Minggu, 15 Juni 2014

Orang Desa Memimpin Indonesia


Oleh: Mariana Amiruddin

Dalam debat capres tadi, saya memperhatikan satu hal dari hasil Survey Indikator: orang desa suka Jokowi, orang kota suka Prabowo, dan keduanya imbang. Apakah ketika saya memilih Jokowi maka saya adalah orang desa? Tapi saya lahir dan tinggal di kota, lalu masa kecil berpindah-pindah tempat, ke daerah, ke desa,  ke kota, bercampur-campur hidup saya dalam hal desa dan kota. Kini saya tinggal di pinggir kota. Apakah saya orang desa? Bila ya, tidak masalah, saya senang dibilang orang desa. Desa dalam bayangan saya adalah kehidupan sederhana yang dikelilingi lingkungan asri, kebutuhan pokok yang murah, jauh dari kemacetan, masih bisa mencium bau tanah dan bunyi jangkrik serta bau embun pagi, kokok ayam dan cicit burung. Atau arus pantai yang deras, ombak menggulung, dan angin laut, ikan segar. Meskipun potret desa saat ini jauh dari bayangan keindahan tadi, desa yang dikelilingi oleh kekayaan alam, kini menjadi potret kemiskinan bangsa kita: petani menjadi buruh tani, nelayan menjadi buruh nelayan, karena tanah dan laut sudah menjadi milik tuan-tuan.

Kehidupan desa memang sederhana, sebelum akhirnya kita mengatakannya miskin karena kesulitan biaya hidup, akses kesehatan, pendidikan, bahkan mengolah makanan. Tetapi mereka tidak membuat pagar tinggi bukan karena soal kemiskinan, melainkan mereka tidak memerlukan pagar-pagar tinggi dan tembok-tembok tebal. Mereka orang-orang yang santai dengan lingkungan karena hidupnya penuh rasa aman.

Saya menonton debat capres malam ini, Jokowi memang mewakili karakter orang desa tidak mau bombastis, bukan orang yang terbiasa dengan panggung, memilih realistis yang menurutnya akan memudahkan pencapaian. Karakter orang kota, sebagaimana iklan-iklan produk yang menjejal: bombastis, propagandis, pertama-tama adalah citra, kesenangan visual menentukan pandangan pertama seseorang. Lalu apakah itu berarti orang desa suka realistis dan orang kota suka bombastis? Apakah karena orang desa masih perlu kebutuhan dasar, sementara kebutuhan dasar orang kota adalah ilusi?

Soal kota dan desa, kota memang sangat berkuasa. Relasinya tidak setara. Kota sebagai ukuran kesuksesan. Tetapi orang kota juga banyak yang mempelajari desa dan mengatakan bahwa mengabaikan desa sama dengan meruntuhkan ekonomi Indonesia. Kota tumbuh berkembang pesat justru berkat orang desa yang berduyun-duyun pindah ke kota, menjadi pekerja industri, menjadi pelayan-pelayan restoran, dan mereka pulang ke desa membawa uang, membangun rumah mereka yang mirip dengan orang kota, dan akan menjadi kebanggaan. Sementara orang kota dilanda pengangguran bahkan sekalipun yang sudah lulus sarjana, frustasi, terjerat narkoba, kekerasan dan berharap pada keajaiban. Tetapi desa kemudian ditinggalkan orang desa, orang kota entah mau ke mana. Jokowi sebagai orang yang menjajagi hidupnya mulai dari desa, kota, lalu berinteraksi dengan dunia internasional, melihat aspek bahwa kemandirian desa, atau keberdayaan desa, akan membuat kita tidak perlu lagi impor bahan-bahan makanan, barang, dengan demikian kita bisa menabung, dan kota menjadi tidak penuh karena orang betah tinggal di desa. Tapi orang desa mulai ikut-ikutan berilusi, tentang gaya hidup yang mereka angan-angankan seperti di televisi. Lalu bagaimana sesuatu bisa dikatakan orang desa dan orang kota? Jokowi sering ditertawakan karena orang kota membayangkan memiliki seorang presiden seorang tukang kayu dan tukang mebel. Atau orang desa yang menganggap orang ini tidak keren.

Saya mulai mempelajari dan mulai berpihak, saya setuju Jokowi. Strategi Jokowi tentang memberdayakan desa dan industri kecil itu bukan hal yang luar biasa, tetapi menjadi luar biasa bila itu diimplementasikan, sebab aspek ini jarang dijadikan strategi utama ekonomi dalam skala nasional, dipandang sebelah mata, bahkan tidak pernah keluar dari kerongkongan dan aksi kerja pemimpin bangsa, yang seharusnya menyadari bahwa kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru potensial dari desa, dari daerah-daerah, dari industri rakyat, pedagang kaki lima dan pasar tradisional serta ekonomi kreatif. Satu-satunya penyelamat ekonomi Indonesia disaat krisis global adalah sektor-sektor tersebut yang biasanya disebut sektor informal. Sektor-sektor informal inilah yang banyak diisi oleh kaum perempuan dan anak muda. Kesadaran atas ekonomi rakyat itulah program Jokowi yang realistis dan kontekstual, yang menyadari lintas perdagangan perlu memperhatikan letak geografis kepulauan dan kelautan supaya daerah-daerah lain juga perlu berkembang tanpa alasan hambatan alam. Jokowi menyadari bahwa pemerataan ekonomi bukan dengan membagikan uang, tetapi memberdayakan orang. Dan keberdayaan serta keseimbangan adalah bahan dasar keadilan. Tol laut menjadi realistis dalam membicarakan soal kemandirian ekonomi melalui akses lintas perdagangan antar pulau di Indonesia, untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah. Wujud keadilan dan kesejahteraan dalam aspek ini sangat masuk akal, karena manusia dilihat sebagai subyek, bukan obyek pembangunan. Ini sebagaimana semangat desentralisasi atau otonomi daerah yang lahir dari reformasi, setiap daerah berkembang karena kemandiriannya, bukan karena kekuasaan sewenang-wenang kepala daerah. Jokowi mengadopsi kejayaan Nusantara yang dimulai dari transportasi perdagangan yang memanfaatkan kelautan, yang menunjukkan adanya kesadaran geografis yang sudah ada berabad lalu.

Bicara soal orang kota, setiap kota selalu ada sisi desa, yang dijuluki "pinggiran" atau “kampung”. Saya, tinggal diantara kampung dan kota. Saya tinggal di tengah-tengah lintas ekonomi desa, dari kampung ke kota, balik lagi dari kota ke kampung, menempuh kira-kira dua setengah jam, bahkan kadang-kadang tiga jam karena antri bersama truk-truk yang membawa produk-produk industri, terlihat sekali bagaimana tidak efisiennya lintas perdagangan satu-satunya melalui tol Cikampek itu, dan saya terjepit di tengah-tengah kegairahan industri otomotif dan kuliner. Rak-rak berisi ayam-ayam potong kehujanan bolak-balik melewati tol itu, juga puluhan mobil dan motor yang akan dijual dalam sebuah container, dan tentu truk sampah! Sampah-sampah orang kota yang akan dibuang ke kampung pinggiran kota. Saya memahami betul bahwa soal lalu lintas dan transportasi ini perlu diperhatikan betul. Kita memang sudah saatnya memangkas, dan segera melakukan efektifitas dan efisiensi, bahwa kita membangun sesuatu yang berfungsi untuk kebutuhan kehidupan rakyat dan lingkungannya. Negara yang memperhatikan desa dan daerah-daerah akan sekaligus mengurangi kepadatan penduduk di kota dan kemajuan bisa merata, keadilan terwujud, keamanan apalagi. Ini impian yg masuk akal.

