Jumat, 16 Juni 2017

Penulisan Feminin dan Maskulin: Daya Hidup, Seks, dan Narasi -- Kematian dalam Semangat Tubuh

(Bentara, Kompas, Rabu, 03 November 2004)

Mariana Amiruddin






APA lagi yang dapat kita temukan dalam karya penulisan? Setelah deretan pujangga mencoba menyihir manusia membuat kategori mana yang indah dan mana yang tidak, lahir kemudian penulisan menara gading versus pinggiran, seks versus moral, sastra-wangi versus sastra-bau (1). Lalu apa yang dapat kita nikmati dari penciptaan kategori?

BISA negatif: sesuatu yang merendahkan atau meninggikan. Bisa positif: sesuatu yang menjelaskan. Untuk sesuatu yang menjelaskan, saya akan turut serta menciptakan kategori penulisan feminin dan maskulin, ecriture feminine-masculine, yang wilayahnya adalah jender. Adakah yang lebih baik satu dengan lainnya? Tidak ada. Di sini saya akan membuat identifikasi bahwa setiap karya cipta tak dapat lepas dari identitas jender atau jenis kelamin. Berangkat dari penjelajahan hidup masing-masing, sebuah karya lahir tak lepas dari jenis kelamin pengarang, dengan sekian kekhasan dan beda.

Pemahaman vagina, misalnya, dari yang esensialis menjadi morfologis. Vagina jelas berbeda dengan penis. Fungsinya saja sangat berseberangan. Sigmund Freud lebih dulu mengidentifikasinya dengan sekian gagasan imajinasi (morfologi) yang kelewat ilmiah. Klitoris menurut dia penis kecil yang inferior dan kehilangan hasrat, sedangkan penis direpresentasikan sebagai pemilik hasrat yang paling utuh. Freud percaya hanya pria yang bisa masturbasi karena penis konkret dan kelihatan. Itu sebabnya prialah pemilik hasrat. (2) Ide Freud ini membuat saya ikut-ikutan (baca: mendapatkan inspirasi) mencapai imajinasi yang kelewat ilmiah: vagina merupakan organ seks perempuan yang kompleks dan hasrat tertingginya adalah multiorgasme meski tanpa klimaks. Strukturnya tak tunggal seperti penis, melainkan multiorgan. Penuh kemungkinan, memiliki tabungan kehidupan dan kematian dalam rahim. Vagina bukan semata-mata hasrat seks dan aktivitas masturbasi, melainkan penghadir kehidupan dan kematian. Berseberangan dengan Freud, identitas feminin adalah keutuhan hasrat yang mencakup kehidupan, seks, dan kematian. Itulah reproduksi feminin yang khas dan berbeda dari maskulin.

Kita adalah tubuh kita sendiri
Dari pembicaraan di atas, penulisan feminin dan maskulin adalah pembicaraan tentang hasrat (desire) kehidupan, seks, dan kematian. Ketiganya adalah kenikmatan (pleasure) atas tubuh. Tubuh, karena ia adalah materi hidup yang paling intim, terutama untuk keluar dari kegagalan pencarian akar kebudayaan. Tubuh adalah satu-satunya pencapaian sekaligus keintiman yang mudah diraih, yang selama ini cenderung dilupakan seperti gajah di pelupuk mata. Maka, ketika orang tanya apakah akar kebudayaan saya, tahukah asal-muasal sejarah kebudayaan saya, saya akan menjawabnya, "Kebudayaan saya adalah tubuh saya sendiri". Tubuh itu sendiri begitu dekat dengan jenis (alat) kelamin. Maka, penulisan feminin-maskulin adalah penggalian tentang tubuh kita. Tubuh di sini adalah keseluruhan: esensi, eksistensi, wacana, dan wahana yang bertumpuk dan bermesraan --peleburan cakrawala (3)-- dalam dunia penulisan. Tubuh perlu dilahirkan kembali sebagai wacana internal yang dibangkitkan menuju wacana eksternal manusia sebab kesadaran tentang tubuh sama pentingnya dengan kesadaran tentang hasrat (hidup, seks, dan kematian). Hasrat adalah cakrawala tubuh itu sendiri. Kurangnya pengetahuan atas tubuh membuat manusia tidak memiliki bekal mengatasi persoalan hidup, seks, dan kematian-nya. Perbincangan tentang tubuh dan hasrat dalam tulisan ini akan kita mulai dengan pemahaman penulisan feminin dan maskulin. Kedua tipe penulisan ini akan meluapkan ide tentang kematian, seks, kehidupan, dan menerangkan sesuatu yang berbasis perbedaan identitas jender.


Determinasi penulisan feminin-maskulin
Ecriture adalah kata atau konsep yang diambil dari bahasa Perancis tentang gagasan dunia penulisan. Istilah ecriture lahir dari Helene Cixous, tokoh sastra feminis Prancis yang biasa dikenal dengan ecriture feminine "penulisan feminin". Ide ini tidak menutup kemungkinan penulisan maskulin atau penulisan yang dibangun oleh pengalaman pria. Penulisan feminin adalah dunia penulisan yang diciptakan berdasarkan perbedaan seks yang di dalamnya terdapat ketiadabatasan, seperti mimpi. Perbedaan seks dapat menunjukkan determinasi penulisan yang berbasis jender dan memiliki potensi alternatif sekaligus jalan memahami dunia. Penulisan feminin memiliki potensi kemungkinan analisis bagi kedua jenis kelamin, meski perempuan akan lebih dekat dengan konsep ini daripada laki-laki. Penulisan feminin berpotensi menyatakan dan memformulasi struktur yang bahkan meliputi atau memasuki pengalaman lainnya(baca: pengalaman maskulin) (4). Penulisan feminin adalah ide yang berangkat dari tubuh, seperti advokasi Cixous yang menyuarakan women’s writing their bodies dan tidak menutup kemungkinan men’s writing their bodies. Penulisan feminin adalah representasi tubuh untuk mendapatkan kesadaran tentang kehidupan, seks, dan kematian (baca: ketiadabatasan-kebebasan-ke-berada-an). "Write! Writing is for you, you are for you; your body is yours, take it. I know why you haven’t written. (And why I didn’t write before the age of twenty-seven). Because writing is at once to high, too great for you, it’s reserved for the great --that is, for ’greatmen’andit’s’silly’."(5) Penulisan feminin kental dengan hasrat kematian sebagai kehidupan (kelahiran) atau kebangkitan. Sedangkan penulisan maskulin menjadikan kematian sebagai inspirasi kesudahan, the end of the world. Penulisan feminin mencari kehidupan di balik kematian karena investasi organ seksnya yang bernama rahim selalu mengandung semangat kehidupan. Perempuan meninggalkan kehidupan karena penindasan dan posisinya sebagai jenis kelamin kedua setelah pria (meminjam The Second Sex Simone de Beauvoir). Kematian bagi perempuan adalah kehidupan yang tiada batas. Sedangkan pada laki-laki, kematian adalah lari dari absurditas hidup yang bergelimang kuasa dan kedudukan, yang sesungguhnya sangat terbatas dan tak bebas. Penulisan maskulin tertarik pada kematian karena jenuh dengan kemenangan dan kekuasaannya yang ternyata kaku, membosankan, dan penuh aturan.(6)

Mereka yang mengais tubuh sendiri
"Tubuh adalah seismograf kebudayaan," demikian respons Ignas Kleden terhadap puisi Di bawah Kibaran Sarung Joko Pinurbo. Seperti pandangan tradisional yang kerap mengidentikkan tubuh dengan dosa, Ignas meluruskan stigma tubuh yang murung ini dengan representasi kebudayaan manusia, "...karena dia (tubuh) menyingkapkan dan mengingatkan kembali pentingnya badan dan hidup, dalam kebudayaan... memahami bahasa badan dengan lebih sensitif adalah jalan aman untuk memahami banyak perkara penting dalam kebudayaan dan masyarakat...."(7) Wacana tubuh pada penulisan feminin memang tampak lebih kompleks dan terbuka. Ia tidak hanya bicara bentuk-bentuk tubuh dalam melihat dunia, melainkan tubuh yang membawa proses-proses reproduksi, di antaranya menstruasi. Senapas dengan cerpen Menyusu Ayah Djenar Maesa Ayu dalam Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), Djenar membentang proses tubuh yang melahirkan manusia sebagai awal pertarungan hidup-mati Ibu dan anak perempuannya, Nayla. Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki. Sayalah yang membantu Ibu melahirkan, bukan dokter kandungan. Ketika Ibu kehabisan napas dan sudah tidak dapat lagi mengejan, saya menggigiti dinding vagina Ibu dengan gusi supaya jalan keluar bagi saya lebih mudah... saya menendang rahim Ibu dan mendorong badan saya keluar keras-keras. Dalam cerita ini Djenar mainkan imajinasinya, cerita baru tentang Electra Complex yang berangkat dari tubuh: tubuh anak yang terpisah dari tubuh Ibu, kerinduan pada tubuh Ibu, tetapi terlempar pada tubuh ayah: dokter kandungan memegang kedua kaki saya dan mengangkat saya hingga jungkir balik. Saya menangis keras. Saya ingin memeluk Ibu. Tapi dokter kandungan seperti tidak peduli. Ia malah menggunting tali pusar saya... saya berteriak memohon Ibu. Dokter menutup tubuh Ibu dengan kain putih... Terpisah dari Ibu... Saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Saya ingin membela Ibu.(8)

Obsesi kematian tubuh
Selain hidup dan seksualitas, tubuh juga melihat dunia lain. Seperti lubang, ia adalah ruang yang berisi imaji, bebas untuk mencipta apa pun. Sekalipun mengerikan, ia bahkan mengharukan. Ia seperti mimpi atau gudang bawah sadar kita: penuh misteri, berantakan, mengentak, seperti percik api yang melompat, tak terbayangkan. Dan, semua dimediasi tubuh. Joko Pinurbo mengejanya dalam Tamu, masih dalam kengerian dan ketakutan: tubuh yang sumpek dan temaram/tamu itu merapal doa sepanjang malam/doanya mencengkeram meremas-remas jantung/sampai darahku bergolak dan tubuhku tersentak:/"Aku takut mati!"

Berbeda dengan Bertengkar dengan Maut Hudan Hidayat dalam Keluarga Gerilya, ia malah menyambutnya dengan antusias bahwa kematian sebagai cita-cita dan kepuasan ditemukan melalui kesakitan tubuh sekalian penaklukan Tuhan. Aku siap di kamarku. Aku ingin membunuh diriku sendiri. Tanganku menggenggam pistol. Aku telah mengisinya dengan peluru. Jadi siap tembak. Tinggal mengokang dan menarik pelatuknya/...siapa yang berkuasa kini? Atau aku? Atau Tuhan? Aku tinggal menarik pelatuk, maka meledaklah kepalaku. Mungkinkah Tuhan dapat menahan ledakan itu? Tidak bisa. Jadi siapa yang berkuasa?

Berbeda pula dengan Sakratul Maut dan Bom Tommy F Awuy dalam Logika Falus, ia mencangkoknya dengan logika cerita: permainan situasi dan pikiran untuk menghentikan organisasi tubuh atas beban hidup yang dipanggul. Melalui tokoh Rio, Tommy memetik semangat kisah Romeo dan Juliet yang membuat peristiwa bunuh diri jadi agung, mengakhiri tubuh sendiri. Rio gelisah tak karuan. Keinginan untuk mengalami sakratul maut makin lama makin kencang menekan-nekan obsesi... aku ingin mencari bagaimana caranya mengalami sakratul maut dalam kondisi yang kita buat sendiri, menikmatinya biar sebentar saja lalu kembali ke alam sadar... Ayo Wisdom, tolong carikan jalan untukku. Aku tak sabar lagi.

Namun, Hudan membangun kematian tanpa latar depresi, trauma, ataupun beban, melainkan hasrat kematian yang penuh kenikmatan untuk mencapai penderitaan tubuh sekaligus mengakhiri kesakitan: Tanganku menarik besi hitam itu, perlahan-lahan. Aku ingin merasakan tahap-tahap kematian. Saat maut menjemput, kata orang, adalah saat-saat istimewa.

