Senin, 24 Maret 2014

Amarah Langit



Oleh: Mariana Amiruddin

Bulan Maret. Petir masih menyambar-nyambar. 
Marah atas apa wahai langit? 
Ledakan itu persis di atasku. 
Berarak-arak terdorong awan, 
mengguncang atap sampai ke lantai. 
Airmu jatuh keras sekali memercik sampai ruang kerjaku. 


Ai ini amarah atas apa? 
Wahai langit, 
asap dari hutan dibakar berhektar-hektar itu bukan di sini. 
Titik-titik airmu berebut di kaca jendelaku. 
Aku ngeri menyaksikan amarahmu.
Seekor kucing liar menumpang berteduh di ruang tamuku. 

Ia ragu aku manusia yang baik. 
Ia menjingkat-jingkat basah. 
Hewan yang paling takut basah.

Ia berharap aku orang baik yang mau menampungnya.
Wahai langit, 

semoga kemarahanmu mengingatkan kami, 
sekaligus menolong mahluk-mahluk kecil seperti kami. 

Dan tanda-tanda itu telah aku saksikan berkali-kali.
Redalah hujanku. 


Redahlah sampai hanya kudengar tetes lembut jatuh di atas tanah pohon melatiku.

Senin, 17 Maret 2014

Senin, 10 Maret 2014

Salah Kaprah tentang Feminisme


Oleh: Mariana Amiruddin

Saya sangat terkejut dengan pernyataan seseorang yang mengomentari status di facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional. Saya tambah terkejut lagi mengetahui bahwa feminisme begitu buruknya dipandang, seperti buruknya dongeng  paling keji di muka bumi ini yang dinamai “tarian harum bunga” tarian yang menggambarkan para perempuan aktivis bertelanjang  menari-nari membunuh dan menyilet kelamin para jendral. Mereka yang mengomentari tentang feminisme berangkat dari kebencian, bukan dari pengetahuan. Mengenal feminisme, berangkat dari hasutan, bukan dari keingintahuan.

Tetapi kemudian saya mencoba mendamaikan pikiran, bahwa ini realitas yang sedang kita dan masih terus menerus kita hadapi. Kita ditengah-tengah masyarakat yang diajarkan untuk memelihara hasutan sudah sejak bertahun-tahun lamanya. Masyarakat  yang dipalingkan dari kecintaan pada ilmu pengetahuan dan gagasan. Masyarakat yang dijauhkan dari kegemaran pada buku-buku dan tulisan-tulisan, atau dari pelajaran-pelajaran yang menggairahkan. Masyarakat yang dibiarkan “berkepala kosong”, oleh sistem-sistem pendidikan yang hanya mengejar jawaban-jawaban ujian yang berisi hapalan-hapalan.  Bagaimana mungkin mereka mencintai feminisme sebagai pengetahuan, bila sejak kecil mereka sudah disuapi “makanan pendidikan” yang tanpa gizi, tanpa ilmu dasar, dan dipermainkan oleh doktrin, mitos dan sejarah-sejarah yang disembunyikan, pemikiran-pemikiran yang dilarang-larang. Mereka sudah terlatih berjalan dalam kegelapan, ketika sedikit cahaya tampak berpijar lalu segera dipadamkan. Kebodohan-kebodohan lebih sering dimenangkan daripada kepandaian-kepandaian akal. Akal-akal pun dimusuhi dan diseberangkan dengan agama-agama. Agama dan akal dibentur-benturkan, dan yang terjadi adalah pecahan kecurigaan-kecurigaan pada pelajaran-pelajaran penting untuk asupan gizi akal manusia.

Pandangan buruk tentang feminisme sudah menjalar kemana-mana. Kekosongan itu kemudian dijejali dengan menggunakan  teknologi komunikasi dan informasi bernama sosial media, tempat orang bercakap-cakap yang hampir tak mempunyai isi. Seperti gunjingan-gunjingan keji para pencemburu keberhasilan orang lain. Kekosongan yang memproduksi inferioritas-inferioritas manusia yang kehilangan eksistensi. Di wilayah ini patriarkhi  tumbuh subur berbuah berkembang menjadi racun-racun yang akan membunuh akal dan kesadaran.

Feminisme adalah ide yang berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan, bukan dari desas-desus. Kebencian mereka sebagaimana pada anjing dan babi ciptaan Tuhan yang dilahirkan melalui jutaan  tahun proses evolusi awal kehidupan di bumi. Kebencian mereka seperti pada mitos Hawa yang menggoda Adam melalui buah pengetahuan, buah Kuldi, buah pengakibat lahirnya pendosa-pendosa yang dilempar ke dunia. Suara terbanyak anti feminis adalah kaum laki-laki, lalu kemudian kaum perempuan membuntuti mereka. Perempuan-perempuan yang dibentuk tak mengetahui siapa diri dan apa yang telah mereka alami, yang dibuat bergantung sepenuhnya pada lelaki.

Berikut ungkapan yang sering saya temukan, dan ternyata sudah banyak tersebar kemana-mana di linimasa orang-orang Indonesia, di abad 21, di era teknologi komunikasi, dengan pengguna yang kaya dengan kekosongan-kekosongan.

Indra Jaya, demikian nama yang tercantum di akun facebooknya.  Dia memakai foto bertopeng Anonymous (sebetulanya topeng ini melambangkan progresifitas yang radikal, tapi orang ini sepertinya—lagi-lagi tersesat—dalam kekaguman bentuk-bentuk saja), dengan slayer seperti pejuang Palestina.  Dengan sangat yakin ia mengomentari facebook saya tentang Hari Perempuan Internasional,

“Feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai tujuan | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”

“Feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”

“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.

