Oleh: Mariana Amiruddin
Saya sangat terkejut
dengan pernyataan seseorang yang mengomentari status di facebook saya tentang
Hari Perempuan Internasional. Saya tambah terkejut lagi mengetahui bahwa
feminisme begitu buruknya dipandang, seperti buruknya dongeng paling keji di muka bumi ini yang dinamai “tarian
harum bunga” tarian yang menggambarkan para perempuan aktivis bertelanjang menari-nari membunuh dan menyilet kelamin para
jendral. Mereka yang mengomentari tentang feminisme berangkat dari kebencian,
bukan dari pengetahuan. Mengenal feminisme, berangkat dari hasutan, bukan dari
keingintahuan.
Tetapi kemudian saya
mencoba mendamaikan pikiran, bahwa ini realitas yang sedang kita dan masih
terus menerus kita hadapi. Kita ditengah-tengah masyarakat yang diajarkan untuk
memelihara hasutan sudah sejak bertahun-tahun lamanya. Masyarakat yang dipalingkan dari kecintaan pada ilmu
pengetahuan dan gagasan. Masyarakat yang dijauhkan dari kegemaran pada
buku-buku dan tulisan-tulisan, atau dari pelajaran-pelajaran yang
menggairahkan. Masyarakat yang dibiarkan “berkepala kosong”, oleh sistem-sistem
pendidikan yang hanya mengejar jawaban-jawaban ujian yang berisi hapalan-hapalan.
Bagaimana mungkin mereka mencintai feminisme
sebagai pengetahuan, bila sejak kecil mereka sudah disuapi “makanan pendidikan”
yang tanpa gizi, tanpa ilmu dasar, dan dipermainkan oleh doktrin, mitos dan
sejarah-sejarah yang disembunyikan, pemikiran-pemikiran yang dilarang-larang.
Mereka sudah terlatih berjalan dalam kegelapan, ketika sedikit cahaya tampak
berpijar lalu segera dipadamkan. Kebodohan-kebodohan lebih sering dimenangkan
daripada kepandaian-kepandaian akal. Akal-akal pun dimusuhi dan diseberangkan
dengan agama-agama. Agama dan akal dibentur-benturkan, dan yang terjadi adalah
pecahan kecurigaan-kecurigaan pada pelajaran-pelajaran penting untuk asupan
gizi akal manusia.
Pandangan buruk
tentang feminisme sudah menjalar kemana-mana. Kekosongan itu kemudian dijejali dengan
menggunakan teknologi komunikasi dan informasi
bernama sosial media, tempat orang bercakap-cakap yang hampir tak mempunyai
isi. Seperti gunjingan-gunjingan keji para pencemburu keberhasilan orang lain.
Kekosongan yang memproduksi inferioritas-inferioritas manusia yang kehilangan
eksistensi. Di wilayah ini patriarkhi tumbuh
subur berbuah berkembang menjadi racun-racun yang akan membunuh akal dan
kesadaran.
Feminisme adalah ide
yang berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan, bukan dari
desas-desus. Kebencian mereka sebagaimana pada anjing dan babi ciptaan Tuhan
yang dilahirkan melalui jutaan tahun
proses evolusi awal kehidupan di bumi. Kebencian mereka seperti pada mitos Hawa
yang menggoda Adam melalui buah pengetahuan, buah Kuldi, buah pengakibat
lahirnya pendosa-pendosa yang dilempar ke dunia. Suara terbanyak anti feminis
adalah kaum laki-laki, lalu kemudian kaum perempuan membuntuti mereka.
Perempuan-perempuan yang dibentuk tak mengetahui siapa diri dan apa yang telah
mereka alami, yang dibuat bergantung sepenuhnya pada lelaki.
Berikut ungkapan yang sering saya temukan, dan
ternyata sudah banyak tersebar kemana-mana di linimasa orang-orang Indonesia,
di abad 21, di era teknologi komunikasi, dengan pengguna yang kaya dengan kekosongan-kekosongan.
Indra Jaya, demikian
nama yang tercantum di akun facebooknya.