Luapan hasrat bunuh diri Hudan seperti antusiasme anak-anak mencicipi es krim rasa coklat-vanila dan stroberi sambil bercita-cita jadi insinyur. Pasti menarik melihat darahku mengucur. Darah yang seperti manusia berjalan, melebar, membasahi karpet dan lantai, akhirnya akan merembes ke luar. Pada saat itu, sudah matikah aku? Kalau belum mati, kacau jadinya. Cita-citaku untuk membunuh diri gagal. Padahal sudah lama kuangankan. Sejak SMP.

Obsesi bunuh diri Hudan bukan sebuah kegilaan yang ekstrem. Ia cuma mau menantang hidup dan menjawabnya dengan kematian, mengajak pengoperasian tubuhnya berhenti. Dirobeklah tubuhnya, tepatnya di bagian perut dan bergumam, aku tidak merasa sedih meninggalkan dunia ini. Mereka bukan milikku. Dan aku bukan milik mereka. Kami membutuhkan secara fungsional saja.

Bila Tommy mencapai kematian dengan keteraturan logika, Hudan mencapai kematian dengan bentuknya yang impulsif, melompat, tercerai-berai. Keduanya berangkat dari pengalaman kelelakian yang menoleh pada kematian. Kematian sebagai ruang yang lengang untuk berjingkrak dan berakrobat. Bahkan, Hudan menyandingkan keinginan untuk mati dengan hasrat untuk membunuh. Bayang-bayang pembunuhan memenuhi otakku. Pokoknya kau harus membunuh! Mencari orang lain tidak mungkin, mengapa tidak diri sendiri? Tanpa menimbang lagi, kugigit lidahku sampai putus.

Mereka dengan pengalaman tubuh lelaki menghasilkan penulisan maskulin untuk mengatasi (baca: melawan) kejenuhan, kekakuan, dan keteraturan melalui kematian. Mereka mengatasi kejenuhannya dengan rentetan kengerian dan permainan kematian, seperti figur Ayah yang lelah bekerja seharian di bawah tekanan struktur kantor, seperti tokoh Ayah dalam Menyusu Ayah Djenar Maesa Ayu yang berperan dominan, juga Joko Pinurbo dalam puisinya yang takut mati tapi ingin pula mencapainya.

A Man’s World adalah dunia laki-laki yang terkungkung. Dengan pembagian kerja yang melelahkan, pria harus selalu mencari nafkah sekalipun tak berbakat. Kelelahan ini tampak pada Keluarga Gila Hudan Hidayat yang membalik pembagian kerja suami istri dan bersama anaknya, tema pembunuhan kemudian menjadi puncak kenikmatannya: Ayah memasak di dapur. Ibu membaca surat kabar-kopinya masih mengepul. Kami saling membenci. Ribuan kali ayah mau membunuh ibu, tapi ibu berhasil lolos... tidak hanya ayah yang mau membunuh ibu. Ibu juga selalu mau membunuh ayah. Juga membunuhku.

Mereka yang jenuh dengan tubuh dan dengannya dunia maskulin tercipta, semuanya begitu transparan terlihat. Saya menyebut kehidupan maskulin sebagai kehidupan yang tunggal seperti penis: tegang, kaku, harus besar dan senantiasa perkasa, tidak intim atau berjarak dan terlalu mengagungkan rasio. Itu sebabnya penulisan maskulin nekat lari ke tepi jurang dan menjatuhkan diri mereka pada kebebasan: membuat ketidakberaturan, membiarkan cair, melompat (kiasme), dan sengaja menjadi tidak rasional. Kematian menjadi nikmat dibandingkan dengan kehidupan yang kaku.

Cerpen-cerpen Hudan dalam Keluarga Gerilya tidak pernah mau tunduk pada aturan, tatanan, selalu ingin keluar dari struktur bahkan dari pembaca. Ia tidak pernah mau jadi obyek pembaca, maunya selalu jadi subyek yang mempermainkan pembaca. Ia selalu keluar dari logika yang mau mengatur. Inilah perjuangan Hudan menjadi bebas (kebetulan menjadi seperti Jean- Paul Sartre), yang tak pernah rela dijadikan obyek: keluar dari predikat maskulin dan aturan peran jender yang dibuat masyarakat. Selain Hudan, mungkinkah mereka berani keluar dari sejarah yang bekerja menurut logika Logos Spermatikos?(9)

________________________________

1. Sastra wangi adalah sebutan untuk karya-karya sastra perempuan yang diciptakan oleh kalangan sastrawan, sedangkan sastra bau adalah ciptaan saya sendiri untuk memosisikan bahwa yang bukan karya perempuan berarti "sastra bau".
2. Baca pendapat Sigmund Freud tentang penis kecil dalam Juliet Mitchel, Psychoanalysis and Feminism (New York: Vintage Books a Division of Random Haouse, 1975) hal 46.
3. Istilah peleburan cakrawala diambil dari Paul Ricoeur dalam tulisan Bronwen Martin tentang Dictionary of Semiotics (New York: Cassel, 2001) hal 7. Peleburan cakrawala adalah konsep hermeneutika di mana penafsir memosisikan diri sebagai peneliti teks yang melebur masuk cakrawala teks yang ia teliti dan di dalamnya akan lahir wacana baru (memproduksi makna baru). Demikian pula dalam tubuh sebagai teks, maka tubuh bisa sebagai tubuh ataupun bukan semata tubuh itu sendiri.
4. Konsep penulisan feminin dapat pula diterapkan pada penulisan maskulin untuk menyatakan suatu hasrat: hidup, seks, dan narasi kematian seperti yang dikemukakan Helena Cixous dalam http://www.geocities.com/Paris/Metro/1022/female.htm tanggal 22 Februari 1998.
5. Baca pemikiran Helena Cixous yang lebih lengkap dalam esei sastranya The Laugh of the Medusa dalam Robyn R Warhol (Ed), Feminisms on Anthology of Literary Theory and Criticism (New Brunswick, New Jersey: Rutgers University Press, 1991) hal 334.
6. Esei Cixous ini sangat mengagumkan. Ia selalu bicara soal ketiadabatasan yang ia imajinasikan dalam kematian dan kehidupan. "Menyerang segala yang terstruktur" itulah misi Cixous yang dipengaruhi dekonstruksi Jacques Derrida dan Lacan, serta feminis Simone de Beauvoir. Baca Helena Cixous dalam Verena Andermatt Conley, Helena Cixous: Writing the Feminine, Expanded Edition (Lincoln and London: University of Nebraska Press, 1991), hal 9.
7. Lihat komentar Ignas Kleden dalam sampul belakang buku Joko Pinurbo, Di bawah Kibaran Sarung (Magelang: Yayasan Indonesiatera, 2001).
8. Pembahasan ini lebih lengkap di Jurnal Perempuan edisi 30, "Perempuan dan Seni Sastra", hal 89.

9. Istilah Logos Spermatikos sebetulnya senada dengan Phallosentris, ciri cara berpikir dan mencipta ala maskulin. Istilah ini saya pinjam dari epilog Rocky Gerung berjudul Thank God, It’s Feminism dalam buku Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2001)

Senin, 12 Juni 2017

Gagasan Merdeka Itu Lahir dari Pergerakan Politik Perempuan

Makalah diskusi di Soegeng Sarjadi School of Goveremnt, 4 September 2009



Mariana Amiruddin


Bila kita bicara soal nasionalisme dan kepemimpinan bangsa, sebetulnya tidak bisa dipisahkan dari sejarah kesadaran perempuan melawan feodalisme dan kolonialisme Belanda. Kesadaran pergerakan perempuan dalam mempertahankan kemerdekaan adalah sejarah politik bangsa ini juga. Dalam kesadaran tersebut terdapat kepemimpinan yang dapat kita temukan, seperti adanya kongres, adanya organisasi perempuan, adanya agenda bersama tentang perjuangan kemerdekaan. Sayangnya sejarah konvensional hanya mencatat pergerakan laki-laki dalam melawan kolonialisme. Misal saja, dalam buku-buku sejarah jelas, diutamakan tentang Sumpah Pemuda yang lahir dari Kongres Pemuda, dan sama sekali tidak disetarakan tentang adanya Kongres Perempuan Indonesia di tahun yang sama. Kongres Perempuan yang diawasi oleh tentara Belanda itu juga membicarakan tentang kemerdekaan dan hak-hak perempuan. Beberapa peserta kongres berani berteriak “Merdeka”, dan pasukan Belanda nyaris membubarkan kongres yang seluruh isinya perempuan tersebut.

Bicara perempuan, pergerakan dan politik kaitannya sangat jelas dengan kepemimpinan, sudah disuarakan sejak abad 20 oleh Kartini, Sri Mangoensarkoro dan Roehana Koeddoes. Keduanya telah menetapkan pentingnya kehidupan perempuan di ruang publik. Mereka mencemaskan terjadinya domestifikasi kehidupan perempuan. Bagi mereka mengurung perempuan di dalam rumah sama dengan melanggengkan pola hidup priyayi feodal-kolonial yang menjadi cikal bakal penindasan dan penjajahan umat manusia. Berikut pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan hal tersebut, yang setara dengan pernyataan hak-hak perempuan di luar Indoensia:

“perempuan kalau bukan sebagai pemimpin, sebagai orang yang pandai”. (Rohana Koedoes)

“Perempuan (sebagai sebuah entitas) tak memiliki masa lalu, sejarah, atau agama sendiri. Mereka hidup berpencaran diantara laki-laki, lebih terikat kepada tempat tinggal pribadi, pekerjaan rumah tangga, kondisi ekonomi dan kedirian sosial menurut laki-laki tertentu – ayah atau suami – ketimbang kepada perempuan lain.” (Simone de Beauvoir)

Sementara Sri Mangoensarkoro dalam Kongres Perempuan Indonesia II mengatakan:

“Sekarang kita tidak maoe mendasarkan arti keperempoenan kepada arti jang kita dapat dari kaoem bapak. Ta’ moengkinlah kaoem bapak memeberi arti keperempoenan demikian kepada kita itoe, sebab mereka tidak loepoet dari egoisme. Arti keperempoeanan seakan-akan hanja didasarkan kepada kesenangan diri. Kita sekarang haroes mentjari dasar jang tetap oentoek memberi arti kepada keperempoenan. Dan arti tidak lain, tidak kboekan, hanjalah haroes didasarkan kepada KEMANOESIAAN.


Bahkan semangat revolusioner yang mewarnai gerakan perempuan sejak dekade ke-2 abad 20 mendorong perempuan untuk menentang nilai-nilai Viktorian dan tradisi feodal priyayi:

Perempoean dipandang seperti perhiasan roemah tangga dan mendjadi kepalanja koki... memilih doedoek diam sambil makan angin.


Semangat revolusioner perempuan pada waktu itu akhirnya mengantar mereka untuk berorganisasi. Melalui keorganisasian, perempuan dapat istirahat dari tugas-tugas rumah tangganya dan mulai bicara hal-hal di luar domestik seperti masalah kemerdekaan, bahkan pertemuan-pertemuan antar perempuan berhasil membawa mereka pada persoalan dasar hak-hak perempuan, kaitannya dengan kemerdekaan dan melawan kolonialisme. Disinilah perempuan merasa pentingnya politik, terus sampai akhirnya hancur lebur di tahun 1965 yang kemudian lahirlah rezim orde baru.


Di masa Orde baru tidak memungkinkan untuk meneruskan pernyataan Rohana Koeddoes dan Kartini, karena kekuatan perempuan di ruang publik kemudian dialihkan pada fungsi KEIBUAN, bahwa pendidikan perempuan agar perempuan pintar mendidik anak-anaknya, bukan untuk diri dan bangsanya atau bukan untuk memiliki pengaruh dalam kehidupan publik. Organisasi perempuan dilarang kecuali organisasi yang di bawah pemerintahan, dan tetap pada fungsi KEIBUAN. Bayangkan ini terjadi selama 32 tahun.

Gerakan Perempuan Kini dan Apa yang Harus Dilakukan

Gerakan perempuan kini memeriksa apakah sejumlah undang-undang yang mengikat negara untuk mengupayakan penghapusan diskriminasi gender, kekerasan terhadap perempuan, serta menghormati hak-hak perempuan seperti UU No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan CedAW, UU KDRT, dan tentang HAM. Langkah strategis melalui kebijakan ini kemudian sampai puncaknya yaitu strategi afirmative action, meski kemudian digagalkan oleh keputusan mahkamah konstitusi.

