Minggu, 02 September 2018

Feminisme, Nusantara, dan Islam





Oleh: Mariana Amiruddin*)

Tulisan ini berawal dari kegiatan Ekspedisi Feminis Nusantara, yang diinisiasi oleh komunitas feminis yang lahir dari kesadaran masyarakat muda perempuan (Jakarta Feminist Discussion). Para peserta yang hadir membuat saya begitu gembira, mereka ada yang menamakan dirinya kelompok Ulama Perempuan, kelompok feminis Indramayu, dan bahkan yang hadir dari berbagai wilayah seperti Tegal, Jogjakarta, Solo, bahkan ada yang dari Sumatra Barat. Mereka semua bukan perempuan-perempuan yang dilabeli “aktivis” gerakan perempuan sejak tahun 1998, mereka adalah perempuan-perempuan yang mencari pengetahuan baru tentang feminisme. Saya langsung melihat bagaimana mereka memiliki visi yang baru, gelombang gerakan perempuan di Indonesia yang lahir setelah era yang saya alami. Saya sangat terinspirasi dengan gagasan mereka yang menamakan judul kegiatan sebagai eksplorasi Feminis Nusantara, membangkitkan keinginan saya sejak lama tentang penemuan Feminis Nusantara dalam bentuk studi literatur dan lapangan.  

***

Feminisme selama ini hanya dilihat sebagai sebuah ideologi gerakan yang memperjuangkan keadilan, kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Padahal, feminisme juga sebuah bangunan pengetahuan yang menjadi antitesa teori-teori filsafat, politik dan sosial, yang selama ini tidak mewakili kehadiran dan kehidupan perempuan yang tentunya sangat berbeda dengan laki-laki. Pengetahuan filsafat-politik-budaya- hukum-sosial bagi feminis ditemukan terlalu bias laki-laki, semua diukur berdasarkan laki-laki bahkan dalam hal yang sifatnya esensialis (ketubuhan), pemikiran maupun eksistensialis (kesadaran), termasuk dalam hal sejarah, moralitas dan nilai-nilai budaya. Pengetahuan yang minus perempuan membuat perempuan kesulitan untuk mengurai dirinya sendiri dan kehidupannya, sulit untuk melacak siapa dirinya dalam kehidupan, baik dalam masalah-masalah pribadi maupun publik. Atas pengetahuan tersebut, feminisme membangun pengetahuan yang disebut sebagai Feminist/Gender Studies atau Woman’s Studies, atau Studi Feminis yang menggunakan teori-teori feminis sebagai alat analisis filsafat-sosial-politik-hukum-budaya untuk menemukan kehidupan manusia perempuan pada jalan yang lebih adil.

Pengetahuan atau studi feminis ini kemudian terbagi menjadi berbagai aliran (bukan seperti aliran kepercayaan/agama, sebutan aliran untuk menunjukkan paradigma berpikir). Aliran atau paradigma feminis ini lahir dari berbagai macam gelombang zaman. Sebutan gelombang adalah untuk menjelaskan konteks kondisi situasi dunia dimana paradigma feminis itu lahir, semisal feminis liberal, feminis radikal, feminis sosialis-marxist lahir pada gelombang pertama paska perang dunia II, kemudian feminis psikoanalis, feminis eksistensialis, lahir karena manusia mulai memikirkan tentang perkembangan dirinya, kemudian feminis postmodern dimana Bahasa dan Media serta Budaya Pop berkembang pesat di televisi, majalah populer, koran, dll. Sementara eco-feminist, feminis global/kultural/multicultural, dan post-feminis lahir dimana globalisasi mengubah tata nilai dunia, termasuk tentang kehancuran alam/lingkungan, krisis sumber-sumber energi yang berdampak pada perempuan. Sementara feminis global/kultural dan multikultural mengingatkan bahwa terdapat tatanan dunia yang tidak adil paska perang dingin seperti sebutan Negara Dunia Ketiga, Negara Berkembang versus Negara Maju, yang membuat tatanan dunia berkelas-kelas yang satu superior dan yang lain menjadi inferior. Situasi tatanan dunia ini berdampak pada nasib perempuan yang hidup di negara-negara tertentu dimana pemerataan ekonomi dan sumber energi dalam tatanan dunia membuat sebagian wilayah dunia mengalami kemiskinan dan kelaparan, sebagian lagi kaya raya. Yang kaya raya memiliki nilai mata uang yang tinggi disebut “Negara Maju” mengeksploitasi “Negara Berkembang” melalui perjanjian-perjanjian moneter internasional dan hutang piutang yang menimbulkan ketimpangan.

Kita perlu mengakui bahwa bangunan ilmu pengetahuan baik sosial, politik, budaya, dll. yang kita pelajari selama ini memang berangkat dari teori-teori Barat, maka feminis –justru-- memberikan kontribusi dan kritik tajam yang sangat penting terhadap pengetahuan Barat. Pengetahuan feminis ini lahir dari para pemikir dan ilmuwan perempuan, baik dalam bidang filsafat, sosial, politik, hukum dan budaya. Mereka melakukan antitesa berangkat dari paradigma kritis. Feminis membangun kritik, yang serta merta menciptakan epistemologi baru. Banyak juga para saintis perempuan yang memberikan kontribusi meskipun nama mereka kemudian ditenggelamkan oleh para bapak-bapak dalam kanon-kanon saintifik. Penemu-penemu teknologi minus perempuan. Para perempuan bahkan harus menyamarkan namanya untuk menulis jurnal ilmiah.

Pada perkembangannya, pemikiran atau teori-teori feminis tidak semata-mata lahir dari Barat, tetapi lahir dari negara-negara Asia, seperti tema-tema tentang lingkungan hidup, multikulturalisme, kritik terhadap kapitalisme dan globalisasi serta nilai-nilai agama dalam hal kemanusiaan perempuan, terutama pada paradigma feminis gelombang ketiga. Feminis menjadi sebuah pengetahuan yang mengglobal, tidak lagi berangkat dari wilayah atau negara/bangsa tertentu. Tatanan dunia terutama dalam hal teknologi informasi dan komunikasi dengna sendirinya menggugurkan soal Barat dan Timur. Gerakan-gerakan Eco-Feminist berjamuran di berbagai negara berkembang, yang menyadari bahwa sumber daya alamnya telah direbut dan dirusak untuk kepentingan negara-negara industri, dan mengakibatkan hilangnya keseimbangan bumi. Para perempuan ada yang melakukan gerakan memeluk pohon, atau berdzikir memblokade para pengusaha tambang agar tidak dapat naik dan mengebor gunung, serta gerakan-gerakan lingkungan lainnya.

Bagiamana dengan Indonesia?

Di Indonesia, sangat sulit sekali menemukan tradisi berpikir. Tradisi membaca dan menulis sangat langka. Melalui menulis dan membaca, maka cara berpikir manusia menjadi terstruktur dan sistematis, mudah dipelajari, disusun dan disebarkan. Tradisi atau pemikiran dan intelektualisme apapun yang berkembang di Indonesia tetap saja lahir dari Barat. Sebagian memang lahir dari pemikir-pemikir atau intelektual Islam, tetapi hanya dalam bidang-bidang keilmuan tertentu.
Di luar semua itu, bukan berarti Indonesia tidak memiliki apa-apa. Bukan berarti Indonesia itu bodoh. Di Indonesia, ukuran intelektualitas dan pemikiran bukan menjadi hal yang unggul/utama. Indonesia memiliki sejarah Nusantara (dahulu bernama Nusantara) yang sudah tenggelam dalam cerita-cerita kejayaan dan kesaktiannya, dan dianggap semata-mata cerita mistik dan dongeng. Indonesia dalam wujud Nusantara memiliki keilmuan yang berbeda. Dia tidak seperti yang kita ketahui saat ini. Kita semua, para keturunan leluhur Nusantara memang kehilangan jejak tentang hal-hal tersebut dan susah payah untuk menemukannya kecuali mendengar dari tradisi lisan (cerita dari mulut ke mulut), dan sampai hari ini sudah mulai punah.

Pada saat Indonesia masih disebut sebagai Nusantara, atau bahkan lebih dahulu lagi disebut “Sunda Besar” (Sunda Land), jauh sebelum Jawa berkuasa, memiliki banyak catatan penting. Namun sayang sekali catatan tersebut berserak dan tersembunyi dalam lipatan dan tumpukan sejarah lain yang lebih modern yaitu sejarah kolonialisme. Teks-teks sejarah Nusantara hanya tersimpan di museum-museum, atau di negara lain (Belanda, Prancis, Spanyol, Portugis, Inggris), atau bahkan teks-teks berupa surat, serat, babad, tambo, ataupun arca, dijual sebagai barang antik, atau dianggap hanya menyebar paham mistik. Museum-museum sejarah masa lampau Nusantara begitu lusuh, jorok dan berbau tengik, tidak terawat, diabaikan, hanya   dikunjungi untuk kepentingan-kepentingan mistik. Padahal pengetahuan Nusantara sangat kaya raya dan kita tidak punya perhatian sama sekali terhadapnya, misal soal kemaritiman, tata kelola pemerintahan di masa kerajaan, bahkan arsitektur, cara mengelola sumberdaya energi dan alam, bahkan bagaimana tokoh-tokoh perempuan di masa itu banyak berpengaruh. Kita para keturunan leluhur Nusantara sudah dilupakan oleh sejarahnya sendiri. Seperti anak-anak yang kehilangan orangtua, kehilangan nenek moyang. Terdapat sejarah yang terputus dan ditenggelamkan, untuk kepentingan-kepentingan penguasa pada saat penjajahan.  

Kekayaan sejarah catatan Nusantara dalam bentuk prasasti, serat, babad, kitab, tidak menjadi perhatian khusus bagi nilai-nilai yang dianut oleh Bangsa Indonesia. Padahal, dalam catatan-catatan tersebut banyak sekali yang dapat kita temukan, dibalik metafor-metafor dalam sastra tinggi, budi pekerti. Istilah “Suwung”, “Kasunyatan”, “Sunya Ragi”, seluruhnya adalah pelajaran tentang keheningan/kekosongan, olah rasa, yang menunjukkan teknologi berbeda dari olah fikir. Orang sering menjuluki olah rasa ini sebagai ilmu kesaktian, dan (lagi-lagi disebut mistik), padahal mengajarkan manusia Nusantara untuk berkoneksi dengan alam semesta (air, tanah, udara dan api) serta pada Tuhan dan Semesta. Teknologi olah rasa ini dimusnahkan dan hilang begitu saja, kalaupun dibicarakan dia akan dianggap remeh dan tidak rasional/tidak modern.

Bahasa lokal yang luhur (tinggi) contoh Bahasa Saksekerta, Palawa, dll. Diciptakan melampaui hal-hal fisik (sebut saja dangkal). Penuh dengan kode-dekode, yang rahasia dan tidak dapat begitu saja diakses oleh orang-orang biasa. Di dalam teks-teks babad, serat, kitab, bahkan dapat ditemukan Raja-Raja Perempuan dan ksatria-ksatria perempuan. Teks-teks yang tersembunyi dalam lipatan sejarah yang mengubur cerita-cerita perempuan tersebut perlu dibangkitkan kembali untuk menjadi pengetahuan dasar perempuan Nusantara. Hal ini bukanlah tidak mungkin untuk diteliti bahkan dapat dengan menggunakan teori-teori feminis atau bahkan membangun teori feminis yang baru. Dalam sebuah pidato 20 tahun reformasi bahkan Karlina Supelli mengatakan “bahkan sebuah Babad Sunda itu belum tentu bisa kita katakana dongeng, sampai kita mampu membuktikannya bahwa itu dongeng.” Adalah perkataan yang keluar dari seorang feminis saintis, filosofis.