Saya akan memberkan narasi umum untuk memudahkan masyarakat mengerti apa itu feminisme tanpa diawali rasa benci. Ide tentang feminisme sebetulnya tidak perlu jauh-jauh mengutip gagasan-gagasan feminisme, sebab gagasan feminisme sebetulnya ada dalam keinginan dan kehidupan banyak individu, termasuk laki-laki. Seperti ini contohnya: Keinginan untuk maju adalah hal yang paling hakiki di dalam diri setiap manusia. Kemauan untuk maju dan sukses adalah hal yang sangat positif dan sehat. Untuk itulah Indonesia begitu lama bercita-cita untuk merdeka, berdaulat dan menentukan nasibnya sendiri. Rakyatnya baik perempuan dan laki-laki, menginginkan anak-anaknya sekolah, anak-anak perempuannya sekolah dan menjadi pintar sehingga tidak mudah dibohongi, tidak mudah terjebak perdagangan perempuan (yang sudah ada sejak masa pra-kemerdekaan), tidak terjebak pada prostitusi dan ditipu untuk tujuan ekspolitasi seksual.  
Keinginan untuk  maju adalah harapan-harapan para orang tua saat dulu sampai kini, harapan pada keluarga. Sukses adalah harapan setiap orang yang akan menambah kepercayaan diri seseorang.  Ayah saya misalnya, ingin sekali anak perempuannya maju. Waktu saya kecil, saya dipeluknya, sambil berbisik “Ayah ingin kamu besar nanti bisa menyetir mobil sendiri, berpendidikan tinggi, dihormati orang.” Ayah juga melarang saya dekat dengan sembarang laki-laki, ayah selalu mengingatkan dengan kata “hati-hati dengan laki-laki”. Dulu saya pikir, apakah begitu buruknya laki-laki? Bukankah Ayah juga laki-laki? ”

Ayah pekerja keras, sampai lupa makan dan minum, sampai ginjalnya rusak, dan ia menabung sedikit demi sedikit hasil-hasil keringatnya untuk anak-anak sekolah, termasuk anak-anak perempuan. Ia adalah awal dari gagasan tentang anak perempuan yang mandiri. Sementara Ibu adalah awal dari gagasan tentang kasih sayang dan perhatian, kesabaran. Saya dikenalkan olehnya  tentang keinginan untuk maju, bukan berawal dari feminisme, melainkan dari Ayah saya yang masa hidupnya tidak mudah untuk mendapatkan uang sekolah, untuk meraih prestasi ia harus mencari uang sendiri, hidupnya bersusah payah. Sementara Ibu lahir dari keluarga yang lingkungannya sangat tentram dan damai, hijaunya kota Bogor, dan tanpa harus banyak uang, lingkungan itu membuat Ibu cinta pada alam, pada tumbuhan, dan menyukai seni dan buku-buku di tempat Kakek bekerja.

Feminisme bisa kita temukan dalam diri-diri manusia di sekitar kita. Ibu saya Ibu Rumah Tangga, hebat telah menata rumah tangga, mengasuh 6 anaknya, memberi saya inspirasi tentang keindahan, tata ruang, dan wangi-wangi ruangan, dan kata-kata yang lembut, kesabaran yang tiada terkira, sikap yang dingin dan bijak. Meskipun Ibu tidak sempurna, begitu juga Ayah, saya dapat memaklumi bahwa dalam setiap diri manusia tidak ada yang sempurna, tetapi saya telah menangkap hal-hal baik dari mereka yang membuat saya merasa sempurna. Ayah mengajarkan saya tentang perlunya keras kepala, tidak mudah menyerah, dan harus berusaha sepenuhnya dengan totalitas untuk mencapai sebuah tujuan. Ayah membuat saya menjadi anak perempuan yang punya cita-cita. Ayah mengajarkan saya tentang kejujuran dan kepatuhan pada aturan-aturan yang baik. Saat saya besar, saya tak bisa membayangkan bagaimana seseorang bisa korupsi mengambil uang rakyat, memanipulasi orang lain, menipu.  Saya tak punya contoh untuk ini. Sementara Ibu, membuat saya menjadi anak perempuan yang penuh dengan rasa sayang dan kasih tak terhingga pada semua mahluk. Ayah dan Ibu adalah wujud Yin dan Yang, dari dua manusia yang sangat berbeda jauh baik suku, jenis kelamin, bahasa, maupun latar belakang hidupnya. Mereka adalah kumpulan alam bawah sadar saya dari rentang masa-masa kecil saya hingga remaja, yang berkembangbiak dan muncul ke permukaan kesadaran.

Kombinasi yang  sama juga diterangkan oleh feminisme tentang eksistensialisme, tentang perlunya perempuan yang mandiri, supaya ia dapat menentukan nasibnya sendiri, bila sewaktu-waktu ia ditipu daya, dijerat, dilecehkan, diperkosa, dimain-mainkan. Kemandirian perempuan akan membuatnya terhindar dari itu semua, baik secara ekonomi, pikiran, dll. Dan kombinasi tentang kelembutan, bahwa perempuan diajarkan untuk peduli, selalu peduli pada yang lain. Diajarkan kasih dan moral yang kami miliki, yaitu moral tentang peduli, mengulurkan pertolongan pada semua mahluk yang mengalami kesusahan dengan dimulai untuk berdaya dari diri sendiri. Moral feminisme yang dapat kita pelajari dalam teori tentang Etika Kepedulian, dan mencintai lingkungan dalam teori Ekofeminisme.

 Ibu saya bukan perempuan yang bekerja, tapi ia punya suami, yaitu ayah saya yang pekerja keras dan mampu mencapai tujuan-tujuan kesuksesan untuk membiayai keluarga. Tapi saya tahu bahwa setiap ayah tidak bisa seperti ayah saya. Ada juga ayah-ayah yang mengalami kesulitan, tidak sukses, tidak punya uang banyak, tidak berdaya, tentunya butuh ibu-ibu yang bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga. Butuh ibu-ibu yang bisa memimpin, mandiri, dan membuat rumah tangga jadi seimbang. Para ayah tentu juga senang punya isteri atau Ibu yang demikian. Banyak pula anak-anak yang tumbuh dari seorang janda atau orang tua tunggal, yang bekerja keras untuk membiayai kehidupan mereka. Mereka juga orang-orang yang hebat.

