Selasa, 02 September 2014

Gua

Oleh: Mariana Amiruddin

Dadaku seperti berlubang. Dingin telah melubangi dadaku. Dingin membiarkan tungkaiku menggigil. Ini gua paling ideal. Gua vertikal ketika kau harus menuruni batu dan jenjang curam sekitar duapuluh meter untuk menuju dasar, dan kau hanya melihat gelap dan lembab. Tetapi di dasar itu kau akan menyaksikan keindahan bukan kepalang, dan itu bukan dengan matamu, melainkan bulu kuduk dan gendang telingamu. Bulu-bulu kudukmu akan menjadi ribuan mata dan dan telingamu berdendang saat kau temukan air menetes nyaring jatuh satu persatu dari langit-langit gua. Kau tidak perlu menggunakan matamu. Kau harus berlatih menjadi buta. Tapi bukan buta rasa. Kau akan mencium bau kotoran dan tubuh kelelawar yang berdansa bahagia. Sentuhlah dengan jari-jarimu ke dinding gua, kau akan merasakan lekuk dinding-dinding yang penuh hasrat dan cinta. Kau akan bertemu ikan-ikan kecil dalam genangan jernih, mereka akan mencium kaki-kakimu.
Aku, manusia dengan dada yang berlubang, terkikis dingin siang dan malam dan angin keji yang menyusup dari lubang-lubang misteri gua yang kutempati. Aku memang hidup di dalam gua, kedap suara, kau akan bicara dengan berbisik, sebab suaramu akan terpantul tak ada habisnya dan akan menimbulkan suasana yang berisik. Jangan kau bayangkan suara jangkrik dan katak yang nyaring. Bicaralah pelan sekali, bila kau kencangkan sedikit, kau akan membubarkan kelelawar yang lelap dan merobohkan dinding-dinding gua yang rapuh. Pagi hari ketika matahari mencuri pandang cahayanya ke dalam mulut gua, saat itu hanya ada burung-burung yang boleh berkicau dan terbang menyambutnya. Kelelawar akan segera terlelap bersamaku. Aku akan tergolek lemah di bawah tetesan air, yang ikut melubangi dadaku.

Malam ini adalah bulan keempat sejak aku meninggalkan keramaian. Aku menghitung bulan melalui jadwal menstruasiku. Semua petunjuk waktu sudah kubuang. Aku memutuskan untuk mundur dari suara tawa dan tangis orang-orang dan memutuskan untuk hidup di dalam gua. Gua-gua ingatan, gua-gua masa lampau yang kusimpan sampai kenyang. Di gua ini aku menyimpan memori kebahagiaan dan kesedihan. Yang kebahagiaan menjadi yang paling buruk, dan yang buruk menjadi yang terlupakan. Yang kebahagiaan menjadi buruk karena aku tahu itu tak akan terulang lagi, tidak ada yang akan terulang kecuali kesalahan. Tidak ada yang terulang kecuali kesengajaan. Kebahagiaan bukan kesengajaan, ia ditemukan, dirasakan. Kini aku menemukan ketiadaan. Tiada bahagia, tiadapula sedih. Aku dalam posisi nol. Posisi yang membuat tubuhku melayang menolak gravitasi. Dan dadaku berlubang, dengan kulit yang bersisik. Kulitku di bagian lain mulai licin seperti ikan dan katak. Suaraku bahkan mulai terdengar seperti denging lumba-lumba di dalam air. Sudah lama aku tak melihat cahaya, atau gigi-gigi bersih dan rapi saat pemuda-pemuda tampan melempar senyumnya kepadaku, atau pemudi-pemudi cantik yang menyembunyikan perasaannya tentang keinginan yang tertunda.

Dadaku berlubang. Sebelumnya aku merasakan panas, terutama saat hari kira-kira lewat jam dua malam. Aku memeriksa isi dadaku, tak ada lagi jantung dan hati di sana. Aku tak punya jantung-hati. Aku hanya punya paru-paru. Aku kehilangan denyut-denyut itu sejak tinggal di dalam gua. Aku merasakan ada yang tumbuh di dadaku yang berlubang, barangkali itu seperti insang yang bergerigi, yang dilekat oleh darah dan daging, menempel pada garis-garis tulangku. Aku mulai lupa bahasa tubuh manusia, bagaimana saat mereka senang atau sedih, saat mereka terkejut atau marah, saat jatuh cinta atau patah hati, atau saat mereka terpingkal-pingkal atau menjerit-jerit sakit. Aku benar-benar belum ingin ke sana untuk menemui mereka. Aku pernah mencobanya berkali-kali tapi aku tidak kuat. Aku sering menggelepar seperti ikan kehabisan air saat bertemu keramaian manusia dengan segala rutinitasnya. Aku seperti meleleh di panas matahari. Aku tidak mengerti perbincangan mereka, aku tak bisa menghayatinya. Bahkan untuk berkata bahwa aku sakit dan lapar saja aku tidak bisa. Mereka punya telinga tetapi sepertinya tidak berfungsi. Mereka sulit sekali untuk mendengarkan. Bahkan untuk mendengarkan sedikit saja nada halus dan lembut yang melintas. Mereka hanya mendengarkan diri mereka sendiri. Sementara, gendang telingaku terlalu sensitif, aku akan terpental seribu meter bila mendengar mereka bicara keras-keras.