Saya akan memberikan beberapa contoh saja cerita-cerita tertentu tentang Raja dan Ksatria Perempuan masa Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Cerita-cerita ini sekedar memantik keingintahuan kita pada sejarah masa lalu yang sama sekali hilang, dan menggunakan analisis feminis. Mengenai kebenaran sejarah tersebut tentu perlu dilakukan penelitian yang sangat serius. Tetapi bahwa teks-teks sejarah adalah menjadi bukti awal dari pengetahuan itu sendiri.

Tribhuwana Tunggadewi-Majapahit

Di masa kajayaan Majapahit, kita tahu bagaimana Gayatri, istri dari Raden Wijaya, Raja Majapahit pertama, bekerja keras dan gigih mempersiapkan Tribhuwana Tunggadewi, putri pertamanya untuk menjadi seorang kepala pemerintahan/Raja Majapahit.

Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351. Dari prasasti Singasari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. Nama asli Tribhuwana Wijayatunggadewi (atau disingkat Tribhuwana) adalah Dyah Gitarja. Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dan Gayatri. Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya (Gayatri) tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang meninggal tahun 1328. Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali.  Pada waktu itu sang Ibu, Gayatri menjadi pendeta Buddha.

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.


Ratu Kalinyamat-Jepara

Kanjeng Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono, lahir rabu pahing, bulan Ramadhan 1514. Putri dari Kanjeng Sultan Trenggono, Sultan Demak (1504-1546) dengan Roro Purbayan. Retno Kencono diberi kekuasaan memimpin Jepara pada Tanggal 10 April 1527 dan bergelar TrusKaryo Tataning Bumi karena diberi amanat oleh Fatahilah yang akan pergi menyerang Portugis di Sunda Kelapa yang akhirnya menjadi Sultan disana 22 Juni 1527. Retno Kencono juga resmi disahkan oleh Kanjeng Sultan Trenggono, ayahnya. Sehingga pada 1 Juni 1527 dimulai pembuatan Keraton di Kalinyamatan, Jepara. Pada 12 Agustus 1527 Retno Kencono melantik Pejabat Keratonnya. Tahun 1528 Kanjeng Ratu Kalinyamat pergi ke Cirebon. Disana ia bertemu dengan perempuan yang sangat sakti dengan aliran Tauhid Hakikat ‘’Manunggaling Kawulo Gusti’’. Perempuan asal Aceh keturunan Mesir, yang bernama Nur Hasnah, berjuluk Syekh Siti Jenar, dengan rambut bersanggul di atas kepala dan berkerudung warna kuning Emas banyak disangka sebagai rambut jenggot seorang laki-laki (ini masih dalam berbagai versi).

Di bagian belakang istana Kalinyamat digunakan sebagai tempat berdakwah Kanjeng Syekh Siti Jenar dalam menyebarkan Tauhid Hakikat. Dan Kanjeng Ratu Kalinyamat adalah murid kesayangan Syekh Siti Jenar. Kanjeng Ratu Kalinyamat sangat menyukai kerudung warna merah.

Sebagai seorang yang beraliran Tauhid Hakikat. Kanjeng Ratu Kalinyamat mejadikan Istananya hanya dihuni perempuan. Patih yang bernama Sri Rahayu Anjani. Panglima Perang, Sri Rekso Arum. Juru masak, Sri Anjani Kerto Rahayu. Algojo, Sri Endang Lesmono. Telik Sandi, Rinjani. Dayang Retno Dumilah, Roro Sumangkin. Guru spiritual, Syekh Siti Jenar. Cuma telik Sandi Panji Lanang, satu-satunya pria. Namun kerjanya di luar Gerbang Keraton. Hewan-hewan peliharaan keraton hampir semuanya jantan. Ada harimau tunggangan bernama Penggolo. Burung Garuda Emas, Kera Surya kencono, Tikus Piti, Kidang Kencana, Naga Kencana, Kerang Cangkang Wojo, Keong Buntet, dan ditambah lagi Bunga Kenanga Putih kesukaan Kanjeng Ratu Kalinyamat. Kedelapan hewan dan ditambah satu Bunga Kenanga Putih, dilambangkan dengan adanya Tundan Songo. Tundan Songo saat ini adalah tangga masuk menuju Astana Mantingan.

Keraton Mantingan, di Mantingan

Sultan Trenggono memberikan tanah dan biaya untuk mendirikan Keraton Islam di Mantingan kepada Sunan Hadlirin dan Wali Songo. Sunan Hadlirin juga ditunjuk Sebagai Sultannya. Dan diberi gelar “Sultan Hadlirin”. Persaingan penyebaran Agama sangat ketat antara Wali Songo yang berpadepokan di Kasultanan Mantingan dengan Tauhid Hakikat yang bermarkas di Keraton Kalinyamat. Selama tiga tahun para Wali mendirikan Keraton. Di depan keraton ada pagar yang dihuni 10 ekor Kerbau. Dikandang kerbau juga terdapat genangan air yang disebut Belik yang tidak pernah kering. Sehingga pada masa itu, Keraton Mantingan disebut Keraton Kandang Kerbau. Kanjeng Ratu Kalinyamat penasaran dengan Sultan Hadlirin yang diberi kekuasaan baru oleh ayahnya. Kanjeng Ratu Kalinyamat sering berpura-pura menyerang Kesultanan Mantingan dengan alasan urusan perbedaan agama, agar bisa bertemu dengan Raden Toyib. Setelah bertemu, Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin sama-sama jatuh hati. Setelah Sunan Hadirin menikah dengan Ratu Kalinyamat maka Kesultanan Mantingan dan Kerajaan Kalinyamat melebur menjadi Kesultanan Kalinyamat dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Keraton Astana Mantingan. Abdul Jalil, Kerabat Kanjeng Sunan Hadlirin, dijadikan Telik sandi Keraton Jepara bagian utara. Telik sandi bagian selatan dipercayakan pada seorang permpuan bernama Sanjang yang saat ini Makamnya di desa Petekeyan, Tahunan, Jepara.

Ratu Kalinyamat terkenal tegas tetapi Ratu Kalinyamat memiliki hati yang lembut, karena Ratu Kalinyamat memiliki beberapa hewan peliharaannya. Hewan-hewan peliaraan Keraton Kalinyamat hampir semuanya jantan, yaitu:

Harimau Penggolo (Harimau Tunggangan Ratu Kalinyamat, juga tunggangan Sultan Hadlirin)
Macan Klawuk
Burung Garuda Emas
Kera Surya Kencono
Tikus Piti
Kidang Kencana
Naga Kencana
Kerang Cangkang Wojo
Keong Buntet
Kuda Kencono Putih
Kuda Kencono Wangi
Masa Keemasan

Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai (Rainha de Japara, senhora paderosa e rica) yang berarti Ratu Jepara, seorang perempuan kaya dan sangat berkuasa. Selama 30 tahun kekuasaannya (1549-1579), ia berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya. Meski pada hakikatnya Jepara merupakan bagian dari Kesultanan Demak, tetapi secara de facto Jepara memiliki kekuasaan dan kewibawaan paling tinggi. Pada waktu itu Kesultanan Demak dipimpin oleh Pangeran Pangiri, putra bungsu Sultan Trenggana. Tapi pengaruh Demak tidaklah sehebat pengaruh Jepara. Hal ini disebabkan karena Jepara sangat kuat dalam bidang ekonomi dan militer.

Ratu Kalinyamat berhasil menghidupkan kembali perekonomian Jepara yang telah porak poranda akibat perang saudara yang berkepanjangan. Ia menjadikan pelabuhan Jepara sebagai pelabuhan transit bagi perdagangan nusantara. Saat itu Pelabuhan Jepara sangat ramai oleh pedagang-pedagang dari Ambon yang membawa rempah-rempah. Jepara, Banten, Semarang mernjual beras bagi para pedagang Ambon. Sedangkan Ambon menjadi produsen rempah-rempah bagi seluruh kerajaan di Jawa. Tercatat pedagang-pedagang Aceh, Malaka, Banten, Demak, Semarang, Tegal, Bali, Makassar, Banjarmasin, Tuban dan Gresik turut meramaikan pelabuhan Jepara. Dapat dikatakan Pelabuhan Jepara menjadi tempat transaksi perdagangan berskala internasional. Ratu Kalinyamat pun memungut cukai bagi setiap kapal yang bertransaksi di Pelabuhan Jepara. Hasil perdagangan beras dan cukai tersebut menjadikan Jepara sebagai Kerajaan yang makmur, kaya raya.

Dengan kekayaannya, Ratu Kalinyamat membangun armada Laut yang sangat kuat untuk melindungi kerajaannya yang bercorak maritim. Sebagai Kerajaan Maritim yang bercorak Islam, Kerajaan Jepara sangat dihormati dan disegani oleh kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Kekuatan armada laut Kerajaan Jepara sudah tersohor di seluruh nusantara. Banyak kerajaan-kerajaan lain yang meminta bantuan armada laut Jepara untuk melindungi negerinya. Saat itu Ratu Kalinyamat sangat berpengaruh di Pulau Jawa. Ia adalah Ratu yang memiliki posisi politik yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya raya. Ia menjalin hubungan diplomatik yang sangat baik dengan Kerajaan-kerajaan Maritim Islam lainnya. Jepara menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Johor, Kesultanan Aceh, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Ambon dan Kesultanan Demak.

Ratu Kalinyamat tidak mempunyai anak oleh karena itu kemenakannya, yang dijadikan anak angkat, bernama Pangeran Jepara (anak Sultan Maulana Hasanudin dari Kesultanan Banten), menggantikannya sebagai penguasa Jepara. Pangeran, yang diberitakan pernah berusaha menduduki tahta Banten dan berhasil menduduki Bawean ini, berkuasa sampai tahun 1599. Kekuasaannya berakhir karena pasukan Panembahan Senopati dari Mataram datang menyerbu. Jepara diduduki dan kota Kalinyamat dihancurkan. Tidak ada kabar mengenai nasib keluarga penguasa dan orang-orang penting Jepara waktu itu. Sejak saat itu pula Jepara dipimpin oleh pejabat setingkat bupati yang ditunjuk oleh Kesultanan Mataram.

(Sumber dari variasi Wikipedia yang saya pilih adalah yang telah mencantumkan referensi/sumber utama misalnya teks dari serat atau babad dan arca tertentu).


Nyi Mas Panguragan Alias Ratna Gandasari Alias Nyi Ratu Mas Gandasari

Nyi Ratu Mas Gandasari adalah salah seorang perempuan sakti asal Aceh yang menyebarkan ajaran agama Islam di Cirebon.

