Sabtu, 21 Desember 2013

Hari Ibu di Indonesia Bukan Mothers Day!

Oleh Mariana Amiruddin

 Tulisan ini saya awali dengan mengutip sebagian pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial tentang Hari Ibu sebagai hari perjuangan perempuan Indonesia, yang menurut saya sangat penting. Terutama karena Kementerian Sosial adalah institusi negara, yang kemudian diikuti oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Luar Negeri. Saya menganggap “mengingat sejarah” gerakan perempuan Indonesia sebagai peringatan Hari Ibu sangat penting untuk dikenalkan dan diingatkan berulang-ulang setiap tanggal 22 Desember 2013.

 
Pergeseran Hari Ibu di Indonesia dari Makna “Perjuangan Perempuan”   

Mitos soal cinta kasih "Ibu" atau "mother" seolah tanpa masalah. Tidak sedikit Ibu di Indonesia mengalami depresi karena hak-haknya tidak terpenuhi, tergantung pada suami, ditelantarkan,  mengasuh dan merawat anak-anak dibebankan pada dirinya, serta ancaman kematian akibat melahirkan, juga tidak adanya fasilitas negara untuk membantu pekerjaan rumah tangga Ibu. Beban menjadi Ibu tertutup oleh mitos bahwa Ibu adalah pencapaian perempuan yang sempurna dan pengorbanan ibu di utus sebagai bentuk cinta kasih yg hakiki. Akibatnya kita abai bicarakan hak-hak Ibu.  

Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, surprise party bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari. Tidak ada yang salah dengan pengungkapan itu. Tetapi, jika merunut sejarah terjadinya Hari Ibu di Indonesia, sebenarnya bukan itu misi sejatinya. Misi sejati peringatan Hari Ibu adalah mengenang perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan pembangunan bangsa.Tahun 1959, Presiden Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Tanggal 22 Desember dipilih untuk mengenang diselenggarakannya Kongres Perempuan pertama, 31 tahun sebelumnya, yakni tahun 1928 di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto, Yogyakarta.Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia.

Pada tanggal tersebut para pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya.

Para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan berbagai upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. Dari paparan tersebut tercermin, misi diperingatinya Hari Ibu lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Pemikiran mereka tersebut terjadi jauh sebelum kemerdekaan negeri ini diraih. Kata "ibu"Yang barangkali telah merancukan pemaknaan Hari Ibu adalah digunakannya kata "ibu", dan bukan "perempuan".

Masalahnya, jika ditilik dari apa yang dilakukan para pejuang saat itu, titik sentral yang digarap adalah kaum perempuan secara umum, bukan sebatas kaum ibu. Jadi, menilik sejarahnya, mestinya bukan the state of being mother-nya yang diapresiasi, tetapi keperempuanan dan semangat juang mereka. Penggunaan kata ibu ini tampaknya telah membuat pemaknaan Hari Ibu terseret ke arah pemaknaan Mothers Day, yang lebih ditujukan untuk memberi puja-puji terhadap ke-ibu-an (motherhood) dan perannya sebagai "yang telah melahirkan dan menyusui", sebagai pengasuh anak, sumber kasih sayang, pemandu urusan domestik, dan pendamping suami.

Hal-hal inilah yang menjadi titik sentral peringatan Mothers Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno.Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mothers Day jatuh pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mothers Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

***
Seperti terjadi di Indonesia, makna Hari Ibu mengalami pendangkalan akibat ideologi  “State Ibuism” yang ditanamkan Orde Baru. Mengutip tulisan Maria Hartiningsih di Harian Kompas berjudul Ideologi: Kembalinya "Ibuisme Negara"  (State Ibuism) adalah suatu ideologi yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dengan menekankan fungsi reproduksi dan ”kodrat perempuan” untuk melayani, mengabdi, dengan menjadi ”istri yang patuh”. Ideologi itu dibahas panjang lebar oleh Julia Suryakusuma dalam konsep ”ibuisme negara”. Konsep yang mencakup unsur-unsur ekonomi, politik, dan budaya itu diambil dari aspek paling menindas dari budaya ”peng-istrian” atau housewifization borjuis dan ibuisme priyayi.

Pemerintah Orde Baru menciptakan pelembagaan ”istri” melalui berbagai kebijakannya, di antaranya melalui Panca Dharma Wanita yang dipromosikan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) sampai ke tingkat akar rumput. Menurut ideologi yang disebarkan awal tahun 1970-an dan dikukuhkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) itu, perempuan mempunyai lima fungsi, yaitu sebagai penerus keturunan dan pembina generasi masa depan bangsa; sebagai ibu dan pendidik anak-anaknya; sebagai pengelola rumah tangga dan pekerja untuk menambah penghasilan keluarga; serta sebagai anggota masyarakat.
Ideologi itu tak bisa dilepaskan dari peristiwa 1965 terkait tuduhan kepada Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), organisasi yang pada masanya sangat progresif memperjuangkan cita-cita kesetaraan. Namun, kedekatan salah satu sayapnya dengan Partai Komunis Indonesia membuat Gerwani dikutuk sebagai organisasi perempuan ”tak bermoral” dan ”ibu jahat” melalui berita-berita rekaan terkait pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya.