Suatu hari di waktu liburan saya singgah dan menumpang hidup di rumah papan dan lantai tanah orang desa di kaki Merbabu Jawa Tengah. Mereka menanam banyak sayuran yang biasanya menjadi rebutan orang kota dan sayuran mahal yang dijual di super-super market. Saya bertanya apakah mereka bisa hidup dengan tanaman itu? Sang ibu menjawab sama sekali tidak karena pasar tradisional tidak berdaya untuk menjual sayur-sayur seperti ini, dan mereka kalah bersaing. Harga sayuran mereka terlalu murah. Si Ibu pernah memutuskan menjadi TKW di Singapura, yang padahal begitu indahnya desa tempat dia tinggal, sayuran yang segar, masak tinggal memetik sayuran di sana, yang tertanam lahan belakang rumahnya, di pinggir jurang dan di seberangnya kita bisa melihat berjejer gunung dan menikmati angin lembah. Mendengar penjelasan Jokowi tentang desa membuat saya menjadi teringat dengan keluhan si Ibu petani di desa tersebut. Dulu saya ingat bagaimana saya memutar otak punya keinginan kuat untuk memberdayakan desa tersebut yang rata-rata tinggal lansia, kaum ibu dan anak-anak. Mereka semua mandiri dan jago bertani sayuran. Sayang sekali.
Konsep program aksi Jokowi yang saya pahami adalah berbasis pemberdayaan, relasi yang setara antar wilayah, daerah, kota dan desa, antar pulau, antar budaya, yang berarti juga antar manusia. Jokowi mengambil konteks wawasan nusantara dalam strategi ekonomi, kemandirian bangsa, relasi yang seimbang, potensi alam dan pembangunan manusia, kebanggaan pada bangsa sendiri. Kunci kemajuan bangsa menurutnya mulai dari situ. Bila kita jeli mengamati debat capres tadi, paling utama bagi saya pada akhirnya bukan lagi gaya, tapi apa yang saya alami sehari-hari dalam lalulintas budaya dan kelas manusia, dan tentu kerangka pikir serta konsistensi. Namun penglihatan seperti akan gagal, bila kita belum bisa menggeser kesenangan visual dan miskinnya pada petualangan untuk “blusukan” (baca: berkunjung dari tempat satu ke tempat yang lain, untuk mengenal, memaknai dan mencintai masyarakat yang jauh berbeda dari kita). Semoga kejayaan nusantara kembali, kali ini melalui pesta demokrasi.

Tambun, 16 Juni 2014




Minggu, 01 Juni 2014

Tulislah Mulai dari Dirimu Sendiri (Literasi Feminis)

Oleh: Mariana Amiruddin

Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, melainkan apa yang melampauinya yaitu kemampuan menggunakan bahasa dan pengetahuan secara bersamaan. Literasi adalah menunjukan kualitas seseorang dalam beraksara. Makna literasi berhubungan dengan pengetahuan, pendidikan, pembelajaran. Dan antonim dari kata literasi adalah ketidakpedulian (ignorance), kebodohan, ketidakmampuan untuk memaknai aksara, dan ketidakmampuan untuk menganalilsisaksara. Aksara dalam hal ini dapat disebut sebagai teks. Teks-teks bukan hanya huruf-kata-kalimat, tetapi juga peristiwa. Kemampuan seseorang dalam membaca teks-teks peristiwa, atau hal-hal yang menyangkut kehidupan baik secara politik, budaya, maupun sosial. Literasi berhubungan dengan makna budaya,  pencerahan, pembacaan, penulisan, kecermatan atau ketelitian.

Literasi kemudian berkembang dalam dunia teknologi sebagai kemampuan seseorang dalam memahami dan menggunakan sistem simbol seperti mengoperasionalkan komputer dan mengkomunikasikan makna pengetahuan. Literasi sekali lagi melampaui hal-hal yang berurusan dengan membaca dan menulis, tetapi juga kemahiran dalam melihat konteks, teknologi visual, audio, dan cetak (media literasi), gelagat tubuh.
Di Indonesia dalam Kamus Besar Bahasa, masih mengartikan literasi sebagai sesuatu yang berhubungan dengan tulis menulis. Padahal, literasi dapat juga diartikan sebagai orang yang melek teknologi, melek politik, berpikiran kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar. Inilah apa yang saya sebut sebagai kemampuan membaca teks-teks peristiwa. UNESCO kemudian meramu kata literasi sebagai kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan kemampuan berhitung, juga kemampuan berkomunikasi dalam masyarakat terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.

Apa yang Menarik dari Tulisan?

Tulisan bagi saya adalah sebuah artefak modern yang menghindar dari teks visual yang pendek makna. Kelebihan dari produk tulisan adalah dapat menyimpan fakta-fakta atau imajinasi-imajinasi dan bertahan lebih lama dibandingkan hidup manusia itu sendiri. Tulisan lebih mudah dipelihara dari generasi satu ke generasi lainnya. Kelebihan kedua, tulisan, dapat memberikan keleluasaan kepada penulis untuk memiliki ruang dan waktu dan tentu berpikir sebelum mengatakan sesuatu, tak terkendala oleh kehadiran lawan komunikasinya. Karya tulis memiliki kemampuan bahasa penulis itu sendiri, karena telah melewati proses pemikiran, perencanaan, dan pemantauan yang memadai.

Indonesia, adalah negara yang masih memiliki tradisi lisan yang kuat, dan sangat jauh dari tradisi membaca dan menulis. Ini baik pada perempuan maupun laki-laki, tetapi perempuan masih lebih banyak. Indonesia, masih lebih tertarik pada budaya oral atau lisan yang disajikan media-media visual seperti televisi dan film. Sistem jejaring sosial atau yang disebut sosial media bukanlah sebuah perangkat untuk membawa seseorang pada budaya tulisan, melainkan budaya lisan yang dituliskan. Pengguna facebook dan twitter paling banyak adalah di Indonesia, dan isinya paling banyak digunakan untuk bercakap-cakap atau berkomentar satu dengan yang lain. Begitu juga dalam teknologi komunikasi telepon genggam dan internet.

Bila kita teliti bagaimana seseorang menggunakan jejaring sosial media ataupun teknologi komunikasi antara yang “melek” dan “yang buta” literasi, terlihat dari bahasa yang mereka gunakan. Bahasa literasi di sosial media akan terlihat lebih mahir menyampaikan pengetahuan dan kesadaran atas lingkungannya, dan kemampuan dalam menggunakan bahasa, meskipun yang dibicarakan adalah kehidupan sehari-hari.

Literasi dan Feminisme: Dimana Perempuan?

Masih banyak perempuan yang merasakan bahwa menulis adalah sesuatu yang terlalu tinggi baginya, terutama untuk sebuah tulisan yang dianggap intelek. Bagi perempuan, menulis lebih banyak dilakukan diam-diam melalui catatan atau buku harian yang disimpannya. Buku-buku harian milik perempuan kebanyakan membicarakan tentang mimpi atas cinta dan keluarga. Buku-buku harian itu sekarang tampak dalam teks-teks di sosial media mereka yang berisi penuh tentang cinta dan keluarga yang menampilkan seperti foto-foto anak mereka, hubungan mereka dengan suami atau pacar, atau apa yang mereka belanjakan atau apa yang mereka masak, apa yang mereka makan dan jalan-jalan. Pertanyaannya adalah, apakah ini berlawanan dengan literasi? Bila kita bicara pengetahuan atas budaya, politik, sosial dan lingkungan, maka apakah hal-hal yang diungkap perempuan yang hidupnya sangat penuh dengan keseharian ini akan menyulitkan kita kepada pencapaian literasi? Apakah kemudian perempuan menjadi seorang yang bodoh atau tidak melek, atau yang tidak literate tak terdidik, tidak perduli dan sebagainya? Nanti dulu, dalam feminisme terutama yang mengkaji tentang linguistik, Luce Irigaray dan Helene Cixous memiliki strategi jitu menyediakan perempuan sebuah “karpet merah” untuk menjadi terdidik, dimana teks atau tulisan tidak perlu lepas dari keseharian hidup dirinya.

Kredo dari Luce Irigaray “Aku seorang perempuan. Aku menulis dengan keperempuananku.”
Kredo dari Helene Cixous: “Ketika saya berkata `perempuan', saya bicara perempuan dalam perjuangannya  melawan konvensi patriarkhi"

Jadi inilah tawaran feminis ketika bicara soal perempuan dan literasi. Cixous memberi banyak metafor bagaimana perempuan yang menulis catatan harian adalah kekuatan tersendiri, dimana kita tidak perlu takut salah, tetapi kita melatih terus untuk sampai pada kemahiran menulis, mengenal kata-kata, menyimpan memori. Buku harian tidak ada yang membaca, tetapi kita dapat membaca diri kita sendiri, berdialog dengan janji-janji dan cita-cita diri kita sendiri. Kita tahu sejarah kita sendiri tanpa ada yang menganggu. Kemudian Cixous mengatakan: Jangan ada perasaan bersalah saat ingin menuliskan (baca: menyatakan sesuatu) yang berkaitan dengan diri, tubuh, dan pengalamannya. Feminisme mengatakan bahwa satu-satunya yang tidak dimiliki oleh laki-laki adalah “pengalaman perempuan”, dan pengalaman itulah yang menjadi “pengetahuan perempuan”.

