“If you want to be respected by others the great thing is to respect yourself. Only by that, only by self-respect will you compel others to respect you.” Dostoyevsky
Rabu, 30 April 2014
Manusia Setengah Tiang
Oleh: Mariana Amiruddin
Ketika usiaku 9 tahun, ayah dimarahi orang kampung karena perbuatanku. Di bulan Agustus, hari kemerdekaan negaraku waktu itu, aku bermain sendiri di halaman. Kulihat bendera berkibar di tiang. Aku tergiur memainkan bendera itu, menaikkan dan menurunkannya. Aku senyum sendiri. Tak lama ibu memanggil-manggil, aku segera mengerek bendera ke puncak tiang. Tetapi tak berhasil, tali pengerek macet, sulit ditarik. Aku kesal. Akhirnya kubiarkan bendera berkibar setengah tiang.
Sore tiba, ayah diteriaki orang sekampung. Kulihat air muka ayah membeku. Banyak orang berkerumun dan menunjuk-nunjuk bendera. Sepertinya mereka marah, dan aku takut. Aku sembunyi di belakang punggung ayah, kudekap pinggangnya. Ia membalas memelukku. Sepertinya mereka mau membunuh ayah. Tapi aku tak mengerti, apa salah ayahku dengan bendera itu. Bibirnya kelihatan bergetar, ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tak sempurna. Orang-orang terlihat semakin marah, mereka berteriak dan memaksa masuk rumahku. Aku histeris, sementara ibuku hanya menatap kami dari balik pintu, matanya takut seperti mataku.
Mengapa mereka memarahi ayahku? Kulihat bendera itu. Itukah penyebabnya? Aku menangis. Aku menggeliat keras melepas pelukan ayah, berlari kencang ke tiang bendera. "Apa masalahnya? Inikah masalahnya?" tangisku. Kutarik tali kerek sekuat tenaga, bendera berhasil mencapai puncak. Sekejap orang-orang marah itu terdiam. Seolah bendera itu adalah tuhan dan aku malaikatnya. Kutatap mata mereka satu persatu. Air mataku juga jatuh satu persatu. Aku tak mengerti apa yang diinginkan orang dewasa. Itu hanya bendera, lalu orang-orang itu menyebut ayahku adalah pegawai negara. Jadi mengapa orang-orang itu marah. Mereka yang kebanyakan laki-laki dewasa itu bubaran dan menasihatkan sesuatu pada ayahku sambil menyebut-nyebut namaku.
Ayah mengajakku masuk ke dalam rumah. Aku mengendus. Ayah kemudian menarik lenganku dan aku duduk di pangkuannya. Ayah membisikkan sesuatu padaku. Katanya pada hari kemerdekaan bendera tidak boleh dikibarkan setengah tiang. Itu tanda berkabung, memperingati kematian. Waktu itu aku tidak tertarik dengan nasihat 'tidak boleh' ayahku. Aku hanya tertarik bahwa kematian begitu ditakuti sekaligus dihormati. Aku kecup ayahku, aku berlompatan menuju kamar tidur sambil mengingat-ingat pengetahuan yang baru aku dapatkan hari itu. Simbol-simbol negara, kemerdekaan dan kematian.
Sejak itu aku tertarik pada pikiran orang dewasa. Diam-diam kubuka berkas-berkas ayah setiap malam, berharap menemukan sesuatu. Ayahku ternyata menulis catatan harian. Di dalamnya ada tentang ibu dan aku. Aku tertumbuk pada halaman itu. Mereka sering menyangka keluarga kami keturunan Cina. Istriku kebetulan berkulit putih dan bermata sipit. Kasihan istriku, ia sering dilempari batu setiap pulang dari pasar. Dan anakku... gara-gara bendera itu dia menjadi gusar. Aku lihat matanya berkilat mencoba melawan orang-orang itu.
Aku tak mengerti, mengapa ayah menulis soal ibu yang bermata sipit. Aku menatap foto ibuku di meja kerja ayah. Betul, matanya sipit. Lalu aku berjalan menuju cermin. Mataku juga sipit. Mirip ibu. Kulitku juga putih, mirip ibu. Aku nyalakan lampu ruang kerja ayahku, penasaran dengan tubuhku sendiri. Betul, sipit dan putih. Pantas kawan-kawan di sekolah sering mengejekku si amoy. Ya, aku tahu itu julukan boneka kawan si unyil yang bermata sipit dan berkulit putih. Aku mengerti sekarang. Kutatap lagi mataku. Seperti mata ibu, tapi caraku menatap persis ayah. Mata ayah yang tajam dan perih. Mata yang memancar dari dalam dada.
Kulongok kembali buku harian ayah, ia menulis kata yang tak kukenal. Kata mereka orang Cina tak kenal agama. Atheis, penyembah berhala, menolak dan melawan Tuhan. Kadang dicurigai komunis. Seperti kami, kata mereka, kami orang Cina yang pura-pura jadi abdi negara. Itu sebabnya mereka marah ketika bendera kami hanya setengah tiang. Aku menutup catatan harian ayahku ketika terdengar langkah dari jauh. Seperti langkah ayah. Aku terburu-buru keluar, kututup pintu kamar kerja ayah perlahan. Aku ragu itu suara ayah. Suara gemeresak kembali terdengar dari halaman belakang. Sekelibat terlihat burung malam pergi meninggalkan sarang. Aku bernafas lega. Aku menuju kamar, melamunkan catatan harian ayah.
Cina. Kataku dalam hati. Aku ingat kawan-kawan di sekolah memanggilku singkek. Aku tak tahu ejaan betulnya, tetapi mereka sering memanggil begitu dengan wajah dengki. Aku tanya teman sebangku bernama Herito, anak keturunan Jepang yang matanya juga sipit. Dia bilang itu julukan untuk orang Cina yang pelit. Aku murung mendengarnya. Aku tak mengerti. Suatu hari sepulang sekolah aku mendatangi ibu sambil menangis tersedu. Ibu mengusap air mataku. Seragamku kotor. Tampak peluh membasahi wajah dan pakaianku. Hari itu, ban sepedaku dikempesi entah oleh siapa. Aku sempat memergoki anak-anak berseragam sekolah mengerubungi sepedaku kemudian mereka pergi sambil tertawa-tawa. Aku berjalan kaki mendorong sepedaku, matahari tepat di atas kepalaku. Rambutku memerah seperti rambut jagung. Bocah Cino Londo, begitu orang mengomentari aku.
Herito datang melintas dengan sepedanya. Ia menawarkan tumpangan kepadaku. Aku gembira. Sepeda kutinggalkan di tukang ban. Tetapi dalam perjalanan, gerombolan anak lelaki berdatangan dari belakang, melempariku dengan batu. Beberapa batu kecil tajam membesat lengan dan kepalaku. Sebagian lagi menerjang mataku. Aku doyong dan jatuh, kulitku bersinggungan aspal. Kulit putihku kini bergores dengan bercak merah. Aku meringis, kemudian menangis. Herito geram dan berupaya lari mengejar anak-anak itu. Aku meringis sepanjang jalan. Herito mengantarku sampai rumah. Ia tak seperti anak kecil. Aku suka dia. Ibu lalu membasuh lukaku dengan air hangat. Aku melihat matanya yang lembut dan berkabut.
Malam itu aku semakin memahami catatan harian ayah. Aku tertidur dan bermimpi ayah membelikanku seekor anjing. Aku gembira sekali. Tetapi orang kampung lagi-lagi berdatangan mengeroyok anjingku sampai mati. Aku terbangun dan bulir keringatku menetes ke lengan ayah. Ayah-ibu sudah di sampingku rupanya. Mereka memelukku bergantian dan aku menangis. "Ayah, apa salahku pada orang-orang itu?"
