Sabtu, 25 Januari 2014

Manusia Lendir



Oleh: Mariana Amiruddin

Kematian sudah mulai membisikkan sesuatu padaku. Katanya, ia akan mengantarku ke mana aku mau. TInggal katakan, ayo! Aku memang sudah lelah. Nafasku pun kian terdengar kencang dalam kepulan lendir.  Iramanya terus meliar naik turun bagai pompa terisi air. Paru-paruku telah menghirup segala virus yang cepat berkembang biak dalam lembab, dalam hujan tak kian henti dan tak kunjung matahari. Suhu tubuhku terus naik seperti pendaki yang ingin terus mencapai puncak dan malas untuk turun kembali.

Kumpulan manusia bukan lagi arena bermainku. Mereka seringkali menyakitkan. Dan kau tak punya pilihan, selain menjadi super atau menjadi medioker. Jangan terlihat lemah, karena kau akan disantap. Jangan terlalu jujur, karena kau mudah jadi sasaran santapan berikutnya. Mereka mirip kanibal yang menjadikanmu daging segar dari tubuh-tubuh yang miskin. Jangankan istirahat, untuk sakitpun kau tak diperbolehkan. Aku adalah manusia lendir, yang diciptakan dari hasil kumpulan manusia. Dapat kulihat jelas jejak-jejak lendirku yang tak terhapus selama belasan tahun. Setiap lendirnya aku simpan. Kukembangbiakkan setiap tengah malam, setiap kesedihan, setiap tangisan. Kini saatnya memetik hasilnya. Kematian. Kematianku takkan dirundung hancur oleh sesuatupun. Tiada anak, tiada keluarga. Kumpulan manusia telah hidup dalam jalannya masing-masing. Yang hidup hanyalah yang super atau yang medioker. Jangan sampai ditengahnya. Kalau sampai ditengahnya jadilah manusia lendir, beratus-ratus air mata akan kau keluarkan saat kau terjungkal ke jurang kematian bersama lendir-lendir yang kau simpan.

Banjir, 25 Januari 2014

Rabu, 22 Januari 2014

Arti yang Tak Ada Artinya


Oleh Mariana Amiruddin


Sulit artinya yang tidak mudah. Ide bertemu ide dan ide lagi dan tak mudah dalam satu waktu, bunyi, cahaya, udara, dan suara, tak juga bertemu.

Ada Tuan yang setiap saat tapi tak ada pikiran
Ada Tuan yang ada pikiran tapi tak ada kendali kejalinan.
Ada Tuan yang berontak tapi tak tau keadaan.
Ada Tuan yang sepi tapi menjadi jarak waktu dalam bertemu
Ada Tuan yang baru meninggalkan dunia.


Tuan ini dan Tuan itu berakhir tidak dalam jalinan pikiran kecuali dalam dirinya sendiri. Tak mungkin aku menunjukkan amarah karena sadar segala adalah ditanggung sendiri dan sadar orang tidak ada yang sadari diri. Dan dari diri-diri itu tidak ada yang sadar siapakah bangsanya. Apakah negaranya. Dimana pijakannya.

Tapi apalah maksudnya dorongan ini tak terhingga mencari seorang teman sepikiran, seide, seanggota, sewaktu, secahaya, sepenanggungan, sesedih, seratap, setertawa, setakterhingga dalam perjuangan?

Lalu orang-orang mencari tuhannya sendiri-sendiri, tidak menolong sesamanya sendiri. Orang sibuk dengan riwayatnya sendiri-sendiri, mampusnya sendiri-sendiri.

Dalam larutan hidup tergoyah dengan kedirian yang tak berelasi dengan yang lain.

Apalah yang tertulis ini selain merah di kepala. Kupanggang dagingnya supaya panas di hati. Larutlah semuanya untuk disantap sendiri.

Tergenang yang artinya terkenang. Terkembang segala ejaan pengetahuan, di ladang aku duduk sendirian. Orang-orang tersisa yang meninggal.
Dimanakah jalannya kalian?

Setahun demi setahun yang terkumpul ribuan langkah, jiwa dan pikiran atas upaya dan sedu sedan.
Haruskah dipunahkan dulu, untuk menanam kembali kehidupan baru?
Haruskah dihabiskan dulu, sebelum semuanya habis?

Aku sudah bernafas setengah jalan, masa mau aku habiskan begitu saja? Lalu apa jadinya bagi manusia-manusia yang baru saja memulai perjuangannya?