Dia memakai foto bertopeng Anonymous (sebetulanya topeng ini
melambangkan progresifitas yang radikal, tapi orang ini sepertinya—lagi-lagi
tersesat—dalam kekaguman bentuk-bentuk saja), dengan slayer seperti pejuang
Palestina. Dengan sangat yakin ia
mengomentari facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional,
“Feminisme sukses mendidik wanita melihat
kesuksesan sebagai tujuan | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil
mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi
lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”
“Feminisme menjadikan materi sebagai standar
sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda
sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa
bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”
“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah
Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap
wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian
pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.
Saya akan memberkan
narasi umum untuk memudahkan masyarakat mengerti apa itu feminisme tanpa
diawali rasa benci. Ide tentang feminisme sebetulnya tidak perlu jauh-jauh
mengutip gagasan-gagasan feminisme, sebab gagasan feminisme sebetulnya ada
dalam keinginan dan kehidupan banyak individu, termasuk laki-laki. Seperti ini
contohnya: Keinginan untuk maju adalah hal yang paling hakiki di dalam diri
setiap manusia. Kemauan untuk maju dan sukses adalah hal yang sangat positif
dan sehat. Untuk itulah Indonesia begitu lama bercita-cita untuk merdeka,
berdaulat dan menentukan nasibnya sendiri. Rakyatnya baik perempuan dan
laki-laki, menginginkan anak-anaknya sekolah, anak-anak perempuannya sekolah
dan menjadi pintar sehingga tidak mudah dibohongi, tidak mudah terjebak
perdagangan perempuan (yang sudah ada sejak masa pra-kemerdekaan), tidak
terjebak pada prostitusi dan ditipu untuk tujuan ekspolitasi seksual.
Keinginan untuk maju adalah harapan-harapan para orang tua
saat dulu sampai kini, harapan pada keluarga. Sukses adalah harapan setiap
orang yang akan menambah kepercayaan diri seseorang. Ayah saya misalnya, ingin sekali anak
perempuannya maju. Waktu saya kecil, saya dipeluknya, sambil berbisik “Ayah
ingin kamu besar nanti bisa menyetir mobil sendiri, berpendidikan tinggi,
dihormati orang.” Ayah juga melarang saya dekat dengan sembarang laki-laki,
ayah selalu mengingatkan dengan kata “hati-hati dengan laki-laki”. Dulu saya
pikir, apakah begitu buruknya laki-laki? Bukankah Ayah juga laki-laki? ”
Ayah pekerja keras,
sampai lupa makan dan minum, sampai ginjalnya rusak, dan ia menabung sedikit
demi sedikit hasil-hasil keringatnya untuk anak-anak sekolah, termasuk
anak-anak perempuan. Ia adalah awal dari gagasan tentang anak perempuan yang
mandiri. Sementara Ibu adalah awal dari gagasan tentang kasih sayang dan
perhatian, kesabaran. Saya dikenalkan olehnya tentang keinginan untuk maju, bukan berawal
dari feminisme, melainkan dari Ayah saya yang masa hidupnya tidak mudah untuk
mendapatkan uang sekolah, untuk meraih prestasi ia harus mencari uang sendiri,
hidupnya bersusah payah. Sementara Ibu lahir dari keluarga yang lingkungannya
sangat tentram dan damai, hijaunya kota Bogor, dan tanpa harus banyak uang,
lingkungan itu membuat Ibu cinta pada alam, pada tumbuhan, dan menyukai seni
dan buku-buku di tempat Kakek bekerja.