Ibu merunduk dan ayah mengecupku perlahan, "Karena kulitmu putih dan matamu sipit, sayang."
Ayah-ibuku pergi dari kehidupan. Kini segala kehidupanku ditanggung paman. Aku perempuan dewasa yang tinggal sendiri di kota. Hari-hariku sendiri, aku sangat terbiasa dengan sendiri. Banyak tetangga memanggilku Encik sambil terus memuji kulitku. Tapi aku tak bangga, karena kulitku hanya menyimpan luka. Dan tatapan tajamku yang perih pada mereka. Suatu hari di bulan Mei, aku mahasiswi yang baru saja tiba di kampus. Suasana jalan hari itu lengang tak seperti biasanya. Aku kemudian dikejutkan oleh asap yang mengepul dari balik bangunan pertokoan, dan segerombol orang berduyun berdatangan dari kejauhan. Wajah-wajah asing, aku tak kenal mereka, tak seperti biasanya. Aku melihat satu di antara mereka melempari bangunan pertokoan itu dan sekejap terbakar.
Kakiku gemetar, mungkin wajahku pucat. Aku berniat pulang melihat gejala aneh itu. Aku berjalan kaki, melangkah cepat sekali. Aku menunggu bus tetapi tak satupun lewat. Tampak beberapa orang lalu-lalang seperti ingin menyelamatkan diri. Aku tak mengerti mengapa kini banyak asap mengepul mengganggu nafasku dan dentuman terdengar di mana-mana. Aku berlari sambil menutup hidung, tanpa tujuan. Masuk ke gang-gang, perumahan, dan ternyata munculnya kembali di ujung jalan bangunan pertokoan.
Aku terjebak lagi pada kerumunan orang yang kini lebih banyak jumlahnya, membawa kayu dan rotan, seperti kerumunan semut besar yang mencari makanan. Aku berlari ke ujung jalan lain, tetapi di sana juga sudah banyak orang berkerumun. Wajah mereka marah, seperti orang-orang yang marah pada ayahku dulu. Aku tak bisa berpikir, tubuhku beku tak kuasa melangkahkan kaki. Aku limbung, tak terkendali dan berpegangan tembok jalanan. Mataku terpejam, pikiranku menerawang. Aku lihat wajah ibu, kemudian ayah. Kupanggil mereka. Batu-batu berhamburan di atas kepalaku, beberapa mengenai tubuhku. Tapi tak terasa sakit. Aku merasa ada yang datang menjemputku. Terdengar suara lantang seorang lelaki seperti membuat komando pada yang lain. CINA! CINA! BAKAR!
Tubuhku panas, aku tahu api kini menjilati tubuhku. Aku tahu kulit putihku mengelupas seperti plastik yang terbakar. Aku tahu mata sipitku terpejam dan takkan pernah lagi kubelalakkan. Tubuhku meleleh. Bermil-mil membentuk gurun. Lekuknya sampai ke nirwana. Lekuk yang menenteramkan hati. Gurun di mana Tuhan menyapaku dengan hati; dunia sudah lama mati, kau tak perlu kecil hati, kulit di tubuhmu takkan membuatmu luka lagi. Tidurlah, mimpi selamanya. Temui ayah-ibumu di sana.
Dimuat di Republika 08/14/2005
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Senin, 24 Maret 2014
Amarah Langit
Oleh: Mariana Amiruddin
Bulan Maret. Petir masih menyambar-nyambar.
Marah atas apa wahai langit?
Ledakan itu persis di atasku.
Berarak-arak terdorong awan,
mengguncang atap sampai ke lantai.
Airmu jatuh keras sekali memercik sampai ruang kerjaku.
Ai ini amarah atas apa?
Wahai langit,
asap dari hutan dibakar berhektar-hektar itu bukan di sini.
Titik-titik airmu berebut di kaca jendelaku.
Aku ngeri menyaksikan amarahmu.
Seekor kucing liar menumpang berteduh di ruang tamuku.
Ia ragu aku manusia yang baik.
Ia menjingkat-jingkat basah.
Hewan yang paling takut basah.
Ia berharap aku orang baik yang mau menampungnya.
Wahai langit,
semoga kemarahanmu mengingatkan kami,
sekaligus menolong mahluk-mahluk kecil seperti kami.
Dan tanda-tanda itu telah aku saksikan berkali-kali.
Redalah hujanku.
Redahlah sampai hanya kudengar tetes lembut jatuh di atas tanah pohon melatiku.
Senin, 17 Maret 2014
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Senin, 10 Maret 2014
Salah Kaprah tentang Feminisme
Oleh: Mariana Amiruddin
Saya sangat terkejut
dengan pernyataan seseorang yang mengomentari status di facebook saya tentang
Hari Perempuan Internasional. Saya tambah terkejut lagi mengetahui bahwa
feminisme begitu buruknya dipandang, seperti buruknya dongeng paling keji di muka bumi ini yang dinamai “tarian
harum bunga” tarian yang menggambarkan para perempuan aktivis bertelanjang menari-nari membunuh dan menyilet kelamin para
jendral. Mereka yang mengomentari tentang feminisme berangkat dari kebencian,
bukan dari pengetahuan. Mengenal feminisme, berangkat dari hasutan, bukan dari
keingintahuan.
Tetapi kemudian saya
mencoba mendamaikan pikiran, bahwa ini realitas yang sedang kita dan masih
terus menerus kita hadapi. Kita ditengah-tengah masyarakat yang diajarkan untuk
memelihara hasutan sudah sejak bertahun-tahun lamanya. Masyarakat yang dipalingkan dari kecintaan pada ilmu
pengetahuan dan gagasan. Masyarakat yang dijauhkan dari kegemaran pada
buku-buku dan tulisan-tulisan, atau dari pelajaran-pelajaran yang
menggairahkan. Masyarakat yang dibiarkan “berkepala kosong”, oleh sistem-sistem
pendidikan yang hanya mengejar jawaban-jawaban ujian yang berisi hapalan-hapalan.
Bagaimana mungkin mereka mencintai feminisme
sebagai pengetahuan, bila sejak kecil mereka sudah disuapi “makanan pendidikan”
yang tanpa gizi, tanpa ilmu dasar, dan dipermainkan oleh doktrin, mitos dan
sejarah-sejarah yang disembunyikan, pemikiran-pemikiran yang dilarang-larang.
Mereka sudah terlatih berjalan dalam kegelapan, ketika sedikit cahaya tampak
berpijar lalu segera dipadamkan. Kebodohan-kebodohan lebih sering dimenangkan
daripada kepandaian-kepandaian akal. Akal-akal pun dimusuhi dan diseberangkan
dengan agama-agama. Agama dan akal dibentur-benturkan, dan yang terjadi adalah
pecahan kecurigaan-kecurigaan pada pelajaran-pelajaran penting untuk asupan
gizi akal manusia.
Pandangan buruk
tentang feminisme sudah menjalar kemana-mana. Kekosongan itu kemudian dijejali dengan
menggunakan teknologi komunikasi dan informasi
bernama sosial media, tempat orang bercakap-cakap yang hampir tak mempunyai
isi. Seperti gunjingan-gunjingan keji para pencemburu keberhasilan orang lain.
Kekosongan yang memproduksi inferioritas-inferioritas manusia yang kehilangan
eksistensi. Di wilayah ini patriarkhi tumbuh
subur berbuah berkembang menjadi racun-racun yang akan membunuh akal dan
kesadaran.