SEperti cerita yang dimatikan ditengah jalan. Tapi ya, aku tau, ini bukan cerita. Ini sungguhan.

Tuan Tan, Tuan Dur, beginikah dirimu dulu? Lamat-lamat sendiri dan menghilang lalu tak seorangpun tau dimana Tuan dikebumikan?

Dingin, 31 Desember 2009



Rabu, 18 Desember 2013

Saya,Tionghoa dan Ratu Kalinyamat



Oleh: Mariana Amiruddin

Terlalu sering saya bermimpi tentang Ratu Kalinyamat, dan kini saatnya saya segera mencari literaturnya. Saya menemukan paper yang ditulis oleh Chusnul Hayati Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang tentang kisah Ratu Kalinyamat. Ratu yang menjadi legenda terutama sebagai "pertapa yang telanjang" di tengah situasi politik perebutan tahta yang penuh kekerasan, ia sekaligus menjadi penguasa Jepara selama 30 tahun. Kisahnya tercatat dalam kesusastraan Jawa. Kalinyamat adalah perempuan yang berkepribadian "gagah berani" seperti yang dilukiskan sumber Portugal The Manish Sisodia sebagai "Kranige Dame" yaitu seorang perempuan yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai "Rainha de Japara, senhora paderosa erica" yang berarti Ratu Jepara, seorang perempuan kaya dan sangat berkuasa. Di samping itu, selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).  

Ratu Kalinyamat adalah tokoh perempuan yang perannya berpengaruh pada abad ke-16, terutama ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia adalah tokoh sentral yang menentukan dalam pengambilan keputusan dan memiliki karakter yang kuat dalam memegang kepemimpinan. Tetapi seperti kisah-kisah lain di Indonesia, posisi strategis Kalinyamat tak lepas dari klan (dinasti politik). Ia adalah putri Sultan Trenggana, Raja Demak ke tiga. Sultan Trenggana adalah putra Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Namun pada masa itu 'klan' bukan merepresentasikan tindakan nepotisme, melainkan masa dimana rakyat masih mempercayai sistem yang dikelola oleh kerajaan/kesultanan.

Ratu Kalinyamat adalah cucu Raden Patah, dan keluarga Raden Patah memiliki hubungan saudara yang erat dengan kesultanan Banten. Kesultanan Banten sebagian memiliki darah Demak dari Raden Patah. Saya jadi teringat kembali silsilah keuarga dari Ibu saya, Ratu Rusniyati, sebagai keturunan kesekian dari kesultanan Banten, yang ternyata terhubung dengan sejarah ini. Selain itu, Raden Patah adalah peranakan Tionghoa. Ibunya adalah selir berdarah Tionghoa dari Brawijaya. Nama asli Raden Patah adalah Jin Bun (bahasa Tionghoa), yang artinya kuat. Lalu diganti menjadi Fatah (bahasa Arab) dengan arti yang sama.

Darah Tionghoa adalah darah Nusantara sejak abad 16, dan saya menyadari itu ketika melihat kulit dan mata sipit saya sendiri. Dan Kalinyamat, sangat menarik untuk digali sejarahnya. Sejarah perempuan Indonesia sudah jaya sejak dulu, mereka bisa berpolitik, berkuasa, memegang tahta. Entah mengapa bangsa ini sekarang takut dengan kejayaan perempuan, yang sebenarnya adalah bagian dari kejayaan bangsa ini.

TIM, 18 Desember 2013

Kamis, 12 Desember 2013

Tentang Siapa Membela Siapa


Oleh Mariana Amiruddin

Jauh sebelum kasus Sitok ramai sekitar 2 bulan yang lalu, secara internal dan saya diminta untuk menjaga kerahasiaan, saya mendapat kabar dari seorang dosen FIB UI, yang juga alumni Jurnal Perempuan tentang kasus ini. Lebih dari seminggu kemudian, Jurnal Perempuan mengadakan acara di FIB-UI dan dosen tersebut kembali bercerita tentang perkembangan kasus ini. Dan kami tim Jurnal Perempuan berdiskusi, kami menunggu kabar selanjutnya. 

Seminggu kemudian, kasus ini sudah dilaporkan ke kepolisian dan banyak sekali reaksi. Paling banyak reaksi awalnya adalah menyalahkan korban. Ini tantangan pertama kami. Lalu, dosen tersebut kemudian mengontak ke Yayasan Pulih sebagai lembaga yang ahli dan berpengalaman dalam menanangani kasus trauma akibat kekerasan terhadap perempuan.