Nyimas Gandasari dalam sejarah Cirebon dikenal sebagai murid sunan Gunung Jati yang dikisahkan mewarisi Ilmu Agama dan kedigjayaan dari gurunya, akan tetapi beliau selama hidupnya memilih menjadi prawan sunti, pernah memang suatu ketika Nyimas Gandasari mengadakan sayembara dalam bentuk duel adu kesaktian untuk mencarai Suami, tapi tak ada satupun yang mampu menandinginya.

Kesaktian Nyimas Gandasari sebenarnya bukan tanpa tanding, terbukti dari dikalahkannya Nyimas Gandasari oleh seorang pemuda Gondrong dari Mesir, namun pemuda gondrong tersebut rupanya bukan tipe pria idamannya.

Selain dikenal dengan nama Gandasari, beliau juga dikenal dengan nama Nyimas Panguragan, Panguragan sendiri merupakan nama Desa/padukuhan dimana beliau tinggal. Panguragan juga merupakan wilayah kekuasaannya yang dihadiahkan oleh Sultan Cirebon atas jasa-jasanya. Sementara dalam sejarah Indramayu, Nyimas Gandasari dipercayai juga sebagai Nyi Endang Darma, Salah satu pendiri Indramayu.

Nyimas Gandasari selama hidupnya pernah menjadi Panglima Perang Kerajaan Cirebon, ia merupakan satu-satunya panglima perang perempuan dalam sejarah berdirinya Kerajaan Cirebon, jasanya yang paling menonjol bagi kedigjayaan Cirebon adalah keberhasilannya membobol benteng pertahanan Kerajaan Sunda Galuh. Sehingga berkat jasanya itu Cirebon kemudian dapat menaklukan Galuh.

Kuat dugaan, Nyimas Gandari dihadiahi wilayah kekuasaan yang sekarang dikenal dengan desa Panguragan itu setelah keberhasilannya menaklukan Galuh. Hari ini makam atau kuburan Nyimas Gandasari dapat ditemui di desa Panguragan Kab Cirebon. Makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di wilayah Cirebon.

Hingga akhir hayatnya, Nyimas Gandaswari dikisahkan tidak memiliki suami, oleh karena itu hingga hari ini beliau tidak mempunyai keturunan. Begitulah memang pilihan hidup Nyimas Gandasari lebih nyaman menjadi seorang Prawan Sunti. (sumber: https://www.historyofcirebon.id/2018/06/nyimas-gandasari-prawan-sunti-nan-sakti.html).

Prawan Sunti ini istilah yang ada di Gua Meditasi Sunan Gunung Jati Cirebon (Gua Sunyaragi), yang mitosnya melarang anak perawan menyentuh gua tersebut karena takut tidak laku. Padahal, justru Prawan Sunti adalah wujud kesaktian seorang Ksatria Perempuan Nyimas Gandaswari.

Dalam Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon yang disusun oleh Sulendraningrat tahun 1984, Sunan Gunung Jati berkata kepada Nyi Mas Gandasari, “Walaupun engkau adalah perempuan, tetapi engkau adalah menjadi Prajurit Awilya (hal. 60). Nyi Mas alias Ratna Gandasari tidak mau bersuami kecuali pada yang lebih sakti, tetapi itupun Nyi Mas Gandasari akhirnya memilih untuk tidak menikah.

Penutup

Kisah-kisah perempuan-perempuan berpengaruh di Nusantara di atas sering tidak terlihat karena tidak terangkat, padahal dalam teks-teks babad, serat, ataupu prasasti seringkali dikisahkan. Melalui kisah-kisah tersebut, kita dapat melakukan analisis sosial/budaya/politik melalui teori-teori feminis, sehingga kita dapat melahirkan catatan baru tentang feminis Indonesia yang berangkat dari sejarah masa lalu. Sebab teori-teori feminis bukan semata-mata ideologi melainkan juga perangkat analisis yang dapat menemukan hal yang baru dalam narasi-narasi pengetahuan perempuan. Dalam sejarah-sejarah Nusantara, pengaruh berbagai penyebaran agama menjadi sangat kontekstual diantaranya Hindu-Budha, Penghayat, dan juga Islam, sangat kental dengan kehadiran tokoh-tokoh perempuan.

Kisah Gayatri, Tribhuwana Tunggadewi, Ratu Kalinyamat, Nyi Mas Panguragan, adalah tiga tokoh yang bisa ditemukan yang saya yakin masih banyak teks-teks lain yang bisa kita ungkapkan disini. Ketiga tokoh yang saya angkat tersebut, menunjukkan bahwa: kepahlawanan perempuan sangat mungkin diantara kesulitan mereka diantara Raja-Raja pria, bahkan dari para Wali dan Sunan, yang diantaranya saya beri contoh yang paling ringan: mempertanyakan status perkawinan, tetapi pada akhirnya hal itu menjadi tidak masalah. Ratu Kalinyamat sendiri telah menentukan pilihannya kepada Sultan Hadlirin tanpa ada yang memerintahnya. Sementara Tribhuwana Tunggadewi memimpin dengan didampingi suami, juga menjadi hal yang tidak masalah atau hal yang menjadi mungkin. Teks-teks inilah yang menjadi kepentingan analisis feminis untuk memberikan segala jawaban kesulitan/keterkungkungan perempuan dari budaya patriarkhi, yang memungkinkan mereka mendapatkan daya juang dan keluar dari kesulitan hidupnya melalui sejarah leluhurnya.

Ketiga tokoh tersebut juga menunjukkan bagaimana pengaruh masuknya Hindu-Budha dan Islam dalam perkembangan sejarah Nusantara, yang sangat berbeda dengan ajaran-ajaran agama di negara lain, dalam hal ini saya katakan, tidak dapat lepas dari akulturasi budaya Nusantara sebelum ajaran-ajaran tersebut datang.

*Mariana Amiruddin: Penulis, lulusan Magister Humaniora Kajian Gender Universitas Indonesia.




Kebebasan Pers ditengah Gaduh Warga Intenet



Oleh: Mariana Amiruddin

Bangsa ini telah mengalami beberapa periode politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan kebebasan pers. Pada masa awal, pers dijadikan media untuk melawan penjajahan, memberontak untuk meraih kemerdekaan, atau mencari definisi yang ideal tentang apa yang disebut bangsa Indonesia. Pada masa Soekarno di era Demokrasi Terpimpin, dengan munculnya PRRI/Permesta, pers mulai dibungkam terutama bagi yang menentang pemerintah. Di masa Soeharto jauh lebih otoriter dan sistematis, seluruh pers dibawah kendali penguasa. Tidak sedikit jurnalis yang dianggap membangkang melalui liputannya, investigasinya, mengalami  pembredelan, atau bahkan pelanggaran HAM, ancaman, penghilangan paksa, teror dan pembunuhan.
Sementara itu di era reformasi, pers seperti “kuda lepas”, tak ada yang dapat mengendalikan, dan menjadi persoalan baru. Banyak kasus gugat menggugat pencemaran nama baik, dan lain sebagainya. Pada era ini, pers tidak lagi dikendalikan oleh pemerintah melainkan adanya gagasan tentang pentingnya Lembaga pers yang dapat mengelola/membangun arah kebebasan pers. Lembaga-lembaga pers ini juga menekankan tentang pentingnya prinsip kode etik pers, sehingga kebebasan pers menjadi dapat dipertanggunggjawabkan. Pelatihan demi pelatihan tentang prinsip-prinsip jurnalisme serta tanggungjawab pada kualitas dilakukan. Tidak sedikit pers yang kemudian menjadi agen-agen perubahan sosial di masa ini yang masih bernafas reformasi. Stasiun televisi, surat kabar, berkembang pesat dan jumlahnya semakin banyak. Media atau pers menjadi Raja informasi dan masyarakat yang kehausan dengan senang hati menerimanya.

Era milenial lain lagi. Pertumbuhan jaringan internet, dan ponsel mengubah wajah kebebasan apapun, termasuk pers. Kebebasan terletak di tangan individu. Setiap orang dapat menyatakan pendapatnya melalui sosial media. Warga internet sudah hampir separuh dari penduduk di Indonesia dan menjadi masyarakat yang dominan dalam menyampaikan opini dan wacana. Jurnalisme warga yang mulai tumbuh di masa reformasi, menjadi semakin liar di masa sosial media, setiap netizen (warga internet) dapat membuat medianya sendiri dan menyebarkannya melalui jaringan sosial media, yang kemudian direproduksi dengan sangat cepat penyebarannya. Tidak ada pengendalian sama sekali sehingga tanggungjawab atas kebenaran dan kesalahan tidak jelas bagaimana mekanismenya.

Pemilu Presiden 2014 hingga kini, menunjukkan wajah keliaran itu, kuda liar itu tidak lagi ditunggangi pers, tetapi semua orang. Era pilpres tahun 2014 masyarakat terbelah menjadi dua pendukung yang vis a vis dan sangat agresif, mereka berpartisipasi penuh dalam memberikan opini terhadap kepemimpinan baru dalam pemilihan umum. Televisi terpecah pula menjadi dua, sebagaimana rakyatnya. Dukung mendukung, tolak menolak terjadi dimana-mana. Pers yang memiliki profesionalitas jurnalisme itu bahkan mulai ditinggalkan. Media-media lebih mencari tampilan, kemasan, yang dapat menarik perhatian daripada kualitas. Seperti para sales yang menjual produk, yang paling penting adalah salesnya yang harus tampil menarik, bukan produknya. Televisi berlomba-lomba menyajikan kemasan-kemasan memikat bahkan sampai keluar dari konteks jurnalisme itu sendiri. Beramai-ramai dibuatlah talkshow yang berisi debat kusir seperti ring tinju, dan setiap narasumber perlu memiliki keahlian bersilat lidah, dengan suara keras sekalipun. Moderator juga tidak kalah bersuara keras dalam menentukan waktu.  Televisi menjadi terdengar gaduh. Visualisasi dan audio lebih penting daripada substansi.

Perusahaan-perusahaan media kemudian dikuasai oleh para politisi dan pengusaha. Bila dulu media adalah alat pengkritik, kini menjadi perpanjangan tangan. Para politisi bebas lepas berkampanye tanpa harus membayar slot. Produk-produk media pendukung kampanye dibuat seolah-oleh berita/jurnalisme sesungguhnya, padahal itu semacam advetorial belaka.