Feminisme adalah ide
yang berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan, bukan dari
desas-desus. Kebencian mereka sebagaimana pada anjing dan babi ciptaan Tuhan
yang dilahirkan melalui jutaan tahun
proses evolusi awal kehidupan di bumi. Kebencian mereka seperti pada mitos Hawa
yang menggoda Adam melalui buah pengetahuan, buah Kuldi, buah pengakibat
lahirnya pendosa-pendosa yang dilempar ke dunia. Suara terbanyak anti feminis
adalah kaum laki-laki, lalu kemudian kaum perempuan membuntuti mereka.
Perempuan-perempuan yang dibentuk tak mengetahui siapa diri dan apa yang telah
mereka alami, yang dibuat bergantung sepenuhnya pada lelaki.
Berikut ungkapan yang sering saya temukan, dan
ternyata sudah banyak tersebar kemana-mana di linimasa orang-orang Indonesia,
di abad 21, di era teknologi komunikasi, dengan pengguna yang kaya dengan kekosongan-kekosongan.
Indra Jaya, demikian
nama yang tercantum di akun facebooknya.
Dia memakai foto bertopeng Anonymous (sebetulanya topeng ini
melambangkan progresifitas yang radikal, tapi orang ini sepertinya—lagi-lagi
tersesat—dalam kekaguman bentuk-bentuk saja), dengan slayer seperti pejuang
Palestina. Dengan sangat yakin ia
mengomentari facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional,
“Feminisme sukses mendidik wanita melihat
kesuksesan sebagai tujuan | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil
mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi
lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”
“Feminisme menjadikan materi sebagai standar
sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda
sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa
bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”
“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah
Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap
wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian
pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.
Saya akan memberkan
narasi umum untuk memudahkan masyarakat mengerti apa itu feminisme tanpa
diawali rasa benci. Ide tentang feminisme sebetulnya tidak perlu jauh-jauh
mengutip gagasan-gagasan feminisme, sebab gagasan feminisme sebetulnya ada
dalam keinginan dan kehidupan banyak individu, termasuk laki-laki. Seperti ini
contohnya: Keinginan untuk maju adalah hal yang paling hakiki di dalam diri
setiap manusia. Kemauan untuk maju dan sukses adalah hal yang sangat positif
dan sehat. Untuk itulah Indonesia begitu lama bercita-cita untuk merdeka,
berdaulat dan menentukan nasibnya sendiri. Rakyatnya baik perempuan dan
laki-laki, menginginkan anak-anaknya sekolah, anak-anak perempuannya sekolah
dan menjadi pintar sehingga tidak mudah dibohongi, tidak mudah terjebak
perdagangan perempuan (yang sudah ada sejak masa pra-kemerdekaan), tidak
terjebak pada prostitusi dan ditipu untuk tujuan ekspolitasi seksual.
Keinginan untuk maju adalah harapan-harapan para orang tua
saat dulu sampai kini, harapan pada keluarga. Sukses adalah harapan setiap
orang yang akan menambah kepercayaan diri seseorang. Ayah saya misalnya, ingin sekali anak
perempuannya maju. Waktu saya kecil, saya dipeluknya, sambil berbisik “Ayah
ingin kamu besar nanti bisa menyetir mobil sendiri, berpendidikan tinggi,
dihormati orang.” Ayah juga melarang saya dekat dengan sembarang laki-laki,
ayah selalu mengingatkan dengan kata “hati-hati dengan laki-laki”. Dulu saya
pikir, apakah begitu buruknya laki-laki? Bukankah Ayah juga laki-laki? ”
Ayah pekerja keras,
sampai lupa makan dan minum, sampai ginjalnya rusak, dan ia menabung sedikit
demi sedikit hasil-hasil keringatnya untuk anak-anak sekolah, termasuk
anak-anak perempuan. Ia adalah awal dari gagasan tentang anak perempuan yang
mandiri. Sementara Ibu adalah awal dari gagasan tentang kasih sayang dan
perhatian, kesabaran. Saya dikenalkan olehnya tentang keinginan untuk maju, bukan berawal
dari feminisme, melainkan dari Ayah saya yang masa hidupnya tidak mudah untuk
mendapatkan uang sekolah, untuk meraih prestasi ia harus mencari uang sendiri,
hidupnya bersusah payah. Sementara Ibu lahir dari keluarga yang lingkungannya
sangat tentram dan damai, hijaunya kota Bogor, dan tanpa harus banyak uang,
lingkungan itu membuat Ibu cinta pada alam, pada tumbuhan, dan menyukai seni
dan buku-buku di tempat Kakek bekerja.
Feminisme bisa kita
temukan dalam diri-diri manusia di sekitar kita. Ibu saya Ibu Rumah Tangga, hebat
telah menata rumah tangga, mengasuh 6 anaknya, memberi saya inspirasi tentang
keindahan, tata ruang, dan wangi-wangi ruangan, dan kata-kata yang lembut,
kesabaran yang tiada terkira, sikap yang dingin dan bijak. Meskipun Ibu tidak
sempurna, begitu juga Ayah, saya dapat memaklumi bahwa dalam setiap diri
manusia tidak ada yang sempurna, tetapi saya telah menangkap hal-hal baik dari
mereka yang membuat saya merasa sempurna. Ayah mengajarkan saya tentang
perlunya keras kepala, tidak mudah menyerah, dan harus berusaha sepenuhnya
dengan totalitas untuk mencapai sebuah tujuan. Ayah membuat saya menjadi anak
perempuan yang punya cita-cita. Ayah mengajarkan saya tentang kejujuran dan
kepatuhan pada aturan-aturan yang baik. Saat saya besar, saya tak bisa
membayangkan bagaimana seseorang bisa korupsi mengambil uang rakyat, memanipulasi
orang lain, menipu. Saya tak punya
contoh untuk ini. Sementara Ibu, membuat saya menjadi anak perempuan yang penuh
dengan rasa sayang dan kasih tak terhingga pada semua mahluk. Ayah dan Ibu
adalah wujud Yin dan Yang, dari dua manusia yang sangat berbeda jauh baik suku,
jenis kelamin, bahasa, maupun latar belakang hidupnya. Mereka adalah kumpulan alam
bawah sadar saya dari rentang masa-masa kecil saya hingga remaja, yang
berkembangbiak dan muncul ke permukaan kesadaran.
Kombinasi yang sama juga diterangkan oleh feminisme tentang
eksistensialisme, tentang perlunya perempuan yang mandiri, supaya ia dapat
menentukan nasibnya sendiri, bila sewaktu-waktu ia ditipu daya, dijerat,
dilecehkan, diperkosa, dimain-mainkan. Kemandirian perempuan akan membuatnya
terhindar dari itu semua, baik secara ekonomi, pikiran, dll. Dan kombinasi
tentang kelembutan, bahwa perempuan diajarkan untuk peduli, selalu peduli pada
yang lain. Diajarkan kasih dan moral yang kami miliki, yaitu moral tentang peduli,
mengulurkan pertolongan pada semua mahluk yang mengalami kesusahan dengan
dimulai untuk berdaya dari diri sendiri. Moral feminisme yang dapat kita pelajari
dalam teori tentang Etika Kepedulian, dan mencintai lingkungan dalam teori Ekofeminisme.
