Rabu, 02 Juli 2014

Memoar “Jokowi adalah KITA”



Oleh: Mariana Amiruddin


Jokowi adalah saya. Maksudnya bukan saya seperti Jokowi, tetapi representasi Jokowi sebagai nilai, telah ada dalam memoar hidup saya. Bagaimana mengatakannya? Saya ingin bercerita panjang sekali tentang masa kecil saya, semoga tidak bosan membacanya.

Saya lahir di Jakarta, Indonesia, dan tinggal di Indonesia sampai sekarang. Saya tidak pernah tinggal di luar negeri, dan merasakan langsung sepanjang hidup saya tentang bagaimana menjadi orang Indonesia, sejak kecil hingga dewasa, pindah dari daerah ke daerah, merasakan langsung dampak-dampak kebijakan pemerintah dan kondisi sosial masyarakat atas kehidupan saya sampai saat ini.

Saya anak dari keluarga mampu (bukan keluarga kaya), namun Ayah dan Ibu saya dulu sempat mengalami kesulitan hidup (biasanya disebut miskin), membeli pakaian saja sulit, apalagi membayar biaya sekolah. Nenek dari Ayah saya hanya seorang guru, dan Kakek dari ayah hanya seorang pegawai negeri bidang keuangan pada waktu itu gajinya kecil sekali. Ayah dan Ibu saya ingin nasibnya berubah. Waktu muda, Ayah sering melihat ke tetangganya yang kebetulan keturunan Tionghoa, mendengarkan anak-anak mereka bermain piano. Denting piano yang terdengar dari dalam rumah keluarga keturunan Tionghoa menggugah Ayah saya untuk mencapai cita-cita, kalau orang lain bisa sukses, mengapa kita tidak bisa sukses? Ayah berikrar ingin keluar dari hidup susah dan serba sulit. Dan prinsipnya, bagi orang tidak mampu sepertinya, untuk menjadi sukses jalan satu-satunya adalah belajar sungguh-sungguh, bekerja keras, berhemat dan tidak hidup berlebihan.

Sejak itu Ayah menghabiskan masa mudanya dengan belajar keras dan berhasil membiayai sendiri sekolahnya, hidupnya sangat hemat, ia mengelola uangnya sendiri dengan sangat ketat, sampai akhirnya hidupnya mulai maju sedikit demi sedikit, dan bertemu dengan Ibuku, anak pertama dari delapan bersaudara dan semuanya perempuan. Sebagai anak pertama Ibu harus sering mengalah demi adik-adiknya. Karena tidak mampu membeli baju, ia menjahitkan baju adik-adiknya, kadang-kadang diambilnya dari kain gordyn rumahnya dan disulapnya menjadi gaun yang bagus untuk adik-adiknya. Kakek dari Ibu saya hanya pegawai negeri bidang keuangan di Institut Pertanian Bogor, gajinya tidak begitu bisa menjanjikan pemasukan yang banyak untuk kedelapan anaknya. Nenek dari Ibu saya, adalah perempuan yang terkena penyakit gondok karena kurang gizi, dan Ibuku waktu kecilnya tidak minum ASI, nenek tidak mengeluarkan ASI karena kondisi kesehatannya. Nenek hanya bisa menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Belanda. Bahasa Indonesianya terbata-bata. Ketika beranjak dewasa, Ibu sempat bekerja di perpustakaan IPB waktu itu, dan gaji yang dia dapatkan digunakannya untuk membelikan tas untuk ibunya, dan hatinya puas bisa membahagiakan orangtuanya yang tidak mampu. Sampai akhirnya Ibu bertemu dengan Ayah saya, bertemu di Bogor saat Ayah masih tinggal di asrama tempatnya belajar, kota yang masih sejuk waktu itu.

Karena ayah sering dinas pindah dari kota ke kota, saya termasuk anak yang pendiam, sering mengkhayal dan mengamati orang. Sering mencatat dan merekam diam-diam dalam pikiran. Saya adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Saya dibentuk sebagai anak yang serius dan harus cepat beradaptasi, mandiri, bergaul dengan orang-orang berbahasa yang berbeda suku, dan saya sering menjadi orang asing di antara mereka. Saya dikenal sebagai anak Jakarta yang kadang ceria, kadang pendiam. Ada yang membenci saya, ada yang menyukai saya. Sepanjang masa kanak-kanak, saya tidak banyak teman karena keterasingan. Banyak bertemu berbagai suku dan agama. Waktu tinggal di Makassar selama 5 tahun sejak taman kanak-kanak saya di sekolah Katolik, saya banyak bertemu anak-anak daerah, maupun anak orang luar negeri yang tinggal di Indonesia seperti dari Jepang, Amerika dan Eropa. Saya sangat pendiam dan begitu asing dengan anak-anak di sekitar saya. Tapi guru-guru menyukai saya, dan rata-rata mereka orang Ambon dan berbahasa Belanda. Keberagaman itu mendamaikan saya, saya senang sekolah di sana. Tapi di rumah, hidup saya lebih banyak dengan saudara-saudara dan hewan-hewan seperti kucing dan anjing yang kebetulan datang ke rumah saya, rumah dinas Ayah saya yang luas halamannya. Hewan-hewan itu kami pelihara. Setelah itu saya ikut keluarga pindah ke Madiun, Jawa Timur. Tidak semua cerita bahagia dalam masa kanak-kanak saya.

Waktu di Jawa Timur, tepatnya di Madiun, saya masuk Sekolah Dasar Negeri kelas 4 dan kelas 5, meskipun rumah begitu nyaman dan banyak sekali pohon buah-buahan yang kami santap gratis setiap hari, sekolah tidak begitu ramah pada saya, baik guru-guru maupun teman-teman. Mereka berbahasa Jawa, sering diam-diam menggunjing saya dan mereka tahu saya tidak mengerti. Saya diajak ikut arisan oleh teman-teman waktu SD, saya tidak mengerti apa itu arisan, lalu ketika dikocok gulungan kertas arisan, nama saya keluar duluan, dan saya diberikan uang arisan. Saya tidak mengerti mengapa uang teman-teman diberikan kepada saya, itukan bukan uang saya? Lalu saya kembalikan. Teman-teman saya bilang saya bodoh, kata mereka, sudah beruntung dapat uang arisan malah dikembalikan. Lalu saya pergi dan mereka mengulang mengocok arisan. Saya tidak mengerti dan tak ada yang menjelaskan. Saya tidak mau bertanya karena saya tidak bisa bahasa Jawa. Waktu saya ikut teman-teman membuat masakan, saya dilarang keras oleh teman-teman ikut serta di dapur. Mereka bilang, nanti tangan saya jadi kasar. Saya dibilang orang kaya, orang Jakarta, seharusnya tidak melakukan hal-hal yang hanya dilakukan orang miskin dan orang desa. Saya tidak mengerti. Saya pergi dari mereka, saya pulang.