Cixous mengatakan dengan menulis, perempuan akan mengembalikan otoritas tubuhnya, dan tak lagi menyerahkannya pada laki-laki. Menyerahkan tubuhnya berarti membunuh pikiran dan nafas sekaligus. Selama ini tubuh perempuan dinyatakan, dituliskan dalam pandangan laki-laki atau patriarkhi maka kali ini dalam pandangan perempuan sendiri, dan inilah apa yang disebut pengetahuan.

Why don't you write?
Write!
Writing is for you;
your body is yours, take it
Write yourself. Your body must be heard.

Bagi Cixous menulis adalah ungkapan budaya untuk mengubah nasib perempuan. Oleh karenanya perempuan dianjurkan untuk menjadi literate atau “melek” dalam memproduksi dan mengkonsumsi teks (menulis dan membaca) supaya  perempuan menjadi subyek penentu dalam menciptakan teks dan masuk ke dalam teks itu sendiri. Pernyataan Cixous tentu saja dalam konteks literasi dan pemberdayaan perempuan, agar perempuan tercerahkan. Cixous adalah ahli linguistik dan memasukkan karya-karyanya dengan wacana seksualitas feminis dan kominasi teori psikoanalisis, sastra dan antropologi. Cixous bahkan menulis teori-teori linguistik dalam bentuk seni dan memotivasi para perempuan untuk mengubah jalan mereka dan kemudian melakukannya dalam dunia nyata.


Menulis Membongkar Alam Bawah Sadar

Meminjam Sigmund Freud, bagi Cixous teks adalah produk pengarang yang merepresentasikan adanya neurosis dan merupakan proses identifikasi pengarang.  Menulis akan membawa kita pada sebuah refleksi hidup ataupun kematian. Cixous melakukan dekonstruksi-dekonstruksi makna bahasa yang diciptakan patriarkhi seperti ketakutan akan kematian. "Kematian bukanlah apa-apa. Itu bukanlah sesuatu. Itu hanya sebuah  lubang. Saya dapat mengisinya dengan fantasi dan memberinya nama, jika saya ingin. "

Memakai kekayaan metafora yang dikembangkan teori-teori psikoanalisa Freud,  Cixous melakukan dekonstruksi atau membongkar teori-teori Freud dalam arti baru, yaitu menyetarakan kematian dengan maskulin sedangkan kehidupan dengan feminin. Bagi Cixous, perempuan memiliki tradisi "memberi" sebagai bentuk kedermawanan, adalah perbuatan yang lebih, adanya kerelaan karena kelimpahan. Ini yang disebut ekonomi feminin, pertukaran yang penuh dengan kerelaan, sedangkan maskulin lebih menempatkan pertukaran ekonomi sebagai konstruksi sosial dan selalu membutuhkan suatu pengakuan (legitimasi, justifikasi).

Write Yourself!

Ini adalah militansi feminin yang dibangun Cixous agar perempuan keluar dari kebisuannya. Meski perempuan diasosiasikan pada posisi yang dirugikan, tetapi perempuan telah memberi hidup dan kekuatan. Di sinilah militansi feminin ikut berperan. "`Bapak' hanyalah konvensi linguistik, sedangkan `ibu' adalah `tubuh' dan `nama itu sendiri'," demikian menurutnya. Tubuh perempuan yang menulis sangat dekat dengan suara dan irama. Perempuan menulis dengan tinta putih, tak ada batasan baginya dalam produksi teks, sementara laki-laki menulis dengan tinta hitam, terlalu banyak aturan atau konvensi yang harus mereka lalui demi sebuah pengakuan. Kembali pada alam bawah sadar, perempuan sebagian hidupnya tersimpan dalam alam bawah sadar, karena terlalu sering memerankan peran pasif, dan dalam menulis, alam bawah sadar tersebut menjadi sumberdaya yang  luar biasa. Alam bawah sadar yang dituliskan bukan lagi sebagai sebuah represi psikologis.


Tambun, 30 Mei 2014



Sabtu, 24 Mei 2014

Keadilan Pada Memori

Oleh Mariana Amiruddin


Memorabilia, kata yang menjelaskan tentang mengingat suatu peristiwa di waktu tertentu, dan kita pernah berada di sana. Memorare dari bahasa Latin, yang berarti "membawa ke dalam memori”. Memorabilia memecahkan teka-teki ingatan, manusia didesain memiliki memori, juga didesain untuk melupakan. Dalam ingat dan lupa itu, kita dimediasi oleh apa yang disebut sejarah.

Dibalik memori dan melupakan itu, sesungguhnya ada masalah filosofis yang dalam. Memori tidak akan ada bila pada saat peristiwa itu kita tidak memikirkannya. Tentu kita pernah bertanya, kemana memori pergi? Atau bahkan hampir seluruhnya lenyap? Paul Ricoeur, filsuf Prancis yang banyak menulis tentang filsafat hermeneutika menghasilkan sejumlah pertanyaan tentang sejarah, memori, dan melupakan, mengapa peristiwa sejarah besar di dunia seperti Holocaust menempati garis depan kesadaran kolektif dibandingkan peristiwa-peristiwa besar lainnya yang dekat dengan hidup kita, bangsa kita?

Menarik sebuah karya penting dalam filsafat Paul Ricoeur, meneliti hubungan timbal balik antara "mengingat dan melupakan", menunjukkan bagaimana hal itu mempengaruhi persepsi, pengalaman, sejarah, dan produksi narasi sejarah. Bagaimana sejarawan menetapkan kebenaran dan keakuratan cerita mereka. Apakah ada suatu kebenaran historis yang obyektif, atau semua sejarah konstruksi dari sudut pandang tertentu, mengekspresikan kepentingan mereka yang memiliki kekuatan untuk menulis itu. Memori perlu dianalisis dalam hubungannya dengan lawannya, yaitu lupa . Dan sejarah selalu dalam ketegangan antara memori dan lupa, dan akan menjadi dua kutub yang selalu bertentangan. Maka pertanyaan penting tentang memori adalah “mengapa kita lupa?”. Ricoeur menyatakan, manusia mampu membuat memori dan membuat sejarah atau bahkan melupakan hal-hal tertentu dalam memori. Dengan kata lain, baik memori dan melupakan, keduanya tunduk pada kekuasaan, dan dengan demikian juga tunduk pada penyalahgunaan. Atas hal ini, Ricour menyatakan soal “perlunya keadilan pada memori”.  Ricour mengatakan bahwa sejarah - atau dapat disebut “kenangan kolektif “-memori seharusnya lebih berkaitan dengan tugas oleh dan untuk keadilan. Keadilan dan harapan macam apa yang kita miliki bila kita lupa? Dalam On the Genealogy of Morals Nietzsche menjelaskan apa yang disebut "lupa aktif" dan juga mengingatkan kita bahwa lupa bukan hanya kegagalan memori, melainkan penyangkalan.

Memori Kolektif yang Hilang

Mei 1998 adalah peristiwa yang nyaris hilang dalam memori kolektif bangsa ini, meskipun sebagian besar dari kita pernah ada dalam suasana tersebut. Memori yang muncul saat kita pernah ketakutan menggantungkan sajadah di pagar, menuliskan kata “pribumi” di tembok rumah. Hal-hal itu adalah pengingat peristiwa bahkan dengan panca indera, yang disertai penyerangan dan pembakaran ke toko-toko, mall-mall, supermarket, dan rumah-rumah pribadi. Paling terekam di media massa waktu itu adalah ratusan orang hangus terbakar di dalam Mall Jogja Klender.