Ibu saya bukan perempuan yang bekerja, tapi ia
punya suami, yaitu ayah saya yang pekerja keras dan mampu mencapai
tujuan-tujuan kesuksesan untuk membiayai keluarga. Tapi saya tahu bahwa setiap
ayah tidak bisa seperti ayah saya. Ada juga ayah-ayah yang mengalami kesulitan,
tidak sukses, tidak punya uang banyak, tidak berdaya, tentunya butuh ibu-ibu
yang bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga. Butuh ibu-ibu yang bisa memimpin,
mandiri, dan membuat rumah tangga jadi seimbang. Para ayah tentu juga senang
punya isteri atau Ibu yang demikian. Banyak pula anak-anak yang tumbuh dari
seorang janda atau orang tua tunggal, yang bekerja keras untuk membiayai
kehidupan mereka. Mereka juga orang-orang yang hebat.
Kombinasi ini ada
dalam feminisme, yang intinya adalah, untuk mencapai suatu keadilan, maka kita
perlu mengetahui apa keadilan itu sendiri, keadilan bagi perempuan, supaya
dalam sepanjang hidupnya, ia tidak terlalu banyak mengalami hambatan, dalam
situasi masyarakat dan budaya yang patriarkhi, yang ketika remaja hampir
semuanya mengalami pelecehan seksual di ruang publik, di bis kota, di jalanan,
di sekolah. Para Ayah akan tahu bagaimana anak perempuan itu tak bisa tumbuh
dengan mudah di tengah masyarakat, tak semudah anak laki-laki. Para Ayah sudah
banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis untuk anak perempuannya. Dan
para Ibu sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis dalam
memperhatikan lingkungannya. Tentu ada juga ayah dan ibu yang kelam, tetapi
cerita sedih sudah terlalu banyak kita telan.
Kakak perempuan saya yang
ketiga, dulu bekerja di Bank. Saat itu dia sangat keren sekali, saya
memperhatikan gaya dia setiap kali berangkat ke kantor, begitu sibuknya. Sejak
sekolah dia dikenal anak paling berprestasi, dia sangat pintar. Lalu ketika
memiliki anak, ia berhenti bekerja. Tapi itu tidak mengurangi kepandaiannya, ia
menerapkan pendidikan untuk anaknya dengan sangat baik, mengajar bahasa Inggris
untuk anak-anak di sekitar rumahnya yang kurang mampu. Kakak perempuan saya
tetap hebat, begitu juga keempat kakak saya lainnya, mereka mengalami kehidupan
yang tidak mudah, mereka sudah terlanjut dididik jujur dan apa adanya, dan
dipaksa kuat menghadapi kesusahan, tak gampang menyerah. Ini adalah unsur dari
ide-ide feminisme.
“Feminisme sukses mendidik wanita melihat
kesuksesan sebagai tujuan |
Kesuksesan adalah
tujuan setiap orang. Apakah ada orang tidak mau sukses? Semua ingin! Karena
memang itulah dorongan manusia untuk merasa dirinya lebih hidup, lebih berarti.
Ini pendidikan moral yang baik dalam feminisme.
“Punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil
mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi
lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”
Sepanjang sejarahnya,
para aktor-aktor feminis bukan hidup dalam dunia yang glamor. Hidup mereka
adalah hasil dari usaha keras mereka, keringat, darah, dan rasa lapar dan lelah
sepanjang hidupnya. Bukan penghasilan tinggi yang mereka tujukan, tetapi
kemampuan ekonomi yang memenuhi kebutuhannya untuk keberlangsungan hidupnya,
untuk gagasan-gagasannya yang dinamis, yang memberinya inspirasi bagi dunia
lain. Aktivis feminis berbeda-beda dalam cara berpakaiannya, ada yang
berkerudung, berselendang, bercelana jins, bertank-top, berdaster, bersepatu bot
atau bersepatu hak tinggi, bermacam-macam sebagaimana lingkungan dan seleranya.
Para feminis yang saya kenal begitu sayang pada anak dan keluarganya, begitu
rindu mereka ketika memeluk anak-anaknya, begitu kuat perencanaan mereka
tentang bagaimana menyekolahkan anak-anak mereka. Kalaupun mereka memberontak,
apabila perlakuan tak adil padanya, seperti dipukuli oleh suaminya, dihambat
kemajuannya, diperlakukan bukan seperti manusia pada umumnya. Kalaupun ada yang
tidak berkeluarga, tidak semata-mata ia feminis, tetapi ada jalan hidup orang
yang berbeda. Bibi dan Paman saya juga ada yang tidak berkeluarga dan tak punya
anak, tetapi bukan karena mereka feminis, tetapi mereka menjalankan hidup
seperti itu. Saya sebagai kepoakan mereka, tetap menghargai mereka sebagai bibi
dan paman saya. Feminis itu berbeda-beda, seberagamnya jalan hidup manusia.
Banyak aktivis feminis
yang tidak punya mobil mewah, bukan karena tidak bisa membelinya, atau memang
ada yang tak mampu untuk membelinya. Bahkan tidak sedikit tokoh feminis yang
menjual harta bendanya untuk sebuah gerakan untuk keadilan perempuan. Jadi untuk
apa mobil mewah itu? Kritik Feminis Radikal dan Marxisme pada kapitalisme dan
eksploitasi pada tubuh perempuan, jelas mengatakan bahwa tubuh perempuan bukan
obyek, dan perjuangan perempuan adalah perjuangan kelas, perjuangan ekonomi
yang mandiri supaya tidak dihisap tenaga mereka, di bayar dengan upah murah
atas alasan jenis kelamin mereka oleh kaum patriarkhi yang tergila-gila pada
kemapanan dan kekuasaan.
“Feminisme menjadikan materi sebagai standar
sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda
sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa
bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”
Salah sama sekali.
Bahkan saya mengatakan secara terus terang ini kesesatan yang luar biasa pada komentar
ini. Standar sukses Feminisme adalah keadilan bagi perempuan. Apakah yang adil
bagi perempuan itu? Yaitu, ketika janda ia tidak menderita karena selama
hidupnya ia bergantung secara ekonomi pada suaminya. Ketika mengandung dan
melahirkan, ia terjamin kesehatan dan gizinya. Ketika ia mengasuh anak-anak
mereka, ia terjamin memiliki fasilitas yang memadai baik untuk dirinya maupun
anak-anaknya, fasilitas dalam arti hal-hal yang mendukung pengasuhan seperti
lingkungan yang baik untuk anak, pendidikan, makanan bergizi, dll dan juga
pengembangan diri sang ibu. Ketika perempuan bekerja, maka ia tidak dibedakan
upahnya oleh pekerja laki-laki. Yang membedakan hanya kompetensinya. Ketika ia
remaja dan telah tumbuh buah dadanya, dan mulai menjadi perhatian lawan
jenisnya, janganlah ia dilecehkan. Ketika ia lansia, perhatikan hal-hal yang
menjadi kebutuhan perempuan lansia. Ketika ia menikah, biarkan ia memilih calon
suami yang ia inginkan dan disaat umurnya sudah matang. Ketika ia berhubungan
seksual, biarkan perempuan mencapai kenikmatan seksualnya dan menunjukkan
ekspresi kenikmatannya pada pasangan yang ia pilih. Ketika ia menjadi pemimpin,
biarkan perempuan diberi kesempatan bagaimana cara ia memimpin dan tunggu
bagaimana ia bisa menunjukkan hasil-hasilnya. Ketika ia masuk partai politik
dan berhasil duduk di jabatan publik, biarkan ia bekerja dengan tenang tanpa dikait-kaitkan
dengan identitasnya dengan perempuan yang katanya emosional dan tak bisa ambil
keputusan, atau dianggap meninggalkan keluarganya.
