari berturut-turut.

 Periksa darah. Bapak masuk ke ruang laboratorium. Dia sudah pengalaman dengan penyakit dan dokter sejak usia 40. Dia pernah diterima di kedokteran tetapi keluar karena tak kuat melihat darah. Dia bilang pada suster, supaya suntikan jangan di lengan kanan karena sulit dapat darah di situ, bapak minta lengan kiri. Tapi suster tak mau dengar, dan betul sulit di lengan kanan dan bapak kesakitan. Akhirnya suster menurut dan benar lebih mudah ambil darah dari lengan sebelah kiri. Saya mulai kesal.

Setelah laboratorium memeriksa, satu jam kemudian hasil darah langsung keluar. Bapak saya terlihat senang. Satu tahap beres. Dan dari hasil darah itu bisa dilihat apa saja yang ditemukan. Dokter minta pemeriksaan pada kasus diabetes, jantung dan ginjal. Bapak saya memang ginjalnya tinggal berfungsi 20% tapi semangatnya masih 100%. Dia agak tegang melihat hasil darah itu, saya diminta membacanya. Sayangnya saya tidak mengerti bagaimana membacanya. Tetapi saya akan cepat mengerti. Saya akan ikuti terus perjalanan dunia rumah sakit dan dokter ini. Barangkali suatu saat saya sudah memahaminya, barangkali saya nanti akan sering sakit dan saya bisa mengurus diri saya sendiri karena belajar dari bapak. Barangkali. Terimakasih Bapak dan Ibu, sering sekali membuat saya belajar untuk tidak menyerah. Belajar untuk melakukan segala hal sendiri meski dalam keadaan lemah. Belajar untuk tidak merengek melihat kehidupan. Belajar untuk tidak mudah patah, menjadi baja di setiap keadaan. Belajar untuk kritis, tetapi tidak mudah kecewa dan sering memaafkan..

Tambun, 18 September 2014






Selasa, 09 September 2014

Minyak



Oleh: Mariana Amiruddin


Hari ini saya terganggu sekali dengan rapat tadi siang. Ini sekedar catatan kecil untuk membuat saya merasa lebih baik dan lebih sabar menghadapi banyak orang. Mungkin tidak semuanya sesuai, karena saya hanya mengandalkan ingatan, dicampur kesal dan jengkel. Kadang menulis itu menjadi obat saya untuk lebih tenang menghadapi ketololan.

Rapat ini tidak jelas formatnya, dan kami diundang sebagai narasumber. Yang hadir banyak media. Saya dan teman-teman datang terlambat karena ternyata diberikan alamat yang tidak tepat, kami tersesat keliling-keliling di daerah Jakarta Selatan. Untuk ini saja energi saya sudah keburu habis, kehabisan nafas ditengah kemacetan dan perjalanan yang tak sampai-sampai. Akhirnya kami ketemu tempat rapat itu, dan ternyata ini undangan meminta kami bicara soal pengarusutamaan gender, hubungannya dengan pemerintahan baru, tapi yang diundang rata-rata dari media nasional. Jadi temanya tidak fokus, tetapi ingin menjaring laporan dari teman-teman media tentang bias gender yang menyebabkan pelaksanaan pengarusutamaan gender terhambat dan media dianggap sebagai pihak yang strategis untuk isu ini? Aduh, saya begitu dengar dan duduk langsung pusing. Hal-hal yang tak nyambung, terburu-buru menarik garis dan dipaksakan itu membuat kepalaku pusing. Lagipula sebetulnya saya agak malas dengan rapat-rapat seperti ini, meski demikian saya sudah membuat makalah, sudah mempersiapkan position paper hasil kerja jaringan, tentang argumen rancangan kabinet untuk perempuan, untuk memudahkan presiden melaksanakan pencapaian target pengarusutamaan gender.