Di Madiun saya suka sekali bersepeda, masa kecil saya banyak bersepeda, berenang dan bermain layang-layang, atau berpetualangan ke tempat-tempat terpencil bersama keluarga. Jauh-jauh saya kayuh sepeda berkeranjang. Saya tidak punya teman, apalagi sahabat. Semua menganggap saya orang asing yang aneh. Tapi saya tidak terganggu dan menemukan apa yang saya suka. Saya menyukai tempat sepi, bahkan lahan kuburan dekat rumah dan Masjid yang membuat saya sangat tenang dan damai. Saya sering mengayuh sepeda ke sana. Waktu saya ikut Pramuka, saya tidak pernah takut dengan kuburan. Saya dibilang aneh karena tak ada rasa takut.

Kejadian-kejadian tidak enak kemudian datang ketika belum setahun saya sekolah di sana, beberapa teman memanggilku “Cino Londo”. Saya bingung, lalu bercermin apa yang membuat mereka bilang begitu ke saya. Saya melihat di cermin, kulit saya putih, mata saya sipit, dan rambut saya tampak kemerahan (cokelat muda). Selanjutnya, saya dibilang Cina Singkek. Katanya singkek itu pelit. Kadang mereka bilang saya Wong Sugih, yang artinya orang kaya karena saya dianggap orang Jakarta. Waktu pulang sekolah, saya menuju ke parkiran sepeda di belakang sekolah ternyata ban sepeda saya dikempiskan. Saya menuntun sepeda sampai rumah tanpa ada rasa marah dan lelah. Saya hanya tidak mengerti. Esoknya lagi, ketika saya bersepeda, saya ditendang dari belakang oleh seorang murid sekolah laki-laki yang tidak saya kenal, dia memanggil-manggil saya “Cina Singkek, Cina Singkek” dengan matanya yang dendam. Saya jatuh, dan kakak laki-laki saya, yang kebetulan di sekolah yang sama melawan anak itu, tetapi saya diam saja dan masih saja tidak mengerti.

Kelas 6 SD, pindah ke Jakarta. Betapa ruwetnya kota ini. Saya tidak suka. Saya harus berlarian naik bus metro mini, dan mikrolet, kaki saya yang satu belum naik, bus sudah jalan kencang. Suatu hari saya mengetuk atap bus sebagai tanda berhenti, saya mau turun, tetapi supir tetap melaju kencang. Saya bahkan pernah hampir terjepit diantara bus PPD, mungkin sedikit lagi saya mati. Karena ketukan tanda berhenti saya tidak dipedulikan, saya nekat mengancam ke kondektur bus, bila terus melaju kencang saya akan melompat. Kondektur bus tidak peduli. Dalam hitungan tiga detik saya melompat keluar dari bus yang sedang melaju kencang, dan saya terlempar ke udara sampai akhirnya mendarat di aspal, sepertinya lutut dan siku saya terseret jauh dan terasa sekali betapa kasarnya permukaan aspal jalanan. Dan saat terbang di udara itu, saya mendengar orang-orang malah berteriak eaaaaa…. Lalu mereka tertawa-tawa melihat tindakan saya yang dianggap bodoh. Saya sadar bahwa saya sudah mendarat di aspal dalam posisi telungkup, dan saya tidak merasakan sakit secara fisik, tetapi saya merasakan kecewa dan sakit hati. Saya merasa harus tegar dan tidak boleh tampak lemah. Saya sadar ini Jakarta, jangan harap ada yang membantu dan mengasihani saya. Saya langsung berdiri tegap seperti tidak ada apa-apa. Ternyata bus yang saya naiki tadi berhenti, mungkin punya rasa takut juga kalau saya mati kena geger otak. Kondektur bus berlarian ke arah saya sambil bertanya “kamu tidak apa-apa?” tapi saya tidak menoleh sedikitpun. Saya berdiri dan berjalan dengan gagah sambil meninggalkan kondektur dan orang-orang yang menertawakan saya. Banyak dari mereka adalah laki-laki dewasa. Saya berjalan dengan seragam saya yang kotor terseret aspal. Saat berjalan gagah begitu, ternyata darah banyak mengucur dari siku dan lutut saya. Luka yang dalam. Tapi lebih dalam luka hati saya. Saya berjalan terus sekuat tenaga, sampai akhirnya saya masuk ke jalan kecil menuju rumah. Orang-orang memperhatikan saya yang berlumuran darah, tapi mereka tidak peduli, sayapun mulai belajar tidak peduli. Sampai pagar rumah saya terisak menahan tangis. Saya buka pintu rumah, dan saya langsung roboh dan menangis menjadi-jadi. Orang-orang rumah menyambut saya dengan sangat terkejut… saya dipeluk. Rumah menjadi tempat saya menangis. Saya tak akan tunjukkan tangisan saya di luar rumah.

Saat sekolah di Jakarta teman-teman saya di SD bahkan sampai SMP melihat saya seperti orang desa. Benar, saya lama hidup di daerah, orang daerah bagi mereka seperti orang desa. Bahasa mereka berbeda, kalau memanggil pakai kata lu-gue. Kelas 6 SD, teman-teman perempuan saya sudah tertarik dengan laki-laki, begitu pula sebaliknya, di antara mereka sudah banyak yang pacaran. Saya tidak mengerti, sebab saya pikir kelas 6 SD itu masih kecil, dan saya belum puas dengan masa saya bermain-main. Bagi saya pacaran itu hanya untuk orang dewasa. Barangkali karena keluarga saya sangat protektif, sehingga orang asing bagi saya tidak bisa dipercaya, di luar sana bukan tempat yang aman, apalagi pacaran. Selain karena hidup berpindah-pindah membuat mental saya jadi pendiam dan penuh waspada dengan orang-orang baru. Teman-teman kelas 6 SD saya di sekolah waktu itu sudah berpakaian modis-modis, sudah tahu fashion, sudah tahu mana cantik mana jelek. Saya merasa saya orang jelek karena tidak pandai berdandan seperti mereka. Laki-laki teman sekolah saya juga sering mellihat saya aneh karena saya katanya tomboy sekali, rambut saya pendek sekali, karena memang potongan saya sangat kelaki-lakian, maksudnya biar praktis jadi tidak merepotkan orang tua dan tidak perlu banyak belanja, atau mungkin karena saya tidak punya selera apa-apa selain merasa saya masih anak-anak.

Lalu dari cerita panjang di atas, apa hubungannya dengan Jokowi?

Pertama, saya pernah hidup di daerah, dan orang Jakarta menyebut saya orang desa, orang kampung. Sementara, orang daerah menyebut saya orang kota, orang Jakarta, orang kaya. Kedua, saya pernah dijuluki “Cino Londo”, “Cino Singkek” dan saya mendapat perlakuan keji karena panggilan ini, karena mata saya sipit dan kulit saya putih. Saya tahu betul rasanya diolok-olok karena kulit dan mata saya yang berbeda dengan mereka. Mereka begitu benci dengan Cina, dengan kulit saya. Ketiga, sikap polos dan jujur saya dianggap bodoh. Saya menolak uang arisan, saya melompat dari bus karena tidak mau berhenti. Tetapi, karena kekecewaan-kekecewaan dan sakit hati saya itulah saya menjadi siap mental bila mendapatkan olok-olok.