Ini komponen-komponen
yang ada dalam gagasan feminisme, dan seluruhnya berangkat dari pengetahuan dan
pengalaman perempuan di seluruh dunia yang disebut dengan Epistemologi Feminis,
Metodologi Feminis, serta Teori-Teori Feminisme yang berangkat dari lintas
pengetahuan sosial-ekonomi-budaya di berbagai universitas dunia dan dari hasil
penelitian-penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun, lebih dari tahun
rentang kita hidup. Mereka adalah jenis manusia yang jumlahnya setengah dari
seluruh manusia yang hidup di bumi ini.
“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah
Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap
wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian
pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.
Angka perceraian pada perempuan
TKW tinggi sekali, begitupula pada pekerja-pekerja rumah tangga. Mereka bukan
perempuan yang mengenal feminisme. Rata-rata dari mereka bercerai, karena
suami-suami telah meninggalkan mereka, suami-suami tidak setia. Mereka yang
mencari kerja mati-matian di negeri orang, tetapi suami memakai upaya keringat
mereka untuk kepentingan dirinya, untuk berfoya-foya. Angka perceraian juga
banyak terjadi pada ibu-ibu rumah tangga, dan banyak dari mereka yang akhirnya
ingin mandiri dari segi ekonomi. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang ingin berdaya
dan tak bergantung lagi saat menjadi janda.
Dalam gerakan
feminisme, berbagai latar belakang perempuan telah ikut berkontribusi. Termasuk
ibu rumah tangga. Dan mereka tidak berhenti menjadi ibu rumah tangga ketika
mengikuti gerakan feminisme. Bagi mereka yang memiliki suami-suami baik dan
mampu, hidup mereka lebih banyak waktu untuk beraktivitas membantu gerakan
perempuan. Mereka adalah aktor-aktor penting dalam perjuangan perempuan. Dan,
jangan lupa, setiap perempuan yang bekerja, banyak yang sekaligus menjadi ibu
rumah tangga. Banyak ibu pekerja sekaligus ibu rumah tangga, yang memikul dua
beban sekaligus. Seharusnya para patriarkh dan laki-laki seperti orang yang
komentar ini berterima kasih pada mereka.
Jakarta, 10 Maret 2014
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Sabtu, 15 Februari 2014
Cincin Api
CINCIN API
Oleh Mariana Amiruddin
Dinyatakan oleh PBB bahwa Indonesia adalah wilayah yang paling banyak mengalami bencana karena letak geografi/geologi di atas cincin api. Sayangnya, infrastruktur Badan Geologi kita masih tak ada bedanya dgn 20 tahun yg lalu. Negara kurang perhatian terhadap bumi tempat kita hidup. Karena kurang perhatian pada bumi tempat kita hidup ini, maka cincin api dianggap sepele.
Kantor-kantor badan geologi seperti kantor camat. Mengabaikan alam membuat negara tidak tahu apa yang harus dilakukan, bencana menjadi menelan manusia Indonesia, tak bedanya dgn abad 20. Selama 1 abad, infrastruktur Indonesia tak disiapkan menyesuaikan diri dengan kondisi bumi dan alamnya.
Tan Malaka dalam catatannya pernah menyebut-nyebut letusan Krakatau membuat Nusantara dikenal di seluruh dunia. Dampaknya mengubah iklim global. Menurut Tan Malaka, Hirosima dan Nagasaki itu tak ada apa2nya dengan letusan Krakatau yang abunya menyelimuti 1/8 bumi. Membaca kembali Indonesia, perlu seperti cara Tan Malaka, seluruhnya perlu dipelajari, alamnya, kabutnya, batu dan gunung2nya.
Tan Malaka seorang Moksa, dalam Hindu dan Budha sebagai seorang yang melepaskan diri dari ikatan duniawi utk mempelajari dunia. Tan Malaka sengaja tidak menikah karena menurutnya akan membelokkan dirinya dari tujuan perjuangan. Seorang Moksa memang demikian.
Tan Malaka terapkan ilmunya ibarat sampai chakra ke tujuh yg bisa menjadikan dirinya ada di berbagai tempat di waktu yang sama, Tan Malaka memang tak setuju dgn logika mistika, tetapi dia menerapkan melalui dialektika dan logika. Luar biasa kontrasnya orang ini.
Intinya, Tan Malaka tidak memisahkan antara alam dan bumi Indonesia dengan strategi politik yg dia canangkan. Ia ungkap itu dalam gerpolek.
Seandainya bangsa ini mau belajar dari leluhur dan pejuangnya terdahulu, tak akan ada itu ketakutan pada komunisdan sebagainya itu. Indonesia jalan terus dan program-program kemerdekaannya dijalankan. Pembangunan akan diterjemahkan lain, yaitu yang menyesuaikan alam dan keberagaman masyarakatnya.
Dalam hal ini saya mengatakan, dosa-dosa Orde Baru bukan kepalang, hingga pendidikan tak ada benar-benar membuka sejarah leluhur dan kekayaan alamnya, seluruh tokoh-tokoh pejuannya, sehingga tak ada lagi pepatah "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".
Orde Baru telah memisahkan anak-anaknya dari Ibu Pertiwi. Ibu yang dibuang tak sedikitpun diperhatikan, untuk sebuah kekuasaan dan kekayaan abadi. Mulailah mengenal Indonesia dari sekarang, seluruhnya. Benar-benar seluruhnya.
Tengah Malam, 16 Februari 2014
Oleh Mariana Amiruddin
Dinyatakan oleh PBB bahwa Indonesia adalah wilayah yang paling banyak mengalami bencana karena letak geografi/geologi di atas cincin api. Sayangnya, infrastruktur Badan Geologi kita masih tak ada bedanya dgn 20 tahun yg lalu. Negara kurang perhatian terhadap bumi tempat kita hidup. Karena kurang perhatian pada bumi tempat kita hidup ini, maka cincin api dianggap sepele.
Kantor-kantor badan geologi seperti kantor camat. Mengabaikan alam membuat negara tidak tahu apa yang harus dilakukan, bencana menjadi menelan manusia Indonesia, tak bedanya dgn abad 20. Selama 1 abad, infrastruktur Indonesia tak disiapkan menyesuaikan diri dengan kondisi bumi dan alamnya.
Tan Malaka dalam catatannya pernah menyebut-nyebut letusan Krakatau membuat Nusantara dikenal di seluruh dunia. Dampaknya mengubah iklim global. Menurut Tan Malaka, Hirosima dan Nagasaki itu tak ada apa2nya dengan letusan Krakatau yang abunya menyelimuti 1/8 bumi. Membaca kembali Indonesia, perlu seperti cara Tan Malaka, seluruhnya perlu dipelajari, alamnya, kabutnya, batu dan gunung2nya.
Tan Malaka seorang Moksa, dalam Hindu dan Budha sebagai seorang yang melepaskan diri dari ikatan duniawi utk mempelajari dunia. Tan Malaka sengaja tidak menikah karena menurutnya akan membelokkan dirinya dari tujuan perjuangan. Seorang Moksa memang demikian.
Tan Malaka terapkan ilmunya ibarat sampai chakra ke tujuh yg bisa menjadikan dirinya ada di berbagai tempat di waktu yang sama, Tan Malaka memang tak setuju dgn logika mistika, tetapi dia menerapkan melalui dialektika dan logika. Luar biasa kontrasnya orang ini.
Intinya, Tan Malaka tidak memisahkan antara alam dan bumi Indonesia dengan strategi politik yg dia canangkan. Ia ungkap itu dalam gerpolek.