Dibalik bangunan-bangunan hangus itu, ada lapisan memori yang paling dalam, yaitu di jalan-jalan jembatan tol dimana perempuan-perempuan dicegat, diturunkan, ditelanjangi, diseret dan dianiaya dan ditonton orang. Korban-korban saat ini telah menjadikan “lupa sebagai penyembuhan” dan membangun kehidupan baru untuk  keluar dari luka yang belum tentu sembuh. Tetapi apa yang mengakibatkan kerusuhan itu sendiri terjadi, sampai hari ini kita tidak tahu dan kita hanya menjadikannya sebagai mimpi buruk saja. Kita bisa mengetahui bencana Krakatau di masa Perang Dunia Kedua, tetapi kita lupa dengan bencana kerusuhan yang baru saja lewat 16 tahun yang lalu? Bagaimana sikap negara atas memori kolektif yang hilang dalam tragedi bangsanya? Telah terjadi penyangkalan oleh negara yang berlangsung sampai sekarang dengan tiadanya investigasi, bahwa kerusuhan, kematian massal, dan serangan seksual benar-benar terjadi.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) terbentuk pada tanggal 23 Juli 1998 berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pertahanan dan Keamanan, Mnteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita dan Jaksa Agung, antara lain menyimpulkan bahwa kasus-kasus kekerasan seksual terjadi dalam kerusuhan Mei 1998. Kekerasan Mei 1998 menjadi perhatian dunia, dan merupakan wujud paling ekstrim akibat represi yang luar biasa dalam penghancuran martabat kemanusiaan di rezim Orde Baru. Kesimpulan TGPF menunjukkan adanya unsur kesengajaan dalam kerusuhan Mei yang sampai saat ini belum ada tindak lanjut yang berarti dari pihak negara. Selama tidak ada realisasi keadilan bagi korban dan masyarakat umum, maka bangsa ini tidak sehat karena belum bisa menyembuhkan lukanya.

Keadilan pada Memori, Keadilan pada Bangsa

Raymond A. Knight meneliti bahwa perkosaan bukan soal penyaluran seksual, melainkan soal kekuasaan. Perkosaan pada tragedi Mei 98 menunjukkan perkosaan sebagai upaya penaklukan, untuk membangun trauma dan rasa takut untuk melawan. Perkosaan dilakukan dalam konteks represi politik adalah tentang cara mengontrol korban dan menghapus otonomi dan kemanusiaan mereka.

Oleh karena itu kekerasan seksual dalam Tragedi Mei 98 adalah memori yang sengaja dilupakan. Terdapat hubungan antara memori dengan identitas bangsa. Keterbukaan sebuah negara atas sejarahnya menunjukkan kedewasaan politik dan sistemnya, menunjukan moral yang baik di hadapan dunia.

Sudah 16 tahun yang lalu peristiwa tragedi Mei terjadi, dan sampai saat ini tidak ada jawaban dan peringatan yang serius dari para elit politik, bahkan cenderung menanamkan “kelupaan kolektif” kepada masyarakat dengan menyangkalnya. 

Bekasi, 24 Mei 2014





Sabtu, 03 Mei 2014

Selamat Tinggal Ingatan


Oleh: Mariana Amiruddin

Bulan Mei seharusnya menjadi bulan yang kelam yang membuat kita berdiri sejenak dan mengheningkan cipta atas serentetan tragedi yang paling tidak masuk akal dalam sejarah manusia. Telah banyak tragedi dalam skala yang luas di Republik Indonesia yang dilakukan oleh bangsanya sendiri, ----jauh setelah mendeklarasikan dirinya sebagai bangsa merdeka. Tragedi-tragedi  hitam yang dibungkus rapi sepanjang Orde Baru Soeharto dan diujungnya Mei 1998. Sejumlah tragedi yang membunuh ratusan saudara-saudara kita; diantaranya dianiaya dan diperkosa. Contoh kekejian yang paling tidak masuk akal adalah totaliter-nya Orde Baru Soeharto, dimana Marsinah, seorang buruh diupah murah. Dia adalah perempuan muda yang mungil dan kerempeng, barangkali karena saat itu sangat sekali kurang makan. Marsinah yang berkacamata, dan paling berani diantara kawan-kawan buruhnya itu diculik dan disiksa oleh aparat, dan kelaminnya ditodong laras panjang, ditembakkan di dalamnya sampai rahimnya terburai.

Sampai hari ini, tragedi-tragedi tersebut tidak diungkap, tidak ada permohonan maaf, tidak ada pengadilan, tidak ada monumen yang terkonsentrasi untuk mengenang tragedi supaya keluarga korban bisa duduk damai dan tenang berdoa di sana dan sementara para generasi baru berdiri di sana untuk studi dan merenung soal sejarah bangsanya. Sayang sekali tragedi-tragedi itu dianggap kebohongan, dianggap tidak berhasil  menunjukkan bukti. Sementara tangisan keluarga mereka masih terus mengalir sampai kini. Tapi yang paling menyedihkan dari semua itu adalah, upaya #melawanlupa ini dituduh sebagai "menunggang pilpres pemilu 2014", dan barangsiapa yang bicara soal tragedi ini langsung dimasukkan dalam "RING pro dan kontra dukungan para capres", padahal, persoalannya lebih jauh dari itu. Tuduhan ini sungguh-sungguh menyedihkan. Bagaimana sebuah kejahatan kemanusiaan yang dilupakan, diletakkan dalam turnamen pro dan kontra pendukung para capres! Mereka tidak pernah mendengar jeritan keluarga korban yang ditelan dalam-dalam . Sebab, bertahun-tahun para saksi, relawan, dan orang-orang sipil yang peduli pada masalah tersebut menyebarkan catatan dan dokumen tragedi ini tiada yang mendengar, tiada yang percaya, sebagian sengaja melupa karena mengalami trauma. Dan saat berita-berita ini mulai terdengar dimana-mana, kebetulan dalam suasana Pemilu 2014 -- seperti biasanya, ---  mereka diciptakan dengan sangat mudah untuk mengatakan bahwa "itu kebohongan" --- lalu kitalah para korban dan saksi-saksi serta relawan yang bekerja selama bertahun-tahun menjadi yang kemudian ditikam.

Padahal, kami bukan sedang menikmati arus kecerewetan orang soal " pro dan kontra dukungan antar capres" melainkan menyangkut semua pihak-pihak yang bertanggung jawab saat itu, menyangkut kredibilitas dan kepercayaan kami pada siapa yang akan memimpin bangsa ini dalam konteks apa yang terjadi dalam rentang sejarah bangsa ini. Pihak-pihak yang bertanggungjawab adalah mereka yang menjadi petinggi, sekarang masih melambaikan tangan dilayar kaca sambil melenggang, hidup dengan sangat berkecukupan, makan makanan yang enak setiap pagi siang malam, jalan-jalan dan belanja dengan tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab dan diadili menjadi "yang paling aman" hidupnya di atas ratapan keluarga korban yang adalah anak-anak bangsanya sendiri. Lalu cerita diputarbalikkan, rakyat dininabobokan, hanya 16 tahun saja peristiwa-peristiwa keji itu membuat banyak orang lupa, membuat orang akhirnya bilang “iya memang tidak pernah terjadi apa-apa”, dan para paman dan bibi, begitupula kakek dan nenek, atau juga guru-guru dan pengajar-pengajar di universitas tidak lagi mampu menyampaikan cerita itu pada generasi muda, sebab tidak ada dalam buku-buku ilmiah yang mereka pegang, semua sudah menguburnya dalam-dalam, dan seketika tidak lagi percaya bahwa tragedi-tragedi itu pernah ada, kenyataan yang seharusnya kita terima: telah terjadi tindakan kekerasan yang paling tidak masuk akal dalam sejarah manusia di dunia. Suara korban bisa menjadi bukti, tetapi mereka diperlakukan sebagai obyek-obyek hukum, bukan sebagai subyek-subyek hukum yang berhak mendapatkan perlindungan, rasa aman, termasuk menunggu sampai mereka siap untuk bicara dan menunda air matanya mengalir kembali.