Tantangan gerakan politik perempuan bahkan tidak hanya itu, banyak peraturan-peraturan yang lahir justru membelenggu tubuh perempuan seperti UU Pornografi dan peraturan-peraturan daerah yang menganggap tubuh perempuan sebagai sumber maksiat, serta bagaimana tayangan media melanggengkan stereotip perempuan atas tubuhnya. Kecurigaan negara yang menular ke masyarakat terhadap tubuh perempuan begitu besar, dan atas alasan moral, negara menuding perempuanlah penyebab kerusakan moral bangsa ini. Dan perjuangan perempuan yang bergulir saat ini dianggap sebagai “kebablasan”, negara lupa bahwa perjuangan inilah yang membuat Indonesia dapat meraih kemerdekaan dan mengedepankan kemanusiaan, melanjutkan wewejang Kartini dan Rohana Koeddoes.

Selain itu, efek buruk dari kebijakan Orde Baru masih terasa sampai hari ini, melihat kualitas sumber daya perempuan yang langka untuk terjun dalam dunia organiasi dan politik. Modernisasi yang masuk dalam narasi besar bagi konsep perempuan maju hanyalah dalam pengertian KARIR (bekerja di bank, pebisnis, menjalankan perusahaan, dll), bukan dalam pengertian perjuangan politik. Itupun perempuan KARIR masih harus dibebankan oleh tudingan “jangan lupa kodrat” (yang dimaksud adalah dilarang meninggalkan urusan rumah tangga), dimana hal ini tidak berlaku bagi laki-laki yang lebih leluasa berkecimpung di ruang publik tanpa harus dibilang tidak bertanggungjawab pada persoalan rumah tangga dan keluarga.

Perempuan yang berkecimpung dalam partai politikpun harus mengalami cobaan yang berat. Ruang untuk memperjuangkan kaum perempuan terlindas oleh kebijakan internal partai. Sehingga bila partai tidak suka anggotanya bicara soal hak perempuan, maka keterwakilan perempuan dalam partai tersebut harus berjuang berkali-kali lipat.

Tantangan terakhir menjelang dilantiknya Kabinet SBY-Boediono ini adalah pengajuan dihapuskannya Kementerian Pemberdayaan Perempuan, yang akan dileburkan ke dua kementerian lainnya (Menpora dan Mendiknas), menunjukkan bahwa persoalan perempuan semakin tenggelam dalam agenda besar bangsa ini.

Apa yang Perlu Diperhatikan?:

Melanjutkan pemikiran Kartini dan Roehana Koeddoes, bicara politik dan kepemimpinan, saya masih berharap pada pelaku kebijakan, dalam hal ini adalah parlemen dan pelaksana (eksekutif) yang telah diwakili perempuan. Untuk tidak mencederai kehidupan perempuan, perlu mengajukan agenda tentang kesempatan perempuan memperoleh pendidikan (membangun intelektualitas yang berarti membangun kepemimpinan), dan perlu dipikirkan soal pemberdayaan ekonomi. Harus disadari bahwa perubahan di tingkat intelektual tidak akan berarti tanpa ada peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Kartini dan Roehana menyadari strategi ini, mereka mengembangkan industri kerajinan ukiran kayu Jepara dan kerajinan tangan perempuan Minangkabau, serta mengorganisir proses produksi dan distribusi sampai ke luar negeri.

Dalam melawan tantangan kebijakan internal partai bagi perempuan yang terlanjur duduk di parlemen, perlunya membangun (meneruskan) Kaukus Politik Perempuan di DPR. Kaukus ini dapat melampaui kepentingan partai politik, dan langkah lain atas gagalnya konsep affirmative action yang telah digugurkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Ini hal-hal yang harus menjadi ramuan politik perempuan yang terpilih di parlemen maupun eksekutif. Dibalik terpilihnya mereka sebetulnya kemungkinan atas terjadinya penentuan nasib banyak perempuan di Indonesia.




Jumat, 25 Maret 2016

Aku dan Kakak Keempatku

Oleh: Mariana Amiruddin






































Awal tahun ini keluarga kami mengalami ujian berat. Tapi hari ini aku berhasil menjenguk kakak keempatku, meskipun aku sedang tidak enak badan, aku berhutang lama sekali untuk bertemu kakakku. Waktu kecil dulu, aku sering mengikuti jejaknya. Dulu aku dipaksa menjadi dewasa dan mengenal buku-buku yang tidak dibaca oleh orang seusiaku. Aku tak punya kawan yang memiliki minat yang sama. Kawanku waktu kecil hanyalah kakak-kakakku. Aku mengenal buku-buku feminis berawal dari dia. Dia selalu mengenalkan aku pada hal-hal yang baru, terutama pemikiran-pemikiran baru yang tak mungkin aku dapatkan di usiaku, di generasiku. Aku selalu membaca buku-buku yang dibaca kakak-kakakku dan mendengar lagu-lagu yang didengar kakak-kakaku. Dan memakai pakaian-pakaian yang pernah dipakai kakak-kakaku.

Kakak keempatku ini adalah yang pertama kali mengenalkanku novel Nawal El Saadawi, “Memoar seorang Dokter Perempuan,” dan “Perempuan di Titik Nol.” Begitupula yang pertama kali mengenalan Jurnal Perempuan di tahun 90-an, dan buku-buku perjuangan Kartini.  Sebelumnya kami sama-sama dalam gerakan Islam radikal, aku membaca buku “Perjuangan Ikhwanul Muslimin,” dengan tokoh perempuan bernama Zainab yang kukagumi. Tapi setelah itu pikiran kami bergerak lebih maju setelah bertemu banyak pemikiran Nawal El Saadawi dari Mesir dan Fatima Mernissi dari Maroko, dua tokoh feminis muslim yang sampai hari ini tidak pernah saya lupakan. Kadang kami berdua merasa adalah kakak adik seperti Kartini dan Roekmini. Yang sehari-hari selalu dalam sebuah lingkungan keluarga .

Membaca pemikiran Saadawi dan Mernissi itulah kunci perubahan hidupku, dan juga kakakku. Kami gila buku dan diskusi. Dulu kami sering sekamar. Setiap mau tidur, kami selalu membaca, dan diskusi apa saja. Apa saja! Kadang suka melantur, dari soal pollitik, organisasi, sampai soal mistik. Begitu bicara soal mistik, pernah suatu kali kami mendengar suara perempuan mengikik tengah malam, suaranya seperti terbang di dekat jendela kamar kami, dan kamipun tak sanggup bergerak.

Waktu berlalu begitu cepat, aku meneruskan pikiran-pikiran feminisme ini dalam pekerjaan-pekerjaanku.

Sekarang, kakakku yang keempat ini sedang sakit. DIa sedang "jatuh". Aku tidak pernah melihat kakakku terlihat sangat jatuh. AKu mengerti, perlu perjuangan dan ketelatenan untuk keluar dari penjara sakitnya. Sakit yang banyak diderita oleh perempuan di seluruh dunia. Dia butuh dukungan, dampingan dan perhatian.

Ketika kujenguk, belum sampai masuk ke dalam rumahnya, kami segera berpelukan, dan pecahlah tangisan. Aku memeluknya erat sekali sambil bilang tidak apa-apa, tenanglah. Kadang menangis membuat kita lebih tenang. AKu memeluknya erat sambil mengelus punggungnya, aku menahan ikut menangis, sebab, aku ingin memberi tempat kepada kakakku bahwa kadang kita perlu menangis ketika sedang putus asa, ketika kita tidak bisa berhenti untuk bertahan, berjuang. Aku tahu kakakaku tetap orang yang tegar, kuat dan selalu semangat. Dia orang yang sangat keras kepala, bahkan lebih keras dari aku. Kata-katanya selalu tajam, tapi karena dia orang yang kritis.

Setelah pecah tangisan itu, kami masuk ke dalam, duduk dan diskusi soal ilmu kedokteran. Soal temuan-temuan baru dalam sains kedokteran, dan juga sambil menceritakan pengobatan-pengobatan herbal. Aku mendapatkan referensi tentang seorang dokter yang pernah menangani temanku yang mengalami sakit yang sama. Kami sepakat perlu ada opini kedua dari dokter lain, untuk memastikan penanganan yang kami inginkan. Tapi seperti biasa, diskusi kemudian menjadi melantur, kami bicara soal mistik, dan berakhir dengan tertawa. Kakakakku disiapkan oleh suaminya jus daun naga, pengobatan herbal sementara sebelum akhirnya mendapatkan jadwal dari dokter.

Kakakku bernama Nuraina, orang-orang memanggilnya Nuri, dan aku adiknya, memanggilnya Dodo. Kakakku membutuhkan dukungan seluas-luasnya, sebagaimana perempuan lain yang mengalami hal yang sama, dan tidak sedikit berhasil melalui penderitaan sakitnya. Aku ingin kakakku berhasil mencapai perjuangannya.

Terus semangat Dodo, kami semua sekeluarga terus mendukung dan mendampingimu. Jangan pernah putus asa ya Do. Ingatlah masa-masa kecil kita yang bahagia.

Tambun, 21 Februari 2016

Minggu, 13 September 2015

Kini dan Bayangan


Oleh Mariana Amiruddin

Beberapa minggu ini aku bertemu dengan banyak orang. Antara senang dan lelah bercampur menjadi satu. Ada juga sedikit kehilangan. Berbincang dari mulai pekerjaan sampai pada bayang-bayang. Aku masih ingin mengejar mimpi itu. Sebuah negeri asing yang ingin kutinggali. Negeri dengan langit yang kelam dan mereka yang sering berpakaian gelap. Negeri dimana kita bisa berjalan kaki, berlari, bersepeda, membaca buku dan menghangatkan diri. Negeri yang sering dibilas hujan dan melahirkan musisi-musisi dunia.

Karena banyak berbincang-bincang sepanjang hari, kini rahangku mulai keram. Kini otot rahang mulut kiriku bergerak lambat. Aku sedikit lumpuh. Otot-otot rahangku terkejut. Pikiran dan ucapan kadang berkejaran dan membuatku agak kesal. Kini aku banyak tertawa. Orang-orang disekelilingku sangat unik dan baik. Marah bisa menjadi senang. Berat badanku naik, dan aku tidak kurus lagi. Sebab bertahun yang lalu aku hanya diam meradang. Aku bicara dengan tuisan, dengan pikiran. Aku jarang makan. Setahun yang lalu jarang ada orang. Setahun yang lalu aku meringkuk di bawah meja kerja. Mematikan lampu dan mendengar musik. Aku tidak tahu apakah kini aku bahagia. Sebab aku mulai merindukan sedih, sebab pada saat sedih itulah, aku bicara hanya pada imajinasi dan melaluinya akan tumpah tulisan-tulisan.

Bukan hanya setahun yang lalu. Bertahun yang lalu aku bertemu orang-orang tertentu saja. Mungkin aku bertemu banyak orang waktu itu, tapi kameraku tak mudah merekam. Hanya satu persatu saja yang kuingat selalu. Tidak seramai saat ini yang sering membuatku tergelak. Mereka bilang kini aku bahagia dan ramah. Bertahun yang lalu lidahku kaku, aku bicara dengan sedikit terpatah-patah, tetapi aku mampu menulis dengan tanpa melihat, bahkan kadang sambil tertidur. Aku menuliskan banyak hal seperti sedang memainkan tuts piano. Waktu itu aku sangat biasa dalam tekanan. Tekanan membuatku berlari kencang, sebagaimana orang-orang berlari kencang menyelamatkan diri di tengah badai. Bertahun yang lalu adalah petualangan, dan aku dikelilingi orang-orang yang diam-diam masuk dalam kesepian. Kehidupan satu persatu. Aku menemukan mereka di ilalang, di ladang, bahkan kadang di gedung tua tempat tinggal ratusan kelelawar dan di rel kereta. Mereka adalah orang-orang sendirian. Mereka semua menyimpan rahasia tentang aku. Barangkali masih tersimpan di memori, atau bisa jadi mereka lupa tentang aku. Kini kami sama-sama saling meninggalkan itu. Dan tak berani mengatakannya secara terbuka. Hidup kita dulu adalah hidup yang tabu. Aku menemukan mereka di perlintasan jalan, dimana aku kesulitan untuk pulang, merekapun merasa kesulitan pulang, dan memilih untuk tetap di perlintasan.

