Selasa, 05 Maret 2013

Terjebak di Tungkai Merapi

Bergerak pada hitam, mendung itu datang berarak menujuku dalam jarak dekat. Disitu kau tulis hitam ketika kutulis putih. Adakah tanda disitu? Titik-titik itulah tandanya, yang datang perlahan jatuh dari mendung. Di atas sana cerah tapi bukan tanpa pertanda. Aku diam di atas batu sebesar rumah, berbincang dengan air yang jatuh. Air besar menjulang indah. Jatuhnya membawaku pada airnya yang mengalir bening di atas kaki-kakiku. Merebah diatas batu dan berguling sampai ke air. AKu basah keseluruhan. Dimana bisa kutemukan benda-benda ini kalau bukan disini. Orang kota yang gelisah ditengah-tengah. Di sini aku diantara mereka, air dan batu. Air jatuh dan batu yang kokoh. Aku airnya dan batu tuannya. Aku batunya, dan tuan airnya. Bertahun-tahun lamanya hingga ia menjadi sungai, dan terus mengalir melintas sawah-sawah, terus ke bawah menuju pantai dan lautan.

Bertemu air setiap harinya. Pertemuan pertama, samudera dan hempasannya. Gelombang dan amukannya. Seperti aku disitu. Seperti dia aku. Akulah laut. Akulah hempasnya. Akulah gelombang. Akulah amarahnya, akulah kelembutannya. Pantailah pasangannya. Kugulung benda-benda diatasnya, kutenggelamkan ia di samping jurang di dasar laut. Tuan yang berserah, tuan yang datang diantaranya. Sudah kukatakan, akulah air yang tak kau tau apa maunya. Manusia bisa kumakan bila bermain diatasnya. Pantai selatan, laut tak berujung hanya bulat bumi yang kau pandang. Akulah bulatan itu dan segala lekak-lekuk biru legam ditengahnya. Itulah tubuh bumiku. Tubuh air selimut bumi, mencengkeram daratan. 

"Kami berdiri di depanmu. Langit sudah hitam. Angin kencang dari darat. Langit dan laut, dimana bedanya?Pasir ini kami pijak, masih gelap, dan kami berdiri diatasnya. Dimanakah yang lain?"

Ombak menggulung diam-diam datang. Tetapi tak lama kembali, kami mengejar hangat. Ombak berganti jadi genangan asin mengerangkeng, tak mampu beranjak. Sudahkah? Katamu. Belum juga, kataku. Siapakah kami?

Mar berjalan mundur, menjauhi laut. Mencari peradaban. Hanya sinar-sinar kecil dari bilik-bilik. Tuan sudah menanti. Mar terperanjat dalam mundurnya tuan sudah menanti di belakang, menangkapku dipinggir. Menangkap gelisahku yang tak menentu Tuan ini siapa. Siapakah Tuan ini? teriakku berbalik. 
Tuan yang pernah kau temui berpuluh tahun yang lalu. Ketika negeri ini mengaku telah melakukan revolusi. Adakah? Belum, jawab Tuan. "masih jauh." Mar menembus matanya. Ini sudah tahun keberapa. Memang tidak ada yang bisa 100 persen. Tuan mulai marah, dilemparnya pasir ke laut. Gelombang besar datang menuju kami yang berlarian menuju daratan. 

Pagi datang. Berangkat ke permukaan tertinggi. Pegunungan. Lagi bertemu air. Kaki-kaki bergetar, menapak satu demi satu tanah lembab dan pepohonan rimbun. Menggigil, Mar dan selembar baju di tubuhnya. Berhenti di tengah perut gunung. Dimanakah kita? Di atas, jauh dari peradaban, jawab tuan. Kami terus menanjak dengan nafas yang tinggal setengah. Haus, Mar meminum air hujan. Lapar, Mar menahan. Geriginya gemeretak. Sampai puncak terlihat gunung lain di seberang. Menjulang dan menantang. Tuan berkata, kita akan ke sana besok pagi. Baiklah, Mar menyambut. Tapi bagaimana dengan sekarang? Air terus menerus jatuh dari langit. Kabut datang. Kami harus turun segera sebelum gelap datang lagi. Dalam guyuran hujan, tertatih kami turun, langkah demi langkah, tanah demi tanah. Batu dan batu-batu kami injak tanpa alas. Mar pucat, tapi ini baru setengah nafas, Mar mau nafas yang penuh sesampainya di bawah. 

Sesampainya di bawah, berayunlah tuan dalam akar melintang dari atas pohon. Bicara soal gerpolek. Sebelum ia mati, gerpolek sudah dihancurkan. Berbahaya. "Beginilah cara berperang. Orang belakang layar akan turun di saat-saat terakhir." Perang di sini lain, bukan perang padang pasir. Perang gerilya diantara belantara. Orang penting akan datang diakhir-akhir, saat musuh sudah kehabisan akal. Logistik dan senjata sasaran pertama. Aku pernah mendengar itu Tuan, dan wajah Tuan diantara titik-titik air yang semakin besar, berayun bersama pikiranku yang datang benderang.