Surat kabar, majalah, semua yang berbentuk cetak perlahan-lahan ditinggalkan. Tahun 2018 kini, bahkan semua tertuju pada online. Kecepatan menyajikan berita bahkan perlu melebihi kecepatan pikiran manusia. Kecepatan ini untuk memenuhi persaingan industri, sehingga membuat orang-orang tidak sempat lagi berpikir. Saya ingin mengatakan bahwa orang-orang tidak lagi mau berpikir. Situasi ini membuat pers kewalahan. Zaman sudah berubah, prinsip-prinsip jurnalisme mulai gulung tikar. Siapa lagi yang mau membaca? Kecuali membaca ocehan-ocehan sosial media baik facebook, twitter, maupun Instagram. Semua adalah ocehan bukan bacaan. Semua orang ingin berbicara, terserah benar atau salah. Hoax menjadi tema yang paling ribut di era ini. Semua saling menuding, tetapi memang demikian, tidak ada lagi alat yang bisa mengukur hoax atau bukan. Bahkan sampai pada persoalan-persoalan pribadi. Foto telanjang, perselingkuhan tokoh ini dan itu, entah benar atau tidak, tidak ada yang bisa melakukan verifikasi, dan monster viral yang menentukan keluasan penyebaran itu dalam arti lain keluasan bergosip tak perlu lagi mana yang benar dan salah, apalagi klarifikasi.  Ujaran kebencian kemudian menjamur dimana-mana, sampai tidak sedikit pengguna sosial media yang mengalami depresi, persekusi, dilaporkan dan melaporkan, karena hari-harinya hanya diisi oleh berita-berita kebencian itu.
Lalu dimana posisi pers saat ini? Siapa lagi yang harus dibela dan dilawan? Jurnalisme warga bertumbuh subur sudah melebihi dari jurnalisme yang sebenarnya. Budaya kebebasan berekspresi sudah melampaui apa yang kita perkirakan di zaman-zaman sebelumnya. Perubahan terjadi begitu cepat. Kecepatannya melebihi dari kemampuan manusia itu sendiri. Gaduh dan gelisah dimana-mana dan setiap orang memegang ponsel yang artinya memiliki akses media apapun.

Inilah refleksi saya soal kebebasan dan pers, dan kebebasan pers. Sampai hari ini, saya bahkan tidak tahu bagaimana menentukan langkah, ini pekerjaan besar bagi kita semua. Mungkin mulai saat ini, itulah yang perlu kita kerjakan.

Jakarta, 30 Agustus 2018


Minggu, 11 Maret 2018

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual adalah Kebutuhan Korban




Oleh: Mariana Amiruddin*

Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat mempertanyakan mengapa sebuah rancangan Undang-Undang dinamakan Kekerasan Seksual; ia kemudian membuat pernyataan bercanda “Apa karena perempuan suka yang keras-keras?” Kekerasan diartikan sebagai sesuatu hard bukan sebagai violence. Sesuatu yang mengarah pada pikiran porno. Istilah “kekerasan” entah mengapa masih asing di telinganya, bahkan tidak hanya itu, ditambahkan pula oleh sebuah organisasi yang mengkritik istilah tersebut dengan menyatakan bahwa RUU Kekerasan Seksual tersebut adalah “pemikiran feminis yang kebarat-baratan, dan sekuler”, yang kemudian tersebar di berbagai kelompok, dan menjadi terbangun “kebenaran kolektif” diantara mereka, tanpa ada ruang untuk dialog dan verifikasi sama sekali atas pandangan tersebut.

Tulisan ini ingin meluruskan kembali (yang seharusnya ini sudah selesai) pernyataan “miring” tersebut yang dapat menghambat upaya perempuan dalam perjuangan UU yang berpihak pada korban. Perjuangan bagi keadilan korban yang sangat mungkin menjadi kendur dan bahkan mundur ke belakang akibat pernyataan-pernyataan “miring” tersebut.

Hukum dan Perlindungan Perempuan: Ranah Pribadi yang Tak Terlihat

Wilayah hukum secara umum masih mengatur ruang-ruang publik. Sementara persoalan khas perempuan, kebanyakan bukan di wilayah umum, melainkan di wilayah pribadi, privat atau personal. Kasus di wilayah pribadi bukanlah hal yang mudah untuk mencari pembelaan apalagi keadilan. Oleh karena itu diperlukan UU yang dapat memenuhi konteks ruang-ruang pribadi tersebut, terutama untuk melindungi perempuan yang secara umum menjadi korban. Perempuan sebagai subyek hukum yang diperlakukan tidak adil di wilayah pribadi, maka diperlukan hukum yang memahami hak-hak pribadi seseorang dan tidak menjadi konsumsi publik, menjaga kerahasiaan, serta sensitif. Hal lainnya adalah perlu memiliki perspektif perempuan, membayangkan bagaimana kita semua berada di posisi korban, yang kebanyakan perempuan, terutama seksualitasnya.
Data Komnas Perempuan menemukan bahwa kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di wilayah-wilayah pribadi, pada puncaknya bahkan mengancam nyawa perempuan. Berita-berita kriminal sering menyajikan bagaimana mayat perempuan ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, dan ternyata pembunuhan terhadap mereka dilatarbelakangi oleh kekerasan di wilayah pribadi, bahkan tidak sedikit dari mereka terlebih dahulu dianiaya secara seksual. Komnas Perempuan menyebutnya sebagai femicide atau femisida. Femicide adalah penghilangan nyawa  perempuan yang berhubungan dengan identitas gendernya (Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2017). Femicide adalah puncak dari kekerasan terhadap perempuan yang berakhir pada hilangnya nyawa perempuan.
Komnas Perempuan mencatat bahwa kasus femicide sangat minim terlaporkan, karena korbannya dianggap sudah meninggal, padahal hak asasi seseorang atas martabat, hak kebenaran, dan sebagainya, tidak berhenti dengan hilangnya nyawa.  Kasus femicide cenderung dianggap kriminalitas biasa yang ditangani polisi, yang lebih fokus untuk mencari pelaku, dan tidak dilihat sebagai kekerasan berbasis gender. Femicide terjadi karena kuatnya kuasa patriarkhi, dan pelaku “lagi-lagi” adalah orang-orang dekat.

Pola-pola femicide yang didapat oleh Komnas Perempuan dari data terlaporkan baik langsung,  tertulis, melalui media maupun mitra lembaga pendampping, menunjukkan bahwa femicide disebabkan oleh kekerasan seksual dengan atau berakhir pembunuhan, ketersinggungan maskulinitas seksual laki-laki, kecemburuan, kawin siri yang tidak ingin terbongkar, menghindar tanggungjawab karena menghamili, prostitusi terselubung, dan kekerasan dalam pacaran. Pelaku adalah orang-orang yang dikenal, orang dekat, baik pacar, kawan kencan, suami, pelanggan. Pola femicide-nya sangat sadis dan tidak masuk akal, mulai dari korban dimasukkan dalam koper, dibuang di bawah tol, di kost atau hotel dengan kondisi jenazah dihukum secara seksual, dibunuh dalam keadaan hamil, dibuang ke lumpur, jurang, dimutilasi dan lain sebagainya.

Pelapor khusus PBB untuk Violance Against Woman, Dubracka Simonovic, pada tahun 2015, telah menyerukan kepada dunia  agar setiap negara membuat femicide watch atau gender related killing of women watch, dan meminta agar data-data tersebut harus diumumkan setiap tanggal 25 November pada hari anti kekerasan terhadap perempuan. 

Hukum Berperspektif Feminis Adalah Berpihak Pada Korban

Beberapa kali Komnas Perempuan dipertanyakan soal pandangan hukumnya yang dianggap mengadopsi feminisme, dan telah disimpulkan dengan simplistik sebagai aliran Barat yang sekuler. Pemahaman tentang hukum feminis sebetulnya berangkat dari sebuah “pemikiran serius” atas apa yang terjadi pada korban kekerasan seksual yang hampir tidak mungkin tertolong dan dengan jumlah yang sangat banyak. Hukum feminis mempelajari posisi korban dan membangun kerangka hukum dari posisi korban sehingga mereka dapat mengaksesnya tanpa terlukai untuk kesekian kalinya.  Bahasa hukum selama ini sangat tidak sensitif terhadap korban, akibatnya kekerasan yang dialami perempuan tidak dapat ditanggapi. Sebaliknya, pelaku kekerasan seksual mempunyai perangkat bahasa hukum yang dapat melindunginya, yaitu bahasa pembuktian misalnya seperti kata-kata “buktikan bahwa saya yang benar-benar melakukan (kekerasan seksual).” (MacKinnon dalam Jurnal Perempuan edisi 26). Contohnya seperti yang digambarkan oleh Catharine MacKinnon seorang feminis yang memperjuangkan hak-hak perempuan di wilayah hukum terutama dalam hal kekerasan seksual. “Ketika perempuan memakai bahasa-bahasa kekerasan seksual di dalam persidangan, maka apa yang terjadi? Anda diperlakukan seperti anda tidak menjadi bagian dari seluruh bahasa persidangan, dan anda merasa seperti telah membuka celana dalam anda di depan publik. Sedangkan dia (si pelaku) tidak. Padahal dia juga memakai bahasa-bahasanya sendiri tapi entah mengapa bahasanya dapat dimengerti dan tidak meninggalkan bekas. Sedangkan si perempuan meninggalkan bekas perasaan yang menjijikan, tidak suci lagi, kotor dan bekas bahasa ini terus melekat dan rasa kasihan bermunculan tapi tetap diragukan, benarkah itu terjadi?”

Artinya bahwa ketika perempuan membela dirinya dalam persidangan sebagai korban kekerasan seksual, hadirin di persidangan melihatnya sebagai sebuah “cerita seks” bahkan “adegan seks”, bukan tentang menusia yang diperlakukan tidak adil. Dalam konteks Indonesia, bahkan belum sampai di persidangan ketika ditanya oleh polisi untuk keperluan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pertanyaan-pertanyaan umum yang keluar bisa jadi adalah “bagaimana baju anda dirobek dan tali behanya copot? Kantor Polisi dan persidangan menjadi ajang drama porno dengan tokoh utama korban, dan penikmatnya adalah pendengar atau penonton yang berpikir porno.

Selain itu, definisi Hak Asasi Manusia (HAM) masih belum memperhatikan kebutuhan-kebutuhan perempuan korban. Seperti yang dinyatakan MacKinnon bahwa pelanggaran hak asasi perempuan korban adalah apa yang tidak pernah atau jarang terjadi pada pria. Bahwa kekerasan yang dialami perempuan lebih banyak berbasis seksual dan reproduktif sifatnya, seperti dalam bentuk eksploitasi seksual hingga pembunuhan, penyiksaan seksual, mutilasi, yang sangat berkaitan dengan pelanggaran HAM atau bukan kriminal biasa. Pernyataan MacKinnon ini ternyata benar dan terjadi saat Komnas Perempuan menerima laporan langsung maupun tidak langsung dari korban dan melihat pola umum di media. Kekerasan terhadap perempuan sering luput dari isu-isu HAM di jaringan penggiat HAM, yang lagi-lagi karena terbatas pada persoalan pembuktian, jurisdiksi, substantif, kebiasaan, dan selalu ada saja salahnya. 

MacKinnon kembali menyatakan,“Ketiadaan perempuan sebagai wacana yang penting dalam HAM, mendefinisikan HAM sesungguhnya yakni tidak mengakui prinsip-prinsip HAM dimana tidak memberikan diskusi pada kekerasan yang terjadi secara sistematis serta mengakui harga diri, integritas dan keamanan kehidupan dari setengah penduduk dunia yang ada (perempuan).”

Demikianlah feminis melihat dan menemukan fakta-fakta melalui para pendamping korban kekerasan seksual, yang sesungguhnya telah terjadi di seluruh dunia dan karena itu menjadi wilayah penting dalam HAM.

