Rabu, 30 April 2014

Manusia Setengah Tiang


Oleh: Mariana Amiruddin

Ketika usiaku 9 tahun, ayah dimarahi orang kampung karena perbuatanku. Di bulan Agustus, hari kemerdekaan negaraku waktu itu, aku bermain sendiri di halaman. Kulihat bendera berkibar di tiang. Aku tergiur memainkan bendera itu, menaikkan dan menurunkannya. Aku senyum sendiri. Tak lama ibu memanggil-manggil, aku segera mengerek bendera ke puncak tiang. Tetapi tak berhasil, tali pengerek macet, sulit ditarik. Aku kesal. Akhirnya kubiarkan bendera berkibar setengah tiang.

Sore tiba, ayah diteriaki orang sekampung. Kulihat air muka ayah membeku. Banyak orang berkerumun dan menunjuk-nunjuk bendera. Sepertinya mereka marah, dan aku takut. Aku sembunyi di belakang punggung ayah, kudekap pinggangnya. Ia membalas memelukku. Sepertinya mereka mau membunuh ayah. Tapi aku tak mengerti, apa salah ayahku dengan bendera itu. Bibirnya kelihatan bergetar, ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tak sempurna. Orang-orang terlihat semakin marah, mereka berteriak dan memaksa masuk rumahku. Aku histeris, sementara ibuku hanya menatap kami dari balik pintu, matanya takut seperti mataku.

Mengapa mereka memarahi ayahku? Kulihat bendera itu. Itukah penyebabnya? Aku menangis. Aku menggeliat keras melepas pelukan ayah, berlari kencang ke tiang bendera. "Apa masalahnya? Inikah masalahnya?" tangisku. Kutarik tali kerek sekuat tenaga, bendera berhasil mencapai puncak. Sekejap orang-orang marah itu terdiam. Seolah bendera itu adalah tuhan dan aku malaikatnya. Kutatap mata mereka satu persatu. Air mataku juga jatuh satu persatu. Aku tak mengerti apa yang diinginkan orang dewasa. Itu hanya bendera, lalu orang-orang itu menyebut ayahku adalah pegawai negara. Jadi mengapa orang-orang itu marah. Mereka yang kebanyakan laki-laki dewasa itu bubaran dan menasihatkan sesuatu pada ayahku sambil menyebut-nyebut namaku.

Ayah mengajakku masuk ke dalam rumah. Aku mengendus. Ayah kemudian menarik lenganku dan aku duduk di pangkuannya. Ayah membisikkan sesuatu padaku. Katanya pada hari kemerdekaan bendera tidak boleh dikibarkan setengah tiang. Itu tanda berkabung, memperingati kematian. Waktu itu aku tidak tertarik dengan nasihat 'tidak boleh' ayahku. Aku hanya tertarik bahwa kematian begitu ditakuti sekaligus dihormati. Aku kecup ayahku, aku berlompatan menuju kamar tidur sambil mengingat-ingat pengetahuan yang baru aku dapatkan hari itu. Simbol-simbol negara, kemerdekaan dan kematian.

Sejak itu aku tertarik pada pikiran orang dewasa. Diam-diam kubuka berkas-berkas ayah setiap malam, berharap menemukan sesuatu. Ayahku ternyata menulis catatan harian. Di dalamnya ada tentang ibu dan aku. Aku tertumbuk pada halaman itu. Mereka sering menyangka keluarga kami keturunan Cina. Istriku kebetulan berkulit putih dan bermata sipit. Kasihan istriku, ia sering dilempari batu setiap pulang dari pasar. Dan anakku... gara-gara bendera itu dia menjadi gusar. Aku lihat matanya berkilat mencoba melawan orang-orang itu.

Aku tak mengerti, mengapa ayah menulis soal ibu yang bermata sipit. Aku menatap foto ibuku di meja kerja ayah. Betul, matanya sipit. Lalu aku berjalan menuju cermin. Mataku juga sipit. Mirip ibu. Kulitku juga putih, mirip ibu. Aku nyalakan lampu ruang kerja ayahku, penasaran dengan tubuhku sendiri. Betul, sipit dan putih. Pantas kawan-kawan di sekolah sering mengejekku si amoy. Ya, aku tahu itu julukan boneka kawan si unyil yang bermata sipit dan berkulit putih. Aku mengerti sekarang. Kutatap lagi mataku. Seperti mata ibu, tapi caraku menatap persis ayah. Mata ayah yang tajam dan perih. Mata yang memancar dari dalam dada.

Kulongok kembali buku harian ayah, ia menulis kata yang tak kukenal. Kata mereka orang Cina tak kenal agama. Atheis, penyembah berhala, menolak dan melawan Tuhan. Kadang dicurigai komunis. Seperti kami, kata mereka, kami orang Cina yang pura-pura jadi abdi negara. Itu sebabnya mereka marah ketika bendera kami hanya setengah tiang. Aku menutup catatan harian ayahku ketika terdengar langkah dari jauh. Seperti langkah ayah. Aku terburu-buru keluar, kututup pintu kamar kerja ayah perlahan. Aku ragu itu suara ayah. Suara gemeresak kembali terdengar dari halaman belakang. Sekelibat terlihat burung malam pergi meninggalkan sarang. Aku bernafas lega. Aku menuju kamar, melamunkan catatan harian ayah.