Air terakhir ada di ujung curam. Ini pertamakalinya mar menuju ngarai. Batu-batu besar, Tuan menggapai menangkapku dan melepasku di atasnya. Mar melompat dari batu ke batu. Kadang tersungkur, batu runcing, batu bulat, seperti tak licin, Mar tertipu. Air terjun sudah di ujung tebing. Airnya megah, semegah suaranya yang menguasai kami. Kamipun berteriak nyaris tak terdengar. Anggun dalam jatuhnya seperti mengejar kami dibawanya yang berbasahan, bahkan hanya karena cipratannya. Aku memilih batu yang dekat dan berbincang dengan air menjulang itu yang tampak keibuan. Mar tersenyum wajahnya cerah dan Tuan memperhatikan. "Terlalu lama Mar di kota", Mar jawab "satu hari dikota seperti padat, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Di sini, dalam dua hari saja, saya sudah menemukan banyak, tuan." Detik demi detik kami beranjak. Tak lupa melambaikan tangan tanda berpisah pada julangan air anggun "Selamat tinggal, aku akan kembali ke kota". 

Dalam jarak dekat keanggunan itu tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Ia berganti menjadi gulungan lumpur yang besarnya berkelipatan. Mar seperti semut kecil diantara buangan air seni manusia hampir terbawa arus bersama batu-batu besar diatasnya. Tapi kaki kecil Mar sudah siap melompat di batu yang lebih tinggi, berlari terus ke atas dan terus ke atas, memanjat batu menuju tebing, meninggalkan bandang besar yang sedang marah luar biasa.

"Maaaaaaaaar..." terdengar suara Tuan berteriak dari jauh. Ia dibalik batu besar satunya yang lebih tinggi. Mar mendaki mencari sumber suara. Tuan terlihat menuju ke arahnya, memijak, melompat dan menggapai Mar yang berlumpur. Kami terus meraih tebing dan berlindung di baliknya. Gulungan lumpur semakin besar, cipratannya membutakan mata kami. Pasir dan lumpur masuk ke celah-celah mata, kami tak bisa melihat apa-apa. Tuan memberanikan diri berlumpur-lumpur mencari jalan pulang mengharap masih ada bebatuan yang bisa dipijak, bebatuan yang tersisa dan tak terbawa arus. Mar berteriak keras, "Saya tak akan ikut Tuan sampai bandang ini berhenti". Tetapi kabut sudah menuju tebing tempat air terjun itu berganti lumpur dan kami terselip diantaranya. Yang artinya kami terperangkap. Kami akan mati dalam hitungan waktu. Udara begitu dingin, tubuh dihujani air bercampur lumpur terus menerus. 

"Ayolah Mar! Yakin saja!" Tuan meyakinkan Mar. Tapi Mar menggeleng "Harus ada perhitungan. Tak ada batu maka tak ada jalan pulang! Kita mati disini saja daripada kita mati karena terbawa arus! Paling tidak orang berhasil menemukan jasad kita disini!" Samar-samar wajah Tuan sedih bukan kepalang ketika Mar bilang mati. "Belum saatnya kita mati, Mar. Ayolah." mar masih keras, "Silakan Tuan pandang dari jauh, adakah sisa batu tempat kita meniti menuju pulang?" Tuan beranjak memanjat tebing lebih tinggi dengan kaki-kakinya yang terlihat kokoh, ia meninjau sungai lebih jauh dari atas, mencari sisa-sisa batu yang mungkin untuk ditapaki menuju pinggir ngarai. Mar bahkan tak melihatnya lagi, ia bersungkur saja dibalik tebing. 

Tak lama Tuan datang dengan wajahnya yang berlumpur ia berteriak "Ada Mar, ayo kita beranjak!"
Perhitungan itu meyakinkan Mar untuk menempuh jalan pulang diatas deritan lumpur bercampur batu.. Dalam keadaan itu kami mampu menapak sisa-sisa batu yang berjauhan. Kaki-kaki kami semakin terlatih. Sampailah kami. Kami telah sampai. Jauh dari lumpur bandang, berkejaran dengan kabut. Kami berhasil lebih cepat dari kabut di perut gunung. Terlihat puncak kawah gunung dari jauh. Mar menatap kepala gunung yang masih terlihat marah. Memang sudah tak ada lagi pepohonan disitu. Longsor bisa datang tiba-tiba. Tuan berbisik.. Bukan alam yang marah. Tapi manusia yang merusak.

Pantai Selatan, Kaliurang dan Merapi, Februari 2010