Ketika dewasa, saya baru tahu bahwa satu-satunya yang membuat kita percaya diri adalah menjadi orang yang berpengetahuan, berkarya, dan memiliki pendapat sendiri, serta tidak terpengaruh dengan orang lain. Menjadi diri sendiri akhirnya keputusan saya saat dewasa, karena saya merasa tak mungkin mengikuti gaya orang lain. Bahkan tidak jarang saya kena fitnah di sekolah waktu di daerah, hanya karena saya dianggap orang Cina. Kertas ulangan saya ditukar, dan nama saya dicoret. Bahkan guru saya membiarkan. Nilai saya sembilan, dan teman saya lima. Ditukar nama saya jadi nama teman saya, jadinya nilai saya yang lima, nilai teman saya yang sembilan. Guru saya malah mengolok-olok mengatakan saya bodoh. Orang Jakarta katanya sombong, kaya dan bodoh, apalagi orang Cina, pantas diperlakukan demikian. Saya tidak menangis. Saya diam saja, saya tidak mengerti. Kata Cina sampai sekarang masih terdengar dalam alam bawah sadar saya sebagai kata olok-olok dan penuh kebencian.

Dari pengalaman kecil itu, saya tumbuh menjadi orang yang tidak bisa membiarkan sesuatu bekerja dengan tidak adil. Saya lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang dipinggirkan. Saya banyak turun ke bawah, ke kamar-kamar buruh, ke keluarga miskin yang hampir meninggal karena tidak punya uang. Ke tempat teman-teman sekolah saya yang tidak mampu. Saya jarang melihat ke atas. Saya bahkan tidak tahu apa yang ada di atas. Saya banyak menemukan jawaban dari banyak pertanyaan masa kecil saya, tentang sikap orang-orang pada orang desa, orang Jakarta, dan Cina. Saya tumbuh mulai berani berkompetisi dalam pendidikan. Cara saya berkompetisi adalah saya tidak menjatuhkan lawan, dan tidak terlalu terusik dengan olok-olok dan fitnah dari lawan untuk menjatuhkan saya, melainkan saya menunjukkan prestasi saya, kesungguhan saya, karya-karya saya, dan untuk melakukannya saya bekerja keras. Tidak sedikit orang yang meremehkan saya karena tidak terlalu bagus dalam penampilan, saya terlalu sederhana, dan dianggap terlalu muda. Seperti biasa, wibawa dan kematangan bagi masyarakat adlaha usia, cara berpenampilan, menarik secara visual, bukan intelektual. Tetapi keremehan ini saya abaikan, saya ganti menjadi kekuatan. Sebab saya adalah saya, dan tak akan ada yang bisa mengubah karakter saya. Dari sinilah saya sering mengambil kemenangan. Kemenangan itu mulai terlihat hari demi hari.

Beberapa pengalaman saya, rasanya ada pada Jokowi. Olok-olok orang pada Jokowi bisa saya rasakan pedihnya. Tapi mungkin Jokowi seperti saya, semakin orang meremehkan saya, semakin saya tunjukkan prestasi saya. Kalah atau menang, saya harus terima, asal saya konsisten dengan niat saya. Tapi kenyataannya saya lebih sering menang.


Selain itu, saya tumbuh bukan sebagai masyarakat kelas menengah atas. Gaji saya kecil, pekerjaan saya pekerjaan sosial. Saya tak mampu beli rumah ataupun mobil. Apalagi untuk foya-foya saya tidak sanggup. Saya juga tidak ada ambisi jadi pemimpin, meski akhirnya saya sempat dipercaya menjadi pemimpin. Saya hanya punya kemauan dan pengetahuan. Karena saya orang biasa, saya tahu betul saya bukan siapa-siapa. Saya hanya mengemukakan apa yang saya ketahui dan tak akan saya ucapkan apa yang saya tidak ketahui. Lalu saya banyak menulis, dan ternyata orang-orang suka dengan tulisan saya, yang bagi saya biasa-biasa saja.
Karena saya orang biasa dan bukan siapa-siapa, dan ketika mengalami kesulitan, saya ternyata sangat dibantu oleh kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur yang baru sebentar itu. Karya-karya Jokowi yang berdampak pada hidup saya adalah, pertama, saat saya tidak punya banyak uang, saya bisa ke puskesmas gratis untuk periksa gigi hanya dengan memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk. 

Kedua, sebagai perempuan, saya bisa dengan mudah mengurus Kartu Keluarga dan pindah KTP tanpa pertanyaan-pertanyaan aneh mengenai jenis kelamin dan status perkawinan saya, juga tidak perlu lagi ada suap, dan birokrasi yang berbelit-belit. Saya mengurusnya hanya dalam dua hari. Sebagaimana kita ketahui, dalam hal administrasi negara, tidak mudah bagi anak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri sebagai warga negara karena UU Perkawinan. 

Ketiga, saya senang saat dilakukan lelang jabatan, Jokowi merekrut lurah-lurah perempuan dan memberi kepercayaan kepada mereka sebagai pemimpin yang punya pengabdian pada rakyat, tidak melihat suku dan agama mereka.
Saya pernah dibenci karena saya dianggap orang Cina dan dianggap Kristen.

Keempat, saya menyukai cara kerja dia bersama Ahok sebagai tim, bukan sebagai atasan dan bawahan, memberi kepercayaan penuh dan membela Ahok ditengah serangan FPI dan isu tentang ras dan agama.
Saya menyukai kepemimpinan yang melibatkan orang lain sebagai tim, bukan sebagai bos. 

Kelima, Jokowi langsung menandatangani kontrak dengan KPK saat menjabat Gubernur supaya pegawai-pegawainya tidak lagi terlibat korupsi dan tunduk pada hukum.
Waktu saya kecil, saya sudah menganggap bahwa uang orang lain bukanlah hak saya.

Keenam, sejak menjabat Gubernur, Jokowi bersama AHok membangun keterbukaan informasi mengenai program kerja dan proses kerja mereka.
Atas hal ini, saya melihat adanya upaya keterbukaan dan kepercayaan pada masyarakat bahwa pekerjaan kita memang perlu diketahui orang lain, terutama yang bermanfaat bagi banyak orang.
Ketujuh, karena saya aktif menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, saya sangat ingin mengetahui dan mengawasi bagaimana program aksi dalam visi dan misi Jokowi, apakah peduli dengan kondisi perempuan Indonesia, dan saya membacanya, program aksi Jokowi untuk perempuan begitu lengkap, menempatkan perempuan sebagai warga negara yang sama. Perlindungan negara terhadap perempuan langsung dalam berbagai kebijakan, bukan hanya kebijakan yang biasanya hanya dianggap urusan perempuan.

Betul bahwa Jokowi adalah kita. Kita yang mana? Kita yang hidupnya tidak mudah dan tidak semulus orang-orang yang beruntung. Kita yang bisa beruntung karena kita mau jujur, belajar dan bekerja. Kita yang pernah putus asa dan sakit hati karena perlakuan yang diskriminatif. Kita yang ingin keadilan berlaku bagi semua orang baik kelas, ras, gender, dan agama.