Feminisme bisa kita
temukan dalam diri-diri manusia di sekitar kita. Ibu saya Ibu Rumah Tangga, hebat
telah menata rumah tangga, mengasuh 6 anaknya, memberi saya inspirasi tentang
keindahan, tata ruang, dan wangi-wangi ruangan, dan kata-kata yang lembut,
kesabaran yang tiada terkira, sikap yang dingin dan bijak. Meskipun Ibu tidak
sempurna, begitu juga Ayah, saya dapat memaklumi bahwa dalam setiap diri
manusia tidak ada yang sempurna, tetapi saya telah menangkap hal-hal baik dari
mereka yang membuat saya merasa sempurna. Ayah mengajarkan saya tentang
perlunya keras kepala, tidak mudah menyerah, dan harus berusaha sepenuhnya
dengan totalitas untuk mencapai sebuah tujuan. Ayah membuat saya menjadi anak
perempuan yang punya cita-cita. Ayah mengajarkan saya tentang kejujuran dan
kepatuhan pada aturan-aturan yang baik. Saat saya besar, saya tak bisa
membayangkan bagaimana seseorang bisa korupsi mengambil uang rakyat, memanipulasi
orang lain, menipu. Saya tak punya
contoh untuk ini. Sementara Ibu, membuat saya menjadi anak perempuan yang penuh
dengan rasa sayang dan kasih tak terhingga pada semua mahluk. Ayah dan Ibu
adalah wujud Yin dan Yang, dari dua manusia yang sangat berbeda jauh baik suku,
jenis kelamin, bahasa, maupun latar belakang hidupnya. Mereka adalah kumpulan alam
bawah sadar saya dari rentang masa-masa kecil saya hingga remaja, yang
berkembangbiak dan muncul ke permukaan kesadaran.
Kombinasi yang sama juga diterangkan oleh feminisme tentang
eksistensialisme, tentang perlunya perempuan yang mandiri, supaya ia dapat
menentukan nasibnya sendiri, bila sewaktu-waktu ia ditipu daya, dijerat,
dilecehkan, diperkosa, dimain-mainkan. Kemandirian perempuan akan membuatnya
terhindar dari itu semua, baik secara ekonomi, pikiran, dll. Dan kombinasi
tentang kelembutan, bahwa perempuan diajarkan untuk peduli, selalu peduli pada
yang lain. Diajarkan kasih dan moral yang kami miliki, yaitu moral tentang peduli,
mengulurkan pertolongan pada semua mahluk yang mengalami kesusahan dengan
dimulai untuk berdaya dari diri sendiri. Moral feminisme yang dapat kita pelajari
dalam teori tentang Etika Kepedulian, dan mencintai lingkungan dalam teori Ekofeminisme.
Ibu saya bukan perempuan yang bekerja, tapi ia
punya suami, yaitu ayah saya yang pekerja keras dan mampu mencapai
tujuan-tujuan kesuksesan untuk membiayai keluarga. Tapi saya tahu bahwa setiap
ayah tidak bisa seperti ayah saya. Ada juga ayah-ayah yang mengalami kesulitan,
tidak sukses, tidak punya uang banyak, tidak berdaya, tentunya butuh ibu-ibu
yang bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga. Butuh ibu-ibu yang bisa memimpin,
mandiri, dan membuat rumah tangga jadi seimbang. Para ayah tentu juga senang
punya isteri atau Ibu yang demikian. Banyak pula anak-anak yang tumbuh dari
seorang janda atau orang tua tunggal, yang bekerja keras untuk membiayai
kehidupan mereka. Mereka juga orang-orang yang hebat.
Kombinasi ini ada
dalam feminisme, yang intinya adalah, untuk mencapai suatu keadilan, maka kita
perlu mengetahui apa keadilan itu sendiri, keadilan bagi perempuan, supaya
dalam sepanjang hidupnya, ia tidak terlalu banyak mengalami hambatan, dalam
situasi masyarakat dan budaya yang patriarkhi, yang ketika remaja hampir
semuanya mengalami pelecehan seksual di ruang publik, di bis kota, di jalanan,
di sekolah. Para Ayah akan tahu bagaimana anak perempuan itu tak bisa tumbuh
dengan mudah di tengah masyarakat, tak semudah anak laki-laki. Para Ayah sudah
banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis untuk anak perempuannya. Dan
para Ibu sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis dalam
memperhatikan lingkungannya. Tentu ada juga ayah dan ibu yang kelam, tetapi
cerita sedih sudah terlalu banyak kita telan.
Kakak perempuan saya yang
ketiga, dulu bekerja di Bank. Saat itu dia sangat keren sekali, saya
memperhatikan gaya dia setiap kali berangkat ke kantor, begitu sibuknya. Sejak
sekolah dia dikenal anak paling berprestasi, dia sangat pintar. Lalu ketika
memiliki anak, ia berhenti bekerja. Tapi itu tidak mengurangi kepandaiannya, ia
menerapkan pendidikan untuk anaknya dengan sangat baik, mengajar bahasa Inggris
untuk anak-anak di sekitar rumahnya yang kurang mampu. Kakak perempuan saya
tetap hebat, begitu juga keempat kakak saya lainnya, mereka mengalami kehidupan
yang tidak mudah, mereka sudah terlanjut dididik jujur dan apa adanya, dan
dipaksa kuat menghadapi kesusahan, tak gampang menyerah. Ini adalah unsur dari
ide-ide feminisme.
