Rabu, 18 Desember 2013

Saya,Tionghoa dan Ratu Kalinyamat



Oleh: Mariana Amiruddin

Terlalu sering saya bermimpi tentang Ratu Kalinyamat, dan kini saatnya saya segera mencari literaturnya. Saya menemukan paper yang ditulis oleh Chusnul Hayati Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang tentang kisah Ratu Kalinyamat. Ratu yang menjadi legenda terutama sebagai "pertapa yang telanjang" di tengah situasi politik perebutan tahta yang penuh kekerasan, ia sekaligus menjadi penguasa Jepara selama 30 tahun. Kisahnya tercatat dalam kesusastraan Jawa. Kalinyamat adalah perempuan yang berkepribadian "gagah berani" seperti yang dilukiskan sumber Portugal The Manish Sisodia sebagai "Kranige Dame" yaitu seorang perempuan yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai "Rainha de Japara, senhora paderosa erica" yang berarti Ratu Jepara, seorang perempuan kaya dan sangat berkuasa. Di samping itu, selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).  

Ratu Kalinyamat adalah tokoh perempuan yang perannya berpengaruh pada abad ke-16, terutama ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia adalah tokoh sentral yang menentukan dalam pengambilan keputusan dan memiliki karakter yang kuat dalam memegang kepemimpinan. Tetapi seperti kisah-kisah lain di Indonesia, posisi strategis Kalinyamat tak lepas dari klan (dinasti politik). Ia adalah putri Sultan Trenggana, Raja Demak ke tiga. Sultan Trenggana adalah putra Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Namun pada masa itu 'klan' bukan merepresentasikan tindakan nepotisme, melainkan masa dimana rakyat masih mempercayai sistem yang dikelola oleh kerajaan/kesultanan.

Ratu Kalinyamat adalah cucu Raden Patah, dan keluarga Raden Patah memiliki hubungan saudara yang erat dengan kesultanan Banten. Kesultanan Banten sebagian memiliki darah Demak dari Raden Patah. Saya jadi teringat kembali silsilah keuarga dari Ibu saya, Ratu Rusniyati, sebagai keturunan kesekian dari kesultanan Banten, yang ternyata terhubung dengan sejarah ini. Selain itu, Raden Patah adalah peranakan Tionghoa. Ibunya adalah selir berdarah Tionghoa dari Brawijaya. Nama asli Raden Patah adalah Jin Bun (bahasa Tionghoa), yang artinya kuat. Lalu diganti menjadi Fatah (bahasa Arab) dengan arti yang sama.

Darah Tionghoa adalah darah Nusantara sejak abad 16, dan saya menyadari itu ketika melihat kulit dan mata sipit saya sendiri. Dan Kalinyamat, sangat menarik untuk digali sejarahnya. Sejarah perempuan Indonesia sudah jaya sejak dulu, mereka bisa berpolitik, berkuasa, memegang tahta. Entah mengapa bangsa ini sekarang takut dengan kejayaan perempuan, yang sebenarnya adalah bagian dari kejayaan bangsa ini.

TIM, 18 Desember 2013