Tapi saya kecewa sekali karena moderator di depan saya ini, belum selesai saya menjelaskan tentang kewenangan insitusi pemerintah yang akan memperhatikan nasib perempuan Indonesia, sudah dipotong dengan mengatakan begini, “Maaf ya mbak, saya sebenarnya tidak enak bicara begini karena saya laki-laki, tapi presiden itu banyak kerjaan, jadi urusannya bukan hanya perempuan.” Lalu forum itu menyatukan isu perempuan dengan isu kemiskinan. Saya bilang, kalau bicara soal perempuan kenapa ada kata “tidak enak sebagai laki-laki”? Kemudian, saya menambahkan bahwa setengah penduduk kita itu perempuan. Dimanapun anda berada disitu ada perempuan, ibumu, kakakmu, adikmu, kawanmu. Setiap golongan apapun disitu ada perempuan. Lalu dia menyangkal begini, “Semua golongan ingin kuota, ingin dimasukkan isunya dalam pemerintahan, menurut saya isu perempuan digabungkan saja dalam isu hak asasi manusia, termasuk digabung dengan isu kelompok minoritas dll.” Saya bilang, perempuan itu mayoritas sebagaimana laki-laki, kami bukan minoritas. Saya balik bertanya, apa yang anda ketahui tentang pengarusutamaan gender? Dia tidak bisa jawab. Saya bilang, bila anda tidak mengerti apa itu pengarusutamaan gender, mengapa anda dengan ngototnya bicara tentang hal yang tidak anda mengerti?  

Lihatlah reaksi orang-orang itu, pertama, mereka mengangkat isu pengarusutamaan gender lalu mengundang kami, tapi tahu-tahu yang hadir media, dan diminta untuk hanya bicara seputar peran media. Mereka tidak tahu konsep gender, mereka tidak mengerti bagaimana cara mengerjakan tema itu, lalu kami mau jelaskan, tetapi mereka menolak penjelasan kami. Mereka mengundang kami sebagai ahli gender, tetapi mereka menolak penjelasan kami dengan alasan presiden banyak kerjaan, urusannya bukan hanya perempuan, seolah-olah perempuan itu dilepaskan dari urusan masyarakat sipil, yang akan menjadi urusan pemerintah juga, seakan-akan dia benda asing yang ada di luar obrolan soal pemerintahan dengan tata kelola yang baik, seolah-olah segala bidang kehidupan itu netral gender. Mereka menganggap gender itu adalah isu-isu perempuan, dan sangat sempit seputar perkosaan, pelecehan, kemiskinan. Astaga! Bagaimana bisa arus utama kalau orang-orang ini memperlakukan isu gender dan masyarakat perempuan dalam sebuah alienasi?

Hal terburuk lainnya adalah mereka melakukan penilaian-penilaian terlebih dahulu sebelum penjelasan selesai. Mereka menjadikan segala sesuatu adalah angka. Bukan manusia. Bahkan penjelasan kami dan beberapa teman diberi penilaian misalnya sambil bisik-bisik sesama temannya,“Saya suka pendapat bapak yang itu.” Sialan, memangnya anda juri Indonesian Idol, menunjuk penyanyi yang menjadi kategori terbaik anda? Mereka memposisikan diri seolah-olah juri atas nama pemerintahan baru! Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah relawan. Tapi perlakuan mereka bak suara calon presiden atau pemerintahan baru itu sendiri. Kalau jujur saya mau katakan, saya ini seperti berhadapan dengan pedagang showroom mobil, dan seolah saya ini mau jual mobil ke mereka dan mereka melakukan penawaran dengan sangat rendah, padahal mereka belum tahu mobil yang mau saya jual itu seperti apa. Bedebah betul orang-orang ini, dan sungguh ke depan yang saya pikirkan adalah, betapa kita ini seperti minyak yang diletakkan di atas air dan kami terus menerus tak pernah bisa menyatu dengan mereka.. Kami, perempuan-perempuan ini, kalau bicara tegas dan keras, seolah-olah kami ini sedang meminta beras dan barang-barang sembako lainnya. Saya bilang bukan seperti itu kami ini, kami bicara logic! Soal pemerintahan dan bagaimana mesin pengarusutamaan gender itu penting kita rumuskan dimana dia diletakkan! Sungguh panjangnya perjuangan perempuan, mungkin sampai anak cucu kitapun belum terwujud selama mereka tidak mendengarkan, selama mereka menganggap kita adalah minyak yang mengapung di atas air!