Kekerasan Seksual dalam Konteks Indonesia
Temuan Komnas Perempuan menunjukkan data bahwa satu dari 3 perempuan mengalami kekerasan seksual (yang terlaporkan), dan pelakunya rata-rata adalah laki-laki baik dari unsur keluarga, orang terdekat, maupun umum. Baik pelaku maupun korban tidak melihat status sosial ekonomi, maupun pendidikan. Korban perempuan yang mengalami kekerasan seksual biasanya tidak berani mengadu, melaporkan, ataupun membela diri, karena takut mengalami stigma dan prasangka yang buruk terhadap dirinya, dan karena itu perempuan mengalami berulang kali kekerasan (reproduksi kekerasan) dari berbagai aspek kehidupan. Tidak sedikit dari korban yang lalu memutuskan untuk bunuh diri, atau dibunuh (femicide). Setiap perempuan tanpa kenal kelas sosial, suku, usia, maupun agama akan berisiko menjadi korban.

Perempuan korban kekerasan seksual akan mengalami beberapa hal dalam dirinya yaitu a) kehilangan ingatan pada peristiwa yang dialaminya, b) kehilangan kemampuan bahasa, c) gangguan kejiwaan, d) rasa takut yang luar biasa, e) keinginan untuk melupakan dengan tidak membicarakan peristiwa yang melukainya itu. Kelima hal tersebut membuat korban tidak mampu atau tidak bersedia untuk melaporkan kasusnya.

Selain itu adalah faktor sosial budaya. Masyarakat yang menempatkan seksualitas sebagai yang tabu dan aib, cenderung menyalahkan korban, bahkan meragukan kesaksian korban, dianggap sial dan karma, membuat korban menjadi semakin bungkam. Tidak sedikit korban dikucilkan, bahkan diusir dair lingkungannya, atau dikawinkan paksa dengan pelakunya.
Hal berikutnya adalah faktor hukum yaitu  a) substansi, b) struktur dan c) budaya hukum. Dalam aspek substansi, berbagai jenis kekerasan seksual belum dikenali oleh hukum Indonesia, bahkan belum ada pengakuan secara utuh tentang tindak kekerasan seksual. Hukum Indonesia hanya mengakomodir tindak pemaksaan hubungan seksual dalam bentuk penetrasi penis ke vagina dan dengan bukti-bukti kekerasan fisik akibat penetrasi, dan hanya menganggap bahwa kekerasan seksual hanyalah soal serangan terhadap moral (asusila) yang akhirnya justru meragukan dan menyalahkan korban seperti pertanyaan tentang “memakai baju apa”, “sedang berada dimana”, “dengan siapa dan jam berapa” yang dilontarkan oleh  aparat penegak hukum ketika menerima laporan tentang kasus kekerasan seksual. Selain itu tidak ada perlindungan saksi maupun korban sehingga korban seringkali khawatir pelaku akan balas dendam. Perempuan korban biasanya kehilangan kepercayaan terhadap proses hukum yang adil, yang bisa dipercaya dan melindunginya.
Misalnya, bahkan di ruang publik, perempuan rentan mengalami kekerasan seksual saat jalanan atau gang yang sepi. Seperti kasus di Jatinegara dimana korban dikejar dari belakang, dipeluk secara paksa sampai terjatuh dan terjadi pemaksaan seksual. Bagaimana membuktikannya? Kamera CCTV  bahkan tidak cukup sebagai bukti, dan pelaku hanya dikenakan wajib melapor, sementara korban masih dalam kondisi yang trauma dan belum terpulihkan.

Seluruh uraian di atas adalah menjadi refleksi dan representasi bagaimana substansi kekerasan seksual dibangun berdasarkan disain yang mengacu pada fakta-fakta, laporan-laporan para pendamping, serta kisah-kisah korban yang melapor.

RUU Kekerasan Seksual dan Substansi yang Rentan Dibelokkan

Kembali pada persoalan komentar substansi dan istilah kekerasan seksual yang dipertanyakan dan dianggap sebagai kebarat-baratan tadi, sangatlah tidak relevan. Uraian di atas adalah konsep yang berangkat dan dilahirkan dari tuntutan, keterlibatan, fakta-fakta, dan pengalaman korban, yang kemudian membangun pasal-pasal yang ada di dalamnya. Pernyataan tentang feminis kebarat-baratan dan sekular tadi akan sangat mudah mementahkan kerja keras semua perempuan yang menjadi ahli dan terlibat di dalamnya, hanya karena pemahaman yang tidak selesai dan ahistoris dalam jejak perjuangan membela korban kekerasan seksual. Oleh karena itu alangkah baiknya dalam memahami sebuah gagasan tentang perlindungan perempuan, dengan cara melakukan konfirmasi, verifikasi pada pihak penggagasnya, sebelum pada asumsi politik kebijakan. Jangan sampai yang telah sungguh-sungguh memberikan perlindungan dan keadilan bagi korban, malah menjadi sebaliknya.

*Mariana Amiruddin, Magister Humaniora Women Studies, Universitas Indonesia, Dewan Redaksi Jurnal Perempuan dan Komisioner Komnas Perempuan.

Senin, 12 Februari 2018

The Second Sex Psikoanalisa: ANATOMI Adalah (Bukan) Takdir

Oleh: Mariana Amiruddin
Pada bagian kedua buku The Second Sex dalam bab tentang Takdir, Beauvoir memperhatikan bahwa kondisi perempuan bukan semata-mata biologinya, melainkan seluruh pengalamannya.
Perempuan adalah seorang perempuan pada tingkatan ketika ia merasakan dirinya yang nyata dan memiliki pengalaman.
Ia mengatakan, bukan alam yang mendefinisikan perempuan, tetapi dirinya sendiri, -- dengan mengaitkan alam dan lingkungan atas dasar pertimbangannya sendiri, dalam kehidupan emosionalnya.
Pada bagian psikoanalisis ini Beauvoir mengkritik Freud dan sintesis dari Adler serta para psikoanalis lainnya yang menjadi Freudian dan Adlerian. Freud mengatakan anatomy is destiny (anatomi adalah takdir) – ia menegaskan, Freud tidak pernah peduli dengan takdir perempuan (anatomi perempuan). Freud mengadaptasi pendapatnya terhadap takdir perempuan dari sudut pandang takdir laki-laki, dengan sedikit modifikasi. Freud memang tidak se-ekstrim seksolog Maranon yang mengatakan “libido merupakan kekuatan dari sifat jantan, hal yang sama mengenai orgasme”, dan menyebut perempuan yang mencapai orgasme berarti adalah perempuan yang kejantan-jantanan, dan perempuan hanya menempuh setengah jalan dalam mencapainya. Freud memang tidak seperti Maranon seksolog itu, ia menganggap hasrat seksual laki-laki dan perempuan sama, tetapi sayangnya Freud tidak pernah mempelajari kesamaan itu secara khusus. Freud ambigu, ia tetap mengatakan “lelaki adalah pemilik libido”, meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama memilikinya. Freud tidak mengakui adanya libido feminin dengan sifat alaminya, sebab menurutnya tampak menyimpang dari libido manusia secara umum.
Oedipus dan Electra Complex: Bukan Pelarian atas Alienasi melainkan Pencarian Diri
Freud menjelaskannya dalam tahapan fase oral pada bayi, dan fasa anal dan genital pada kanak-kanak yang kemudian dikritik Beauvoir. Fase oral: bayi laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami perasaan nyaman dalam pelukan payudara sang ibu. Fase anal dan fase genital kemudian membedakan libido laki-laki dan perempuan. Erotisme maskulin tepatnya pada penis, sementara perempuan tepatnya pada klitoris pada masa kanak-kanak dan pada masa pubertas pada vagina. Anak laki-laki memiliki fase genital evolusinya yang langsung sempurna, bersifat subjektif, dan mengalami heteroerotik yang memerlukan obyek, dan umumnya obyeknya adalah perempuan. Sementara fase perempuan memerlukan dua tahapan dan jauh lebih kompleks, klitoral terlebih dahulu, dan kemudian vaginal. Freud mengatakan bahwa laki-laki mendapatkan kenikmatan hanya dalam satu tingkatan yaitu penis, sementara perempuan memerlukan dua tahapan, yaitu klitoral dan vaginal. Dua tahapan perempuan dalam mencapai kenikmatan disebut Freud sebagai kegagalan evolusi seksual, dan karena itu membuat perempuan menjadi neurosis.
Teori freud menyampaikan perbedaan pembentukan superego pada anak perempuan dan anak laki-laki dalam narasi Oedipus dan Electra Complex, Oedipus menceritakan begitu cintanya si anak lelaki pada ibunya dan ketakutan dikastrasi penisnya oleh Ayah yang memiliki otoritas dalam keluarga. Sementara sang gadis kecil awalnya begitu mencintai ibunya, tetapi begitu melihat sang ayah ia mencoba mengidentifikasi tetapi tidak sama, padahal ia begitu mencintainya Ayah. Kecintaannya pada Ayah adalah pelarian dirinya karena tidak memiliki penis (ia merasa perempuan adalah laki-laki yang termutilasi), dan dari narasi erotisme pada sang Ayah inilah superego perempuan terbentuk menjadi “kejantan-jantanan” agar sama dengan Ayahnya yang menandai inferioritas dirinya. Fase ini dianggap hanya sampai fase klitoral, gagal pada fase vaginal (kesempurnaan). Ketika dewasa perempuan mengambil eksistensinya dari orang lain (laki-laki), dan bila memilih kekasih atau suami cenderung yang mirip dengan Ayahnya adalah suatu simbol kastrasi.
Di sisi lain, Beauvoir menjelaskan teori Freud yang menggambarkan anak laki-laki memperoleh pengalaman hidup yang menjadikan penis sebagai obyek kebanggaan dirinya; batang daging kecil lemah yang dalam tubuhnya dapat menginspirasi mereka, membuat laki-laki merasa eksis dan menimbulkan kecemburuan si gadis kecil (penis envy). Beauvoir lalu mengkritik, bila Freud begitu panjang lebar menjelaskan anak laki-laki dengan penisnya dalam Oedipus Complex, Freud tidak memiliki konsep yang jelas dalam Elctra kompleks, karena tidak didukung oleh deskripsi dasar tentang libido feminin.
Bagi Beauvoir, kekuasaan (otoritas sang Ayah) merupakan kenyataan asal-usul sosial, yang seharusnya dipertimbangkan oleh Freud, -- dalam sejarah budaya manusia sang ayah harus didahulukan daripada sang ibu. Freud menolak bahwa itu adalah otoritas patriarkal, menurutnya itu memang sudah menjadi beban sang Ayah.
Intinya bahwa Freud melihat bahwa semua perilaku manusia berangkat dari birahi (dorongan seksual) atau upaya mencari kenikmatan, tetapi Adler, psikoanalis yang mendebatnya mengatakan bahwa perilaku manusia berangkat dari motif untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, bukan dari dorongan seksual. Adler menggarisbawahi bahwa perilaku manusia berangkat dari motif, kehendak, dan tujuan, dan berawal dari kecerdasan, sementara seksualitas hanyalah sesuatu yang simbolik. Deskripsi Adler tentang kehendak adalah keinginan untuk berkuasa yang disertai dengan inferioritas complex, dan sang individu akan melakukan banyak tipu daya dalam suatu “pelarian dari realitas” Adler melihat bahwa bila si gadis kecil iri pada penis, itu hanyalah simbol hak-hak istimewa yang dinikmati anak laki-laki: superioritas ayah dalam keluarga dan laki-laki secara umum, adalah tentang superioritas maskulin. Dan ketika berhubungan seksual, perempuan mendapatkan posisi dibawah laki-laki. Karena itu perempuan melakukan “protes maskulin” dengan cara berusaha keras memaskulinkan dirinya, atau bahkan ia bertarung dengan dirinya sendiri jauh lebih mendalam ketimbang bertarung dengan laki-laki.
Deskripsi Beauvoir bahwa laki-laki dapat menggabungkan individualitas subjektifnya dengan kehidupan yang mengalir darinya: tentang panjangnya penis, daya pancur air seni mereka, kekuatan ereksi dan ejakulasi bagi laki-laki adalah harga dirinya, yang adalah alter egonya. Sementara si gadis kecil tidak memiliki alter ego, dan membentuk dirinya menjadi “Yang Lain”. Bagi Beauvoir, phallus disini bukanlah takdir seperti yang dikatakan Freud, melainkan mengemban nilai, simbol dominasi. Ia menyimpulkan bahwa para psikoanalis gagal menjelaskan mengapa perempuan adalah “Yang Lain”. Para psikoanalis bahkan tidak mempelajarinya secara langsung, mereka hanya bertitik tolak pada libido laki-laki.
Beauvoir kemudian mengajukan takdir feminin dengan cara yang berbeda, yaitu menempatkan perempuan dalam dunia nilai, dan perilakunya sebagai suatu dimensi kebebasan. Ia menyampaikan, jelas bagi perempuan, berperan sebagai laki-laki akan menjadi sumber frustrasi baginya; namun berperan sebagai perempuan juga suatu delusi: menjadi perempuan berarti menjadi obyek, menjadi Yang Lain.
Atas situasi tersebut masalah perempuan adalah, menolak pelarian dari realitas dan justru berusaha mencari pemenuhan diri sendiri dalam transendensi. Ia kemudian mengkritik bagaimana baik psikoanalis laki-laki maupun perempuan tidak melihat dari titik tolak tersebut: laki-laki didefinisikan sebagai manusia, dan perempuan sebagai betina—kapanpun perempuan berpirlaku sebagai manusia, ia dikatakan meniru laki-laki.
Beauvoir melihat psikoanalisa dari titik tolak pengalaman perempuan, libido feminin, seharusnya didefinisikan sebagai sosok manusia yang tengah mencari nilai-nilai di dunia, yang mempelajari perempuan dalam sebuah perspektif eksistensial.