Aku masih ingat ladang itu. Yang terhampar di hadapan, dan 3 cangkir kopi melintas di tenggorokan, membincang soal hidup: makna dan pikiran. Aku masih ingat mata mereka yang menatapku dalam sekali. Bahwa aku bukanlah manusia, tapi aku adalah hatiku. Kadang kita menertawakan bagaimana kita lebih sering memikirkan orang lain, tetapi kita kurang perhatian pada pikiran kita sendiri, mau kemana hidup ini dijalankan, apakah pantas untuk diteruskan, atau kita isi saja dengan hal-hal biasa. Aku dan mereka tak mau hal-hal biasa, kita mau yang luar biasa. Tapi percuma karena kita sendirian. Dan kalau hidup ini harus dihentikan, kita berpikir keras bagaimana caranya agar berhenti dengan tidak biasa-biasa saja. Kami sering terpanggil dalam kematian. Dalam arti suatu hal yang kita tak pernah tahu tentang itu. Dimana kita tak perlu pengakuan, tak harus menjadi yang nomor satu dan berlomba-lomba menjadi yang terpandang. Kita tak ingin mengubah dunia, tetapi kita ingin hidup di dunia yang kita mau. Aku dan orang-orang di perlintasan itu kini pergi dan saling meninggalkan. Kalapun bertemu, kita akan berperilaku seolah-olah kita lupa. Seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi kecuali apa yang ada hari ini.

Kini, aku mencatat kata-kata bagus dari seorang teman. Yang membuatku teringat tentang lipatan-lipatan yang membuat banyak hal tersembunyikan, tentang tragedi atau peristiwa-peristiwa keji masa lalu negeri ini. Ia mengatakan hal yang penting tentang jiwa: “Sakit untuk mengingat, sulit untuk MELUPAKAN”.  Dalam pekerjaanku kini, aku bertemu mereka yang bertahan hidup dari tragedi masa lalu negeri ini yang banyak memakan korban, aku bisa melihat bayang-bayang di mata mereka. Tentang anak-anak mereka yang hilang, diperkosa sampai cacat, bunuh diri, atau mati terbakar. Aku  bisa melihat kerut mereka yang menandakan berjuang menahan sakit. Dan aku melihat jelas air mata di ujung kerut kantung matanya. Keringat bercampur air mata, saat mereka menunjukkan foto-foto darah daging mereka yang mati. Barang-barang buah hati mereka yang termakan usia. Bayangan-bayangan sepi mereka mengingatkan pada keadaanku dulu, dan kini aku menemuinya lagi. AKu memotret pandangan sepi itu, ditengah riuh rendah keadaan sekarang. Aku tak mau mendekat, biar aku bisa melakukan hal yang melekat.

Tengah malam, teleponku berdering. Aku baru saja menyeduh kopi. Karena perjalanan dari kantor ke rumah luar biasa melelahkan. Aku butuh seteguk untuk menenangkan. Telepon terus berdering, dan tanganku kaku untuk mengangkatnya. Aku sedang tak ingin bicara dengan siapapun. Malam adalah saatnya rahang mulutku istirahat. Saatnya pikiran kembali menggeliat. Lalu dia mengirimkan pesan dengan agak marah. Aku tak mengindahkan sebab seteguk lagi kopi itu adalah kebahagiaan. Aku berjalan ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci kaki. Aku mencium satu persatu 16 kucingku yang sudah tidur terlentang saling melintang di sudut ruangan karena udara yang panas malam itu. Aku kemudian memasuki kamarku yang hening, masuk ke dalam selimut. Mencoba memejam. Dan telepon itupun  berdering lagi.

Aku mulai gelisah dan akhirnya aku mau mengangkatnya. Terdengar suara berat di sana. Mar, katanya singkat. Dan terdengar suara angin dingin. “Aku ingin tanya soal keadaan politik sekarang,” katanya lagi masih dalam suara berat. Mataku langsung menyala-nyala. Bagaimana bisa di saat waktu yang larut dan hening ini aku kembali dibangunkan oleh persoalan politik. Kawanku yang bersuara berat di sana terdengar sedih. Aku mengerti karena dia hidup bukan di dunia yang manusia tempati. Aku harus berempati. Ia ada di sebuah planet yang barangkali tak pernah kita lihat sebenar-benarnya. Planet dimana setiap kali bangun dari tidur kita hanya melihat jeruji dan tembok tinggi. Aku mengerti keadaan dia yang haus akan kebebasan. Aku tahu itu.
Dia adalah juga orang-orang di perlintasan jalan yang tak bisa pulang. Bila dulu di ladang-ladang, hutan, rel kereta dan bangunan tua tempat ratusan kelelawar yang senang dengan kegelapan dan kelembaban, kini manusia ini hadir dari dalam jeruji.

“Bicaralah. Aku mendengarkan.” Dan kita berbincang tanpa terasa selama dua jam. Hari itu aku tak tidur sama sekali, dan pagi-pagi aku harus berangkat ke parlemen. Aku hidup di antara dunia yang tak seimbang. Seandainya aku Tuhan, aku akan bebaskan dia, dan tak perlu kita bicara lagi di larut malam. Kita bisa tenggak kopi dimanapun kita mau dan bicara sampai pagi tanpa gelisah dan ketakutan.

Bayang-bayang. Mereka mulai berdatangan. Seperti yang akan bangkit dari kuburan. Antara sedih dan senang. Antara gelak dan tangisan. Lidahku mulai kelu. Biarkan aku berdiam dulu. Sekali lagi.

Cemara, 10 September 2015.

Shadow Peopleby cowboypunk








Sabtu, 18 Juli 2015

Zeng dan Hukum yang Munafik


Mariana Amiruddin

Saat itu ponselku berdering. Terdengar suara Hardy, seorang pembawa acara sebuah televisi swasta, dia meminta saya datang sebagai narasumber.  “Apa temanya?” tanyaku. “Hukuman Mati. Siaran Langsung”, katanya sedikit gemetar. Aku mengerutkan kening karena saat itu sedang hangat-hangatnya bersama teman-teman di lembaga tempat aku bekerja sedang berusaha menunjukkan alasan bahwa Mary Jane tidak salah. Mary Jane adalah seorang buruh migran asal Pilipina yang bekerja di Malaysia, dan tertangkap membawa narkoba saat di bandara Jogjakarta. Hari itu adalah tepat akan dilaksanakannya hukuman mati terhadap 9 terpidana mati, diantaranya Mary Jane, di Nusakambangan Jawa Tengah.  Sebelumnya kami telah kehilangan Rani Andriani alias Mellisa Aprillia, perempuan asal Cianjur, Jawa Barat, yang akhirnya di hukum mati dengan kasus yang sama. Rani juga seorang buruh migran. Kami telah mengingatkan Jaksa Agung bahwa dalam kasus narkoba, memerlukan waktu dalam hal proses hukum, sebab, narkoba sangat erat hubungannya dengan perdagangan manusia. Tidak sedikit orang yang tertangkap bukan atas kesalahannya. Sindikat narkoba adalah sindikat yang canggih dan rumit, narkoba merupakan bentuk bisnis milyaran, persoalannya bukan semata-mata berhenti pada pemakai dan pengedar. Tetapi siapa yang paling banyak meraup keuntungan. Banyak kejahatan lainnya yang mengikuti seperti pemerasan, penipuan, jebakan, dan cara-cara agar seseorang menjadi tertuduh menjadi pengedar, untuk menyelamatkan para pelaku kunci. Narkoba bukan sekedar siapa yang kecanduan, siapa yang  membeli dan mengedar, tetapi siapa yang memanfaatkan. Karena itulah terpidana mendapatkan grasi, untuk menghindar kesalahan hukuman, untuk memberi kesempatan pertimbangan dan proses penyidikan lebih lanjut.

Tetapi amarah orang-orang pada narkoba menjadi amat sangat fanatik, penuh dendam, akibat doktrin narkoba sebagai barang haram, amoral dan mematikan. Sehingga dengan mata buta, doktrin itu berakibat pada rasa dendam pada siapapun yang kena label atau cap narkoba. Pecandu narkoba dianggap penghuni neraka karena itu perlu dibunuh, dihukum mati. Padahal masalah tidak selesai bila disikapi dengan demikian.

Mary Jane, kedapatan membawa barang narkoba itu hanya sewaktu di bandara Jogjakarta, sebelumnya tidak. Padahal bila barang itu memang ada di tasnya, sejak awal berangkat seharusnya dia tertangkap, karena dimanapun akan ada pemeriksaan. Hal-hal yang janggal ini sama sekali tidak dilihat. Hukum menjadi buta pada keadilan. Hukum hanya sibuk pada penegakan, bukan pada substansi  keadilan. Urusan hukuman pada manusia menjadi hitam putih, sebagaimana dosa dan pahala.

***

Sore itu sebelum saya berangkat ke stasiun televisi tersebut, saya bersama teman-teman sekantor melakukan rapat penting karena baru saja mendapatkan email dari LSM buruh migran Pilipina tentang dokumen dari Kementrian Hukum dan HAM Negara Pilipina, bahwa Mary Jane tidak bersalah dibuktikan adanya pengakuan seorang yang mengajak Mary Jane bekerja di Malaysia. Sayangnya dokumen ini dilayangkan ke Kementerian di sini, yaitu Kementrian Luar Negeri dan Hukum dan HAM, bukan langsung kepada presiden, meskipun kami dengar presiden PIlipina telah langsung menelpon presiden Jokowi. Sementara orang-orang di sini sudah berteriak-teriak yel-yel patut hukuman mati pada si “Ratu narkoba Mary Jane”, demikian mereka menjuluki buruh migran janda miskin  tersebut. Kami lari ke Kejaksaan Agung untuk membawa dokumen tersebut, dan juga menelpon langsung seorang staf ahli presiden memberitahu bahwa ada dokumen penting untuk menguatkan bahwa Mary Jane tidak bersalah. Di Kejaksaan Agung kami tidak diterima karena memang mendadak dan tidak ada janji. Kami berangkat karena kami tidak mau menyerah dengan urusan nyawa seseorang. Nyawa seharusnya bukan ditangan kita, tetapi orang mati seharusnya pergi atas kemauan Semesta Alam. Masalah dunia perlu di selesaikan di dunia.


***

Malam itu saya dijemput mobil milik stasiun televisi swasta untuk siaran langsung tema hukuman mati, sesampai di studio, saya melihat Hardy berbulir keringat. Karena siaran langsung ini sekaligus menyambut detik-detik ditembaknya 9 terpidana mati. Semua televisi menayangkan siaran langsung seperti memperlakukan siaran sepak bola. Banyak orang bersuka cita dan bersuka ria dengan hukuman mati yang akhirnya ditetapkan Presiden melalui tidak diberikannya grasi. Siaran itu berlangsung selama dua jam, tepatya saya harus di depan kamera secara langsung selama 2 jam, hingga lewat jam 12 malam, sebab regu tembak harus melaksanakan tugasnya tepat di jam 12 malam. Hary berbulir keringat, bibirnya bergetar, wajahnya agak pucat dan gelisah. Ia berkata pelan pada saya, “saya paling benci memberitakan hal-hal tidak manusiawi seperti ini. Saya tidak tega.” Hardy ternyata juga terlibat dalam gerakan aktivis 98, dan juga beberapa produser lainnya yang malam itu kami duduk di kantin sambil menyeduh kopi. Kami berbincang bagaimana peristiwa 98 tidak akan bisa kami lupakan. Generasi kami tumbuh dan luka ditengah-tengah peristiwa itu.

Rupanya Hardy masih menyisakan jiwa aktivisnya, pada kawan-kawannya yang tertangkap dan hilang. Ia teringat pada mereka yang sengaja dimatikan, atau dibunuh. Orang-orang tak bersalah itu akibat situasi politik yang mengorbankan banyak orang-orang polos. Kami menghirup kopi sambil berdiam sebentar. “Sebentar lagi kita akan menyaksikan 9 orang di hukum mati,” katanya gemetar sambil menepuk bahu kanan saya.
Saya mengiyakan dengan dingin. Saat itu rekan kerja saya ada yang diberangkatkan ke Nusakambangan, untuk menguatkan keadaan keluarga Mary Jane yang sudah kehabisan air mata. Saya berdoa dalam hati semoga presiden masiih punya nurani dan dokumen itu telah sampai di tangannya.