Tak lama kemudian, teman-teman aktivis perempuan melalui Facebook mengontak saya untuk berdiskusi soal kasus ini, apa yang bisa kita perbuat?

Saya memberikan opini bahwa di banyak perusahaan, ada aturan yang memberikan sanksi terhadap pelaku pelecehan seksual, sehingga menurut saya, Salihara perlu membuat sanksi dan pernyataan atas kasus Sitok, dan saya sendiri mendiskusikan ini kepada teman di Salihara, dan diterima dengan baik. Akhirnya sebelum Salihara selesai membuat pernyataan, Sitok mengundurkan diri, dan Salihara tetap mengeluarkan pernyataan. Lalu sebagian besar teman-teman aktivis beropini bahwa pernyataan untuk Salihara dan kasus Sitok tetap harus dibuat untuk pelajaran bagi yang lainnya, dan sebagian lagi termasuk saya, mengusulkan untuk membuat pernyataan dalam “narasi besar”,  supaya pelaku-pelaku yang lain juga patut diberi pelajaran. Kami juga menyetujui hal-hal  lain seperti cara penanganan polisi terhadap korban, mengajukan revisi UU berkaitan dengan pemerkosaan yang pernah dilakukan teman-teman LBH APIK. Akhirnya disepakati dibuat dua pernyataan, dan dua-duanya berisi pernyataan tentang keberpihakan pada korban (yang kemudian saya bingung mengapa seorang wartawan harian menganggap ini perpecahan, dan saya juga bingung bagaimana info ini bisa sampai ke dia, padahal pada waktu itu pembicaraan hanya dikalangan internal di Facebook dan email).

Lalu saya dan beberapa teman aktivis berpendapat bahwa untuk korban, sebaiknya diserahkan kepada Yayasan Pulih sebagai lembaga yang berpengalaman menangani kasus kekerasan terhadap perempuan. Lembaga ini memiliki keahlian di bidang psikologi perempuan, memahami kode etik pendampingan korban, dan mereka bagian dari gerakan perempuan. Sampai saat ini Yayasan Pulih masih tertutup dengan wartawan, karena memang itu etika yang harus mereka lakukan dalam mendampingi korban.

Kami menurut pada yang lebih ahli, dan karena itulah kami diam dulu menunggu info selanjutnya.  Bahwa mendampingi korban itu tidak bisa keroyokan, tetapi perlu dalam keadaan tenang, tanpa teror dan intimidasi. Bila tidak, kerja pendampingan ini akan terganggu.

Lalu entah mengapa tiba-tiba sejumlah laki-laki menyerang akun twitter Jurnal Perempuan dan menyatakan bahwa Jurnal Perempuan membela pemerkosa, termasuk sang wartawan tadi. Yang terakhir ini, saya hanya bisa tertawa-tawa, bagaimana seseorang menyatakan sesuatu tanpa konfirmasi terlebih dahulu, apalagi ini dilakukan oleh seorang wartawan dengan menyimpulkan bahwa kami membela pemerkosa? Dan situasi ini lantas dimanfaatkan untuk menyerang orang-orang yang menurut cap mereka adalah liberal, neolib, feminis. Dengan seolah-olah mereka adalah pembela korban, dengan sewenang-wenang kami dikatakan pembela pemerkosa, jurnal pemerkosa.

Menurut saya, mereka ini tidak tahu atau tidak akan mau mengetahui apalagi memahami bagaimana kami, gerakan feminis ini bekerja setiap kali ada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Bagaimana reaksi alami kami dengan otomatis akan menanggapi setiap kasus tersebut. Kami biasa berbeda pendapat, dalam tujuan yang sama. Kami memiliki bermacam-macam metode aktivisme, juga dengan tujuan yang sama. 

Mereka yang menyerang ini kelompok yang sudah tidak peduli, yang penting serangan pada lawan berhasil mempengaruhi semua orang. Mereka tak peduli dimana kebenaran. Mereka hanya membenci cap-cap yang mereka yakini itu.

Tetapi satu hal tadi, saya masih mempertanyakan bagaimana diskusi internal gerakan perempuan yang tertutup tadi bisa keluar dan dipersepsikan sebagai perpecahan, lalu kamilah yang kemudian yang harus menanggung akibatnya? Entahlah, apapun itu, pemihakan kepada korban yang paling tepat menurut saya adalah, biarkan ahlinya bekerja, jangan ganggu mereka, dan bila ada permohonan bantuan apapun, kita harus bersedia. 