Kombinasi ini ada dalam feminisme, yang intinya adalah, untuk mencapai suatu keadilan, maka kita perlu mengetahui apa keadilan itu sendiri, keadilan bagi perempuan, supaya dalam sepanjang hidupnya, ia tidak terlalu banyak mengalami hambatan, dalam situasi masyarakat dan budaya yang patriarkhi, yang ketika remaja hampir semuanya mengalami pelecehan seksual di ruang publik, di bis kota, di jalanan, di sekolah. Para Ayah akan tahu bagaimana anak perempuan itu tak bisa tumbuh dengan mudah di tengah masyarakat, tak semudah anak laki-laki. Para Ayah sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis untuk anak perempuannya. Dan para Ibu sudah banyak yang memikirkan hal-hal yang sangat feminis dalam memperhatikan lingkungannya. Tentu ada juga ayah dan ibu yang kelam, tetapi cerita sedih sudah terlalu banyak kita telan.

Kakak perempuan saya yang ketiga, dulu bekerja di Bank. Saat itu dia sangat keren sekali, saya memperhatikan gaya dia setiap kali berangkat ke kantor, begitu sibuknya. Sejak sekolah dia dikenal anak paling berprestasi, dia sangat pintar. Lalu ketika memiliki anak, ia berhenti bekerja. Tapi itu tidak mengurangi kepandaiannya, ia menerapkan pendidikan untuk anaknya dengan sangat baik, mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak di sekitar rumahnya yang kurang mampu. Kakak perempuan saya tetap hebat, begitu juga keempat kakak saya lainnya, mereka mengalami kehidupan yang tidak mudah, mereka sudah terlanjut dididik jujur dan apa adanya, dan dipaksa kuat menghadapi kesusahan, tak gampang menyerah. Ini adalah unsur dari ide-ide feminisme.

“Feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai tujuan |

Kesuksesan adalah tujuan setiap orang. Apakah ada orang tidak mau sukses? Semua ingin! Karena memang itulah dorongan manusia untuk merasa dirinya lebih hidup, lebih berarti. Ini pendidikan moral yang baik dalam feminisme.

“Punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat. Wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme, wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak,”

Sepanjang sejarahnya, para aktor-aktor feminis bukan hidup dalam dunia yang glamor. Hidup mereka adalah hasil dari usaha keras mereka, keringat, darah, dan rasa lapar dan lelah sepanjang hidupnya. Bukan penghasilan tinggi yang mereka tujukan, tetapi kemampuan ekonomi yang memenuhi kebutuhannya untuk keberlangsungan hidupnya, untuk gagasan-gagasannya yang dinamis, yang memberinya inspirasi bagi dunia lain. Aktivis feminis berbeda-beda dalam cara berpakaiannya, ada yang berkerudung, berselendang, bercelana jins, bertank-top, berdaster, bersepatu bot atau bersepatu hak tinggi, bermacam-macam sebagaimana lingkungan dan seleranya. Para feminis yang saya kenal begitu sayang pada anak dan keluarganya, begitu rindu mereka ketika memeluk anak-anaknya, begitu kuat perencanaan mereka tentang bagaimana menyekolahkan anak-anak mereka. Kalaupun mereka memberontak, apabila perlakuan tak adil padanya, seperti dipukuli oleh suaminya, dihambat kemajuannya, diperlakukan bukan seperti manusia pada umumnya. Kalaupun ada yang tidak berkeluarga, tidak semata-mata ia feminis, tetapi ada jalan hidup orang yang berbeda. Bibi dan Paman saya juga ada yang tidak berkeluarga dan tak punya anak, tetapi bukan karena mereka feminis, tetapi mereka menjalankan hidup seperti itu. Saya sebagai kepoakan mereka, tetap menghargai mereka sebagai bibi dan paman saya. Feminis itu berbeda-beda, seberagamnya jalan hidup manusia.

Banyak aktivis feminis yang tidak punya mobil mewah, bukan karena tidak bisa membelinya, atau memang ada yang tak mampu untuk membelinya. Bahkan tidak sedikit tokoh feminis yang menjual harta bendanya untuk sebuah gerakan untuk keadilan perempuan. Jadi untuk apa mobil mewah itu? Kritik Feminis Radikal dan Marxisme pada kapitalisme dan eksploitasi pada tubuh perempuan, jelas mengatakan bahwa tubuh perempuan bukan obyek, dan perjuangan perempuan adalah perjuangan kelas, perjuangan ekonomi yang mandiri supaya tidak dihisap tenaga mereka, di bayar dengan upah murah atas alasan jenis kelamin mereka oleh kaum patriarkhi yang tergila-gila pada kemapanan dan kekuasaan.

“Feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses. Feminisme menganggap wanita modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan.”

Salah sama sekali. Bahkan saya mengatakan secara terus terang ini kesesatan yang luar biasa pada komentar ini. Standar sukses Feminisme adalah keadilan bagi perempuan. Apakah yang adil bagi perempuan itu? Yaitu, ketika janda ia tidak menderita karena selama hidupnya ia bergantung secara ekonomi pada suaminya. Ketika mengandung dan melahirkan, ia terjamin kesehatan dan gizinya. Ketika ia mengasuh anak-anak mereka, ia terjamin memiliki fasilitas yang memadai baik untuk dirinya maupun anak-anaknya, fasilitas dalam arti hal-hal yang mendukung pengasuhan seperti lingkungan yang baik untuk anak, pendidikan, makanan bergizi, dll dan juga pengembangan diri sang ibu. Ketika perempuan bekerja, maka ia tidak dibedakan upahnya oleh pekerja laki-laki. Yang membedakan hanya kompetensinya. Ketika ia remaja dan telah tumbuh buah dadanya, dan mulai menjadi perhatian lawan jenisnya, janganlah ia dilecehkan. Ketika ia lansia, perhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan perempuan lansia. Ketika ia menikah, biarkan ia memilih calon suami yang ia inginkan dan disaat umurnya sudah matang. Ketika ia berhubungan seksual, biarkan perempuan mencapai kenikmatan seksualnya dan menunjukkan ekspresi kenikmatannya pada pasangan yang ia pilih. Ketika ia menjadi pemimpin, biarkan perempuan diberi kesempatan bagaimana cara ia memimpin dan tunggu bagaimana ia bisa menunjukkan hasil-hasilnya. Ketika ia masuk partai politik dan berhasil duduk di jabatan publik, biarkan ia bekerja dengan tenang tanpa dikait-kaitkan dengan identitasnya dengan perempuan yang katanya emosional dan tak bisa ambil keputusan, atau dianggap meninggalkan keluarganya.