Di hadapan kamera saya dan Hardy sudah siap. Wajah kami tegang. Terdengar hitungan “lima-empat-tiga-dua-satu” dan kamera merekam wajah dan suara kami. Terdengar suara Hardy yang gemetar. DI hadapan kamera saya menunjukkan beberapa dokumen penting yang menguatkan alasan Mary Jane tidak bersalah, dan tentang bagaimana hukuman mati tidak akan membuahkan apa-apa. “Toh semua orang akan mati, lalu untuk apa hukuman mati?” ucap saya. Hardy menatap mata saya dan mengangguk pelan. “Apalagi kalau dia tak bersalah, suatu kemunduran di abad 21 ini, bahwa nyawa seseorang ditentukan oleh hukum kita. Itu hukuman di abad 16 yang seharusnya tidak digunakan lagi,” demikian saya menabahkan. Saya juga mengatakan dengan jelas di depan Hardy dan kamera yang masih menyala, “Jika anda disusupi barang narkoba di mobil anda, atau di tas anda, atau di lempar begitu saja tiba-tiba, dan anda bisa langsung ditangkap begitu saja. Apakah anda terima? Sebab hukum kita akan mengadili situasi seperti itu, hanya dalam sekejap saja tiba-tiba hidup anda ada dalam penjara, dan lebih celaka lagi, anda menjadi terpidana mati. Apa anda mau?”  Hardy terdiam lalu melanjutkan. “Jadi dengan kasus seperti itu, siapa saja bisa ditangkap semata-mata ada barang itu?” Saya jawab dengan jelas, “Iya, tepat sekali, siapa saja! Jadi anda bisa bayangkan bila anda seorang Mary Jane.”

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam, regu tembak sudah siap di lapangan. Para terpidana satu persatu telah digiring ke lapangan dengan wajah tertutup dan tangan diikat. Saya tak mau melhat layar televis di studio itu yang menampilkan tangisan keras keluarga terpidana, dan wajah-wajah terpidana. Sementara terlihat tangan Hardy  bergetar semakin keras.  Saya sudah hampir putus asa bahwa apapun bukti nyata, selama hukuman mati diaminkan oleh orang-orang, tembakan itu akan tetap diletuskan pada Mary Jane. Saya hanya bisa menangis dalam hati. Tiba-tiba Hardy mendapatkan informasi dari headset yang digunakannya, “Apa? Mary Jane tidak ke lapangan tembak? Apa info dari CNN?” dia lalu menoleh ke arah saya. “Mariana apakah anda mendapatkan info terbaru tentang ini?” Saya menghidupkan ponsel saya yang saat itu kamera sudah menyorot saya langsung, dan sontak rekan kerja saya di Nusakambangan menelpon, saya angkat segera, terdengar suara lirih di ujung ponsel, “Mary Jane tidak ada, 8 terpidana lain sudah ke lapangan, Mary Jane tidak ada!” Saya langsung melaporkan ke Hardy dan disiarkan secara langsung. Saya bilang, kemungkinan Mary Jane tidak jadi dihukum mati, saya katakan barangkali dokumen sudah sampai ke Presiden. Saya menerima telpon lagi dari staf ahli presiden yang berteriak pastikan sinyal di nusakambangan kuat, karena Jaksa Agung sudah menyatakan ditunda, jangan sampai regu tembak di sana tidak tahu.
Dan jarum jam sudah sampai pada pukul 12. Mary Jane tidak ada di lapangan tembak, dan terpidana lainnya sudah mati di ujung laras panjang. Kami menangis. Saya dan Hardy menundukkan kepala. Tak lama kemudian, berita bermunculan bahwa 8 orang telah mati ditembak, hanya satu yang tidak, yaitu Mary Jane! Saat itu seluruh kru di studio bersorak dingin, Hardy terlihat menahan kegembirannya. Dan kita semua berdoa untuk para terpidana yang akhirnya mati. Hardy menjabat tangan saya erat sekali, dan saya pulang dengan mata nanar, apa yang telah kita lakukan ini demi satu nyawa orang tak bersalah, bagaimana dengan lainnya? Belum lagi kasus ketidakadilan lainnya. Apa artinya hukum diciptakan bila kita membuat hidup ini menjadi menderita bagi orang-orang yang sedang tenang menjalankan hidupnya yang belum tentu beruntung?

***

Zeng Si Polos

Sejak saya bekerja di bidang kemanusiaan, saya mulai dihadapkan pada hal-hal nyata, dimana banyak orang mengadu karena mengalami penderitaan akibat ketidakadilan.  Saya hampir tak bisa berbuat apa-apa, kecuali apa yang saya punya, yaitu tugas dan wewenang saya.  Itu yang membuat saya sering menyesal dengan keberadaan saya. Tak bisa penuh menyelamatkan orang lain. Seandainya saya penyidik, pengacara, hakim, atau apapun yang berurusan langsung dengan hukum, dan juga pada hukum di sini yang bisa membantu mereka, tentu saya akan lebih senang.

Sampai suatu hari. saya dihubungi oleh seorang yang sama sekali tidak saya kenal. Di sebuah sosial media, dengan cover foto bergambar tumpukan tengkorak manusia. “Penjara, saya dipenjara.” Katanya singkat. Zeng namanya. Tertangkap dengan delik narkoba, tepatnya kasus rekayasa, seorang polos yang sedang mengendarai motor tiba-tiba dipepet orang-orang yang  juga dengan sepeda motor dan melempar barang sabu-sabu ke arahnya sambil berteriak “itu barangnya!” itu barangnya!” Sejak itu hidupnya berubah sama sekali, sejak itu dia terasing, sejak itu kebebasannya direnggut, sejak itu ia tidak bisa membayangkan apa yang disebut masa depan. Yang tidak, dipaksakan menjadi iya. Yang tidak bersalah, dipaksakan menjadi bersalah. Yang bukan seharusnya dipaksakan menjadi semestinya. Sejak itu dongeng mimpi buruk tengah malam nyata dialaminya. Mimpi dimana banyak orang tidak ingin mengalaminya. Saya sudah menderita dengan membayangkannya, apalagi bila saya menjadi Zeng.

Zeng, dengan pernyataan-pernyataannya yang polos saat tangannya di borgol membuat mereka marah dan meneriakkannya dengan kata “anjing”.  Hanya dua barang bukti yaitu barang narkoba, dan tes urin. Saat dilakukan tes urin Zeng tidak menyaksikan langsung, sementara tersangka lain yang tertangkap dilakukan di depan mata. Tiba-tiba tes urinnya dinyatakan positif dan sejak itu ia hidup di dalam sel seperti hidup di kandang anjing. Kepada anjing pun saya tidak akan membuat tempat seperti itu, apalagi kepada manusia. Saya gemetar mendengarnya, dan membaca tulisan-tulisan pengalamannya di penjara. Tidak ada dalam akal sehat saya, dan bagi saya seharusnya dengan mudah dia bisa dikeluarkan dari sana. Saya berpikir untuk apa orang bercerita soal neraka dan surga, bila manusia itu sendiri telah menciptakannya di dunia, bahkan pada orang yang tidak bersalah. Dan orang-orang keji itu punya milyaran uang untuk membangun surganya sendiri.

Zeng bukan orang bodoh. Ia tahu betul bahwa UU no 35 tahun 2009 tentang narkoba adalah UU yang bisa digunakan untuk memeras target sebagaimana yang dialaminya. UU ini digunakan di tempat-tempat sekitar diskotik untuk motif pemerasan yang dilakukan para “penegak hukum”.  “Bila ada barang bukti, pasal yang digunakan bisa menjadi 111 atau 112, yang pemerasannya bisa lebih besar lagi,” kata Zeng. Untuk bebas dari neraka itu, menurut Zeng diperlukan membayar puluhan juta. “Itu UU jahat!” tambah Zeng dengan nada yang masih polos, dia sudah biasa melalui semua penderitannya yang sudah satu tahun itu.

Saya ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus bagaimana, kecuali bahwa Zeng bisa merasakan bahwa ada yang membelanya, ada yang melindunginya, dan tahu bahwa dia tak bersalah, dan terutama adalah keinginan kuatnya untuk meneruskan hidup dengan menulis dan menerbitkannya. Saya hanya bisa membantu tentang bagaimana menulis menjadi kegembiraan, berkualitas, mendalam, dan akan menjadi refleksi, pengetahuan dan bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Atau kalau perlu membuat orang ingin membongkar ketidakadilan, bagi yang memiliki pengalaman yang sama dengan Zeng. Saya tidak kuat membaca puluhan cerita pengalamannya di penjara kecuali bahwa dada saya terasa panas, dan rasanya ingin melawan ketidak adilan yang paling tidak masuk akal itu (apakah ada ketidak adilan yang masuk akal?). Saya juga membayangkan betapa orang-orang buruk mencap siapapun yang terkena label narkoba padahal banyak yang terjerat dan menjadi korban hukuman karenanya. Kemarahan-kemarahan saya muncul sama dengan ketika melihat kasus Mary Jane, betapa kasus narkoba menjadi proyek orang-orang munafik, dan mengkambinghitamkan orang lain untuk menyelamatkan kejahatan yang dilakukannya sendiri. Bagaimana mereka berpura-pura menjadi penegak hukum, menjadikannya proyek, menangkap pelaku dan menyita barangnya, padahal mereka sendiri yang menggunakannya dan meraup keuntungan besar dari sana. Atau bahkan, sekedar sebuah kebanggaan, harga diri, pencitraan, hidup orang lain dihancurkan. Sedangkal itulah nyatanya para munafik itu.

Zeng si polos.. begitu saya bilang, karena saya mendengarkan semua ceritanya yang intens . Saya terbayang bahwa dia sebelumnya tidak benar-benar tahu bahwa disekelilingnya adalah serigala-serigala. Sebelum masuknya di penjara, ia aktif di politik. Zeng adalah domba kecil yang berlarian ke tengah lapangan rumput, bermain matahari dan berlari-lari kecil mengajak bercanda para serigala yang mengelilinginya, dan sampai hari ini dia tidak terlalu sadar bahwa dia sudah berada di dalam perut serigala. Namun bagi saya itulah yang menyelamatkannya dari rasa ketakutan dan mengurangi penderitannya. Keterlibatannya di politik, menjadi seorang simpatisan sampai mengeluarkan banyak uang, gagasan-gagasannya yang direbut, tidak membuatnya menyesal. Saya tidak mendengar ada kemarahan dari kata-katanya. Sayalah yang marah. Sekelilingnya adalah serigala megalomania, orang-orang besar yang membangun ilusi-ilusi menggiurkan bagi orang kecil. Zeng telah berdamai dengan apa yang dialaminya. Zeng rajin melakukan meditasi, meski ditertawakan oleh orang-orang di penjara. Bagi saya itu suatu yang berharga, tetapi buat saya, kita tidak dapat memaafkan orang-orang yang  melakukan ketidakadilan.  Saya bilang pada Zeng, akan ada waktunya untuk melakukan sesuatu, tunggu sampai kebebasan berhasil direnggutnya. Saya juga bilang pada Zeng, bahwa sejak itu Zeng adalah keluarga saya, saudara saya, adik saya, sepupu saya. Pilihlah mana yang Zeng mau. Keluarga adalah sesuatu yang melindungi, memperhatikan seseorang saat mengalami kemalangan. Kita tidak bisa sekedar bersimpati, tetapi menemaninya dan memberinya empati. Membuka hal-hal baru yang mungkin untuk dilakukan, diisi. Semoga Zeng tidak disakiti lagi. Semoga orang-orang polos tak terus dikerjai. Berikan mereka kesadaran akan adanya ancaman, dengan demikian mereka bisa terhindar dari kemalangan, atau mereka bisa membela diri. Dan di waktu tertentu, berikan mereka tenaga untuk kembali melawan, demi kemanusiaan, demi kehidupan.