Begitulah dunia kami, dunia gerakan perempuan, yang biasanya dianggap urusan perempuan hanyalah urusan kami, sementara urusan besar tentang politik, budaya, ekonomi, bisnis dan hukum selalu diambil oleh laki-laki, yang padahal ada banyak perempuan yang hidup di dalamnya.

Tambun,  13 Desember 2013









Rabu, 11 Desember 2013

Standar Ganda Reaksi Patriarki atas Kasus Kekerasan Seksual


Oleh Mariana Amiruddin

Satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami pemerkosaan dan percobaan pemerkosaan. Di Indonesia, setiap perempuan di setiap ruang, dalam rentang usianya sejak remaja hingga dewasa, secara tidak sadar atau tidak, pernah mengalami pelecehan seksual. Represi seksual yang dilakukan laki-laki dimulai dari ujaran-ujaran terhadap perempuan, tindakan pelecehan mulai dari siulan, panggilan, colekan, ujaran-ujaran yang mengarah pada seks, dan beberapa langkah kemudian adalah tindakan pemerkosaan.

Akhir-akhir ini di sosial media, saya sangat mencurigai kecenderungan yang tumbuh dan kembali disuburkan oleh budaya patriarki. Saya memperhatikan kasus kekerasan seksual oleh seorang seniman telah mendulang banyak komentar dari laki-laki, yang sebelumnya tidak pernah bereaksi apa-apa apa-apa soal pemerkosaan apalagi pelecehan seksual, yang sebelumnya kasus-kasus pemerkosaan hanya diserahkan pada gerakan perempuan atau aktivis perempuan, yang sebelumnya diam-diam mengatakan adalah perempuannya yang salah, yang sebelumnya diam-diam juga pelaku pelecehan, bahkan pelaku pemerkosaan. Saya punya sejumlah teman laki-laki, baik seniman dan aktivis, politisi, dan saya tahu betul diantara mereka adalah pelaku kekerasan dan pelecehan seksual. Saya ingat betul di antara mereka ada yang merayu saya atau diam-diam merayu teman-teman perempuan saya dengan tidak sopan dan intimidatif, bertindak genit pada beberapa perempuan, meraba-raba teman saya, mengeluarkan ujaran-ujaran yang mengarah pada seks pada perempuan. Jangankan kemarahan, dulu, mereka itu asik-asik saja sibuk dengan kegiatan masing-masing, dengan ketenaran masing-masing.

Bahkan, diantara mereka dulu mengejek feminisme, mengatakan feminisme itu Barat, kelas menengah ngehek, feminis itu galak-galak, feminis itu lesbian-lesbian (dalam arti ejekan), feminis itu perempuan-perempuan yang patah hati oleh laki-laki, feminis  mengambil istri orang dan rumah tangganya selalu berantakan, feminis   itu sundal dan menyukai seks bebas, feminis itu neolib, ateis, kafir, dan sebagainya.
Kecurigaan saya pada mereka kemudian semakin kuat, sebab dibalik tema kekerasan seksual sang seniman tersebut ada semacam tarik menarik kepentingan kelompok mereka, yang mereka yakini. Soal liberal ataupun neoliberal, soal tendensi terhadap institusi tertentu, soal kebencian pada komunitas tertentu. Lalu mereka seperti tentara-tentara keji yang mengambil persoalan kekerasan seksual seniman tersebut untuk kepentingan atas tarik menarik kepentingan kelompok, persaingan, kebencian, peperangan. Mereka menjadi yang paling keras memaki pelaku perkosaan, sekaligus menjadi intimidatif terhadap aktivis-aktivis perempuan yang dianggapnya “tidak  bicara” dan “tidak ikut membenci” terutama terhadap komunitas tertentu. Suasana ini mengingatkan saya pada situasi kekerasan yang paling keji soal “kamu komunis atau buka komunis”. Yang tidak membenci komunis berarti dia komunis. Yang tidak bicara apa-apa soal orde baru berarti dia antek-antek Suharto.