Tambun, 9 September 2014


Minggu, 07 September 2014

Surat Cinta Untuk Tan

Oleh: Mariana Amiruddin

Aku punya janji membuat surat cinta ini untuk seorang teman yang sudah belasan tahun tak aku temui. Seorang sahabat yang sangat singkat. Pertemanan itu terjadi dengan tiba-tiba, saat kami masih sama-sama belajar dan meraba cita-cita. Karena setelah itu dia pergi, untuk selama-lamanya. Seorang yang pertama kali bertemu dan begitu banyak kecocokan (bukan kesamaan). Setiap bertemu kami selalu punya visi, punya privasi, duduk berdua di tempat yang kami suka, munum anggur dan menghembus asap yang menyelimuti wajah kami, orang lain tidak perlu tahu, hanya kami yang tahu. Waktu itu tempat tinggal kami berdekatan, di daerah yang selalu terkena banjir. Hanya waktu itu belum terlalu parah, rumah kami belum sampai tertelan. Setiap kali janjian, kami gantian menjemput atau mengantar. Seperti anak sekolah. Kami gadis-gadis penyendiri yang bertemu dalam sebuah pikiran dan gelombang yang pas, yang tidak populer di kalangan usia kami waktu itu. Kami sama-sama merasa terasing, dan perbincangan kami nyaris tidak dimengerti oleh teman-teman lain, hanya kami yang mengerti perbincangan kami.

Dari puluhan tahun aku hidup, aku baru pertama kali menemukan seorang sahabat di masa itu. AKu jadi mengerti arti persahabatan, sebab aku hampir tidak pernah punya sahabat. Sejak kecil hidupku berpindah-pindah. Setiap kali punya sahabat erat dan aku sedang bahagia-bahagianya, saat itupula aku  harus pindah ke daerah lain dan kami belum punya tradisi surat menyurat karena usia kami masih kecil sekali. Aku tidak punya sahabat, sebaliknya, aku punya banyak musuh. Musuh dalam arti, orang-orang yang tidak bisa mencapai apa yang aku maksud, artinya, bagaimana kedalaman yang abstrak itu terlampaui sehingga membuatku bahagia bila berbincang dengan seseorang. Artinya, musuh itu adalah bagaimana mereka menganggap aku orang aneh. Artinya, musuh itu adalah dalam jarak sekian aku sudah merasa tidak nyaman dan ingin pergi begitu jauh dari mereka.

Tan, adalah sahabatku, karena dia bisa menggali kedalaman liang jiwa dan pikiranku, seperti lorong panjang gelap yang sulit menemukan cahaya. Tan bisa mencapai cahayaku. Kami masih sangat belia waktu itu, masih belajar hidup, masih menganggap orang lain itu membingungkan, masih melihat laki-laki itu melelahkan. Tetapi aku mengakui bahwa Tan lebih dewasa daripada aku, aku adalah anak perempuan yang begitu dilindungi, Tan adalah anak perempuan yang dididik kuat, ia lahir dari sejarah perbincangan dunia, tentang kanan dan kiri, tentang buku dan ideologi, tentang sastra dan tulisan. Ia begitu terbuka. Ia kagum pada ayahnya yang mengenalkannya banyak bacaan dan sejarah kelam bangsanya. Aku, lahir dari keluarga yang sangat melindungi segala kekejian di luar rumah, aku tidak tahu apa-apa, aku bahkan dilarang bertemu laki-laki, aku dipingit, aku tak boleh genit, tak boleh bersolek, aku tumbuh sebagai anak baik-baik yang tidak pernah bergaul. Aku tumbuh besar tetapi tetap seperti kanak-kanak, yang hidup di lingkungan yang sangat nyaman. Untungnya aku tidak dilarang untuk berimajinasi seluas-luasnya. Aku kemudian sering “mengurung diri dalam kamar” menulis dan menggambar berjam-jam. Aku menulis tentang diriku sendiri dan hari-hariku di sekolah, kampus, tempat kerja, atau di terminal. Aku sering menggambar ekspresi-ekspresi tak lazim di majalah-majalah atau potret kecilku sendiri, dan sesekali kupamerkan ke orangtuaku. Tetapi tulisan itu, sama sekali tidak aku pamerkan, tetapi ibu sering mengintipnya diam-diam. Semua tulisanku itu seperti kotak pandora. Sekali dibuka dan mengetahu isinya, barangkali ibuku bisa pingsan bahwa anaknya adalah seorang perempuan berambut ular. AKu adalah medusa yang mungkin akan dianggap pendosa, yang sebetulnya meskipun di dalam kamar berjam-jam, telah banyak pengetahuan yang kumiliki karena tertolong oleh imajinasi yang tinggi.