Tanah Indonesia telah dibangun oleh kekerasan, dan selanjutnya kebodohan. Kontes-kontes dalam pesta demokrasi tidak disertai pendidikan politik yang jujur dan sejarah yang sebenar-benarnya diumumkan. Maka janganlah kita murung ketika Senayan menjadi tempat laga orang-orang yang hanya memikirkan dirinya, dan sibuk mengisi kantongnya, tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya demi rakyat, demi kita semua. Indonesia adalah negeri yang penuh senyum alias senyum yang getir --- yang setiap kalinya harus menelan diam-diam apa yang pernah terjadi pada keluarganya, saudara-saudaranya, tetangganya, dan orang-orang yang diseberang pulau sana, yang mengalami hal sama. Ratusan korban yang suaranyapun tak terdengar saat demokrasi digelar, yang kebenarannyapun tak diakui oleh petinggi negeri, adalah dosa-dosa yang mereka tanam dengan subur, lebih subur dari tanah kita yang saat ini sudah kering kerontang dan terkontaminasi oleh limbah-limbah petinggi yang serakah dan tak hentinya mengeksploitasi manusia dan alamnya. Cobalah, cobalah mencoba untuk mengetahui bahwa bangsa ini pernah kelam. Tanyakan pada orang-orang yang pernah hidup dimasa itu. Itu sudah menjadi cukup bukti, sebenar-benarnya dari sistem hukum yang dimanipulasi para aktor-aktor politik, militer dan intelejen, dan para munafik, pengkhianat serta oportunis yang keji...  SELAMAT TINGGAL INGATAN!



Bekasi, 03 Mei 2014


Ratusan Korban Kerusuhan Mei 1998 dimana banyak orang-orang terbakar di dalam Mall-Mall dan di rumahnya sendiri, dan dibunuh di tengah jalan. Kerusuhan Mei di luar akal sehat kita, bahkan imajinasi kita tentang pembunuhan. Mereka diberi label "penjarah" oleh penguasa waktu itu. Dan kematian mereka seolah disukuri tanpa melihat adanya provokasi dan pembakaran yang disengaja dalam skala besar. Foto ini diambil dari dokumentasi berbagai media yang sempat meliput kerusuhan Mei terjadi.  

Rabu, 30 April 2014

Manusia Setengah Tiang


Oleh: Mariana Amiruddin

Ketika usiaku 9 tahun, ayah dimarahi orang kampung karena perbuatanku. Di bulan Agustus, hari kemerdekaan negaraku waktu itu, aku bermain sendiri di halaman. Kulihat bendera berkibar di tiang. Aku tergiur memainkan bendera itu, menaikkan dan menurunkannya. Aku senyum sendiri. Tak lama ibu memanggil-manggil, aku segera mengerek bendera ke puncak tiang. Tetapi tak berhasil, tali pengerek macet, sulit ditarik. Aku kesal. Akhirnya kubiarkan bendera berkibar setengah tiang.

Sore tiba, ayah diteriaki orang sekampung. Kulihat air muka ayah membeku. Banyak orang berkerumun dan menunjuk-nunjuk bendera. Sepertinya mereka marah, dan aku takut. Aku sembunyi di belakang punggung ayah, kudekap pinggangnya. Ia membalas memelukku. Sepertinya mereka mau membunuh ayah. Tapi aku tak mengerti, apa salah ayahku dengan bendera itu. Bibirnya kelihatan bergetar, ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tak sempurna. Orang-orang terlihat semakin marah, mereka berteriak dan memaksa masuk rumahku. Aku histeris, sementara ibuku hanya menatap kami dari balik pintu, matanya takut seperti mataku.

Mengapa mereka memarahi ayahku? Kulihat bendera itu. Itukah penyebabnya? Aku menangis. Aku menggeliat keras melepas pelukan ayah, berlari kencang ke tiang bendera. "Apa masalahnya? Inikah masalahnya?" tangisku. Kutarik tali kerek sekuat tenaga, bendera berhasil mencapai puncak. Sekejap orang-orang marah itu terdiam. Seolah bendera itu adalah tuhan dan aku malaikatnya. Kutatap mata mereka satu persatu. Air mataku juga jatuh satu persatu. Aku tak mengerti apa yang diinginkan orang dewasa. Itu hanya bendera, lalu orang-orang itu menyebut ayahku adalah pegawai negara. Jadi mengapa orang-orang itu marah. Mereka yang kebanyakan laki-laki dewasa itu bubaran dan menasihatkan sesuatu pada ayahku sambil menyebut-nyebut namaku.

Ayah mengajakku masuk ke dalam rumah. Aku mengendus. Ayah kemudian menarik lenganku dan aku duduk di pangkuannya. Ayah membisikkan sesuatu padaku. Katanya pada hari kemerdekaan bendera tidak boleh dikibarkan setengah tiang. Itu tanda berkabung, memperingati kematian. Waktu itu aku tidak tertarik dengan nasihat 'tidak boleh' ayahku. Aku hanya tertarik bahwa kematian begitu ditakuti sekaligus dihormati. Aku kecup ayahku, aku berlompatan menuju kamar tidur sambil mengingat-ingat pengetahuan yang baru aku dapatkan hari itu. Simbol-simbol negara, kemerdekaan dan kematian.

Sejak itu aku tertarik pada pikiran orang dewasa. Diam-diam kubuka berkas-berkas ayah setiap malam, berharap menemukan sesuatu. Ayahku ternyata menulis catatan harian. Di dalamnya ada tentang ibu dan aku. Aku tertumbuk pada halaman itu. Mereka sering menyangka keluarga kami keturunan Cina. Istriku kebetulan berkulit putih dan bermata sipit. Kasihan istriku, ia sering dilempari batu setiap pulang dari pasar. Dan anakku... gara-gara bendera itu dia menjadi gusar. Aku lihat matanya berkilat mencoba melawan orang-orang itu.

Aku tak mengerti, mengapa ayah menulis soal ibu yang bermata sipit. Aku menatap foto ibuku di meja kerja ayah. Betul, matanya sipit. Lalu aku berjalan menuju cermin. Mataku juga sipit. Mirip ibu. Kulitku juga putih, mirip ibu. Aku nyalakan lampu ruang kerja ayahku, penasaran dengan tubuhku sendiri. Betul, sipit dan putih. Pantas kawan-kawan di sekolah sering mengejekku si amoy. Ya, aku tahu itu julukan boneka kawan si unyil yang bermata sipit dan berkulit putih. Aku mengerti sekarang. Kutatap lagi mataku. Seperti mata ibu, tapi caraku menatap persis ayah. Mata ayah yang tajam dan perih. Mata yang memancar dari dalam dada.

Kulongok kembali buku harian ayah, ia menulis kata yang tak kukenal. Kata mereka orang Cina tak kenal agama. Atheis, penyembah berhala, menolak dan melawan Tuhan. Kadang dicurigai komunis. Seperti kami, kata mereka, kami orang Cina yang pura-pura jadi abdi negara. Itu sebabnya mereka marah ketika bendera kami hanya setengah tiang. Aku menutup catatan harian ayahku ketika terdengar langkah dari jauh. Seperti langkah ayah. Aku terburu-buru keluar, kututup pintu kamar kerja ayah perlahan. Aku ragu itu suara ayah. Suara gemeresak kembali terdengar dari halaman belakang. Sekelibat terlihat burung malam pergi meninggalkan sarang. Aku bernafas lega. Aku menuju kamar, melamunkan catatan harian ayah.

Cina. Kataku dalam hati. Aku ingat kawan-kawan di sekolah memanggilku singkek. Aku tak tahu ejaan betulnya, tetapi mereka sering memanggil begitu dengan wajah dengki. Aku tanya teman sebangku bernama Herito, anak keturunan Jepang yang matanya juga sipit. Dia bilang itu julukan untuk orang Cina yang pelit. Aku murung mendengarnya. Aku tak mengerti. Suatu hari sepulang sekolah aku mendatangi ibu sambil menangis tersedu. Ibu mengusap air mataku. Seragamku kotor. Tampak peluh membasahi wajah dan pakaianku. Hari itu, ban sepedaku dikempesi entah oleh siapa. Aku sempat memergoki anak-anak berseragam sekolah mengerubungi sepedaku kemudian mereka pergi sambil tertawa-tawa. Aku berjalan kaki mendorong sepedaku, matahari tepat di atas kepalaku. Rambutku memerah seperti rambut jagung. Bocah Cino Londo, begitu orang mengomentari aku.

Herito datang melintas dengan sepedanya. Ia menawarkan tumpangan kepadaku. Aku gembira. Sepeda kutinggalkan di tukang ban. Tetapi dalam perjalanan, gerombolan anak lelaki berdatangan dari belakang, melempariku dengan batu. Beberapa batu kecil tajam membesat lengan dan kepalaku. Sebagian lagi menerjang mataku. Aku doyong dan jatuh, kulitku bersinggungan aspal. Kulit putihku kini bergores dengan bercak merah. Aku meringis, kemudian menangis. Herito geram dan berupaya lari mengejar anak-anak itu. Aku meringis sepanjang jalan. Herito mengantarku sampai rumah. Ia tak seperti anak kecil. Aku suka dia. Ibu lalu membasuh lukaku dengan air hangat. Aku melihat matanya yang lembut dan berkabut.