Seandainya bangsa ini mau belajar dari leluhur dan pejuangnya terdahulu, tak akan ada itu ketakutan pada komunisdan sebagainya itu. Indonesia jalan terus dan program-program kemerdekaannya dijalankan. Pembangunan akan diterjemahkan lain, yaitu yang menyesuaikan alam dan keberagaman masyarakatnya.
Dalam hal ini saya mengatakan, dosa-dosa Orde Baru bukan kepalang, hingga pendidikan tak ada benar-benar membuka sejarah leluhur dan kekayaan alamnya, seluruh tokoh-tokoh pejuannya, sehingga tak ada lagi pepatah "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".
Orde Baru telah memisahkan anak-anaknya dari Ibu Pertiwi. Ibu yang dibuang tak sedikitpun diperhatikan, untuk sebuah kekuasaan dan kekayaan abadi. Mulailah mengenal Indonesia dari sekarang, seluruhnya. Benar-benar seluruhnya.
Tengah Malam, 16 Februari 2014
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Rabu, 12 Februari 2014
KELAHIRAN (Cuplikan Sebuah Teater Monolog)
NARASI
Kenyataan bahwa setiap kelahiran tidak selalu
hadir sebagai kebahagiaan. Tapi apakah kebahagiaan itu? Siapakah yang punya
otoritas mengartikan kebahagiaan? Kebahagiaan atas kelahiran adalah mitos.
Mitos dalam makna yang tunggal. Ia berakar dalam norma-norma masyarakat. Bagi
yang tidak diinginkan, KELAHIRAN diterjemahkan menjadi sangat menyakitkan. Semua
orang menuntut kelahiran yang sempurna, yang lengkap dan kemudian dinamakan
NORMAL. Yang harmonis bernama keluarga dan segala fasilitasnya. Kelahiran
adalah wilayah yang harus aman. Rumah yang indah, bapak ibu yang lengkap,
sehidup-semati, dan kakak beradik yang bermain-main di halaman.
Bukankah setiap kita bisa menerjemahkan
kebahagiaan dengan cara lain? Bolehkah kebahagiaan bukan dalam satu pengertian
melainkan dalam banyak pengertian?
Kelahiranku bagai telur yang terbelah menjadi dua,
pecah terbelah-belah jatuh ke bumi, antah berantah di sebuah arena, arena yang
mereka namai kehidupan. Di luar mitos kebahagiaan itu, norma-norma itu, ada kenyataan
di depan mata, dalam gelombang hidup kita, bahwa seseorang lahir ada yang DIINGINKAN
dan ada yang TIDAK DIINGINKAN. AKU barangkali adalah yang tidak diinginkan.
Bukan karena kelahiran itu sendiri, melainkan oleh apa yang disebut
kesempurnaan.
Ketika makna kematian dan kehidupan sudah
terlalu banyak disuarakan dalam teks-teks suci dan wacana soal kebajikan, kebahagiaan,
kesedihan, bahkan soal dosa, pahala dan petaka, manusia kehilangan pijak
bagaimana kelahiran itu hadir senyatanya,
seragamnya, seberbedanya, seuniknya. Bagaimana kelahiran adalah awal terbentuknya
gudang jiwa kita yang mengajukan pertanyaan dasar: bila aku dilahirkan, apakah
yang disebut kehidupan dan kematian? KELAHIRAN Adalah pertanyaan dasar manusia
yang tak pernah menjadi bahan perbincangan yang sejujur-jujurnya.
***
Narasi ini adalah kegelisahan dan pergulatan hidup
seorang manusia sepanjang hidupnya, ketika kelahiran tidak dapat ia maknai
bagaimana sesungguhnya, ketika ayah dan ibu terperangkap dalam konfrontasi
politik militer antar rezim yang hanya menciptakan kekejaman, dan manusia ini
lahir di tengah-tengah peristiwa itu. MANUSIA ini bukanlah sebagaimana manusia
umumnya, bukan manusia yang mereka anggap sempurna. MANUSIA ini di luar mitos-mitos
kebahagiaan yang membohongi kelahiran sesungguhnya.
ILUSTRASI
Sebutir telur besar tenggelam sendirian dalam gelombang kain besar
yang lentur hampir memenuhi panggung. Seorang manusia masuk ke panggung dengan
rasa sunyi, menari dalam keheningan, dengan sangat lamban, nyaris tak terdengar,
dalam musik samar-samar, dan beberapa patung terpancang di bibir panggung, menyaksikan
sang penari mulai lirih melantun. Telur pelan-pelan bergerak menembus kain,
sampai akhirnya pecah muncul berantakan menembus kain. Sang telur terbelah
menganga, seolah menunjukkan eksistensinya, kehadirannya. Telur besar itu
menantang, menyaksikan dirinya dan penonton. Tampak seorang manusia di dalam pecahan
telur. Tubuhnya meringkuk menggigil dan
matanya nanar sambil menghirup udara. Ia tak pernah tahu udara. Ia baru saja
tiba di dunia. Dalam gigilnya ia mulai merasakan udara, cahaya, benda-benda. Sang
penari meninggalkan panggung, masih dalam sunyinya. Dan sang manusia telur,
mulai memperhatikan patung-patung.
Ia keluar dalam satu
raga, satu jasad, tetapi dalam dua kepribadian yang bertentangan, dalam jiwa
yang tak sama, dalam karakter yang tak sama. Ia lahir sendirian dalam jiwa yang
berganda-ganda. Ia gambaran sesuatu yang diinginkan sekaligus yang tidak
diinginkan. Ia adalah benturan-benturan. Ia lahir dari konfrontasi politik. Ia
lahir persis saat kekejaman itu datang. Ia adalah anak dari sejarah politik
sebuah bangsa. Ia muram dan tenggelam dalam kain. Dan tiba-tiba melompat
melanturkan kata-kata. Ruangnya hanya terbatas pada bahasa.
MONOLOG
PEMAIN UTAMA: TEDDY
Mengapa kelahiran itu
ada? Mengapa telur ini terbelah? Bagaimana sebuah kelahiran itu terjadi?
Ini bukan soal
kedokteran!
Bukankah setiap
kelahiran keluar dari rahim-rahim milik Ibu? Mengapa kejadian itu ada?
Lahir seorang autis,
lahir seorang tanpa lengan, lahir seorang tanpa melihat, lahir seorang tanpa
mendengar, lahir seorang yang bisu, LAHIR SEORANG TANPA ORANGTUA, TANPA
KELUARGA.
Kelahiran yang murni.
Seperti apakah?
Sebuah kelahiran, diawali
manisnya kehidupan, berakhir dengan pembuahan, dan yang lahir akan melihat
kenyataan, bahwa satu tambah satu bukanlah dua. Kadang, satu setengah, kadang lebih!
Soal kelahiran ini,
tentang “YANG LAHIR ITU SENDIRI”, apakah sesempurna itu? Apakah itu SEMPURNA?
Adalah KESADARAN. Ya, kesadaran.
AKU TIDAK SUKA
KESEMPURNAAN! BagiKU, seharusnya, apapun yang terjadi, TERJADILAH!!
Adakah kesadaran bahwa
“kita tidak memiliki apa-apa?” Saat kita seonggok janin, kita tak punya
apa-apa, bahkan otak, jiwa dan pikiran kita belum tumbuh.
Siapa yang merasa
bahwa kita itu DILAHIRKAN? Siapa yang mau tahu? Dan akan menjadi apa? Kita juga
tidak ingin tahu!
Atau seberapa jauh
kita memahami keberbedaan dan dalam situasi yang berbeda-beda? Adakah pintu
kelahiran itu menuntut menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu?