“Feminisme sukses mendidik wanita melihat
kesuksesan sebagai tujuan |
Kesuksesan adalah
tujuan setiap orang. Apakah ada orang tidak mau sukses? Semua ingin! Karena
memang itulah dorongan manusia untuk merasa dirinya lebih hidup, lebih berarti.
Ini pendidikan moral yang baik dalam feminisme.
“Punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil
mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi
lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”
Sepanjang sejarahnya,
para aktor-aktor feminis bukan hidup dalam dunia yang glamor. Hidup mereka
adalah hasil dari usaha keras mereka, keringat, darah, dan rasa lapar dan lelah
sepanjang hidupnya. Bukan penghasilan tinggi yang mereka tujukan, tetapi
kemampuan ekonomi yang memenuhi kebutuhannya untuk keberlangsungan hidupnya,
untuk gagasan-gagasannya yang dinamis, yang memberinya inspirasi bagi dunia
lain. Aktivis feminis berbeda-beda dalam cara berpakaiannya, ada yang
berkerudung, berselendang, bercelana jins, bertank-top, berdaster, bersepatu bot
atau bersepatu hak tinggi, bermacam-macam sebagaimana lingkungan dan seleranya.
Para feminis yang saya kenal begitu sayang pada anak dan keluarganya, begitu
rindu mereka ketika memeluk anak-anaknya, begitu kuat perencanaan mereka
tentang bagaimana menyekolahkan anak-anak mereka. Kalaupun mereka memberontak,
apabila perlakuan tak adil padanya, seperti dipukuli oleh suaminya, dihambat
kemajuannya, diperlakukan bukan seperti manusia pada umumnya. Kalaupun ada yang
tidak berkeluarga, tidak semata-mata ia feminis, tetapi ada jalan hidup orang
yang berbeda. Bibi dan Paman saya juga ada yang tidak berkeluarga dan tak punya
anak, tetapi bukan karena mereka feminis, tetapi mereka menjalankan hidup
seperti itu. Saya sebagai kepoakan mereka, tetap menghargai mereka sebagai bibi
dan paman saya. Feminis itu berbeda-beda, seberagamnya jalan hidup manusia.
Banyak aktivis feminis
yang tidak punya mobil mewah, bukan karena tidak bisa membelinya, atau memang
ada yang tak mampu untuk membelinya. Bahkan tidak sedikit tokoh feminis yang
menjual harta bendanya untuk sebuah gerakan untuk keadilan perempuan. Jadi untuk
apa mobil mewah itu? Kritik Feminis Radikal dan Marxisme pada kapitalisme dan
eksploitasi pada tubuh perempuan, jelas mengatakan bahwa tubuh perempuan bukan
obyek, dan perjuangan perempuan adalah perjuangan kelas, perjuangan ekonomi
yang mandiri supaya tidak dihisap tenaga mereka, di bayar dengan upah murah
atas alasan jenis kelamin mereka oleh kaum patriarkhi yang tergila-gila pada
kemapanan dan kekuasaan.
“Feminisme menjadikan materi sebagai standar
sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda
sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa
bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”
Salah sama sekali.