Sabtu, 10 Februari 2018

Feminis dan Ajang Perburuan Patriarkhi


 Oleh Mariana Amiruddin

Para lelaki patriarkh memburu para feminis seperti memburu penyihir, karena menurut mereka, feminis itu bukan perempuan yang bisa mereka miliki, kuasai. Feminis itu perempuan sombong, karena terlalu kuat dan pintar. Para patriarch rata-rata tidak menyukai perempuan kuat dan pintar. Tetapi mereka penasaran untuk hal itu. Menurut mereka, tidak mungkin ada perempuan kuat dan pintar. Perempuan itu seharusnya bodoh dan patuh. Dalam hal lain, mereka juga tahu bahwa “kelemahan feminis adalah sering ditolak lingkungan sosialnya: perempuan kuat, pintar dan berpendirian itu tidak boleh hidup di budaya mereka. Mereka mudah depresi, dilemma, dan limbung, apalagi soal perasaan. Kelemahannya adalah pada perasaan.” Tetapi kebanyakan feminis bisa mengatasinya, karena mereka dilahirkan kuat karena keseimbangan antara perasaan dan pikiran, sehingga dapat menghadapi kesulitan apapun dengan dingin. Mereka dibentuk menjadi warrior dan memiliki spiritualitas tinggi.

Karena kelebihannya itulah feminis disamakan dengan penyihir; terlalu kuat, pintar, percaya diri, yang bagi patriarkhi itu adalah hal yang ajaib dan berbahaya, karena membuat patriarkhi menjadi pecundang dan merasa tidak berguna!  Demi hasrat memburunya, para partriakh diam-diam memiliki visi untuk mencengkeram feminis. Mereka punya ilusi untuk menyergap dan menundukkan feminis seperti binatang buruan! Menurut mereka feminis tidak mau menikah dan menolak laki-laki. Feminis tidak mudah ditundukkan, tidak bisa dikontrol dan tidak bisa patuh! Mereka kemudian salah kaprah, melihat bahwa feminis itu suka seks bebas bisa tidur dengan siapa saja dan tidak perlu komitmen. Artinya, mereka pikir feminis bisa dimanfaatkan. Caranya, bila perlu, mereka berpura-pura menjadi aktivis kemanusiaan. Atau jadi aktivis keagamaan. Mereka melakukan uji coba, mereka sentuh perasaannya, memaksa memacarinya, menidurinya, kalau bisa membuatnya hamil, lalu segera menghancurkannya! Karena feminis tidak suka cara-cara fisik, mereka secara halus menggunakan cara-cara psikis untuk menundukkan perasaannya terlebih dahulu, untuk kemudian perlahan kepada fisik atau bahkan seluruh hidupnya. Bahkan kalau bisa menghisap energinya, kekuatannya, mengeksploitasi harta bendanya.

Celakanya, rata-rata upaya mereka tidak berhasil. Dan kalau sudah tidak berhasil, apa yang terjadi? Mereka mengamuk. Tapi malu untuk melawan feminis secara langsung karena itu akan menjatuhkan kewibawaannya (dalam arti lain, pengecut). Mereka lalu punya siasat lain, caranya mereka memakai perempuan-perempuan yang memuja laki-laki sampai buta pikiran. Mereka diganggu dengan mengatakan bahwa  feminis itu pezina, pelakor, penyihir atau dukun santet, tukang aborsi dan bersetubuh dengan sesama jenis. Tentu saja para pemuja lelaki ini merasa terancam. Lalu para pemuja lelaki beramai-ramai menyerang feminis. Para patriarch tepuk tangan di belakang, seperti sutradara. Tetapi, mereka lupa bahwa: feminis, perasaan mereka yang kuat adalah dalam bentuk insting, mereka juga sudah sangat terlatih untuk menggunakan pikiran, logika. Mereka lupa bahwa perempuan itu manusia sempurna karena memiliki mesin pencipta manusia bernama sel telur dan rahi. Sehingga, teriakan-teriakan para perempuan pemuja lelaki itu tidak membuatnya marah, malah, membuatnya semakin kuat, dan karena feminis tahu bahwa siapa penjahat dibaliknya.

Untuk semua itu, terimakasih Tuhan telah mengenalkan saya dengan feminisme, yang menjadi cara bertahan hidup di dunia patriarkhi dan menemukan solusinya. Dalam mitologi, fitnah-fitnah tentang perempuan kuat juga dialami oleh para Dewi. Dewi Durga, Medusa, dan Calon Arang adalah beberapa contohnya.

Untuk selanjutnya, saya akan menyampaikan feminisme secara popular bab per bab dari berbagai intelektual feminis, supaya orang tidak lagi salah kaprah!

Jakarta, 10 Februari 2018




The Second Sex: Menjabarkan ALIENASI BETINA



 Oleh: Mariana Amiruddin

Tulisan ini adalah bagaimana cara saya membaca The Second Sex karya Simone de Beauvoir. Saya membaca dengan pikiran saya, dengan keahlian dan pengetahuan saya sebagai Magister Humoniora Pasca Sarjana Kajian Wanita di Universitas Indonesia, sebagai perempuan yang mengalami menstruasi, sebagai anak perempuan yang kehilangan ibunya, sebagai anak perempuan yang memiliki Ayah yang sangat keras dan kuat, sebagai perempuan yang bekerja di lembaga untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan di Komnas Perempuan. Sebagai perempuan yang pernah bekerja menjadi seorang jurnalis, penulis, sekaligus Pemimpin Redaksi dan Direktur di Jurnal Perempuan. Buku ini memaksa menarik kembali memori-memori saya yang sudah lama beterbangan oleh hiruk pikuk kasus, peristiwa, dan sosial media yang kecepatannya melebihi ingatan kita sendiri.
Tulisan ini saya berikan untuk perempuan yang ingin bahagia, dimulai dari mengenal dirinya sendiri (atas diri dan kehidupannya) bagaimana perempuan sepanjang abad mengalami kekerasan. Dan pengetahuan bagi laki-laki (atas diri, kekasih, istri, ibu  dan saudaranya sendiri yang perempuan) bahwa mereka semua telah lama terkubur hidup-hidup dalam dongeng superioritas laki-laki yang justru membuat pria terjengkang dalam ketidakberdayaannya sendiri (baca: ketika perempuan tidak ada di dekatnya).

Baiklah saya mulai.

TAKDIR
-DATA BIOLOGI-

Simone De Beauvoir memulainya dengan makna kata Betina.
Perempuan? Tanya beliau dalam bukunya. Ia sebuah Rahim, sebuah indung telur; ia betina--- katanya.
Di pikiran laki-laki betina itu tidak lebih baik dari jantan. Naluri kebinatangan pada jantan lebih dibanggakan, sementara betina menjadi memenjarakan kebinatangan perempuan yang sering disebut perempuan jalang, ganas, sebaliknya pula para betina yang dianggap lamban, tak sabaran, licik, tolol, tak berperasaan, penuh nafsu, buas, hina, dan kemudian atas situasi ini Beauvoir melempar dua pertanyaan biologi: Apa peran betina dalam kerajaan binatang? dan Betina seperti apakah yang termanifestasikan dalam diri perempuan?
De Beauvoir membuat kesimpulan sementara yang mengejutkan dari uraian panjang awalnya soal Betina bahwa: kelangsungan kehidupan spesies tidak memerlukan pembedaan seksual (maksudnya tidak harus terdiri dari dua jenis kelamin). De Beauvoir kemudian memberi contoh-contoh mahluk hidup secara seksual, membahas tentang berbagai jenis perkembangbiakan mulai dari mahluk bersel satu, moluska, cacing laut, hingga soal mahluk seksual, aseksual dan hemaprodit. Demikian juga soal kromosom X dan Y yang kalau dibuahi dan membuahi akan menjadi XX dan XY. Sementara pada burung-burung dan kupu-kupu keadaannya berlawanan, meski prinsip dasarnya sama.  Lepas dari soal perbedaan kromosom tersebut, ia mengatakan bahwa sel telur dan sperma mengandung satu set kesamaan dari tubuh-tubuh manusia yang menunjukkan ayah dan ibu memainkan peran yang sama dengan cara yang beda (Hukum Mendel).  Perbedaan hanyalah merupakan karakteristik eksistensi yang sedemikian luas sehingga ia menjadi milik setiap definisi realistik dari eksistensi itu sendiri.