Ini komponen-komponen yang ada dalam gagasan feminisme, dan seluruhnya berangkat dari pengetahuan dan pengalaman perempuan di seluruh dunia yang disebut dengan Epistemologi Feminis, Metodologi Feminis, serta Teori-Teori Feminisme yang berangkat dari lintas pengetahuan sosial-ekonomi-budaya di berbagai universitas dunia dan dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun, lebih dari tahun rentang kita hidup. Mereka adalah jenis manusia yang jumlahnya setengah dari seluruh manusia yang hidup di bumi ini.

“Menurut pandangan feminis, menjadi Ibu Rumah Tangga itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita. Karena itu, wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga.

Angka perceraian pada perempuan TKW tinggi sekali, begitupula pada pekerja-pekerja rumah tangga. Mereka bukan perempuan yang mengenal feminisme. Rata-rata dari mereka bercerai, karena suami-suami telah meninggalkan mereka, suami-suami tidak setia. Mereka yang mencari kerja mati-matian di negeri orang, tetapi suami memakai upaya keringat mereka untuk kepentingan dirinya, untuk berfoya-foya. Angka perceraian juga banyak terjadi pada ibu-ibu rumah tangga, dan banyak dari mereka yang akhirnya ingin mandiri dari segi ekonomi. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang ingin berdaya dan tak bergantung lagi saat menjadi janda.

Dalam gerakan feminisme, berbagai latar belakang perempuan telah ikut berkontribusi. Termasuk ibu rumah tangga. Dan mereka tidak berhenti menjadi ibu rumah tangga ketika mengikuti gerakan feminisme. Bagi mereka yang memiliki suami-suami baik dan mampu, hidup mereka lebih banyak waktu untuk beraktivitas membantu gerakan perempuan. Mereka adalah aktor-aktor penting dalam perjuangan perempuan. Dan, jangan lupa, setiap perempuan yang bekerja, banyak yang sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Banyak ibu pekerja sekaligus ibu rumah tangga, yang memikul dua beban sekaligus. Seharusnya para patriarkh dan laki-laki seperti orang yang komentar ini berterima kasih pada mereka.

Demikianlah jawaban-jawaban saya terhadap kesesatan dan kekosongan pikiran saat masyarakat mengomentari soal feminisme. Mulailah berangkat dari pengetahun, bukan kebencian dan desas-desus yang mengambil kesimpulan sangat jauh dari maksud dan tujuan feminisme itu sendiri. Untuk  memahami apa itu feminisme saya bahkan harus duduk kuliah di bangku pascasarjana selama 2 tahun, dan melahap banyak buku serta penelitian. Tak perlu melakukannya seperti saya, tetapi sudah banyak penjelasan-penjelasan yang komprehensif yang bisa membuat anda lebih paham betapa cerahnya feminisme membangun kehidupan perempuan dan manusia pada umumnya.


Jakarta, 10 Maret 2014










Sabtu, 15 Februari 2014

Cincin Api

CINCIN API

Oleh Mariana Amiruddin

Dinyatakan oleh PBB bahwa Indonesia adalah wilayah yang paling banyak mengalami bencana karena letak geografi/geologi di atas cincin api. Sayangnya, infrastruktur Badan Geologi kita masih tak ada bedanya dgn 20 tahun yg lalu. Negara kurang perhatian terhadap bumi tempat kita hidup. Karena kurang perhatian pada bumi tempat kita hidup ini, maka cincin api dianggap sepele.

Kantor-kantor badan geologi seperti kantor camat. Mengabaikan alam membuat negara tidak tahu apa yang harus dilakukan, bencana menjadi menelan manusia Indonesia, tak bedanya dgn abad 20. Selama 1 abad, infrastruktur Indonesia tak disiapkan menyesuaikan diri dengan kondisi bumi dan alamnya.

Tan Malaka dalam catatannya pernah menyebut-nyebut letusan Krakatau membuat Nusantara dikenal di seluruh dunia. Dampaknya mengubah iklim global. Menurut Tan Malaka, Hirosima dan Nagasaki itu tak ada apa2nya dengan letusan Krakatau yang abunya menyelimuti 1/8 bumi. Membaca kembali Indonesia, perlu seperti cara Tan Malaka, seluruhnya perlu dipelajari, alamnya, kabutnya, batu dan gunung2nya.

Tan Malaka seorang Moksa, dalam Hindu dan Budha sebagai seorang yang melepaskan diri dari ikatan duniawi utk mempelajari dunia. Tan Malaka sengaja tidak menikah karena menurutnya akan membelokkan dirinya dari tujuan perjuangan. Seorang Moksa memang demikian.

Tan Malaka terapkan ilmunya ibarat sampai chakra ke tujuh yg bisa menjadikan dirinya ada di berbagai tempat di waktu yang sama, Tan Malaka memang tak setuju dgn logika mistika, tetapi dia menerapkan melalui dialektika dan logika. Luar biasa kontrasnya orang ini.

Intinya, Tan Malaka tidak memisahkan antara alam dan bumi Indonesia dengan strategi politik yg dia canangkan. Ia ungkap itu dalam gerpolek.