Tambun, 3 Juli 2014


Saya di usia 3 tahun






Minggu, 15 Juni 2014

Orang Desa Memimpin Indonesia


Oleh: Mariana Amiruddin

Dalam debat capres tadi, saya memperhatikan satu hal dari hasil Survey Indikator: orang desa suka Jokowi, orang kota suka Prabowo, dan keduanya imbang. Apakah ketika saya memilih Jokowi maka saya adalah orang desa? Tapi saya lahir dan tinggal di kota, lalu masa kecil berpindah-pindah tempat, ke daerah, ke desa,  ke kota, bercampur-campur hidup saya dalam hal desa dan kota. Kini saya tinggal di pinggir kota. Apakah saya orang desa? Bila ya, tidak masalah, saya senang dibilang orang desa. Desa dalam bayangan saya adalah kehidupan sederhana yang dikelilingi lingkungan asri, kebutuhan pokok yang murah, jauh dari kemacetan, masih bisa mencium bau tanah dan bunyi jangkrik serta bau embun pagi, kokok ayam dan cicit burung. Atau arus pantai yang deras, ombak menggulung, dan angin laut, ikan segar. Meskipun potret desa saat ini jauh dari bayangan keindahan tadi, desa yang dikelilingi oleh kekayaan alam, kini menjadi potret kemiskinan bangsa kita: petani menjadi buruh tani, nelayan menjadi buruh nelayan, karena tanah dan laut sudah menjadi milik tuan-tuan.

Kehidupan desa memang sederhana, sebelum akhirnya kita mengatakannya miskin karena kesulitan biaya hidup, akses kesehatan, pendidikan, bahkan mengolah makanan. Tetapi mereka tidak membuat pagar tinggi bukan karena soal kemiskinan, melainkan mereka tidak memerlukan pagar-pagar tinggi dan tembok-tembok tebal. Mereka orang-orang yang santai dengan lingkungan karena hidupnya penuh rasa aman.

Saya menonton debat capres malam ini, Jokowi memang mewakili karakter orang desa tidak mau bombastis, bukan orang yang terbiasa dengan panggung, memilih realistis yang menurutnya akan memudahkan pencapaian. Karakter orang kota, sebagaimana iklan-iklan produk yang menjejal: bombastis, propagandis, pertama-tama adalah citra, kesenangan visual menentukan pandangan pertama seseorang. Lalu apakah itu berarti orang desa suka realistis dan orang kota suka bombastis? Apakah karena orang desa masih perlu kebutuhan dasar, sementara kebutuhan dasar orang kota adalah ilusi?

Soal kota dan desa, kota memang sangat berkuasa. Relasinya tidak setara. Kota sebagai ukuran kesuksesan. Tetapi orang kota juga banyak yang mempelajari desa dan mengatakan bahwa mengabaikan desa sama dengan meruntuhkan ekonomi Indonesia. Kota tumbuh berkembang pesat justru berkat orang desa yang berduyun-duyun pindah ke kota, menjadi pekerja industri, menjadi pelayan-pelayan restoran, dan mereka pulang ke desa membawa uang, membangun rumah mereka yang mirip dengan orang kota, dan akan menjadi kebanggaan. Sementara orang kota dilanda pengangguran bahkan sekalipun yang sudah lulus sarjana, frustasi, terjerat narkoba, kekerasan dan berharap pada keajaiban. Tetapi desa kemudian ditinggalkan orang desa, orang kota entah mau ke mana. Jokowi sebagai orang yang menjajagi hidupnya mulai dari desa, kota, lalu berinteraksi dengan dunia internasional, melihat aspek bahwa kemandirian desa, atau keberdayaan desa, akan membuat kita tidak perlu lagi impor bahan-bahan makanan, barang, dengan demikian kita bisa menabung, dan kota menjadi tidak penuh karena orang betah tinggal di desa. Tapi orang desa mulai ikut-ikutan berilusi, tentang gaya hidup yang mereka angan-angankan seperti di televisi. Lalu bagaimana sesuatu bisa dikatakan orang desa dan orang kota? Jokowi sering ditertawakan karena orang kota membayangkan memiliki seorang presiden seorang tukang kayu dan tukang mebel. Atau orang desa yang menganggap orang ini tidak keren.

Saya mulai mempelajari dan mulai berpihak, saya setuju Jokowi. Strategi Jokowi tentang memberdayakan desa dan industri kecil itu bukan hal yang luar biasa, tetapi menjadi luar biasa bila itu diimplementasikan, sebab aspek ini jarang dijadikan strategi utama ekonomi dalam skala nasional, dipandang sebelah mata, bahkan tidak pernah keluar dari kerongkongan dan aksi kerja pemimpin bangsa, yang seharusnya menyadari bahwa kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru potensial dari desa, dari daerah-daerah, dari industri rakyat, pedagang kaki lima dan pasar tradisional serta ekonomi kreatif. Satu-satunya penyelamat ekonomi Indonesia disaat krisis global adalah sektor-sektor tersebut yang biasanya disebut sektor informal. Sektor-sektor informal inilah yang banyak diisi oleh kaum perempuan dan anak muda. Kesadaran atas ekonomi rakyat itulah program Jokowi yang realistis dan kontekstual, yang menyadari lintas perdagangan perlu memperhatikan letak geografis kepulauan dan kelautan supaya daerah-daerah lain juga perlu berkembang tanpa alasan hambatan alam. Jokowi menyadari bahwa pemerataan ekonomi bukan dengan membagikan uang, tetapi memberdayakan orang. Dan keberdayaan serta keseimbangan adalah bahan dasar keadilan. Tol laut menjadi realistis dalam membicarakan soal kemandirian ekonomi melalui akses lintas perdagangan antar pulau di Indonesia, untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah. Wujud keadilan dan kesejahteraan dalam aspek ini sangat masuk akal, karena manusia dilihat sebagai subyek, bukan obyek pembangunan. Ini sebagaimana semangat desentralisasi atau otonomi daerah yang lahir dari reformasi, setiap daerah berkembang karena kemandiriannya, bukan karena kekuasaan sewenang-wenang kepala daerah. Jokowi mengadopsi kejayaan Nusantara yang dimulai dari transportasi perdagangan yang memanfaatkan kelautan, yang menunjukkan adanya kesadaran geografis yang sudah ada berabad lalu.

