Selasa, 05 Maret 2013

Kabar dan Bencana

Kemana mereka? Mar kembali dan memilih tetap tinggal. Jarinya terus mengetik membuat baris-baris. Meski kemudian dihapusnya lagi. Tak ada ide. Ia terus mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu, lalu ke dapur lagi. Dinyalakannya rokok berbatang-batang, tak sampai habis sudah ia buang. “Kampret!” katanya sedikit berteriak. Nyaris ia banting gelas kopi di depannya. Segera ia beralih pada tumpukan koran disampingnya. “Parlemen baru dilantik..” Biaya milyaran.. Mar menelan ludah, sebagian ludahnya ia buang ke selokan. Mar menulis di halaman belakang. Perutnya lapar. Ruang makan, dapur, jemuran, taman. Ia terus mondar-mandir. Malam hingga siang. Dari terang hingga gelap. Siang oleh matahari, malam oleh lampu -- yang diatur Tuan Rick.. Efek bayang pada bunga. Semakin dekat cahaya lampu, bayangannya semakin bias. Bayangan ini yang membuat Mar terjaga. Kesan siaga di malam, bahwa ide harus terjaga. Memori terus diuji, pikiran harus dihentakkan, demikian pesan Tuan Tan saat Tuan Rick menancapkan tiang lampu itu ke tanah. 

Tapi ada efek buruknya. Mar terus terjaga hingga pagi, ia tak tahan matahari. Siang ia menggelar kasur … Keluar sebentar membeli rokok ke warung. Ia harus mempertahankan kaca mata hitamnya. Balik lagi, berusaha tidur. Dalam tidur ia tak sadar setiap menit tubuhnya terbolak-balik. Atau pindah tempat di atas sofa. Pikiran yang gelisah, terbawa mimpi. Mar sering tidur sambil berjalan ke arah taman, dan terbangun ketika tau ia telah menginjak kaktus di pojok taman.

Terdengar suara tokek-tokek bersahutan, di sini pohon-pohon masih banyak berlimpah ruah, menyebar hijau sampai ke lembah. Para tokek terdengar berkerubung, seperti sedang ikut membincang perginya Tuan Rick dan Tuan Tan. 

Mar kembali membaca koran-koran lama, mengikuti perkembangan dan ia berhenti pada satu judul yang hampir terpapar di setiap koran: “Agenda pertama parlemen: tidak bekerja dulu” Mar berdecak menggelengkan kepala, dan Ketua Majelis Rakyat terbaru, pria pengusaha kaya, badannya tak kalah besar dengan Tuan Presiden. Dan wakil-wakil dewan daerah yang berkelahi merebut kursi Majelis… Mar mengacak-acak rambutnya dan membuang koran-koran itu jauh-jauh. Ia memilih mencatat kuat-kuat di jarinya, “dimana kalian Tuan-Tuan?” Ia memijat-mijat ponselnya. Beberapa kawan menjawab mereka ke Banten dengan mobil Jip dan melanjutkan ke Kediri, di sana Tuan Tan berpisah dengan Tuan Rick. Tuan Tan pergi ke kampung halamannya di Sumatra Barat, memantau desanya di Lembah Siliki. Sementara Tuan Rick, berangkat ke Cina, menemui beberapa kolega di sana. Kabar-kabar terus berseliweran. Mar memutuskan untuk menyusul Tuan Tan terlebih dahulu, bersiap-siap merencanakan berangkat ke Payakumbuh, Sumatra Barat. Sebelumnya Mar berencana bertandang ke Padang, ada beberapa kawan yang meminta Mar untuk membahas buku yang baru saja diterbitkan oleh seorang mahasiswa sastra di Universitas setempat. Ada alasan untuk kemudian berangkat ke Payakumbuh. 

Satu hari sebelumnya Mar telah berkemas. Dengan ransel kecil hitam dan beberapa lembar baju, Mar hendak memesan tiket untuk besok. Tapi tidak dapat. Saat itu hari Lebaran, banyak orang berangkat ke kampung halaman. Mar menunda pergi, menunggu satu minggu setelah lebaran. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, kembali memandang lembah dari dalam rumah. Tak lama telepon genggamnya berbunyi, pesan dari Tuan Rick. “Akhirnya!” jeritnya lagi. Benar ternyata Tuan Rick singgah ke Cina, dan memberitahu esok lusa ia meneruskan perjalanannya ke Kamboja. Hatinya lega, dan karena pemilu sudah berakhir, kabinet juga belum terbentuk, razia-razia di jalan semakin berkurang. Tuan Rick melanjutkan pesannya, benar bahwa ia berpisah dengan Tuan Tan di Kediri. Mar bertanya kenapa tidak memberi kabar sebelumnya. Tuan Rick menjawab, mereka sengaja tidak mengaktifkan ponsel dulu ketika ke Banten dan Kediri. Mereka bertemu Tuan Poeze untuk perihal makam yang diduga jenazah Tuan Tan itu. Poeze tak tau ada Tuan Tan hidup di sebelahnya. Karena wajahnya sudah lain. 