Seandainya bangsa ini mau belajar dari leluhur dan pejuangnya terdahulu, tak akan ada itu ketakutan pada komunisdan sebagainya itu. Indonesia jalan terus dan program-program kemerdekaannya dijalankan. Pembangunan akan diterjemahkan lain, yaitu yang menyesuaikan alam dan keberagaman masyarakatnya.

Dalam hal ini saya mengatakan, dosa-dosa Orde Baru bukan kepalang, hingga pendidikan tak ada benar-benar membuka sejarah leluhur dan kekayaan alamnya, seluruh tokoh-tokoh pejuannya, sehingga tak ada lagi pepatah "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".

Orde Baru telah memisahkan anak-anaknya dari Ibu Pertiwi. Ibu yang dibuang tak sedikitpun diperhatikan, untuk sebuah kekuasaan dan kekayaan abadi. Mulailah mengenal Indonesia dari sekarang, seluruhnya. Benar-benar seluruhnya.

Tengah Malam, 16 Februari 2014






























Rabu, 12 Februari 2014

KELAHIRAN (Cuplikan Sebuah Teater Monolog)



NARASI

Kenyataan bahwa setiap kelahiran tidak selalu hadir sebagai kebahagiaan. Tapi apakah kebahagiaan itu? Siapakah yang punya otoritas mengartikan kebahagiaan? Kebahagiaan atas kelahiran adalah mitos. Mitos dalam makna yang tunggal. Ia berakar dalam norma-norma masyarakat. Bagi yang tidak diinginkan, KELAHIRAN diterjemahkan menjadi sangat menyakitkan. Semua orang menuntut kelahiran yang sempurna, yang lengkap dan kemudian dinamakan NORMAL. Yang harmonis bernama keluarga dan segala fasilitasnya. Kelahiran adalah wilayah yang harus aman. Rumah yang indah, bapak ibu yang lengkap, sehidup-semati, dan kakak beradik yang bermain-main di halaman.

Bukankah setiap kita bisa menerjemahkan kebahagiaan dengan cara lain? Bolehkah kebahagiaan bukan dalam satu pengertian melainkan dalam banyak pengertian?
Kelahiranku bagai telur yang terbelah menjadi dua, pecah terbelah-belah jatuh ke bumi, antah berantah di sebuah arena, arena yang mereka namai kehidupan. Di luar mitos kebahagiaan itu, norma-norma itu, ada kenyataan di depan mata, dalam gelombang hidup kita, bahwa seseorang lahir ada yang DIINGINKAN dan ada yang TIDAK DIINGINKAN. AKU barangkali adalah yang tidak diinginkan. Bukan karena kelahiran itu sendiri, melainkan oleh apa yang disebut kesempurnaan.

Ketika makna kematian dan kehidupan sudah terlalu banyak disuarakan dalam teks-teks suci dan wacana soal kebajikan, kebahagiaan, kesedihan, bahkan soal dosa, pahala dan petaka, manusia kehilangan pijak bagaimana  kelahiran itu hadir senyatanya, seragamnya, seberbedanya, seuniknya. Bagaimana kelahiran adalah awal terbentuknya gudang jiwa kita yang mengajukan pertanyaan dasar: bila aku dilahirkan, apakah yang disebut kehidupan dan kematian? KELAHIRAN Adalah pertanyaan dasar manusia yang tak pernah menjadi bahan perbincangan yang sejujur-jujurnya.

***
Narasi ini adalah kegelisahan dan pergulatan hidup seorang manusia sepanjang hidupnya, ketika kelahiran tidak dapat ia maknai bagaimana sesungguhnya, ketika ayah dan ibu terperangkap dalam konfrontasi politik militer antar rezim yang hanya menciptakan kekejaman, dan manusia ini lahir di tengah-tengah peristiwa itu. MANUSIA ini bukanlah sebagaimana manusia umumnya, bukan manusia yang mereka anggap sempurna. MANUSIA ini di luar mitos-mitos kebahagiaan yang membohongi kelahiran sesungguhnya.

ILUSTRASI

Sebutir telur besar  tenggelam sendirian dalam gelombang kain besar yang lentur hampir memenuhi panggung. Seorang manusia masuk ke panggung dengan rasa sunyi, menari dalam keheningan, dengan sangat lamban, nyaris tak terdengar, dalam musik samar-samar, dan beberapa patung terpancang di bibir panggung, menyaksikan sang penari mulai lirih melantun. Telur pelan-pelan bergerak menembus kain, sampai akhirnya pecah muncul berantakan menembus kain. Sang telur terbelah menganga, seolah menunjukkan eksistensinya, kehadirannya. Telur besar itu menantang, menyaksikan dirinya dan penonton. Tampak seorang manusia di dalam pecahan telur. Tubuhnya meringkuk  menggigil dan matanya nanar sambil menghirup udara. Ia tak pernah tahu udara. Ia baru saja tiba di dunia. Dalam gigilnya ia mulai merasakan udara, cahaya, benda-benda. Sang penari meninggalkan panggung, masih dalam sunyinya. Dan sang manusia telur, mulai memperhatikan patung-patung.

Ia keluar dalam satu raga, satu jasad, tetapi dalam dua kepribadian yang bertentangan, dalam jiwa yang tak sama, dalam karakter yang tak sama. Ia lahir sendirian dalam jiwa yang berganda-ganda. Ia gambaran sesuatu yang diinginkan sekaligus yang tidak diinginkan. Ia adalah benturan-benturan. Ia lahir dari konfrontasi politik. Ia lahir persis saat kekejaman itu datang. Ia adalah anak dari sejarah politik sebuah bangsa. Ia muram dan tenggelam dalam kain. Dan tiba-tiba melompat melanturkan kata-kata. Ruangnya hanya terbatas pada bahasa.

MONOLOG
PEMAIN UTAMA: TEDDY

Mengapa kelahiran itu ada? Mengapa telur ini terbelah? Bagaimana sebuah kelahiran itu terjadi?
Ini bukan soal kedokteran!