Determinasi Biologi Pasif-Aktif: Sel Telur versus Sperma dalam Imajinasi Filsuf

Dalam masyarakat primitif matriarkal diyakini bahwa seorang ayah tidak mempunyai peran dalam proses pembuahan. Sementara dengan munculnya institusi-institusi patriarkal, laki-laki menegaskan klaim atas anak keturunannya. Misalnya nama saya Mariana Amiruddin, ketika saya membeli tiket pesawat, maka tercantum di tiket nama saya Amiruddin, lalu Mariana (nama bapak/laki-laki ditulis terlebih dahulu kemudian nama kita sendiri). Hal tersebut untuk memberi alasan bahwa perempuan membutuhkan laki-laki untuk menjaga peran perempuan dalam proses perkembangbiakan. Dan perempuan dianggap hanya menyediakan hal yang pasif (sel telur yang diam bersarang di Rahim). Sementara sperma berfungsi membuahi, bergerak cepat, menyerang,  yang melambangkan produktivitas, aktivitas, kehidupan (Aristoteles).
Simone de Beauvoir kemudian membahas bagaimana para filsuf menyimpulkan fungsi-fungsi seksual laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang diartikan sebagai pasif dan aktif. Pasif adalah perempuan dan aktif adalah laki-laki. Meskipun kemudian ditemukan bahwa sel telur ternyata memiliki prinsip reproduksi aktif (bekerja seperti mesin perkembangbiakkan), sel telur tidak berdiri diam saja di Rahim. Ia mesin yang menciptakan embrio dan manusia kecil yang siap bergerak dan bernyawa sebelum diluncurkan ke dunia. Sayangnya dalam temuan-temuan sains biologi itu kaum laki-laki tetap menganggap bahwa sel telur itu tetap diam dibandingkan dengan pergerakan hidup sperma. Beauvoir beragumentasi, padahal dalam temuan spesies tertentu (parthenogenesis atau perkembangbiakan aseksual), hanya dengan stimulus asam bahkan stimulus tusukan jarum ke sel telur sudah cukup untuk melakukan perkembangbiakan (kata lain dari – ia bisa berkembang biak tanpa sperma) dengan menjadi pembelahan telur dan perkembangan embrio. Artinya telah diperlihatkan bahwa sel kelamin jantan (sperma) tidak dibutuhkan untuk reproduksi, yang beraksi hampir sama seperti ragi, bahkan lambat laun peran jantan tidak dibutuhkan lagi dalam prokreasi!
De Bauvoir menambahkan kata-katanya: “Tampaknya, itulah jawaban bagi banyak doa perempuan.”
Partenogenesis adalah contoh cara kerja biologi yaitu pertumbuhan dan perkembangan embrio atau biji tanpa fertilisasi oleh pejantan. Partenogenesis terjadi secara alami pada beberapa spesies, termasuk tumbuhan tingkat rendah, invertebrata (contoh kutu air, kutu daun, dan beberapa lebah), dan vertebrata (contoh beberapa reptil, ikan, dan, sangat langka, burung, dan hiu).
Pasivitas betina ternyata terbantahkan oleh kenyataan biologi pada spesies lain bahwa; tanda kehidupan bukan secara ekslusif milik salah satu gamet. Nukleus telur yang merupakan pusat aktivitas utama betul-betul simetris dengan nucleus sperma. Oleh karena itu menurutnya hal tersebut merupakan efek kelangsungan hidup spesies ditentukan oleh betina, sementara jantan mempunyai sifat alami yang eksplosif dan tidak berlangsung lama.
Para filsuf maupun intelektual lainnya seperti berusaha melakukan konfirmasi berulang-ulang termasuk dalam ilmu biologi tentang “kebenaran patriarkhi” bahwa perempuan adalah mahluk kedua. Imajinasi kepasifan melalui penerjemahan biologi tersebut menguatkan kebenaran yang mereka bayangkan, namun De Bauvoir bekerja keras untuk membutktikan bahwa -- bahkan biologi menunjukkan pasivitas betina itu adalah cara membaca yang salah.

Klaim Soal Menstruasi dan Alienasi

Beauvoir kemudian mengurai soal perkembangan laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki perkembangannya lebih sederhana dimana dimasa remaja mengalami spermatogenesis dan berlanjut sampai tua  dengan hormone-hormon yang diproduksi membentuk tubuh yang maskulin dan proses ini disebut Beauvoir sebagai --- ia adalah tubuhnya (laki-laki memiliki tubuhnya).
Sementara kisah perkembangan perempuan jauh lebih rumit. Mari kita eksplore soal indung telur terlebih dahulu.

Indung telur berisi sekitar 40.000 telur yang belum matang, yang barangkali hanya 400-an yang akan mencapai kematangannya. Saat perempuan mengalami puberitas, sistem genitalnya tak berubah, tetapi spesiesnya menegaskan klaimnya. Akibat dari sel telur, indung telurnya menerima darah lebih banyak dan tumbuh lebih besar, ovulasi terjadi dan masa menstruasi pun dimulai; tubuh menjadi feminine, dan tercipta keseimbangan kelenjar endokrinnya. Keseluruhan peristiwa perkembangan ini memiliki aspek krisis.

Bawha pada periode perempuan mulai puberitas sampai monopouse, De Beauvoir menggambarkannya sebagai sebuah panggung permainan yang terbentang, dimana di dalam dirinya (perempuan) tidak terlalu diperhatikan secara personal. Proses yang rumit pada perempuan ini, yang detilnya menurut Beauvoir masih misterius, melibatkan keseluruhan organisme perempuan, karena ada berbagai reaksi hormonal antara indung telur dan organ-organ kelenjar lainnya, seperti kelenjar di bawah otak, kelenjar gondok, dan adrenal, yang mempengaruhi sistem syaraf pusat, sistem saraf simpatetik dan berakibat pada organ-organ besar tubuh lainnya.  Dampaknya, (seperti yang sering terjadi pada saya, dan bahkan perempuan lainnya)  tekanan darah menjadi meningkat, denyut nadi dan temperature meningkat, demam bisa terjadi, perut terasa sakit, cenderung sembelit yang diikuti diare, membengkaknya hati, dan albuminuria bahkan ada yang kesulitan mendengar dan melihat. Darah merah menurun. Darah yang berisi garam kalsium, zat-zat penting yang menumpang di situ, yang mempengaruhi kelenjar-kelenjar penting. Ketidakstabilan kelenjar ini berakibat ketidakstabilan saraf yang berat. Sistem simpatetik menjadi berlebihan, kontrol bawah sadar melalui sistem pusat berkurang, menjadi lebih emosional, nervous, gampang marah, bahkan gangguan psikis yang serius.

Perempuan, seperti halnya laki-laki, adalah tubuhnya, namun, tubuhnya adalah sesuatu yang lain dari dirinya sendiri.

Itu baru soal menstruasi. Pengalaman kehamilan lebih rumit lagi. Kehamilan adalah tugas melelahkan yang tidak memberikan keuntungan individual perempuan, melainkan menuntut adanya pengorbanan yang sangat besar. Fosfor, kalsium, zat besi hilang. Melahirkan itu sendiri menyakitkan dan berbahaya. Inilah krisis hidup fase berat yang dialami perempuan. Sebagai bukti paling nyata bahwa tubuh tidak selalu bekerja untuk kebaikan spesies dan individual sekaligus, ditempatkan pada beberapa risiko yang dilematis, yaitu janin yang mati, atau ibu yang mati, atau keduanya mati.
Ada hal lainnya pada masa kehamilan yaitu soal hormone prolactin, pelepasan susu di kelenjar payudara, rasa nyeri dan sering membuat demam. Bayangkan, ibu menyusui bayi berasal dari vitalitasnya sendiri. Tubuh secara feminin menjadi lemah, karena perempuan memiliki elemen tubuh yang antagonistic, yaitu spesies (janin) yang menggerogoti organ vital mereka. Penyakit yang bukan disebabkan oleh infeksi dari luar melainkan ketidakmampuan menyesuaikan diri internal (yang disebut peranakan).

Aksi-aksi hormonal perempuan di rentang fase seperti ini mengakibatkan perempuan lebih pendek dan lebih lemah dari laki-laki, tulangnya lebih rapuh, dan tulang pinggulnya lebih besar (penyesuaian terhadap fungsi-fungsi kehamilan dan melahirkan) dan karenanya jaringan-jaringan kolektifnya membuat timbunan lemak dan membuat tubuhnya lebih bulat daripada laki-laki. Kapasitas pernapasannya lebih rendah, paru-paru dan batang tenggorokannya lebih kecil dank arena itu suara perempuan jadi lebih tinggi. Hemaglobinnya lebh sedikit dan gravitas spesifik darahnya lebih rendah, dan karenanya perempuan kalah tegap dan lebih cenderung kena anemia ketimbang laki-laki. Urat nadi mereka pun berdenyut lebih cepat, sistem pembuluh darahnya kurang stabil, serta metabolism kalsiumnya yang tidak sebesar laki-laki. Perempuan banyak kehilangan kalsium karena masa menstruasi dan kehamilan. Kalsium berkaitan dengan indung telur yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan yang membawa kesukaran-kesukaran termasuk pada kelenjar gondok serta ketidakteraturan dalam pelepasan endokkrinterhadap sistem saraf simpatetik, dan control saraf serta control otot menjadi tidak menentu.

Karena itulah atas dasar pertimbangan biologi kaum perempuan menjadi subyek atas berbagai agitasi seperti air mata, tawa histeris, dan krisis saraf.

Di rentang akhir fase biologinya, perempuan kemudian mengalami monopouse. Mengakhiri segala kesakitan. Perempuan melepaskan diri dari cengkeraman besi spesiesnya melalui krisis menopause, kebalikan dari pubertas, yang muncul pada usia antara emput puluh lima dan lima puluh tahun.Ovarium berkurang aktivitasnya, bahkan kemudian lenyap akibat berkurangnya kekuatan-kekuatan vital individu perempuan. Pada masa itu terjadi tanda-tanda perubahan kehidupan dan eksistensi, mulai muncul tekanan darah tingg, kilatan panas, gugup, dan terkadang seksualitas meningkat. Sebagian perempuan lagi pada masa ini tubuhnya membesar atau biasa disebut gemuk, dan sebagian lainnya menjadi kelaki-lakian. Kabar gembiranya, perempuan dapat pension dari beban sifat femininnya, tetapi tidak dapat disebut sebagai “orang kasim” atau laki-laki yang dikebiri. Karena justru vialitas perempuan di masa ini tak lagi terhalangi, kerja biologinya tidak lagi mengalienasi dirinya, melainkan menjadi dirinya sendiri, perempuan dan tubuhnya menjadi satu. Bahkan di usia tertentu dapat berubah  menjadi “seks ketiga”, jadi selain dia bukan laki-laki, dia juga bukan lagi perempuan. Pelepasan fisiologi dari masa Monopause ini justru membuat perempuan dapat mengekspresikan kesehatan, keseimbangan, dan kekuatan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Fakta-fakta biologi ini jelas disebabkan perempuan mengalami subordinasi pada spesiesnya, dan dalam segala mamalia betina, memang perempuanlah yang paling teralienasi (dimana biologinya dapat menjadi mangsa kekuatan-kekuatan luar): krisis pubertas, kutukan bulanan menstruasi, masa kehamilan yang panjang dan sering menyulitkan, bahkan membahayakan pada saat melahirkan, serta gejala dan komplikasi yang tidak diharapkan.

Kelihatannya, laki-laki tampak lebih diuntungkan… kehidupan seksualnya tidak bertentangan dengan eksistensi peribadinya, dan secara biologis hal itu berjalan datar saja tanpa krisis, tanpa risiko. Namun, bukan berarti fakta biologi ini signifikan dengan berat otak dan tingkat kecerdasan perempuan dan laki-laki.