Malam itu aku semakin memahami catatan harian ayah. Aku tertidur dan bermimpi ayah membelikanku seekor anjing. Aku gembira sekali. Tetapi orang kampung lagi-lagi berdatangan mengeroyok anjingku sampai mati. Aku terbangun dan bulir keringatku menetes ke lengan ayah. Ayah-ibu sudah di sampingku rupanya. Mereka memelukku bergantian dan aku menangis. "Ayah, apa salahku pada orang-orang itu?"
Ibu merunduk dan ayah mengecupku perlahan, "Karena kulitmu putih dan matamu sipit, sayang."

Ayah-ibuku pergi dari kehidupan. Kini segala kehidupanku ditanggung paman. Aku perempuan dewasa yang tinggal sendiri di kota. Hari-hariku sendiri, aku sangat terbiasa dengan sendiri. Banyak tetangga memanggilku Encik sambil terus memuji kulitku. Tapi aku tak bangga, karena kulitku hanya menyimpan luka. Dan tatapan tajamku yang perih pada mereka. Suatu hari di bulan Mei, aku mahasiswi yang baru saja tiba di kampus. Suasana jalan hari itu lengang tak seperti biasanya. Aku kemudian dikejutkan oleh asap yang mengepul dari balik bangunan pertokoan, dan segerombol orang berduyun berdatangan dari kejauhan. Wajah-wajah asing, aku tak kenal mereka, tak seperti biasanya. Aku melihat satu di antara mereka melempari bangunan pertokoan itu dan sekejap terbakar.

Kakiku gemetar, mungkin wajahku pucat. Aku berniat pulang melihat gejala aneh itu. Aku berjalan kaki, melangkah cepat sekali. Aku menunggu bus tetapi tak satupun lewat. Tampak beberapa orang lalu-lalang seperti ingin menyelamatkan diri. Aku tak mengerti mengapa kini banyak asap mengepul mengganggu nafasku dan dentuman terdengar di mana-mana. Aku berlari sambil menutup hidung, tanpa tujuan. Masuk ke gang-gang, perumahan, dan ternyata munculnya kembali di ujung jalan bangunan pertokoan.

Aku terjebak lagi pada kerumunan orang yang kini lebih banyak jumlahnya, membawa kayu dan rotan, seperti kerumunan semut besar yang mencari makanan. Aku berlari ke ujung jalan lain, tetapi di sana juga sudah banyak orang berkerumun. Wajah mereka marah, seperti orang-orang yang marah pada ayahku dulu. Aku tak bisa berpikir, tubuhku beku tak kuasa melangkahkan kaki. Aku limbung, tak terkendali dan berpegangan tembok jalanan. Mataku terpejam, pikiranku menerawang. Aku lihat wajah ibu, kemudian ayah. Kupanggil mereka. Batu-batu berhamburan di atas kepalaku, beberapa mengenai tubuhku. Tapi tak terasa sakit. Aku merasa ada yang datang menjemputku. Terdengar suara lantang seorang lelaki seperti membuat komando pada yang lain. CINA! CINA! BAKAR!

Tubuhku panas, aku tahu api kini menjilati tubuhku. Aku tahu kulit putihku mengelupas seperti plastik yang terbakar. Aku tahu mata sipitku terpejam dan takkan pernah lagi kubelalakkan. Tubuhku meleleh. Bermil-mil membentuk gurun. Lekuknya sampai ke nirwana. Lekuk yang menenteramkan hati. Gurun di mana Tuhan menyapaku dengan hati; dunia sudah lama mati, kau tak perlu kecil hati, kulit di tubuhmu takkan membuatmu luka lagi. Tidurlah, mimpi selamanya. Temui ayah-ibumu di sana.



Dimuat di Republika  08/14/2005 



Senin, 24 Maret 2014

Amarah Langit



Oleh: Mariana Amiruddin

Bulan Maret. Petir masih menyambar-nyambar. 
Marah atas apa wahai langit? 
Ledakan itu persis di atasku. 
Berarak-arak terdorong awan, 
mengguncang atap sampai ke lantai. 
Airmu jatuh keras sekali memercik sampai ruang kerjaku. 


Ai ini amarah atas apa? 
Wahai langit, 
asap dari hutan dibakar berhektar-hektar itu bukan di sini. 
Titik-titik airmu berebut di kaca jendelaku. 
Aku ngeri menyaksikan amarahmu.
Seekor kucing liar menumpang berteduh di ruang tamuku. 

Ia ragu aku manusia yang baik. 
Ia menjingkat-jingkat basah. 
Hewan yang paling takut basah.

Ia berharap aku orang baik yang mau menampungnya.
Wahai langit, 

semoga kemarahanmu mengingatkan kami, 
sekaligus menolong mahluk-mahluk kecil seperti kami. 

Dan tanda-tanda itu telah aku saksikan berkali-kali.
Redalah hujanku. 


Redahlah sampai hanya kudengar tetes lembut jatuh di atas tanah pohon melatiku.

Senin, 17 Maret 2014

Senin, 10 Maret 2014

Salah Kaprah tentang Feminisme


Oleh: Mariana Amiruddin

Saya sangat terkejut dengan pernyataan seseorang yang mengomentari status di facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional. Saya tambah terkejut lagi mengetahui bahwa feminisme begitu buruknya dipandang, seperti buruknya dongeng  paling keji di muka bumi ini yang dinamai “tarian harum bunga” tarian yang menggambarkan para perempuan aktivis bertelanjang  menari-nari membunuh dan menyilet kelamin para jendral. Mereka yang mengomentari tentang feminisme berangkat dari kebencian, bukan dari pengetahuan. Mengenal feminisme, berangkat dari hasutan, bukan dari keingintahuan.

Tetapi kemudian saya mencoba mendamaikan pikiran, bahwa ini realitas yang sedang kita dan masih terus menerus kita hadapi. Kita ditengah-tengah masyarakat yang diajarkan untuk memelihara hasutan sudah sejak bertahun-tahun lamanya. Masyarakat  yang dipalingkan dari kecintaan pada ilmu pengetahuan dan gagasan. Masyarakat yang dijauhkan dari kegemaran pada buku-buku dan tulisan-tulisan, atau dari pelajaran-pelajaran yang menggairahkan. Masyarakat yang dibiarkan “berkepala kosong”, oleh sistem-sistem pendidikan yang hanya mengejar jawaban-jawaban ujian yang berisi hapalan-hapalan.  Bagaimana mungkin mereka mencintai feminisme sebagai pengetahuan, bila sejak kecil mereka sudah disuapi “makanan pendidikan” yang tanpa gizi, tanpa ilmu dasar, dan dipermainkan oleh doktrin, mitos dan sejarah-sejarah yang disembunyikan, pemikiran-pemikiran yang dilarang-larang. Mereka sudah terlatih berjalan dalam kegelapan, ketika sedikit cahaya tampak berpijar lalu segera dipadamkan. Kebodohan-kebodohan lebih sering dimenangkan daripada kepandaian-kepandaian akal. Akal-akal pun dimusuhi dan diseberangkan dengan agama-agama. Agama dan akal dibentur-benturkan, dan yang terjadi adalah pecahan kecurigaan-kecurigaan pada pelajaran-pelajaran penting untuk asupan gizi akal manusia.

Pandangan buruk tentang feminisme sudah menjalar kemana-mana. Kekosongan itu kemudian dijejali dengan menggunakan  teknologi komunikasi dan informasi bernama sosial media, tempat orang bercakap-cakap yang hampir tak mempunyai isi. Seperti gunjingan-gunjingan keji para pencemburu keberhasilan orang lain. Kekosongan yang memproduksi inferioritas-inferioritas manusia yang kehilangan eksistensi. Di wilayah ini patriarkhi  tumbuh subur berbuah berkembang menjadi racun-racun yang akan membunuh akal dan kesadaran.