Cina. Kataku dalam hati. Aku ingat kawan-kawan di sekolah memanggilku singkek. Aku tak tahu ejaan betulnya, tetapi mereka sering memanggil begitu dengan wajah dengki. Aku tanya teman sebangku bernama Herito, anak keturunan Jepang yang matanya juga sipit. Dia bilang itu julukan untuk orang Cina yang pelit. Aku murung mendengarnya. Aku tak mengerti. Suatu hari sepulang sekolah aku mendatangi ibu sambil menangis tersedu. Ibu mengusap air mataku. Seragamku kotor. Tampak peluh membasahi wajah dan pakaianku. Hari itu, ban sepedaku dikempesi entah oleh siapa. Aku sempat memergoki anak-anak berseragam sekolah mengerubungi sepedaku kemudian mereka pergi sambil tertawa-tawa. Aku berjalan kaki mendorong sepedaku, matahari tepat di atas kepalaku. Rambutku memerah seperti rambut jagung. Bocah Cino Londo, begitu orang mengomentari aku.

Herito datang melintas dengan sepedanya. Ia menawarkan tumpangan kepadaku. Aku gembira. Sepeda kutinggalkan di tukang ban. Tetapi dalam perjalanan, gerombolan anak lelaki berdatangan dari belakang, melempariku dengan batu. Beberapa batu kecil tajam membesat lengan dan kepalaku. Sebagian lagi menerjang mataku. Aku doyong dan jatuh, kulitku bersinggungan aspal. Kulit putihku kini bergores dengan bercak merah. Aku meringis, kemudian menangis. Herito geram dan berupaya lari mengejar anak-anak itu. Aku meringis sepanjang jalan. Herito mengantarku sampai rumah. Ia tak seperti anak kecil. Aku suka dia. Ibu lalu membasuh lukaku dengan air hangat. Aku melihat matanya yang lembut dan berkabut.

Malam itu aku semakin memahami catatan harian ayah. Aku tertidur dan bermimpi ayah membelikanku seekor anjing. Aku gembira sekali. Tetapi orang kampung lagi-lagi berdatangan mengeroyok anjingku sampai mati. Aku terbangun dan bulir keringatku menetes ke lengan ayah. Ayah-ibu sudah di sampingku rupanya. Mereka memelukku bergantian dan aku menangis. "Ayah, apa salahku pada orang-orang itu?"
Ibu merunduk dan ayah mengecupku perlahan, "Karena kulitmu putih dan matamu sipit, sayang."

Ayah-ibuku pergi dari kehidupan. Kini segala kehidupanku ditanggung paman. Aku perempuan dewasa yang tinggal sendiri di kota. Hari-hariku sendiri, aku sangat terbiasa dengan sendiri. Banyak tetangga memanggilku Encik sambil terus memuji kulitku. Tapi aku tak bangga, karena kulitku hanya menyimpan luka. Dan tatapan tajamku yang perih pada mereka. Suatu hari di bulan Mei, aku mahasiswi yang baru saja tiba di kampus. Suasana jalan hari itu lengang tak seperti biasanya. Aku kemudian dikejutkan oleh asap yang mengepul dari balik bangunan pertokoan, dan segerombol orang berduyun berdatangan dari kejauhan. Wajah-wajah asing, aku tak kenal mereka, tak seperti biasanya. Aku melihat satu di antara mereka melempari bangunan pertokoan itu dan sekejap terbakar.

Kakiku gemetar, mungkin wajahku pucat. Aku berniat pulang melihat gejala aneh itu. Aku berjalan kaki, melangkah cepat sekali. Aku menunggu bus tetapi tak satupun lewat. Tampak beberapa orang lalu-lalang seperti ingin menyelamatkan diri. Aku tak mengerti mengapa kini banyak asap mengepul mengganggu nafasku dan dentuman terdengar di mana-mana. Aku berlari sambil menutup hidung, tanpa tujuan. Masuk ke gang-gang, perumahan, dan ternyata munculnya kembali di ujung jalan bangunan pertokoan.

Aku terjebak lagi pada kerumunan orang yang kini lebih banyak jumlahnya, membawa kayu dan rotan, seperti kerumunan semut besar yang mencari makanan. Aku berlari ke ujung jalan lain, tetapi di sana juga sudah banyak orang berkerumun. Wajah mereka marah, seperti orang-orang yang marah pada ayahku dulu. Aku tak bisa berpikir, tubuhku beku tak kuasa melangkahkan kaki. Aku limbung, tak terkendali dan berpegangan tembok jalanan. Mataku terpejam, pikiranku menerawang. Aku lihat wajah ibu, kemudian ayah. Kupanggil mereka. Batu-batu berhamburan di atas kepalaku, beberapa mengenai tubuhku. Tapi tak terasa sakit. Aku merasa ada yang datang menjemputku. Terdengar suara lantang seorang lelaki seperti membuat komando pada yang lain. CINA! CINA! BAKAR!

Tubuhku panas, aku tahu api kini menjilati tubuhku. Aku tahu kulit putihku mengelupas seperti plastik yang terbakar. Aku tahu mata sipitku terpejam dan takkan pernah lagi kubelalakkan. Tubuhku meleleh. Bermil-mil membentuk gurun. Lekuknya sampai ke nirwana. Lekuk yang menenteramkan hati. Gurun di mana Tuhan menyapaku dengan hati; dunia sudah lama mati, kau tak perlu kecil hati, kulit di tubuhmu takkan membuatmu luka lagi. Tidurlah, mimpi selamanya. Temui ayah-ibumu di sana.



Dimuat di Republika  08/14/2005