Sabtu, 18 Juli 2015

Zeng Fanzhi - Chinese Avantgarde










Rabu, 22 April 2015

Media dan Kuasa (Dampaknya pada Kekerasan terhadap Perempuan)


Oleh: Mariana Amiruddin


Kata “kuasa” atau kekuasaan seringkali hanya dipersepsikan pada pemimpin, raja, presiden, pejabat, direktur. Kuasa dalam kamus bahasa Indonesia diartikan “seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengatur, mempengaruhi..” Apakah memang demikian kuasa itu? Seorang filsuf terkenal, Michel Foucoult menemukan bentuk-bentuk baru sehubungan dengan apa yang dimaknai sebagai “kuasa”. Salah satunya Foucoult membicarakan soal bahasa dan media. Siapa yang mengira bahwa BAHASA ternyata juga memiliki makna KUASA?  Michel Foucault, menjelaskan bagaimana bahasa menjadi alat kuasa karena dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu dan dengan demikian akan menjadi mungkin memproduksi teks-teks tertentu. “Produksi kekuasaan” melalui bahasa banyak dilakukan media melalui nilai-nilai yang disampaikan. Bahasa kuasa tersebut bukan dilakukan oleh seseorang, segelintir orang, melainkan secara tidak sadar terbawa oleh budaya. Foucoult menekankan bahwa kuasa tidak bertumpu pada satu titik sentral , tidak hanya bertumpu pada pihak-pihak yang dominan, melainkan tersebar dan bahkan tidak ada seorangpun yang memilikinya.

Kuasa tersebut dapat kita lihat dalam pengertian tentang media massa. Media massa mengandung pesan-pesan yang telah dibangun, diciptakan dan dikonstruksikan yang kemudian ditujukan untuk pembaca, pendengar, penonton.  Kuasa dalam media yang dimaksud FOucoult yang saya maknai adalah bahkan bukan dalam bentuk “kemampuan atau wewenang”, melainkan strategi. Maksudnya adalah kuasa bukan terlihat sebagai penindasan atau represi, melainkan kuasa dibangun dalam bentuk normalisasi yang kemudian menjadi wacana umum. Iklan misalnya, adalah salah satu strategi bagaimana “menyebarkan kuasa (strategi)” tentang sebuah normalisasi tubuh dan peran perempuan untuk kepentingan jualan. Bahwa sesuatu yang normal (bukan lagi ideal) pada perempuan adalah bertubuh langsing, berkulit putih, berambut lurus, dan peran yang normal pada perempuan adalah di rumah, karena itu banyak iklan peralatan rumah tangga, bumbu masak, peralatan masak dan mencuci, diperankan oleh perempuan. Hal-hal tersebut dianggap yang normal atau standar (standar normal dalam wacana perempuan). Bila perempuan tidak ditampilkan dalam tubuh dan peran-peran tersebut, maka menjadi dianggap tidak normal. Televisi contoh yang paling sering dapat kita saksikan tubuh-tubuh dan peran-peran seperti itu. Pesan-pesan tersebut disampaikan oleh media secara terus menerus, sampai akhirnya masyarakat menganggap pesan-pesan itu adalah hal yang benar, atau normal yang sebetulnya tanpa sadar berdampak pada kekerasan terhadap perempuan dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengubah nilai-nilai tubuh dan kapabilitasnya sebagai individu menjadi apa yang disajikan media, untuk disebut sebagai standar normal.


Wacana yang disampaikan berulang-ulang oleh media akibatnya menciptakan kategorisasi, misalnya soal apa yang baik atau yang buruk, mana yang cantik atau mana yang jelek, mana peran yang benar bagi seorang perempuan mana yang bukan, yang akibatnya mengendalikan perilaku masyarakat dan menjadi kebenaran yang telah ditetapkan. Atas hal tersebut bahkan bukan hanya tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa media, melainkan juga jiwa, pikiran, kesadaran dan kehendak individu. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen, melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan.
Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern, salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk, atau menjual program tayangan tertentu, atau menjual ideology tertentu.

Pernah di tahun-tahun yang lalu beberapa stasiun televisi menayangkan iklan minyak goreng yang menyampaikan kata-kata, “jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng.” Pesannya adalah sudah menjadi tugas istri untuk bertanggungjawab bila suaminya sakit karena peran istri adalah pelayanan terhadap suami. Maka istri yang normal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Masyarakat kemudian menginternalisasi “kenormalan” tersebut. Iklan tersebut tampak normal, padahal dalam kenyataan hidup sehari-hari, banyak istri-istri yang letih dalam menjalankan kehidupan rumah tangga dan sangat kurang diperhatikan kondisinya.


Dalam banyak pemberitaan di surat kabar maupun online misalnya, ketika kasus yang diberitakan menyangkut perempuan (terutama tentang kekerasan seksual), bahasa yang digunakan seringkali mengandung kekerasan. Misalnya kata janda, perawan, bertubuh semok (seksi), berpakaian minim, anak baru gede, dan pelabelan lainnya yang ditambahkan oleh jurnalis dalam menyajikan kasus perkosaan, agar menarik dibaca. Penyajian tersebut tentu saja menambah pedih bagi korban, alih-alih pembaca berempati pada peristiwa tersebut, malah menjadikannya bacaan hiburan. Demikian pula dalam liputan tentang prostitusi di media televisi, atau ketika ada penggebrekan, kamera lebih banyak menyorot pada pekerja seks yang berlarian ketakutan, dan diangkut ramai-ramai oleh petugas dan mereka berusaha menutupi wajahnya karena malu. Tentu saja tampilan tersebut membuat kriminalisasi pada pekerja seks, sekaligus membangkitkan rasa penasaran penonton untuk menatap para pekerja seks yang ditangkap.

Media Massa dan Konferensi Dunia Tentang Perempuan

Pada tanggal 4-15 September 1995, sebuah Konferensi tingkat Dunia tentang Perempuan ke IV telah terselenggara di Beijing, China. Konferensi yang bertema: Persamaan, Pembangunan, Perdamaian ini telah menghasilkan sejumlah rekomendasi yang harus dilaksanakan oleh negara-negara anggota PBB (termasuk Indonesia) dalam upaya meningkatkan akses dan kontrol kaum perempuan atas sumber daya ekonomi, politik, sosial dan budaya. Seluruh rekomendasi dan hasil konperensi tertuang dalam Deklarasi Beijing dan Landasan Aksi (Beijing Declaration and Platform for Action).
Terdapat beberapa rumusan strategis yang harus dicapai oleh setiap Negara, diantaranya adalah tentang “Perempuan dan Media Massa” yang menekankan:
1.       Meningkatkan partisipasi dan akses perempuan untuk mengekspresikan dan mengambil keputusan dalam dan melalui media dan teknologi komunikasi baru.
2.       Mempromosikan gambaran perempuan yang seimbang dan tanpa stereotip dalam media.
Dalam makalah ini saya sedang menjelaskan apa yang telah dituliskan di nomor dua. Adalah penekanan bahwa media perlu memahami bahwa berbagai citra tentang perempuan perlu ditampilkan secara adil dan setara tanpa ada stereotipe atau pelabelan negatif pada perempuan.

 Iklan-iklan, program talkshow, berita, bacaan dll yang memelihara nilai-nilai stereotipe sesungguhnya menumbuhkan bahkan berdampak kekerasan terhadap terhadap perempuan.

Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng), sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas. Mansour Fakih bahkan lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu, yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan.)


Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak di bagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan seksi atau cantik”. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut, sedangkan laki-laki adalah penciptanya. Tidak hanya iklan, stereotipe menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan, di mana ini terjadi pula dalam media seni. Dalam media seni tidak sedikit perempuan menjadi obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan, hasrat dan daya pikir laki-laki, perempuan adalah obyek yang pasif, yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata, “Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan, “Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian, kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity, palpable), sedang perbuatan adalah pria (activity, intelligible). Atas hal ini, dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak, sedangkan pria itu kongkrit. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan.

Mengutip Clara Bianpoen yang menyatakan bahwa wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. Ketika menjadi pelukis, mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya, karena ada stereotipe di mana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga, bukannya melukis.

Adakah Jalan Keluar?

Industri besar media didominasi oleh wacana stereotipe ini. Lalu, apa yang perlu kita lakukan? Yaitu pentingnya analisis media, atau kritik media, terutama dengan menggunakan analisis gender untuk memeriksa apakah ada pesan-pesan dalam media yang memuat nilai-nilai yang mengarahkan suatu interpretasi terhadap jenis kelamin tertentu, baik perempuan maupun laki-laki. Biasanya, analisis gender digunakan untuk  memeriksa, apakah ada bias di sana, stereotipe, dan yang menjadi persoalan bagi salah satu atau kedua jenis kelamin.

Kuasa media tentu saja tidak berdiri sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan Foucault, masyarakat ikut berperan dalam permainan kuasa tersebut, yang dapat kita sebut sebagai budaya. Media dan masyarakat adalah relasi yang saling berpengaruh. Tetapi, media bisa menjadi lebih dominan karena kemampuan memvisualkan, atau menciptakan fantasi tentang perempuan dalam budaya. Dan dampak berikutnya, media dapat memiliki dampak yang sangat kuat pada budaya, bahkan pada struktur sosial. Media yang dominan akan dapat memproduksi ulang bangunan norma-norma, nilai-nilai yang ada dalam budaya, yang dilekatkan pada jenis kelamin tertentu. Mereka dapat  menampilkan atribut-atribut tertentu sebagai kode-kode yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan, dan pada akhirnya diterima bahkan digandrungi oleh masyarakat.

Bagaimana contoh media yang dominan itu? Bagaimana media yang dominan menciptakan kode tentang femininitas dan maskulinitas, yang berhasil menciptakan definisi tentang “apa yang dimaksud untuk atau menjadi perempuan” atau “menjadi seorang laki-laki”. Seperti yang pernah diteliti oleh Betty Friedan, seorang feminis gelombang pertama yang menulis buku The Feminine Mystique, meneliti apa yang terjadi selama 15 tahun setelah Perang Dunia II di Amerika bahwa perempuan ideal yang menjadi harapan Amerika adalah yang berideologi feminin, yaitu menjadi Ibu Rumah Tangga. Banyak perempuan Amerika pada waktu itu menjadi Ibu Rumah Tangga dapat membangun kehidupan mereka, mendapatkan suami yang kaya raya, tampan dan menanggung seluruh hidupnya, bagai heroin yang dapat membuat perempuan bahagia. Kemudian menjadi mitos yang diabadikan oleh media dan diterima secara sosial sebagai “citra perempuan yang baik”. Bahwa sejak muda, perempuan diharapkan untuk mengorbankan karirnya, kemandiriannya, keahliannya dan kualifikasinya untuk keuntungan “keluarga inti” mereka.

Masih banyak lagi kode-kode dalam media yang bisa kita periksa dengan analisis gender. Akhir-akhir ini kita selalu disajikan sinetron-sinetron yang religius, atau bagaimana media dominan menyebarkan tentang jilbab sebagai fashion yang disandingkan sebagai “perempuan jilbab adalah perempuan baik-baik” yang juga tidak ketinggalan zaman karena tidak semata-mata soal keimanan, melainkan juga menampilkan sisi kecantikan, keindahan busana, dan lain-lain. Yang padahal tujuannya juga untuk menjual pakaian-pakaian dan model-model jilbab yang sekarang laku keras.  Dan bila kita memeriksa ideologi dibaliknya adalah tuntutan tentang perempuan muslim yang bisa bangga menampakkan identitas agamanya, keimanannya, sekaligus kecantikannya dihadapan orang lain, yang akan membuatnya merasa diterima, dipuji, dan dihargai.
Femininitas dalam fashion saat ini adalah perempuan yang religius, lembut, dan penyayang, alim dan mencintai suami dan keluarganya. Banyak perempuan berebut untuk menggunakan pakaian-pakaian tersebut dan tidak pernah ketinggalan dengan model terbaru. Di toko-toko buku, busana jilbab yang fashionable menjamur, dan banyak perempuan duduk di sana untuk membaca dan membeli.

Kode-kode dalam media bisa menjadi apa saja, dengan pola yang sama meskipun dalam budaya yang berbeda. Apakah di Inggris, di Amerika, atau di Indonesia, bila menggunakan analisis gender, kode-kode itu dengan mudah kita periksa.

Analisis gender tidak hanya berlaku pada perempuan, tetapi bisa dilakukan pada laki-laki. Kode-kode atribut gender pada laki-laki adalah sebaliknya dari perempuan, yaitu ideologi maskulinitas. Ini dapat kita temukan juga dalam teks-teks media yang menampilkan citra bagaimana menjadi seorang laki-laki.