Feminisme adalah ide yang berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan, bukan dari desas-desus. Kebencian mereka sebagaimana pada anjing dan babi ciptaan Tuhan yang dilahirkan melalui jutaan  tahun proses evolusi awal kehidupan di bumi. Kebencian mereka seperti pada mitos Hawa yang menggoda Adam melalui buah pengetahuan, buah Kuldi, buah pengakibat lahirnya pendosa-pendosa yang dilempar ke dunia. Suara terbanyak anti feminis adalah kaum laki-laki, lalu kemudian kaum perempuan membuntuti mereka. Perempuan-perempuan yang dibentuk tak mengetahui siapa diri dan apa yang telah mereka alami, yang dibuat bergantung sepenuhnya pada lelaki.

Berikut ungkapan yang sering saya temukan, dan ternyata sudah banyak tersebar kemana-mana di linimasa orang-orang Indonesia, di abad 21, di era teknologi komunikasi, dengan pengguna yang kaya dengan kekosongan-kekosongan.

Indra Jaya, demikian nama yang tercantum di akun facebooknya.  Dia memakai foto bertopeng Anonymous (sebetulanya topeng ini melambangkan progresifitas yang radikal, tapi orang ini sepertinya—lagi-lagi tersesat—dalam kekaguman bentuk-bentuk saja), dengan slayer seperti pejuang Palestina.  Dengan sangat yakin ia mengomentari facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional,

“Feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai tujuan | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”

“Feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”

“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.

Saya akan memberkan narasi umum untuk memudahkan masyarakat mengerti apa itu feminisme tanpa diawali rasa benci. Ide tentang feminisme sebetulnya tidak perlu jauh-jauh mengutip gagasan-gagasan feminisme, sebab gagasan feminisme sebetulnya ada dalam keinginan dan kehidupan banyak individu, termasuk laki-laki. Seperti ini contohnya: Keinginan untuk maju adalah hal yang paling hakiki di dalam diri setiap manusia. Kemauan untuk maju dan sukses adalah hal yang sangat positif dan sehat. Untuk itulah Indonesia begitu lama bercita-cita untuk merdeka, berdaulat dan menentukan nasibnya sendiri. Rakyatnya baik perempuan dan laki-laki, menginginkan anak-anaknya sekolah, anak-anak perempuannya sekolah dan menjadi pintar sehingga tidak mudah dibohongi, tidak mudah terjebak perdagangan perempuan (yang sudah ada sejak masa pra-kemerdekaan), tidak terjebak pada prostitusi dan ditipu untuk tujuan ekspolitasi seksual.  
Keinginan untuk  maju adalah harapan-harapan para orang tua saat dulu sampai kini, harapan pada keluarga. Sukses adalah harapan setiap orang yang akan menambah kepercayaan diri seseorang.  Ayah saya misalnya, ingin sekali anak perempuannya maju. Waktu saya kecil, saya dipeluknya, sambil berbisik “Ayah ingin kamu besar nanti bisa menyetir mobil sendiri, berpendidikan tinggi, dihormati orang.” Ayah juga melarang saya dekat dengan sembarang laki-laki, ayah selalu mengingatkan dengan kata “hati-hati dengan laki-laki”. Dulu saya pikir, apakah begitu buruknya laki-laki? Bukankah Ayah juga laki-laki? ”

Ayah pekerja keras, sampai lupa makan dan minum, sampai ginjalnya rusak, dan ia menabung sedikit demi sedikit hasil-hasil keringatnya untuk anak-anak sekolah, termasuk anak-anak perempuan. Ia adalah awal dari gagasan tentang anak perempuan yang mandiri. Sementara Ibu adalah awal dari gagasan tentang kasih sayang dan perhatian, kesabaran. Saya dikenalkan olehnya  tentang keinginan untuk maju, bukan berawal dari feminisme, melainkan dari Ayah saya yang masa hidupnya tidak mudah untuk mendapatkan uang sekolah, untuk meraih prestasi ia harus mencari uang sendiri, hidupnya bersusah payah. Sementara Ibu lahir dari keluarga yang lingkungannya sangat tentram dan damai, hijaunya kota Bogor, dan tanpa harus banyak uang, lingkungan itu membuat Ibu cinta pada alam, pada tumbuhan, dan menyukai seni dan buku-buku di tempat Kakek bekerja.

Feminisme bisa kita temukan dalam diri-diri manusia di sekitar kita. Ibu saya Ibu Rumah Tangga, hebat telah menata rumah tangga, mengasuh 6 anaknya, memberi saya inspirasi tentang keindahan, tata ruang, dan wangi-wangi ruangan, dan kata-kata yang lembut, kesabaran yang tiada terkira, sikap yang dingin dan bijak. Meskipun Ibu tidak sempurna, begitu juga Ayah, saya dapat memaklumi bahwa dalam setiap diri manusia tidak ada yang sempurna, tetapi saya telah menangkap hal-hal baik dari mereka yang membuat saya merasa sempurna. Ayah mengajarkan saya tentang perlunya keras kepala, tidak mudah menyerah, dan harus berusaha sepenuhnya dengan totalitas untuk mencapai sebuah tujuan. Ayah membuat saya menjadi anak perempuan yang punya cita-cita. Ayah mengajarkan saya tentang kejujuran dan kepatuhan pada aturan-aturan yang baik. Saat saya besar, saya tak bisa membayangkan bagaimana seseorang bisa korupsi mengambil uang rakyat, memanipulasi orang lain, menipu.  Saya tak punya contoh untuk ini. Sementara Ibu, membuat saya menjadi anak perempuan yang penuh dengan rasa sayang dan kasih tak terhingga pada semua mahluk. Ayah dan Ibu adalah wujud Yin dan Yang, dari dua manusia yang sangat berbeda jauh baik suku, jenis kelamin, bahasa, maupun latar belakang hidupnya. Mereka adalah kumpulan alam bawah sadar saya dari rentang masa-masa kecil saya hingga remaja, yang berkembangbiak dan muncul ke permukaan kesadaran.

Kombinasi yang  sama juga diterangkan oleh feminisme tentang eksistensialisme, tentang perlunya perempuan yang mandiri, supaya ia dapat menentukan nasibnya sendiri, bila sewaktu-waktu ia ditipu daya, dijerat, dilecehkan, diperkosa, dimain-mainkan. Kemandirian perempuan akan membuatnya terhindar dari itu semua, baik secara ekonomi, pikiran, dll. Dan kombinasi tentang kelembutan, bahwa perempuan diajarkan untuk peduli, selalu peduli pada yang lain. Diajarkan kasih dan moral yang kami miliki, yaitu moral tentang peduli, mengulurkan pertolongan pada semua mahluk yang mengalami kesusahan dengan dimulai untuk berdaya dari diri sendiri. Moral feminisme yang dapat kita pelajari dalam teori tentang Etika Kepedulian, dan mencintai lingkungan dalam teori Ekofeminisme.

 Ibu saya bukan perempuan yang bekerja, tapi ia punya suami, yaitu ayah saya yang pekerja keras dan mampu mencapai tujuan-tujuan kesuksesan untuk membiayai keluarga. Tapi saya tahu bahwa setiap ayah tidak bisa seperti ayah saya. Ada juga ayah-ayah yang mengalami kesulitan, tidak sukses, tidak punya uang banyak, tidak berdaya, tentunya butuh ibu-ibu yang bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga. Butuh ibu-ibu yang bisa memimpin, mandiri, dan membuat rumah tangga jadi seimbang. Para ayah tentu juga senang punya isteri atau Ibu yang demikian. Banyak pula anak-anak yang tumbuh dari seorang janda atau orang tua tunggal, yang bekerja keras untuk membiayai kehidupan mereka. Mereka juga orang-orang yang hebat.

Kombinasi ini ada dalam feminisme, yang intinya adalah, untuk mencapai suatu keadilan, maka kita perlu mengetahui apa keadilan itu sendiri, keadilan bagi perempuan, supaya dalam sepanjang hidupnya, ia tidak terlalu banyak mengalami hambatan, dalam situasi masyarakat dan budaya yang patriarkhi, yang ketika remaja hampir semuanya mengalami pelecehan seksual di ruang publik, di bis kota, di jalanan, di sekolah. Para Ayah akan tahu bagaimana anak perempuan itu tak bisa tumbuh dengan mudah di tengah masyarakat, tak semudah anak laki-laki. Para Ayah sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis untuk anak perempuannya. Dan para Ibu sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis dalam memperhatikan lingkungannya. Tentu ada juga ayah dan ibu yang kelam, tetapi cerita sedih sudah terlalu banyak kita telan.