Apa yang kulakukan setiap hari saat di gua? Aku tidak melakukan apa-apa kecuali aku punya pena dan kertas-kertas yang kupungut dari sisa-sisa kebudayaan mereka. Aku akan mengisi kertas-kertas itu dengan catatan-catatanku. Kadang aku diam-diam mencuri tahu sedang apa mereka di sana, aku berjingkat-jingkat memperhatikan kehidupan mereka. Dan aku akan menulis saat pulang ke gua. Di situlah aku bisa begitu cepat merakit alur-alur hidup mereka, tabarakan-tabarakan kepentingan dan keinginan yang mereka lakukan, tipu muslihat dan gunjingan yang membangkitkan gairah hidup mereka, permusuhan sekaligus persahabatan, kepura-puraan, persembunyian antara hati dan ekspresi wajah mereka. Aku mempelajarinya hingga detil. Aku mengamati teks-teks gerakan mereka, air wajah sampai gerakan otot mereka yang membuat aku tahu persis kapan mereka bohong atau jujur, kapan mereka gombal atau tidak, kapan mereka luka atau kecewa, kapan mereka manipulatif atau tidak, kapan mereka menusuk dari belakang atau dari depan, kapan mereka akan tiba-tiba menemukanku yang sedang mengintip. Aku akan lari terbirit-birit dan nafasku sesak seperti ikan yang kehilangan air. Aku akan lari sejauh mungkin kira-kira sampai nafasku yang paling akhir sudah tiba di mulut gua dan aku akan terjun ke dalam genangan di dasar gua.

Tapi gua apa yang bisa membuatmu seperti ikan dan katak? Gua tempatmu akan banyak berbincang dengan dirimu sendiri, akan banyak berkata dalam hati dan pikiranmu sendiri, akan cepat menghayati kehidupan itu sendiri. Tapi tahukah bahwa akhirnya orang-orang yang aku amati itu mengetahui kediamanku, mereka memohon pertolonganku, mereka menyembah-nyembah di mulut gua, menyalakan api dan memanggang ayam di atasnya. Mereka menunggu aku keluar, aku dianggapnya orang sakti. Kalau dulu orang mengatakannya sundal bolong, perempuan yang punggungnya bolong, aku adalah merk baru dalam kepala mereka tentang sosok yang sakti. Aku adalah si dada bolong itu, dengan kulit bersisik dan licin. Mataku mulai keluar membulat seperti katak atau ikan, berlendir dan menjijikan. Untungnya bagi mereka aku adalah orang sakti. Kata mereka, setiap doa-doa yang mereka ucapkan di mulut gua, mereka akan mendapatkan mimpi-mimpi yang baik. Mereka akan mendapat petunjuk-petunjuk yang menjadi kenyataan. Aku tidak mengerti apakah benar aku sesakti itu. Aku sendiri sudah lama tidak mengenal mimpi karena setiap malam aku bangun dan pagi aku tidur, hanya mendengar suara tetes air.

Suatu hari aku kehilangan kertas-kertas, dan aku tak bisa memilikinya lagi. Aku tak bisa mengambilnya lagi dari tempat-tempat mereka membuang kertas. Penaku bahkan sudah kehabisan tinta. Aku mencari akal dan kemudian kuasah batu yang kudapatkan di dalam gua dan membuatnya menjadi tajam. Aku menyayat tubuhku dan keluar darah kental mengalir deras,  dan sekejap berhenti. Aku menampungnya di sebuah wadah, dan kujadikan tinta. Darah-darah ini kujadikan tinta, dengan jariku yang licin seperti katak aku menuliskan banyak hal di dinding gua. Aku menuliskan banyak kata di kegelapan yang akupun tak bisa melihatnya, aku hanya menorehkan huruf-huruf yang aku maksud. Aku mau tanda-tanda itu menjadi catatan hidupku. Sampai akhirnya aku kehabisan darahku sendiri yang berhari-hari kujadikan tinta menulisku di dinding gua. Dan dadaku yang berlubang sudah tak mampu lagi meneruskan nafasku, aku mulai merasakan lemas yang luar biasa, pandanganku gelap, lebih gelap dari keadaan dasar gua, aku dengar sayup-sayup dansa keleleawar dan percikan ikan yang melompat, sampai akhirnya suara mereka tidak ada lagi. Dan segalanya menjadi benar-benar gelap, benar-benar sunyi. Aku tidak tahu lagi, bahkan aku tidak merasakan apa-apa lagi, kecuali satu kata yang pernah kutuliskan di dinding gua: “semua sudah berakhir”.


Tambun, 3 September 2014