Atas pernyataan ini, Merleau-Ponty bahkan mengatakan: laki-laki bukanlah spesies alami: ia adalah sebuah pemikiran historis. Perspektif Heidegger, Sartre dan Ponty juga mengatakan, tubuh itu bukan semata-mata sebuah benda, -- De Beauvoir mengambil perspektif ini, sebab biologi tidak dapat melampaui dunia, hanya instrument yang terbatas dalam melihat kehidupan dunia dan proyeksi mahluk manusia. Bagi Beauvoir, menerjemahkan eksistensi manusia semata-mata berdasarkan biologi  maka ilmu pengetahuan menjadi abstrak. Sebab kekuatan otot tidak dapat menjadi dasar dominasi dan superioritas.

Beauvoir menggarisbawahi bahwa eksistensi manusia bukan dilihat berdasarkan biologi, melainkan ekonomi dan moral. Perempuan mengalami krisis hormonal tetapi dengan meningkatnya kesejahteraan ekonomi dan nilai-nilai yang mendukung kondisi biologinya, perempuan bukan lagi lemah. Dalam spesies manusia, banyak kemungkinan bahwa individual berkembang tergantung pada situasi ekonomi dan sosialnya. Spesies manusia berulang-ulang mengevaluasi dirinya, karena spesies ini memiliki proyeksi tentang hidup di masa depan. Agresifitas seksualitas jantan tidak dapat diterapkan pada spesies manusia laki-laki ketika adat istiadat keluargnya memilihkan perempuan sebagai pasangannya.

Ilmu biologi menurutnya menjadikan tubuh sebagai obyek, padahal bila tubuh sebagai subyek, kaitan dengan factor-faktor lainnya (selain biologi) akan dapat ditemukan.

Tetapi menelusuri eksistensi perempuan tetap diperlukan berangkat dari esensial biologinya. Namun fakta-fakta biologi perlu melihat sudut ontologi, ekonomi, osial dan psikologi. Beauvoir melihat tubuh itu sendiri belum cukup untuk mendefinisikan perempuan, karena itu perlu melihat kesadaran individual perempuan diri dan kehidupan di dunia.

Fakta-fakta biologi adalah memahami dan mencari jawaban atas berbagai pertanyaan tentang perempuan, terutama menganggap perempuan menjadi “sosok yang lain”; dan membuat perempuan menjadi terpuruk, tersubordinat selamanya.


1.     SUDUT PANDANG PSIKOANALISIS

Pada bagian kedua dalam Bab Takdir ini Beauvoir memperhatikan bahwa kondisi perempuan bukan semata-mata biologinya, melainkan seluruh pengalamannya.

Perempuan adalah seorang perempuan pada tingkatan ketika ia merasakan dirinya yang nyata dan memiliki pengalaman.

Ia mengatakan, bukan alam yang mendefinisikan perempuan, tetapi dirinya sendiri, -- dengan mengaitkan alam dan lingkungan atas dasar pertimbangannya sendiri, dalam kehidupan emosionalnya.

Pada bagian psikoanalisis ini Bauvoir mengkritik Freud dan sintesis dari Adler serta para psikoanalis lainnya yang menjadi Freudian dan Adlerian. Freud mengatakan anatomy is destiny (anatomi adalah takdir) – ia menegaskan, Freud tidak pernah peduli dengan takdir perempuan (anatomi perempuan). Freud mengadaptasi pendapatnya terhadap takdir perempuan dari sudut pandang takdir laki-laki, dengan sedikit modifikasi. Freud memang tidak se-ekstrim seksolog Maranon yang mengatakan “libido merupakan kekuatan dari sifat jantan, hal yang sama mengenai orgasme”, dan menyebut perempuan yang mencapai orgasme berarti adalah perempuan yang kejantan-jantanan, dan perempuan hanya menempuh setengah jalan dalam mencapainya. Freud memang tidak seperti Maranon seksolog itu, ia menganggap hasrat seksual laki-laki dan perempuan sama, tetapi sayangnya Freud tidak pernah mempelajari kesamaan itu secara khusus. Freud ambigu, ia tetap mengatakan “lelaki adalah pemilik libido”, meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama memilikinya. Freud tidak mengakui adanya libido feminin dengan sifat alaminya, sebab menurutnya tampak menyimpang dari libido manusia secara umum.

Oedipus dan Electra Complex: Bukan Pelarian atas Alienasi melainkan Pencarian Diri

Freud menjelaskannya dalam tahapan fase oral pada bayi, dan fasa anal dan genital pada kanak-kanak yang kemudian dikritik Beauvoir. Fase oral: bayi laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami perasaan nyaman dalam pelukan payudara sang ibu. Fase anal dan fase genital kemudian membedakan libido laki-laki dan perempuan. Erotisme maskulin tepatnya pada penis, sementara perempuan tepatnya pada klitoris pada masa kanak-kanak dan pada masa pubertas pada vagina. Anak laki-laki memiliki fase genital evolusinya yang langsung sempurna, bersifat subjektif, dan mengalami heteroerotik yang memerlukan obyek, dan umumnya obyeknya adalah perempuan. Sementara fase perempuan memerlukan dua tahapan dan jauh lebih kompleks, klitoral terlebih dahulu, dan kemudian vaginal. Freud mengatakan bahwa laki-laki mendapatkan kenikmatan hanya dalam satu tingkatan yaitu penis, sementara perempuan memerlukan dua tahapan, yaitu klitoral dan vaginal. Dua tahapan perempuan dalam mencapai kenikmatan disebut Freud sebagai kegagalan evolusi seksual, dan karena itu membuat perempuan menjadi neurosis.

Teori freud menyampaikan perbedaan pembentukan superego pada anak perempuan dan anak laki-laki dalam narasi Oedipus dan Electra Complex, Oedipus menceritakan begitu cintanya si anak lelaki pada ibunya dan ketakutan dikastrasi penisnya oleh Ayah yang memiliki otoritas dalam keluarga. Sementara sang gadis kecil awalnya begitu mencintai ibunya, tetapi begitu melihat sang ayah ia mencoba mengidentifikasi tetapi tidak sama, padahal ia begitu mencintainya Ayah. Kecintaannya pada Ayah adalah pelarian dirinya karena tidak memiliki penis (ia merasa perempuan adalah laki-laki yang termutilasi), dan dari narasi erotisme pada sang Ayah inilah superego perempuan terbentuk menjadi “kejantan-jantanan” agar sama dengan Ayahnya yang menandai inferioritas dirinya. Fase ini dianggap hanya sampai fase klitoral, gagal pada fase vaginal (kesempurnaan). Ketika dewasa perempuan mengambil eksistensinya dari orang lain (laki-laki), dan bila memilih kekasih atau suami cenderung yang mirip dengan Ayahnya adalah suatu simbol kastrasi.

Di sisi lain, Beauvoir menjelaskan teori Freud yang menggambarkan anak laki-laki memperoleh pengalaman hidup yang menjadikan penis sebagai obyek kebanggaan dirinya; batang daging kecil lemah yang dalam tubuhnya dapat menginspirasi mereka, membuat laki-laki merasa eksis dan menimbulkan kecemburuan si gadis kecil (penis envy). Beauvoir lalu mengkritik, bila Freud begitu panjang lebar menjelaskan anak laki-laki dengan penisnya dalam Oedipus Complex, Freud tidak memiliki konsep yang jelas dalam Elctra kompleks, karena tidak didukung oleh deskripsi dasar tentang libido feminin.

Bagi Beauvoir, kekuasaan (otoritas sang Ayah) merupakan kenyataan asal-usul sosial, yang seharusnya dipertimbangkan oleh Freud, -- dalam sejarah budaya manusia sang ayah harus didahulukan daripada sang ibu. Freud menolak bahwa itu adalah otoritas patriarkal, menurutnya itu memang sudah menjadi beban sang Ayah.

Intinya bahwa Freud melihat bahwa semua perilaku manusia berangkat dari birahi (dorongan seksual) atau upaya mencari kenikmatan, tetapi Adler, psikoanalis yang mendebatnya mengatakan bahwa perilaku manusia berangkat dari motif untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, bukan dari dorongan seksual. Adler menggarisbawahi bahwa perilaku manusia berangkat dari motif, kehendak, dan tujuan, dan berawal dari kecerdasan, sementara seksualitas hanyalah sesuatu yang simbolik. Deskripsi Adler tentang kehendak adalah keinginan untuk berkuasa yang disertai dengan inferioritas complex, dan sang individu akan melakukan banyak tipu daya dalam suatu “pelarian dari realitas” Adler melihat bahwa bila si gadis kecil iri pada penis, itu hanyalah simbol hak-hak istimewa yang dinikmati anak laki-laki: superioritas ayah dalam keluarga dan laki-laki secara umum, adalah tentang superioritas maskulin. Dan ketika berhubungan seksual, perempuan mendapatkan posisi dibawah laki-laki. Karena itu perempuan melakukan “protes maskulin” dengan cara berusaha keras memaskulinkan dirinya, atau bahkan ia bertarung dengan dirinya sendiri jauh lebih mendalam ketimbang bertarung dengan laki-laki.

Deskripsi Beauvoir bahwa laki-laki dapat menggabungkan individualitas subjektifnya dengan kehidupan yang mengalir darinya: tentang panjangnya penis, daya pancur air seni mereka, kekuatan ereksi dan ejakulasi bagi laki-laki adalah harga dirinya, yang adalah alter egonya. Sementara si gadis kecil tidak memiliki alter ego, dan membentuk dirinya menjadi “Yang Lain”. Bagi Beauvoir, phallus disini bukanlah takdir seperti yang dikatakan Freud, melainkan mengemban nilai, simbol dominasi. Ia menyimpulkan bahwa para psikoanalis gagal menjelaskan mengapa perempuan adalah “Yang Lain”. Para psikoanalis bahkan tidak mempelajarinya secara langsung, mereka hanya bertitik tolak pada libido laki-laki.

Beauvoir kemudian mengajukan takdir feminin dengan cara yang berbeda, yaitu menempatkan perempuan dalam dunia nilai, dan perilakunya sebagai suatu dimensi kebebasan. Ia menyampaikan, jelas bagi perempuan, berperan sebagai laki-laki akan menjadi sumber frustrasi baginya; namun berperan sebagai perempuan juga suatu delusi: menjadi perempuan berarti menjadi obyek, menjadi Yang Lain.

Atas situasi tersebut masalah perempuan adalah, menolak pelarian dari realitas dan justru berusaha mencari pemenuhan diri sendiri dalam transendensi. Ia kemudian mengkritik bagaimana baik psikoanalis laki-laki maupun perempuan tidak melihat dari titik tolak tersebut: laki-laki didefinisikan sebagai manusia, dan perempuan sebagai betina—kapanpun perempuan berpirlaku sebagai manusia, ia dikatakan meniru laki-laki.

Beauvoir melihat psikoanalisa dari titik tolak pengalaman perempuan, libido feminin, seharusnya didefinisikan sebagai sosok manusia yang tengah mencari nilai-nilai di dunia, yang mempelajari perempuan dalam sebuah perspektif eksistensial.