Tan, adalah representasi dari imajinasiku tentang seseorang yang menjadi pengganti catatan harianku. Tan adalah penyeimbangku kala berbincang dan bertukar pikiran. Tan dan aku bicara apa saja, dan kata-kata yang dikeluarkannya seperti obat bagiku. Atau kata-kata yang aku keluarkan lalu bagaimana kami saling menanggapi dan perbincangan terus melesat bagai kilau cahaya bulan. Kalau ditanya apakah aku memilih seorang kekasih atau sahabat, aku jujur mengatakan bahwa aku lebih baik memiliki seorang sahabat seperti Tan daripada punya kekasih seperti Ben. Aku sama sekali tidak tertarik untuk pacaran di usia yang matang itu, dan aku bahagia punya sahabat satu-satunya yang bisa mengimbangi segala  kesendirianku di dalam kamar. Hal lainnya adalah, aku tidak perlu  khawatir karena hidupku sudah tak berpindah-pindah lagi. Selain rumah kami berdekatan, kami juga punya kendaraan, catatan-catatan tulisan, dan buku-buku kesukaan.

Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Dalam ujung diskusi yang panjang itu, Tan akhirnya membuka rahasia bahwa ia sebetulnya tidak betah tinggal di negara ini, ia punya daftar keburukan bangsa ini yang tak mungkin lagi diubah, dan tidak adanya masa depan baginya sehingga itu membuatnya bersikeras untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Diskusi politik, sejarah, waktu itu memenuhi perbincangan kami, berbagai alasan bahwa Tan tidak mau lagi tinggal di sini. Tentu saja aku sedih sekali. AKu lagi-lagi sedih sekali. Mengapa Tuhan tidak bisa memberiku usia persahabatan yang panjang? Mengapa Tuhan terus membiarkan aku sendiri?

Sampai di bibir waktu menjelang kepergiannya, kami berdua berkeliling saat malam takbiran dimana keadaan jalan begitu macetnya, begitu bisingnya. Kami banyak berhenti di tengah-tengah keramaian itu. Hujan deras tiba-tiba datang. Dalam kemacetan, semua kendaraan berhenti. Lalu apa yang kami lakukan, kami memutar lagu tentang perpisahan, tentang jarak yang begitu jauh, jarak yang akan dihabiskan oleh musim. Dan, lepas kepergiannya, benar bahwa pergantian musim membuatku lelah menantinya pulang. Ia bertemu belahan jiwanya di sana, seorang laki-laki tampan pintar yang setia dan menyukai hewan, seperti pangeran yang dengan cepat ditemukannya. Ah, Tan. Kupikir itu hanya mitos di film Cinderella, tetapi nyatanya ada. Tapi kupikir tentu saja itu setimpal untukmu Tan, karena sebelumnya penderitaanmu begitu panjang dan kau begitu sabar. Dan perbincangan kita waktu itu jadi banyak hal soal relasi dengan orang yang kita kasihi. Aku memberinya semangat supaya ia pergi dan tak mengingat orang itu lagi, mencari kehidupan baru, melanjutkan sekolah, ah, irinya aku sekarang melihat bagaimana ia bahagianya sekarang. Irinya aku bahwa ternyata aku tak mampu melakukan itu, melompat ke dunia yang sama sekali lain. AKu masih dihantui oleh jejak-jejakku terdahulu yang begitu terlindungi namun disisi lain penuh petualangan. AKu ingin seperti kamu belasan tahun yang lalu, Tan.  AKu ingin pergi sejauh-jauhnya dan hanya bintang yang bisa kita lihat.

Dulu kau selalu mengagumiku karena kuat, selalu berjuang, selalu kritis, selalu gelisah, selalu marah, dan melawan dalam keadaan apapun. Tan kagum padaku katanya keberanianku tak pernah habis. Benar Tan, itu benar, keberanianku ada tetapi keberanian apa bila hidupmu kosong belaka, hidupmu hanya menjumpai hal-hal yang sama. Atau hidupmu terjebak dalam perangkap-perangkap budaya dan manusia yang serupa. Keberanian apa yang bisa aku hadirkan saat hidup ini mulai terasa bosan?

Aku masih menyimpan suratmu yang dulu itu Tan, pertama kali kau menginjak negeri orang. Waktu itu aku sedang membuat Novel sejarah Tuan Tan-Malaka. Kamu begitu ingin tahu, kamu selalu menghubungiku. Sudah lama sekali. Semoga kamu masih ingat. Tapi kemudian semuanya hilang saat negeri ini banyak bencana alam, bencana politik, bencana manusia. Aku terhempas bersama catatan-catatan novelku, aku kehabisan tenaga untuk melanjutkannya. Masih ingatkah kamu Tan? Aku menyuguhkan kembali di bawah ini suratmu dulu itu.