Saya lantas berpikir, apa sebetulnya kepentingan mereka terhadap kasus kekerasan seksual oleh sang seniman itu? Yang saya pahami, gerakan  feminis selalu punya cara sendiri untuk memerangi kekerasan seksual. Gerakan feminis punya metodologi ilmu pengetahuan, yang sampai sekarang bahkan tidak diakui. Gerakan feminis punya perangkat analisis sendiri dalam membantu kaum perempuan dengan berbagai kelas, ras, suku dan agama. Gerakan feminis juga mencintai demokrasi dan toleransi antar umat beragama. Gerakan femnis juga membela kelompok-kelompok terpinggir. Gerakan feminis selalu membela yang “liyan”, karena selama mereka hidup di bumi, mereka juga “diliyankan”.  Kitalah yang mengalami, dan kitalah yang kemudian saling mendukung dan melindungi, saling mendampingi, saling menguatkan. Kami yang dalam cara berbeda dalam memilih metode aktivisme memiliki tujuan yang sama, yaitu memperjuangkan kesetaraan gender, melawan kekerasan berbasis gender, mengupayakan pemberdayaan perempuan. Kamilah yang hari demi hari bekerja untuk itu, kamilah yang bekerja keras untuk itu, mulai dari akar rumput, akademisi, pengambil kebijakan, sampai ke tingkat pemerintah dan perumusan undang-undang. Diantara para aktivis perempuan adalah para ahli-ahli di berbagai bidang, seperti filsafat, sosiologi, psikologi, astronomi, petani, buruh, pejabat publik, politisi, dosen, penulis, ibu rumah tangga, dokter, dll. Mereka semua berkerja untu menegakkan hak-hak perempuan, mewujudkan keadilan untuk perempuan. Lalu siapakah mereka ini yang tiba-tiba menggedor pintu kami?

Gerakan feminis sudah sejak dia lahir konsisten melawan apa yang menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek, sebagai sesuatu yang menjadi “hak milik” dan “barang yang dibeli” oleh laki-laki, baik dalam relasi pacaran ataupun perkawinan. Gerakan feminis paling lantang bicara ketika perkosaan diwajarkan atas nama kehendak seksual laki-laki. Gerakan feminis sudah sangat jelas  bertindak nyata berpihak pada korban, mendampingi korban, melindungi mereka. Tidak sedikit dari mereka yang relawan, yang menjadi miskin dan kekurangan karena perjuangan tentang hal ini. Organisasi-organisasi perempuan di Indonesia selama bertahun-tahun hidup dan bertahan di negara ini, sudah teruji melawan, mengatasi, dan menyuarakan hal itu. Tetapi kali ini, mereka yang laki-laki tiba-tiba menggedor pintu rumah kami, dan mengacak-cak perabotan kami, berteriak-teriak marah soal perkosaan. Mereka inila yang dulu diam-diam saja, mereka tidak bekerja untuk itu, mereka tidak memikirkan sama sekali, atau bahkan meledek-ledek pekerjaan kami, menganggap feminis sebagai Barat dan neolib, tiba-tiba berteriak paling keras soal perkosaan, dan ikut menyeret-nyeret organisasi perempuan yang tidak masuk dalam perdebatan “suka atau tidak suka” dengan komunitas tertentu.

Sampai akhirnya saya mengingat-ingat kembali semua yang mereka lakukan, saya jadi memahami betul, semua yang mereka lakukan adalah standar ganda. Mereka tidak benar-benar mengusung masalah kekerasan seksual, mereka tidak sungguh-sungguh empati pada korban, mereka hanya mengambil kesempatan ini untuk menyerang yang menurut mereka lawan. Dan tindakan-tindakan ini semakin menyebar, ramai di sosial media, bahasa yang mereka gunakan juga bukan “bahasa perempuan”, bukan bahasa yang penuh empati dan peduli. Mereka seperti preman-preman kelaparan.
Nah, standar ganda telah dimainkan patriarki. Kali ini, panggung mereka adalah demokrasi dan kebebasan berekspresi. Kali ini, alat-alat yang kami miliki mereka gunakan juga untuk kepentingan mereka. Sunggu perjuangan feminis tak pernah henti, bahkan ketika serangan itu ada di dalam tubuh gerakan kami sendiri.

Lontar, 12 Desember 2013


Sabtu, 30 November 2013

Semua ini Karena Ilusi Patriarki


Oleh: Mariana Amiruddin


Sebuah analisis gender pernah menjelaskan perbedaan perkembangan psikologi antara laki-laki dan perempuan dalam menghadapi masalah kehidupan, masalah perang, masalah kehilangan pekerjaan. Banyak bukti bahwa laki-laki cenderung cepat putus asa, cepat pergi dari masalah atau bahkan seolah-olah masalah itu tidak ada. Sementara perempuan, cenderung ingin cepat menyelesaikannya, ingin cepat mencari solusi dan berbuat sesuatu yang bisa mengubah nasibnya dengan berusaha apa saja. Ini saya bicara secara umum, tentu saja tidak semua laki-laki dan perempuan mengalaminya.