Cinta kadang tidak
melahirkan sesuatu, tetapi kelahiran adalah –KONON-- bentukan harapan. Gerbang
sudah disediakan. Arrahman Nirrahim. Lahir
bukan hanya jasad, melainkan kesombongan, keserakahan kealpaan. Kelahiran juga
adalah sifat, dan di dalamnya ada persoalan. Hidup itu adalah PERSOALAN. Tapi
ruang jiwa atau ruh, siapa yang bisa menerjemahkan? Kelahiran akhirnya
berhubungan dengan pencipta. Ada sesuatu yang kita perjuangkan. Perang! Hidup
itu perang. Dan yang turun adalah TANGISAN.
Aku tidak ingin, tapi
inilah terlanjur sebuah pilihan. Kita perlu sayang pada siapa yang dilahirkan.
Kalaupun ada sebuah
keinginan, tetapi terlalu banyak gelombang untuk menjadi sesuatu. Sumbuku
adalah CINTA, bahkan udara untuk bertemu. Dan dia adalah IBU dan BAPAK.
Cintaku, aku tidak pernah mendapatkan MEREKA! Ruangku hanya terbatas pada bahasa, aku tidak
pernah tahu siapakah mereka.
Di bilangan Cikini
ini, tepat di belakang tembok Taman
Ismail Marzuki ini, dulu adalah kediaman mereka, ketika mulai tumbuh besar, aku
pernah berberes-beres di rumah itu. Ibuku di penjara, ayahku entah dimana, dan
aku dilahirkan diantaranya.
Cikini, Taman Ismail Marzuki 12 Februari 2014
Karya: Teddy Bontot
Adaptasi: Mariana Amiruddin
(Sebuah narasi teater monolog)
Dipersembahkan oleh: Komunitas Orang-orang Bawah Tangga
Cikini, Taman Ismail Marzuki 12 Februari 2014
Ilustrasi Lukisan: "Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man" by Salvador Dali (1943)
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Selasa, 11 Februari 2014
Perkosaan terhadap Teks-Teks Sastra
Mariana Amiruddin
Tanggapan tulisan Taufiq Ismail
Tak ada yang lebih mengejutkan selain rentetan istilah yang dilemparkan dalam esai Taufiq Ismail (TI) (Jawa Pos Minggu, 17 Juni 2007). Buat saya lebih mengerikan dari apa yang dia khayalkan tentang Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), Sastra Mazhab Selangkang (SMS), dan Fiksi Alat Kelamin (FAK). Eseinya adalah fiksi yang sama dengan istilah-istilahnya itu. Sebuah esai yang miskin interpretasi. Ada kemalasan untuk menjabarkan karya orang-orang yang dikritiknya. Saya menyebutnya kritik sastra tanpa etika; tanpa telaah dan argumentasi yang menggugah. Pernyataan TI tentang Hudan Hidayat dkk. dan “sejumlah aktivis lebih dari lima orang” bisa dibilang upaya mematikan latar belakang siapa pun penulis yang juga aktivis yang ikut serta menulis di ruang kreatif. Sebagai anak muda, saya takut memahami pikiran TI itu. Apalagi mengkhayalkan orang-orang yang disindirnya itu sebagai sebuah gerakan. Seolah-olah yang disebut “mereka” adalah pasukan perusak yang terorganisasi, ada ketuanya, ada dedengkotnya. Dan target pencapaian mereka adalah memorak-porandakan moral manusia Indonesia. Menurut saya TI menganggap manusia Indonesia tak boleh mempunyai imaji yang majemuk, harus satu saja, yaitu imaji yang sama dengan dirinya.Namun apa yang dinyatakan TI justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Muncul interpretasi baru terhadap esai TI; upaya membonsai ruang kreatif yang majemuk menjadi seragam, miskin, dan dangkal. Penulis-penulis yang objek imajinya tubuh –sebab asal muasal manusia takkan terlepas dari tubuh, dan kenapa pula manusia mengabaikannya?– lalu disosialisasikan sebagai ancaman.TI mengejek mereka, penulis yang punya pengakuan dan kompetensi melakukan penulisan kreatif dengan caranya sendiri. TI seperti hendak bilang; kau tak boleh menulis begitu. Dilarang melakukannya dengan cara begitu. Harus dengan cara TI.
Bagi saya, kewajiban kritikus (terutama penulis esai di media massa) bukan begitu –sebagaimana TI menyebut Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan kini Hudan Hidayat dkk. ditambah lima aktivis lainnya. Bahwa interpretasi seharusnya bukan pertama-tama mencari maksud pengarang, melainkan menyingkap makna dan hasilnya adalah sebuah produksi makna baru. Tentu bukan dengan cara sewenang-wenang atau tidak dengan memerkosanya (baca: memfitnahnya). Apalagi memaksa pra-pemahaman yang dimilikinya atau prasangka yang sudah ada di kepalanya. Kritikus punya peran yang berat (sama beratnya dengan pengarang) dalam melakukan interpretasi: menjadi aktor intertekstualitas, dengan kepala yang sudah terbuka serta mendengarkan apa yang sedang diungkap karya tersebut. Haryatmoko, doktor bidang Etika Sosial/Teologi Moral dan Sosial Universitas Indonesia mengajarkan saya tentang ini ketika membimbing tesis untuk penelitian novel Saman selama dua tahun di pascasarjana.
Oleh karena itu, saya harus meluruskan kembali tulisan TI yang kacau itu supaya tak terjadi distorsi, bahwa penulis esai yang sedang membahas karya orang seharusnya bagai seorang narator yang dalam narasinya dapat menjadi sumber inspirasi pembaca (bukan kalang-kabut mengejek karya orang sekaligus pribadi pengarang). Narator di sini adalah yang memasuki dunia batin tokoh-tokoh dalam karya orang dan hasilnya dapat memberikan suatu pandangan baru. Ini yang tidak dilakukan TI.
Dalam karya fiksi, begitu banyak kita temukan metafora. Tentu TI juga sering menemukannya. Metafora adalah proses retorika dan di dalamnya akan muncul dua interpretasi; yaitu yang menerima begitu saja (taken for granted) dan yang dianggap problematika. TI saya masukkan dalam kategori taken for granted atau “menerima begitu saja”, bukan sebagai suatu yang mengusung wacana. Kalau interpretasi terhadap metafora itu menjadi “begitu saja”, maka yang terjadi adalah ekspresi yang pendek dan tidak membutuhkan elaborasi (pencarian), apalagi advokasi. Jadinya picik, lucu dan garing…
Inilah distorsi yang mulai menggerogoti para kritikus yang taken for granted seperti yang saya katakan di awal tulisan ini. Bagi kami (Rich, Cixous, dan saya), penulisan tubuh perempuan (di antaranya kelamin) dan sebagainya, tak sekadar “ditangkap” sebagai tubuh itu sendiri, adalah karya-karya yang dari tubuhnya dapat memantulkan ruang tempat manusia becermin dan mengukur hidupnya dengan pikiran dan jiwa di dalamnya. Seperti dalam Of Woman Born, Adrienne Rich melawan tubuh perempuan yang jatuh pada mitos, dengan menyatakan bahwa tubuh pun dapat menatap dunia dan merekonstruksinya. Rich melakukan permainan feminin dalam karya sastranya untuk mengatakan bahwa manusia dapat mengembalikan sistem nilai tubuhnya pada sesuatu yang lebih adil, pada tindakan politik di mana domestik bisa menjadi ranah publik, dan perempuan akan bertempur dari sana, dari orientasi seksualitasnya yang konstruktif. Saya sendiri meneliti novel Saman karya Ayu Utami menghasilkan makna (seperti yang ditulis Haryatmoko dalam buku saya) yang mampu menjelaskan keprihatinan utama para tokoh perempuan, yaitu mendobrak pembatasan baik oleh tradisi, tatanan sosial, dan sebetulnya juga agama dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas (ketubuhan, keperawanan, hubungan seksual, hasrat seksual, perkawinan, perselingkuhan, dan perkosaan).
