Minggu, 31 Agustus 2014

Burung Tanpa Sayap


Oleh: Mariana Amiruddin


Kuletakkan kakiku sore itu di pinggir danau. Kutebar doa dalam tunduk, aku menerjunkan diri ke dasar danau. Gelap gulita dan lembut daun-daun menyentuh jariku. Mata kupejam, doa-doa masih bertutur. Mengambil nafas panjang di udara, tampak wajah seorang lelaki duduk di pinggir danau. Siapakah dia, aku tidak tahu. Aku kembali menyelam, aku tak peduli. Berjam-jam dalam air seperti hidup telah kembali.

Lelaki itu memandangku lekat sekali. Ia duduk dipinggir danau. Aku tak peduli. Aku menyelam kembali. Tetapi siapa yang mengira ia adalah lelaki yang akan hidup bersamaku sebentar lagi. Awalnya ia berkata, ingin kubiarkan gadis ini terus berenang tanpa aku menyentuhnya, dan biarkan aku memandangnya dari jauh. Tapi bukan begitu kenyataannya, sebab beberapa bulan yang lalu kami sudah bertemu tanpa tahu siapa sebenarnya diantara kita. Dan bulan kembali mempertemukan kita di danau itu, apakah benar oleh suatu keinginan, tentang hidup yang sunyi, diantara keramaian orang yang cinta harta dan raga. Kami tak saling kenal, dan tak peduli siapa sebetulnya diantara kami. Kami bukan siapa-siapa kecuali berjam-jam dalam genangan. Kami hanya manusia yang lahir di bumi dan hidup dalam garis takdir yang tak sama lalu berjumpa seolah baru saja bangkit dari kematian.

Sejak itu kubawa laki-laki itu hidup bersamaku. Ia kagum pada kebebasanku. Ia melamarku dengan lembut sekali. Hanya mata dan kulit kami yang mengungkapkan itu, dan nafas hangat berkeringat, seperti api yang berpijar tak pernah mau padam. Sejak itu dunia hanya milik kami, kami tak perlu makan dan minum, tak istirahat, tak pernah pejam. Kami berlari dengan gembira menuju surga, tempat siapapun tidak perlu bertarung dan segalanya hanya diisi dengan cinta. Tetapi belum sampai dua tahun kami terbangun bahwa kami masih hidup di dunia, tempat orang bekerja dan makan, sekolah dan meraih cita-cita, cinta menjadi bentuk yang paling kelabu dalam hidup kami, kemiskinan menjadi layar besar yang kami tonton sepanjang malam, dan kami harus berpisah karenanya. Lelaki itu terserang kemiskinan akut dan ia harus pergi begitu saja, kembali ke dunia, menjadi seorang buruh dengan gaji beberapa perak saja, dangan ibu yang lumpuh, kakak yang gila, dan anak-anak yang kelaparan. Siapakah aku kini, aku tidak tahu karena aku hidup dimana tak seorangpun menggantungkan hidupnya padaku. Aku bukan tulang punggung sepertinya. Aku hanya tulang-tulang berserakan saat ditinggalkannya.

Vincent, namanya. Maria namaku. Menurutnya, nama Vincent adalah nama orang-orang yang sering terkena sial. Mancung sekali hidungnya. Pipih wajahnya, kokoh rahangnya. Aku jadi ingat perbincangan awal kita tentang mimpi dan mitos. Pada sebuah zaman dimana belum ada teknologi yang memanjakan manusia, dimana peradaban masih ditulis dengan tangan dan kendaraan adalah kuda-kuda yang gagah, penjajahan dan perang selalu terjadi demi merebut atau mempertahankan tanah subur dan hasil-hasil bumi.

Kau bilang bahwa pada masa itu namaku adalah Mulan, seorang putri bangsa Mongol, yang gemar berkuda. Aku adalah pemimpin perang yang berkuda memimpin pasukan, dengan senjata pedang, di tangan kananku, dan busur serta panah dipunggungku. Aku adalah Putri Mongol, putri seorang Raja yang berkharisma yang disegani dan tempat tumpuan rakyatnya. Aku pemimpin perang dengan rambut panjang tersapu angin, bermata tajam dan tegar tak tergoyahkan. Dan kau, siapakah kau? Kau adalah putra raja dari Eropa yang menjajah bangsaku, Raja Albert, tetapi kemudian kerajaanmu jatuh miskin karena kalah perang. Raja Albert yang menikah dengan Ratu Tin Yi, perempuan yang pernah lahir di tanah bangsaku. Harta bendamu kami rebut. Kau adalah musuhku, pangeran yang berjalan tanpa kuda dan tanpa pedang. Kau adalah lelaki berdarah biru yang hidup dalam keadaan compang-camping mengais kotoran dan sampah untuk makananmu, mencari gua-gua kosong untuk tempat tinggalmu. Kau adalah lelaki berdarah biru yang miskin dengan nasib yang sangat tak beruntung, dengan kaki bekas luka pertempuran dan jalanmu setengah pincang seperti seorang yang kehilangan daya.