Apa yang menyebabkan laki-laki seperti itu? Mereka dibangun oleh ilusi tentang kekuatan, kemenangan, kekerasan, kejantanan, ketenaran, kekayaan, persaingan, kebudayaan, peradaban, penaklukan, perburuan. Mereka tidak pernah diajari tentang sesuatu yang pribadi, privat, diri, apa adanya, bicara apa saja, keluarkan apa yang ada di hati, mengasihi, peduli, memperhatikan yang lain. Kalau istilah anaknya Ahmad Dhani itu "ayo kita selesaikan di Ring Tinju" ketika ia marah Farhat Abas mengejek ayahnya. Ayahnya membentuk anak laki-lakinya seperti itu, semua diselesaikan secara fisik dan harta benda seperti mobil sebagai simbol kemewahan dan ketenaran. Semua masalah diatasi dengan fisik  dan harta benda. Itulah ilusi kekuatan, kejantanan. Padahal, kehidupan yang nyata tidak sesederhana itu, tidak semudah film-film laga.

Oleh karena itu, suatu hari, seorang politisi, seorang penyair, seorang pegawai negeri, seorang pengusaha, seorang kuli, seorang mahasiswa, seorang dosen, seorang aktivis atau siapapun mereka, membangun relasi dengan perempuan sampai pada aktivitas seksual dan perempuan itu ternyata hamil, lalu sikap mereka seperti hal yang saya jelaskan tadi. Mereka tidak disiapkan untuk kehidupan yang sebenar-benarnya, kehidupan semesta bahwa di situ ada proses-proses biologi yang akan mempengaruhi kehidupan dan masa depan manusia. Mereka hanya sampai pada aktivitas seksual, dan tidak tahu apa lagi selanjutnya. Mereka gagap dan abai dengan ulah mereka sendiri, yang seharusnya mereka hadapi dengan apa yang mereka sebut sebagai "jantan" itu. Sang perempuan, melihat sang lelaki seperti seorang pangeran, mengagumkan, pintar, berwibawa, tenar dan berharap akan melindunginya. Lalu, sang pangeran itu menghampirinya, mengucapkan kata-kata indah, meluluhkan hatinya. Didasari inilah seorang perempuan mau melakukan aktivitas seksual, sesuatu yang menurutnya penuh kasih dan impian, membuat dia merasa nyaman. Dia menyangka apapun resikonya akan dijalani bersama. Ia tidak tahu bahwa secara sosial, perkembangan psikologi dan perspektif laki-laki sangat berbeda jauh bahkan berseberangan dengan apa yang perempuan pikirkan dan perempuan alami. Dia menerima begitu saja.

Teman saya, dulu seorang mahasiswa yang kini sendirian membesarkan anaknya, mengalami hal yang sama. Waktu masih belia usia belasan tahun, dia ikut sebuah kelompok teater, dia kagum dengan pelatih teaternya, lalu sang pelatih teater mendatanginya, menyukai dia, dan sampai pada aktivitas seksual, sehingga akhirnya hamil. Begitu hamil, sang pelatih seolah tidak mengenalnya lagi, lari, takut, dan tidak menerima apa yang terjadi. Padahal, sang gadis belia ini hanya ingin bertanya, “jadi bagaimana ini? Ada anak kita dalam rahimku. Bagaimana kita menjalankannya?” Ia ingin diakui, juga anak yang dikandungnya dikasihi, dan sang lelaki mau ikut andil untuk memikirkannya. Tetapi memang lelaki sangat gagap sekali dalam urusan domestik ini, mereka tidak terlatih, terlalu berjarak dengan hidup yang alami, terlalu angkuh dan merendahkan urusan-urusan semacam ini. Atau, tidak mau mengakui sama sekali adalah cara dia menyelamatkan diri dari ketakutan dan kecemasannya sebagai “seorang lelaki”.