Bahkan saya mengatakan secara terus terang ini kesesatan yang luar biasa pada komentar
ini. Standar sukses Feminisme adalah keadilan bagi perempuan. Apakah yang adil
bagi perempuan itu? Yaitu, ketika janda ia tidak menderita karena selama
hidupnya ia bergantung secara ekonomi pada suaminya. Ketika mengandung dan
melahirkan, ia terjamin kesehatan dan gizinya. Ketika ia mengasuh anak-anak
mereka, ia terjamin memiliki fasilitas yang memadai baik untuk dirinya maupun
anak-anaknya, fasilitas dalam arti hal-hal yang mendukung pengasuhan seperti
lingkungan yang baik untuk anak, pendidikan, makanan bergizi, dll dan juga
pengembangan diri sang ibu. Ketika perempuan bekerja, maka ia tidak dibedakan
upahnya oleh pekerja laki-laki. Yang membedakan hanya kompetensinya. Ketika ia
remaja dan telah tumbuh buah dadanya, dan mulai menjadi perhatian lawan
jenisnya, janganlah ia dilecehkan. Ketika ia lansia, perhatikan hal-hal yang
menjadi kebutuhan perempuan lansia. Ketika ia menikah, biarkan ia memilih calon
suami yang ia inginkan dan disaat umurnya sudah matang. Ketika ia berhubungan
seksual, biarkan perempuan mencapai kenikmatan seksualnya dan menunjukkan
ekspresi kenikmatannya pada pasangan yang ia pilih. Ketika ia menjadi pemimpin,
biarkan perempuan diberi kesempatan bagaimana cara ia memimpin dan tunggu
bagaimana ia bisa menunjukkan hasil-hasilnya. Ketika ia masuk partai politik
dan berhasil duduk di jabatan publik, biarkan ia bekerja dengan tenang tanpa dikait-kaitkan
dengan identitasnya dengan perempuan yang katanya emosional dan tak bisa ambil
keputusan, atau dianggap meninggalkan keluarganya.
Ini komponen-komponen
yang ada dalam gagasan feminisme, dan seluruhnya berangkat dari pengetahuan dan
pengalaman perempuan di seluruh dunia yang disebut dengan Epistemologi Feminis,
Metodologi Feminis, serta Teori-Teori Feminisme yang berangkat dari lintas
pengetahuan sosial-ekonomi-budaya di berbagai universitas dunia dan dari hasil
penelitian-penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun, lebih dari tahun
rentang kita hidup. Mereka adalah jenis manusia yang jumlahnya setengah dari
seluruh manusia yang hidup di bumi ini.
“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah
Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap
wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian
pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.
Angka perceraian pada perempuan
TKW tinggi sekali, begitupula pada pekerja-pekerja rumah tangga. Mereka bukan
perempuan yang mengenal feminisme. Rata-rata dari mereka bercerai, karena
suami-suami telah meninggalkan mereka, suami-suami tidak setia. Mereka yang
mencari kerja mati-matian di negeri orang, tetapi suami memakai upaya keringat
mereka untuk kepentingan dirinya, untuk berfoya-foya. Angka perceraian juga
banyak terjadi pada ibu-ibu rumah tangga, dan banyak dari mereka yang akhirnya
ingin mandiri dari segi ekonomi. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang ingin berdaya
dan tak bergantung lagi saat menjadi janda.
Dalam gerakan
feminisme, berbagai latar belakang perempuan telah ikut berkontribusi. Termasuk
ibu rumah tangga. Dan mereka tidak berhenti menjadi ibu rumah tangga ketika
mengikuti gerakan feminisme. Bagi mereka yang memiliki suami-suami baik dan
mampu, hidup mereka lebih banyak waktu untuk beraktivitas membantu gerakan
perempuan. Mereka adalah aktor-aktor penting dalam perjuangan perempuan. Dan,
jangan lupa, setiap perempuan yang bekerja, banyak yang sekaligus menjadi ibu
rumah tangga. Banyak ibu pekerja sekaligus ibu rumah tangga, yang memikul dua
beban sekaligus. Seharusnya para patriarkh dan laki-laki seperti orang yang
komentar ini berterima kasih pada mereka.
Demikianlah jawaban-jawaban
saya terhadap kesesatan dan kekosongan pikiran saat masyarakat mengomentari
soal feminisme. Mulailah berangkat dari pengetahun, bukan kebencian dan
desas-desus yang mengambil kesimpulan sangat jauh dari maksud dan tujuan
feminisme itu sendiri. Untuk memahami
apa itu feminisme saya bahkan harus duduk kuliah di bangku pascasarjana selama
2 tahun, dan melahap banyak buku serta penelitian. Tak perlu melakukannya
seperti saya, tetapi sudah banyak penjelasan-penjelasan yang komprehensif yang
bisa membuat anda lebih paham betapa cerahnya feminisme membangun kehidupan
perempuan dan manusia pada umumnya.
Jakarta, 10 Maret 2014