Bukankah setiap kelahiran keluar dari rahim-rahim milik Ibu? Mengapa kejadian itu ada?
Lahir seorang autis, lahir seorang tanpa lengan, lahir seorang tanpa melihat, lahir seorang tanpa mendengar, lahir seorang yang bisu, LAHIR SEORANG TANPA ORANGTUA, TANPA KELUARGA.
Kelahiran yang murni. Seperti apakah?

Sebuah kelahiran, diawali manisnya kehidupan, berakhir dengan pembuahan, dan yang lahir akan melihat kenyataan, bahwa satu tambah satu bukanlah dua. Kadang, satu setengah, kadang lebih!
Soal kelahiran ini, tentang “YANG LAHIR ITU SENDIRI”, apakah sesempurna itu? Apakah itu SEMPURNA? Adalah KESADARAN. Ya, kesadaran.

AKU TIDAK SUKA KESEMPURNAAN! BagiKU, seharusnya, apapun yang terjadi, TERJADILAH!!
Adakah kesadaran bahwa “kita tidak memiliki apa-apa?” Saat kita seonggok janin, kita tak punya apa-apa, bahkan otak, jiwa dan pikiran kita belum tumbuh.
Siapa yang merasa bahwa kita itu DILAHIRKAN? Siapa yang mau tahu? Dan akan menjadi apa? Kita juga tidak ingin tahu!

Atau seberapa jauh kita memahami keberbedaan dan dalam situasi yang berbeda-beda? Adakah pintu kelahiran itu menuntut menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu?

Cinta kadang tidak melahirkan sesuatu, tetapi kelahiran adalah –KONON-- bentukan harapan. Gerbang sudah disediakan. Arrahman Nirrahim. Lahir bukan hanya jasad, melainkan kesombongan, keserakahan kealpaan. Kelahiran juga adalah sifat, dan di dalamnya ada persoalan. Hidup itu adalah PERSOALAN. Tapi ruang jiwa atau ruh, siapa yang bisa menerjemahkan? Kelahiran akhirnya berhubungan dengan pencipta. Ada sesuatu yang kita perjuangkan. Perang! Hidup itu perang. Dan yang turun adalah TANGISAN.

Aku tidak ingin, tapi inilah terlanjur sebuah pilihan. Kita perlu sayang pada siapa yang dilahirkan.
Kalaupun ada sebuah keinginan, tetapi terlalu banyak gelombang untuk menjadi sesuatu. Sumbuku adalah CINTA, bahkan udara untuk bertemu. Dan dia adalah IBU dan BAPAK. Cintaku, aku tidak pernah mendapatkan MEREKA!  Ruangku hanya terbatas pada bahasa, aku tidak pernah tahu siapakah mereka.
Di bilangan Cikini ini, tepat di belakang  tembok Taman Ismail Marzuki ini, dulu adalah kediaman mereka, ketika mulai tumbuh besar, aku pernah berberes-beres di rumah itu. Ibuku di penjara, ayahku entah dimana, dan aku dilahirkan diantaranya.

Karya: Teddy Bontot
Adaptasi: Mariana Amiruddin
(Sebuah narasi teater monolog)


Dipersembahkan oleh: Komunitas Orang-orang Bawah Tangga

Cikini, Taman Ismail Marzuki 12 Februari 2014

























Ilustrasi Lukisan: "Geopoliticus Child Watching the Birth of the New Man" by Salvador Dali (1943)