Kasus seperti ini banyak sekali terjadi di sekeliling kita. Potret yang bisa saya pajang dalam masalah ini adalah, kegagapan dan kecemasan yang luar biasa laki-laki atas urusan reproduksi, pengasuhan, semua diserahkan kepada perempuan. Mereka hanya tahu bekerja, berkarya, cari uang, pulang, makan sudah disiapkan, baju sudah wangi, tempat tidur sudah dirapikan, dan lantai rumah sudah mengkilat, dan anak-anak gemuk, sehat, dan ceria. Artinya sekalipun mereka menikah dan memiliki anak, ataupun kehamilan memang diinginkan oleh keduanya, urusan-urusan domestik itu tetap dilemparkan begitu saja kepada perempuan. Bila ada persoalan ekonomi, dan lelaki dianggap sebagai sang pahlawan pencari nafkah, pelindung keluarga, pemimpin, tetapi mengalami kegagalan, sang lelaki akan pergi dan malu, rendah diri, jatuh, putus asa, depresi, gila. Tapi tidak dipikirkan bahwa ada kehidupan yang harus berjalan. Laki-laki terus menerus mencari pelarian, dan masalah-masalah domestik itu membayangi dia terus sehingga membuatnya panik dan ketakutan. Seolah-olah, beban memelihara, mengasuh, merawat, menyusui, melahirkan, adalah semata-mata beban perempuan. Sang laki-laki kalau ada masalah, seringkali bersembunyi di ketiak ibunya, atau perempuan yang dia anggap seperti ibunya. Atau, seorang perempuan yang dia pacari atau dia nikahi karena dia mengingat ibunya. Ini karena anak laki-laki mengenal kasih sayang dan pengasuhan hanya dari ibunya, bukan ayahnya. Lain hal lagi, peran-peran itu sudah dia pelajari sejak kecil, dia pikir, urusan-urusan ini bukan lagi urusannya. Maka untuk hidup dan menikah, ataupun secara seksual dan relasi dampak perbuatan seksual dengan kehidupan sosial, adalah juga urusan perempuan. Apa yang terenggut dari laki-laki kemudian adalah sebagai pencari nafkah, jerih payahnya seluruhnya akan dia berikan kepada keluarga, istri dan anak-anaknya. Dia tidak bisa menikmati sendirian jerih payahnya itu. Dia bekerja dan dapat gaji, tapi tidak bisa membeli apa-apa. Beban-beban sosial dalam konstruksi peran-peran gender dan seksual manusia membuat hidup laki-laki dan perempuan menjadi benang mati, kusut, tak pernah berimbang, tidak pernah ketemu. Semua punya jurang masing-masing. Dan jurang itulah yang menimbulkan masalah, reaksi amarah, lantas masalah itu sendiri tidak pernah terselesaikan.

Suatu hari, saya pernah jalan bertiga, yaitu saya, satu perempuan dan satu lelaki. Sang lelaki cemas bahwa dia merasa tidak nyaman berjalan dengan dua perempuan, sementara dia laki-laki sendirian. Dia merasa didominasi. Atau saya berjalan berdua dengan seorang teman lelaki, dan melintas sekelompok teman-teman lelakinya, lalu teman lelaki saya diejek-ejek dianggap menginginkan saya. Aneh sekali menurut saya, bukankah kita adalah dua manusia biasa yang sedang berjalan menuju gedung itu, lalu tiba-tiba sekelompok laki-laki mengenggap teman saya ini sedang melakukan pendekatan terhadap saya? Seolah saya ini perempuan yang pasif dan tidak punya keputusan sendiri. Lagipula, sebetulnya apa persoalannya? Kita hanya ingin berjalan kaki ke arah gedung itu untuk urusan kita masing-masing!

Seandainya kita semua mengerti bahwa kehidupan harus diatasi, dihadapi oleh semua jenis manusia, tentu kerumitan ini akan berhenti. Seandainya laki-laki dan perempuan saling mempelajari keunikannya, kelebihan dan kekurangannya, tentu tidak sesukar itu kita mendengar masalah relasi keduanya. Seandainya relasi perempuan dan laki-laki bukan dibangun atas kecurigaan sosial, moral dan agama, tentu tidak seperti ini jadinya. Seandainya seorang laki-laki tidak perlu merasa malu saat menghamili seorang perempuan, lalu disebut tidak bermoral, atau dianggap laki-laki hidung belang, dengan menujukkan kasih sayang dan keberaniannya menghadapi hidup, julukan itu akan berhenti dengan sendirinya. Saya ingin membantu masalah kesenjangan dan ketimpangan ini, membantu menekankan pentingnya laki-laki ikut andil dan menaklukan rasa takutnya pada urusan-urusan seksual-domestik. Dan pentingnya membuat perempuan mempertahankan dirinya, menunjukkan siapa dirinya, tanpa harus bergantung pada orang lain. Tidak mudah memang, tetapi perlu dicoba sampai rasa takut itu tidak ada lagi.

