Selasa, 05 Maret 2013

Hancurkan, Lalu Tanam Kembali

Meneteslah hujan berdenting jatuh ke tanah. 
Mar-X begitu sebutan Tuan, melangkahkan tapaknya di atas podium. Ia terlihat bermandi dua warna cahaya. Diangkatnya tinggi-tinggi selembar kertas. Tetes demi tetes hujan, melunturkan tintanya. 

Mar tak peduli.

Dilantangkannya suaranya. Memekik, dan terlihat urat lehernya. "Tuan-tuan dan puan-puan, ijinkan saya atas nama Ibu Pertiwi untuk bicara disini." Syahdan yang hening. Hanya terdengar orang menelan ludah. Mar yang tanpa kedip melapangkan pandangan ke massa. Mendesak dadanya untuk berjelas kata. 

Kepala-kepala manusia sampai terlihat di anak-anak tangga, merapat mendekat melesak sampai ke podium, tempat Mar melempar jerit. Podium telah disediakan di atas jalanan. Dipinggir sungai kering berbau tengik menghadap rumah-rumah bedeng, dan beberapa anak perempuan yang berak. Memasang telinganya menyimak pesan Ibu Pertiwi. 

Suara Mar yang bukan muncul dari balik dinding istana, atau graha bhakti budaya, atau pintu Mahkamah Konstitusi. Bukan pula dari televisi yang sibuk dengan luna maya dan cicak-buaya.

Suara mar seperti keluar dari corong sangkakala, berat dan parau. Ketir dan getir. Langit membuatnya terdengar bergaung. Dua cahaya meredup satu persatu, wajah Mar tinggal sepenggal. Matanya mengerdip, mengakhiri kalimatnya disambut dengan risau manusia-manusia kumuh kota. 

Pulanglah Mar, sebelum orang-orang itu akan memakan kau. Kata sang Tuan yang tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka. Mar tak mau pulang. Ia menenggak beberapa kaleng minuman, dan terus mengoceh serupa orang galau sambil melangkah turun dari podium. "biarkan saya sendiri Tuan, sudah banyak hal telah menghalau pandanganku tentang kemerdekaan. Dan Ibu pertiwi sudah tak sanggup lagi. Kecuali bila kita mengikuti orang-orang pagan ribuan tahun lalu. Hancurkan, baru tanam kembali."

Habislah Mar. Kau memang keras kepala. Pergilah sesukamu.

Tuan menelan ludah, sambil kemudian membalikkan badan.


Warung Irin Taman Ismail Marzuki, 22 Desember 2009