Selasa, 11 Februari 2014

Perkosaan terhadap Teks-Teks Sastra


Mariana Amiruddin
Tanggapan tulisan Taufiq Ismail
Tak ada yang lebih mengejutkan selain rentetan istilah yang dilemparkan dalam esai Taufiq Ismail (TI) (Jawa Pos Minggu, 17 Juni 2007). Buat saya lebih mengerikan dari apa yang dia khayalkan tentang Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), Sastra Mazhab Selangkang (SMS), dan Fiksi Alat Kelamin (FAK). Eseinya adalah fiksi yang sama dengan istilah-istilahnya itu. Sebuah esai yang miskin interpretasi. Ada kemalasan untuk menjabarkan karya orang-orang yang dikritiknya. Saya menyebutnya kritik sastra tanpa etika; tanpa telaah dan argumentasi yang menggugah. Pernyataan TI tentang Hudan Hidayat dkk. dan “sejumlah aktivis lebih dari lima orang” bisa dibilang upaya mematikan latar belakang siapa pun penulis yang juga aktivis yang ikut serta menulis di ruang kreatif. Sebagai anak muda, saya takut memahami pikiran TI itu. Apalagi mengkhayalkan orang-orang yang disindirnya itu sebagai sebuah gerakan. Seolah-olah yang disebut “mereka” adalah pasukan perusak yang terorganisasi, ada ketuanya, ada dedengkotnya. Dan target pencapaian mereka adalah memorak-porandakan moral manusia Indonesia. Menurut saya TI menganggap manusia Indonesia tak boleh mempunyai imaji yang majemuk, harus satu saja, yaitu imaji yang sama dengan dirinya.Namun apa yang dinyatakan TI justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Muncul interpretasi baru terhadap esai TI; upaya membonsai ruang kreatif yang majemuk menjadi seragam, miskin, dan dangkal. Penulis-penulis yang objek imajinya tubuh –sebab asal muasal manusia takkan terlepas dari tubuh, dan kenapa pula manusia mengabaikannya?– lalu disosialisasikan sebagai ancaman.TI mengejek mereka, penulis yang punya pengakuan dan kompetensi melakukan penulisan kreatif dengan caranya sendiri. TI seperti hendak bilang; kau tak boleh menulis begitu. Dilarang melakukannya dengan cara begitu. Harus dengan cara TI.
Bagi saya, kewajiban kritikus (terutama penulis esai di media massa) bukan begitu –sebagaimana TI menyebut Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan kini Hudan Hidayat dkk. ditambah lima aktivis lainnya. Bahwa interpretasi seharusnya bukan pertama-tama mencari maksud pengarang, melainkan menyingkap makna dan hasilnya adalah sebuah produksi makna baru. Tentu bukan dengan cara sewenang-wenang atau tidak dengan memerkosanya (baca: memfitnahnya). Apalagi memaksa pra-pemahaman yang dimilikinya atau prasangka yang sudah ada di kepalanya. Kritikus punya peran yang berat (sama beratnya dengan pengarang) dalam melakukan interpretasi: menjadi aktor intertekstualitas, dengan kepala yang sudah terbuka serta mendengarkan apa yang sedang diungkap karya tersebut. Haryatmoko, doktor bidang Etika Sosial/Teologi Moral dan Sosial Universitas Indonesia mengajarkan saya tentang ini ketika membimbing tesis untuk penelitian novel Saman selama dua tahun di pascasarjana.
Oleh karena itu, saya harus meluruskan kembali tulisan TI yang kacau itu supaya tak terjadi distorsi, bahwa penulis esai yang sedang membahas karya orang seharusnya bagai seorang narator yang dalam narasinya dapat menjadi sumber inspirasi pembaca (bukan kalang-kabut mengejek karya orang sekaligus pribadi pengarang). Narator di sini adalah yang memasuki dunia batin tokoh-tokoh dalam karya orang dan hasilnya dapat memberikan suatu pandangan baru. Ini yang tidak dilakukan TI.
Dalam karya fiksi, begitu banyak kita temukan metafora. Tentu TI juga sering menemukannya. Metafora adalah proses retorika dan di dalamnya akan muncul dua interpretasi; yaitu yang menerima begitu saja (taken for granted) dan yang dianggap problematika. TI saya masukkan dalam kategori taken for granted atau “menerima begitu saja”, bukan sebagai suatu yang mengusung wacana. Kalau interpretasi terhadap metafora itu menjadi “begitu saja”, maka yang terjadi adalah ekspresi yang pendek dan tidak membutuhkan elaborasi (pencarian), apalagi advokasi. Jadinya picik, lucu dan garing…
Inilah distorsi yang mulai menggerogoti para kritikus yang taken for granted seperti yang saya katakan di awal tulisan ini. Bagi kami (Rich, Cixous, dan saya), penulisan tubuh perempuan (di antaranya kelamin) dan sebagainya, tak sekadar “ditangkap” sebagai tubuh itu sendiri, adalah karya-karya yang dari tubuhnya dapat memantulkan ruang tempat manusia becermin dan mengukur hidupnya dengan pikiran dan jiwa di dalamnya. Seperti dalam Of Woman Born, Adrienne Rich melawan tubuh perempuan yang jatuh pada mitos, dengan menyatakan bahwa tubuh pun dapat menatap dunia dan merekonstruksinya. Rich melakukan permainan feminin dalam karya sastranya untuk mengatakan bahwa manusia dapat mengembalikan sistem nilai tubuhnya pada sesuatu yang lebih adil, pada tindakan politik di mana domestik bisa menjadi ranah publik, dan perempuan akan bertempur dari sana, dari orientasi seksualitasnya yang konstruktif. Saya sendiri meneliti novel Saman karya Ayu Utami menghasilkan makna (seperti yang ditulis Haryatmoko dalam buku saya) yang mampu menjelaskan keprihatinan utama para tokoh perempuan, yaitu mendobrak pembatasan baik oleh tradisi, tatanan sosial, dan sebetulnya juga agama dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas (ketubuhan, keperawanan, hubungan seksual, hasrat seksual, perkawinan, perselingkuhan, dan perkosaan).
***
Perlu bagi saya memberi highlight dalam esai TI 17 Juni lalu, karena bagi saya efeknya bisa jadi sangat mengerikan ketika TI memberi stigma pada mereka sebagai penulis angkatan FAK. Pernyataan ini jelas potensial agresi seorang narator yang ingin segera menutup mata dan pikiran pembaca karya-karya mereka.
TI lalu membangun tahap-tahap pembacaan sastra mereka kepada keluarga, RT, RW, sekolah, dan kantor dalam acara halalbihalal atau natal. Dan yang paling tidak etis adalah mengkhayalkan para sastrawan yang tertuduh itu lebih bagus melakukan demonstrasi orgy -TI seperti sedang membayangkan karya-karya mereka bagai blue film dan ini menjadi salah satu referensinya. Saya menjadi terkejut sebab sepertinya TI memperlakukan pembaca adalah anak kecil yang bodoh, yang tak mungkin lagi kepalanya diasah untuk bisa menikmati sastra dengan pikiran dan hati terbuka. Singkatnya, TI mengajak pembaca menjadi terbelakang yang kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran jorok.
Mengutip Nawal El-Saadawi, novelis perempuan Mesir yang menjawab ejekan atas novelnya Perempuan di Titik Nol, “saatnya membawa pembaca membaca di atas kesadarannya, bukan lagi di bawah kesadarannya.” ***
*) Mariana Amiruddin, peneliti sastra, redaktur Jurnal Perempuan, penulis Novel Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat dan penulis Perempuan Menolak Tabu.
Tulisan ini dikutip dari Harian Jawa Pos (Surabaya), 15 Juli 2007.

Sabtu, 08 Februari 2014

Catatan Berserak Tuan Tan (Novel yang Tertunda)

Mendengar kembali kabar pembubaran bedah buku Tan Malaka. Teringat catatan novel saya yang tertunda sejak tahun 2009 berjudul "Kerangekeng Tuan Tan". Inilah salah satu potongan kisah yang tercarut-marut itu.

---

KEDIRI — Perangkat desa asal Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sudah mempersiapkan pembongkaran makam yang diduga terdapat kerangka tubuh tokoh revolusioner, Tan Malaka.
      
Pembongkaran makam tersebut, dilakukan Minggu  13 September 2009 di pagi hari. Saat ini, sejumlah panitia nasional sudah datang ke desa, bahkan beberapa di antara mereka ada yang menginap di rumah warga.
          