Kakak perempuan saya yang ketiga, dulu bekerja di Bank. Saat itu dia sangat keren sekali, saya memperhatikan gaya dia setiap kali berangkat ke kantor, begitu sibuknya. Sejak sekolah dia dikenal anak paling berprestasi, dia sangat pintar. Lalu ketika memiliki anak, ia berhenti bekerja. Tapi itu tidak mengurangi kepandaiannya, ia menerapkan pendidikan untuk anaknya dengan sangat baik, mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak di sekitar rumahnya yang kurang mampu. Kakak perempuan saya tetap hebat, begitu juga keempat kakak saya lainnya, mereka mengalami kehidupan yang tidak mudah, mereka sudah terlanjut dididik jujur dan apa adanya, dan dipaksa kuat menghadapi kesusahan, tak gampang menyerah. Ini adalah unsur dari ide-ide feminisme.

“Feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai tujuan |

Kesuksesan adalah tujuan setiap orang. Apakah ada orang tidak mau sukses? Semua ingin! Karena memang itulah dorongan manusia untuk merasa dirinya lebih hidup, lebih berarti. Ini pendidikan moral yang baik dalam feminisme.

“Punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”

Sepanjang sejarahnya, para aktor-aktor feminis bukan hidup dalam dunia yang glamor. Hidup mereka adalah hasil dari usaha keras mereka, keringat, darah, dan rasa lapar dan lelah sepanjang hidupnya. Bukan penghasilan tinggi yang mereka tujukan, tetapi kemampuan ekonomi yang memenuhi kebutuhannya untuk keberlangsungan hidupnya, untuk gagasan-gagasannya yang dinamis, yang memberinya inspirasi bagi dunia lain. Aktivis feminis berbeda-beda dalam cara berpakaiannya, ada yang berkerudung, berselendang, bercelana jins, bertank-top, berdaster, bersepatu bot atau bersepatu hak tinggi, bermacam-macam sebagaimana lingkungan dan seleranya. Para feminis yang saya kenal begitu sayang pada anak dan keluarganya, begitu rindu mereka ketika memeluk anak-anaknya, begitu kuat perencanaan mereka tentang bagaimana menyekolahkan anak-anak mereka. Kalaupun mereka memberontak, apabila perlakuan tak adil padanya, seperti dipukuli oleh suaminya, dihambat kemajuannya, diperlakukan bukan seperti manusia pada umumnya. Kalaupun ada yang tidak berkeluarga, tidak semata-mata ia feminis, tetapi ada jalan hidup orang yang berbeda. Bibi dan Paman saya juga ada yang tidak berkeluarga dan tak punya anak, tetapi bukan karena mereka feminis, tetapi mereka menjalankan hidup seperti itu. Saya sebagai kepoakan mereka, tetap menghargai mereka sebagai bibi dan paman saya. Feminis itu berbeda-beda, seberagamnya jalan hidup manusia.

Banyak aktivis feminis yang tidak punya mobil mewah, bukan karena tidak bisa membelinya, atau memang ada yang tak mampu untuk membelinya. Bahkan tidak sedikit tokoh feminis yang menjual harta bendanya untuk sebuah gerakan untuk keadilan perempuan. Jadi untuk apa mobil mewah itu? Kritik Feminis Radikal dan Marxisme pada kapitalisme dan eksploitasi pada tubuh perempuan, jelas mengatakan bahwa tubuh perempuan bukan obyek, dan perjuangan perempuan adalah perjuangan kelas, perjuangan ekonomi yang mandiri supaya tidak dihisap tenaga mereka, di bayar dengan upah murah atas alasan jenis kelamin mereka oleh kaum patriarkhi yang tergila-gila pada kemapanan dan kekuasaan.

“Feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”

Salah sama sekali. Bahkan saya mengatakan secara terus terang ini kesesatan yang luar biasa pada komentar ini. Standar sukses Feminisme adalah keadilan bagi perempuan. Apakah yang adil bagi perempuan itu? Yaitu, ketika janda ia tidak menderita karena selama hidupnya ia bergantung secara ekonomi pada suaminya. Ketika mengandung dan melahirkan, ia terjamin kesehatan dan gizinya. Ketika ia mengasuh anak-anak mereka, ia terjamin memiliki fasilitas yang memadai baik untuk dirinya maupun anak-anaknya, fasilitas dalam arti hal-hal yang mendukung pengasuhan seperti lingkungan yang baik untuk anak, pendidikan, makanan bergizi, dll dan juga pengembangan diri sang ibu. Ketika perempuan bekerja, maka ia tidak dibedakan upahnya oleh pekerja laki-laki. Yang membedakan hanya kompetensinya. Ketika ia remaja dan telah tumbuh buah dadanya, dan mulai menjadi perhatian lawan jenisnya, janganlah ia dilecehkan. Ketika ia lansia, perhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan perempuan lansia. Ketika ia menikah, biarkan ia memilih calon suami yang ia inginkan dan disaat umurnya sudah matang. Ketika ia berhubungan seksual, biarkan perempuan mencapai kenikmatan seksualnya dan menunjukkan ekspresi kenikmatannya pada pasangan yang ia pilih. Ketika ia menjadi pemimpin, biarkan perempuan diberi kesempatan bagaimana cara ia memimpin dan tunggu bagaimana ia bisa menunjukkan hasil-hasilnya. Ketika ia masuk partai politik dan berhasil duduk di jabatan publik, biarkan ia bekerja dengan tenang tanpa dikait-kaitkan dengan identitasnya dengan perempuan yang katanya emosional dan tak bisa ambil keputusan, atau dianggap meninggalkan keluarganya.

Ini komponen-komponen yang ada dalam gagasan feminisme, dan seluruhnya berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan di seluruh dunia yang disebut dengan Epistemologi Feminis, Metodologi Feminis, serta Teori-Teori Feminisme yang berangkat dari lintas pengetahuan sosial-ekonomi-budaya di berbagai universitas dunia dan dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun, lebih dari tahun rentang kita hidup. Mereka adalah jenis manusia yang jumlahnya setengah dari seluruh manusia yang hidup di bumi ini.

“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.

Angka perceraian pada perempuan TKW tinggi sekali, begitupula pada pekerja-pekerja rumah tangga. Mereka bukan perempuan yang mengenal feminisme. Rata-rata dari mereka bercerai, karena suami-suami telah meninggalkan mereka, suami-suami tidak setia. Mereka yang mencari kerja mati-matian di negeri orang, tetapi suami memakai upaya keringat mereka untuk kepentingan dirinya, untuk berfoya-foya. Angka perceraian juga banyak terjadi pada ibu-ibu rumah tangga, dan banyak dari mereka yang akhirnya ingin mandiri dari segi ekonomi. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang ingin berdaya dan tak bergantung lagi saat menjadi janda.

Dalam gerakan feminisme, berbagai latar belakang perempuan telah ikut berkontribusi. Termasuk ibu rumah tangga. Dan mereka tidak berhenti menjadi ibu rumah tangga ketika mengikuti gerakan feminisme. Bagi mereka yang memiliki suami-suami baik dan mampu, hidup mereka lebih banyak waktu untuk beraktivitas membantu gerakan perempuan. Mereka adalah aktor-aktor penting dalam perjuangan perempuan. Dan, jangan lupa, setiap perempuan yang bekerja, banyak yang sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Banyak ibu pekerja sekaligus ibu rumah tangga, yang memikul dua beban sekaligus. Seharusnya para patriarkh dan laki-laki seperti orang yang komentar ini berterima kasih pada mereka.

Demikianlah jawaban-jawaban saya terhadap kesesatan dan kekosongan pikiran saat masyarakat mengomentari soal feminisme. Mulailah berangkat dari pengetahun, bukan kebencian dan desas-desus yang mengambil kesimpulan sangat jauh dari maksud dan tujuan feminisme itu sendiri. Untuk  memahami apa itu feminisme saya bahkan harus duduk kuliah di bangku pascasarjana selama 2 tahun, dan melahap banyak buku serta penelitian. Tak perlu melakukannya seperti saya, tetapi sudah banyak penjelasan-penjelasan yang komprehensif yang bisa membuat anda lebih paham betapa cerahnya feminisme membangun kehidupan perempuan dan manusia pada umumnya.


Jakarta, 10 Maret 2014