Dear May,

Menuliskan sesuatu untukmu tidak pernah sulit. Sama halnya seperti kesal bersamamu. Bukankah itu yang selalu terjadi? Kita berbincang ketika kesal, ketika gelisah, ketika marah? Jarang kita bersama ketika kita terbahak-bahak. Tawa yang akrab adalah seringai sinis.  

Aku merindukan kehadiran dan kemarahanmu. Hembusan asap rokok dari mulutmu yang tidak pernah habis. Gambaran yang terlalu lengket di kepalaku. Mungkin kau sudah berubah. Semakin cantik atau sedikit tenang. Tapi itulah kau di mataku: perokok yang omelannya tak pernah pudar dari kupingku. Mungkin diam-diam aku mengharapkan kita masih saja sama. Sama-sama pemarah yang suka menghisap darah. Apalah artinya teman tanpa ingatan akan yang dulu? 

Kau kecewa pada negeri. Berlindung pada harapan akan kebangkitan seorang Tuan yang kau kagumi. Tuan yang tersingkirkan. Tuan yang tak bisa kau jelaskan dengan deskripsi. Tuan yang hanya pantas kau uraikan dalam narasi, katamu. Aku tak kenal Tuan ini. Tapi aku mengenalmu. Setidaknya aku berpikir begitu. Seorang Nona bermata sipit yang akan bernarasi dalam sentuhan-sentuhan gairah yang diselimuti kegelisahan. 

Kalau kau kecewa pada negeri, aku kecewa pada nurani. Kemanakah nurani membawa kita pergi? Ke got-got memori, mungkin. Atau ke panasnya matahari. Yang membakar semua sisa-sisa optimisme akan hilangnya kedangkalan – kedangkalan yang akut, mengutipmu. Atau kesenjangan yang berakar, menurutku. Kadang kekecewaan itu berujung pada jalan buntu. Pada rasa lelah yang menyeluruh. Letih yang terus-menerus mengunyah badanku sampai habis. 

Bagaimanakah seharusnya manusia berpikir, Nona? Bagaimana caranya menyingkirkan mitos-mitos yang tertanam di benak? Bukan hanya mitos mengenai perempuan, laki-laki, dan penciptaan manusia. Bukan hanya mitos mengenai hakikat baik dan buruk. Bukan hanya mitos mengenai kesucian akhirat – tapi juga mitos mengenai keagungan dunia: mengenai emas, permata, dan kejayaan para kaisar. Mengenai tangga-tangga yang dapat dipanjat dengan usaha keras. Mengenai lapangan bermahkotakan kesempatan yang terbuka lebar bagi mata-mata jeli. Mengenai pikiran positif dan rasa syukur yang membawa manusia pada kebahagiaan. 

Kadang aku sendiri tak lagi bisa berpikir. Lupa bagaimana caranya berpikir. Aku hanya bisa melihat dan menduga-duga. Mendengar dan mendengar berulang kali. Mengutuk tanpa tujuan.  Maka biarkan aku mendengarmu. Membayangkan kau melewati bangkai-bangkai hewan dan melaju menuju sebuah lembah sunyi. Merangkul marah dan gelisahmu. 

Biarkan aku mengamati gerak-gerikmu. Menduga-duga apa yang ada di benakmu. Menikmati cerita-ceritamu dan mengutuk bersamamu. 

Kutunggu. 

Salam hangat, Tan  


Lihatlah Tan, begitu bercahayanya kata-katamu, amarahku yang kau tangkap, membuatnya padam. Membuatku tenang. Aku rindu setengah mati padamu. Bumi semakin tua. Kita pun begitu. Apakah masih ada waktu bagiku untuk lebih dahulu pergi sejauh-jauhnya? Apakah masih cukup bagiku untuk melanjutkan hidup dan cita-cita? Aku tidak tahu Tan, aku hanya tahu masa lalu. Aku tidak tahu kemana lagi setelah ini, kecuali mengingat hari-hariku bersamamu, dalam dunia yang sepi, dan akan terus membekas di relung jiwa, tulang dan darahku.

Salam hangat,
Di bawah Purnama, 8 September 2014