Mar memberi kabar bahwa satu minggu setelah lebaran, tepat 29 September, ia sudah berencana sampai di tanah sumatra, mengejar Tuan Tan. Tuan Rick tak juga dapat kabar dari Tuan Tan, lalu mengucapkan selamat jalan.

Lebaran usai, Mar siap berangkat ke Sumatra Barat, beberapa kawan mahasiswa sudah ia hubungi. Ia juga menyiapkan catatan tentang Roehana Koedhus, ada seorang mahasiswa di sana yang bukunya membahas perjuangan Roehana Koedhus yang dikenal sebagai perempuan jurnalis pertama di Indonesia. Beberapa catatan yang ia garis bawahi adalah, perempuan, kalau tidak menjadi pemimpin, seharusnya menjadi yang pandai. Pernyataan seperti ini sudah sulit ditemukan masa kini. Perempuan pandai kini dianggap keluar dari kodratnya, cenderung dianggap negatif merusak norma masyarakat. Dalam catatannya Mar menyayangkan, cita-cita perempuan seperti Roehana di masa itu itu sejalan dengan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan bangsa ini adalah kemerdekaan atas nasib perempuan juga. Tapi kemerdekaan itu kini dikubur hidup-hidup. Rasanya sudah habis saat ini, selain menjadi pekerja-pekerja murahan dan tenaga kerja luar negeri yang disiksa dan banyak diantara mereka yang tak bisa pulang kembali. 

Hari keberangkatan pun tiba. Mar terbang malam hari ke Sumatra barat 29 September ke kota Padang. Beberapa mahasiswa menyiapkan penginapan murah. Penginapan bangunan zaman belanda yang sudah ditambahkan sana-sini. Harganya terjangkau. Mar telah sampai di hotel itu , istirahat sebentar. Esok pagi ia harus ke Universitas dan sore hari berangkat ke Payakumbuh. Meski malam hari, Tanah Sumatra terlihat mengagumkan, hutan-hutan dan hamparan sawah-sawah yang berkelok-kelok bertingkat-tingkat. 

Esoknya, 30 September. Mar terbangun. Wajahnya tertimpa matahari dari celah jendela penginapan. Begitu ribut suara pesan di ponselnya. Seorang kawan telah menyelesaikan film dokumenternya tentang temuan genosida di Indonesia. Genosida tersingkat, jutaan orang mati hanya dalam waktu 2 bulan di tahun 1965. Lebih kejam dari apa yang dilakukan Hitler. Mar meminta kawan tersebut untuk menyimpan satu film untuknya di Jakarta. Mar melangkahkan kakinya satu demi satu menuju kamar mandi. Sungguh lelah hari itu, seorang mahasiswa sudah siap mengantarnya ke kampus. Mar menggotong ranselnya. 

Ceramah selesai, Mar harus segera kembali ke penginapan, segera berkemas. Sore itu langit terlihat cerah. Masih ditemani mahasiswa, Mar kembali membawa ranselnya. Tak lama ia merasa tubuhnya terguncang hebat. Ternyata tak hanya tubuhnya, kursi-kursi di penginapan itu seperti terlempar-lempar. Tubuh Mar pun terlempar. Ia segera menangkap dinding, merayap bergerak menuju keluar. Lampu-lampu berayun seperti ayunan yang digoyangkan kencang oleh anak-anak dan akhirnya terlempar jauh pecah berkeping-keping, sebagian menancap di pelipisnya. Mar tersadar telah terjadi gempa bumi. Terlihat orang berlarian, berteriak, berdesakan menuju keluar. Mar terdesak diantara mereka, sambil menahan sakit di pelipis dan dadanya. Tak terasa ada yang membentur tubuhnya. Ia berhasil merangkak ke tempat terbuka. Langit juga seperti diguncang-guncang, Mar memilih tiarap sambil berjalan. Kerikil-kerikil dan rumput basah beradu di lengannya. Mar menengok ke belakang. Penginapan itu sudah runtuh. Mar tak melihat kemana mahasiswa yang tadi mengantarnya. Orang-orang dan benda-benda sudah berserak di sekelilingnya. Rangka-rangka besi bangunan berderit bertumpuk dan menggamit satu dengan lainnya. Teriakan orang sayup-sayup masih terdengar lalu menghilang dalam suara-suara runtuhan. 

***
Oktober 2009