Bicara soal orang kota, setiap kota selalu ada sisi desa, yang dijuluki "pinggiran" atau “kampung”. Saya, tinggal diantara kampung dan kota. Saya tinggal di tengah-tengah lintas ekonomi desa, dari kampung ke kota, balik lagi dari kota ke kampung, menempuh kira-kira dua setengah jam, bahkan kadang-kadang tiga jam karena antri bersama truk-truk yang membawa produk-produk industri, terlihat sekali bagaimana tidak efisiennya lintas perdagangan satu-satunya melalui tol Cikampek itu, dan saya terjepit di tengah-tengah kegairahan industri otomotif dan kuliner. Rak-rak berisi ayam-ayam potong kehujanan bolak-balik melewati tol itu, juga puluhan mobil dan motor yang akan dijual dalam sebuah container, dan tentu truk sampah! Sampah-sampah orang kota yang akan dibuang ke kampung pinggiran kota. Saya memahami betul bahwa soal lalu lintas dan transportasi ini perlu diperhatikan betul. Kita memang sudah saatnya memangkas, dan segera melakukan efektifitas dan efisiensi, bahwa kita membangun sesuatu yang berfungsi untuk kebutuhan kehidupan rakyat dan lingkungannya. Negara yang memperhatikan desa dan daerah-daerah akan sekaligus mengurangi kepadatan penduduk di kota dan kemajuan bisa merata, keadilan terwujud, keamanan apalagi. Ini impian yg masuk akal.

Suatu hari di waktu liburan saya singgah dan menumpang hidup di rumah papan dan lantai tanah orang desa di kaki Merbabu Jawa Tengah. Mereka menanam banyak sayuran yang biasanya menjadi rebutan orang kota dan sayuran mahal yang dijual di super-super market. Saya bertanya apakah mereka bisa hidup dengan tanaman itu? Sang ibu menjawab sama sekali tidak karena pasar tradisional tidak berdaya untuk menjual sayur-sayur seperti ini, dan mereka kalah bersaing. Harga sayuran mereka terlalu murah. Si Ibu pernah memutuskan menjadi TKW di Singapura, yang padahal begitu indahnya desa tempat dia tinggal, sayuran yang segar, masak tinggal memetik sayuran di sana, yang tertanam lahan belakang rumahnya, di pinggir jurang dan di seberangnya kita bisa melihat berjejer gunung dan menikmati angin lembah. Mendengar penjelasan Jokowi tentang desa membuat saya menjadi teringat dengan keluhan si Ibu petani di desa tersebut. Dulu saya ingat bagaimana saya memutar otak punya keinginan kuat untuk memberdayakan desa tersebut yang rata-rata tinggal lansia, kaum ibu dan anak-anak. Mereka semua mandiri dan jago bertani sayuran. Sayang sekali.
Konsep program aksi Jokowi yang saya pahami adalah berbasis pemberdayaan, relasi yang setara antar wilayah, daerah, kota dan desa, antar pulau, antar budaya, yang berarti juga antar manusia. Jokowi mengambil konteks wawasan nusantara dalam strategi ekonomi, kemandirian bangsa, relasi yang seimbang, potensi alam dan pembangunan manusia, kebanggaan pada bangsa sendiri. Kunci kemajuan bangsa menurutnya mulai dari situ. Bila kita jeli mengamati debat capres tadi, paling utama bagi saya pada akhirnya bukan lagi gaya, tapi apa yang saya alami sehari-hari dalam lalulintas budaya dan kelas manusia, dan tentu kerangka pikir serta konsistensi. Namun penglihatan seperti akan gagal, bila kita belum bisa menggeser kesenangan visual dan miskinnya pada petualangan untuk “blusukan” (baca: berkunjung dari tempat satu ke tempat yang lain, untuk mengenal, memaknai dan mencintai masyarakat yang jauh berbeda dari kita). Semoga kejayaan nusantara kembali, kali ini melalui pesta demokrasi.

Tambun, 16 Juni 2014




Minggu, 01 Juni 2014

Tulislah Mulai dari Dirimu Sendiri (Literasi Feminis)

Oleh: Mariana Amiruddin

Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, melainkan apa yang melampauinya yaitu kemampuan menggunakan bahasa dan pengetahuan secara bersamaan. Literasi adalah menunjukan kualitas seseorang dalam beraksara. Makna literasi berhubungan dengan pengetahuan, pendidikan, pembelajaran. Dan antonim dari kata literasi adalah ketidakpedulian (ignorance), kebodohan, ketidakmampuan untuk memaknai aksara, dan ketidakmampuan untuk menganalilsisaksara. Aksara dalam hal ini dapat disebut sebagai teks. Teks-teks bukan hanya huruf-kata-kalimat, tetapi juga peristiwa. Kemampuan seseorang dalam membaca teks-teks peristiwa, atau hal-hal yang menyangkut kehidupan baik secara politik, budaya, maupun sosial. Literasi berhubungan dengan makna budaya,  pencerahan, pembacaan, penulisan, kecermatan atau ketelitian.

Literasi kemudian berkembang dalam dunia teknologi sebagai kemampuan seseorang dalam memahami dan menggunakan sistem simbol seperti mengoperasionalkan komputer dan mengkomunikasikan makna pengetahuan. Literasi sekali lagi melampaui hal-hal yang berurusan dengan membaca dan menulis, tetapi juga kemahiran dalam melihat konteks, teknologi visual, audio, dan cetak (media literasi), gelagat tubuh.
Di Indonesia dalam Kamus Besar Bahasa, masih mengartikan literasi sebagai sesuatu yang berhubungan dengan tulis menulis. Padahal, literasi dapat juga diartikan sebagai orang yang melek teknologi, melek politik, berpikiran kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar. Inilah apa yang saya sebut sebagai kemampuan membaca teks-teks peristiwa. UNESCO kemudian meramu kata literasi sebagai kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan kemampuan berhitung, juga kemampuan berkomunikasi dalam masyarakat terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.

Apa yang Menarik dari Tulisan?

Tulisan bagi saya adalah sebuah artefak modern yang menghindar dari teks visual yang pendek makna. Kelebihan dari produk tulisan adalah dapat menyimpan fakta-fakta atau imajinasi-imajinasi dan bertahan lebih lama dibandingkan hidup manusia itu sendiri. Tulisan lebih mudah dipelihara dari generasi satu ke generasi lainnya. Kelebihan kedua, tulisan, dapat memberikan keleluasaan kepada penulis untuk memiliki ruang dan waktu dan tentu berpikir sebelum mengatakan sesuatu, tak terkendala oleh kehadiran lawan komunikasinya. Karya tulis memiliki kemampuan bahasa penulis itu sendiri, karena telah melewati proses pemikiran, perencanaan, dan pemantauan yang memadai.

Indonesia, adalah negara yang masih memiliki tradisi lisan yang kuat, dan sangat jauh dari tradisi membaca dan menulis. Ini baik pada perempuan maupun laki-laki, tetapi perempuan masih lebih banyak. Indonesia, masih lebih tertarik pada budaya oral atau lisan yang disajikan media-media visual seperti televisi dan film. Sistem jejaring sosial atau yang disebut sosial media bukanlah sebuah perangkat untuk membawa seseorang pada budaya tulisan, melainkan budaya lisan yang dituliskan. Pengguna facebook dan twitter paling banyak adalah di Indonesia, dan isinya paling banyak digunakan untuk bercakap-cakap atau berkomentar satu dengan yang lain. Begitu juga dalam teknologi komunikasi telepon genggam dan internet.