Jawa Barat, 30 November 2013


Kamis, 28 November 2013

Politik Belas Kasihan

Oleh Mariana Amiruddin

Hubungan antar manusia saat ini ternyata hanya ditentukan oleh ekonomi dan kelas. Tidak ada lagi yang murni didasarkan oleh ideologi apapun. Kalau sudah begini, tanpa ideologi, membicarakan kemanusiaan menjadi manipulatif. Kadang, orang-orang merasa kekurangan bukan karena tidak punya apa-apa melainkan karena serakah dan ingin tidak kalah dengan orang lain.

Kadang, saya tidak percaya dengan janji dan kesepakatan. Karena kadang, kesepakatan dan janji itu bisa diobrak-abrik di tengah jalan. Kadang, saya tidak percaya komitmen, ketaatan dan kesetiaan, karena kesetiaan dianggap terlalu ideal. Dan lagipula, orang-orang sudah tidak tahu lagi apa itu ideal, kecuali soal berapa banyak uang yang akan kau berikan.

Idealisme dianggap hanya urusan orang-orang yang masa depannya miskin. Sementara, tanpa idealisme, kita hanya bisa memelihara kemiskinan dan kebodohan.

Orang-orang yang mengaku anti feodalisme dan anti kelas seidealnya pandangan saya adalah bagi yang kaya tidak memamerkan kekayaannya, bagi yang miskin tidak memanipulasi kemiskinannya. Apa yang disebut "mapan" ternyata adalah, seseorang yang tidak mau berubah, tak mau bergeser dari kekayaan dan ketenarannya, atau merasa aman berpijak pada kemiskinan dan kebodohannya. Keduanya saling bekerjasama dengan sangat solid! Idealisme adalah musuh bersama mereka!

Seorang janda berpenghasilan tidak tetap dengan empat anak yang harus dia sekolahkan dan kasih makan, masih juga dihutangi urusan seorang lelaki lajang yang bisa pergi bebas kemana dia mau, dengan alasan kemiskinan. Ini sungguh sangat tidak adil.

Terlalu banyak orang yang kagum dengan Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, bahkan Tan Malaka. Tapi saya pikir hampir tidak ada yang menjadikan mereka sebagai pedoman hidup. Lagipula, untuk menjadi mereka, tentulah tidak seenak hidup yang kita rasakan sekarang. Takkan rela hidup enak kita ini direnggut oleh pedoman hidup yang telah tokoh-tokoh itu pertaruhkan.

Seorang perempuan calon legislatif bercerita kepada saya, ketika melakukan kampanye ke ibu-ibu pengajian yang menurutnya adalah ideal untuk melakukan penyadaran politik, ternyata mengalami hal yang tidak ia inginkan, mereka bertanya kepada calon legilslatif itu: "kamu berani bayar berapa?". Soal transaksi politik yang kita gelisahkan ini ternyata tidak semata-mata penyakit partai politik, tetapi rakyat yang ikut bermain pasar transaksi politik itu sendiri, dengan menaikkan tarif suara masing-masing. Alhasil, partai yang paling banyak modal tentu akan dimenangkan. Dan penguasaan terhadap modal serta sumber-sumber uang itu, tentulah kita tahu di tangan siapa. Yaitu mantan-mantan Orde Baru yang punya banyak waktu untuk mengumpulkan harta kekayaannya, investasi di sana-sini yang tidak terjangkau dan tak tersentuh.

Jadi, kalau kita bicara rakyat yang berteriak "WANI PIRO" ini semacam kekuatan dari bawah yang sangat berbahaya. Saya lantas berpikir, reformasi ini milik siapa? Lalu saya menjawab, milik mereka yang punya modal dan kekuasan. Selanjutnya, saya juga berpikir tentang begitu banyak premanisme di negeri ini, jawaban sementara adalah mereka lebih senang "disuap" daripada bekerja keras untuk menjadi manusia yang mandiri. Mereka memang dimiskinkan, tetapi mereka mulai merasa aman dengan kemiskinannya, dengan demikian mereka bisa dapat uang dari belas kasih dan mengemis, memalak, mengancam. Lalu saya buka lagi pemikiran Edward Said dan Foucault, bahwa kuasa itu ibarat jaring laba-laba, penindas dan yang ditindas berlaku lintas kelas. Bahkan kita menindas diri kita sendiri, tidak menghargai diri kita sendiri. Kekayaan bumi kita dijual, masuk kantong sendiri. Anak-anak perawan mereka jual, masuk ke kantung orang tua anak itu sendiri.


Taman Ismail Marzuki Jakarta, 27 November 2013