Saat itu kau tahu bahwa aku adalah Putri dari Bangsa Mongolia yang kali ini berlari kencang bersama kudanya dengan berurai air mata. Zaman menetapkan bahwa beberapa orang mengkhianati sang putri dan menyebar berita-berita bohong tentangnya. Raja sudah mati, dan Sang Putri nyaris tak punya kekuatan lagi, ia berlari dan berlari bersama kudanya, dalam perjalanan itu ia membuang pedangnya. Ia memutuskan untuk mundur dan lari dari segalanya. Tangisannya hampir sama dengan amarahnya. Ia tak mau melawan kerajaan dan bangsanya sendiri. Dalam kecepatan diambang batas kematian itu, sang kuda tersandung tali jerat yang dipasang musuh, dan dengan segera sang Putri jatuh berguling bermeter-meter, sampai berhenti di bibir jurang. Ia menemukan kakinya patah dan hampir tak bisa bangun kembali. Ia jalan dengan menyeret tubuhnya menghindar jurang yang dalam sedalam luka di lengan dan kakinya.

Pada saat itulah sang pangeran miskin dan compang-camping mengamati kejatuhan Sang Putri, ia lekas berlari menolong dan cemas yang terlihat di wajahnya. Sang pangeran compang-camping membantu sang putri mengangkat tubuhnya hingga berdiri. Mereka berdua berjalan menjauhi jurang, mendaki bukit batu yang curam, mencari gua-gua aman dengan kaki terseret dan terpincang-pincang. Sejak itulah dalam jatuh dan luka mereka bercinta, berbagi, bersahabat, berdekap. Mereka adalah anak-anak dari kerajaan dan negeri yang saling bertempur. Dan setiap malam mereka menatap bintang yang berserak sambil melempar harapan, menyalakan api unggun mengatasi dingin, tetapi keadaan menjadi lain ketika Sang Putri ditemukan oleh pengawal-pengawal kerajaan yang berpihak padanya, diminta kembali untuk memimpin. Sang Putri menggeleng sambil mengenggengam tangan pangeran compang-camping dan berkata bahwa ia ingin hidup seperti jelata, ia ingin seperti manusia biasa. Sang Putri kehilangan kepercayaan, pengkhianatan adalah luka dalam yang sulit disembuhkan, apalagi oleh bangsanya sendiri. Ia bahkan sudah membuang pedangnya. Tetapi Sang pangeran tidak setuju dengan sikapnya. Ia menoleh padanya, melepaskan genggaman tangan Sang Putri sambil berkata “Aku masih menyimpan pedang itu, pedang yang kau buang. Asahlah kembali pedangmu, kau adalah pemimpin rakyatmu yang sadar bahwa pengkhianat itulah penyebab perpecahan kerajaanmu.” Tapi sang putri menggeleng dengan kencang dan berkata bahwa ia tidak lagi mau hidup sebagai putri, ia mau hidup bersama Vincent, pangeran jelata. Pangeran jelata compang-camping itu menggeleng, kau tak pernah tahu bagaimana menjadi orang miskin dan penderitaan bukan seperti caramu bertempur dalam perang, kau akan menjadi sangat tidak berdaya. Ia berkata lagi bahwa kebangsawanan tidak membuatnya hidup lebih baik. Ia sudah tidak punya keinginan, ia ingin putri pergi kembali dengan kepala tegak memimpin perjuangan.

Pelan-pelan Vincent, pangeran jelata itu melangkah mundur, sambil memberikan pedang itu kepada Sang Putri. Ia pergi hanya dengan menoleh sekali. Ia benar-benar pergi dan Sang Putri kembali menahan tangis. Luka dihatinya tak seluka pengkhianatan yang terjadi di dalam kerajaannya. Ini luka ketiga yang lebih dalam lagi. Ia menjerit panjang, yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Jeritannya terdengar sampai membelah gua. Ia terduduk dan menghempaskan dirinya ke tanah. Pengawal-pengawal masih berdiri di dekatnya dan menepuk lembut punggung putri itu sambil berkata, “Tuan Putri, asah pedangmu, kau harus kembali memimpin perjuangan, demi rakyatmu, demi ayahmu. Kau harus kembali.” Sang putri berjalan lesu dan kakinya masih pincang, ia mengasah pedangnya tanpa semangat, ia mengasahnya pelan-pelan. Ia mengasahnya, dan kemudian menghunuskan pedang itu ke dadanya.

Cerita panjang itu memang seperti keadaan kami. Vincent dan Maria. Dua nama suci yang terjebak pada cinta kelabu. Vincent pergi dalam tangisan dan pelukan erat yang panjang. Perpisahan yang tidak pernah kami inginkan.