Bila kita teliti bagaimana seseorang menggunakan jejaring sosial media ataupun teknologi komunikasi antara yang “melek” dan “yang buta” literasi, terlihat dari bahasa yang mereka gunakan. Bahasa literasi di sosial media akan terlihat lebih mahir menyampaikan pengetahuan dan kesadaran atas lingkungannya, dan kemampuan dalam menggunakan bahasa, meskipun yang dibicarakan adalah kehidupan sehari-hari.

Literasi dan Feminisme: Dimana Perempuan?

Masih banyak perempuan yang merasakan bahwa menulis adalah sesuatu yang terlalu tinggi baginya, terutama untuk sebuah tulisan yang dianggap intelek. Bagi perempuan, menulis lebih banyak dilakukan diam-diam melalui catatan atau buku harian yang disimpannya. Buku-buku harian milik perempuan kebanyakan membicarakan tentang mimpi atas cinta dan keluarga. Buku-buku harian itu sekarang tampak dalam teks-teks di sosial media mereka yang berisi penuh tentang cinta dan keluarga yang menampilkan seperti foto-foto anak mereka, hubungan mereka dengan suami atau pacar, atau apa yang mereka belanjakan atau apa yang mereka masak, apa yang mereka makan dan jalan-jalan. Pertanyaannya adalah, apakah ini berlawanan dengan literasi? Bila kita bicara pengetahuan atas budaya, politik, sosial dan lingkungan, maka apakah hal-hal yang diungkap perempuan yang hidupnya sangat penuh dengan keseharian ini akan menyulitkan kita kepada pencapaian literasi? Apakah kemudian perempuan menjadi seorang yang bodoh atau tidak melek, atau yang tidak literate tak terdidik, tidak perduli dan sebagainya? Nanti dulu, dalam feminisme terutama yang mengkaji tentang linguistik, Luce Irigaray dan Helene Cixous memiliki strategi jitu menyediakan perempuan sebuah “karpet merah” untuk menjadi terdidik, dimana teks atau tulisan tidak perlu lepas dari keseharian hidup dirinya.

Kredo dari Luce Irigaray “Aku seorang perempuan. Aku menulis dengan keperempuananku.”
Kredo dari Helene Cixous: “Ketika saya berkata `perempuan', saya bicara perempuan dalam perjuangannya  melawan konvensi patriarkhi"

Jadi inilah tawaran feminis ketika bicara soal perempuan dan literasi. Cixous memberi banyak metafor bagaimana perempuan yang menulis catatan harian adalah kekuatan tersendiri, dimana kita tidak perlu takut salah, tetapi kita melatih terus untuk sampai pada kemahiran menulis, mengenal kata-kata, menyimpan memori. Buku harian tidak ada yang membaca, tetapi kita dapat membaca diri kita sendiri, berdialog dengan janji-janji dan cita-cita diri kita sendiri. Kita tahu sejarah kita sendiri tanpa ada yang menganggu. Kemudian Cixous mengatakan: Jangan ada perasaan bersalah saat ingin menuliskan (baca: menyatakan sesuatu) yang berkaitan dengan diri, tubuh, dan pengalamannya. Feminisme mengatakan bahwa satu-satunya yang tidak dimiliki oleh laki-laki adalah “pengalaman perempuan”, dan pengalaman itulah yang menjadi “pengetahuan perempuan”.

Cixous mengatakan dengan menulis, perempuan akan mengembalikan otoritas tubuhnya, dan tak lagi menyerahkannya pada laki-laki. Menyerahkan tubuhnya berarti membunuh pikiran dan nafas sekaligus. Selama ini tubuh perempuan dinyatakan, dituliskan dalam pandangan laki-laki atau patriarkhi maka kali ini dalam pandangan perempuan sendiri, dan inilah apa yang disebut pengetahuan.

Why don't you write?
Write!
Writing is for you;
your body is yours, take it
Write yourself. Your body must be heard.

Bagi Cixous menulis adalah ungkapan budaya untuk mengubah nasib perempuan. Oleh karenanya perempuan dianjurkan untuk menjadi literate atau “melek” dalam memproduksi dan mengkonsumsi teks (menulis dan membaca) supaya  perempuan menjadi subyek penentu dalam menciptakan teks dan masuk ke dalam teks itu sendiri. Pernyataan Cixous tentu saja dalam konteks literasi dan pemberdayaan perempuan, agar perempuan tercerahkan. Cixous adalah ahli linguistik dan memasukkan karya-karyanya dengan wacana seksualitas feminis dan kominasi teori psikoanalisis, sastra dan antropologi. Cixous bahkan menulis teori-teori linguistik dalam bentuk seni dan memotivasi para perempuan untuk mengubah jalan mereka dan kemudian melakukannya dalam dunia nyata.


Menulis Membongkar Alam Bawah Sadar

Meminjam Sigmund Freud, bagi Cixous teks adalah produk pengarang yang merepresentasikan adanya neurosis dan merupakan proses identifikasi pengarang.  Menulis akan membawa kita pada sebuah refleksi hidup ataupun kematian. Cixous melakukan dekonstruksi-dekonstruksi makna bahasa yang diciptakan patriarkhi seperti ketakutan akan kematian. "Kematian bukanlah apa-apa. Itu bukanlah sesuatu. Itu hanya sebuah  lubang. Saya dapat mengisinya dengan fantasi dan memberinya nama, jika saya ingin. "

Memakai kekayaan metafora yang dikembangkan teori-teori psikoanalisa Freud,  Cixous melakukan dekonstruksi atau membongkar teori-teori Freud dalam arti baru, yaitu menyetarakan kematian dengan maskulin sedangkan kehidupan dengan feminin. Bagi Cixous, perempuan memiliki tradisi "memberi" sebagai bentuk kedermawanan, adalah perbuatan yang lebih, adanya kerelaan karena kelimpahan. Ini yang disebut ekonomi feminin, pertukaran yang penuh dengan kerelaan, sedangkan maskulin lebih menempatkan pertukaran ekonomi sebagai konstruksi sosial dan selalu membutuhkan suatu pengakuan (legitimasi, justifikasi).

Write Yourself!

Ini adalah militansi feminin yang dibangun Cixous agar perempuan keluar dari kebisuannya. Meski perempuan diasosiasikan pada posisi yang dirugikan, tetapi perempuan telah memberi hidup dan kekuatan. Di sinilah militansi feminin ikut berperan. "`Bapak' hanyalah konvensi linguistik, sedangkan `ibu' adalah `tubuh' dan `nama itu sendiri'," demikian menurutnya. Tubuh perempuan yang menulis sangat dekat dengan suara dan irama. Perempuan menulis dengan tinta putih, tak ada batasan baginya dalam produksi teks, sementara laki-laki menulis dengan tinta hitam, terlalu banyak aturan atau konvensi yang harus mereka lalui demi sebuah pengakuan. Kembali pada alam bawah sadar, perempuan sebagian hidupnya tersimpan dalam alam bawah sadar, karena terlalu sering memerankan peran pasif, dan dalam menulis, alam bawah sadar tersebut menjadi sumberdaya yang  luar biasa. Alam bawah sadar yang dituliskan bukan lagi sebagai sebuah represi psikologis.