***
Perlu bagi saya memberi highlight dalam esai TI 17 Juni lalu, karena bagi saya efeknya bisa jadi sangat mengerikan ketika TI memberi stigma pada mereka sebagai penulis angkatan FAK. Pernyataan ini jelas potensial agresi seorang narator yang ingin segera menutup mata dan pikiran pembaca karya-karya mereka.
***
Perlu bagi saya memberi highlight dalam esai TI 17 Juni lalu, karena bagi saya efeknya bisa jadi sangat mengerikan ketika TI memberi stigma pada mereka sebagai penulis angkatan FAK. Pernyataan ini jelas potensial agresi seorang narator yang ingin segera menutup mata dan pikiran pembaca karya-karya mereka.
TI lalu membangun tahap-tahap pembacaan sastra mereka kepada keluarga, RT, RW, sekolah, dan kantor dalam acara halalbihalal atau natal. Dan yang paling tidak etis adalah mengkhayalkan para sastrawan yang tertuduh itu lebih bagus melakukan demonstrasi orgy -TI seperti sedang membayangkan karya-karya mereka bagai blue film dan ini menjadi salah satu referensinya. Saya menjadi terkejut sebab sepertinya TI memperlakukan pembaca adalah anak kecil yang bodoh, yang tak mungkin lagi kepalanya diasah untuk bisa menikmati sastra dengan pikiran dan hati terbuka. Singkatnya, TI mengajak pembaca menjadi terbelakang yang kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran jorok.
Mengutip Nawal El-Saadawi, novelis perempuan Mesir yang menjawab ejekan atas novelnya Perempuan di Titik Nol, “saatnya membawa pembaca membaca di atas kesadarannya, bukan lagi di bawah kesadarannya.” ***
*) Mariana Amiruddin, peneliti sastra, redaktur Jurnal Perempuan, penulis Novel Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat dan penulis Perempuan Menolak Tabu.
Tulisan ini dikutip dari Harian Jawa Pos (Surabaya), 15 Juli 2007.
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Sabtu, 08 Februari 2014
Catatan Berserak Tuan Tan (Novel yang Tertunda)
Mendengar kembali kabar pembubaran bedah buku Tan Malaka. Teringat catatan novel saya yang tertunda sejak tahun 2009 berjudul "Kerangekeng Tuan Tan". Inilah salah satu potongan kisah yang tercarut-marut itu.
---
KEDIRI — Perangkat desa asal
Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sudah
mempersiapkan pembongkaran makam yang diduga terdapat kerangka tubuh tokoh
revolusioner, Tan Malaka.
Pembongkaran makam tersebut, dilakukan Minggu 13 September 2009 di pagi hari. Saat ini, sejumlah panitia nasional sudah datang ke desa, bahkan beberapa di antara mereka ada yang menginap di rumah warga.
Mar dan Tuan Rick mengerubungi Tan yang sedang memegang Koran. Mereka bersama-sama membaca.
Pembongkaran makam tersebut, dilakukan Minggu 13 September 2009 di pagi hari. Saat ini, sejumlah panitia nasional sudah datang ke desa, bahkan beberapa di antara mereka ada yang menginap di rumah warga.
Mar dan Tuan Rick mengerubungi Tan yang sedang memegang Koran. Mereka bersama-sama membaca.
Zulfikar, dan Tuan Poeze. Tan menyahut tiba-tiba.
Ini ide mereka.
Keponakanku, Zulfikar. Lama tak melihat dia. Aku
tak mau dia tau aku di sini. Tuan Poeze, orang Leiden, yang
menghabiskan waktunya mengejar segala tentangku. Bukan pekerjaan
gampang di saat orang-orang anti mendengar namaku.
Sampai sekarang juga
masih anti, kata Mar. Mungkin karena julukan “kiri” itu. Meski
Tuan pernah dianggap pengkhianat oleh beberapa orang kiri.
Tuan bahkan sempat mengundurkan diri dari Komunis Internasional.
Tuan pernah memegang dunia.
“Waktu itu terlalu banyak
orang terseret ke politik internasional yang membentuk dunia
menjadi berpolar-polar. Sementara banyak negara-negara jajahan lebih
membutuhkan kemerdekaan, berdiri sendiri, tanpa terbawa arus
oleh polarisasi kekuasaan kolonial. Meski orang-orang kita banyak
juga yang tidak suka gagasan kemerdekaan, karena mereka dipelihara
oleh kolonial, tak rela menggadaikan hidup mereka yang sudah enak itu
dengan perjuangan dan pengorbanan,” urai Tan.
Tan melanjutkan, banyak
orang lupa yang paling utama adalah kepentingan nasional, kepentingan kemerdekaan
100%. Bukan kemerdekaan atas pemberian.
---
"Apalah artinya Mar yang
pandangannya terhuyung. Mar tanpa pikirannya, jiwanya, ia hanya melihat
bayangan-bayangan kepala manusia berbenturan, bersilang saling. Dan anak-anak
kucing tanpa induk yang tubuhnya menggulung . Malam yang senyap, mar setengah
tersadar.
Seseorang membawa termos,
dan menuangkan air hangat ke dalam gelas. Masih bayang-bayang. Seperti orang
mabuk.
Mar kedinginan biasa disiram
bir. Dan dalam birnya ia menulis. Sampai kepalanya jatuh di atas meja,
tertusuk kata-kata “Ini baru alam yang sesadarnya”. Hanya mabuk yang membantu
mengalirkan peredaran darahnya sampai ke otak. Seperti perjalanan ke atas
gunung, lalu memijak lembah, dan disitulah Mar menemukan sungai mengalir, dan
jatuh di air terjun yang membasuh wajahnya. Mar sendiri yang sepi dan ingin
sepi.
Akulah Tan-mu. Kupanggil kau
Mar dan kutambahkan kau X. Mar-x.
Tak usahlah kau mengejarku.
Aku bisa menjaga mu dari sini.
Peliharalah hidupmu, nyawa
dan jiwamu. Asah terus pikiranmu.
Jangan kau kejar aku. Pasti
aku kembali.
Mar sesak nafas, ia
tersengal-sengal dan dihantui bayang-bayang. Berusaha menengadah, tapi tak juga
bisa lihat apa-apa. Bayang-bayang orang itu mendekat ke arahnya, duduk
disampingnya.
“Siapakah..” ucap Mar lirih.
“Aku. Tan. Tuan mu, Nona.”
“Dimanakah.”
“Di bumi Suliki.
Payakumbuh. Kau telah sampai.”
Lembah, 2009
Akademisi, penulis, dan aktivis perempuan Program Pasca Sarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (2000-2002). Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2013), Komisioner Komnas Perempuan 2015-2025 (dua periode)
Salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru, yang berperan aktif dalam mengadvokasi pelibatan laki-laki dalam gerakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selain menulis berbagai buku dan esai tentang feminisme, hermeneutika, dan politik tubuh, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana gender di Indonesia melalui berbagai publikasi seperti tulisan opini diberbagai surat kabar, cerita pendek, dan esai, novel, dan kolaborasi, termasuk pembuatan video panduan "understanding Gender" bersama GIZ.
Langganan:
Postingan (Atom)