Kau tahu, Vincent, aku ingin kembali ke danau itu tetapi kau tahu semua sudah rata dengan tanah, dibangun oleh super-super gedung tempat orang mendulang uang. Vincent sudah menghilang dibalik kabut, aku tak melihatnya lagi. Aku kehilangan tempat sunyiku dan lelaki itu tak mengembalikanku hidup dalam keadaan semula, berenang dalam gelap. Ia menyisakan perangkap-perangkap hidup dimana rindu menjalin tali kematianku dalam sebuah penantian yang takkan pernah mengembalikanmu padaku. Lelaki itu berkata, biarkan gadisku terbang bebas seperti semula, tanpa siapapun disampingnya seperti semula, gadis pintar, berani, yang penuh imaji, yang bisa menentukan kemana arah kebebasannya, mencapai keinginan-keinginannya. Tetapi lelaki itu lupa, burung itu kini tak bersayap. Sebab sayap-sayapku telah kau gantikan dengan cinta, kau ambil keduanya sehingga tak ada lagi di lenganku. Kau lupa bahwa sayap-sayap itu telah kuberikan seluruhnya untukmu saat kita terbang bersama. Kau lupa bahwa tanpamu adalah aku, seekor burung tanpa sayap yang tak akan pernah bisa terbang kemanapun kusuka.

Maria tidak pernah menyukai lelaki manapun kecuali Vincent, lelaki di danau itu. Hanya dengan duduknya yang diam aku terpanggil. Aku keluar dari danau dan menghampirimu seolah kau menarik benang dari hatiku. Aku tak pernah menyukai apapun kecuali diriku sendiri dan sayap yang kupunya, tetapi lelaki yang duduk di pinggir danau itu mematahkan sayapku dan pergi selamanya. Ia takkan pernah kembali padaku karena dunia tidak seindah danau gelap itu.  

Kembalikan sayap-sayapku, Vincent! Kau boleh bilang kemiskinan menjadi hantu yang mengikutimu setiap malam tetapi bagaimana dengan aku, tanpa sayap itu sama saja kau membunuhku. Samar-samar suara Vincent turun dari langit, Maria, kau tidak pernah tahu keadaanku. Aku punya ibu yang lumpuh, saudara yang gila, dengan anak-anak yang kelaparan, kau jauh lebih merdeka dibandingkan keadaanku. Aku harus mengurus mereka semua, sementara kau hanya mengurus dirimu sendiri.

Vincent, kau tidak adil, seharusnya kau tak duduk di danau itu. Penantian panjang ini membuat hidupku sia-sia, penantian tak berakhir, dan tak tergantikan. Aku hidup dalam perangkap, dan aku tak bisa terbang tanpa sayap. Vincent, mengapa kau rebut kembali cinta yang sudah kita tanamkan, dan kini aku tak tahu kepada siapa aku harus memberikan cinta ini. Seharusnya kau kembalikan cinta ini untuk diriku sendiri saja. Bila hidup yang kelabu adalah sang pemilik cinta, sungguh aku menyesal mengapa aku mencicipinya dengan hasrat dan kebahagiaan. Aku menyesal bahwa cinta adalah tipuan, muslihat, bius yang berbahaya dan aku tak siap untuk kehilangan.

Vincent, sayapku sudah tak ada lagi, mengapa tak kau bunuh saja burung tanpa sayap ini sehingga ia tak perlu menjalani hidup lagi. Mengapa tak kau selesaikan saja gadismu ini dengan kematian yang sesungguhnya. Seharusnya kau biarkan saja tubuhku menyelam di danau itu dan tak melihatmu duduk bersandar pohon memandangku. Seharusnya kau biarkan aku mencintai sunyi dan diriku sendiri, seharusnya kau tidak ada dalam hidupku. Seharusnya kau peluk saja kenyataanmu itu dan jangan pernah menyentuhku. Aku luka, luka yang tak pernah kurasakan sepanjang hidup. Aku tak pernah mencintai siapapun sebelumnya, hidupku hanya bertempur dan berlaga. Aku tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Aku hidup senang ketika tidak mengenal cinta, aku hidup bahagia saat banyak lelaki mendekatiku tapi aku tak merasakan apa-apa kecuali permainan demi permainan membunuh kesunyian. Aku tak pernah kehilangan mereka. Aku menertawakan mereka. Semua lelaki tampan dan gagah datang satu persatu meminta cintaku tetapi aku tak pernah bisa memberikannya untuk mereka. Aku memegang teguh sayap-sayapku dan tak seorangpun bisa mengambilnya. Saat mereka pergi atau aku yang pergi, tak ada luka sama sekali, mereka hanya bayangan-bayangan kosong.

Tapi lelaki di danau itu, kau satu-satunya yang bisa membuatku hidup sekaligus mati dalam keadaan sesungguhnya. Kau adalah orang paling kejam yang pernah aku temukan sekaligus orang yang paling aku cintai. Kau adalah iblis, yang menukarkan cinta dengan kemiskinan dan mematahkan sayap-sayap kemerdekaanku. Aku membencinya sekaligus merindukannya. Aku tersiksa oleh kombinasi itu.

Tambun, 31 Agustus 2014