Tambun, 30 Mei 2014



Sabtu, 24 Mei 2014

Keadilan Pada Memori

Oleh Mariana Amiruddin


Memorabilia, kata yang menjelaskan tentang mengingat suatu peristiwa di waktu tertentu, dan kita pernah berada di sana. Memorare dari bahasa Latin, yang berarti "membawa ke dalam memori”. Memorabilia memecahkan teka-teki ingatan, manusia didesain memiliki memori, juga didesain untuk melupakan. Dalam ingat dan lupa itu, kita dimediasi oleh apa yang disebut sejarah.

Dibalik memori dan melupakan itu, sesungguhnya ada masalah filosofis yang dalam. Memori tidak akan ada bila pada saat peristiwa itu kita tidak memikirkannya. Tentu kita pernah bertanya, kemana memori pergi? Atau bahkan hampir seluruhnya lenyap? Paul Ricoeur, filsuf Prancis yang banyak menulis tentang filsafat hermeneutika menghasilkan sejumlah pertanyaan tentang sejarah, memori, dan melupakan, mengapa peristiwa sejarah besar di dunia seperti Holocaust menempati garis depan kesadaran kolektif dibandingkan peristiwa-peristiwa besar lainnya yang dekat dengan hidup kita, bangsa kita?

Menarik sebuah karya penting dalam filsafat Paul Ricoeur, meneliti hubungan timbal balik antara "mengingat dan melupakan", menunjukkan bagaimana hal itu mempengaruhi persepsi, pengalaman, sejarah, dan produksi narasi sejarah. Bagaimana sejarawan menetapkan kebenaran dan keakuratan cerita mereka. Apakah ada suatu kebenaran historis yang obyektif, atau semua sejarah konstruksi dari sudut pandang tertentu, mengekspresikan kepentingan mereka yang memiliki kekuatan untuk menulis itu. Memori perlu dianalisis dalam hubungannya dengan lawannya, yaitu lupa . Dan sejarah selalu dalam ketegangan antara memori dan lupa, dan akan menjadi dua kutub yang selalu bertentangan. Maka pertanyaan penting tentang memori adalah “mengapa kita lupa?”. Ricoeur menyatakan, manusia mampu membuat memori dan membuat sejarah atau bahkan melupakan hal-hal tertentu dalam memori. Dengan kata lain, baik memori dan melupakan, keduanya tunduk pada kekuasaan, dan dengan demikian juga tunduk pada penyalahgunaan. Atas hal ini, Ricour menyatakan soal “perlunya keadilan pada memori”.  Ricour mengatakan bahwa sejarah - atau dapat disebut “kenangan kolektif “-memori seharusnya lebih berkaitan dengan tugas oleh dan untuk keadilan. Keadilan dan harapan macam apa yang kita miliki bila kita lupa? Dalam On the Genealogy of Morals Nietzsche menjelaskan apa yang disebut "lupa aktif" dan juga mengingatkan kita bahwa lupa bukan hanya kegagalan memori, melainkan penyangkalan.

Memori Kolektif yang Hilang

Mei 1998 adalah peristiwa yang nyaris hilang dalam memori kolektif bangsa ini, meskipun sebagian besar dari kita pernah ada dalam suasana tersebut. Memori yang muncul saat kita pernah ketakutan menggantungkan sajadah di pagar, menuliskan kata “pribumi” di tembok rumah. Hal-hal itu adalah pengingat peristiwa bahkan dengan panca indera, yang disertai penyerangan dan pembakaran ke toko-toko, mall-mall, supermarket, dan rumah-rumah pribadi. Paling terekam di media massa waktu itu adalah ratusan orang hangus terbakar di dalam Mall Jogja Klender.

Dibalik bangunan-bangunan hangus itu, ada lapisan memori yang paling dalam, yaitu di jalan-jalan jembatan tol dimana perempuan-perempuan dicegat, diturunkan, ditelanjangi, diseret dan dianiaya dan ditonton orang. Korban-korban saat ini telah menjadikan “lupa sebagai penyembuhan” dan membangun kehidupan baru untuk  keluar dari luka yang belum tentu sembuh. Tetapi apa yang mengakibatkan kerusuhan itu sendiri terjadi, sampai hari ini kita tidak tahu dan kita hanya menjadikannya sebagai mimpi buruk saja. Kita bisa mengetahui bencana Krakatau di masa Perang Dunia Kedua, tetapi kita lupa dengan bencana kerusuhan yang baru saja lewat 16 tahun yang lalu? Bagaimana sikap negara atas memori kolektif yang hilang dalam tragedi bangsanya? Telah terjadi penyangkalan oleh negara yang berlangsung sampai sekarang dengan tiadanya investigasi, bahwa kerusuhan, kematian massal, dan serangan seksual benar-benar terjadi.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) terbentuk pada tanggal 23 Juli 1998 berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pertahanan dan Keamanan, Mnteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita dan Jaksa Agung, antara lain menyimpulkan bahwa kasus-kasus kekerasan seksual terjadi dalam kerusuhan Mei 1998. Kekerasan Mei 1998 menjadi perhatian dunia, dan merupakan wujud paling ekstrim akibat represi yang luar biasa dalam penghancuran martabat kemanusiaan di rezim Orde Baru. Kesimpulan TGPF menunjukkan adanya unsur kesengajaan dalam kerusuhan Mei yang sampai saat ini belum ada tindak lanjut yang berarti dari pihak negara. Selama tidak ada realisasi keadilan bagi korban dan masyarakat umum, maka bangsa ini tidak sehat karena belum bisa menyembuhkan lukanya.

Keadilan pada Memori, Keadilan pada Bangsa

Raymond A. Knight meneliti bahwa perkosaan bukan soal penyaluran seksual, melainkan soal kekuasaan. Perkosaan pada tragedi Mei 98 menunjukkan perkosaan sebagai upaya penaklukan, untuk membangun trauma dan rasa takut untuk melawan. Perkosaan dilakukan dalam konteks represi politik adalah tentang cara mengontrol korban dan menghapus otonomi dan kemanusiaan mereka.

Oleh karena itu kekerasan seksual dalam Tragedi Mei 98 adalah memori yang sengaja dilupakan. Terdapat hubungan antara memori dengan identitas bangsa. Keterbukaan sebuah negara atas sejarahnya menunjukkan kedewasaan politik dan sistemnya, menunjukan moral yang baik di hadapan dunia.

Sudah 16 tahun yang lalu peristiwa tragedi Mei terjadi, dan sampai saat ini tidak ada jawaban dan peringatan yang serius dari para elit politik, bahkan cenderung menanamkan “kelupaan kolektif” kepada masyarakat dengan menyangkalnya. 