Persoalannya adalah, apakah kita meyakini pesan-pesan yang tertanam ideologi gender ala media tersebut? Apakah kita akan hidup sebagaimana yang disampaikan oleh media? Bagaimana kalau kita bukan perempuan yang feminin seperti yang disajikan media? Apakah kita bisa diterima dalam hidup sehari-hari? Inilah salah satu cara keluar dari Kuasa Media, karena industri media pada akhirnya akan mengikuti budaya konsumen, maka konsumen media perlu independen, perlu “melek” atau kritis pada teks-teks yang disampaikan karena begitu banyaknya mitos yang disebarkan, mereka boleh menjualnya, kita boleh membelinya, tetapi kita dalam posisi yang seharusnya tidak dirugikan untuk membayarnya, membacanya atau menontonnya bila kemudian hidup kita menjadi tidak bisa sebagai diri sendiri – atau mungkin kita jadi kehilangan diri -- dan kemudian menjadi merasa tidak bahagia karena harus berpura-pura seperti apa-apa yang disajikan media.

Sosial Media versus Media Massa

Kembali pada Foucault, yang menekankan bahwa kuasa tidak tersentral atau terpusat pada satu pihak yang dominan. Masa kini, kita tidak lagi aneh dengan istilah warga negara internet atau netizen. Setiap orang dapat sebebas-bebasnya memiliki akun internet, dan mendaftar pada media-media social tertentu untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Mereka menggunakannya untuk sekedar pernyataan diri, atau bahkan menuliskan berbagai pemikiran dan sikapnya. Tidak ada lagi yang bisa mengendalikan  netizen ini, kecuali adalah kecenderungan mayoritas masyarakat mana yang masih memiliki nilai-nilai tertentu yang kemudian para netizen ini membangun sebuah komunitas atau grup yang mereka pilih. Kampanye Pemilihan Umum Presiden tahun lalu misalnya, hampir seluruhnya mengambil bagian sosial media dan internet.

Tentu saja internet menjadi salah satu jalan bagi kemandirian seseorang dalam memilih apa yang mewakili ekspresinya yang dapat pula dijadikan ajang kritik terhadap media massa. Netizen tidak dapat dikendalikan lagi oleh media massa yang dominan, bahkan sebaliknya, akhir-akhir ini tidak jarang media massa yang dominan mengadopsi pernyataan-pernyataan public dari social media dalam membahas isu tertentu yang sedang marak. Jalan ini dapat dimanfaatkan oleh setiap orang untuk menyampaikan nilai-nilainya, mempengaruhinya pada siapapun, bahkan tidak sedikit orang yang sama sekali bukan tokoh publik, karena kemampuannya membuat pernyataan-pernyataan diri mereka di social media begitu menarik, mereka menjadi sangat terkenal. Setiap orang punya ruang untuk berpartisipasi, memberikan ide dan kontribusi pada wacana-wacana yang beragam. Media identitas diri semacam inilah yang perlu kita manfaatkan sebagai kekuatan penting penyebaran informasi yang lebih baik, lebih adil bagi perempuan.







Senin, 20 April 2015

Mengembalikan Makna Emansipasi Hari Kartini



Oleh: Mariana Amiruddin

Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka? Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.

Itulah yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan: pada setiap Hari Kartini. Kartini dipermasalahkan karena Jawa-nya. Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes. Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda. Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat. Tapi apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi diusia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau? Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?

Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara. Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.

Setiap tahun, intepretasi terhadap apa yang dilakukan Kartini penuh perdebatan. Yang mengherankan bagi saya adalah, apakah kita pernah betul-betul membaca tuntas seluruh isi surat-suratnya? Apakah kita pernah menganalisa benar-benar segala kalimat yang diciptakannya dalam surat-surat itu? Sehingga untuk sementara kita bisa melepaskan Jawa dan bangsawan yang melekat pada diri Kartini, lalu segera fokus pada apa saja yang ditulisnya dalam surat-surat itu? Apakah kita bisa membayangkan bangsa macam apa Indonesia ini ketika di abad ke-19? Demikian pula terhadap tokoh-tokoh perempuan lainnya.

Kita hidup dan diciptakan dari bangsa yang berulangkali menghilangkan jejak-jejak sejarah tokoh-tokoh pendahulu kita. Kita hidup dari tokoh-tokoh yang dimanipulasi oleh rezim politik yang pernah lama berkuasa. Kita digunting dan dilipat oleh materi-materi pendidikan yang memalsukan dan menutup sebagian sejarah. Kita adalah generasi yang ahistoris. Dan akibatnya sering menjadi mis-intepretasi terhadap tokoh-tokoh yang mendahului kita. Kita tak tahu bagaimana awal kita sehingga kartu tanda penduduk kita dicantumkan sebagai warga negara Indonesia, sehingga kita bisa mengatakan bahwa kita adalah orang Indonesia. Kita adalah generasi yang tidak punya eksistensi tentang “siapa diri dan bangsa kita”.

Citra Kartini sebagai “Ibu-Ibu Berkebaya” dibawah Orde Baru

Ibu yang berkebaya adalah sama dengan perempuan ideal yang mencintai bangsa. Ibu yang berkebaya adalah perempuan lembut yang mencintai dan memelihara keluarga. Ibu yang berkebaya adalah tidak banyak bicara, duduk dengan kaki rapat dan menunduk, tidak pernah protes dan memilih diam apabila dirundung masalah. Inilah citra yang terus menerus dihadirkan oleh Orde Baru. Kebaya yang awalnya hanya pakaian khas orang Jawa, menjadi sebuah ideologi citra ideal perempuan Indonesia.

Saya merasakan betul waktu saya duduk di bangku SD, di Madiun, Jawa Timur, dengan postur tubuh saya yang lebih cocok sebagai perempuan Sumatera, dipaksa memakai kebaya. Alangkah tak enaknya citra ini dipaksakan pada saya. Saya yang biasa berlari-lari bebas bermain kasti dan memanjat pohon atau bermain sepeda dengan teman sebaya, tiba-tiba tidak bisa bergerak sama sekali karena kain yang dililitkan ke pinggul sampai kaki saya dengan sangat ketat. Waktu itu saya menangis keras di sekolah. Saya diledeki oleh teman-teman perempuan lainnya, karena mereka sangat biasa berkebaya, mereka sangat cocok mengenakannya. Sementara saya seperti badut. Dan anak-anak laki-laki mengatakan saya seperti barongsai karena mata saya sipit tidak seperti mata orang jawa yang belok, serta bedak dan lipstik yang dipaksakan melekat di wajah saya, serta konde yang digantungkan di kepala saya lebih seperti benda yang berat sekali menyangkut di kepala.

Itulah bagaimana anak-anak dididik oleh negara dalam mencitrakan seorang Kartini. Itu terjadi bertahun-tahun dan sampai sekarang, citra itu belum lepas sampai ke akar-akarnya. Sehingga bila kita mengatakan Kartini memperjuangkan Emansipasi Wanita, lalu ada kalimat lanjutan “namun jangan lupa dengan kodratnya”. Apakah demikian yang dimaksud Kartini soal Emansipasi? Apakah Kartini pernah bicara soal kodrat? Kita tak pernah tahu, bahwa apa yang kita rayakan saat ini dengan simbol-simbol Kebaya, Kecantikan, Emansipasi versus Kodrat, adalah sesuatu yang justru sangat dilawan dan dikritik habis oleh Kartini.

Salah Kaprah tentang Emansipasi versus Kodrat

Seorang presenter dengan sangat yakin membuka acara di televisi yang memperingati Hari Kartini dengan menggunakan kalimat penutup “emansipasi boleh, asal tidak kebablasan, asal tidak melupakan kodratnya.” Kata “kodrat” sering diselipkan setiap kali kita mengatakan kata “emansipasi perempuan”. Kesalahan terjadi lagi, dan seperti biasanya berulang kali.

Emansipasi diambil dari bahasa Inggris, emancipation, sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah upaya untuk mendapatkan hak politik, derajat yang sama, dalam kehidupan manusia. Emansipasi bukan hanya soal perjuangan wanita. Tokoh-tokoh pemimpin pria dalam banyak sejarah politik, sering menggunakan istilah ini. Gagasan “emansipasi” masa revolusi industri justru dikeluarkan oleh pria yang pada waktu itu memiliki banyak kesempatan untuk sekolah tinggi, beraktualisasi, berkarya, dan memimpin. Suara mereka lebih didengar, dan diantara mereka menganggap emansipasi perlu dilakukan untuk merebut keadilan seluruh manusia. Abraham Lincoln pernah mengeluarkan dekrit dengan tema Emancipation Proclamation (Proklamasi Emansipasi) ketika terjadi perang saudara di Amerika. Dekrit ini mengumumkan tentang pembebasan budak. Martin Luther King kemudian menyambut gagasan emansipasi Lincoln dalam pidatonya “I have a dream” yang menyatakan “… A great American, in whose symbolic shadow we stand today, signed the Emancipation Proclamation. This momentous decree came as a great beacon light of hope to millions of Negro slaves who had been seared in the flames of withering injustice. It came as a joyous daybreak to end the long night of their captivity.

Martin Luther King menyambut emansipasi sebagai keputusan penting, sebagai cahaya mercusuar, sebagai harapan besar bagi jutaan budak Negro “yang dilumuri api ketidakadilan”. Emansipasi baginya sebuah fajar yang mengakhiri malam panjang pembuangan Negro di Amerika. Sementara itu filsuf Jerman, Karl Marx, memakai istilah “emansipasi politik” untuk menjelaskan gagasan kesamaan derajat warganegara hubungannya dengan negara, kesamaan di depan hukum tanpa memandang agama, harta benda, atau ciri orang perorang lainnya. Seperti dalam pernyataan Marx "Every emancipation is a restoration of the human world and of human relationships to man himself..”

Bila Lincoln menyebut emansipasi untuk menghentikan perbudakan, Lincoln menyebutnya sebagai “cahaya mercusuar, meraih harapan”, dan Marx menyebut emansipasi sebagai kesamaan derajat, maka seharusnya kita sudah paham maksud istilah ini. Bahwa di abad ke-21 kini, seluruh sejarah dunia telah melalui proses emansipasi. Reformasi di Indonesia, juga proses emansipasi.

Jadi, emansipasi tidak ada urusannya dengan kodrat, atau kebablasan. Emansipasi wanita perlu dilakukan dimana seorang manusia mengalami situasi rentan terhadap kekerasan, pelecehan seksual, bahkan perbudakan seks. Hampir di setiap negara industri, tempat-tempat prostitusi menjual perempuan untuk eksploitasi, diantaranya adalah masih anak-anak. Karena itulah emansipasi menjadi istilah yang digunakan agar seorang wanita diperlakukan manusiawi. Karena itulah tidak ada urusannya dengan kodrat ataupun kebablasan. Nah, emansipasi apapun, baik wanita, kaum minoritas, kaum miskin, kaum cacat, yang hidupnya mengalami ketidakadilan, prinsip emansipasi dipakai untuk mengembalikan mereka dihargai sebagai manusia. Sekali lagi saya begitu geli, di sini, begitu mendengar kata “emansipasi”, maka bayangan orang otomatis: wanita yang ingin mengalahkan laki-laki (padahal, kita tidak sedang berlomba kan?), galak (padahal siapapun bisa galak) dan lain sebagainya.  Alasan emansipasi adalah alasan seseorang untuk keluar dari penindasan, perbudakan, diskriminasi. Jadi, kalau kita semua merasa ada perlakuan yang tidak adil pada diri kita, lalu kita menuntut keadilan, itu sama dengan melakukan tindakan emansipasi.

Kesalahpahaman kita pada emansipasi terjadi selama puluhan tahun. Kata “persamaan” diartikan dengan “sama”. Padahal persamaan yang dimaksud adalah “kesetaraan” yang dalam bahasa Inggris disebut “equality”.

Karena itu setiap kali kita mendengar kata “emansipasi”, segeralah kita mengartikannya dengan “suatu tindakan yang menyatakan bahwa setiap orang berharga, bernilai. Bahwa tak ada seorangpun yang boleh merendahkan orang lain, baik agama, suku, dan harta benda yang ia miliki.” Emansipasi bukan hanya untuk perempuan, tapi untuk semua (tulisan saya tentang Emansipasi ini pernah dimuat di Majalah Esquire).