Mar dan Tuan Rick mengerubungi Tan yang sedang memegang Koran. Mereka bersama-sama membaca.
Zulfikar, dan Tuan Poeze. Tan menyahut tiba-tiba.
Ini ide mereka.
Keponakanku, Zulfikar. Lama tak melihat dia. Aku tak mau dia tau aku di sini. Tuan Poeze, orang Leiden, yang menghabiskan waktunya mengejar segala tentangku. Bukan pekerjaan gampang di saat orang-orang anti mendengar namaku.
Sampai sekarang juga masih anti, kata Mar. Mungkin karena julukan “kiri” itu. Meski Tuan pernah dianggap pengkhianat oleh beberapa orang kiri. Tuan bahkan sempat mengundurkan diri dari Komunis Internasional. Tuan pernah memegang dunia.

“Waktu itu terlalu banyak orang terseret ke politik internasional yang membentuk dunia menjadi berpolar-polar. Sementara banyak negara-negara jajahan lebih membutuhkan kemerdekaan, berdiri sendiri, tanpa terbawa arus oleh polarisasi kekuasaan kolonial. Meski orang-orang kita banyak juga yang tidak suka gagasan kemerdekaan, karena mereka dipelihara oleh kolonial, tak rela menggadaikan hidup mereka yang sudah enak itu dengan perjuangan dan pengorbanan,” urai Tan.

Tan melanjutkan, banyak orang lupa yang paling utama adalah kepentingan nasional, kepentingan kemerdekaan 100%. Bukan kemerdekaan atas pemberian.

---

"Apalah artinya Mar yang pandangannya terhuyung. Mar tanpa pikirannya, jiwanya, ia hanya melihat bayangan-bayangan kepala manusia berbenturan, bersilang saling. Dan anak-anak kucing tanpa induk yang tubuhnya menggulung . Malam yang senyap, mar setengah tersadar.

Seseorang membawa termos, dan menuangkan air hangat ke dalam gelas. Masih bayang-bayang. Seperti orang mabuk.

Mar kedinginan biasa disiram bir. Dan dalam birnya ia menulis. Sampai kepalanya jatuh di atas meja, tertusuk kata-kata “Ini baru alam yang sesadarnya”. Hanya mabuk yang membantu mengalirkan peredaran darahnya sampai ke otak. Seperti perjalanan ke atas gunung, lalu memijak lembah, dan disitulah Mar menemukan sungai mengalir, dan jatuh di air terjun yang membasuh wajahnya. Mar sendiri yang sepi dan ingin sepi.

Akulah Tan-mu. Kupanggil kau Mar dan kutambahkan kau X. Mar-x.
Tak usahlah kau mengejarku. Aku bisa menjaga mu dari sini.
Peliharalah hidupmu, nyawa dan jiwamu. Asah terus pikiranmu.
Jangan kau kejar aku. Pasti aku kembali.

Mar sesak nafas, ia tersengal-sengal dan dihantui bayang-bayang. Berusaha menengadah, tapi tak juga bisa lihat apa-apa. Bayang-bayang orang itu mendekat ke arahnya, duduk disampingnya.

“Siapakah..” ucap Mar lirih.

“Aku. Tan. Tuan mu, Nona.”

“Dimanakah.”



“Di bumi Suliki. Payakumbuh. Kau telah sampai.”


Lembah, 2009




Minggu, 02 Februari 2014

Karena Kehendak adalah Hak

Oleh: Mariana Amiruddin

"Orang cenderung membelah diri. Memisahkan keluarga dengan publik. Seperti jiwa yang terpisah dengan tubuh. Kenapa? Karena keluarga sering tidak seiring, tidak bersambung dengan pikiran dan pengalaman pikir saya. Apalagi imajinasi. Perhitungannya selalu normatif. Mengabaikan karakter individu. Apa yang disebut keluarga adalah realitas masyarakat. Apa yang disebut masyarakat adalah realitas keluarga. Sayangnya saya sering tidak cocok dengan realitas masyarakat. Saya terlempar berkilo-kilo meter, menjadi diri yang lain, yang tidak sealur dengan keluarga yang seperti anomali dalam masyarakat. Tak bisa senyum kalau tak mau senyum. Tak bisa tertawa kalau tak mau tertawa. Senyum dan tawa hanya di ruang-ruang tertentu. Mengangguk saja bila merasa tak cocok. Menggeleng bila merasa tidak pantas. Lalu bisakah saya menciptakan keluarga sendiri? Ternyata tidak bisa. Karena rantai keluarga itu terus beralur, seperti cerita yang tak habis..."

"Apa yang saya sebut keluarga akhirnya adalah orang-orang pilihan saya sendiri. Meski sifatnya sementara. Seperti pekerja kontrakan. Adalah teman-teman. Tak berlama-lama, gampang datang, gampang pergi. Ada yang sudah lama pergi, lalu muncul kembali. Dan kini pergi lagi.

Orangtua, tanpa mengurangi rasa hormat, cukup mereka saja yang terus terbawa mimpi. Membayangkan sulitnya mempertahankan sebuah ikatan dan melahirkan anak-anak serta membesarkannya. Yang lainnya adalah diri saya sendiri."

Di dalam keluarga, saya tidak pernah bisa jadi diri sendiri.
Di luar sini, saya selalu jadi diri saya sendiri.
Akhirnya, kebebasan yang kuraih ini adalah akibat bentuk negosiasi hidup saya pada orang tua dan keluarga, dan tentu masyarakat.

"Inilh saya"

Sayapun tak mau bergantung.
Karena kehendak adalah hak.
Dan jarak telah menjadi kehendak.
Kehendak diantara hak-hak yang kadang sulit saling bertemu.

Aku mencari kehendak di luar sini.
Meski belum juga kutemukan.
Kecuali air dan api dalam pikiran.


Kelapa Gading, 29 Desember 2009