Bekasi, 24 Mei 2014





Sabtu, 03 Mei 2014

Selamat Tinggal Ingatan


Oleh: Mariana Amiruddin

Bulan Mei seharusnya menjadi bulan yang kelam yang membuat kita berdiri sejenak dan mengheningkan cipta atas serentetan tragedi yang paling tidak masuk akal dalam sejarah manusia. Telah banyak tragedi dalam skala yang luas di Republik Indonesia yang dilakukan oleh bangsanya sendiri, ----jauh setelah mendeklarasikan dirinya sebagai bangsa merdeka. Tragedi-tragedi  hitam yang dibungkus rapi sepanjang Orde Baru Soeharto dan diujungnya Mei 1998. Sejumlah tragedi yang membunuh ratusan saudara-saudara kita; diantaranya dianiaya dan diperkosa. Contoh kekejian yang paling tidak masuk akal adalah totaliter-nya Orde Baru Soeharto, dimana Marsinah, seorang buruh diupah murah. Dia adalah perempuan muda yang mungil dan kerempeng, barangkali karena saat itu sangat sekali kurang makan. Marsinah yang berkacamata, dan paling berani diantara kawan-kawan buruhnya itu diculik dan disiksa oleh aparat, dan kelaminnya ditodong laras panjang, ditembakkan di dalamnya sampai rahimnya terburai.

Sampai hari ini, tragedi-tragedi tersebut tidak diungkap, tidak ada permohonan maaf, tidak ada pengadilan, tidak ada monumen yang terkonsentrasi untuk mengenang tragedi supaya keluarga korban bisa duduk damai dan tenang berdoa di sana dan sementara para generasi baru berdiri di sana untuk studi dan merenung soal sejarah bangsanya. Sayang sekali tragedi-tragedi itu dianggap kebohongan, dianggap tidak berhasil  menunjukkan bukti. Sementara tangisan keluarga mereka masih terus mengalir sampai kini. Tapi yang paling menyedihkan dari semua itu adalah, upaya #melawanlupa ini dituduh sebagai "menunggang pilpres pemilu 2014", dan barangsiapa yang bicara soal tragedi ini langsung dimasukkan dalam "RING pro dan kontra dukungan para capres", padahal, persoalannya lebih jauh dari itu. Tuduhan ini sungguh-sungguh menyedihkan. Bagaimana sebuah kejahatan kemanusiaan yang dilupakan, diletakkan dalam turnamen pro dan kontra pendukung para capres! Mereka tidak pernah mendengar jeritan keluarga korban yang ditelan dalam-dalam . Sebab, bertahun-tahun para saksi, relawan, dan orang-orang sipil yang peduli pada masalah tersebut menyebarkan catatan dan dokumen tragedi ini tiada yang mendengar, tiada yang percaya, sebagian sengaja melupa karena mengalami trauma. Dan saat berita-berita ini mulai terdengar dimana-mana, kebetulan dalam suasana Pemilu 2014 -- seperti biasanya, ---  mereka diciptakan dengan sangat mudah untuk mengatakan bahwa "itu kebohongan" --- lalu kitalah para korban dan saksi-saksi serta relawan yang bekerja selama bertahun-tahun menjadi yang kemudian ditikam.

Padahal, kami bukan sedang menikmati arus kecerewetan orang soal " pro dan kontra dukungan antar capres" melainkan menyangkut semua pihak-pihak yang bertanggung jawab saat itu, menyangkut kredibilitas dan kepercayaan kami pada siapa yang akan memimpin bangsa ini dalam konteks apa yang terjadi dalam rentang sejarah bangsa ini. Pihak-pihak yang bertanggungjawab adalah mereka yang menjadi petinggi, sekarang masih melambaikan tangan dilayar kaca sambil melenggang, hidup dengan sangat berkecukupan, makan makanan yang enak setiap pagi siang malam, jalan-jalan dan belanja dengan tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab dan diadili menjadi "yang paling aman" hidupnya di atas ratapan keluarga korban yang adalah anak-anak bangsanya sendiri. Lalu cerita diputarbalikkan, rakyat dininabobokan, hanya 16 tahun saja peristiwa-peristiwa keji itu membuat banyak orang lupa, membuat orang akhirnya bilang “iya memang tidak pernah terjadi apa-apa”, dan para paman dan bibi, begitupula kakek dan nenek, atau juga guru-guru dan pengajar-pengajar di universitas tidak lagi mampu menyampaikan cerita itu pada generasi muda, sebab tidak ada dalam buku-buku ilmiah yang mereka pegang, semua sudah menguburnya dalam-dalam, dan seketika tidak lagi percaya bahwa tragedi-tragedi itu pernah ada, kenyataan yang seharusnya kita terima: telah terjadi tindakan kekerasan yang paling tidak masuk akal dalam sejarah manusia di dunia. Suara korban bisa menjadi bukti, tetapi mereka diperlakukan sebagai obyek-obyek hukum, bukan sebagai subyek-subyek hukum yang berhak mendapatkan perlindungan, rasa aman, termasuk menunggu sampai mereka siap untuk bicara dan menunda air matanya mengalir kembali.

Tanah Indonesia telah dibangun oleh kekerasan, dan selanjutnya kebodohan. Kontes-kontes dalam pesta demokrasi tidak disertai pendidikan politik yang jujur dan sejarah yang sebenar-benarnya diumumkan. Maka janganlah kita murung ketika Senayan menjadi tempat laga orang-orang yang hanya memikirkan dirinya, dan sibuk mengisi kantongnya, tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya demi rakyat, demi kita semua. Indonesia adalah negeri yang penuh senyum alias senyum yang getir --- yang setiap kalinya harus menelan diam-diam apa yang pernah terjadi pada keluarganya, saudara-saudaranya, tetangganya, dan orang-orang yang diseberang pulau sana, yang mengalami hal sama. Ratusan korban yang suaranyapun tak terdengar saat demokrasi digelar, yang kebenarannyapun tak diakui oleh petinggi negeri, adalah dosa-dosa yang mereka tanam dengan subur, lebih subur dari tanah kita yang saat ini sudah kering kerontang dan terkontaminasi oleh limbah-limbah petinggi yang serakah dan tak hentinya mengeksploitasi manusia dan alamnya. Cobalah, cobalah mencoba untuk mengetahui bahwa bangsa ini pernah kelam. Tanyakan pada orang-orang yang pernah hidup dimasa itu. Itu sudah menjadi cukup bukti, sebenar-benarnya dari sistem hukum yang dimanipulasi para aktor-aktor politik, militer dan intelejen, dan para munafik, pengkhianat serta oportunis yang keji...  SELAMAT TINGGAL INGATAN!



Bekasi, 03 Mei 2014


Ratusan Korban Kerusuhan Mei 1998 dimana banyak orang-orang terbakar di dalam Mall-Mall dan di rumahnya sendiri, dan dibunuh di tengah jalan. Kerusuhan Mei di luar akal sehat kita, bahkan imajinasi kita tentang pembunuhan. Mereka diberi label "penjarah" oleh penguasa waktu itu. Dan kematian mereka seolah disukuri tanpa melihat adanya provokasi dan pembakaran yang disengaja dalam skala besar. Foto ini diambil dari dokumentasi berbagai media yang sempat meliput kerusuhan Mei terjadi.