Surat-Surat Kartini yang Subversif

Kartini yang “untuk sekolahpun” dia tidak diperkenankan punya kehendak dan untuk jalan di depan orang yang lebih tua ia masih harus berjongkok dan menundukkan kepala sampai wajahnya tak terlihat. Hanya melalui surat-surat itulah Kartini membebaskan dirinya. Dalam surat-suratnya itu Kartini berusaha menunjukkan dirinya bukan sebagai identitas kebudayaan maupun ras tertentu. Meskipun seringkali Kartini bicara tentang identitas ras, status sosial, budaya maupun bahasa, tetapi ia selalu menekankan sebagai seseorang yang harus terlepas dari itu semua. Puja-pujinya pada negeri Eropa adalah sekaligus kritikannya pada orang-orang Eropa bermental penjajah. Dan puja-pujinya pada tanah Jawa adalah sekaligus kritiknya pada orang-orang Jawa yang berperilaku white mask, black face (meniru kelakuan penjajah). Saya melihat Kartini berusaha menunjukkan bahwa patern-patern yang oposan itu (antara ras yang lebih tinggi dan yang lebih rendah, priyayi dan rakyat jelata, putih dan coklat) harus dibongkar dan pada akhirnya identitas itu tidak diperlukan lagi untuk dipergunakan sebagai sesuatu yang esensial, melainkan sesuatu yang kontekstual. Banyak perempuan-perempuan yang dididik sama seperti yang dilakukan Ayahnya pada Kartini, tapi paling-paling hasilnya adalah perempuan Jawa yang berperilaku seperti perempuan Eropa (seperti yang dikatakan dalam suratnya). Kebanyakan perempuan-perempuan bangsawan tersebut seseorang yang masih mau diciptakan, bukan menciptakan. Kartini tidak demikian. Ia bukan menjadi perempuan yang terperangkap dalam oposisi ras, kebudayaan maupun bahasa. Ia adalah perempuan yang berpikiran “post”.

“Semua orang tahu dan mengerti betapa berbahayanya keadaan kami lalu beberapa dari mereka berkata bahwa ini adalah salah ayah yang telah mendidik kami seperti ini. Tidak! Tidak! Jangan menyalahkan ayah! Dia tidak mengira kalau pendidikan yang kami terima darinya berakibat seperti yang terjadi pada salah seorang anaknya. Kabupaten-kabupaten lain yang mendidik anak-anak mereka sama dengan cara ayah mendidik kami paling banter hanya berhasil membuat gadis-gadis Bumiputera bisa berbahasa Belanda dengan perilaku ala Eropa. Mengenai beberapa perempuan Eropa yang mendapat didikan Eropa, dampaknya tidak akan lebih dari ini.”

Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus. Bagi saya pengalaman yang tidak terpisah-pisah ini memiliki validitas yang paling bisa dipertanggungjawabkan, Kartini adalah feminis yang memuat validitas itu. Ketika membicarakan birokrasi pemerintahan Hindia Belanda, dia tidak menceritakannya dengan berjarak, dia sangat mengungkapkannya dengan penuh subyektifitas yaitu melihat persoalan sosial masyarakat dengan tidak melakukan jarak atas teks-teks yang dipersepsikannya. Kartini bukan tipikal seseorang yang cerdas karena melakukan berbagai kutipan pikiran orang lain, melainkan mengolah apa yang ia pikirkan dari pikiran-pikiran yang pernah dia ketahui dan dengan pikirannya itu dia punya kemampuan analisa diri dan di luar dirinya.

Soal “Cercah cahaya dalam gelap gulita” yang diungkapkan Kartini bagi saya adalah personifikasi atas kemampuannya sebagai seseorang yang memanfaatkan kesempatan membaca buku-buku dari luar, dan kemampuannya menjadikan buku-buku tersebut sebagai inspirasi keliarannya. Cercah cahaya itu bukan personifikasi dari sebuah identitas atau bangsa bernama Negeri Belanda. Seperti yang dinyatakan Kartini, tidak hanya dirinya yang memiliki kesempatan itu, tetapi bagaimana perempuan lain tidak menggunakan itu sebagai ajang meraih kebebasan, melainkan ajang kembalinya “penciptaan identitas atas orang lain”. Seperti yang diungkapkannya kepada Stella:

“Aku juga musuh formalitas. Apa peduliku soal peraturan-peraturan adat? Aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak peraturan adat Jawa yang konyol itu saat berbincang denganmu dalam tulisanku ini...”

Ketika Kartini mengatakan “Aku juga musuh formalitas,” jelas bahwa Stella pernah mengeluhkan hal yang sama, dengan konteks tradisi di Eropa yang juga penuh formalitas. Artinya bahwa kebebasan bukanlah milik Barat, dan juga bukan milik Jawa, dan Kartini bersama Stella tidak sedang membicarakan blok-blok kebebasan itu serta membandingkan satu dengan lainnya. Perbincangan mereka adalah perbincangan lintas budaya dan dalam setiap budaya, perempuan menjadi seseorang yang paling tidak bebas.

“Jika seorang gadis berjalan, dia harus berjalan dengan tenang, langkahnya harus lamban dan pelan sepelan bekicot; jika kamu berjalan lebih cepat sedikit saja orang akan mencacimu sebagai kuda liar.”

Dan lihat bagaimana Kartini berhasil membongkar tradisi itu mulai dari dirinya:

“... tapi mulai aku ke bawah kami sudah mengabaikannya. Kami tidak lakukan itu lagi. Hidup kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan! Kami semua; aku, adik-adikku baik laki-laki maupun perempuan merasa setara dan kami berteman.”

Kartini melakukan pembongkaran itu tidak harus dengan mengklaim, bahwa kebebasan ini adalah kebudayaan Barat, tetapi bahwa kebebasan itu harus datang dari diri sendiri.

“Pertama kali orang-orang memang membenci kebebasan dan keakraban kami, kami bahkan dijuluki anak salah didik. Aku dijuluki ‘kuda kore’ atau kuda liar karena jarang sekali berjalan melainkan pecicilan kesana kemari. Dan mereka memanggilku apalagi ya? Aku sering tertawa keras-keras!!! hingga gigiku kelihatan. Tapi sekarang ketika mereka melihat dan merasakan keakraban di antara kami, ketika etika leluhur kami menghilang, orang-orang mulai iri melihat kedekatan kami.”

Dan Kartini melakukannya tanpa harus menjadi orang Barat. Kartini tetap seorang perempuan Jawa. Bagaimana sindiran Kartini terhadap orang Belanda itu terlihat ketika datang seorang Belanda dan kecewa melihat putri-putri Bupati bukanlah putri-putri yang berpakaian mewah dan eksotis, melainkan putri-putri yang berpakaian sederhana.

“Baru-baru ini datang seorang Belanda, tampaknya ia telah mendengar tentang kami, setidak-tidaknya ia minta untuk bisa dikenalkan kepada “para putri”. Permintaannya diluluskan dan oh, kami begitu gembira!” “Bupati” katanya lirih kepada ayah tapi terdengar juga oleh kami – nada suaranya mencerminkan kekecewaan yang besar, “sebutan puteri-puteri membuat saya berpikir tentang pakaian yang begitu gemerlapan, pesona ke-Timuran nan indah, tapi anak-anak Anda sederhana sekali”. Kami menyimpan tawa yang tertahankan ketika kami mendengar dia mengucapkan ini. Astaga, ungkapan ketidaktahuannya itu, dengan mengatakan bahwa cara kami berpakaian begitu sederhana dia telah menghadiahkan sebuah pujian yang setinggi-tingginya yang belum pernah kami terima dari orang lain; kami seringkali was-was kalau kami terpengaruh dan berakhir sia-sia.”

Kartini telah menertawakan cara-cara pandang feodal baik Barat maupun Timur yang masih sibuk soal pakaian dan penampilan yang menunjukkan identitas kelas.

Membongkar identitas Perempuan, Jawa, Bangsawan, Islam

Kartini tak cuma melekat identitas perempuan, Jawa dan Bangsawan, ia juga membongkar identitas Islamnya. Dalam beberapa surat ia berseloroh tentang identitas Islam yang tidak punya ide tentang kebebasan karena ada kesengajaan orang Islam dibiarkan buta atas teks-teksnya sendiri. Dan perempuan dalam Islam seperti juga dalam banyak kebudayaan, tidak ada keberpihakan sama sekali terhadap perempuan. Kemustahilan demi kemustahilan akan kebebasan itu semakin nyata di masa depannya.

“Tentang ajaran agama Islam, aku tidak bisa lebih banyak bercerita padamu. Penganut agama Islam dilarang untuk memperdebatkannya dengan penganut agama lain. Sejujurnya, aku sampai beragama Islam hanya karena nenek-moyangku juga beragama Islam. Bagaimana aku bisa menghidupi ajaran itu jika aku tidak tahu ajaran, atau tidak boleh tahu? Al Quran terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini, tidak ada yang tahu bahasa Arab. Memang, orang-orang diajari membaca Al Quran tapi mereka tidak tahu apa yang mereka baca. Menurutku ini lucu, mengajar orang untuk membaca tanpa harus tahu artinya, seperti kau mengajariku buku bahasa Inggris dengan bagus tapi tanpa memberitahuku artinya sepatah katapun...

Tapi kita bisa menjadi orang baik tanpa harus menjadi religius kan Stella? Dan yang paling penting adalah menjadi orang baik... Oh Tuhan, kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja. Karena justru agamalah penyebab perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia. Saudara kandung saling berselisih hanya karena berlainan keyakinan. Perbedaan antara Gereja juga mengakibatkan dinding pemisah bagi dua hati yang berkasih-kasihan. Aku sering bertanya pada diriku sendiri; apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau prakteknya malah seperti ini? Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama?”

Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.

“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus. Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”

Kartini, Melahirkan Wacana Post

Jauh setelah Kartini, lahir seorang lelaki Palestina yang lama tinggal di Barat, adalah Edward Said yang dalam ide postkolonial melakukan dekonstruksi yang sama dengan Kartini dan mengagetkan kaum antikolonialisme dengan membawa slogan “kesadaran tandingan” dengan paradigma orientalismenya di tahun 1978 (bandingkan bagaimana surat-surat Kartini ke Stella yang juga mengkritik Multatuli dalam Max Havelaar tentang pemerintahan Hindia Belanda). Bahwa, Timur (dalam konteks Kartini adalah Hindia) adalah sebentuk panggung tertentu yang didirikan dihadapan Barat. Bahwa kolonialisme pun dapat lahir dari ‘negeri yang terjajah’! Maka tak ada lagi teritorial verbal tentang penjajah dan yang dijajah. Kekuasaan dan penindasan dapat dilakukan oleh siapapun dalam bentuk apapun, tanpa harus ditempatkan dalam dikotomi tertentu. Jauh setelah Kartini lahir seorang Michel Foucault di tanah Prancis yang mengatakan bahwa kekuasaan ibarat sebuah jaringan yang tersebar dimana-mana. Maka bukan lagi kekuasaan berbentuk vertikal: penguasa di atas dan yang tertindas di bawah, melainkan berlaku ‘dari’ dan ‘ke segala’ arah. Sejalan dengan Kartini yang mengatakan bahwa Ayahnya bukan ”penguasa”, melainkan orang yang ”berpengaruh”, dan kekuasaan itu bukanlah di tangan ayahnya yang bangsawan.

Kartini sudah melangkah jauh untuk mencoba memberikan pandangan yang tidak berangkat dengan sejumlah generalisasi seperti yang dilakukan Multatuli. Kartini menegaskan bahwa orang Barat tidak akan pernah bisa merasakan atau mengalami benar-benar apa yang dirasakan orang-orang Hindia, sekalipun dia seorang Antropolog.

Kartini sudah menggelar feminisme yang mengarah pada perdebatan seputar “perbedaan” atau pluralitas kebenaran, bahwa kebenaran bukanlah tunggal. Secara tidak verbal Kartini telah menawarkan konsep perbedaan dan keragaman dalam menentang oposisi-oposisi itu. Kartini bagi saya lebih jauh dari identitas kebangsaan, ia sudah menjadi masyarakat dunia sejak awal. Ia sudah jauh sekali meninggalkan ide tentang nation meskipun waktu itu Bangsa Indonesia belum lahir.

Kartini bukanlah sebuah keajaiban dunia, melainkan orang yang membuktikan kebenaran tentang teori free will, bahwa kehendak bebas memang menjadi takdir setiap diri manusia dimanapun dia berada. Dan itulah yang disebut Emansipasi.

Bekasi, 21 April 2014
(Pernah dimuat di website Jurnal Perempuan http://www.jurnalperempuan.org/blog/mengembalikan-makna-emansipasi-hari-kartini)