Sifat itu bertentangan dengan semua nilai perempuan yang ”semestinya”; yang lemah lembut, penurut, patuh, sopan, penuh kasih sayang, setia. Pemerintah Orde Baru lalu menciptakan mitos-mitos yang dibangun di atas metafora seksual dalam setiap kampanye indoktrinasi sehingga tertanam dalam di benak masyarakat (Wieringa, 1999).

Hari Ibu yang dimaknai sebagai Mothers Day menguatkan konsep ”ibuisme negara” ditambah lagi dengan komersialisasi dan bisnis media lebih ke arah hari makan-makan atau pemberian kado bagi para ibu.  http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=943

Mengungkap Sejarah Hari Ibu

Sejarah hari Ibu di Indonesia adalah untuk memperingati perjuangan nasib perempuan di Indonesia. Seperti yang diungkap oleh Suratmi Iman Sudijat sebagai saksi sejarah, dalam http://www.youtube.com/watch?v=rw7sy1elCJM.

Pada waktu zaman penjajahan Belanda, perempuan di mata masyarakat masih dipandang rendah daripada laki-laki.  Pada waktu itu tidak semua orang menyekolahkan anak perempuannya, selalu yang didahulukan anak laki-laki. Hari Ibu di Indonesia adalah untuk memperingati gerakan perempuan di Indonesia yaitu digelarnya Kongres Perempuan Indonesia I yang diprakarsai oleh tiga orang yaitu: Ibu Soekonto dari Wanita Utomo, Nyi Hajar Dewantoro, dari Wanita Taman Siswa, dan Ibu Soejatin dari Putri Indonesia. Namun, penyelenggaranya adalah 7 organisasi perempuan yang diadakan tanggal 22 -25 Desember 1928, dan terdapat 30 organisasi perempuan yang hadir dari seluruh Jawa, Madura, Sumatra.

Kongresn tersebut diadakan di Dalem Jayadipuran, Jogjakarta sebuah rumah luas dan besar, rumah Kanjeng Joyodiporo dan dia adalah abdi dalem keraton. Mereka bolak-balik berkumpul mencari jalan keluar bagiamana caranya mengubah pandangan masyarakat supaya masyarakat menghormati kaum perempuan sebagaimana menghormati kaum laki-laki. Jalan keluarnya adalah mereka mengadakan kegiatan-kegiatan untuk meyakinkan masyarakat bahwa  perempuan bisa setara dengan laki-laki. Dan kegiatan itu akan diadakan pada hari tertentu, dan hari tertentu itu akan diberi nama Hari Ibu. Dalam Kongres III, istri Indonesia mengusulkan adanya Hari Ibu, oleh Istri Indonesia yaitu Ibu Sunaryo Mangun Puspito. Kongres Perempuan Indonesia yang ketiga menerima seluruhnya usul tersebut, lalu muncul pertanyaan : “hari apakah yang bisa kita jadikan hari Ibu?” Kemudian kongres ini menetapkan ketentuan dan persyaratan hari apa yang dipakai. Ketentuan persayaratan peringatan hari Ibu adalah:

1.  Sebagai hari yang bersejarah.
2. Sebagai hari yang  berarti bagi bangsa Indonesia.
3. Hari yang netral yang tidak memihak pada salah satu aliran atau golongan anggota kongres.

Dengan persyaratan tersebut maka sejarah Kongres Hari Perempuan Indonesia Pertama ditetapkan sebagai Hari Ibu, dan mereka menemukan dalam arsip kongres tersebut jatuh pada tanggal 22 Desember dan berakhir tanggal 25 Desember tahun 1928 di Jogjakarta. Maka disepakati Hari Ibu diperingati tanggal 22 Desember.  Kongres kemudian setuju.

Jadi Hari Ibu diputuskan pada tahun 1938 yang mengambil dari hari bersejarah Kongres Permepuan Indonesia I Pertama tahun 1928, dan dipilih sebagai tanggal hari Ibu.  Presiden Soekarno lalu menetapkan Hari Ibu sebagai hari besar nasional, yang sama nilainya dengan Hari Sumpah Pemuda, hari Pendidikan Nasional dsb.

Bila di negeri Belanda Hari Ibu disebut sebagai “Moederdag” sebenarnya lain dengan makna hari Ibu di Indonesia. Di Belanda Hari Ibu tidak ada latar perjuangan, sementara di Indonesia ada latar belakang perjuangan perempuan untuk mendapatkan kedudukan yang sama dengan laki-laki.

Dari paparan tersebut, tampak peringatan Hari Ibu 22 Desember di Indonesia saat ini sangat  tidak konsisten karena secara makna lebih cenderung mengarah ke worshiping motherhood.  Seharusnya mengembalikan hari penting itu kepada makna sejatinya, yakni mengenang perjuangan dan keterlibatan perempuan dalam usaha perbaikan nasib bangsa yang belum lepas dari berbagai kemalangan. Selamat Hari Ibu. Selamat berjuang kaum perempuan!


Tambun, 22 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar